30/03/2013

The Big Choice



Per hari ini, sudah hampir satu bulan saya menjalani hari-hari cuti dari titel karyawati, dan bertugas sebagai ibu yang ‘ngepos’ di rumah.
Saat mem’publikasi’kan kondisi saya ini, entah secara lisan atau melalui social media, reaksi pertama yang saya dapatkan, hampir selalu pertanyaan “Kenapa??” (sengaja pakai dua tanda seru untuk menyatakan ekspresi keheranan para penanya, hehe).


Seperti pernah saya ceritakan di sini, sudah lama saya mencita-citakan “banting setir.” Bahkan gagasan menjadi SAHM sudah saya pikirkan sebelum menikah.
Saya ingat pembicaraan dengan calon suami beberapa tahun silam tentang parenting. Salah satu yang kami sepakati adalah kami tidak ingin anak diasuh oleh pembantu saja. Idealnya sih, saya ingin menjadi ibu yang mengasuh sendiri buah hatinya. Tapi saya masih ingin tetap bekerja setelah menikah, atau bahkan setelah punya anak, untuk mencapai kondisi paling memungkinkan dari segi finansial, dan paling nyaman dari segi kesiapan mental.
Setelah benar-benar menjadi orangtua, saya dihadapkan pada dilema yang umum dihadapi para ibu baru: Kembali ngantor atau tidak?

Kalau ingin mengikuti gambaran ideal tadi sih, inginnya memegang anak secara full-time, nursing kapanpun anak meminta, menerapkan attachment parenting, dan seterusnya. Tapi saya merasa kondisi rumah tangga kami saat itu belum ‘kokoh’ dari segi finansial. Dan saya tahu pasti bahwa saya belum siap secara mental. Kenapa?
Karena sebagian dari diri saya diam-diam lega ketika harus kembali ngantor. Saat ibu-ibu di kantor berkomentar dengan penuh empati pada hari pertama saya masuk setelah cuti hamil, “Duuh, pasti sedih, ya, ninggalin anak di rumah…” Dalam hati saya menjawab, “Sebenarnya enggak juga, sih.”

Betapapun saya merasa bersalah karena merasa begitu, saya harus mengakui ada kelegaan bisa bekerja. Going to the office feels like a breath of fresh air. Saya bisa bertemu orang-orang, membicarakan hal selain popok dan pup, dan tidak perlu melulu nursing (dus, alasan untuk berganti pakaian selain daster dengan kancing di dada.)
Mungkin bisa dibilang ini adalah wujud ketidaksiapan saya untuk menjadi stay-at-home-mom. Seperti kita semua tahu, gambaran ideal bisa terdistorsi jika sudah dihadapkan dengan kenyataan :D

Lalu, kok sekarang ‘nekat’ mau jadi SAHM?

Hari demi hari yang saya lalui bersama anak saya memberikan saya pelajaran, untuk semakin mengenal diri saya, dan menyadari wujud relasi saya dengan anak.
Saya melihat bahwa anak saya lebih clingy kepada oma-nya.
Saya melihat bahwa yang tertanam pada dirinya adalah pola asuh oma-nya yang bersama dia 12 jam sehari 5 hari seminggu.
Saya menyadari bahwa saya kekurangan kesabaran setelah menempuh 4-6 jam perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Saya cenderung cranky menghadapi ‘kesalahan’ khas kanak-kanaknya.
Hampir setiap hari (kerja), saya hanya sanggup “berbasa-basi” sejenak dengan anak sebelum akhirnya tidur membawa kelelahan.

Saya tergugu saat menyadari bahwa my kid deserves better. Kini anak saya telah memasuki masa di mana porsi pengasuhan lebih dititikberatkan untuk me-nurture kemampuan psiko-emosional anak, selain kognitif dan kesehatan fisiknya. Ini adalah saat untuk menanamkan kebiasaan baik, menumbuhkan kemandirian, dan menancapkan pondasi kepribadian dan karakternya. Saya bertanya pada diri sendiri, “Sebaik apa kualitas pengasuhan yang dapat saya berikan dengan tetap bekerja? Dan sebaik apa jika saya berhenti bekerja?”

Untuk menjawab pertanyaan, saya menggali diri sendiri. Gambaran ideal tentang pengasuhan sudah tertanam di diri saya sejak lama. Saya sendiri dibesarkan oleh ibu bekerja, dan semakin dewasa, saya semakin menyadari bahwa she and I are so much alike. She was so stressed out when trying to balance her work and personal life. Seperti yang saya rasakan sekarang. Saya sadar, pasti ada banyak ibu-ibu bekerja di luar sana yang secara fisik maupun emosi menjalani apa yang saya jalani dan tetap bisa melakukan performa yang prima. Memiliki jumlah waktu serta kesibukan yang sama dengan saya, dan tidak mengeluh. Tapi, manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Kita unik, dengan karakter, kepribadian, dan cara kita menjalani hidup.
Saya ingin mencoba melakukan yang terbaik, dalam pandangan dan dengan cara saya. Dan kebetulan saja, dengan kondisi sebagai pekerja 8 to 5 (meski dalam praktiknya 5 to 8), saya merasa tidak bisa mencapai kualitas pengasuhan yang ingin saya berikan kepada anak dengan tetap bekerja.


Saya sendiri percaya akan paham “quality over quantity.” Saya bertaya pada diri sendiri, untuk apa secara fisik bersama anak berjam-jam tapi tetap tidak mampu membangun relasi yang baik, apalagi kualitas pengasuhan yang baik?
Seperti halnya apa manfaat ikut banyak seminar parenting jika tidak bisa mengubah diri?
Dan, untuk apa punya cita-cita jika tidak berusaha diwujudkan?

Saat kuliah, saya selalu membuat target pencapaian IP. Prinsip saya, berikan dulu yang ‘terbaik,’ end-result tidak perlu dipusingkan. Karena penentu berapa besar nilai bukan cuma usaha kita, tapi ada juga faktor x, y, z. Bisa saja saat ujian kita sakit. Bisa saja materi yang kita baca tidak diuji. Ada puluhan bahkan ratusan skenario lain. Yang terpenting adalah berusaha, melakukan yang terbaik menurut saya.
That way, I won’t ask myself at the end of day, “What if i had done this instead of that? What would have happened if i tried harder?”

Maka pelan-pelan saya mencoba menata hati agar berjalan ke arah usaha ‘terbaik’ itu. Saya mencoba less-attached kepada kenikmatan-kenikmatan yang didapat dari kantor (dalam wujud gaji, terutama, hehe). Saya bahkan berkonsultasi dengan psikolog keluarga agar bisa mendapatkan masukan yang paling sesuai dengan kebutuhan saya. Saya juga banyak membaca testimonial ibu-ibu yang “banting setir” supaya mendapat gambaran realistis, misalnya bagaimana beradaptasi dengan perubahan dunia yang tadinya ‘luas’ menjadi ‘sempit?’ Saya juga dapat banyak masukan untuk memanfaatkan waktu dan status sebagai SAHM.

Dari situ, saya menyadari bahwa yang paling penting adalah tidak defensif, buka hati dan rasakan. Kekhawatiran orang-orang terdekat muncul karena mereka sayang dan ingin yang terbaik bagi kita. Komentar-komentar yang kesannya negatif, muncul mungkin karena pengalaman negatif namun bisa dijadikan pelajaran dan alarm pribadi.
Pada akhirnya, no one knows how it’s gonna turn out. Namanya juga usaha :) Seperti saat membuat target tadi, yang paling penting, lakukan bagian berusahanya dulu. I do my part and let God do the rest. Pretty much a leap of faith, right?

Kesimpulannya, saya ingin mencoba melakukan yang terbaik dalam VERSI saya, dan kebetulan saja, dengan segala ‘konspirasi’ kosmik yang telah membentuk kepribadian dan jalan hidup saya, saya memilih ini.

Saat sedang membuat tulisan ini, saya teringat pada adegan di film Mona Lisa Smile yang menurut saya, bisa menggambarkan apa yang saya coba paparkan. Joan Brandwyn yang diperankan oleh aktris Julia Stiles, adalah karakter perempuan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Padahal ia mendapat pendidikan, dan kesempatan, untuk bisa berkeluarga DAN berkarir di masa di mana hak perempuan untuk berkarir sulit didapatkan. Saat dosennya menyayangkan pilihan Joan, dia berkata,

“You stand in class and tell us to look beyond the image, but you don’t. To you a housewife is someone who sold her soul for a center hall colonial. She has no depth, no intellect, no interests. You’re the one who said I could do anything I wanted. This is what I want.”

Meski saya tidak se-jumawa Joan Brandwyn, tapi dia memang mewakili apa yang ingin saya sampaikan. I went to school, had my options, and this is what i want now. What’s yours, Mommies? :)

22/03/2013

a thousand w's and a billion h's

ingat pernah menulis (iya pake tangan dan pulpen, Bumy, if you read this someday and the world is hillybilly-all-techy-that-people-won't-write-with-hands-anymore) lirik lagu ini di diary saat sma dahulu. 
trus tiba-tiba keinget karena ada satu dua bait lirik yang berlompatan di kepala karena satu dua trigger.
it's deep, meaningful, and soothing in a way. 
written in bold are the ones i'm favoriting at this moment.
enjoy.



these are the thoughts that go through my head
in my backyard on a Sunday afternoon
when I have the house to myself and I am not
expending all that energy on fighting with my boyfriend

is he the one that I will marry?
why is it so hard to be objective about myself?
why do I feel cellularly alone?
am I supposed to live in this crazy city?

can blindly continued fear, induced regurgitated life, denying tradition be overcome?

where does the money go that I send to those in need?
if we have so much why do some people have nothing still?
why do I feel frantic when I first wake up in the morning?
why do you say you are spiritual yet you treat people like shit?

how can you say you're close to God,
and yet you talk behind my back as though I am not a part of you?
why do I say I'm fine, when it's obvious I'm not?
why's it so hard to tell you what I want?
why can't you just read my mind?

why do I fear that the quieter I am the less you will listen?
why do I care whether you like me or not?
why is it so hard for me to be angry?
why is it such work to stay conscious and so easy to get stuck,
and not the other way around?

 
will I ever move back to canada?
can I be with a lover with whom I am a student and a master?
why am I encouraged to shut my mouth when it gets too close to home?
why cannot i live in the moment?

("These are The Thoughts" by Alanis Morissette)

20/03/2013

remah-remah hari

baru juga rabu, tapi rasanya minggu ini sering banget keluar rumah deh. hampir tiap hari balik ke rumah lagi pas udah gelap. kok gak sejalan sama status SAHM?! (baca: kangen tidur abis sarapan dan abis makan siang)
senin, gue dan bumy ngikut adit berangkat kerja. soalnya doi mau ada rencana kunjungan ke kantor orang di area SCBD, yang mana jauh dari stasiun. jadi menurut dia mendingan bumy taro di daycare aja biar pulangnya bisa bareng naik mobil. rempong deh kalo dipikir-pikir sekarang. tapi gue nurut aje. bagusnya, jalanan senin pagi itu bersahabat banget. perjalanan cuma 1 jam dari rumah ke kebayoran.
setelah bumy di-drop di daycare, gue nongkrong deh, kali ini di KFC gunawarman. ternyata, mereka lagi promo paket hazelnut coffee + donut 11 ribu ajah. bagus deh, bisa ngopi murah, dapet wifi pula. (sok keren gitu gue nongkrong buka laptop ala pekerja freelance. padahal browsing doang bukannya berkarya, fufu).

besoknya, berhubung paspor kita udah gak diambil sejak dibikin 6 bulan lalu, adit ngajak kita ke imigrasi tangerang. repot amat sih harus ngambil sendiri?! soalnya sebelumnya adit udah nyuruh "biro jasa" ngambilin, tapi dia nakut-nakutin. katanya kalo udah 6 bulan gini bakalan ribet dan susah. intinya minta biaya tambahan doi. jadi adit decide ambil sendiri aja, biar tau gimana dan apa kendalanya (baca: gak rela dikibulin calo).
ternyata, proses ngambilnya gak lebih dari 10 menit. paspor kita masih disimpenin. meskipun petugasnya sempat rada nakut-nakutin juga, bilang "wah udah kelamaan nih, udah digunting kayaknya." tsk.

balik dari imigrasi, berhubung udah deket sama rumah nyokap, kita memutuskan mampir dulu. lumayan bisa makan gratis (old habits die hard). dari rumah nyokap, kita mampir dulu ke ruko paramount di gading serpong. keren amat deh di situ, makanan rukonya burger king, domino's, ramen, dan tempat bilyar haha.
trus sampai di rumah udah jam 9 malem. tepar berats.

sementara hari ini, adit ada urusan harus ke klien (padahal lagi cuti). kebetulan, ada agenda makan siang sama nisha dan lia juga. senangnya beta bisa bersosialisasi, hehe. sebelum maksi, kita ke playgroup di kemang dulu. nanya-nanya soal admission, keliling-keliling sekolahnya, dan berujung membawa formulir pendaftaran :7
sekolahnya bagus, bersih, dan sistemnya terlihat udah 'matang.' gue jadi bingung sendiri deh nih (siapa suruuuh). kalo di tetum, sekolahnya lebih deket, bayaran lebih murah
(bobot 80% dari seluruh pertimbangan, hahaha). tapi kalau menyasar sd tujuan, pengennya 'merintis' dari sekarang melalui playgroup dan tk kemang itu. 

bumy dapat kado dari bunda Nisha dan kakak Nara. girang banget doi (apa silau kena blitz nih)

sekarang gue sibuk lagi browsing tentang kedua sekolah playgroup dan tk itu... feeling sih masih berat ke tetum ya. lagian, gue baca ada juga anak yang dari luar playgroup kemang itu bisa diterima. binun ey.

fiuh, semoga aja bisa bikin keputusan yang paling tepat deh, dan end-result-nya juga oke. amin.

oya, tambahan random update lagi. pas kemaren di mrican, nyokap gue ujug-ujug ngomong, "dit, kamu jadi ketua panitia ya." adit yang lagi ongkang-ongkang kaki nonton tv, langsung duduk tegak, "hah? kok saya, mah?"
panitia acara kawinan adek gue maksudnya. hahahha. garuk-garuk pala deh dia abis itu, kelakuan khas kalo lagi bingung. tapi ya, emang tipikal anak sulung, control freak. lagaknya aja bingung di permulaan. gak sampe 30 menit, dia udah mulai "on fire." langsung nanya ke debby (adek gue), "jadi apa aja yang udah beres nih? checklist-nya mana? technical meeting sama vendor kapan?" jadilah adek gue dibikin begadang sampe jam 1 pagi, hahaha. btw, kemarin dikirimin foto undangan yang udah jadi sama adek gue. senyum puas deh si ketua panitia, karena satu item bisa checklist (dari sekian puluh). 

btw, pembuatan undangan ini 90% campur tangan gue dan adit, hehehe. #sindromanaksulung #controlfreak
lirik lagu ini sebenernya kandidat kuat kata-kata yang mau dipasang di undangan gue dahulu. tapi 'kalah' sama potongan dialog di film When Harry Met Sally. seneng deh, in a way jadi terwujud juga obsesi memampangkan kata-kata keren ini di undangan :P






"I'll be your mirror, reflect what you are
in case you don't know, 
I'll be the wind, the rain, and the sunset, 
the light on your door
to show that you're home." 
("I'll be Your Mirror" by The Velvet Underground)







18/03/2013

something about taking the road less taken



CAN I AFFORD TO BE A STAY-AT-HOME-MOTHER?

by vanshe — Monday, March 18th, 2013 at 7:30 am


Saat menjelang akhir tahun, seperti banyak orang, saya menyusun resolusi untuk dicapai di tahun yang baru. Daftar yang saya miliki tidak begitu panjang, tapi ada beberapa hal yang kerap tercantum pada daftar itu selama beberapa tahun belakangan. Salah satu resolusi yang berulang itu adalah untuk menjadi stay-at-home mother, atau disingkat SAHM.

Alasan saya terus bekerja setelah menjadi ibu, selain agar memiliki sarana aktualisasi diri, juga untuk meraih target-target finansial kami sebagai keluarga. Sebutlah target dana-dana yang sifatnya ‘wajib’ seperti dana pendidikan anak, dana pensiun, dan dana darurat, hingga target dana yang sifatnya ‘tersier’ seperti liburan atau nonton konser. Tentunya, dengan bekerja, saya memiliki privilege untuk berkontribusi pada target-target ini. Tapi, keinginan untuk menjadi SAHM terus-menerus menggedor dinding nurani saya, dan setelah 3 tahun menunggu, insya Allah tahun ini saya bisa mewujudkannya.

Hal pertama yang saya pikirkan sebelum resmi “banting setir” adalah mengukur kesiapan dari segi finansial. Seperti judul artikel ini, saya bertanya pada diri sendiri, “Can I afford to be a SAHM?”
“Kran” penghasilan yang tadinya mengucur dari dua titik, akan berkurang satu, dan basically, we will be living on single-income.

Penantian saya selama 3 tahun untuk mewujudkan resolusi sebagai SAHM, memberikan saya waktu untuk menyusun persiapan dari segi finansial maupun mental. Kali ini, saya ingin berbagi persiapan yang saya lakukan dari segi finansial (sisi mentalnya hopefully segera menyusul, hehe), semoga bisa memberikan insight pada Mommies yang memiliki resolusi serupa :)

Hal-hal yang saya lakukan untuk mengukur kesiapan dari segi finansial, di antaranya:

1. Mencatat budget bulanan.
Kegiatan ini sebenarnya sudah menjadi ‘makanan’ saya sejak mulai berumah-tangga. Tapi sekarang, pencatatan budget yang saya lakukan difokuskan untuk mencari pos pengeluaran mana saja yang bisa dikurangi, atau bila perlu, dihilangkan.
Dari sini, kita juga dapat mengetahui seberapa besar ‘biaya’ yang kita keluarkan jika terus bekerja, dan seberapa banyak yang bisa dihemat dengan menjadi SAHM.
Saya juga berusaha mengisi budget-tracking dengan sejujur mungkin. Karena sebelumnya, kegiatan budgeting ini seringkali manis di awal (bulan) saja. Begitu sampai pada tahap review di akhir bulan, saya tutup muka melihat realisasi pengeluaran :)) Kejujuran dalam mengisi budget-tracking ini diharapkan bisa menghasilkan gambaran cashflow keuangan keluarga dalam versi paling baru dan realistis.

2. Menyusun cashflow tahunan dan mereview kesehatan keuangan keluarga.
Selain menyusun cashflow bulanan, cashflow tahunan juga sangat penting untuk dilakukan untuk mendapat gambaran lengkap mengenai kondisi keuangan kita. Dari cashflow tahunan, kita dapat mengetahui seberapa besar dana yang bisa kita alokasikan untuk berinvestasi, setelah dikurangi pengeluaran yang sifatnya tahunan. Me-list down pengeluaran tahunan tidak sulit kok, karena sifatnya yang rutin, seperti pembayaran pajak, premi asuransi, belanja keperluan hari raya, dan lain-lain.
Sementara rasio kesehatan keuangan keluarga yang dapat dihitung di antaranya rasio likuiditas, hutang, dan investasi. Dari situ, akan didapatkan gambaran riil mengenai kondisi keuangan kita. Tentunya ada batasan seberapa besar angka yang harus dicapai agar kondisi kita tergolong “sehat.”
Saya sendiri mencoba menentukan batasan minimum rasio yang perlu dicapai untuk mengukur kesiapan dari segi finansial. Tapi saya tidak menjadikannya tolak ukur, melainkan hanya sebagaibooster motivasi. Karena urgency untuk “banting setir” menjadi SAHM tidak dapat dibandingkan lurus dengan ‘angka,’ dalam hal ini nominal uang yang kita miliki, ‘kan?

3. Mencari cara mendapatkan penghasilan tambahan.
Yang enak dari hal ini, dengan lepasnya status saya sebagai pekerja, seakan-akan saya mendapat privilege untuk melakukan hal yang saya sukai. Melakukan hal yang kita sukai saja sudah menjadi obat jiwa, tentunyamendapatkan penghasilan tambahan dari hal itu menjadi ‘bonus’ yang sangat menyenangkan.

4. Melakukan trial‘ hidup dengan satu income beberapa bulan sebelum “banting setir”.
Selain untuk membiasakan diri supaya tidak terlalu ‘kaget’ nantinya, hal ini juga membantu kami menyusun prioritas pengeluaran. Misalnya dengan berusaha memenuhi dana darurat, meski belum bisa memenuhi pos ini seluruhnya, paling tidak mengurangi nominal kewajiban.
Melalui ‘trial‘ ini, saya menyadari bahwa dengan mengurangi pengeluaran, we can contribute by saving money. Misalnya dengan mengurangi cicilan bulanan, atau dengan cara sederhana, seperti berkebun sayur-mayur (bagi yang hobi), membuat sendiri mainan anak, memanfaatkan promo kartu kredit, dan banyak lagi.

5. Saya pernah membaca pengalaman seorang ibu yang “banting setir” menjadi SAHM, bahwa sebelum resign, dia membuat rekening persiapan. Rekening itu bertujuan membiayai kebutuhan yang sifatnya personal atau ‘tersier.’ Saya meniru cara ini, dengan menyisihkan dana untuk mengisi rumah. Mommies lain mungkin ada yang ingin menyisihkan untuk ikut seminar parenting, dana bangun rumah, traveling, dan lain sebagainya.

Sekarang giliran para Mommies yang ingin “banting setir” seperti saya untuk menjawab, can you afford to be a SAHM? And what are your preparations? :D


superconnected

Yang pernah bandel berkompensasi dengan jadi aktivis religi. 
Yang pernah jadi nobody pas jaman sekolah berkompensasi dengan sibuk berkoar-koar soal achievement (dan harta.) 
Yang eks-transmigran berkompensasi dengan lagak ala "orang sukses di ibukota." 
Yang (pernah?) jelek berkompensasi dengan... pamer dapet laki tajir, atau foto salju, atau koleksi tas branded? 

So, what do you compensate with?
I know I compensate. I just hope I do it so subtly noone would cringe :))

the weekend with the school thingy


weekend lalu, kita nginep lagi di karawaci. bumy udah nginep sejak kamis malam, kita sendiri baru nyusul jumat malam. sebenernya bisa aja sih gue ikut nginep sejak kamis, tapi udah terlanjur bikin janji sama dokter gigi untuk jumat sore. lagian supaya bisa pacaran juga hari jumatnya hehehe. kita nonton Oz di blitz. gak rugi deh nonton film itu di bioskop, visualnya bagus, ceritanya juga seru dan ngasih adaptasi lain cerita "the wizard of oz," trus durasinya juga lama, 2.5 jam! huahaha.

di karawaci, gue dan adit sempat ngemol sebentar untuk jual blackberry dan nongkrong di old town white coffee. kegiatan lainnya, kita sempat berenang sabtu pagi di palem semi, dan absen ke rumah eyangnya bumy. hal lain yang gue inget saat weekend sih molor berjam-jam. bangun jam 8 pagi, lanjut bobok siang lagi jam 11 sampai jam 3 sore. kebluk parah.
etapi ada alasannya kenapa gue tumben doyan tidur :P 
malamnya tiba-tiba gue kepikiran bumy mau disekolahin di SD mana, trus browsing-browsing, bingung, berujung panik dan perut lapar hingga makan sepiring nasi jam 3:30 pagi. walhasil baru beneran tidur jam 4 pagi, pas udah kedengaran suara ngaji dari speaker masjid :|

emang apaan yang bikin bingung?

jujur aja, selama ini gue cuma mikirin sekolah anak tuh sampai level PG dan TK doang. untuk level selanjutnya masih males mikirin, karena kayanya ribet aja :S lebih banyak yang harus dipikirin. haha. 
jadi fokus pencarian gue ya cuma sampai ke level TK. sejauh ini, gue merasa puas sama kurikulum dan 'gaya' pendidikan di tetum bunaya. di situ emang udah ada SD-nya, tapi gue gak pernah mendalami atau bener-bener mikirin bumy mau SD di situ atau gak.
karena 'disulut' oleh pernyataan dari tetangga di postingan ini, akhirnya gue jadi kepikiran juga, "bumy mau disekolahin di mana nih nanti SD-nya??"

gue pernah nulis kalo gue maunya anak sekolah di tempat yang ada level SD, SMP, bahkan SMU-nya sekalian. selain supaya bayarnya lebih murah ketika naik level (hahaha), anak gak perlu ganti sekolah dan beradaptasi sama sistem baru lagi, kita juga diharapkan udah 'klik' sama visimisi dan cara mendidik di yayasan itu kelak. 
akhirnya browsing-lah gue sepanjang malam itu. hasilnya, gue tertarik sama SD Kupuk*pu.

pros-nya:
- berbahasa indonesia. 
- akreditasi A, nilai UAN-nya juga termasuk tertinggi.
- metode fun and active learning.
- dipilih artis. nih buktinya. HAHAHHAHA. (ngaku deh emang dangkal :P)
- ada SMP-nya, yang dimiliki sama tokoh pendidikan terkenal. 
- sekolahnya punya lahan oudoor cukup luas.

contra-nya:
- jaraknya lebih dari 10 km dari rumah. wilayah macet pula. tapi bisa berangkat bareng adit kerja sih. 
- kuotanya terbatas, dan konon lebih memprioritaskan lulusan dari TK tertentu. 

banyak sih yang perlu ditanyain. kayak nanti akan banyak PR atau gak. trus sistem pengajarannya modular gak, yang tergantung anak 'cepet' atau gak di satu pelajaran tertentu (tau berkat browsing-red). ada sistem anti-bullying-nya gak. dsb. dsb.
udah berencana mau survey sih minggu-minggu ini. sekarang, gue jadi mempertimbangkan kemungkinan bumy disekolahin di PG dan TK "tertentu" itu. kumaaat labilnya! 

ya biarin deh, mumpung belom definitif 'kan pilihan PG-nya (baca: belum bayar). 
sebenernya ada juga keinginan menyekolahkan anak di sekolah islam, atau yang (seperti udah ditulis 1024kali) bermetode montessori, atau yang fasilitas sekolahnya wahwihwuh namun SPP bulanannya gak lebih dari 10% income dan uang pangkalnya masuk akal. tapi kredo paling realistis soal hidup 'kan "we can't have it all, sister!" 

selamat survey, mikir, dan bayar deh, bok. *sodorin diri sendiri silverqueen chunky*





14/03/2013

apparently, you can have one


Sebagai penyandang titel ibu bekerja, memilah-milah waktu dengan cermat adalah “makanan” sehari-hari saya. Bukan saja untuk mengejar waktu berkualitas dengan anak, tapi juga untuk menyediakan waktu berkualitas dengan diri sendiri, atau lazim disebut “me time.” Kalau diumpamakan, “me time” bagi saya terasa seperti oase di tengah gurun pasir: hal itu sangat saya butuhkan, tapi juga sulit untuk ‘ditemukan.’

Setelah bekerja selama lima hari dalam seminggu, waktu pekan menjadi waktu yang paling ideal untuk mengejar ‘ketertinggalan’ dalam relasi saya dengan keluarga. Kadang menyusun rencana (atau angan-angan) untuk diwujudkan saat akhir pekan mampu memberikan suntikan semangat bagi saya menjalani rutinitas pada hari kerja. Jujur, sebenarnya saya ingin sekali meluangkan waktu khusus untuk diri saya sendiri. Melakukan hal-hal yang melibatkan hanya ketertarikan dan kepentingan saya. Tapi seperti tadi telah tertuang, rasanya sulit sekali mewujudkan waktu khusus itu tanpa rasa bersalah.


Karenanya saya bertanya, apa mungkin saya, kita, para ibu, merasakan yang namanya “me time” tanpa rasa bersalah?
Ibu bekerja ingin meluangkan sebanyak mungkin waktu dengan anak-anaknya.
Ibu yang sedang memberikan asi ekslusif terus-terusan “diganduli” si anak :))
Ibu yang “multitasker,” mengurusi tidak hanya well-being keluarganya, tapi juga bisnis pribadi.

Setelah membaca ke sana dank e mari, saya jadi tahu, bahwa kodrat pertempuan yang multi-fungsi itu, justru membuat kita perlu menyeimbangkan peran dan identitas diri melalui “me time”.
“Me time” diperlukan agar kita bisa menikmati peran sebagai ibu.
“Me time” diperlukan untuk mengisi ulang dan memperbarui semangat.
“Me time” juga menjadi cara kita mencontohkan perilaku baik terhadap diri sendiri kepada anak-anak kita. Bahwa kita tahu kapan harus mengambil jeda, bahwa kita perlu memanjakan jiwa dengan melakukan hobi, dan pentingnya mengejar mimpi pribadi.
Banyaknya peran yang kita sebagai perempuan genggam, kadang membuat kita merasa egois dan bahkan tidak bertanggung jawab jika mengakui dengan lantang bahwa kita perlu waktu untuk diri sendiri. Padahal, “me time” adalah cara kita mencapai keseimbangan identitas, bahwa kita bukan sekedar ibu, tapi juga individu.
“Me time” tanpa rasa bersalah dapat dicapai dengan mengingatkan diri bahwa kita tetaplah ibu yang baik meski melakukan hal-hal tanpa bersama anak kita.
Dan ternyata, seberapa efektif ‘pengobatan’ “me time” terhadap jiwa dan semangat kita, tidak ditentukan oleh seberapa lama waktu yang perlu dihabiskan.


Jika kita hanya punya lima menit: make good use of good song(s). Saya biasanya memilih lagu favorit saya di ipod untuk disetel pada perjalanan menjemput anak ke daycare (yang waktu tempuhnya hanya, ya, lima menit).
Jika punya waktu kurang dari setengah jam: mungkin waktu luang ini bisa digunakan untuk berkomunikasi, lewat chat atau phonecall dengan teman, atau malah lewat ibadah kepada Sang Pencipta :D
Jika punya satu sampai dua jam (perhatikan saya tidak menyelipkan kata “hanya”): ini bisa disebut rejeki nomplok :D Kita bisa memanjakan badan lewat nyalon, atau massage. Bisa juga lewat olahraga bagi yang ingin. Atau memanjakan pikiran dengan membaca buku favorit. Atau memanjakan jiwa lewat melakukan hobi, atau lewat kencan makan siang dengan sahabat.
Jadi, sepertinya saya perlu mulai menjadwalkan waktu istimewa untuk “kencan” dengan diri sendiri. Tidak perlu merasa bersalah, karena manfaatnya bukan hanya akan dirasakan diri kita, tapi juga oleh mereka yang kita sayangi dan kerap prioritaskan.
Apa Mommies sudah punya ide akan punya “me time” seperti apa? Atau justru ingin curhat susahnya meraih “me time” setelah menjadi ibu? Siapa tahu ada Mommies yang punya pengalaman dan kiat 
mewujudkan “me time” dengan cara tidak terduga.

Please do share :)

13/03/2013

rambling day wednesday


i'm writing this from a place called "the cafe at pistos," and a famous face is sitting on the table next to me. menemukan tempat ini secara tidak sengaja. awalnya mau melipir ke KFC (sahaja), tapi parkirnya penuh. i was looking for a coffeeshop. pengennya "me time" nulis/merenung/bengong di tempat yang gak crowded, serve tasty sweets, and of course, free wifi. this place caters the first two: there's only 2 groups of guest (myself counts as one), and this chocolate tiramisu i ordered is quite good. as for the wifi, kok gak bisa buka satu halamanpun di browser. boo. (UPDATE: ternyata wifi-nya cepet, mungkin karena tinggal gue doang tamunya).

hari ini gue mengantar bumy ke daycare. loh, kok masih taro bumy di daycare?
well, tadinya per maret mau langsung 'diputus' keanggotaannya. tapiii, saat gue observasi selama di rumah, bumy masih berpikir dia akan balik lagi ke daycare. dia suka bilang, "nanti bumy sama C, O, dan K mau gini gitu gini gitu." khawatir bumy 'jetlag' karena perubahan yang all-so-sudden, akhirnya kita putusin bumy ke daycare 2 kali seminggu aja. atau menurut istilah di daycare-nya, ambil "cuti."
dengan cara gini, dia seneng bisa ketemu temen-temennya, dan gak sumpek di rumah. embak-nya di daycare juga tetep sama, dan kalau mau masuk full-time lagi gak perlu masuk waiting list. 
faedahnya buat gue, yatentusaja, gak sumpek di rumah juga hahaha. bisa "me time" kayak sekarang. nulis-nulis, eat good food, enjoy a newfound venue on a weekday. blissful!

now let's put some updates on this blog.
- dalam sebulan ini, gue (dan adit) udah dua kali nyobain totok di dian kenanga. gue totok wajah, adit totok badan. dia bilang sih sakit-sakit gitu ditotok, mungkin karena yang notok lelaki yah. sementara gue asik-asik aja... uenak malahan, haha. 
pertama kali nyoba di DK yang di ampera, kali kedua di pejaten. di pejaten emang lebih mahal tapi tempatnya jauuh lebih bagus. satu orang ditotok di satu kamar sendiri (kalo di ampera sharing berdua), trus tiap kamar ada tempat bilas badan. kalah deh bersih sehat (place-wise). tapi untuk badan, gue masih prefer BS, dipijet-pijet 'manja' gitu. 

- minggu lalu, ngajak mricans makan di CJ tom yum. the best part is they love it. nyokap dan debby sih yang doyan, bokap gue lempeng aja karena dia gak suka seafood apalagi tom yum -_- 
kaya gue, mereka tergila-gila tom yum dan salad mangganya. nyokap gue sampe pesen salad mangga buat dicemil di rumah. 

- weekend lalu, jumat malam kita berkeliling di jagakarsa tapi yang ke arah lenteng agung. di deket stasiun, adit ngajak ke restoran betawi gitu. tempatnya bagus, desainnya cocok buat keluarga karena ada tempat lesehan dan kolam-kolam ikan. makanannya juga enak. gue nyobain sayur asem ala betawinya, puedeesss tapi seger. 
sabtu paginya kita nyari sarapan di sekitar jagakarsa lagi. nemu tukang bubur ayam yang 'bersih' dan lumayan enak yang ngetem di warung glenmore (kalo gak salah namanya gini). kelar sarapan, kita kerja bakti di rumah.  
malamnya, kita bingung mau ke mana. akhirnya memutuskan jalan aja dulu, along the way baru putusin mau nongkrong di mana-which basically is our philosophy kalo nyari makanan. 
akhinya kita nyangkut di la codefin. setelah liat-liat dvd, kita jalan keluar dan mampir ke souly butter kitchen. what a cozy and cute little place! we had a cupcake, a croissant, and lycee iced-tea. it was a good (and sweet) little treat for our saturday night.



the next day, kita ke pasaraya blok M untuk ngikutin seminar parenting. the good thing about was it's held in a playground. jadi bumy dan adit bisa main-main sementara gue ngikut seminar. 
judul seminarnya "lepas emosi agar bebas bully," bagus juga isinya meski pembicaranya agak bikin bosen. datar dan 'teknis' banget cara bicaranya. 
ohya ada yang lucu. ketika kita lagi nunggu lift untuk turun dari playground itu, ada ibu-ibu yang dengan judesnya nanya-nanya ke petugas playground. "di sini mainannya choo-choo train doang?! gak ada apa-apa lagi?! gak worth it banget harga segini! blablabla" trus ujung-ujungnya dong dia bilang, "nanti saya tulis di blog nih! harganya kemahalan padahal mainannya cuma dikit!" gue dan adit yang... liat-liatan, trus pas liftnya finally dateng, adit bilang, "buruan tutup, jangan sampe satu lift sama kita!" hoahahha. 
wah udah gak jaman surat pembaca atau complaint letter, tinggal cuap-cuap di blog. seleb blog kali ya doi?? 
menurut kita, dari segi harga, tempat itu terbilang standar playground di mall. tempatnya juga bagus dan masih baru. ketika kita bertanya-tanya kenapa si ibu segitu betenya, kita baru ngeh, kalo doi bawa anak 3 orang. mungkin dia ngerasa rugi bandar ya karena gak puas tapi udah keluar duit sekaligus 'banyak.' 
jadi, salah siapa dong??

- berhubung selasa tanggal merah, jadi kebersamaan ala weekend kita bisa bertambah. selasa pagi, kita brunch di tempat yang kayanya lagi hip di twitter (hahah), mangia di pangpol. we had maple bacon pancake (kayanya lebih cocok disebut crepes), big breakfast, nasi jeruk with ikan dori (lupa namanya), "after your hard night" juice, and hot tea. here's what i think,
--> food-wise: nothing extraordinary. 
--> place-wise: very cute meskipun sempit. perabotnya dari moje semua kayanya, hehe. 
--> price-wise: it's in jakarta selatan, so IDR 200rb untuk bertiga is not surprising lah ya. although i think we would come here again once in a bluemoon. 
yang penting 'kan udah ke-checklist dari daftar "current hip place to try," ambil foto diri dan makanan 100 kali, dan woro-woro via path/twitter (no i didn't!).


- watched these following flicks:
--> "silver linings playbook": bikin hati dicubit-cubit, senyum gemes tapi nangis trenyuh juga. tapi in the end, aftertaste film ini mengingatkan pada komik jepang.  
--> "flight": adit's choice. gue cuma nonton 20-30 menit dilompat-lompat. definitely didn't want to watch first 10 minutes of it! adit nawarin liat kejadian kecelakaannya berkali-kali (freak!), tolong yahhh. dia nonton sampe rampung sih, drama gitu kata doi.
--> "book of love": chose this karena simon baker jadi pemeran utama prianya. yang di the mentalist itu loh. film yang aneh. aneh as in jelek.
--> "the master": is this movie supposed to be artistic and deep and full of philosophy crap? i just didn't get it. it's weird. and watching current version of joaquin phoenix made me feel uncomfortable :S
--> "ghost town": ricky gervais' in it! need i say more? hehehe. he is not as hilarious as he is on stand-up shows or talkshows. he plays a dentist, an antisocial and such a pain in the ass. tapi filmnya sweet banget. i lovelove this last dialog,
girl: "it (her tooth-ed) hurt when i smile."
him: "i can fix it." 
uhuhuhuh.

there goes my updates (ramblings). laptop gue baterenya tinggal 25% dan tempat ini sungguh kekurangan colokan, ternyata. 
ada sih colokan, tapi posisi tempat duduknya panas semua. mereka gak sediain tirai (yes i asked), sementara di tempat duduk yang adem gak ada colokannya. hUufTb4ng3d kan.


okeeei, semoga abis ini gue bisa ngerjain peer bikin artikel dengan baik dan benar yah. because this nongkrong is meant to be productive, haha.