Dari situ, gue dan Adit jadi bisa memetik hikmah berupa pelajaran buat jadi mandiri dan akhirnya bisa beli rumah sendiri. Rumah pertama kita tuh kecil dan 'seadanya' banget. dan nggak bisa dipungkiri kalau ada beberapa kekurangan yang jadi ganjalan.
Berhubung rumah itu rumah second, jadi diperlukan beberapa perbaikan di sana-sini, kayak genteng bocor, benerin ventilasi kamar, cat ulang, dan membuat kondisi toilet dan dapur jadi lebih layak.
Dua tempat yang disebut belakangan ini jadi concern utama gue.
Buat gue, dapur nggak perlu mewah ber-kitchen set marmer atau diisi dengan perkakas nan high tech (ya emang nggak afford jugak!), yang penting bersih! Kebersihan penting banget buat gue, karena 'kan di tempat itu bahan-bahan makanan disiapkan, trus peralatan memasak serta makan dibersihkan. Gue sendiri tipe yang ogah makan di tempat jorok. Memang daku tak terlahir sebagai anak milyuner, tapi udah bawaan nggak suki sama yang jorse-jorse. Trus kita juga menyempatkan ngecek apakah air di situ layak minum atau nggak, karena pastinya nanti bakal dipake buat bebersih, masak, bahkan diminum 'kan. Jangan sampai taunya mengandung zat-zat berbahaya buat badan dan lingkungan.
| Gambar dari sini |
1. Bersih
2. Toiletnya layak.
3. Ada wastafel buat cuci tangan.
Gue orangnya nggak jijikan, tapi pengennya sebisa mungkin dapet toilet yang kondisinya nyaman buat dipandang dan digunakan - meski kalo udah darurat, ya, sikat bleh!
Nah, gue perhatiin, di kota besar kayak Jakarta aja, jarang banget gue bisa dapetin toilet yang layak. Bahkan di restoran, gue masih nemu banyak yang kondisi toiletnya amburadul, atau nggak ada tisu toiletnya, atau bahkan sabun cuci tangannya abis. Gimana di tempat umum macam stasiun, terminal, atau pom bensin?? Gue emang pernah nemuin beberapa yang bersih (dan itu gue catet!), tapi, bisa ditebak, persentasenya miniiim banget.
Kebetulan, dua minggu lalu gue diajak Mommies Daily ikutan acara peluncuran Project Sunlight yang digagas oleh Unilever. Apa, sih, ini? Sama sekali nggak berhubungan dengan nyuci piring, ternyataa... Project Sunlight ini bergerak dari gagasan Unilever untuk mengajak orang-orang di seluruh penjuru dunia mewujudkan masa depan yang lebih cerah buat anak-anak dan generasi mendatang. Caranya adalah lewat mengampanyekan cara hidup yang lebih sustainable (lestari).
Nah, pada Project Sunlight kali ini, Unilever menyoroti kondisi sanitasi di Indonesia dan mengambil tema "Dukung Masa Depan Sehat."
Tema dan fokus gerakan ini tepat sasaran banget sih, menurut gue. Karena pada acara kemarin itu, dipaparkan kalau kondisi sanitasi di Indonesia tuh tergolong buruk. 110 juta penduduk nggak punya sanitasi yang baik, lebih dari 40 juta orang cuma punya akses yang minim untuk sumber air bersih, dan bahkan ternyata cuma ada 2% akses toilet bersih di perkotaan! Beneeer 'kan, tuh, pengalaman gue, susah banget nyari toilet layak di Jakarta!
Tau nggak, dari rate ini bisa disimpulkan kalo negara kita adalah salah satu yang terendah di dunia dan di antara negara berpenghasilan menengah.
Project Sunlight ini di-launch tanggal 14 November 2014 lalu dan cuma diadakan di 5 negara terpilih. Indonesia, nih, dianggap strategis... ya wajarlah, lha wong angka-angka tadi udah berbicara sendiri, huhuhu.
Lalu, apa kaitan antara kondisi sanitasi dengan masa depan yang lebih cerah buat anak-anak kita dan generasi mendatang? Ternyata, terdapat fakta yang menyatakan bahwa ribuan anak menderita atau meninggal karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, dan penyebab utamanya adalah kesulitan mendapatkan akses untuk sanitasi yang layak dan air minum yang higienis. Anak-anak tuh bisa meraih mimpi mereka, menjadi apapun yang mereka mau asalkan mereka sehat, 'kan? Nah, lewat Project Sunlight ini, Unilever mengajak kita semua turun tangan, baik untuk meningkatkan awareness soal sanitasi maupun untuk langsung berbuat mengedukasi kebiasaan sehat.
| Gambar dari sini |
Sebagai orangtua, yang gue lakukan pastinya menerapkan kebiasaan baik dan sehat dari rumah sendiri, ya. Edukasi soal sanitasi bisa disampein lewat cara-cara yang gampang dan seru supaya anak tertarik dan mau niru. Mulai dari ngajarin anak menjaga personal hygiene dengan cara nyikat gigi yang bener, menerapkan kebiasaan mencuci tangan, dan bebersih sendiri di toilet. Maupun ngajak anak menjaga kebersihan toilet (untungnya Bumy 'hobi' diajak nyikat toilet), dan lingkungannya.
Dan ternyata di acara kemarin, Astri Wahyuni selaku External Affairs Manager PT. Unilever Tbk., juga bilang,
"Fasilitas bisa dibuat cepat, tapi perilaku bersih butuh waktu untuk ditanamkan."Bener banget, deh, gue liat sendiri banyak toilet yang (tadinya) bagus jadi jorse gara-gara perilaku pemakainya yang cuek.
Untuk menyebarkan gagasan Project Sunlight ini, Unilever memilih wakil anak Indonesia untuk menyampaikan ide-ide meraih mimpi dan kehidupan yang lebih baik, yaitu Dira Noveriani. Paparan Dira oke dan menohok banget, deh. Salah satunya dia bilang, tantangan bagi kita menerapkan kebiasaan hidup yang sehat itu sebenarnya sikap apatis dan kurangnya edukasi. Videonya bisa ditonton di sini:
Nah, kita semua bisa ikut berpartisipasi, lho, untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik buat anak-anak kita dan generasi mendatang. Selain menyiapkan anak-anak kita sendiri buat jadi agent of change lewat edukasi soal sanitasi, kita juga bisa masuk ke website Project Sunlight, yaitu www.projectsunlight.co.id.
Dari situ, kita bisa:
- Lihat (View). Caranya dengan menyaksikan film inspirasional di situs. Tiap kali film ini ditonton, Unilever akan menyumbangkan Rp100 untuk Project Sunlight!
-Bertindak (Act). Ada beberapa cara partisipasi untuk ini, antara lain:
1. Menulis ide untuk #brightfuture di situs Project Sunlight mengenai bagaimana bisa membuat perubahan. Unilever akan menyumbang Rp1.000 untuk setiap ide yang dituliskan.
2. Kita juga bisa turun langsung dengan menjadi relawan edukasi kesehatan di sekolah dasar di Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dan Yogyakarta. Unilever akan menyumbang Rp100.000 untuk setiap partisipasi relawan.
3. Kalau masih sulit nyari waktu buat jadi relawan, sebagai ebo-ebo, kita bisa berpartisipasi lewat belanja. Untuk setiap pembelian produk Lifebuoy, Pepsodent dan Domestos di Lotte Mart, Unilever akan menyumbang Rp1.000, lho!
-Berbagi (Share). Sebarkan cerita atau video inspirasional mengenai gagasan anak tentang masa depan untuk menginspirasi lebih banyak orang. Gampang banget, 'kaan?
Last but not least,
-Ikut (Follow). Yuuk, ikutin cerita inspirasi di Project Sunlight.
Di website Project Sunlight, kita juga bisa dapetin materi edukasi untuk 'menularkan' kebiasaan sehat, lho, misalnya buat ART atau nanny di rumah. Atau kita bisa mencetak trus tempel materi itu di sekolah anak, puskesmas, atau PAUD dekat rumah. Untuk info lebih lengkap, bisa dilihat di Fan Page Unilever.
Ada banyaak, deh, cara buat berpartisipasi. Tapi menurut gue, langkah awal yang utama adalah stop jadi apatis! Dengan menyadari kalau isu sanitasi ini masalah kita bersama, akan tumbuh kepedulian untuk menyelamatkan anak-anak dan generasi mendatang.
![]() |
| Semoga kelak senyum semua anak Indonesia bisa seceria si mas :') |

No comments:
Post a Comment