bulan puasa, seperti kita tau, identik dengan bukber. seberapapun klisenya, bukber emang efektif menjadi sarana silaturahim.
pertemuan dan reuni-reuni kecil yang alhamdulillah bisa gue alami selama bulan puasa tahun ini bukan cuma jadi kesempatan untuk bisa berinteraksi (secara nyata) sama temen-temen, relasi, dan juga keluarga. tapi ternyata bisa membuka kesadaran dan ngasih pemahaman baru di diri gue.
well, para ulama bilang bulan puasa itu momen untuk melakukan refleksi terhadap jiwa masing-masing. somehow, gue seakan terfasilitasi untuk 'bercermin' lewat bukber dan beberapa kejadian.
salah satunya adalah saat menerima berita kepergian seorang temen satu sekolah selama SMP sampai SMA. kedatangan kabar itu sungguh-sungguh mengejutkan. i was shaken and i got so gloomy for the rest of the week. bulan maret lalu, gue dan temen-temen sekolah sebenernya juga udah dibuat terkejut atas kabar yang kita terima tentang dia. tiba-tiba kita tahu kondisinya sedang kritis di sebuah rumah sakit, akibat leukimia. gue pribadi terakhir berinteraksi dengan dia - rasanya sih - waktu anak-anak kita masih newborn atau mungkin di bawah satu tahun. yes, she had a child. waktu itu kita suka saling bertanya seputar ngurus anak atau beli baju, melalui facebook. lalu rasanya udah cukup lama gue nggak pernah berinteraksi atau dengar kabar dari dia lagi. ternyata, yah, karena akun facebooknya udah dideaktivasi.
waktu denger kabar dia sakitpun gue dan temen-temen udah sangat kaget. terlebih ketika tahu dia sekarang single parent. tapi, jeleknya gue, rencana mau nengokin dia cuma sebatas rencana. what's sad is the next news i heard about her is that she passed away.
gue harus mengakui kalau gue nggak pernah berteman sama dia. iya, bukannya nggak berteman dekat, tapi emang nggak pernah berteman. gue rasa the closest interaction i had ever had with her adalah saat di facebook itu. pengakuan lainnya adalah gue nggak pernah menyukai dia atau bahkan pengen berteman dengan dia selama kita satu sekolah. not until we had those facebook interactions.
what was she like, sih, you may wonder. waktu SMP dia populer, karena terbilang kece, selalu ranking 3 besar, dan puncaknya, dia menyalonkan diri jadi ketua OSIS. gue sendiri waktu SMP mainnya sama beberapa jenis 'geng.' ada geng cewek-cewek sok gaul (more like bengal sebenernya) yang suka ngebully dan badmouth other people. juga ada geng anak-anak yang gue anggap lumayan pinter tapi asik - karena sama-sama suka boyband (zzz). lucunya, atau anehnya, kedua geng ini sama-sama "sebel" sama dia, si teman ini. kenapa sebelnya gue kasih tanda kutip? karena, how i see it now, it's because none of us really knew her. none of us were in her circle of friends. dia anak yang aktif di sekolah, alim, dan tau-tau nyalonin diri jadi ketua OSIS; guess we just didn't like her for those reasons. to put it simply: we were just jealous. nothing more i can say about kelakuan konyol abege-abege 13 tahun....
lalu waktu SMA, gue satu sekolah lagi sama dia, tapi lagi-lagi nggak berteman. padahal jumlah anak SMP gue yang masuk SMA ini sedikit banget. gue main sama anak-anak yang gue anggap asik tapi kali ini hampir nggak ada yang terbilang pintar - untuk standar SMA 1 tangerang, hehe. sementara dia, jadi anak paskibra, OSIS, dan aktif di banyak ekskul, salah satunya jadi penyiar radio sekolah. at this period, i no longer hated her. but i have, really have to admit now, that i didn't think fondly of her. kalau gue inget-inget sekarang, mungkin karena dia sempat pacaran sama seorang temen 'geng' gue. temen yang dipacarinya ini adalah satu-satunya yang paling "beradab" di geng tsb. yang dapet ranking 5 besar, jago main piano, dan setia nyupirin kita ke mana-mana (meskipun pernah ditimpuk kapur pas pelajaran sejarah gara-gara duduk tegak tapi matanya merem). i guess now, maybe i was still mean to her because, once again, i was jealous. this time may be because i thought she "stole" one of our best buddies.
sepertinya yang membuat gue sangat terguncang hari itu, ketika mendengar kabar kepergiannya, selain karena dia masih begitu muda, punya anak seumur gue, dan gue menyesal nggak pernah nengokin selama dia sakit, juga karena gue pernah berpikir nggak baik tentang dia selama kita satu sekolah :(
gue dan beberapa teman melayat ke rumah orangtuanya beberapa hari kemudian. i was there with nuri, weche, sasa and some other friends. i met her child for the first time. a beautiful child. and then i spoke to her mom. ibunya sangaaaattt mirip dengan dia. wajahnya, suaranya. dan ibunya menceritakan perjuangannya menghadapi sakit yang dideritanya, sampai hari terakhir yang dilaluinya. beberapa kali gue menahan diri untuk nggak meneteskan air mata, ketika ibunya bercerita cucunya bilang "kangen bunda..." akibat nggak bisa tidur sekamar lagi dengan dia (badannya begitu sakit bahkan saat disentuh). ketika ibunya menceritakan perjuangannya menghadapi rupa-rupa perawatan dan akibat yang ditanggung. terlebih ketika ibunya bilang, "hati saya hancur... kehilangan anak." i just lost words. and how i wished i had offered her mom a hug.
yes... there are many things i wish i had done differently. tapi bagaimanapun, kisah hidup teman gue ini ada untuk diambil hikmahnya, i'm sure of that. she had been a very wonderful person inside and out - terbukti dari nggak pernahnya dia mendendam; gue bersyukur pasca masa sekolah masih sempat sharing sama dia, meski cuma sesaat. gue juga yakin she was a fighter until the very end.
malam setelah kabar kepergiannya, our mutual friend, ratri, mengupload foto rangkaian bunga yang dikirimkan ke rumahnya, dibarengi tulisan, "Selamat jalan sahabatku Echi, Allah memang Maha Penyayang. Dia memanggilmu di bulan yg penuh berkah ini, setelah ulang tahun hijriyah kamu, malam Nuzulul Qur'an. Melihat wajah kamu tadi yg begitu cantik, bersih & seperti hanya tertidur, aku percaya in shaa Allah kamu akan diberikan tempat terbaik oleh Allah SWT."
yes, i'm also sure of that.
pada akhir kunjungan kami ke rumah orangtuanya, tepat sebelum keluar dari pagar, nyokapnya Echi bilang, "kalian yang sudah pada punya anak, dijaga ya anaknya... jangan ditinggal-tinggal."
T______T
i guess that's her way of saying that we have to cherish our time here on earth. enjoy each moment spent with our kids. be grateful for even the littlest things.
now i can really see why we should. because life is just a blink of an eye....
so long, my friend. semoga kamu tidur nyenyak dalam pelukanNya.
Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts
06/08/2014
06/12/2011
the kids are all right
minggu lalu, gue membeli majalah MORE edisi november. awalnya sih, selain karena gue emang suka banget isi majalah ini, juga karena dapet bonus notebook, hehe. notebook bonus MORE tahun lalu aja masih belum habis gue pakai, but still i was excited to grab it.
besoknya, entah kenapa gue iseng membaca rubrik pengantar redaksi. terus terang, biasanya rubrik itu hampir nggak pernah gue tengok. but i was lucky to have read it. karena tak dinyata, pengantar redaksi yang ditulis sang pemred Candra Widanarko itu bagus banget! it shook me from sleepiness because it conveyed a strong message.
isinya kurang lebih begini, suatu pagi, Candra sedang sarapan bersama anak perempuan yang duduk di sekolah dasar. lantas ARTnya melapor kalau sepatu sopir-yang juga suami si ART-hilang di kantor Candra. mendengar itu, Candra merasa kesal dan marah, she planned to report that loss to the office security and made complaint. saat dia mau berangkat ke kantor, tiba-tiba anak perempuannya menghampiri dan berkata padanya "bu, sst sini deh. janji ya pulang kantor nanti kamu beliin sepatu untuk om Jajang (nama sopirnya)."
kata-kata anaknya itu membuat Candra tersentak. betapa anak-anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang sederhana. sungguh berbeda dengan tingkah laku kita orang dewasa ketika dihadapkan pada masalah. kita cenderung memberi reaksi, yang seringnya didominasi unsur emosi. sementara anak-anak memberi respons, mereka bertindak langsung ke akar masalah.
Candra mengaitkan lesson learned tadi dengan kehidupan kita sehari-hari, di mana kita berkutat dengan kemacetan, masalah di tempat kerja, finansial, dan banyak lagi. seberapa sering kita justru memberikan reaksi semata (dengan mengeluh, misalnya?) bukannya memberikan respons berupa tindakan untuk menyelesaikan masalah tersebut?
gue termangu begitu menyelesaikan rubrik pengantar redaksi ini. urusan reaksi vs respons (yang mungkin cuma berbeda di istilah saja) ini, mengingatkan gue akan kendali diri. gue pernah dengar, jadilah orang yang menyetir mobil, bukan disetir mobil. kayaknya dalam hidup secara umum, gue orang yang selalu dikendalikan emosi deh. i'm super reactive. padahal kalau mau berpikir 'sederhana', cobalah untuk mencari jalan penyelesaian masalah. cari penyebab marah itu kenapa, dan lakukan perbaikannya.
jadi wajar kan kalau tadi gue bilang tulisan itu mengguncang? *seka dahi*
besoknya, entah kenapa gue iseng membaca rubrik pengantar redaksi. terus terang, biasanya rubrik itu hampir nggak pernah gue tengok. but i was lucky to have read it. karena tak dinyata, pengantar redaksi yang ditulis sang pemred Candra Widanarko itu bagus banget! it shook me from sleepiness because it conveyed a strong message.
isinya kurang lebih begini, suatu pagi, Candra sedang sarapan bersama anak perempuan yang duduk di sekolah dasar. lantas ARTnya melapor kalau sepatu sopir-yang juga suami si ART-hilang di kantor Candra. mendengar itu, Candra merasa kesal dan marah, she planned to report that loss to the office security and made complaint. saat dia mau berangkat ke kantor, tiba-tiba anak perempuannya menghampiri dan berkata padanya "bu, sst sini deh. janji ya pulang kantor nanti kamu beliin sepatu untuk om Jajang (nama sopirnya)."
kata-kata anaknya itu membuat Candra tersentak. betapa anak-anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang sederhana. sungguh berbeda dengan tingkah laku kita orang dewasa ketika dihadapkan pada masalah. kita cenderung memberi reaksi, yang seringnya didominasi unsur emosi. sementara anak-anak memberi respons, mereka bertindak langsung ke akar masalah.
Candra mengaitkan lesson learned tadi dengan kehidupan kita sehari-hari, di mana kita berkutat dengan kemacetan, masalah di tempat kerja, finansial, dan banyak lagi. seberapa sering kita justru memberikan reaksi semata (dengan mengeluh, misalnya?) bukannya memberikan respons berupa tindakan untuk menyelesaikan masalah tersebut?
gue termangu begitu menyelesaikan rubrik pengantar redaksi ini. urusan reaksi vs respons (yang mungkin cuma berbeda di istilah saja) ini, mengingatkan gue akan kendali diri. gue pernah dengar, jadilah orang yang menyetir mobil, bukan disetir mobil. kayaknya dalam hidup secara umum, gue orang yang selalu dikendalikan emosi deh. i'm super reactive. padahal kalau mau berpikir 'sederhana', cobalah untuk mencari jalan penyelesaian masalah. cari penyebab marah itu kenapa, dan lakukan perbaikannya.
jadi wajar kan kalau tadi gue bilang tulisan itu mengguncang? *seka dahi*
15/09/2011
morning bell
berawal dari keluhan mutual gue dan adit di tengah kemacetan, "susah amat sih kita bangun pagi?!" karena untuk kesekian kalinya kita telat bangun dan berdampak terjebak in routine traffic jam madness kota jakarta. kebetulan sehari sebelumnya gue baru membeli buku "Allah Maha Pemurah Maka Engkau Gampang Menikah" oleh Ustadz Yusuf Mansur. tak disangka-sangka, gue menemukan bagian yang sukses membuat gue mewek sampai gak bisa membacakannya buat adit tanpa membuat suara jadi ciut dan berulang-ulang menyeka sudut mata :')
"Ketika saya jalan-jalan ke toko buku di kawasan Senen, saya membaca sebuah puisi yang membuat air mata saya menetes. Ada sebuah tulisan yang sangat menggugah hati saya.
'Alangkah nikmatnya orang yang bisa bangun pagi. Betapa bahagianya orang-orang yang bisa melihat fajar. Betapa bahagianya orang-orang yang bisa melangkah shalat subuh ke masjid, menghirup udara segar, merasakan desiran angin, merasakan segarnya udara pagi. Betapa indahnya kubayangkan, ketika tangan kanan menuntun istri dan tangan kiri menuntun anak. Betapa enaknya seorang ayah yang bisa bercanda bersama anaknya ke mesjid.'
Ternyata, tulisan itu dibuat oleh seorang ayah yang sudah 15 tahun merindukan kehadiran seorang anak. Ya Allah, dia yang tidak punya anak saja bisa membayangkan hal itu, sedangkan saya yang punya anak tidak pernah membawa anak saya shalat subuh ke mesjid."
*sniffs*
*counts my blessing*
"Ketika saya jalan-jalan ke toko buku di kawasan Senen, saya membaca sebuah puisi yang membuat air mata saya menetes. Ada sebuah tulisan yang sangat menggugah hati saya.
'Alangkah nikmatnya orang yang bisa bangun pagi. Betapa bahagianya orang-orang yang bisa melihat fajar. Betapa bahagianya orang-orang yang bisa melangkah shalat subuh ke masjid, menghirup udara segar, merasakan desiran angin, merasakan segarnya udara pagi. Betapa indahnya kubayangkan, ketika tangan kanan menuntun istri dan tangan kiri menuntun anak. Betapa enaknya seorang ayah yang bisa bercanda bersama anaknya ke mesjid.'
Ternyata, tulisan itu dibuat oleh seorang ayah yang sudah 15 tahun merindukan kehadiran seorang anak. Ya Allah, dia yang tidak punya anak saja bisa membayangkan hal itu, sedangkan saya yang punya anak tidak pernah membawa anak saya shalat subuh ke mesjid."
*sniffs*
*counts my blessing*
03/08/2011
an amateur's sotoy guide about dana pendidikan
the title says it all. gue ini emak-emak yang amatir dalam urusan perencaan keuangan. tapi berhubung gue pernah beberapa kali dapet pertanyaan "Gimana sih cara nyusun dana pendidikan?" jadi gue coba tuliskan aja apa yang gue tau berdasarkan pengalaman browsing dan menggunakan jasa financial planner. wajar kalau disebut "sotoy" kan?
1. Gimana cara ngitung dana pendidikan?
gue kenal istilah "dana pendidikan" dari talkshow ligwina di hard rock fm. dari situ, gue tau bahwa tool untuk menghitung dana pendidikan disediakan di website www.qmfinancial.com, namanya kalkulator dana pendidikan. jadi hal pertama yang gue lakukan ya mengisi biaya untuk tiap level pendidikan, angka-angka ini disebut present value. nanti kalkulator QM akan memberikan future value sesuai dengan target waktu tiap level pendidikan. setelah itu kita akan disuguhkan totalnya deh... jengjeng!! beware, bagian ini yang biasanya bikin tersedak :P
ohya gue pernah baca di artikel yang ditulis ligwina, biaya yg kita input ini boleh uang pangkalnya aja, boleh juga kalau mau sekalian dihitung biaya tahunannya (seperti SPP, dikalikan jumlah tahun sekolah) dan biaya hidup si anak nantinya (ini direkomendasikan untuk yang berencana menyekolahkan anak di luar negeri).
berikut gue sertakan ilustrasi perhitungan untuk mengetahui berapa besar investasi bulanan atau tahunan yang diperlukan (link). template awal sheet yang gue share ini gue dapatkan dari blognya the infamous darina danil, hehe. tapi lantas gue sesuaikan dengan pengetahuan yang gue share di sini.
disclaimers:
(a) gue gak bisa memastikan validitas perhitungan ilustrasi ini, karena emang nyontek juga dari hitungan orang :P
(b) data yang diinput bukan dari plan dana pendidikan gue yaaa! penting itu untuk di-state hehehe.
2. Sebenernya produk yang oke buat dana pendidikan tuh apa? LM? RD? tabungan?
nah setelah urusan input-menginput di kalkulator tadi selesai, baru deh bisa diulik produk apa yang sesuai. setau gue (yang belum pernah ikut Pelatihan QMPC ini, fyi), faktor utama untuk menentukan produk yang sesuai adalah jangka waktu tujuannya. karena jangka waktu ini berkaitan dengan resiko suatu produk keuangan. we know the adage: high risk high return. kurang lebih kayak gitu acuannya: kalau mau return yang lebih besar, ya resiko yang harus diambil juga besar. jadi kalau untuk mencapai tujuan jangka pendek, paling bener ya ambil produk keuangan yang resikonya rendah.
kalau menurut ligwina, tujuan finansial dibagi tiga: jangka pendek (3-5 tahun), jangka menengah (5-10 tahun), dan jangka panjang (10-15 tahun) serta di atas 15 tahun.
Tujuan < 5 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 7%. produknya bisa reksadana pasar uang, tabungan, deposito. bisa juga reksadana terproteksi, obligasi, ORI, atau sukuk.
Tujuan 5-15 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 10%, yaitu reksadana campuran. untuk produk ini jenisnya ada yang moderat, konservatif, dan agresif. kita lihat aja di prospektusnya, kalau komposisi sahamnya makin besar berarti makin agresif.
Tujuan >15 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 25% yaitu reksadana saham.
tapi ternyata ada juga pertimbangan selain jangka waktu investasi, seperti yang gue kutip dari artikel tentang ligwina di sini:
"Namun, ia juga menyebutkan, pilihan ini dapat tergantung dari karakter orang yang mau berinvestasi. “Ada orang yang agresif, di atas 10 tahun, sudah bisa masuk reksadana saham,” ungkapnya.
Untuk itu, ia kembali menegaskan, tujuan untuk berinvestasi itu penting diketahui sejak awal. Baru setelah itu menentukan berapa tahun investasi dan jenis investasinya."
untuk memilih produk reksadana berdasarkan rata-rata return per tahun ini, gue pakai alat bantu pantau performansi reksadana di infovesta.com dan bloomberg.com. di situ dipaparkan return 1 bulan sampai 5 tahun, tinggal kita lihat aja produk mana yang returnnya 'masuk' ke target future value kita. ohya gue dapat tips dari salah seorang perencana keuangan, kalau kita cari reksadana untuk tujuan yang jangka waktunya 5 tahun, maka performansi yang kita lihat adalah performansi 5 tahun produk tersebut. setau gue dari kedua website itu, maksimal performansi yang ditampilkan 5 tahun deh, jadi untuk tujuan yang di atas 5 tahun, acuan gue tetap yang 5 tahun :P adakah yang tau gimana cara lihat performansi puluhan tahun??
fyi, untuk LM, rata-rata return per tahunnya diberikan angka 20%. gue juga sempat kepikiran untuk pakai LM sebagai salah satu instrumen dana pendidikan, tapi akhirnya gak jadi. dengan berbagai pertimbangan akhirnya LM masuk ke instrumen dana darurat sahaja.
3. Trus gimana cara memilih produk reksadananya?
this is what i did: melototin thread "Investasi Reksadana" di forum Fashionese Daily (FD)! it took a week for me to 'complete' the whole thread... hahaha. di thread itu banyak suhu investasi yang mau berbagi ilmu dan pengalaman, gue tau di mana beli produk reksadana, cara buka account commbank, sampai nama-nama produk yang recommended dari situ.
kalau mau 'gampang' sih search aja google "reksadana terbaik versi kontan tahun 2010/09/dst" hihi, gue juga melakukan itu untuk cek dan ricek.
tapi IMHO, memang diperlukan riset sebelum terjun ke dunia investasi. banyak browsing, baca-baca artikel di koran, atau bahkan datang ke talkshow seputar financial planning dan produk keuangan akan sangat membantu memberikan wawasan. gue jadi merasa tercerahkan bukan cuma soal produk keuangan (salah satunya bahwa unitlink itu produk yang sangat gak direkomendasikan. untuk argumen sekaligus perdebatan lengkapnya bisa disimak di banyak link yang membahas 'keburukan' unitlink), tapi juga soal pengaturan keuangan pribadi.
4. Beli reksadana di mana?
yang gue tau, ada 3 bank yang menjadi supermarket reksadana. mandiri, commbank, dan HSBC. masing-masing punya keunggulan dan kekurangan, dipilih aja mana yang paling nyaman buat kita dalam praktek investasinya. gue prefer commbank, karena:
- internet banking dan mobile bankingnya juara.. hahaha. tampilannya memudahkan, informasinya detil. so far sih gue baru nyoba 3 produk internet banking, dan bukan hanya gue yang memuji tampilan dan kepraktisan e-banking-nya commbank, tapi juga salah seorang pegawai bank kompetitor yang kritis banget orangnya, tuh, temen tidur gue.
- kalau beli reksadana lewat e-banking, kita dapat diskon fee pembelian 50%.
- chargesnya minim dan narik atm di atm MANAPUN gratis.
- monthly statement-nya terperinci dan jelas.
- pilihan produk reksadana yang dijual beragam, dan terutama, belinya bisa 'recehan' hihi. sebenernya tergantung dari produk reksadananya, tapi ada tuh yang bisa dibeli mulai dari 100 ribuan.
- gak ribet! gak masalah mau beli reksadana di cabang X, gak harus buat rekening baru lagi kalau kita mau beli reksadana di cabang Y. semuanya udah online.
- frontlinernya gak nawarin unitlink ketika kita lagi apply comminvest, hahaha.
5. Gimana cara pantau hasil investasi kita?
well, karena infovesta udah gak gratis, jadi gue pakai bloomberg.com. ada sih aplikasi bloomberg mobile, tapi gue masih belum bisa makainya, hehe. tinggal diinput aja nama produk reksadana apa aja yang kita punya, NAB reksadana, besarnya pembelian, dan tanggal pembelian.
ohya nama produk yang diinput berupa kode gitu, bisa dilihat di menu Mutual Funds Screener.
sejauh ini sih demikian yang bisa gue ceritain. gue sendiri baru mulai rutin beli reksadana per akhir tahun lalu, jadi belum merasakan banyak asam garam. semoga membantuuu.
1. Gimana cara ngitung dana pendidikan?
gue kenal istilah "dana pendidikan" dari talkshow ligwina di hard rock fm. dari situ, gue tau bahwa tool untuk menghitung dana pendidikan disediakan di website www.qmfinancial.com, namanya kalkulator dana pendidikan. jadi hal pertama yang gue lakukan ya mengisi biaya untuk tiap level pendidikan, angka-angka ini disebut present value. nanti kalkulator QM akan memberikan future value sesuai dengan target waktu tiap level pendidikan. setelah itu kita akan disuguhkan totalnya deh... jengjeng!! beware, bagian ini yang biasanya bikin tersedak :P
ohya gue pernah baca di artikel yang ditulis ligwina, biaya yg kita input ini boleh uang pangkalnya aja, boleh juga kalau mau sekalian dihitung biaya tahunannya (seperti SPP, dikalikan jumlah tahun sekolah) dan biaya hidup si anak nantinya (ini direkomendasikan untuk yang berencana menyekolahkan anak di luar negeri).
berikut gue sertakan ilustrasi perhitungan untuk mengetahui berapa besar investasi bulanan atau tahunan yang diperlukan (link). template awal sheet yang gue share ini gue dapatkan dari blognya the infamous darina danil, hehe. tapi lantas gue sesuaikan dengan pengetahuan yang gue share di sini.
disclaimers:
(a) gue gak bisa memastikan validitas perhitungan ilustrasi ini, karena emang nyontek juga dari hitungan orang :P
(b) data yang diinput bukan dari plan dana pendidikan gue yaaa! penting itu untuk di-state hehehe.
2. Sebenernya produk yang oke buat dana pendidikan tuh apa? LM? RD? tabungan?
nah setelah urusan input-menginput di kalkulator tadi selesai, baru deh bisa diulik produk apa yang sesuai. setau gue (yang belum pernah ikut Pelatihan QMPC ini, fyi), faktor utama untuk menentukan produk yang sesuai adalah jangka waktu tujuannya. karena jangka waktu ini berkaitan dengan resiko suatu produk keuangan. we know the adage: high risk high return. kurang lebih kayak gitu acuannya: kalau mau return yang lebih besar, ya resiko yang harus diambil juga besar. jadi kalau untuk mencapai tujuan jangka pendek, paling bener ya ambil produk keuangan yang resikonya rendah.
kalau menurut ligwina, tujuan finansial dibagi tiga: jangka pendek (3-5 tahun), jangka menengah (5-10 tahun), dan jangka panjang (10-15 tahun) serta di atas 15 tahun.
Tujuan < 5 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 7%. produknya bisa reksadana pasar uang, tabungan, deposito. bisa juga reksadana terproteksi, obligasi, ORI, atau sukuk.
Tujuan 5-15 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 10%, yaitu reksadana campuran. untuk produk ini jenisnya ada yang moderat, konservatif, dan agresif. kita lihat aja di prospektusnya, kalau komposisi sahamnya makin besar berarti makin agresif.
Tujuan >15 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 25% yaitu reksadana saham.
tapi ternyata ada juga pertimbangan selain jangka waktu investasi, seperti yang gue kutip dari artikel tentang ligwina di sini:
"Namun, ia juga menyebutkan, pilihan ini dapat tergantung dari karakter orang yang mau berinvestasi. “Ada orang yang agresif, di atas 10 tahun, sudah bisa masuk reksadana saham,” ungkapnya.
Untuk itu, ia kembali menegaskan, tujuan untuk berinvestasi itu penting diketahui sejak awal. Baru setelah itu menentukan berapa tahun investasi dan jenis investasinya."
untuk memilih produk reksadana berdasarkan rata-rata return per tahun ini, gue pakai alat bantu pantau performansi reksadana di infovesta.com dan bloomberg.com. di situ dipaparkan return 1 bulan sampai 5 tahun, tinggal kita lihat aja produk mana yang returnnya 'masuk' ke target future value kita. ohya gue dapat tips dari salah seorang perencana keuangan, kalau kita cari reksadana untuk tujuan yang jangka waktunya 5 tahun, maka performansi yang kita lihat adalah performansi 5 tahun produk tersebut. setau gue dari kedua website itu, maksimal performansi yang ditampilkan 5 tahun deh, jadi untuk tujuan yang di atas 5 tahun, acuan gue tetap yang 5 tahun :P adakah yang tau gimana cara lihat performansi puluhan tahun??
fyi, untuk LM, rata-rata return per tahunnya diberikan angka 20%. gue juga sempat kepikiran untuk pakai LM sebagai salah satu instrumen dana pendidikan, tapi akhirnya gak jadi. dengan berbagai pertimbangan akhirnya LM masuk ke instrumen dana darurat sahaja.
3. Trus gimana cara memilih produk reksadananya?
this is what i did: melototin thread "Investasi Reksadana" di forum Fashionese Daily (FD)! it took a week for me to 'complete' the whole thread... hahaha. di thread itu banyak suhu investasi yang mau berbagi ilmu dan pengalaman, gue tau di mana beli produk reksadana, cara buka account commbank, sampai nama-nama produk yang recommended dari situ.
kalau mau 'gampang' sih search aja google "reksadana terbaik versi kontan tahun 2010/09/dst" hihi, gue juga melakukan itu untuk cek dan ricek.
tapi IMHO, memang diperlukan riset sebelum terjun ke dunia investasi. banyak browsing, baca-baca artikel di koran, atau bahkan datang ke talkshow seputar financial planning dan produk keuangan akan sangat membantu memberikan wawasan. gue jadi merasa tercerahkan bukan cuma soal produk keuangan (salah satunya bahwa unitlink itu produk yang sangat gak direkomendasikan. untuk argumen sekaligus perdebatan lengkapnya bisa disimak di banyak link yang membahas 'keburukan' unitlink), tapi juga soal pengaturan keuangan pribadi.
4. Beli reksadana di mana?
yang gue tau, ada 3 bank yang menjadi supermarket reksadana. mandiri, commbank, dan HSBC. masing-masing punya keunggulan dan kekurangan, dipilih aja mana yang paling nyaman buat kita dalam praktek investasinya. gue prefer commbank, karena:
- internet banking dan mobile bankingnya juara.. hahaha. tampilannya memudahkan, informasinya detil. so far sih gue baru nyoba 3 produk internet banking, dan bukan hanya gue yang memuji tampilan dan kepraktisan e-banking-nya commbank, tapi juga salah seorang pegawai bank kompetitor yang kritis banget orangnya, tuh, temen tidur gue.
- kalau beli reksadana lewat e-banking, kita dapat diskon fee pembelian 50%.
- chargesnya minim dan narik atm di atm MANAPUN gratis.
- monthly statement-nya terperinci dan jelas.
- pilihan produk reksadana yang dijual beragam, dan terutama, belinya bisa 'recehan' hihi. sebenernya tergantung dari produk reksadananya, tapi ada tuh yang bisa dibeli mulai dari 100 ribuan.
- gak ribet! gak masalah mau beli reksadana di cabang X, gak harus buat rekening baru lagi kalau kita mau beli reksadana di cabang Y. semuanya udah online.
- frontlinernya gak nawarin unitlink ketika kita lagi apply comminvest, hahaha.
5. Gimana cara pantau hasil investasi kita?
well, karena infovesta udah gak gratis, jadi gue pakai bloomberg.com. ada sih aplikasi bloomberg mobile, tapi gue masih belum bisa makainya, hehe. tinggal diinput aja nama produk reksadana apa aja yang kita punya, NAB reksadana, besarnya pembelian, dan tanggal pembelian.
ohya nama produk yang diinput berupa kode gitu, bisa dilihat di menu Mutual Funds Screener.
sejauh ini sih demikian yang bisa gue ceritain. gue sendiri baru mulai rutin beli reksadana per akhir tahun lalu, jadi belum merasakan banyak asam garam. semoga membantuuu.
21/09/2010
Allerhand Combi Cooler
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Other |
gue beli tas ini di moms and i kemang, harganya per maret 2010 sekitar 550.000 (gak inget detil, tapi yg pasti di bawah 600 ribu). waktu itu pilihan warnanya gak lengkap, gue pilih yg pink karena the others were too dark and not eye-catching hehe.
what i like about this bag:
- very roomy. bawaan gue waktu masih pakai pompa electric terdiri dari corong pompa medela mini electric, charger, batre, charger batre, blue ice bawaan medela cooler bag yg gede, botol medela 4 buah, botol kaca ex uc1000 1-2 buah, tisu (di restleting belakang), plus botol kecil sunlight yg diisi sleek pencuci botol. bener bikin gue amazed juga pada awalnya karena...
- ukuran fisiknya gak gede. pas belum diisiin peralatan pumping, gue underestimate banget. gue pikir "waduh apa salah ya review para emak itu" ternyata bagian belakang dan dalam tas ini bisa 'melar' banget. kantongnya juga banyak.
- very durable
- tasnya bisa dijinjing atau disandang, karena dilengkapi sama tali tas yg detachable. bisa digantungin di stroller juga.
- sekarang, tas ini juga dipake buat naro makanan dan minuman bumy. emang fungsi awalnya juga lunch bag, makanya dilengkapi sama lapisan penjaga suhu di dalam.
kekurangannya apa yah? hmm jujur aja, sampe sekarang ini tas belom pernah gue cuci! hihihhi... setelah 6 bulan dipake, udah agak lusuh sih bagian atas dan bawahnya. gue baca, cara nyucinya cukup disikat di bagian yg agak kotor trus disiram dikit2 pakai air sabun. will do try it this weekend :D
Subscribe to:
Posts (Atom)