19/04/2016

what I need to know about parenting, I learn it from..

Orange is the New Black.

gue udah pernah bilang sebelumnya, kalau serial ini membuat gue tergila-gila. gue bener-bener dibuat takjub dan terinspirasi setiap kali nonton, ya karena jalan ceritanya, karakter-karakternya, dan terutama, sama insight tentang gimana para perempuan ini bertahan hidup di penjara.
perempuan-perempuan yang ditampilkan di sini, meski emang bertitel "inmates" alias pesakitan, tapi they're basically "regular" women. kebanyakan dari mereka nyemplung ke penjara karena latar belakang ekonomi, meskipun later on I know kalo bukan itu doang faktor yang bikin seseorang terperosok ke penjara. contohnya sang tokoh utama, si Piper, yang anak orang kaya dan berpendidikan tinggi. begitupun Nicky yang gue sebut sekilas di sini. mereka nggak kekurangan duit, tapi tetep bisa kecebur melakukan kejahatan, and thus, end up in prison.



bicara soal terinspirasi, keseluruhan tiga season ngasih gue banyak banget insight, salah satunya ya soal parenting. yang unik, diceritain ada ibu dan anak yang dipenjara bareng, yaitu Daya dan ibunya, Aleida... technically sih ibunya duluan yang dipenjara, dan ketika tau anaknya dipenjara, hal pertama yang Aleida lakukan saat ketemu Daya adalah... nampar. haha, tapi tindakan itu bisa dimengerti banget! ya kalau diliat pakai kacamata emak-emak, siapa coba yang mau anaknya ngikutin jejak langkah yang salah? meskipun diri kita sendiri yang dicontoh.. *atut* 

anyways, beberapa kali gue menemukan diri gue mewek sembari nonton OITNB. episod yang berkesan banget tuh yang tentang Hari Ibu. jadi, penjara yang jadi background serial ini adalah Lichfield, penjara dengan tingkat keamanan rendah, di mana mereka yang dipenjara juga bukan pelaku kejahatan 'berat.' terharu deh ngeliat gimana 'perjuangan' anak-anak yang ibunya dipenjara hanya untuk bisa menghabiskan satu hari bersama sang ibu dalam kondisi seru dan ceria, meski masih tetap di dalam penjara.
diceritain juga betapa pusing ibu yang dipenjara saat menemui kenyataan anaknya getting out of hand. gimana coba caranya 'mengontrol' dan menjaga hidup anak-anaknya dari pengaruh buruk, sementara mereka sendiri lagi dipenjara? 


kiri: Daya, kanan: Aleida, Daya's mom
ada juga konflik yang dihadapi Daya yang tadi gue mention. dia hamil gara-gara pacaran sama seorang sipir (John, yang guanteng dan muanis banget hihihi). singkat cerita, seiring kehamilannya bertambah besar, Daya makin yakin kalo dia mau kehidupan yang jauuuh lebih baik buat anaknya. so she finally decided to give her child up for adoption. 
but then there's a twist!
ibunya, Aleida, ternyata ngebohongin pihak pengadopsi supaya anaknya Daya/cucunya bisa tetap bersama ibunya... emang sih, dengan segala risiko kemiskinan, kejahatan, dan sejenisnya. tapi itu semua semacam "nggak ada apa-apanya" dibandingkan terpisah dari ibu sendiri.... 
this is what she (Aleida) said exactly, 


Aleida: "I know that feeling you got when you had her in your arms. And if that went away forever, you'd be all kinds of f*cked up."
Daya: "You make her sound like she's drugs."
Aleida: "The worst kind. She's gonna make you feel better than you ever thought you could, then drain all your money and ruin your life.
You're always gonna need her. And even when you hate her, you're gonna love her."
that's it. I soooooo can relate with what she's describing. 
that's exactly what having a child is like... 
dan karena pada episod tersebut juga diceritain flashback Aleida waktu masih muda dan ngurus Daya yang masih kecil, mau nggak mau gue jadi teringat my own mamak. the one I always have fights with (yep, even until today). digambarin gimana pelan-pelan Daya mulai 'jauh' dari ibunya sendiri, emotionally. and I think that's also what happened between me and my mamak. 
dari awal gue dan dia nggak bisa berteman. iya, nggak bisa aja. karena beda generasi, kali. atau beda "style." atau bisa juga karena karakter kita terlalu sama. hahaha entahlah! yang jelas, pas adegan demi adegan flashback Aleida diputarkan, gue jadi kayak ngeliat apa yang nyokap gue alami dan rasakan saat ngebesarin gue yang beranjak ABG... 
boy, it was damn hard to watch! x( mewek berember-ember gue nontonnya... 

semacam disadarkan kalo selama "itu" ternyata nyokap selalu sayang sama gue. in her own way. 
because even when she hates me, she still loves me damn much. 
hiks. 

dan sekarangpun, setelah gue sendiri jadi ibu, itulah yang gue rasakan. my kid is like my drug. candu.
semua prioritas berubah, jungkir-balik bahkan, begitu dia hadir. I'm no longer that important. 
bagian yang akan gue tulis berikutnya mungkin melenceng jauh banget dari topik Orange is the New Black. adalah sekelumit isi tausiyah yang tempo hari gue dengar di kantor, yang ngasih tau kalo ternyata, Allah menciptakan "miniatur"nya di dunia, dalam wujud seorang IBU. 

kalau ditilik dari asal katanya (kebetulan yang ngomong ahli fiqih S2 or S3 dari Kairo, so I think she knows what she's talking about), 
ibu dalam bahasa Arab juga disebut dengan istilah murabbi, yaitu miniaturnya "Rabb."
Rabb disebut juga Al Khalik (pencipta), Ar Razziq (pemberi rizki), dan Al Malik (pengatur), sesuai dengan sifat-sifatNya. 
dan semua sifat ini ada di diri seorang ibu... ibu 'menciptakan' anak ke dunia (atas kehendak Allah), ibu memberikan rizki kehidupan pada anak-anaknya, dan juga udah 'bawaan' seorang ibu untuk jadi tukang ngatur... in this case mulai dari mengatur lewat didikan pada anak-anaknya, sampai mengatur hal-hal kecil perikehidupan. 

fakta ini lalu dikaitkan dengan perintah dan ketentuan Allah. kalau Allah nyuruh atau melarang kita melakukan sesuatu, jangan tanya "kenapa?" justru kita perlu bertanya "apa hikmahnya buat gue?" 
karena cinta Dia pada kita tuh bener-bener unconditional - hanya bisa dianalogikan dengan cinta ibu pada anaknya.. Apa yang seorang ibu lakukan pasti demi kebaikan anaknya... 

jadi mungkin karena itulah ridho Allah = ridho orangtua, dan juga kenapa surga sampai disebut ada di telapak kaki ibu.  

oh mother... sekarang ini, gue merasa bersyukur banget seandainya performansi gue sebagai seorang ibu bisa seujung kukuuuuu aja dibanding nyokap gue. sebanyak apapun kekurangan beliau selama membesarkan gue sampai sekarang,tetep nggak akan bisa gue tandingi. 
"I have to keep reminding myself that I am their mother. Sometimes we are sitting at home and I feel like we are waiting for our mom to come home.- Ruby Wax"

15/04/2016

rainy day thursday

hari ini bisa berlalu begitu aja... seperti yang sudah-sudah. 
toh udah sekitar 3 bulan sejak gue terakhir ngapdet blog dan ngobrol sama diri sendiri (dan khalayak tidak kasat mata yg bermurah hati buka blog ini). 
tapi hari ini, kok rasanya keterlaluan aja kalau sampai nggak menuliskan betapa banyak dan 'padat' yg sudah dilimpahkan ke 'pangkuan' gue... yak, meskipun hari ini baru berjalan beberapa jam aja. 

gue memulai hari ini tanpa rencana bermakna... seperti biasa. 
yang berbeda cuma, I tried on a different foundation. and a different shade of liquid lipstick. I also noticed that my heart felt a bit 'lighter' after like, a week of feeling gloomy and intense. 
pas lagi jalan dari widya chandra, gue menimbang-nimbang apakah gue sebaiknya sarapan sendirian di kantin sam-sung atau langsung ke indikape aja. I chose the latter and then deeply regretted it. 
seketika gue merasa hari ini bakalan jadi menyebalkan buat gue. mana abis itu gue menemukan kantor nggak diisi siapapun kecuali satu orang aneh yang bikin gue nggak nyaman. entah kenapa juga dia milih duduk tepat di depan gue! we, both he and I, then sat in this silent, empty room. that asshole didn't even bother to turn the tv on. 

akhirnya gue putuskan buat buka-buka modul Toastmaster International aja. kebetulan baru sampe dua hari lalu..
jadi gini, sekarang gue udah resmi jadi member Toastmasters (TM). TM ini bukan semacam sekte, melainkan organisasi yang ada di seluruh dunia, dan kebetulan di Tlkm Gatsu ada club-nya. in short kegiatannya ngajak kita 'belajar' public speaking dengan baik.

anyways, pas gue udah baca-baca bukunya, jadi tau kalo ternyata misi TM bukan cuma mau menjadikan member-nya bisa berkomunikasi dengan efektif, tapi juga gimana biar berkembang leadership skills-nya, makanya ada modul Competent Leader juga. 


gue liat modul ini berisi 10 projects yg perlu "dilengkapi" sebelum kita bisa dianggap sebagai Competent Leader. derajat kesulitan project-project itu berjenjang, contohnya project pertama itu 'cuma' Listening, alias belajar mendengar (yang bukan cuma pake kuping, tapi juga mata dan hati) yang mana ternyata kompetensi dasar leadership.
kalau udah 'lulus' di project ini, selanjutnya ada project Critical Thinking, Time Management, sampai Mentoring.

setelah gue bolak-balik modul leadership ini, ada beberapa hal yang bikin gue termangu.. salah satunya poin-poin self-assessment di project Time Management ini:



guilty as charged, boro-boro gue bisa mendelegasikan tugas dengan baik, lha susunan prioritas aja belum jelas. 

atau poin-poin self-assessment di project Giving Feedback ini:



kenapa? karena rasa-rasanya gue belum bisa ngelakuin "(to) talk with a team member about his performance when I am calm" - anggaplah objek team member itu diganti jadi anak dan suami sendiri karena gue nggak punya anak buah. 
itu baru poin pertama loh, gimana dengan yang lain? coba aja telaah satu demi satu.
  • I offer feedback only on the team member's actions, not on her personality or qualitites. 
  • I offer specific suggestions for improvement. 
jawaban yang bisa gue berikan untuk semua pertanyaan itu "never" semua kayaknya!

tapi tapi tapi, semua fakta yang terbeberkan ini tujuannya bukan semata-mata untuk menelanjangi diri sendiri, sih. 

kehadiran modul ini sekonyong-konyong bikin gue teringat sama kata-kata 
"When the student is ready, the teacher will appear."
Dalam idup nggak ada yg kebetulan, 'kan?
poin-poin itu kok rasanya (bakal) berguna banget buat gue. nggak jauh-jauh mikir untuk jadi leader atau apalah (terlebih di kantor ini), justru gue berpikir hal-hal itu bisa untuk diterapin dalam ngurus anak. 
gue sendiri berpikir kalau leadership itu tergolong skill karena kemampuan itu macem otot, kalo dilatih terus akan jadi "sterek," tapi kalo nggak ya bakal tetep "klemer-klemer."
oh well. semoga deh lewat TM ini gue bisa jadi "leader" yang lebih baik, at least buat diri sendiri. 

benefit alias keuntungan yang bisa didapat dari mentoring dari sudut pandang organisasi. berguna banget, 'kan? sayangnya banyak organisasi atau perusahaan yang silap melakukannya *ehem*
ini poin-poin checklist di project Mentoring. gimana, selama ini udah pernah merasa dimentor kah?
but what this day has to offer me doesn't stop there. 
kelar mbolak-balik modul, gue kembali liatin laptop. buka-buka portal kantor, browsing tempat-tempat buat dikunjungin di singapur, dan sejenisnya. abis itu gue jalan ke toilet... eh ada ibu-ibu kantor yang baru balik umroh. jujur aja, insting awal gue adalah pengen menghindari beliau. 
nggak tau kenapa.
padahal ibu ini tergolong "revolusioner" dan "asik" dibanding orang-orang lain seumurannya di sini. dari obrolan-obrolan sekilas kita di toilet (selalu papasan di sini soalnya haha), terkuak kalo ibu ini pernah jadi atlet lari marathon kantor, aktivis serikat karyawan, dst. 

tapi emang udah digariskan gue kudu papasan dan berbasa-basi sama beliau, kayaknya, karena that's exactly what happened afterwards. 
obrolannya sih standar aja, seputar gimana pas umroh kemaren. tapi ada satu yang agak mencolek nurani gue... dia bilang apa yang 'didapat' masing-masing orang dari kunjungan ke sana tuh beda-beda. tergantung niatnya. ada yang puas dengan bisa check in dan foto-foto, ada juga yang udah mampir untuk ketiga, kelima, kesekian kalinya. dan ada juga yang bisa meraup banyak hikmah seperti beliau.. beliau cerita betapa terharunya dia pas bisa menyentuh Ka'bah. kata-katanya bikin air mata gue menggenang, 
"gimana sih, mbak, orang biasanya saya cuma bisa memandangi Ka'bah lewat sajadah saat sholat, sekarang bisa saya lihat langsung, sentuh bahkan." 
hiks... 
dia juga ngajak gue buat buru-buru ke sana, "mumpung masih muda, masih kuat. pergi deh mbak, sekeluarga. rejekinya pasti ada kalau udah ada niatnya." menusuk banget deh bok rasanya, apalagi didenger tepat sesudah gue browsing tempat halan-halan di singapur xD

entah gimana tau-tau obrolannya lantas beralih ke soal ngajak suami ke jalan yang benar, hahaha. menurut beliau, kadang harus kita yang jadi penggerak. "siapa sih yang nggak berharap dapet suami yang alim bak ustadz pas baru nikah dulu?" tapi hati manusia itu berubah-ubah. meskipun suaminya harus jadi imam, tapi kita tetep nggak boleh nyerah berusaha mengarahkan... 
ada celetukan beliau yang juga membekas banget, "makanya saya nasehatin anak saya supaya rajin belajar, bukannya bermaksud materialistis sih, mbak. tapi biar dia bisa leluasa buat beribadah. kalau ngejar dunia sih nggak akan ada abisnya, mendingan uang dipakai buat ngejar akhirat."

yaampun terhura gue dengernya!
kita pun menyudahi obrolan. "gih mbak, kerja lagi," katanya sambil senyum-senyum manis. gue hanya bisa menjawab dengan, "makasih banyak ya bu, buat oleh-oleh umrohnya. berharga banget loh oleh-oleh kayak begini, hihihi." 
setulus hati ey gue mengucapkannya. hikmah seindah ini jauh lebih bikin seneng dibandingkan oleh-oleh kurma, pacar, atau sajadah <3

abis itu, tiba-tiba rasanya hari ini jadi "cerah." meskipun dalam kondisi sebenarnya sore sampai malam malahan hujan deras banget, tapi it just made the day even better. 
I even saw a rainbow on my way home.