Showing posts with label montessori. Show all posts
Showing posts with label montessori. Show all posts

22/10/2016

rookie parent: the montessori edusession

di blogpost sebelumnya, gue curhat soal meeting 'dadakan' sama kepsek dan gurunya bumy di sekolah. dari situ sempat kesebut juga soal seminar yang diadain di sekolah Bumy. dilanjutin yaa ceritanya.

jadiii, di awal term kemarin, dalam rangka Parents-Teachers Conference (PTC), sekolah Bumy ngundang psikolog bu Alzena Masykouri buat ngasih materi berjudul "Understanding Child Development aged 6-12 years old."
gue sendiri excited banget buat denger materinya, maklum ortu amatiran yang untungnya masih haus belajar. timing yang dipilih juga pas banget buat ngasih materi ini, yaitu di awal tahun ajaran. bisalah dianggap effort supaya ortu dan sekolah bisa satu visi dan misi.
seperti PTC sebelumnya, juga ada presentasi dari para guru mengenai yaitu topik dan metode pembelajaran yang diterapkan dalam tiap aktivitas montessori. guru-guru SD mendemonstrasikan metode belajar bahasa, matematika, science, Islamic studies dan lainnya menggunakan apparatus Montessori. 
guru sedang mendemonstrasikan penggunaan apparatus montessori

demonstration of learning math the montessori way

sesudah sesi presentasi guru, akhirnya dimulai juga penyampaian materi dari bu Alzena. pertama-tama beliau menanyakan ke kita para audiens, kenapa sih memilih SD montessori buat nyekolahin anak?
jawabannya tentunya macem-macem.. yang kemudian sama beliau dibawa ke seperti apa ciri khas pendekatan montessori.
jadi, pendekatan montessori yang memberikan pendidikan sesuai tahapan perkembangan anak (developmentally appropriate practice), punya ciri khas mengenalkan konsep secara konkret, bersifat interaktif, dan menerapkan mindful-ness dalam aplikasinya.


beliau kemudian mengajak kita mengenali seperti apa ciri-ciri anak usia middle childhood. bu Alzena menjelaskan kalau secara ilmu, ciri-ciri anak tadi bisa dikategorikan dalam empat hal, antara lain kognitif, fisik, afektif, dan sosial.
sembari kita orangtua menyebutkan ciri-ciri yang dikenali dari anak sendiri, bu Alzena nulisin masuk ke kategori mana ciri tersebut.
hasilnya begini,
1. kognitif - wujudnya berupa pengetahuan yang bertambah luas, semakin ingin tau, kreatif, kemampuan berkomunikasi yang semakin baik, semakin banyak maunya, bisa talk back kalo dikasih tau (haha), dll.
2. fisik - berupa badan yang meninggi, gigi bertambah banyak, makannya juga jadi lebih banyak, dll.
3. afektif - sikapnya minta diperhatikan, maunya harus diturutin, lebih susah dikasih tau, ekspresinya kadang lebay, dll.
4. sosial - lebih pede, lebih mandiri, makin tertarik membentuk persahabatan dan teamwork, ingin disukai dan diterima teman-temannya, dll.


dalam ilmu psikologi, di rentang usia 7 sampai 11, anak-anak sedang berada di periode perkembangan kognitif yang disebut oleh Jean Piaget sebagai tahapan concrete operational.

keseluruhannya ada 4 tahapan sbb:
1. tahap sensory motor usia 0-2 tahun
anak mengenal dunia lewat gerakan dan sensasi.
2. tahap preoperational usia 2-7 tahun
anak mulai mengenal berpikir lewat simbol dan belajar menggunakan kata-kata dan gambar untuk mewakili objek. meskipun udah lebih fasih berbicara, tapi anak masih cenderung berpikir dan memahami hal-hal secara konkret.
3. tahap concrete operational usia 7-11 tahun
cara anak berpikir udah lebih logis dan terorganisir, tapi masih sangat konkret - mereka masih kesulitan menangkap konsep yang abstrak atau hipotesis.
4. formal operational usia 12 tahun ke atas
anak sudah bisa mengerti konsep abstrak atau bersifat hipotesis. ketika sudah remaja, mereka mulai memikirkan soal isu moral, filosofi, etika, sosial dan politik yang membutuhkan penalaran teoritis dan abstrak.

dari situ, bisa disimpulkan kalau cara anak berpikir pada dasarnya berbeda dengan orang dewasa. anak-anak middle childhood, berada di tahap concrete operational. yang meskipun kemampuan berkomunikasinya udah lebih baik, tapi masih belum bisa memahami hal-hal yang abstrak. karena itulah, pendekatan montessori yang mengenalkan konsep secara konkret dianggap paling tepat untuk anak usia middle childhood, karena sesuai banget dengan tahap perkembangan anak usia tsb.


bu Alzena speaking

Bu Alzena lantas "menceritakan" soal taksonomi Bloom. dalam konteks pendidikan, sesungguhnya ada tiga kawasan di diri anak, antara lain
1. kognitif
2. afektif
3. psikomotor

yeuk dibahas satu-satu.

- kawasan kognitif ini isinya perilaku yang menekankan aspek intelektual. kayak kemampuan berpikir, kemampuan memahami, kecerdasan, dan keterampilan.

- kawasan afektif berisi perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, kayak sikap, minat, dan apresiasi. wujud penerapannya dalam mendidik anak, yaitu mendidik dengan melibatkan faktor afektif juga. suka denger 'kan omongan psikolog atau expert pendidikan kalo anak bisa menyerap materi dengan lebih cepat dan lebih baik kalau perasaannya bisa disentuh?

- kawasan psikomotor isinya perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik kayak tulisan tangan, kemampuan mengoperasikan sesuatu, atau kebisaan berenang. materi yang kita ingin untuk anak kuasai bisa disampaikan lewat gerakan. gue inget pada PTC beberapa waktu silam para guru mendemonstrasikan cara mengenalkan abjad pada anak yang ternyata nggak cuma lewat see & tell, tapi juga bisa lewat menggerakan jari di atas sandpaper, pun pakai gerakan badan seperti ngajak anak olahraga atau joget.

nah, dari sini bisa disimpulkan kalo stimulasi kognitif tetep perlu, tapi bukan cuma itu doang yang perlu digempur.. inget kalau ada kawasan "feeling" sama "psikomotor" juga yang perlu dikembangkan.

pendekatan montessori memberikan stimulasi yang menyeluruh dengan mengembangkan seluruh kawasan di diri anak, sementara sekolah konvensional cuma menekankan atau menggempur kawasan kognitif. jadi inget sekolah gue dulu, deh... dan ini juga yang bu Alzena sampaikan, pendidikan sekolah tipe old-school memproduksi banyak anak yang ketika sudah melewati masa middle childhood justru 'tumpul' feelingnya dan/atau nggak bisa olahraga. padahaaal semua kawasan itu sama penting dan krusialnya untuk dididik.

berikutnya, bu Alzena ngasih masukan tentang gimana cara stimulasi yang tepat yang bisa dilakukan orangtua untuk anak-anak usia middle childhood ini.

- di kawasan kognitif, orangtua bisa menawarkan kesempatan belajar buat anak lewat berbagai cara. misalnya dengan membaca bersama anak untuk meng-encourage anak membaca. gunanya banyak, di antaranya untuk menambah kosakatanya dan meningkatkan konsentrasi.

butuh nggak les yang bersifat akademik? 
nah di sini bu Alzena ngejelasin seputar hobi, minat, dan bakat. ketiganya hal yang berbeda. hobi itu kegiatan produktif yang dilakukan anak di waktu luang. "anak harus merasa bosen dulu untuk mencari kegiatan," kata beliau. tapi inget, kegiatannya harus yang produktif untuk bisa disebut hobi.

anak disebut punya bakat, jika ia mampu menguasai suatu hal dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan anak lain.
sementara minat, ya ketertarikan anak, yang bisa berubah-ubah. satu hari minat main bola, hari lain minatnya karate.

tugas orangtua adalah (hanyalah?) memancing anak, untuk mengenali bakatnya, untuk memfasilitasi minatnya, dan untuk mengarahkan anak memilih hobi (yang produktif, cateut).
menurut bu Alzena, anak boleh ambil les kalau memang BUTUH. either untuk mengembangkan bakat atau butuh secara akademik JIKA kemampuan anak ada di bawah rata-rata. karena yang dibutuhkan anak usia middle childhood lebih ke kegiatan yang mengasah di bidang olahraga dan seni.

- di kawasan fisik, disarankan kita terus memantau tumbuh-kembang anak secara rutin. sehingga bisa segera diketahui kalau ada hal-hal yang perlu perhatian khusus. tinggi anak sebaiknya diukur secara rutin. trus ditekankan juga pentingnya resting time.

sekolah anak gue setiap harinya berjalan sampai jam 3-4 sore. kalau anak bisa/mau tidur siang itu bagus, tapi kalau nggak, yang penting mereka dapet resting time, yaitu waktu untuk bisa leyeh-leyeh secara fisik tanpa distraksi tv/gadget atau teman/saudara lain. semacam "me time" kali ya, di mana anak bisa memulihkan diri lagi setelah beraktivitas.
bu Alzena juga menekankan pentingnya berolahraga buat anak. disarankan anak mengikuti olahraga rutin selama 1 jam setiap minggu. kalau berenang, bukan yang cipak-cipuk nggak terarah, tapi yang beneran belajar teknik berenang. begitupun kalau main futsal, yoga, atau lainnya. gue artikan berolahraga di sini berarti mengalokasikan waktu dan tenaga untuk menguasai teknik tertentu secara terarah.

- sekarang kawasan afeksi, ini nih yang banyak pe-ernya...
anak usia middle childhood kebutuhan sosialnya besar. karena emang lagi begitu adanya sesuai dengan tahap perkembangan mereka. buat mereka, ini masanya buat mulai berinteraksi dengan scope dunia yang lebih lebar, seperti di sekolah. di masa ini, peer pressure juga akan terasa lebih kuat buat anak. semakin anak merasa nyaman dengan dirinya, semakin kuat pula ia dalam menghadapi terpaan peer pressure yang negatif dan justru akan bisa membuat pilihan yang baik untuk dirinya sendiri.
apa yang perlu dilakukan orangtua?

bu Alzena lantas menjelaskan soal tahapan emosi, yang terdiri dari: Merasakan - Menyatakan - Mengidentifikasi - Mengelola. 
anak butuh banget peran orangtua sebagai coach untuk mengelola emosinya. caranya?

- the priceless stuff in life come for free. berikan perhatian dan kasih sayang sebanyak-banyaknya buat anak. kata kuncinya adalah "mindful" yang tadi udah disebut di awal. be present, be khusyuk saat bersama anak.
khusyuk 'kan berarti melibatkan perhatian dan segenap jiwa raga, jadi cencunya ya disingkirkan dulu segala beban pikiran yang dibawa dari kantor dan segala layar yang tangtingtung minta perhatian. 
ajak anak ngobrol soal sekolah - bukan soal pelajaran sekolah atau soal dapet nilai berapa di sekolah - tapi soal apa yang terjadi di sekolah. siapa temen baiknya, apa yang bikin dia senang, apa hal baru yang dia pelajari.

- ajarin anak untuk ngasih nama untuk perasaannya. "oh kamu sedih ya?" "kamu merasa marah?" "kamu kangen sama mama?"

- bantu anak mengelola emosi dengan menunjukin cara penyaluran yang sehat dan aman untuk meluapkan emosi. emosi negatif bukan berarti harus dipendam atau dianggap nggak ada. acknowledge perasaannya, kasih nama untuk perasaannya itu, dan ajarin cara yang tepat untuk mengelola emosi itu.

gosh... kayanya justru gue yang perlu menguasai ilmu seputar emosi ini deh, sebelum bisa ngajarin Bumy xD

bahasan lebih lanjut tentang kawasan emosi ini terjadi lewat sesi tanya-jawab.

- Ada orangtua yang bertanya gimana kalau anak mencontoh perilaku teman yang nggak baik. saran bu Alzena, orangtua bisa langsung menyatakan tidak suka (sama perilaku tsb) tanpa menjelekkan temannya.

beliau juga ngingetin, "imun, bukannya steril." dalam artian, jadi orangtua itu bukannya berusaha bikin anak steril dari segala pengaruh buruk di dunia ini, karena kita nggak bisa menghilangkan keburukan atau menghindar selamanya. tapi bikin anak punya kekebalan alami. ya seperti ulasan soal peer pressure tadi, bikin anak strong enough untuk bisa menimbang sendiri mana yang buruk dan mana yang jelek buat dirinya.
balik ke soal menyatakan ketidaksukaan akan kelakuan teman anak, pesan bu Alzena cukup menyentil, "Kalo kita punya hubungan dekat dengan anak, pasti dia mengerti."

- Ada yang nanya cara menumbuhkan motivasi anak, karena dirasa anaknya nggak seperti anak lain yang berani bahkan nyaman berkompetisi.
bu Alzena bilang, jangan pernah membandingkan anak dengan anak lain. TAPIII kita bisa ajak anak acknowledge perasaannya dan perasaan yang bakal ditimbulkan kalau dia misalnya, ikut berkompetisi atau rajin belajar atau suka menolong, dan sebagainya. choose our words wisely. jangan memuji hasil atau keberhasilan (anak sendiri atau anak lain), tapi usahanya. ini akan bikin anak fokus sama the joy of learning or competing or helping supaya menumbuhkan motivasi intrinsik.

- Bangun sense of responsibility anak dengan ngasih tugas rumahtangga. 
menurut bu Alzena, anak bisa dikasih sesuai usianya. hitungannya gini, 1 tahun 1 tugas rumahtangga.
sekarang Bumy hampir 7 tahun, berarti bisa dapet 7 tugas.

kita udah sepakati tugasnya dia ini:
1. merapikan kamar
2. mandi sendiri
3. makan sendiri
4. siapkan tas sekolah: baju ganti, comm book, snack box dan botol air.
5. cuci piring sendok gelas sendiri habis makan
6. kasih makan snack kucing peliharaan
7. jaga kebersihan electone


bu Alzena ngajak beberapa ortu jadi volunteer 'percobaan' hehe
"kenyang" banget deh rasanya setelah dengerin materinya bu Alzena.
dari sesi PTC ini, gue jadi tau gimana pandangan beliau soal pendidikan anak, di mana beliau paham banget soal montessori. 
nah, sebagai tindaklanjut meeting sama Kepsek kemarin, akhirnya kita putuskan untuk mulai konsultasi sama beliau. apa aja masukan yang didapet akan gue share di blogpost berikutnyahh. 



10/10/2016

term pertama di SD montessori: problems, excitements, etc


sebulan sesudah jadi anak SD, si anak terlihat.. well, baik-baik aja, sih.
di urusan akademis, dia nyambung-nyambung aja, nggak ada keluhan sama sekali. sekolahnya ini emang nggak ngasih PR, nggak ada ulangan maupun ujian (kecuali UN, yang if God's willing bakal udah dihapus pas Bumy mau lulus SD), tapi gue liat kemampuan kognitif dia terasah dengan baik, bahkan kalo dibandingin sama yang sekolah di tempat bermetode konvensional.

secara sosial, dia suka bilang kangen sama teman-temannya di TK (sekolahnya nerapin mixed-age classroom, jadi beberapa temennya ada yg masih TK). tapiii kayanya dia bisa move on sih, karena dia juga menyebut nama-nama baru yang nggak lama diakui sebagai BFFs-nya.
in short, he looks fine.

sampai suatu hari, ya sekitar sebulan sesudah Bumy di SD, gue dan Adit dipanggil ke sekolah.
kaget sih... kok tau-tau? tanpa ada agenda pertemuan ortu atau apapun. saking tegangnya (secara udah feeling bakal ngadepin urusan nggak enak), gue coba ngorek info dari si anak, "Bum, kamu ngerasa bikin yang aneh-aneh di sekolah, nggak?" tapi ya namanya bocah, gue nggak bisa dapet jawaban yang memuaskan.

besoknya ketika meeting, gue dan Adit ditemuin sama kepala sekolah SD dan guru kelas Bumy. pertama-tama mereka nyeritain gimana perkembangan bumy di sekolah. seperti yang gue rasain, doi bisa mengikuti dan beradaptasi dengan baik-baik aja. nggak ada masalah di urusan akademis whatsoever. tapiiii (here it goes) justru ada "concern" di urusan sosial.
glek....

concern pertamanya gini: Bumy suka menyebut nama seekor binatang di luar konteks. maksudnya buat lucu-lucuan, carper, ya intinya menarik reaksi dari temen-temennya. guru dan si kepsek bilang, kalau yang raising concern bukan karena Bumy ngomong begitu untuk memaki atau ngomong kasar, tapi karena udah ada beberapa temennya yang menyatakan terganggu dengan aksi penyebutan nama binatang itu, tapi Bumy tetep mengulangi.

waktu denger ini gue nggak kaget sih.. karena dia juga pernah ngelakuin hal yang sama di depan gue. konteksnya bercanda, sambil dia tiru-tiruin suara binatangnya. tapi yang gak gue sangka adalah di sekolah dia masih nyebut-nyebut itu binatang. padahal di rumah udah pernah gue jelasin kalo gue gak nyaman dengernya dan dia pun gak pernah mengulanginya lagi.
tapi ternyata... *pandangan mata mamah berkunang-kunang *bumi bak terbelah xD

kepseknya bilang, "mungkin ini menunjukkan Bumy udah acquire skills baru, bu. dia udah bisa memfilter mana yang bisa diceritain ke ibu, mana yang nggak."
doi nambahin lagi, di usia segini wajar ditemui isu anak 'bereksperimen' dengan penerapan aturan. dia lagi butuh assurance kalau aturan yang dia terima itu dijalankan dengan konsisten. makanya penting banget ada kesinkronan antara rumah dan sekolah... sehingga, untuk itulah gue dan Adit diajak 'ngobrol' soal ini. hoo... I see *manggut-manggut*


trus sekarang soal concern yang kedua.
isunya adalah anak ini lagi suka becanda yang "fisik" banget di sekolah sama temen-temen cowoknya. becandanya model pura-pura berantem gitu, yang alhamdulillah nggak sampai melukai anak orang atau gimana (jangan sampee).
in Bumy's defense, guru dan kepseknya bilang kalau concern ini emang lagi masanya buat anak-anak seumur Bumy. hampir semua anak cowok di kelasnya lagi 'hobi' becanda fisik seperti itu, yang mana mereka follow up juga ke orangtuanya.

Adit tiba-tiba berefleksi "apa gara-gara suka main berantem-beranteman sama saya ya?" *ih malah ngaku dia*
kepseknya sih bilang, becanda seperti itu sama orangtua sendiri malah diperlukan. gunanya supaya si bapak bisa jelasin batasan; ngasih tau kalau diginiin sakit lho, atau kalau kamu seperti itu bahaya lho.

*****

kalo dari lubuk hati yang terdalam, jujurnya gue kaget sampe dipanggil gini.
tapi semakin gue menyelami apa maksud dan tujuan pihak sekolah manggil, gue jadi makin ngerti kenapa komunikasi ini perlu banget diadain.
selain bikin gue jadi tau gimana perilaku Bumy di sekolah, pertemuan ini juga bikin gue melihat sisi lain dari sekolah yang udah gue pilih sebagai partner dalam mendidik Bumy ini.
hal-hal kayak

- sekolah ini lebih concerned kalo Bumy kelakuannya 'aneh-aneh' dibanding kalau misalnya dia belom bisa baca dan menulis dengan lancar.
just for the record, Bumy juga belajar baca tulis (maupun hitung)nya dalam 2 bahasa.. and he can do it all well. tanpa metode belajar yang terlalu demanding dan padat (gak ada PR, gak ada ulangan), kemampuan kognitif anak tetap terasah tanpa bikin anak stres.
gue pernah dengar ada orangtua yang dipanggil ke sekolah karena anaknya belum lancar calistung loh... dari pengalaman ini, gue jadi tau kalo sekolah ini fokusnya ada di urusan akhlak dan interpersonal anak, gimana bersosialisasi dengan baik, dan sejenisnya, alih-alih memusingkan anak gue udah se'pinter' apa.
isn't that relieving? buat gue sih iya.

- gurunya ADA. maksudnya bukan cuma hadir dan turut menyaksikan segala kejadian saat anak-anak bersosialisasi, tapi juga aware akan semua 'fenomena' sosial di kelasnya Bumy. dia tau Bumy love-and-hate-relationship sama siapa aja, tau tabiatnya Bumy, ya intinya bisa melihat Bumy secara menyeluruh.
again, I find it relieving.

- gue salut sama prinsip 'gerak cepat' mereka dalam menangani sebuah isu.. let me quote kata-kata dari sang kepsek, "dalam setiap mistake ada kesempatan belajar, tergantung kita bisa segera 'menangkap' kesempatan belajar itu atau nggak."
rasanya semakin lama meeting berjalan, semakin banyak juga ilmu yang gue dapet.

*****

sebelum meeting berakhir, sang kepsek ngomong sesuatu yang bikin gue ngerasa adem banget. beliau bilang, in case ke depannya ada konflik atau kejadian yang nggak diinginkan antara Bumy dan temannya di sekolah, mereka maunya sekolah yang turun tangan duluan. bukannya gue yang men-japri ortu lain atau ambil tindakan langsung untuk approach ortu lain; begitupun sebaliknya.

beliau bilang, "sebaiknya urusan di sekolah kami yang selesaikan bu, jangan langsung antar ortu. karena segala yang terjadi di ranah sekolah itu menjadi tanggung jawab kami."

ih!
mau nggak mau gue keingat sebuah sekolah yang dulu jadi tumpuan harapan gue.
kok ya beda bangetttt.
di sana mereka dikit-dikit nyuruh orangtua 'terlibat' - bahkan di ranah yang jelas-jelas jadi kewajiban mereka (misal: kebersihan sekolah sampai ada-nggaknya sabun cuci tangan di kelas!). waktu gue protes, eh malah dibilang lepas tangan, cuma mau tau beres, bahkan dicap "ambivalen." haha.

obrolan sama kepsek sekolah yang sekarang ini bikin kesadar, kalau beginilah yang namanya punya PARTNER. setiap pihak berfungsi sesuai ranahnya masing-masing, bukannya segala hal dikembaliin ke ortu. fungsi pendidik(an)nya mana kalo kaya gitu??

oke oke, ntar disangka belum move on kalo bahas-bahas yang itu lagi xD
intinya in the end gue justru 'seneng' dapet kesempatan belajar kaya gini.
ternyataaa gini toh rasanya jadi orangtua anak SD hehehe.. other than that, I think this current school has really set the bar high in terms of education standard. for me personally, to say the least.

anyways di akhir Agustus lalu, sekolah Bumy ngadain parents-teachers conference (PTC), seperti yang rutin dilakuin setiap awal semester.
gue pernah ceritain di blogspost ini, kalau PTC biasanya diisi presentasi dari para guru tentang topik dan metode pembelajaran yang diterapin di sekolah.

tapiii, ada yang berbeda nih begitu udah di SD. kemarin, selain ada sesi presentasi dari guru, juga ada sesi edukasi dari psikolog. sesi yang dikasih judul Parenting Sharing Session ini mengundang psikolog bu Alzena Masykouri.
materi yang diberikan ke kita para orangtua adalah tentang "Understanding Child Development aged 6-12 years old." sesuai banget pastinyaa sama audiens terutama yang kayak gue, yang baru pertama kali nyekolahin anak di SD.
selain itu, timingnya yang dipilih untuk memberikan materi ini juga pas, yaitu di awal tahun ajaran. paling nggak kegiatan ini bisa dinilai sebagai usaha supaya ortu dan sekolah bisa on the same page baik dari segi pemahaman tentang montessori maupun ekspektasi dalam mendidik anak. karena as we know, montessori emang menekankan pentingnya link atau keterhubungan antara keluarga dan sekolah.

cerita soal materinya gue lanjutin di blogpost selanjutnya aja, yah. setelah denger bu Alzena ceramah di event PTC ini, gue sempat konsultasi langsung juga sama beliau. tujuannya ya sebagai tinjut meeting kemarin. pertemuan-pertemuan dengan beliau ngasih banyak pencerahan ey, so I think it would be nice to share it here, supaya bisa jadi bahan referensi di masa depan.
just wait for it, okaay.

13/05/2016

membongkar mitos-mitos montessori

tempo hari gue nyetatus di Path seperti ini:
"New milestone unlocked: bayar uang pangkal SD."

lega rasanya udah menjatuhkan pilihan, meskipun seperti yang pernah gue ocehkan di sini, sampe batas waktu terakhir harus memilih tetep aja gue belum merasa 100% sreg.

dipikir-pikir sekarang, yang bikin kita nggak sreg adalah faktor-faktor di luar metode pendidikan yang diterapkan. contohnya lokasi, yang udah nggak bisa diapa-apain kecuali kita pindah rumah (#ihaveadream). trus juga uang pangkalnya yang bakal bikin kita mikir sekian kali kalau mau relokasi - ya sapa tauk adit dapet kerjaan di negeri tetangga atau pindah benua, gituh (#agirlcandream) - saking agak 'meleset'nya dari ancer-ancer uang pangkal SD di financial plan awal.
serta sederet hal-hal lainnya sih... yang udah pernah gue beberkan sebelumnya. intinya, it wasn't THE perfect choice.

but when the time came for us to make a choice, setelah ditimbang-timbang, satu hal yang bikin sreg sampai bisa melampaui faktor-faktor tadi ya metode pendidikan yang dipake. it's none other than the authentic montessori method, applied with Islamic values. yang udah paket combo bangetlah di mata gue!


kenapa montessori segitu memikatnya bagi gue secara pribadi, jawabannya ya karena pendidikan tsb oke banget. secara garis besarnya, karena montessori menyesuaikan dengan perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences dan active learning, melatih kemandirian anak (dalam berpikir dan berperilaku), PLUS... membentuk anak jadi lifelong learner.
biar afdol, kalau mau liat pembahasan lebih runut seputar kayak apa montessori dan manfaatnya kayaknya bisa ditemukan di sini.

well, mungkin ada yang mikir semua benefit tadi iming-iming 'dagang' semata.. of kors gue pun nggak menampik gimana output dari pendidikan montessori akan sangat tergantung pada penerapannya di lapangan.

tapi gue harus bilang kalau sejauh ini I feel quite optimistic, sih.
ada kejadian di mana bumy ikut 'tes' observasi di sekolah lain yang tadinya jadi kandidat calon SD. sekolah ini reputasinya terbilang cetar-lah. kurikulumnya lumayan didominasi nuansa akademik, nilai UN level SD-nya oke, dapat peringkat ke sekian di DKI. dari hasil riset, kunjungan, dan hearsay, bisa disimpulkan kalau sekolah ini punya threshold yang cukup tinggi untuk kemampuan kognitif calon siswanya.
gue sih nggak nyiapin apa-apa buat bumy untuk ngikutin tes di situ. bahkan yang nganterin bumy tes cuma embak ART (dan tukang kebon freelancer sebagai ojek dadakan).
setelah tes, tentunya hasilnya diobrolin oleh Kepsek sekolah tersebut dengan gue. as I said, gue nggak ngoyo untuk masukin anak ke sini, dengan berbagai pertimbangannya, jadi nggak ada debar-debar aneh juga ketika mau denger gimana hasil observasinya. but when I talked with the principal, this is what I heard: "aduh, kalo anak montessori nggak usah ditanya lagi deh, kemampuan calistungnya di atas rata-rata. (mereka) juga mandiri dan dewasa banget dibandingkan yang lain."
*insert gif hidung kembang-kempis*

singkatnya, bumy diterima masuk ke situ. tapiii setelah mikir bolak-balik, alih-alih masukin bumy ke sekolah tsb, gue dan adit tetep milih sekolah bumy yang sekarang dengan segala risikonya. sekolah bermetode montessori otentik yang memang belum bisa menyelenggarakan UN di sekolah sendiri (karena belum punya lulusan), yang belum dapet akreditasi, lahannya terbatas, dan manajemennya juga masih 'hijau.'
tapi jika dilihat lewat perspektif yang berbeda, sekolah bumy sekarang ini udah cukup lumayanlah dalam menerapkan metode yang diusung - karena ya keliatan hasilnya di bumy.

kalau gue liat-liat sekeliling, cukup banyak orangtua yang milih nyekolahin anaknya di sekolah bermetode montessori. karena nama montessori sendiri nggak dipatenkan, makanya banyak sekolah yang bisa mengadopt maupun mengklaim menerapkan metode tersebut - meski mungkin cuma sebagian, dengan dicampur metode pendidikan lainnya. montessori juga lebih banyak diterapkan buat pendidikan anak usia dini aja alih-alih dilanjutin sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
ketika diulik-ulik (meski tanpa sengaja hehe), ternyata banyak stigma yang beredar seputar montessori, bahkan di kalangan orangtua yang juga udah menyekolahkan anaknya di TK montessori. salah satu yang suka gue denger adalah "aduh montessori kayaknya terlalu santai/kurang nampol kalo buat SD."

gue paham banget sih maksudnya. sekolah montessori (anak gue) emang nggak ngasih nilai, rewards, hukuman, bahkan juga nggak ada PR.
sementara di mata (banyak) orangtua, masa bersekolah di SD itu seharusnya dipergunakan untuk 'menggempur' anak dengan pelajaran, rupa-rupa skills, dan disiplin dalam belajar. I used to think that way jugak.

tapi... kala ku menyadari kalo diri ini nggak bisa sabar ngajarin anak, gue bersyukur sekolah bumy ngajarin calistung tanpa harus gue drill sama sekali di rumah (tau-tau anaknya bisaa aja).
menyadari diri ini pemalas, begitu mendarat di rumah maunya main-main sama anak sekadarnya, gue bersyukur sekolah bumy nggak ngasih PEER dan project yang sulit-sulit.
menyadari diri ini mudah stres, hati gue adem pas baca status temen yang anaknya bersekolah di SD montessori kayak begini: "di saat ibu-ibu lain lagi sutris ngajarin anaknya buat UTS, kami bisa leyeh-leyeh, ketawa-ketawa, main-main bareng." ya secara sekolah bumy nggak ngasih ujian, ulangan, atau sejenisnya tiap sekian bulan.
guilty as charged, gue mikirin yang enak di gue doang hahaha.

but in a more serious light, I believe in montessori education. efeknya keliatan banget di diri bumy. mungkin ini mamak semacam pamer bin riya' yah, tapi jika memang yang dijadikan tolak ukur cuma kemampuan kognitif semacam calistung, 'rapot' bumy udah bisa dapet nilai A semua.
meskipun begitu, gue prefer menilai anak secara lebih luas. seperti yang pernah gue tulis di sini, scope penilaian setiap kemampuan anak yang diterapkan di pendidikan montessori nggak sesempit yang gue kira. anak bukan cuma dibentuk untuk lulus dari TK dengan kemampuan akademik yang kuat; tapi yang lebih penting, dengan ATTITUDE bahwa belajar itu menyenangkan, seru, dan tanpa batas.
karena itulah gue terkagum-kagum melihat gimana ada semacam eagerness di diri bumy untuk belajar dan menguasai suatu hal. terasa kalau ada working ethics yang ditumbuhkan di dirinya. ini hal yang nggak kasat mata, karena nggak bisa diukur cuma dengan menanyakan "1+1 berapa?" atau "ini huruf apa? dibacanya gimana?"

kalau mau bicara faktor penguat secara scientific, ternyata ada studi yang diterbitkan di jurnal "Science" di tahun 2006 yang menyatakan bahwa murid-murid montessori cenderung menunjukkan skill sosial dan kreativitas yang lebih advanced, dan bisa perform lebih baik dalam ujian baca dan matematika dibandingkan anak-anak lain di program tradisional.

that being said, asumsi kalo montessori itu nggak memberikan efek 'nampol' buat anak sejatinya bisa disebut mitos.. ya ndak?

dari situ, gue pun mulai lebih kepo sama asumsi-asumsi semacam ini.
tujuannya apa? bukaan, bukan supaya bisa bales nyinyir ke orang lain hahaha. justru supaya gue bisa lebih sreg sama pilihan yang udah dibuat. lalu kalaupun ada asumsi negatif yang ternyata emang valid, ya supaya gue udah siap aja, gitu *pasrah*
kebetulan, suatu hari seorang ibu yang punya concern besar sama pendidikan (dan kebetulan nyekolahin anak-anaknya di sd montessori hehe) nge-share artikel di sini. judulnya "Montessori Myths Busted", dan ini yang mau gue share ulang di blogpost ini. kurang lebih gue bakal nerjemahin apa isi artikelnya aja sih, tapi mungkin bakal ditambahin juga sama pendapat gue pribadi.

Mitos #1: Montessori cuma buat anak-anak yang berbakat.
apa iya anak harus berbakat buat bisa disekolahin di montessori?
jelaslah sebenernya montessori itu buat semua anak, tanpa memandang level kemampuannya. tapi asumsi ini muncul mungkin karena di mata orang awam, murid-murid montessori kerap terlihat lebih advanced dibandingkan anak-anak lain seusianya, yang menimbulkan asumsi kalo sekolah tsb cuma bisa memenuhi pendidikan untuk anak-anak yang berbakat. (personal note: ini kok berasa humblebrag banget yak? hahaha).

padahal yang sesungguhnya terjadi adalah, pendidikan Montessori memanfaatkan dorongan alami di diri setiap anak, yaitu dorongan kuat untuk belajar, dan memberi stimulasi sesuai kecerdasan majemuk anak. ketertarikan anaklah yang menjadi pedoman bagi guru untuk mengatur pembelajaran yang bisa menstimulasi anak.



Mitos #2 – ruang kelas Montessori itu kacaww alias chaos.
kalo ada yang nyoba merhatiin seperti apa kegiatan dalam ruang kelas montessori sehari-seharinya, selama dua jam gitu misalnya, maka yang akan diliat sesungguhnya bakalan jauh banget dari ribut dan kisruh. penerapan sistem pembelajaran dalam montessori mengizikan anak melakukan banyak hal sendiri. kemerdekaan pembelajaran sangat ditekankan, dan sebaliknya intervensi dari orang dewasa dalam lingkungan belajar sangat tidak dianjurkan. anak-anak didorong untuk melatih self-discipline-nya sendiri, dan ini berlaku juga bahkan untuk anak-anak yang masih sangat kecil.
guru lebih bertindak sebagai pemandu dan memfasilitasi anak untuk belajar sendiri, dengan menggunakan material yang sudah dirancang khusus untuk tujuan belajar tsb.

berbeda dengan di sekolah tradisional, dalam pendidikan montessori anak-anak nggak diajak berpindah-pindah tempat dalam kelas secara berkelompok atau disuruh melakukan aktivitas yang sama di saat bersamaan. anak-anak justru akan dipaparkan pada berbagai jenis material yang bersifat self-correcting.
prosesnya gini, pertama-tama guru akan mendemonstrasikan sebuah material, atau bahkan terkadang bisa ditemukan anak yang lebih tua yang melakukan demonstrasi itu. lalu anak-anak bebas memilih aktivitas mana yang menarik bagi mereka. mereka ditinggalkan sendiri untuk bereksperimen dan berlatih dengan material tadi, yang sebenernya suatu hal yang membantu anak-anak ini mengajarkan diri sendiri berkonsentrasi, membangun skill koordinasi, dan juga kemandirian dalam suatu keteraturan yang tidak membutuhkan pengawasan orang dewasa.

montessori percaya kalau setiap anak harus merasa santai, tenang, dan tenggelam dalam aktivitas. saat terjadi argumentasi antara anak-anak, mereka dibiarkan berusaha menyelesaikannya sendiri. meskipun begitu, mereka juga memperoleh keterampilan manajemen konflik dari para guru, yang membantu mereka menyelesaikan masalah.

Mitos #3 – Montessori tidak memfasilitasi perkembangan sosial.
respek yang ditunjukkan guru kepada setiap anak menjadi teladan bagi anak-anak untuk saling menghargai. anak-anak kecil berinteraksi dengan anak-anak lain dan juga dengan orang dewasa, sehingga secara bertahap mereka menjadi lebih peduli dan sensitif terhadap sekelilingnya. rentang usia 2-3 tahun dalam kelas menyebabkan pembelajaran terjadi dari anak-anak yang lebih besar ke yang lebih kecil, dan ini terjadi secara alamiah.

namun montessori juga menghargai anak dan kebutuhannya akan privasi. selain memenuhi kebutuhan anak untuk beraktivitas sendiri(an), area dan aktivitas dalam kelas juga memungkinkan anak-anak saling berinteraksi. anak-anak yang lebih besar sering menjadi guru bagi yang lebih kecil, serta anak bisa bekerja sama ataupun sendiri-sendiri sesuai pilihan mereka.



Mitos #4 – Montessori tidak ketat secara akademis.
banyak orangtua khawatir menyekolahkan anak di pendidikan Montessori karena berpikir metode ini tidak akan mempersiapkan anak-anak mereka untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sekali lagi, ini bisa dibilang sangat tidak benar.
Sistem Montessori tahu bahwa anak-anak yang masih sangat kecil dapat memahami konsep-konsep yang rumit jika mereka diperkenalkan secara konkret. Sebagai contoh, jika mereka telah belajar tentang tabel perkalian menggunakan material '100's Board' maka mereka akan memiliki pemahaman yang jauh lebih besar tentang perkalian ketika pembelajaran berkembang menjadi simbol abstrak.

Seiring anak tumbuh dewasa, mereka mempelajari keterampilan seperti membaca, menulis dan juga meneliti dengan mengeksplorasi mata pelajaran lain dalam kurikulum, seperti kajian budaya dan ilmu pengetahuan. Keterampilan tidak hanya diajarkan untuk kepentingan itu, tapi juga untuk mendorong peserta didik maju lebih cepat karena mereka sering mempelajari area yang menarik bagi mereka.



Seperti dikutip dalam studi Angeline Lillard yang diterbitkan dalam jurnal, Science, pada tahun 2006, "Siswa Montessori terbukti secara signifikan lebih siap untuk sekolah dasar dalam keterampilan membaca dan matematika daripada anak-anak non-Montessori.
"Mereka juga teruji lebih baik pada 'fungsi eksekutif,' yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan masalah yang lebih kompleks, suatu indikator kesuksesan dalam bersekolah dan hidup di masa depan."

Menurut neuroscientist, Dr Steven Hughes, "Jika kami memutuskan bahwa tujuan pendidikan seharusnya adalah membantu otak setiap anak mencapai potensi tertinggi perkembangan ... pendidikan Montessori menyajikan pendekatan pendidikan yang secara radikal berbeda - dan juga secara radikal efektif -  yang mungkin menjadi metode terbaik untuk memastikan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional yang optimal dari setiap anak."

Mitos #5 – Anak-anak yang lebih besar akan mengintimidasi yang lebih kecil.
anak-anak Montessori disusun dalam kelas dengan rentang usia 2 sampai 3 tahun. ini bikin banyak orang tua khawatir nantinya anak-anak yang lebih tua akan mengintimidasi anak-anak yang lebih kecil.

padahal kondisi mixed-age (campur-usia) ini memberikan kesempatan bagi siswa yang lebih berpengalaman untuk menjadi role model dan membantu anak lain. hal ini menaikkan harga diri anak.
dengan adanya rentang usia di kelas, kompetisi diminimalisir sebagai motivator. Para siswa dapat dengan nyaman berbagi pengetahuan dengan satu sama lain. Mereka belajar untuk bekerja sebagai tim dan menghargai kontribusi masing-masing anggota dalam situasi apapun. Kemampuan ini bisa menjadi "alat" bagi anak dalam memecahkan konflik, yang akan membangun toleransi untuk sudut pandang yang berbeda dan mempersiapkan anak-anak menjadi orang dewasa yang penuh kasih.

Mitos #6 – Montessori Terlalu Terstruktur
Beberapa orang meyakini kalau Montessori kacau dan tidak terstruktur, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sementara yang lain percaya kalau montessori terlalu terstruktur. di mata mereka, anak-anak duduk dan bekerja sepanjang hari dan tidak diizinkan untuk bergerak.
Dalam kelas Montessori, anak-anak benar-benar memiliki kebebasan untuk berjalan-jalan di sekitar kelas, menyelesaikan pekerjaan dalam urutan yang mereka pilih. Tidak ada batasan waktu di dalam kelas, yang berarti selama 3 jam siklus kerja, anak-anak dapat mengunjungi meja suara, atau material sensorik, practical life, kemudian pindah ke Matematika. Satu hal yang penting adalah ketika mereka berinteraksi dengan material, 'bekerja' terasa lebih seperti 'bermain' yang semakin membuat mereka terlarut dalam aktivitasnya.

Mitos #7 – Anak-anak bebas melakukan apa saja di dalam kelas montessori
Sebenarnya lingkungan montessori disiapkan dengan sangat hati-hati dan kaya dengan material yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
anak dapat mengeksplorasi apa yang menjadi ketertarikan mereka. Jika anak-anak diajarkan kemerdekaan memilih sejak dini, mereka dapat jauh lebih termotivasi untuk belajar.



Guru bergerak di dalam kelas, membimbing dan mendorong anak-anak untuk menantang diri mereka sendiri di area pembelajaran yang sedang mereka jelajahi dan di area-area baru. Guru menjadi pengamat terlatih danmembantu anak-anak untuk bertumbuh secara intelektual selagi mereka menguasai keterampilan baru. Bahkan, di tingkat yang lebih rendah, anak-anak belajar untuk membuat rencana kerja mereka sendiri untuk satu hari yang mencakup area dasar seperti matematika, membaca, budaya, ilmu pengetahuan dan banyak lagi. Manajemen diri ini menjadi fondasi penting seiring tingkat pemahamana anak bergerak ke tingkat lebih tinggi.

Mitos #8 – program Montessori tidak akan bisa mengimbangi kurikulum di sekolah non-Montessori.
Mitos ini sering diangkat dan pastinya tidak terjadi. Faktanya anak-anak Montessori seringkali maju jauh melampaui tingkat yang dicapai di sekolah umum. Ini telah dibuktikan oleh hasilnya. Sering ada komentar bahwa anak-anak Montessori sangat cemerlang dan lebih unggul secara akademis ketika dimasukkan ke sekolah umum. Ini juga terbukti saat mereka berada di jenjang SMA.

Mitos #9 – Montessori hanya berhasil untuk anak-anak tertentu.
lagi-lagi ini hanyalah mitos. montessori bisa diterapkan pada setiap anak. pendidikan ini menerapkan ketiga model pembelajaran, yaitu visual, pendengaran dan kinetik, sehingga setiap peserta didik bisa mencapai kesuksesan. Guru juga bertindak sebagai pengamat yang terampil seperti telah disebutkan tadi, sehingga bisa tahu kekuatan dan tantangan yang dihadapi setiap murid dalam kelasnya. setiap guru menghandle kelompok kecil murid sehingga bisa memastikan anak-anak memahami konsep sebelum bergerak ke pekerjaan independen yang terkait.

Mitos #10 – Montessori tidak memberi peluang untuk bermain bebas atau
pengembangan kreativitas.
Ada banyak waktu untuk anak bermain bebas di waktu istirahat. juga banyak kegiatan tambahan yang ditawarkan seperti seni, musik, drama, bahasa tambahan dan pendidikan jasmani. Kelas-kelas ini dianggap sangat penting untuk pengembangan anak secara keseluruhan. Kreativitas juga dipelihara dan didorong dalam lingkungan kelas dengan mendukung rasa ingin tahu dan minat anak. kita mungkin akan kaget kalau tahu berapa banyak inovator dalam teknologi tinggi dan seni yang punya landasan pendidikan di sekolah Montessori.

demikianlah. panjang yak... karena emang ternyata banyak mitos seputar pendidikan montessori. apalagi buat level pendidikan yang lebih tinggi dari PAUD; wajarlah banyak asumsi karena di Indo kita kenalnya kurikulum nasional yang akademik banget.
kesimpulannya, mitos-mitos ini timbul jika kita hanya melihat Montessori secara selintas. padahal dalam kenyataannya, pendidikan ini sangat memperkaya perkembangan diri anak.


click to enlarge
Article source: https://www.spielgaben.com/montessori-myths-busted/

22/11/2015

masih soal memilih sekolah

minggu ini bagi gue 'berkualitas' banget. alhamdulillah...
  • masuk kerja cuma satu hari, jumat doang! hahaha.
  • bisa begitu karena gue ambil cutii - yaiyalah xD we spent it on a mini vacation to the little red dot <3
  • pas weekend, sabtunya kita ke sekolah Bhumy untuk liat doi beraksi di ajang science fair. abis itu langsung tafakuran, trus cuss ke Mrican untuk balikin mobil dan quality time sama oma opa hehe... hari minggunya, oma opa nganterin kita ke Ciganjur, makan soto mie bareng-bareng di rumah, trus sorenya grocery shopping. subhanallah komplit.
hasrat hati sih mau langsung membahas soal liburan kemarin panjang lebar, hahaha.. tapi biar 'seimbang,' gue mau beberkan dulu apa aja yang menjadi sumber kegelisahan gue saat ini. semoga bukan berarti ini wujud kurang bersyukur yah. gue cuma pengen mengingatkan diri kalau nikmat itu selain berupa kesenangan, tapi juga bisa mengambil bentuk dilema atau ujian (kalimat ini wajib dibubuhkan hashtag #sokbijak hehe).


gambar dari sini
jadi, sekarang ini yang membebani pikiran gue adalah soal memilih sekolah Bhumy. iya, belum kelar-kelar ey proses memikir dan menimbang-nimbangnya! pilihan emang sudah mengerucut sih, jadi tinggal 2 opsi. tapi hasil assessment pro-cons terhadap 2 opsi ini sama-sama memberatkan untuk dipilih.

sekolah #1 ya sekolahnya Bhumy sekarang.

pro-nya:
- metode dan kurikulum montessori; sesuai banget sama perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences, active learning, melatih kemandirian, dst dsb yang rasanya udah sering gue bahas di blog. oh ya, karena nantinya anak-anak di sini tetap harus ikut UN, maka akan ada semacam pengayaan untuk persiapan UN mulai kelas 5.
- learning with Islamic values; iya, sekolah ini bukan sekolah Islam, jadi nggak menuntut anak hafal Al-Qur'an sekian juz, hafal hadits dsb. tapi selain mengajarkan tentang sejarah, konsep tauhid, fiqih, syariah, dst, juga menekankan pada penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dan juga bermasyarakat.
- guru-gurunya "oke" dalam artian kualifikasi pendidikannya bagus, paham agama, modest, santun, dan komunikatif.
- ekskulnya kok ya seru-seru, ada pramuka (intra curricular), mandarin, sama memanah!

tapiiii:

- uang pangkal untuk SD angkatan Bhumy naik 20% dari biaya tahun laluuuu T______T
- jauh dari rumah dan dari segi transportasi rada ribet, apalagi pas nggak ada supir kayak sekarang uhuhuhuhu.
- lahan sekolahnya terbatas. bangunan emang masih baru dan fasilitasnya cukup memadai. tapi ya gitu, nggak ada yang namanya lapangan basket (apalagi lapangan bola), kolam renang juga seadanya alih-alih olympic size haha.
- usia sekolahnya relatif baru, murid masih sedikit, lulusan bahkan belum ada. dengan demikian, sekolah ini belum dapat akreditasi, dan untuk UN sementara menumpang dulu di sekolah lain.


dari science fair kemarin

untuk uang pangkal, yaahh meskipun mencekik, tapi bisalah diusahain.. insya Allah. jarak nih dilema terbesarnya. agak ketar-ketir membayangkan harus hire supir baru lagi dari awal, dan menghadapi potensi drama.. hhh.

sementara untuk keterbatasan lahan, kalau kita udah memilih menyekolahkan Bhumy di situ, ya pastinya harus tutup matalah soal itu.

sementara sekolah #2

pro-nya:
- cuma 1 km dari rumah! dan ada jemputannya! OMAGAAHH, faktor ini doang aja udah menggiurkan banget!
- uang pangkal untuk SD bisa 'dicicil' per tahun!
- sudah eksis selama 20 tahun... berarti lebih berpengalaman, bukaan. akreditasinya juga A, rata-rata nilai UN-nya tinggi. (but do I really care about that-numbers and grades and all that is 'visible' to the eyes?) 
- kurikulumnya IPC. well, ini bisa jadi faktor pemberat maupun pengurang kecondongan hati, sih, tergantung dari cara pandang dan visi-misi ortu. IPC ini semacam jalan tengah antara kurikulum IB yang 'praktek' banget dengan kurikulum nasional yang teoritis/akademis banget. maafkan yah kalau pemahaman dan pemaparan gue ini banyak ngaconya, soalnya berdasarkan riset abal-abal via internet dan ingatan sekadarnya. 
terus karena kurnas sudah di-blend in dengan penerapan kurikulum IPC, jadi anak sepertinya bakal lebih terbiasa dengan kurnas alih-alih baru mulai dibiasakan dengan kurnas pada 2 tahun terakhir level primary aja. 
dari hasil survey kemarin, contoh yang paling nyata adalah sekolah ini hampir nggak ada field trip (adanya outing, yang mana ya untuk refreshing aja setelah tahun ajaran selesai). sementara di sekolah #1 ada field trip paling nggak 1 kali setiap term (3 bulan) untuk menunjang proses belajar. bahkan bisa lebih, untuk memfasilitasi ketertarikan dan curiosity anak. 
trus soal PR, di montessori, nggak ada PR samsek. tapi untuk kurikulum IPC ini ada worksheet untuk dikerjakan anak setiap harinya. am I against PR? nggak, kok. gue justru berpikir pengulangan itu perlu. tapi, ini semacam menjadi 'pertanda' kalau faktor akademis menjadi 'warna' utama dalam pendidikan di sini kelak.
- sekolahnya luaaaas. yah, bisa dimengerti. lokasi sekolah #2 ini terbilang pinggiran jakarta, sementara sekolah #1 ada di tengah kota. jadi, sekolah #2 ini fasilitasnya mumpuni; ada lapangan bola 2 bijik(!), lapangan basket, dll. makanya, pilihan ekskul untuk siswa juga jauh lebih beragam.

lalu cons-nya:

- pendidikan agama cuma 2 jam per minggu. emang, setiap harinya anak-anak beragama Islam akan diajak sholat dzuhur berjamaah. trus ada ekskul Iqra juga. tapi.. porsinya jelas berbeda jauh dengan sekolah #1.
- school fee bulanannya lebih mahal hampir 40% dari sekolah #1. hmm... diitung-itung, bisa tergantikan sama uang bensin dan gaji supir, sih. tapi, ini berkaitan dengan poin selanjutnya, yaitu...
- waktu kita visit ke situ saat jam pulang sekolah, kita lihat deretan mobil yang akan menjemput. hmm.. kok ada jaguar aja? haha.. alphard dan sekelasnya juga bererot, semacam mobil 'standar' di situ xD jadi agak gentar juga, membayangkan gimana kalo anak kita jadi semacam Sanchai di antara para anak konglomerat, kekekek...
- ini mungkin preferensi pribadi semata, tapi kegiatan pramuka baru ada di level middle school. berkat melihat sang teman hidup yang "boy scout" banget sanubari dan adab perilakunya (hahaha), gue jadi sadar kalau kepanduan itu ilmu yang penting dan berguna banget untuk diajarkan ke anak.

untuk menambahkan ketegangan, kita sudah harus memutuskan Bhumy mau bersekolah di mana per Desember ini. sementara sampe sekarang gue dan Adit masih bingung sejadi-jadinya.

hati kita sih sepakat, condong ke sekolah #1. tapi perjuangannya nampak akan lebih berat... terutama terkait faktor jarak dan transportasi.
gue sempat curhat sedikit sama dokter Yuniar seputar memilih sekolah ini, eh jawaban beliau tak dinyana sekonyong-konyong menghujam hatik: "itu jihad kita sebagai orangtua, Ris." glek...

gue jadi berpikir, ajang Bhumy masuk SD kelak ini akan jadi milestone juga buat kita sekeluarga. gue inginnya tetap bisa memberikan waktu, perhatian, dan pendampingan yang berkualitas buat Bhumy, sambil tetap bekerja. gue emang berdoa (Adit juga - getok kalo nggak), semoga jalan kita dimudahkan dan dimuluskan kalau memang sekolah #1 yang terbaik untuk Bhumy. 

karena kalau di-crosscheck sama "kriteria" memilih sekolah yang gue tulis tempo hari, begini hasilnya:
- kurikulum IB -> gue menganggap kurikulum montessori banyak kemiripan dengan IB. di montessori, anak-anak bisa memberikan input tentang bagaimana mereka mau diajar, dan mereka bisa mengontrol cara belajar mereka dibandingkan anak-anak di sekolah berkonsep "tradisional." montessori juga 'lahan' yang tepat untuk menggarap anak sesuai kecerdasan majemuknya, karena gaya belajar alami dan preferensi anak dihargai dan didukung. kemampuan analitis anak juga didukung lewat gaya belajar yang nggak fokus ke textbook semata. btw info ini gue dapat selain lewat browsing, juga lewat hasil diskusi sama Kepsek sekolah Bumy sekarang. 
kurikulum IPC sendiri juga mendukung active learning dan juga konsep kecerdasan majemuk dalam prakteknya. gue kutip dari situs ini, dijelaskan sbb "Kurikulum IPC ini sebenernya seperti kurikulum IB yang disempurnakan. Jadi disini tidak hanya sekedar framework, tapi sudah jelas topik-topik dan panduan apa yang akan dipelajari. Kurikulum ini menekankan field study dan penerapan aplikasi teori."

lalu dalam hal "teknis," 
- fasilitas - yakin nih, gue nggak mupeng dengan sekolah yang fasilitasnya "lengkap bin mumpuni sampai ada lapangan hoki dan ice skating segala?" fufufufu... 
- pergaulan - sebelumnya, hal ini nggak gue jadiin pertimbangan banget. tapi, gimana kalo abis liburan nanti temen-temen sekelas Bumy pada seru bilang abis liburan ke Mount Titlis atau Raja Ampat, sementara Bumy... ngider-ngider BSD-Karawaci aja? x))))
- lokasi - kemarin gue tulis dengan sombongnya kalau jarak bukan masyalah buat kita.. eeh abis itu langsung diuji dong, dengan supir resign dadakan! baru deh, terasa... kasian banget Bumy harus menempuh jarak segitu jauh naik motor. berjibaku sama macet pula. 

wishlist terbesar kita (yang mungkin agak nggak tau diri sekaligus rada gila) adalah bisa tinggal deket sekolah #1. gue membayangkan Bhumy nggak perlu commuting jauh-jauh membelah macet setiap paginya, serta gue dan Adit bisa balik dari kantor dan ketemu Bhumy dengan lebih cepat karena nggak perlu berjibaku dengan kemacetan jam pulang kerja.
berlebihan-kah?
yah... it's up for you to judge.
tapi kita juga sadar banget kalau bisa tinggal di landed house di tengah Ciganjur begini merupakan sebuah privilege yang tak ternilai buat kita. Bhumy bisa lelarian sama Naya tiap sore, jauh dari polusi dan keriweuhan tengah kota.

BRB istikhoroh dulu, deh... :)))


14/10/2015

school-hunting season

di sinilah gue, duduk manis sendirian sambil ngetak-ngetik di ipad. this could be enjoyable, this could be a luxury. tapi nggak demikian yang gue rasakan. kenyataannya adalah gue lagi nungguin Adit kuliah sepulang kerja. sementara Bumy menanti gue di rumah cuma sama si embak. he has said many times that he misses me. but... let's just deal with it.

sekarang ini, gue kembali berjibaku dengan urusan memilih SD buat buat Bumy.



yak, sedang terjadi dilema milah-milih sekolah pada diri beta, all over again. 'kan gue cerita di blogpost ini, kalo gue udah memutuskan Bumy dimasukin SD tahun depan ajah (insya Allah), tapi melihat kondisi hidup sekarang - di mana gue tiba-tiba kerja full-time lagi - gue jadi mempertimbangkan lagi untuk masukin dese ke SD bulan Januari ini.
anaknya sih kemaren bilang, "Bumy gak mau buru-buru masuk SD, ah. abis pulangnya jam 3." nah lo, udah paham dia. tapi mau dimasukin bulan januari atau juli, yang pasti 'kan gue harus nyari sekolahnya dulu. mana nih yang paling tepat?? sd loh ini.. esdeee *zoom in zoom out* bayar uang pangkalnya buat 6 tahun sekaligus buuuu!

awalnya gue udah mantep mau nyekolahin bumy sd di sekolah yang enih. karena berasa udah cocok dari segi metode, biaya, sampe gaya hidup. tapi namanya juga emak-emak, ada yang 'ngomporin' dikit soal sekolah x, y, atau z, seketika membara hasrat keponya.

tapi kembali ke soal kriteria, seharusnya emang kita sendiri yang menentukan, rite? bukannya asupan/rekomendasi/kabar angin dari pihak-pihak luar. mungkin bagi si A, sekolah dengan kurikulum nasional cocok, sementara buat si B, sekolah alam lebih efektif.

soal kurikulum buat gue penting banget, nih. dari browsing sana-sini, gue menemukan kalau kurikulum yang terasa cocok baik dengan harapan gue buat Bumy, maupun dengan kepribadian dan gaya belajar Bumy, adalah kurikulum IB.
IB menekankan pada kemampuan analitis, jadi anak akan banyak diminta membuat laporan, essay dan riset. diskusi dan creative thinking selalu diasah karena nggak ada textbook wajib. trus minat non-akademis anak (kayak musik, seni, dan olahraga) dikembangkan dan diarahkan; karena 'kan nggak semua anak 'berbakat' untuk sukses secara akademik.
cuma kekurangannya juga ada, karena punya standar khusus, makanya sekolah IB biayanya mahal. selain itu, sekalinya 'nyemplung' ke IB, ya harus lanjut, karena akan sulit pindah ke kurikulum lain yang terstruktur lebih ketat.
sementara sekolah Bumy sekarang ini, diklaim menerapkan kurikulum montessori. nah, selama ini gue cuma kenal sama kurikulum nasional, nasional plus, internasional (IB, cambridge, IPC).

jadi gue rasa, sekarang ini waktu yang tepat buat memantapkan/merevisi kriteria sekolah. so far, kriteria gue untuk SD Bumy kelak sbb:

- menyediakan pendidikan yang holistik, yang meng-cover pendidikan hati, akal, dan fisik.
untuk hati, ya meliputi budi pekerti, perkembangan secara emosional, dan juga pemahaman agama.
trus untuk akal, pendidikan yang diberikan sesuai dengan perkembangan otak. ini bukan berarti mengharamkan calistung sama sekali, ya. tapi anak dibikin tertarik untuk bisa baca-tulis-hitung dengan bikin anak tertarik, serta bisa menanamkan pemahaman konsep calistung yang kuat.
kebeneran montessori ini titik berat konsep pendidikannya di pengembangan emosional anak. kaya gue ceritain di entry inilah, jadi selama usia kritikal (0-12 tahun), montessori fokus di pendidikan untuk hati, bukannya akademik.
mengutip ucapan seorang mamah di grup WA, "kalo perkembangan emosional anak baik, cukup mengenal diri sendiri, tau bersikap, maka mau ke SMP dengan kurikulum apapun gak masalah." noted!


- biayanya kita afford... baik uang pangkal dan biaya bulanannya, bisa kita bayar tanpa harus ngutang hehe. udah gitu gaya hidupnya juga nggak nggilani; jujur gue gentar menghadapi sekolah yang setiap ngadain event harus nyewa tempat di luar sekolah, suka ngadain studi banding ke luar negri, intinya banyak biaya tambahannya, gitu. belum lagi hidden cost untuk pergaulan... yang meskipun itu semua seharusnya nggak mengikis ke-DBAS-an asal kita bisa pake kacamata kuda, tapi yaa gue maunya anak terbiasa bergaya hidup sesuai kemampuan emak-bapaknyalah.

- gimana dengan Location Location Location? haha kode pos sekolah kayanya udah nggak terlalu berpengaruh buat kita - secara udah setahun ini nyekolahin Bumy ke kawasan macet yang jaraknya 9 km dari rumah. tapi yang jadi pertimbangan adalah kondisi lingkungan sekolahnya, maunya sih yang bersih, terawat, dan terjaga.

- hal-hal lain yang penting-nggakpenting juga jadi pertimbangan, sih, semacam
  • classroom setting - maunya yang nggak duduk berjejer ke arah papan tulis. karena ini menggambarkan metode pengajaran yang dipake; bisa keliatan dong kalo menghadap satu arah kaya gue di SD negri dulu, metodenya akan berupa guru monolog di depan. gue maunya anak diajak banyak diskusi (bukan banyak dikasih hafalan dan PR), disuruh bikin essay dan conduct research alih-alih menyalin doang.
  • rasio guru dibanding anak - nggak terlalu sedikit tapi juga nggak kebanyakan. 1:30 justru kondisi 'ideal' kalo dari mbaca buku Malcolm Gladwell.
  • fasilitas - nggak harus lengkap bin mumpuni sampai ada lapangan hoki dan ice skating segala, yang penting bersih dan terurus.
  • kompetensi pengajar - menilik pengalaman yang tlah lalu, level edukasi guru ternyata ngaruh banget sama kualitas pendidikan yang dideliver.
  • komunikasi antara sekolah dengan ortu - kalo bisa sih ada PTA, dan kepseknya juga komunikatif (tidak arogan adalah syarat utama!).
  • penerapan disiplin secara konkret - disiplinnya tentang apa: baju, absen, attitude? pembentukan perilakunya lewat apa?

hihihi penting-nggakpenting tapi segitu detil yah ceu penjabarannya xD

okelah, semoga kita bisa menjatuhkan pilihan dengan mudah yaa - maksudnya karena udah yakin banget, gitu, hehe. how 'bout you mommas out there? udah mulai school hunting jugakah?
first-world school problem :D