Showing posts with label rambling. Show all posts
Showing posts with label rambling. Show all posts

03/09/2019

on trying to navigate the world

source

My end of week check in:


I feel tired yet satisfied. Beberapa 'agenda' berhasil terlaksana: makan bareng keluarga buat ngerayain ultah nyokap, nganter Bumy kejuaraan taekwondo, plus ngemol. Gue juga cukup bangga sama so-called pencapaian gue untuk makan lumayan bener minggu ini. Junk/fast food sangat terminimalisir, dan gue bisa maksain diri untuk mengonsumsi salad dan buah tiap hari. Yay me!

I need more time to just be alone and read but at the same have my kids around me, taken care of, preferably by the husband. That's precisely the ideal condition I'm craving, haha. Gue butuh dukungan buat narik napas dan leyeh-leyeh sejenak. Did I get that? Well, Adit facilitated it, sih. Pokoknya bocah-bocah dia yang ajak main keliling kompleks sampai suapin kalo bisa. Tapi emang minggu ini Sam bolak-balik demam dan batuk-batuk sampe muntah. Gue harus bawa dia kontrol cek darah dan inhalasi sendirian di hari kerja. Capek jiwa raga. Karena sepanjang malam juga bocah tidurnya nggak tenang; setiap 15 menit nyari nenen, rasanya. Udah mao gilaaaa hamba. 
Mencoba mengulang mantra yang dikukuhkan di awal minggu "that not everything will go my way, but I am flexible." 
Did it work? Yaaahh... kaya gak tau gue aja xD

It's also kinda hard to be emotionally present for the kids saat suasana lagi rungsing seperti itu. Guess I need to sharpen my emotional maturity for this issue. 

I forgive myself for lagi-lagi not having another family meeting. Lagi-lagi for not reading let alone finishing that book. Lagi-lagi myself for still nggak-sesabar-itu ke Bumy kalau lagi kzl :(( 

I celebrate pengalaman pertama Bumy ikut kejuaraan taekwondo fighting. It was scary as hell for him and for me. Tapi dia berani. And that rocks. I made sure I showed him the appreciation, semoga ngasih sesuatu yang positif ke hatinya.

I release kengototan gue to have everything worked out perfectly. 

I trust this process. This journey. Gue bisa lebih baik sama diri sendiri dan anak-anak dan keluarga. I'm on my way.

14/05/2019

staying hungry

“I tried being a stay-at-home mom, for eight weeks.  
I like the stay-at-home part. Not too crazy about the mom aspect, that shit is relentless.  
I was stupid and naive, and I thought that being a stay-at-home mom was about chillaxing, getting to shit in your own home, watch Wendy Williams and go out to brunch with your sassy girlfriends.  
I did not understand that the whole price you have to pay for staying at home is that you’ve gotta be a mom. Oh, and that’s a job. It’s a wack-ass job.  
You get no 401(k), no co-workers. You’re just in solitary confinement all day long with this human Tamagotchi ... That don’t got no reset button, so the stakes are extremely high.”
From the ever-sassy, hilarious, and brilliant Ali Wong. 
I agree with the whole part, tapi yang terutama perlu digaris bawahi adalah bagian "getting to shit in your own home." 
Boy, that's a luxury. Hahahha. 

Ok sekarang bagian rada seriusnya. 
Beberapa waktu lalu gue mendengar cerita kehidupan seorang rekan di kantor yang lagi ambil cuti di luar tanggungan perusahaan (CLTP) seperti gue dulu. Sebutlah si A. Meskipun sekarang udah berjudul "full-time mom," tapi sehari-hari, kedua anaknya tetap ditaro di daycare dan di sekolah. Sementara itu, si A ngisi waktu dengan wara-wiri ikut seminar dan sejenisnya yang memperkaya kualitas diri. Wah, takjub lho saya, it sounds like she has a solid plan untuk ngisi waktu CLTP. 

Otomatis gue jadi membandingkan dengan masa 3 tahun yang gue pake buat CLTP dulu.  
Apakah gue juga telah berencana dengan sedemikian baiknya? 
Kalau gue lihat-lihat lagi dokumentasi persiapan dulu sih, kayaknya udah cukup lumayan yaa... 
Setidaknya gue udah mikirin gimana soal keuangan, gimana mau mengisi hari. 
Gue curhatin malah di Mommies Daily, haha..di artikel ini, ini, dan ini setidaknya. 

Meskipun begitu, penilaian yang gue dapatkan bisa berbeda. 
Kalau orang 'luar' menilainya dengan: CLTP tapi kok nggak nambah anak? 
Hahaaa... Ya wajar sik, namapun kalau 3 tahun itu dipake buat gedein bayi pasti udah lulus asi dan toilet-training yekann. Nggak perlu pusing juga nyari third party kayak kalo emaknya ngantor. 

Sementara diri gue sendiri menilainya dengan: CLTP tapi kok belum tambah jago ngedidik anak dan rumah tangga?
UHUHUHUHUHUH.
Bukannya ku tak mencoba. I really did try. 
Kalau gue kilas balik ke masa-masa itu, yang otomatis keinget adalah rasa capeknya, karena beberes rumah sendiri, pun nyupirin anak ke mana-mana sendiri. Hal berikutnya yang terkenang adalah betapa dulu Bhumy masih kecil banget. Waktu begitu cepat berlalu. Dulu keperluan dia "cuma" dipeluk sebelum tidur, ditemenin main bikin-bikin, diajakin joget-joget les musik. Sementara sekarang, rasanya konflik gue dan dia semakin rupa-rupa bentuknya. 
Yang ngelawan karena hal-hal kecillah, yang susah dibilanginlah, yang bohonglah, inilah, itulah.
Emang semakin gede anak manusia, semakin berkembang juga segala halnya, sih. 
Apa mungkin gue menghadapi kesulitan karena skill gue belum berkembang yaaa, sebagai ibu?

Bener deh, sekarang baru gue sadari, kalau bagian netekin, toilet training, bahkan begadang-begadangnya, itu semua tergolong gancil! 

(Intermezzo: kok pas banget sih lagu yang mengalun "Yang Tlah Berlalu"-nya Gigi)

Kalau sekarang, gue harus mengatakan: welkam pubertas, marhaban isu-isu pra-remaja. 
Kebayang nggak sih, sementara gue terkadang masih dihantui isu yang terjadi kala gue remaja?
Contoh termudah, sampe sekarang aja gue masih bingung gimana menghandle emosi negatif di tengah mood swing?
Trus udah kudu ngajarin emotional regulation ke anak *tepukdahi :(
Intinya nggak enak deh kalau jadi orangtua yang belum "tuntas" PR bebenah dirinya. Karena akan sampai di suatu titik di mana kerjaan jadi dobel: bebenah diri SEKALIGUS meneruskan ilmu yang baik-baik saja ke anak.
Rasaaiiiiin kamuh, Riska!

Tapi memang sungguhlah Allah Sang Maha Designer.. pernah nggak sih, saat merasa ingin tau sesuatu, lalu segala tentangnya lantas tiba bertubi-tubi?
Tanpa diduga. Tanpa direncanakan. 
Mungkin seperti kata orang bijak: "When the student is ready, the teacher will appear."

Satu hal yang cukup menjadi turning point adalah ketika Kiti my bestbudcat mengenalkan gue pada Nova atau Nup (sinicenopy.com). 
Siapakah dia?

Well, Nup sebenarnya teman kuliah Kiti di kedokteran. Tapi pemikiran yang sejalan dan sefrekuensi membawa Kiti sering berdiskusi dengan Nup bahkan setelah lulus dari bangku perkuliahan. Dari situlah gue jadi suka mendengar tentang Nup dan kiprahnya, terutama di dunia PENDIDIKAN. 
From what I heard, apa yang Nup lakukan is so so ah-mazing. 
Dia menggunakan pengetahuan dan ketertarikannya di bidang sains otak (neuro science, brain science) untuk dimanfaatkan di bidang pendidikan anak. She's someone with a mission, an important one. Dan beruntunglah gue akhirnya bisa dikenalin dan bertemu dengan Nup. Pada pertemuan pertama kita, kita ngobrol sampai 3 atau bahkan 4 jam. Hahaha. Felt like there's soooo many things to discuss and brainstorm about. Di sosok Nup, gue juga menemukan panutan dalam hal parenting (among other things), karena dari yang gue lihat, 'kaki' Nup sudah menjejak dengan lebih ajeg dan tau mau melangkah ke arah mana. 
Bener-bener kayak lagunya Fourtwnty..

"Waktu ke waktu perlahan kurakit egoku
Merangkul orang-orang yang mulai sejiwa denganku
Ke-BM-an membukakan jalan mencari teman
Bergeraklah dari zona nyaman"
  
Hihi.
Lalu suatu ketika, tepatnya ketika gue sedang intens berkeluh-kesah seputar problema parenting, Nup merekomendasikan gue workshop bertitel Mother Culture. 
Saat gue baca deskripsi workshop-nya, gue nggak heran kenapa ini gue perlukan. Sub-temanya aja: Raising Yourself while Raising Your Children. Mengena abis!
Selebihnya diinfokan kalau akan dibahas gimana cara menghandle problema kehidupan modern yang serba sibuk, gimana mengembangkan diri sebagai orangtua, plus gimana memperbaiki relasi dengan pasangan dan anak. Uwowow combo ini mah. 

Alhamdulillah juga semesta mendukung, sehingga meskipun durasi workshopnya 5 jam dan di suatu Sabtu, gue bisa muncul di situ.
Apa yang disampaikan emang bener-bener yang gue butuh untuk tau, ternyata. Kudos to Nup my lup!
Di sini akan gue coba sampaikan lagi dengan cara gue memahaminya ya... biar ngelotok. 

Jadi, narsum workshop ini, mba Ellen Kristi, adalah seorang praktisi filosofi Charlotte Mason. 
Jujur gue cuma pernah dengar sekilas soal ini, dan belum pernah mencoba mencari tau. 
Workshop dibuka dengan menyampaikan apa makna pendidikan berdasarkan "paham" bu Mason, yaitu
"Education is an atmosphere, education is a discipline, and education is life." 

Tapi yang akan digarisbawahi adalah education is an atmosphere. 
Apaan sik maksudnya??
Gampangnya bisa dijelasin dengan: karena kita manusia hakikatnya adalah mahluk spiritual, maka pendidikan juga berarti kerja spiritual. Semua yang kita lakukan akan membekaskan sesuatu pada spirit kita. 
Nah, dengan anak-anak, spirit ini yang menentukan apakah waktu kita bersama anak itu berkualitas apa nggak. (!!)
Spirit kita sebagai orangtua harus sinkron, baik saat di depan/bersama anak, maupun di belakang anak. 

Yaampun baru segini aja udah tertampol aku rasanya. Masih terngingang dengan jelas saran bu Alzena tahun 2016 lalu yang bilang gue harus KHUSYUK saat sedang bersama anak. Ternyata ini toh lanjutannya! Gimana caranya gue perlu menumbuhkan spirit yang SEHAT untuk dihirup anak sehingga mereka bisa bertumbuh dari makanan spiritual yang diasupkan oleh gue. 

"Children breathe in the values we emanate," - another quote from the workshop. 
Lebih banyak hal yang ditangkap anak secara naluriah atau secara spirituil dibandingkan apa yang diajarkan blak-blakan lewat nasehat. Urusan spirit ini nggak main-main karena impact-nya pun segitunya. 

Trus gimana caranya? 
Gue udah mencoba dan mencoba rasanya T_T tapi kok tetap aja terkalahkan oleh diri sendiri dan kondisi. 

Jawaban yang ditawarkan mba Ellen adalah: kita perlu jadi orangtua yang bertumbuh. 
Bukan pertumbuhan secara materiil tapi secara emosionil dan spirituil.
Gampangnya deh, gimana karakter kita? Apakah udah bisa sabar? Apakah bisa berkata tidak pada keinginan yang nggak bener? 
Well, emang sih karakter ini bukan hal pertama yang diperhatikan orang, karena itulah kita jadi nggak fokus mengembangkannya. Yang otomatis dilihat, seperti kala kita menilai anak, apakah hanya tambah pintar, berprestasi, atau makin tinggi. Kala menilai orang dewasa, pertanyaan menjadi apakah ia sudah lebih kaya, lebih kece? Bukan gimana karakter kita. Huhu. 

Akan gue beberkan dengan lebih komprehensif di blogpost berikutnya yaw soal bertumbuh ini.
Buat gue, insight ini bener-bener menggeser paradigma. 
Aha moment at its best! 
Allah memberikan apa yang benar-benar gue butuhkan: petunjuk supaya gue bisa bertumbuh, berbenah, memperbaiki diri supaya bisa amanah mendidik anak.


"Sembilu yang dulu
Biarlah berlalu
Bekerja bersama hati
Kita ini insan bukan seekor sapi
Sembilu yang dulu
Biarlah membiru

Berkarya bersama hati"

04/04/2019

fana merah jambu

I thought I would start blogging again.
tapi setelah dipikir lagi, lebih nyaman berbicara, berpikir, beropini sendiri dulu.

dari semalam gue sudah tergerak ingin ngeblog lagi. well, gue selalu memperlakukan blog bak diary yang terpublikasi, jadi ya isinya seputar kehidupan sendiri aja. belum ada hal-hal yang berharga buat masyarakat untuk dishare. hehe. 
it feels so different, menulis untuk diri sendiri dan menulis untuk dibaca orang lain (selalu ada harapan untuk itu). 

saat ini gue mau nulis hal-hal yang I'm feeling excited about saja. setelah sebelum-sebelumnya resah dan mengeluh.
  • Sam oh Sam
sekarang bayi ini akan berusia 16 bulan in just a few days. and he makes me more and more in love everyday. 
ternyata begini ya rasanya sama anak kedua.. lovvvveee melulu. 
bedanya sam sama bumy banyak, terlepas dari mukanya yang 89% copy-paste. satu hal yang jelas banget sih dari segi perkembangan fisik. motorik kasarnya cepet banget berkembang. dia bisa jalan di usia 10 bulan (kalau gue nggak salah inget yak), jauh lebih cepet dibanding bumy yang baru berani jalan di 14 bulan. gue menebak faktor nurture berperan besar dalam hal ini. 
dengan sehari-hari berada di daycare, sam punya banyak contoh hidup untuk ditiru, yaitu anak-anak yang lebih besar dan lebih jago kemampuan fisiknya. selain itu, di daycare nggak ada yang sedikit-sedikit parno melarang berlebihan (like me or my mom). 
tidak berapa lama setelah bisa jalan, tau-tau dia udah nyoba manjat tangga di rumah sambil merangkak sendiri. lalu sekarang dia udah bisa naik tangga dengan gaya tangan pegangan ke handle tangga. main bolanya juga jago bener (I got no comparison for this, cuma takjub aja liat dia bisa ngejar-ngejar bola heboh). bahkan sekarang dia udah bisa dong jalan sambil bergaya pura-pura nendang bola. yaampun BAYI. 

waktu kita lagi main di rumah debi, anak-anak cowok besar 'kan pada main sepeda. mungkin drive terbesarnya sam 'ni rasa nggak mau ketinggalan hype. FOMO gitu. jadi dia belagak bisa riding the bike juga, sok-sokan ngegowes padahal belum lancar dan harus didorong juga supaya bisa maju *gudlak pinggang bapaknya.  

ada hal yang menurut gue kocak banget. saat weekend kemarin, gue ngajak bumy bikin telor dadar di rumah. bumy lalu berdiri di atas dingklik untuk belajar cara memutar kenop kompor, sebelum memasak si telor dadar. 
gak lama, saat semua sibuk dengan urusannya masing-masing, gue bingung nyariin sam. yes di rumah yang seuprit itu. tau gak gue temukan dia di mana? lagi berdiri di atas dingklik yang sama which is di depan KOMPOR, sambil berlagak muter kenop kompor juga!!!1!11
antara worry dan terkejut ku melihatnya! astagaaa bayi ini cepet banget nirunya. 

ada juga momen meniru kurang positif lain, yaitu gara-gara gue suka ajak sam nungguin bumy ekskul taekwondo, dia jadi suka belagak nendang, dong, meski sambil becanda -__-  

di satu sisi, daycare sangat ngebantu untuk stimulasi sih. tanpa gue perlu repot bereksperimen, sam tau-tau udah minta makan pake tangan sendiri (menjumput) dan kemarin minta pake sendok sendiri. 
semoga nanti pas toilet training aku pun terbantu!

masih soal perbedaan, yang cukup njomplang adalah kemampuan sam ngomong, yang justru lebih lambat berkembang dibanding bumy. kosakata sam belum banyak nambah, babbling ngoceh gak jelas sih sering, tapi belum mau ngelengkapin suku kata gitu lho. misalnya kita bilang "sa..?" dia gak mau jawab "tuu." bapaknya masih dipanggil mama. kalau mau apa-apa bilangnya "mamammamamma." mamak tau sih kamu tjinta banget padaku, sam, tapi MBOK YA. 

perbedaan lainnya yang mencolok adalah bumy suka banget (diajak) kelayapan, sementara sam nggak. 
ughh cukup menjadi ujian menahan nafsu kelayapan buat gue. sam bisa cranky kalau belum terpenuhi jatah bertemu kasurnya maksimal di jam 7-an malam. dia juga suka banget gegoleran main di kasur kalau siang hari libur. dikit-dikit nenen, dikit-dikit molor sambil pelukan. walhasil setahun belakangan ini gue udah hampir nggak pernah kelayapan impromptu di malam hari. nggak kayak dulu yang tau-tau bisa nyangkut nongkrong di mana. hmm pernah sih ada anomali sekali, yaitu saat kita dadakan main ke Ikea di suatu jumat malam. dan ini berhubungan sama poin berikutnya yang membuatku excited akhir-akhir ini...

  • mulai dikit-dikit bebenah rumah lagi
bukan beberes maksudnya, kalau itu sih udah fardhu 'ain. tapi mulai bebenah rapihin interior rumah. 
yang pertama kepikiran untuk dirapihkan adalah study room yang duluuuu saat awal merenov rumah sudah dirancang, tapi belum terwujud juga. 
jadi pada suatu jumat malam, dengan agak impusif kita mampir ke Ikea. harapannya bisa dapat inspirasi model ruangan. 

so this study room makeover became my little project these last few weeks. 
gue pun mulai donlot-donlot app buat desain rumah. yang bolak-balik diakses tuh Pinterest, Ikea Store sama Room Planner. bahagia ey bikin-bikinnya. 


the vision on Room Planner
the realization, don't have much to complain though <3
insya Allah kalo ada rezeki maunya sih ngeberesin ruangan lain di rumah. 
pengen ngecat rumah, ganti sofa, benerin halaman belakang, ngisi kamar anak, plus beberapa furniture yang udah lama masuk ke wishlist. pelan-pelan layaaa, little little we can. 

  • soal si anak sulung
baru kerasa lho... kalau gue udah sangat sangat "menjauh" secara jiwa dari dia.
yes I'm admitting it. 
teringat dulu bu alzena menegur gue untuk be present saat bersama anak... i can recite it by heart, tapi hal tsb belum jadi respons alami gue. hiks. semakin gue menyadari kalau gue adalah multitasker yang cukup buruk. it's hard enough to concentrate to a baby, let alone that plus an almost-teenager. 
dan semua keriweuhan urusan membesarkan bayi ini, membuat gue gak bisa melihat bumy dengan lebih 'jelas.' 
all I see is his mistakes, his tingkah-polah yang nyebelin dan usil. 
and all I do is responding it with anger. 
gosh....
tapi Allah Maha Menunjukkan jalan keluar... alhamdulillah lewat satu demi satu kejadian yang tersaji, gue dipertemukan dengan orang-orang yang bisa membantu. orang seperti Nup, salah satunya. gosh, I have so much to tell about her. I learn so much from her! salah satunya gimana mengenal dan melihat anak the way they are. menurut Nup, mengenali apa masalahnya aja udah bisa menjadi pembuka jalan. I realize I need to do better parenting. 
penerang jalan lainnya berupa kelas pendidikan dari Rumah Inspirasi. again, I have so much to tell about these inspiring classes. 
tapi menimbun ilmu tiada artinya kalau nggak dipraktekin, ya 'kan. 

  • MRT
Jakarta akhirnya punya MRT!!!
ya Allah gak pernah terbayang akhirnya gue melihat dengan mata kepala gue sendiri infrastruktur tsb terwujud!
gue masih bisa mengingat jelas suatu momen di tahun 2005 saat gue masih bolak-balik mencari nafkah di sudirman and I felt so disgusted, and desperate about the city. I love the city so much it sickened me to see mereka yg diamanahi untuk mengurus kota ini gak terasa dampak kerjanya. trotoar yang buruk. halte yang kotor dan rusak. kemacetan di jam kerja yang membuat putus asa. 




sekarang semua isu itu masih ada, tapi I can feel better knowing ada pak Jokowi yang BEKERJA untuk gue, keluarga gue dan uang pajak yg sudah disetorkan. haha ini maksudnya bukan buat kampanye terselubung (is it?) tapi semata-mata apa yang gue rasakan. 
I was holding back tears saking terharunya saat pertama kali menjejakkan kaki di MRT station di Jakarta. segitunya indeed! 
yes I got emotional... orang indonesia totally deserve itttt, sejak bertahun-tahun lalu bahkan. sadarkah betapa beruntungnya kita ada pemimpin yang segitu getolnya pengen membangun bangsa ini... Kiti told me, bahwa salah satu orang yang dinaungi Allah SWT di hari akhir adalah pemimpin yang adil. I truly hope that Jokowi will be one of them. 

  • hmm what else? oh, our weekends with Palem family and my spontaneous lunch dates with Kiti
sejak abah Venda mulai kuliah s2, otomatis di hari sabtu si bunda Debi dan Abhi nganggur aja di rumah. kita yang hobi kelayapan ini pun kerap kali menculik mereka. minggu lalu kita sarapan sop buntut mak emun jauh-jauh ke Bogor. dari situ lantas nemenin abhi kontrol dokter di KMC, lalu mengganjal perut lagi ke Siku (Dharmawangsa). makan, makan, makaan. malamnya geng Palem nginap di Ciganjur. seneng aja ngumpul ngariung gini. semoga rencana liburan bareng bisa terwujud, nih... 


gosh I look so much like her ELDER sister
sop buntutnya bikin bunda merem-melek
our meetup sessions should be called detoxing. honestly.
well, setelah menulis berpanjang-lebar, sepertinya tulisan ini akan gue muat di blog. 
can't tell exactly why. mungkin hati ini kembali mengenali blog sebagai rumah menyampah yang cukup nyaman.   

and it's glad to be back. ihiy. 

21/09/2018

comptine d'un autre été

about a month ago, I noticed there was a viral theme on twitter. it was about "by the age of 35, I should've / would've / could've..."
some tweets are normal-sounding, like
"I would have travelled the world" or
"I would made twice the savings I'm making now"
"I would have been married to my best friend" 
yadda yadda.

meanwhile some others are so easy for me to love. which means, they're so sarcastic and cheeky they make me sneer and snort with laughter.

like these ones:
"by age 35, you should have lost most of your real life friends to misunderstandings, changing priorities, distance and unknown reasons and found a few hundred online strangers to laugh with." - @ruckcohlchez
"by age 35 you should have at least two thirds of your hard drive space taken up by recursively nested copies of the hard drives from all your previous computers." - @akerfoot
"by age 35 you should hate the last three albums by your favorite band" - @fowierism
"by age 35 you should wonder where your life went wrong at least 5 times an hour" - @Home_Halfway
or something as "dark" as
"by age 35 you should have completely lost your will to live" - @vivalacrap (to which I chuckle, bitterly).

I put a love to that kind of tweets because they feel so familiar. 

people my age, from all around the globe, are sharing the mutual feeling of disorientation and bleak perception to how our lives would or have turned out.
I don't mean to sound ungrateful. yes my life has been a blessing, I got my family, a job, a house, and things I must've been (un)consciously dreamed or needed. but there's a certain something to growing older. 

some things are lost, of course. youth, elasticity of the skin, spontaneity, recklessness, and even best friends... 

but as the nature of the world, it is balanced with some things that are gained. 
things like:
(as cliche as it always sounds) wisdom. 
maturity (or a slight of).
brain that responses faster than the mouth. (crossing my fingers for that)

well. this gal's about to turn 35 this december *insya Allah*  

I can't help not to ikut-ikutan envisioning what I think I would like to be by the age of 35.
you can call it a prayer, I guess. 
here they are:

by the age of 35, you'd realize that certain things inside you, they won't transform into something else. 
bad habits. poor judgments. weaknesses. 
laziness, ignorance towards one's health, one's lack of attention to details. moody-ness. 
they intensify. 
it becomes much harder to "change." 
so you'd just learn to live in harmony with them. maybe try to tame them, since it's never too late anyway. 

by the age of 35, it's when you start to reap what you sow. little by little. it can be scary, or it can be gratifying. 


by the age of 35, you'd finally learn to pick your battle. maybe it's because your heart softens, or maybe your emotional maturity improves. you just realize that some stuff are not worth to argue about. people believe what the want to believe.  


by the age of 35, you'd finally realize that you don't need much, in terms of friends, stuff, or an elaborate plan "to be fulfilled." 

as @theminimalists put it,
"I don't need much to pursue my passion. a cup of coffee, a place to write, and my thoughts tumbling onto the page will do just fine.
I don't need much to cultivate meaningful relationships. a friendly companion, a full-belly sunset, and a good conversation sound just right to me.
I don't need much to grow. daily action, small incremental changes, and a commitment to constantly improve my life will keep me growing. 
I don't need much to live a meaningful life."
you'd start with what you have and start anyway. 

by the age of 35, you'd finally (kind of) understand about acceptance.. how certain things are indeed *for* you, while some others aren't. 


*****

in a quite unrelated way, the other day Path (the app) announced that they will close down operation by October 2018.

I barely checked the app, let alone post anything on it. taking it for granted, I assume some people still enjoy using it and think it would still be around in the long run. 
but apparently not. it'll vanish just like Multiply did. 
what makes it hard for me is that memories of Weich (until now) is safely stored there. his updates, his words, and ultimately, his presence. I used to re-download Path just to check Weich's page whenever I feel like it. 
but it will be gone. and once again, I have to say goodbye to him... 

so as soon as I heard the news, I immediately re-downloaded it again, then scrolled down his page, this time I tried capturing some posts which I found "memorable" (everything is, though). 


I was engulfed with waves of emotions....
- it still feels as if he never left. 
- all those plannings.. how he had asked his friends to spend summer holiday on december 2016. how he had wanted to do road trips across australia. and how he had hoped to having been settled by that time of year. how could my heart not break?

and then a new realization hit me.
as I saw his posts from around 2014 and 2015, I realized how he had transformed from the kind of person I was most familiar with, which is a 15-year-old teenager, into a mature, highly-functioning, and wise adult. I could feel that from our interactions. but only at this time I noticed his gradual changes, and it's from his mundane posts, like when he cooked, or when he made 3D renderings of his home, or his trips to Ikea. 

I remember how he used to say, "lo sudah berjalan terlalu jauh, Kome, dan gue tertinggal di belakang."
just because I got married too early (ha). yeah at 24.
I graduated first among our friends. 
I got a job while he was still at college. 
I became a mother. and so on. 
but did he know I rushed to graduate from binus because I hated it there? 
did he know I rushed to get married because I wanted to get out of my parents' house as soon as I could?
did he know I settled that job at citi even though it was ridiculously low paying, because I had no clue what was even good for me? 
I saw things handed to me and I seized them the fastest I could. without even giving it much thoughts, without even knowing what meaning, or learning, or a thorough reasoning behind it all. I was too damn reckless. 

as I was stumbling into those roles that were handed to me (wife, mother, worker, clueless person), he strode silently, but resolutely. 
he made a choice to be a more domestic person. 
he spoke more gently. he became calmer, more understanding and less judgy (nyinyir di socmed sih teteuup). he thought more critically, he questioned consequential things. 
he became a prominent employee and gained expertise. 
he figured out whether he wanted to get a scholarship for master's degree or not. and where. 
he came out to his mom. 
he found new best friends. 
he found love. 

he was LIVING, and LEARNING. and then becoming. 

and then it occurred to me, that he was doing it in reverse from what I have been doing. for me, the becoming came first... and so I was living mindlessly because I couldn't figure out the meaning behind those blessings.


*****

if there's one thing I truly want him to know right now, it's that

"sometimes you're ahead. sometimes you're behind. 
the race is long and, in the end, it's only with yourself." 

(Mary Schmich) 

therefore, I hope by the age of 35, I'd learn everything happens at its own time, moves at its own pace. there's no need to rush.



*) blog title from Yann Tiersen's song.

03/04/2018

hustle baby

assalammualaikum, cyber world...

begini amat yak tau-tau setelah puluhan purnama gak nengok blog. 
sesungguhnya gue bener-bener nggak punya topik khusus di kepala buat diceritain... everything has been so riweuh, rungsing, rusuh. albeit in a good, cathartic way. 
jadi entah apakah blogpost ini isinya bakal keluhan melulu, atau ngoceh ngalor-ngidul aja seperti biasa. 

*****

Sam hampir berusia 4 bulan. YAY!!
plis kumohon jangan ada tanggapan "whoa time flies!" because time does NOT fly (when you're raising a tiny human being), it CREEPS. 
etapi nggak tau juga ya kalau pakai jasa babysitter, gue belum pernah soalnya. 

quick updates on him:
- sudah vaksin 3 kali (urutannya sama dr. Apin, dr. Endah, dr. Apin).
- beratnya 7 kg
- sudah 5 kali dititip di daycare. and my heart SHATTERS everytime. 
- is such a manja baby (ini komen nyokap), karena bisa aja digendong semua orang tetep nangis-nangis, tapi begitu dikekep di ketek gue, langsung diem. gimana hati mamak gak kebat-kebit nitip dia di daycare?!?!? T____T
- sumeh, dan suka ngoceh.

- jam tidurnya alhamdulillah much MUCH better than Bumy. gue dan Adit bisa menikmati bobok malam dengan tenang like 90% of the time. easy baby dia nih, kecuali during the day yang maunya nemplok mulu sama mamake. 

- dan apa yang dia mau ketika nemplok? emaknya harus gendong sambil jalan-jalan. gendong sambil duduk? doi teriak-teriak. 
udah berdiri tapi gak gerak? jangan coba-coba. 
move your ass, girl! - gitu seolah titah doi... 
ya gini deh, lutut mulai senat-senut sekarang. 

- gendongan is my saviour. 
gendongan perdana Sam adalah hibah dari mamak @liactk berupa Sleepy Wrap (sekarang udah ganti nama jadi Boba Wrap). dan gendongan ini sungguh cucok meong karena bikin bayi di-snuggle dengan nyamannya dalam posisi kangguru. 
cumaaa emang 1) bahannya tebel dan jadi gerah kalau dipake outdoor tanpa AC, 
2) makenya rada ribet dan gak bisa buru-buru. 
jadi gue cobain beli gendongan kaos gitu, murah cuma 200 ribuan. 
mayanlah, bisa dipake dengan cepet, ringkes, dan bahannya adem. tapi kekurangannya: punggung cepet pegel. 
baru-baru ini gue nyobain pake ergo lungsuran adek gue. mayan... enak... tapi lebih cocok buat kalau anak sudah lebih besar, sudah lebih stabil lehernya.  
demikian review singkat dan asal-asalan mamah. 

- udah diajak jalan-jalan ke bandung. 
trip singkat 3 hari doang, tapi di hari pertama Bumy sakit (demam, radang tenggorokan). hari kedua, gue dan Adit juga ikutan sakit (demam tinggi, meler, puyeng dst). Sam alhamdulillah gak demam tapi ikutan batpil. jadilah di hari kedua itu kita berempat umpel-umpelan di kasur dalam keadaan ingusan, meriang dan demam. oh SUCH FUN x)))) 
tapi sepanjang perjalanan dia gak rewel, cukup kooperatif. yah, selama nenen dan ketek mamak available, dia adem-ayem. 

trus trus, gimana... apakah semua ketakutan nambah anak selama 8 tahun berhasil terbantahkan?? atau justru sebaliknya, terbukti semua? 
hahaha. 

takut kecapean dan tepar selama bunting... iya terbukti, emang capek dan tepar hahaha. meskipun alhamdulillah, gue bisa work from home/kosan most of the time. 
takut melahirkannya... well, ternyata lahiran emang tetep aja nakutin. #tidakmenolong. 
takut kerepotan ngegedein newborn... terbukti bingiiit. 
bulan-bulan pertama diisi begadang dan tetek kesakitan. 
menjelang bulan ketiga di saat gue mulai harus "ngantor," mulai deh diisi dengan kerepotan dan kegalauan. 
repot karena: saat mau nitip Sam di daycare ampun-ampunan deh yang disiapin. baju, botol susu, asi perah (eh kok dikit ya kalau dilist down? perasaan nyiapinnya remfong tiada terkira). 
galau karena: SEDIH AJA NINGGAL DIA DI DAYCARE. apalagi kalau abis dari daycare dia harus ikutan pulang sore/malem. trus karena gue ambil jasa daycarenya harian (pas harus meeting atau ada acara seharian), kadang ada kalanya acara mendadak jadi Sam gak dapet slot di daycare. jadi telah beberapa kali terjadi, Sam ngikut mamaknya 'ngantor' atau ke event. asli yah gue pun sesungguhnya gak nyaman banget kaya gitu. gue kan tipe gak suka menarik perhatian dan gak suka nampak "incapable." serba salah sudah; ninggalin anak gak mungkin, jadi ya dijalanin aja dengan segala risikonya. 

gue pernah tergugu sih mikirin ini saat lagi riweuh-riweuhnya, harus nenteng Sam ke kantor dan otak juga lagi mumet banyak banget kerjaan. 
apakah setiap anak ada moment of desperation-nya sendiri?
pas Bumy dulu, gue dan Adit sampe sedih mikirin siapa yang bisa dimintain tolong jagain Bumy sementara emak gue dulu suka ngambek. gue mau resign gak mungkin karena udah terbelit cicilan haha.. tapi asli dulu tuh ada banget momen gue merasa terbenam sedalam-dalamnya di rasa putus asa. 
pas Sam sekarang... ternyata ya sama, muncul lagi rasa lelah dan putus asa. startup gue sedang mau melaju dengan kencang... tapi gue maunya tetep bisa ngasuh Sam dengan berkualitas. sedih bayangin dia yang udah enak-enak di rumah bisa tatap-tatapan sama emaknya harus direndeng-rendeng ke daycare. geu pun udah sempet message Adit pagi-pagi "apa gue resign aja yah" yang diketik sambil bersimbah air mata hahaha. there you go, another moment of desperation. 

sampai kemarin, kebetulan gue harus bawa Sam ke kantor lagi. kali ini sih bisa bawa embak di rumah karena cuma sebentar. 
saat gue lagi nenenin Sam di ruang laktasi, ada dedek yang lagi pumping (kayanya kelahiran 94 gitu). biasalah, kita bertegur sapa. dari situ gue jadi tau kalau anaknya tinggal di jawa timur, dan dia nengokin seminggu sekali. T___T
dia bolak-balik naik kereta... abis kena tipes pula... no wonder gue pikir, karena pastilah kecapean banget.
pagi itu dia cerita kalau agak telat pumping, karena "baru sampe di jakarta jam 2 pagi tadi, trus aku ketiduran, hehe" dan sesampainya di kantor, kerjaan udah menggunung berjejal. 
masya Allah... T____T gue kehilangan kata. 
eh akhirnya gue komen, sih, meski cuma bilang "duh kamu hebat banget." and I truly meant it...

denger perjuangannya seperti itu bikin gue tergugah banget, tapi bagian yang paling mengiris hati adalah saat dia ngasih liat foto-foto anaknya T______T 
a mother must know THAT feeling. 
perasaan lo jadi kangen anak sendiri karena ngeliat bayi orang lain. 
perasaan pengen liatin fotonya setiap saat, nggak cuma buat diri sendiri tapi juga ke orang lain because you just LOVE looking at your baby and talking about him nonstop. 
ya Allah.... gue cuma ninggalin Sam beberapa jam aja hati bak dicabik-cabik. 

tapi yah, mungkin semakin berumur gini gue semakin paham untuk gak gampang menilai kondisi (idup) orang lain (thanks God ngurang-ngurangin nyinyir). 

setiap orang punya pilihan dan pertimbangan sendiri. 
kalau gue nggak bisa ngebantu mending DIEM, gak usah komentar.  

pertemuan singkat gue dengan si dedek (yang selalu TERSENYUM selama bercerita, omagah) kemarin, juga ngingetin gue untuk menyukuri kemudahan-kemudahan yang ada... 
siapa sih manusia yang nggak pernah merasa lemah, bahkan putus asa? ya mungkin justru dengan begitu Allah bisa masuk ke hati.
dan apakah kondisi ideal itu?
apa berarti kita harus dapetin semua yang kita mau? 
kita baru bisa hepi kalau everything goes the way we want them to be? 
apa iya? emang bisa? 

apa mungkin kondisi "ideal" justru adalah saat kita bisa berdamai dengan apa yang udah di depan mata..? 

ugh... you taught me a lot that day, dek. 
setiap mamak mungkin punya strugglenya sendiri-sendiri. semoga perjalanan kita jadi ibu ini bisa jadi satu "channel" untuk menambah ketaatan. 
hiks.






26/02/2018

the kids are alright

are they? 
are they really?

menurut gue, salah satu ciri khas menjadi orangtua adalah the neverending surprises. be it good or bad. if you do love a thrill seperti dinyanyikan di lagu pembuka glee (#lawas), then be a parent. lagi nggak angin nggak ada hujan, tau-tau tau-tau bocah panas tinggi aja gitu. atau waktu pulang kantor setelah commuting berjam-jam, baruuu ingin merebahkan punggung di kursi, tiba-tiba si anak eeknya berdarah, dan harus berlari lintang-pukanglah elo ke UGD. contoh-contoh yang gue sebut ini berdasarkan kisah nyata. pastinya para orangtua lain punya contohnya masing-masing. dari satu titik netral, kondisi kita bisa seketika dibawa ke titik nadir karena apa yang terjadi sama anak. it's a rollercoaster ride! 
makanya kalau bisa disebut hikmah, yang bisa gue petik dari sekian tahun jadi orangtua (newbie) adalah: jangan takabur. iya, jangan dehhh nyombong baru liat anaknya pinter makan sebentar, karena bisa jadi sekian hari kemudian si anak GTM ora kelar-kelar x))) atau kaya sekarang nih waktu punya newborn, baru merasa jumawa punya bayi yang nggak ngajak begadang, eeeh tau-tau besoknya doi kena ruam popok dan jadi riwiiil banget. tahan-tahan deh ini mulut dan jari dari bersikap "sombong." because you might not know what'll happen next. 

tapiii tadi 'kan gue bilang kalo ngegedein anak itu bagaikan naik rollercoaster, yang berarti ada saat-saat cihuynya juga. jadi orangtua kadang terasa kayak lo dapet kejutan-kejutan manis dari hidup di saat yang nggak diduga. kado-kado kecil yang bikin semuanya terasa berarti. 
kayak waktu si sulung nyeletuk "mama tuh the best mom," entah kenapa dan bagaimana padahal kerjaan gue ngomeeeeel melulu sama dia :(((
atau kayak waktu si bayi ketawa (saat lagi sadar bukan lagi ngelindur) untuk pertama kalinya waktu lo ajak bercanda. it's always the littlest things. mungkin cuma 0,01% dari keseluruhan hahaha... tapi ajaibnya itu yang bikin lo bisa jalanin hari demi hari. 

selama jadi orangtua anak tunggal tempo hari, kondisi kehidupan kayaknya udah mendingan banget. udah jarang bolak-balik rumah sakit (alhamdulillah for that), bumy udah makin nyambung diajak ngobrol (which means dia juga makin jago ngeles dan bales omongan kalau lagi diomelin), gue pun merasa kondisi mental gue dan adit sebagai orangtua udah lumayan santai. occassional worrying atau kekhawatiran sesekali ada, tapi di isu-isu tertentu aja. 
ketika punya newborn lagiii, jreng, ternyata kita nggak jadi lebih berpengalaman dalam urusan menata hati. welcome back my old friend, the constant worrying. 
meskipun secara umum gue dan adit udah lebih "berpengetahuan" dalam artian we know what to expect most of the time, tapi ada hal dan kondisi yang emang berbeda. yang sedang gue alami sekarang adalah khawatir karena mau menitipkan sam di daycare. 

dulu bumy emang sempat di daycare, tapi 'kan umurnya udah 3 tahun. 
sekarang sam belum genap 3 bulan... huhuhu. bisa dibilang bumy dulu beruntung karena 3 tahun pertama hidupnya diasuh sama nyokap gue atau omanya. dan gue juga beruntung karena bebas dari kekhawatiran, bisa menitipkan bumy di tangan orang yang paling gue percaya. 
untuk sam sekarang, gue dan adit udah pertimbangkan kayaknya untuk saat ini daycare yang sesuai. bukan paling sesuai, no no, karena 'kan kayak tadi gue bilang, jangan jumawa duluu. pertimbangannya adalah karena gue nggak harus ngantor full time, selain itu rumah kita juga nggak pantes buat diisi 2 orang asisten nginep (let's say yang satu khusus ngurus bayi). 

kontranya? ada banget. dan ini yang bikin gue kebat-kebit khawatir. 
ada yang bilang kondisi dititipin di daycare secara nggak rutin bisa mengganggu kondisi psikologis anak. gue sendiri pernah baca sih kalau anak emang sebaiknya mendapatkan pengasuhan dari orang yang sama di 2 tahun pertama hidupnya. 
gue juga khawatir nanti sam "menderita" di daycare.. karena di rumah dia bisa nenen anytime dan dengan pose apapun yang dia pengen. sementara di daycare... ya pakai botol. gue takut inilah itulah aduuuh banyaak banget. 
nggak tega, ya jelas. abisan kok masih kicil banget ini anak, tapi udah harus dititipin di luar rumah.. huhuhu. 

apapun pilihan pasti ada risikonya, sih. 
kondisi kayak gini pun bikin gue "mentok", bukan berarti jadi nggak ambil opsi manapun, tapi jadi mentok untuk serahin semuanya ke Allah aja. 
there's only so much I can do!!
udah usaha nyari daycare yang cocok... udah survey sekian kali... hhh... nggak ada jaminan apapun untuk fisik dan mentalnya sam, tapi ya emang idup di dunia kaya gitu ya kan ;(

sampai lalu gue nemuin kata-kata yang diposting sama bu Inca Restu salah seorang fasilitator tafakuran di akun IGnya. duh kok pas banget sama kebat-kebit di hati ini. 


Hati membaca kebenaran yang tersirat; bahwa anak adalah "titipan"-Nya.
Apa yang dititipkan-Nya? Jiwa anak!
Karena anak adalah "titipan"-Nya, terserah DIA mau menitipkan anak yang seperti apa.
Pernahkah bertanya untuk apa Allah menitipkan jiwa anak?
DIA menitipkan jiwa anak untuk DIBINA bukan DIBINASAKAN.
Anak memang lemah, tapi backing-Nya Maha Kuat.
DIA menitipkan jiwa anak untuk di"isi" dengan persepsi2 Qur'ani.
DIA MENITIPKAN JIWA ANAK UNTUK DIBINA, TAPI KITA TIDAK DISURUH SAMPAI BERHASIL!
Karena sampai kiamat, Al-Qur'an tidak akan berubah; ANAK ADALAH COBAAN.
Al-Qur'an menginformasikan bahwa kemampuan kita hanya menyampaikan, kita tidak diberi kemampuan mencerahkan anak. JANGANLAH PUNYA KEINGINAN MELEBIHI KEMAMPUAN. 

hiks... menusuk ke relung sanubari. 
semoga kesadaran ini meresap dan bisa gue praktekin. 
indeed, hasil itu bukan wilayah kita, sama sekaliiii. hasil itu urusan Allah. gue mah cuma bisa berusaha... ikhtiar maksimal bukanlah supaya hasil sesuai sama keinginan gue, tapi ikhtiar maksimal adalah jalanin apapun hasil yang dikasih Allah.... T___T   

jadi, apakah pertanyaan gue di atas masih perlu dijawab? atau emang itu sebuah pernyataan seperti judul yang gue taro? 
the kids are alright. "backing-Nya Maha Kuat." serahkan mereka sama yang menciptakan, and they will be, alright. 


21/02/2018

one day at a time

these are the thoughts 
that go through my head
in my dining room on a wednesday afternoon
when I'm alone with the baby (and the maid) 
and I have nowhere else to be, but here.
hidup bersama newborn memang membuat dunia jungkir balik.
dunia gue, setidaknya. gak tau orang lain.

satu waktu, rasanya seperti diisi total chaos.
kurang tidur. mood berantakan. badan pegel-pegel kaya abis lari maraton. hating the sight of yourself on the mirror. kesepian dan merasa terisolasi. meratap diam-diam minta dianugrahi kesabaran oleh Allah. and the worrying, oh God, the constant worrying.
at one point, you'd even dare ask, why would anyone nambah anak?

hamil, beranak, dan ngurus anak is sure as hell melelahkan dan merepotkan.
bahkan bumy berkomentar "I never want to have kids." I won't say an amen to that, but that proves how even a kid gets how tiring it is.
but somehow, I'm still thriving, trying not to screw up in raising this second kid.
(or have I started my way on screwing things up?)

lalu di lain waktu, things just feel... right. no not perfect, because it's never perfect.
entah bagaimana, seperti ada harmoni yang menenangkan di tengah semua hal yang "tidak pada tempatnya."
you can just sense it, like the wind on your skin.
just like right now. just like today.

hari dimulai dengan terburu-buru, karena gue harus meeting sama tim startup di tengah jakarta. bayi diangkut tanpa mandi. dengan kalut mengangkut pompa asi, blue ice, kantong asi, diaper bag, dan berdoa sebisa mungkin sudah mengangkut semua yang diperlukan. baru masuk mobil aja rasanya udah capek. tapi, sepanjang perjalanan sam mau anteng digendong adit. gue jadi bisa dandan, makan, ngobrol sama bumy, dan nelpon adinda debsterbun yang lagi ultah untuk dinyanyiin hepi bersdey tu yu oleh bumy sambil teriak-teriak.
menjelang sampai di tempat meeting, perut krucuk-krucuk. eh ternyata bisa sarapan buffet di situ cuma seharga 50 ribu. jadilah gue bisa menikmati toast, buah-buahan, nasi goreng, mie ayam (yes another carbo), sampai bubur ketan hitam hahaha.
tadi adalah meeting pertama dengan tim setelah hampir 3 bulan gue menghilang dari radar, we've got so so so much to be done. banyak banget PR dan beban di pundak!
tapi entahlah, it feels like there's a lightness in my heart. mungkin karena interaksi sama temen-temen satu tim yang emang bawaannya riang dan optimis. it's just a little thing, but such a blessing.

hore meeting cuma sejam! gue dan sam pun dibawa pak supir balik ke rumah. sempat kepikiran mau ina-inu jajan dulu, tapi ah... kangen kasur.
and then when we're already at home, the rain fell.
ngobrol sama bayi di kasur. (I made up this song which lyrics go like, "sayang-sayangan / tatap-tatapan / gendong-gendongan / itulah mama dan sam / sepanjang hariiii" gue ngakak dan merasa bodoh tiap abis nyanyiin but hey a mother can do whatever to get thru the day!)
dia sempat rungsing nangis-nangis, tapi kita bisa nap sambil berpelukan hampir 2 jam. which is heavenly!
trus kayanya adit diem-diem mau ngasi kejutan: dia pulcep tanpa bilang-bilang. tapi dibocorin sama supir gue, hahaha, pas gue nelpon pak nun dengan riang bilang "saya udah di cilandak nih bu, sama bapak juga." yaaaayyyy.

tapiiii ternyata pulang-pulang bumy sakit. badan anget, sakit kepala, ngeluh pegal-pegal. so it's time to babysit the big kid. fiuh.
jam 6, si sulung udah mandi makan dan diolesin vicks sebadan. diselimutin di kamar sambil diuapin peppermint. sam dibobokin bapaknya. dan gue akhirnya bisa me time: mandi keramassss tanpa interupsi hahaha.

and then the clock hits 8 pm.
gue ngeteh sambil makan roti gambang dan nonton hyori's bed and breakfast di netflix. bumy adit sam tidur pelukan bertiga.
like i said, it's not perfect, but it's ok.
a woman's work is never done anyway, so i'll just chew it one bite at a time.

why is it so hard to be objective about myself?
why do I feel cellularly alone?
am I supposed to live in this crazy city?

oh why am I encouraged to shut my mouth when it gets too close to home? 
why cannot I live in the moment? 
~~ ("These are the Thoughts" by Alanis Morissette)

07/02/2018

cerita lahiran pt. 2: KMC and pregnancy

(karena kritik dari seorang makmak netyzen @liactk kalo ceriteranya kepanjangan, maka eke potong blogpostnya menjadi dua bagian)

3. Hours in labor room?
But the show must go on yekaaan. 
Just like eight years ago, operation room still crept the hell out of me. 

Long story short, kurang lebih yang terjadi selama sekitar 1-1,5 jam itu begini:
- Yes, gue parno, panik, dan meracau lagi di ruang operasi kayak waktu lahiran Bhumy dulu.
- Tapi bedanya kali ini, tim kamar operasi di KMC super duper mendukung, baik hati dan compassionate. Asli beda banget sama tempat lahiran Bumy dulu di seseRS di Tangerang, yang dokternya ngomelin ketika gue ketakutan. Dokter Yulia (anastesi) dengan sangat baikhatinya sudi menggenggam tangan gue sepanjang operasi, nenangin, dan bimbing gue untuk berzikir. Obgyn yang nge-assist dr. Ridwan (gak tau namanya) mau bantuin gue masang dan milih lagu dari playlist di hape, susternya pun baik-baik... Pokoknya alhamdulillah banget, deh. 
- Adit (akhirnya) diijinin masuk, and he said he saw "the whole thing." Untungnya doi lempeng aja liat blood and gory stuff, dan bisa fokus nenangin gue. 
- Again, alhamdulillah semua berjalan lancar, Sam terlahir jam 5:59 pagi. Dia sempat IMD sekitar 30 menit sebelum dibawa ke ruang observasi (I think). Trus di akhir operasi setelah ruangan di-clear out dan gue mau diderek ke ruang pemulihan, dr. Ridwan nepuk-nepuk kepala gue hahahahah.. maksudnya bilang "good job" apa gimana, entah xD

Jam 9an gue kembali ke kamar rawat, dan begitu ketemu Adit (dia ngilang setelah gue dioperasi. Jadi selama di ruang observasi ibu-ibu yang lain pada didampingin suaminya, sementara gue all alone menggigil sambil main hape. Ada suster yang nanya "Ibu ini suaminya mana ya?" Kzl), hal pertama yang gue bilang ke dia adalah, "Udeh ye, cukup 2 kali aja gue lahiran." 
#betalelah



4. Baby's weight?
3,4 kg. Lebih endut dikit dari Bhumy. 

(entah kenapa kok tau-tau pertanyaannya loncat ke seputar kehamilan. Ikutin aja deh yaa.)

5. Morning sickness?
Bingits. Jadi ketika tau hamil di usia sekitar 4 minggu, gue belum ngerasain mual sama sekali. Masih hayu aja perut digempur sama kopi sehari sekali. Dua minggu kemudian mulai muncul si mual-mual, pusing-pusing, lemes-lemes. Gue jadi super sensitif nyium bau. Hampir rutin muntah sejadi-jadinya. Tapi alhamdulillah, meskipun muntah-muntah tapi nafsu makan nggak pernah sekalipun meredup. 

6. Cravings? 
Hmm gue bisa bilang selama hamil dua kali ini gue nggak pernah ngidam, sih. Palingan cuma suka random bilang "Pengen makan ini, nih," atau "Lucu deh makan di situ" yang mana jarang diturutin sama Adit... zzz. 

7. Kilos gained? 
14. 

8. Place you gave birth?
timing kontak laktasi ini emang membantu banget bisa lancar nyusuin.
tried and tested by me.
KMC. 

Duluuu banget, gue pernah bercita-cita dan berdoa duh semoga kalau lahiran lagi bisa di KMC dan bisa sama dr. Ridwan. Alhamdulillah Allah ijinin. 

Kenapa sih KMC-minded bener kesannya? 
Semua berawal dari Bhumy masih bayi dan rasanya susehhhh banget nemu dokter dan rumah sakit yang menerapkan filosofi RUM (rational use of medicine). Waktu Bumy masih satu-dua bulanan, kebetulan doi kena batpil. Kita yang orangtua baru dengan paniknya bawa konsul ke DSA senior di rumah sakit tempat Bhumy dilahirkan. Di situ, dicek suhu badannya 37,5. Trus reaksi DSA-nya langsung "Yaampun ibu ini anaknya kok nggak diobatin apa-apa, suhu segini nih sumeng lho!" Dan abis itu kita diresepin puyer, obat asma, endebre endebre. Over medikasi abizzzz - dan sebelnya ini baru kita sadari kemudian. Baru setelah kenal Milis Sehat, Yayasan Orangtua Peduli dan ikut seminar seputar itu kita paham. 

Tapi namapun anak kecil ada aja sakitnya yang gejalanya pun nggak sama persis sama booklet seminar, dan dasar kita emang parnoan aja sebagai orangtua, jadilah dulu kita jauh-jauh bawa Bhumy berobat ke KMC. Biar tenang aja. 
Bahkan bisa dibilang salah satu pertimbangan milih rumah di sini sekarang adalah demi deket ke KMC loh. 
Meskipun gitu, bukan berarti kita nggak pernah kecewa sama layanan di situ. Komplen pernah, tapi sejauh ini sih masih acceptable. Di KMC gue ngerasa ada banyak pilihan DSA yang RUM, dan ketika lahiran Sam 8 tahun kemudian, gue sadari RS ini oke banget kalau kita ingin sukses menyusui anak.

Jadiii, kalau lahiran di KMC, kita bakal rooming in sama si bayi. Nggak ada tuh ruang perina di mana bayi bisa dititipin. Mulai dari lahir sampai check out dari RS, bayi akan berada di ruang yang sama dengan kita. Oh kecuali saat bayi dimandiin. 
Plus, setiap hari ada dokter laktasi yang visit ke ruangan. Gue sadari sekarang kalau hal-hal ini SANGAT membantu gue untuk bisa menyusui di awal melahirkan. 

Awalanya gue kira ASI bakal baru keluar di hari ke 3-4 melahirkan kayak waktu Bhumy dulu. Jadi gue santai-santai aja, nggak ngoyo di hari pertama lahiran. Waktu dokter laktasi visit ke kamar, dijelasin kalau salah satu kunci kesuksesan ng-ASI adalah skin to skin contact di 24 jam pertama kelahiran anak. Dokternya serta-merta jejelin Sam ke dekapan gue (yang masih fully bed rest), bajunya dibuka-bukain, ditempelin ke badan gue sambil tempelin mulutnya ke nipple gue. 
Dokter laktasi juga sempat massage payudara gue, dan ternyataaaa ASI gue udah keluar. Masya Allah... jadilah gue bisa nyusuin Sam sejak hari pertama. 

Oya hal lain yang nggak gue dapati di RS lahiran dulu adalah ada semacam SOP sesudah c-section yang jelas. Hari pertama fully bed rest, hari kedua bisa mulai tinggiin kasur, trus nyoba duduk. Berapa jam kemudian boleh coba berdiri dan jalan. Jadi nggak ada tuh kasus suster nyinyirin kita tiduran mulu atau nyuruh maksain bangun, dan dokter laktasi pun akan ngajarin kita pose menyusui yang sesuai sama kondisi kita saat itu. Kalau lagi harus bedrest ya diajarin pose nyusui sambil tiduran. 
Overall, gue bersyukur banget deh kali ini bisa lahiran di KMC. Ketika visit untuk konsul dokter di bulan Januari ini, gue liat bahkan di KMC udah disaranin buat pakai jasa doula loh buat melahirkan. Kekinian banget yah, haha, but for a good cause lah I think. 

9. Most memorable event during pregnancy? 
Kita tinggal di apartemen sampai gue hamil 7 bulan. Berhubung rumah renovasinya molor parah, jadi kita sempat tinggal di kosan selama 2 bulan. Most memorable event kayaknya waktu kakek di kamar kos depan kita dadakan sakit dan minta dianter ke RS malem-malem. He passed away about a month after that... 
Hal yang rada nyebelin selama hamil mungkin ketika sambil mual-mual disuruh dines keluar kota. 
But on a lighter note, selama hamil gue dapat rejeki lolos Amoeba jadi di 4 bulan terakhir kehamilan gue nggak usah ngantor lagi setiap hari (alhamdulillah indeed), dapat SK pindah dari unit lama ke unit digital untuk fokus ngembangin startup, dan... lolos ujian masuk program S2 di UI. Untuk yang belakangan ini akhirnya gue minta cuti setahun dulu, let's see gimana nanti ke depannya karena gue baru tahu hamil sesudah ikut ujian, haha. 

10. How old is your baby today?
53 hari! Alhamdulillah. 
Melalui hari bersama newbord is definitely not a walk in the park. Dua minggu pertama diisi dengan masalah seputar menyusui.. Sam didiagnosa tongue tie dan harus diinsisi. Sekarang tidur malamnya lumayan panjang, tapi ya gitu, tetep aja some days kita harus begadang. 

Well, kelar juga nih curhatnya setelah sekian jam disambi netein dan gendong-gendong. Sekarang suka terpikir, why did we have to wait for so long buat nambah anak?? Hahahahha... Tapi lalu dipikir lagi, Allah's timing must be the best. 


Semoga bisa tetep waras dan sehat-sehat buat ngegedein si bayi satu ini <3