Showing posts with label health. Show all posts
Showing posts with label health. Show all posts

03/05/2019

hipertensi okuli, suatu kondisi diri

Sampai sekarang ini, Sam sudah dititip di daycare kurang lebih selama 1 tahun 2 bulan. 
Alhamdulillah dapet daycare yang sejauh ini amanah dan cukup memuaskan layanannya. Membantu banget deh pokoknya buat gue. Tiap pagi, anak dibawa dalam keadaan masih bau acem, lalu sorenya diambil dalam keadaan udah kenyang dan wangi rapi jali. Ketika ketemu, kami main-main sebentar lalu si anak dinenenin dan terlelap. Sungguh membantu mengurangi satu kekhawatiran dan kelelahan sepulang kerja. 

Meskipun begitu, seperti semua hal di dunia ini, ada sisi lain dari "koin." 
Bagian nggak enaknya, seperti yang bisa ditebak ketika ada banyak anak ngumpul berjam-jam dalam sehari di bawah satu atap, bocah jadi mudah tertular (pun menulari) penyakit anak-anak lain. 
Di momen pergantian musim kayak Desember-Januari lalu, common cold bolak-balik diidap Sam.
Bahkan sempat kena roseola juga. 
Nah, di pertengahan bulan Januari, gue liat matanya kerap berair trus belekan buanyak banget kalau bangun tidur. Bisa ditebak, nggak lama setelah anaknya sembuh, gantian deh emaknya yang kena. Di gue, penyakit itu bukan berwujud berair dan belekan DOANG, tapi juga jadi bintitan. Heuhh. 

from here
Mungkin emak emang udah berumur ya, meski katanya bintitan bakal sembuh sendiri, tapi rasanya senut-senut banget. sampe pusiang kepala dibuatnya. 
Gue pun bikin janji untuk kontrol ke dokter spesialis mata di RSPI. 
Seandainya gue ke dokter umum atau ke rumah sakit lain, mungkin gue hanya tinggal konsul sama dokter, diceki-ceki, lalu diresepin obat. Tapi, di RSPI sebelum masuk ke ruang konsul, pasien disuruh cek tekanan bola mata dulu pake alat yang emang tersedia di situ. Nah, hasil dari pengecekan terhadap kedua mata gue nilainya 22 dan 23. Suster yang ngetes langsung berkomentar heran, kok tinggi banget yaa. Gue diinfoin kalau nilai yang normal itu 21 ke bawah. 
Ketika tatap muka sama dokter, setelah dicek kondisi bintitan gue (di mana si bintit akhirnya dipecahkan paksa. pop!), dokter ngecek lagi untuk kondisi tekanan bola mata tinggi atau bahasa medisnya hipertensi okuli.
Terkait kondisi ini, dokternya ngeresepin gue obat tetes untuk dipakai 2 kali sehari selama 2 minggu. Setelah itu, baru gue disuruh kontrol lagi. Bisa jadi tekanan bola mata gue tinggi karena lagi bintitan, soalnya. 

Balik dari RS, gue pun kepo googling soal hipertensi okuli. 
Dan hasilnya nyeremin! Kondisi ini bisa menjadi indikasi glaukoma yang berdampak kebutaan permanen. Alamak huhu...:((( 
Dari yang gue baca, penyebabnya mostly karena keturunan. Tapi seinget gue di keluarga nggak ada yang mengidap ini. Gue sempat cerita ke tan Iti, yang ngasih tau kalau ada kerabatnya yang punya kondisi seperti gue, dan alhamdulillah berhasil di-delay progress penyakitnya berkat tau sejak awal dan rutin pengobatan. Gue jadi bersyukur juga dengarnya. Alhamdulillah tau indikasi ini sejak dini... 

Kemudian 2 minggu pun berlalu... 
Apakah gue balik lagi kontrol ke RSPI?
Tentu saja tidak.
-___________-
Antara takut, males ribet, dan... takut. Itu aja sik.
Tindakan yang sangat tidak rasional, ai knoww. 
Tapi beneran deh saat itu gue sangat sangat enggan dan tak sanggup menerima berita tidak mengenakkan. 
.
.

Waktupun berlalu. fast forward ke 1 bulan kemudian. 
Apa yang terjadi? Gue bintitan LAGI. 
Kali ini kedua mata pula yang kena.. hoalahh. 
Akhirnya gue pun kembali ke poli mata RSPI. 

Dokter yang ngecek tentunya menyayangkan kenapa gue nggak balik kontrol tepat waktu sesuai yang diinstruksikan di awal. Concern utama bukan si bintit tapi kondisi hipertensi okuli tersebut. Beliau kembali ngasih gue obat mata untuk dicoba tetesin selama 2 minggu. Kali itu, tekanan bola mata gue berkisar di 21 dan 22. Yang mana masih tergolong di atas normal juga. 

2 minggu kemudian, gue kembali kontrol. Nilai tekanan 19 dan 20. 
Dokter merujuk gue untuk melakukan 3 macam tes buat mendeteksi kemungkinan glaukoma.  
Tapi gue nggak paham ataupun hapal nama tesnya kecuali tes Humphrey (lapang pandang). Hasil dari browsing, ada beberapa macem tes buat ngecek glaukoma, dan sepertinya gue udah menjalani beberapa kalau tidak semua.

  • Tonometry. Tes ini menggunakan alat khusus yang disebut tonometer. Dalam prosesnya, tonometer akan ditempelkan pada mata untuk memeriksa tekanan yang ada. Sebelum itu, pasien akan terlebih dahulu diberikan anestesi tetes.
  • Tes lapang pandang. Tes ini bertujuan untuk memeriksa keseluruhan ruang pandang mata pasien. Dokter akan meminta pasien untuk mengamati berbagai titik yang ditampilkan pada alat khusus yang disebut perimeter. Jika kondisi mata tidak normal, akan terdapat titik-titk yang tak terlihat oleh pasien.
  • Ophthalmoscopy. Dalam prosesnya, dokter akan memeriksa kondisi mata pasien menggunakan mikroskop atau alat pemindai khusus mata. Sebelum itu, pasien akan diberikan obat tetes yang berfungsi agar pupil dapat tetap melebar selama prosedur berlangsung.
  • Pachymetry. Tes ini bertujuan untuk memeriksa ketebalan kornea. Ketebalan kornea menunjukan tinggi rendahnya tekanan yang ada pada mata. Pachymetry termasuk tes tanpa rasa sakit yang berlangsung paling cepat.
  • Gonioscopy. Gonioscopy adalah tes yang bertujuan untuk mencari tahu cairan yang tertimbun di mata. Dalam prosesnya, dokter menggunakan alat bantu berupa lensa dan cermin khusus yang disebut genioskop.


Alhamdulillah setelah tes-tes itu dilalui, hasilnya menunjukkan normal. 
Gue kemudian dirujuk ke dokter mata yang spesialis glaukoma, dan beliau nyuruh gue tetap balik kontrol 6 bulanan lagi. To make sure and as a precaution step. 

Hhh... 
Jadi bisa dibilang bulan Januari sampai Maret kemarin diisi dengan kunjungan-kunjungan ke dokter mata. 
I never thought I would have an issue on this department. Sampai sekarang alhamdulillah gue belum perlu pakai kacamata. Makanya jadi agak takabur, mungkin. Then again, kalau nggak ada warning mungkin gue akan tetap slonong boy menggunakan mata. Dalam gelap melototin henpon, misalnya, yang merupakan suatu kelaziman bagi gue sebelumnya. 

Karena pengalaman ini, gue juga menyarankan ada bagusnya sekali-kali ngecek tekanan bola mata meski masih muda dan nggak ada keluhan. Kantor gue ngasih fasilitas medical check up tahunan yang cukup lengkap, tapi nggak meliputi tes tekanan bola mata. Jadi mungkin netijen yang membaca (jika ada) bisa minta dicek khusus.  

16/10/2017

house-bound

udah senin lagi. seminggu berlalu udah kayak sekedipan mata. 
diliat lagi sekarang, "tema" minggu lalu itu terangkum dalam 3 kata: sakit, sepi, dan... so-so. 

sakit karena emang gue terserang flu berat yang bikin badan meriang, sakit menelan dan pusing. hari-hari diisi dengan minum obat dan tidur semata. sepi karena... ya gimana nggak kesepian? sepanjang hari nggak ke mana-mana, nungguin bumy dan adit aja di kosan. ngobrol sama temen cuma lewat virtual chat. i was sooo drained emotionally. 
so-so yah... karena, what's left to complain about?

urusan rumah masih on progress. meskipun rada gemes juga ketika ditengok progressnya nggak sebanyak yang diharapkan. weekend pun masih diisi dengan berepot-repot nyari printilan. minggu ini kita mampir ke mitra 10 dan ace hardware lagi buat nyari keran, shower, washtafel, water heater, sampe ceiling fan. trus besoknya ke diana eva furniture di serpong buat nyari kasur. 
not that i didn't enjoy it at all, tapi ya mumet juga kalo setiap wiken ngurusin begituan terus. bumy apalagi. dia sampe komplain nggak mau liat-liat perabotan dan kasur melulu haha. akhirnya minggu pagi kita main ke ragunan. kebetulan kosan sekarang deket banget sama salah satu pintu masuk ragunan, cukup jalan kaki beberapa ratus meter. 
it's the kind of break we need. rehat sejenak. 
gue juga semacam bisa mendapat dosis "jalan pagi menghirup udara segar dan mandi matahari" yang hopefully berdampak baik buat bayi di perut. 




btw bulan ini kehamilan udah resmi memasuki trimester ke-tiga. 
perut gue udah semakin gedeeee dan mancuuuung. berjalan udah semakin susah, not to mention ditambahi kondisi SPD. saat tidur malem pun semakin gelisah... mungkin karena kombinasi bayi di perut yang hobi nendang-nendang heboh, selangkangan sakit, berakibat mau balik badan aja drama banget pake melenguh-lenguh. 
tapiii alhamdulillah banget kemarin dapet kabar baik. bulan lalu, ketika kontrol sama dr. Ridwan, gue disuruh tes darah buat ngecek infeksi TORCH (toxoplasmosis, other infections, rubella, cytomegalovirus). hasilnya menunjukkan gue berada di grey zone atau zona abu-abu, yang arti gampangnya gue nggak berada di zona aman atau bebas dari infeksi TORCH. 
menurut doi, gue perlu mengulang cek darah 2 minggu kemudian untuk tau apakah angkanya bertambah atau nggak. kalau iya, maka harus terapi minum obat. tapi setelah dicek lagi kemarin, alhamdulillah angkanya turun dari awalnya 0.52 jadi 0.44. waktu hamil bumy dulu sih gue sama sekali nggak dirujuk untuk cek darah sama obgyn-obgyn yang gue temui. jadi ini pengalaman yang sama sekali baru. 

oyak, tadi kan gue nyebut soal nyari kasur ya. 
sebenernya ini nggak urjen2 banget sih... tapi karena kita nambah kamar maka otomatis mikir perlu ada ranjang dan kasur tambahan. nah, kasur yang sekarang kita pakai ini meskipun umurnya udah mau 10 tahun tapi masih bagusss dan enak dipakai. nggak ada keluhan sama sekali, deh. merknya airland tapi tipenya gue lupa, kalau nggak salah tipe 505 but i might check again kalau nanti mampir ke rumah. bukan jenis paling mahal tapi nggak yang paling bawah banget. dulu milih merk airland karena rekomendasi nyokap aja. secara kita newbie banget di urusan rumah tangga, ya percaya aja sama doi. alhamdulillah terbukti ok banget rekomendasi beliau. 

sekarang ketika mau nyari kasur lagi, otomatis gue ngecek thread kasur di female daily. per nulis ini, thread tsb panjangnya udah 224 halaman aja bok... tapi syukurlah gue bisa menemukan beberapa advice yang berguna banget seputar cara nyari kasur yang oke - bukan cuma rekomendasi merk kasur. kesimpulannya sih nyari kasur itu kayak milih skincare yang cocok: kalau satu tipe cocok buat satu orang, belum berarti bakal cocok juga sama orang lain. 

kita harus kenali dulu kebutuhan kita seperti apa. kebetulan gue nemu quiz untuk tau kasur seperti apa yang kita butuhi di sini.  
kalau dari hasil tes itu sih, kasur yang gue butuhin itu yang
- ngasih support yang cukup, nggak terlalu keras tapi juga nggak kelembekan.
- motion isolation alias kasurnya nggak ikutan goyang-goyang ketika gue atau partner di sebelah tossing and turning.
- karena gue bawaannya gerah aja kalau tidur malam (apalagi pas hamil gini), jadi butuh yang bahannya nggak panas.
- buat comfort, cari kasur dengan memory foam yang lembut dan per berukuran kecil supaya empuk ditidurin. 
- lastly sih jelas, yang harganya masuk di kantong heuu. 

gue udah mempersempit pilihan merk kasur jadi beberapa macem aja, sih, salah satunya simmons. hasil baca-baca review dan sebagainya kayaknya merk ini oke. tapi gue tetep penasaran mau nyoba berinteraksi langsung sama si kasur. ketika sampe di diana eva, kita bisa liat dan sentuh langsung matras simmons yang tipenya terkenal banget, yaitu dr. hard dan satu lagi yang gue incer juga, tipe prestige. ternyata pas disentuh langsung, eh ternyata firm banget yak... gue kira medium firm-lah gitu. 
sesudahnya oleh SPG di diana eva kita diarahin ke merk Sealy. katanya sih merk ini belum lama masuk Indonesia jadi namanya belum se-hits merk-merk lain. tapi to be honest buat gue sih nama ini udah familiar, saking intensnya nyari tau seputar kasur hehe. salah satunya gue baca review kasur terbaik di situs ini. di situ sealy masuk, dijelasin juga kalau merk kasur ini usianya udah lebih dari 100 tahun, dan banyak dipake di hotel-hotel. akhirnya kita cobainlah itu kasur yang tipe posturepedic, ada yang jenisnya medium firm, ada juga yang soft. menurut adit sih oke (karena dia yang guling-guling di atasnya), tapi dia prefer yang soft karena ada memory foam-nya, jadi yaudah kita ambil tipe ini. semoga aja beneran bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan tadi yaaak. 
oyah yang bikin lega karena di diana eva kemarin bayarnya bisa cicilan 0% sampe 12 bulan hahaha. lumayan bangetlah, jadi nggak berasa-berasa banget bayarnya. 

03/03/2016

cabut gigi perdana

tanpa disadari, si anak usianya udah 6 tahun aja.. alhamdulillah yah bundaa. seiring dengan makin besarnya dia, gue mulai ngeh, biasanya kan anak-anak umur segini udah mulai ompong, tapi bumy kok belum? naluri #kompetitif gue pun tersulut; kenapa beginii... padahal temen-temen yang seumuran di sekolahnya rata-rata udah ompong satu-dua gigi. 
waktu gue tanya ke anaknya apakah udah ada gigi yang goyang apa belum, jawabannya: belum ada, tuh. 

hari demi hari berlalu sampai saat lagi ngegosokin gigi bumy, gue menemukan sebuah kejanggalan. di gigi seri bawahnya, muncul satu gigi di belakang gigi susu! walaah.. gue pernah sih mendengar 'kasus' gigi tetap tumbuh duluan gini, tapi nggak nyangka bisa kejadian di anak sendiri. 
kebetulan beberapa hari sesudahnya kita ketemu sama mertua adek gue yang seorang dokter gigi. sempat dicek oleh beliau, dan katanya itu wajar, cuma sebaiknya segera nemuin dokter buat konsul dan cabut gigi susunya. 

akhirnya gue telpon rumah sakit langganan, KMC, untuk mendaftar konsul sama dokter gigi anak. sebelumnya, bumy pernah cek-cek dan tambal gigi 2 kali di sana, selalu sama drg. Henny O Danan. tapi saat diinfoin jadwal prakteknya sama mbak di reservasi, kok waktunya nggak ada yang cocok.. akhirnya kita ditawarkan untuk konsul sama drg. Nila Alya, yang langsung gue iyakan karena waktunya pas. 

hari konsul pun tiba jua, dikasih jadwal jam 4:30 dan kita sampai jam 4:30 lebih dikit. udah ada pasien yang sedang ditangani, tapi kita nggak perlu menunggu lama. 
saat ketemu dokter alya, kesan pertama gue, "dokternya baiikkkk bangeettt iih..." seraya terkagum-kagum ngeliat cara doi ngajak bumy ngobrol. dan bukan ngobrol asal semata, tapi bener-bener engage si anak dalam sebuah percakapan. she was trying to get to know bumy. bumy emang nggak ada rasa takut gimana-gimana sih ketemu dokter gigi, tapi berkat aura sang dokter nan baik hati bak peri, dia jadi makin nyaman kayaknya. 

sejurus kemudian, sebuah lonceng di kepala gue berbunyi... kloneng.. wait, apakah ini dokter nila alya yang ITU? dulu, waktu gue masih 'rajin' bolak-balik ke Smile Center di Tebet, gue pernah mendaftarkan bumy konsul sama drg. nila alya yang heits banget direkomendasikan sama bunda-bunda. waktu gue daftarin bumy, dibilang harus masuk waiting list dulu karena jadwal beliau udah penuh selama 1,5 bulan ke depan... iya, segitu ramenya pasien beliau.  
tapi yaampoon, nggak disangka akhirnya bisa bertemu juga bumy (dan gue) sama beliau! 

back to konsulnya, ternyata setelah dicek, dokter alya menyimpulkan kalau di mulut bumy sedang terjadi 2 kondisi radang. hooh, 2 aja gitu, dan semuanya di bagian geraham belakang. gusinya bumy meradang karena ada gigi-gigi geraham yang mau nongol. nah, di saat seperti ini sebaiknya nggak dilakukan pencabutan gigi slash membuat luka tambahan dulu, karena bisa berisiko infeksi (maap kalo penjelasannya salah, nggak nyatet sih cuma berbekal ingatan). akhirnya kita cuma dikasih resep obat dan disaranin untuk observasi sekitar 2 minggu, tapi sembari usaha biar gigi susu yang 'dibalap' itu bisa copot sendiri. dokter alya nyaranin bumy makan yang keras-keras seperti ngegigit apel, gitu. 

2 minggu berlalu, gigi susu tadi nggak kunjung tanggal, maka kembalilah gue menemui beliau. alhamdulillah, sekali nelpon langsung dapet jatah konsul, tanpa harus masuk waiting list. saat diobservasi untuk kedua kalinya ini, dokter alya jelasin kalau radang di mulut bumy udah nggak ada, dan pencabutan gigi pun bisa ditunaikan. 
lagi-lagi, bumy dengan lempeng duduk di kursi tindakan. dokter alya nawarin bumy milih tontonan tv yang terletak tepat di hadapan kursi tadi. sambil teruus ngajak bumy ngobrol; bumy suka apa, mau jadi apa, sekolah di mana, dan seterusnya. dokter alya juga selalu nginfoin mau melakukan apa ke bumy, "permisi ya, mas bumy, dokter mau pakai alat yang begini begini (dijelasin fungsinya dan bunyinya bakal kayak apa)," atau "habis ini dokter mau olesin gel ini, gunanya supaya gini gitu." 
sayapun terpesona....

proses cabut giginya bumy sebentar banget, dan alhamdulillah berjalan mulus dan lancar. dokter alya memuji bumy karena udah bisa kooperatif, dan nawarin bumy milih stiker untuk dibawa pulang sebagai hadiah. 
yang lucu, gigi susu bumy yang habis dicabut itu bisa kita bawa pulang juga, hehehe.. 


  
pulang-pulang bawa "suvenir" gigi

gagal ompong!
kini, hampir 2 bulan berlalu, dan gue baruu aja menemukan kalau terjadi kasus yang sama di gigi seri bawah tepat di sebelah gigi yang kemarin 'dibalap.' yak, udah muncul gigi tetap sebelum gigi susunya copot. LAGI. 
berarti udah waktunya silaturahmi lagi deh ini sama dokter alya. sayangnya kali ini gue nggak seberuntung sebelumnya. waktu mau bikin janji di KMC, mbak reservasi bilang kalau untuk minggu depan jadwal dokter alya udah penuh huhuhu. kali ini masuk waiting list, deh, kitaa.. 

07/08/2015

mendadak healthfreak

Dua minggu lalu, gue menerima kejutan.
Sayangnya bukan kejutan yang menyenangkan.

Jadi, sekitar 1,5 bulan lalu kita 'iseng' kontrol ke dokter speasialis penyakit dalam. Awalnya karena mau ngecek kadar kolesterol Adit, sehubungan sejak 2 tahun lalu dia didiagnosa punya kadar kolesterol (jahat) yang cukup tinggi. Sebenernya Adit dapet jatah MCU dari kantornya setahun sekali, tapi entah kenapa kemarin tuh kita pengen aja buat kontrol bareng. Gue sendiri nggak punya keluhan sama sekali, nggak kaya Adit yang suka ngeluh lehernya pegel-pegel atau pusing.
Tapi berhubung lagi iseng, jadi ya kenapa nggak?

Kita sengaja nemuin dokter SpPD yang udah kita 'kenal.' Beliau ini dulu menangani gue pas menjalani pengobatan TB selama hampir 1 tahun. Setelah konsul, 2 minggu lalu akhirnya kita cek darah. Begitu duduk berhadapan sama si dokter untuk dibacain hasil tes lab, barulah kejutan itu gue terima. Fufu.
Adit kolesterolnya hampir 200. Melonjak dari hasil tes lab sebelumnya. Glek.
Sementara gue, yang tadinya nggak bermasalah dengan kolesterol sama sekali, sekarang hasilnya lebih dari 150. SHIOK!
Ya kagetlah, soalnya gue nggak punya keluhan samsek, apalagi gue juga nggak overweight (rada buncit sih iya). Jujur gue merasa agak "sombong" menghadapi cek darah, karena ngerasa hasilnya bakal oke-oke aja. Terbukti kemudian itu ilusi semata xD.

Dokternya langsung bilang, wah kalo serumah bisa sama begini (kadar kolesterol jahatnya tinggi - red), kemungkinan besar karena makanan.
Yep, menurut dia, makanan yang terlalu berlemak bisa menjadi faktor penyebab. Selain kurang berolahraga, kebanyakan karbo, faktor keturunan, dsb. Lebih lanjut, menurut dia sih kadar kolesterol jahat yang tinggi itu sama sekali nggak ada gejalanya. Jadi, pegel-pegel atau pusing itu nggak bisa dibilang gejala kolesterol tinggi, bisa semata-mata karena kurang stretching. Wajar aja kalo gue nggak curiga hasil gue bakal begitu karena nggak punya keluhan fisik apa-apa.

So (setelah terkaget-kaget menerima hasil tes dan diagnosa), what's next?
Nggak heran, kita disuruh
1) Kurangi asupan karbo dan makanan berlemak. Dijelasinlah kalau karbo yang nggak 'kepake' di badan itu akan jadi lemak dan efeknya ya bikin kadar lemak di darah tinggi. Trus makanan yang berlemak jenuh juga wajib dikurangi. Udah kebayang 'kan yah, babay gorengan, mayo, dan segala makanan "kotor" lainnya.
2) Rajin olahraga. pastinyaaalahay. Nggak perlu jadi atlet-wannabe segala, sik, cukup 3-4 kali seminggu, masing-masing 30 menit, atau 1 jam lebih bagus. Intinya bergerak aktif.
3) Minum Lipitor!! x))))))) (baca: ketawa miris).
Emang siih, kadar kolesterol di bawah 200 katanya masih "normal." Apalagi melihat gaya hidup sekarang, banyak bangeeet orang masih muda-muda yang kolesterolnya di atas 100 (btw, kadar kolesterol jahat yang sehat itu baiknya di bawah 100).
Dia jelasin, gaya hidup kita sekarang ini 'kan membuat sangat MUDAH untuk membeli dibandingkan bikin sendiri. Tempat jajan bertaburan di mana-mana, males keluar tinggal angkat telpon buat delivery service, udah gitu ada faktor kesibukan juga yang bikin kita prefer jajan. Sementara itu, makanan jaman sekarang kebanyakan kalorinya tinggi, berminyak atau manisz.
Diperburuk sama kondisi kurang bergerak. Jadi, deh, tuh kolesterol melejit tinggi tanpa disadari.
Ya, bener, tanpa disadari. Karena kaya yang dia bilang tadi, kolesterol tinggi itu nggak ada gejalanya. Maka, semacam lazim ditemui orang yang pas kontrol tau-tau udah ratusan kadar kolesterol jahatnya di darah.
Kata pak dokter, Lipitor ini fungsinya membantu kerja enzim yang bertugas mengolah lemak di darah, dan mengontrol lemak-lemak itu supaya nggak menyumbat pembuluh darah (naudzubillah, serem dengernya). Kalau kita mau berusaha jaga makan dan olahraga, kita bisa stop konsumsi lipitor sama sekali nantinya (AMEEEEN!).

Perasaan gue sendiri agak-agak jungkir-balik abis mendengar diagnosa pak dokter. Antara merasa
- Bodoh, karena udah dikelabui kondisi badan yang terasa baik-baik aja,
- Marah sama diri sendiri, karena udah memilih gaya hidup yang nggak sehat, dan juga
- Terguncang, karena harus minum obat yang sama kayak bokap-nyokap yang usianya udah 50 tahun lebih!

Tapi sesudahnya gue mencoba berpikir objektif dan berkaca... Kayak kata pak dokter, ini semua kebanyakan bermuara di lifestyle.
Pelan-pelan gue SADARI kalau
- Pagi-pagi gue udah makan berat: nasi uduk, lontong sayur, bubur ayam, you name it. nggak sering sih, tapi sukalah.
- Suka males makan sayur dan buah.
- Doyan ngemil nggak sehat, contohnya: nyaplok kue lebaran saat "laper" malem-malem, ngabisin 1 batang coklat dalam sekali lep kalo lagi PMS, rutin ngopi dengan susu non-skim dan gula.
- Nggak teratur olahraga. Apalagi sejak bulan puasa, gue bener-bener nggak pernah olahraga lagi.
- "Lupa" sama clean eating. hahaha. Kalo lagi inget ya dilakuin, tapi tetep suka tergoda sama delivery service atau jajan di luar. Udah gitu, pilihan makan di luarnya juga nggak pernah "clean."



Yaudah, ikhlas, I do deserve this. *duduk di pojokan*
Jadi, ya gini deh PR kita sekarang: revamping our lifestyle. Goals gue nggak neko-neko, sih... "cuma" sbb:
1. No more emotional eating or mindless snacking
2. Bye bye pills! Au revoir potions!
3. Stay committed.

Buat goal nomor satu, gue usahain dengan nyetok camilan 'bersih' dan bikin makanan sendiri di rumah. Susah? Ya pastinya! Buat gue, cooking is hard. Keeping myself healthy is harder. Discipline is a pain in the a*s!
Apalagi kalo gue udah kembali ke rutinitas nganter-jemput Bhumy kayak sekarang. Harus ngulik waktu supaya sempat masak. Harus kreatif juga nyusun menu makanan. Tapi sejak dapet 'tamparan keras' ini, otomatis hasrat masak-bersih gue kembali membara, sih. Mungkin emang iya locus of control gue eksternal, jadi kudu dapet wake-up call dulu macam ini.

Baby steps, deh. Pelan-pelan.
Sekarang gue nyoba pake aplikasi Two Grand (being a gen Y that I am, tentunya yang diandalin ya gadget dulu haha). App ini ngebantu tracking makanan yang dikonsumsi dalam sehari dan tracking pencapaian tujuan kita - entah itu berat badan, konsumsi cairan, atau goals lain berupa kebiasaan baik. Food journal ini berguna buat gue jadi nggak perlu repot nyusun menu lagi, tinggal ngulang per dua minggu, gitu. Lagian bisa mengakomodir hobi gue curhat juga, sih, karena bisa naro kesan dan pesan kita seputar sepak terjang dalam sehari udah ngapain aja haha.

Sementara buat olahraga, gue belum sign up ke kelas atau gym tertentu. Masih nyoba rutin yoga di rumah pake yutub.
Pas weekend, kita lagi nyoba rutin jogging - udah 2 kali nyoba di Lippo Karawaci di minggu pagi. lumayan nyaman di situ. Trus baruuu aja semalem nyoba lari di Senayan malem-malem ngajak Bhumy juga. Adit sih semacem rutin 1-2 kali seminggu lari malem di situ sama temen-temen kantornya, tapi gue baru pertama kali. Kali ada yang mau lari bareng nemenin gue, gitu?

Satu catatan penting buat diri sendiri dari 'kejutan' ini, yaitu gaya hidup sehat seharusnya nggak cuma jadi sebuah fase. Tapi perlu berkesinambungan supaya bisa jadi kebiasaan. Bagaimanapun, pasang-surut pasti akan ada; yang jadi penentu keberhasilan gue rasa cuma komitmen diri (goal nomor tiga).
Agak mirip sama pernikahan, kalo dipikir-pikir. Tapi yang ini 'pernikahan' sama tubuh sendiri. Apa iya perlu bikin marriage vow juga?
"Hereby, I take 'me' or my physical being, as a lifelong companion, and I promise to take care of 'me' and to love 'me' from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, through highs and lows, in sickness and health, to infinity and beyond."
Hehehe.

So, wish me luck, people. Semoga 'pernikahan' (kedua?) gue ini bisa langgeng dan samawa xD

18/02/2015

imunisasi (lagi) di Markas Sehat


akhirnyaa imunisasi Bumy dilanjutin lagih. jadi 'kan emang udah saatnya ngulang beberapa imunisasi/vaksinasi di usia 5 tahun. tapi, mohon dimaklumi ibu pemalas namun banyak agenda ini adaaa aja alasannya untuk menunda jadwal imunisasi anaknya. imunisasi batch pertama DTP + polio udah diambil desember lalu. selanjutnya ada typhoid, MMR, dan direkomendasiin untuk ambil PCV juga sama DSA langganan. entah dapet wangsit dari mana, Adit tau-tau beride, "Bumy imunisasinya di Markas Sehat aja." padahal udah lamaaaa banget kita nggak ke situ. 

sekitar hari selasa, gue tanya jadwal praktek dokter, dikasih tau kalo dr. Wati ada praktek hari minggu. hmm, terakhir gue sowan sama beliau itu pas Bumy  mau masuk PG dan perlu rekomendasi keterangan sehat dari DSA. udah kebayang sii bakal seperti apa kunjungannya kelak, hehehe. berasa banyak dosa, pemalas dan oon banget kalo abis ketemu beliau xD banyak dosa sama anak, lebih tepatnya!
lalu akhirnya hari yang dinanti-nanti (well, not really!) tiba jua. minggu pagi itu kita sempet ke ragunan, olahraga kecil-kecilan sambil menghirup udara segar. tapi tau-tau udah jam 9 aja, dan kok ya nanggung mau balik ke ciganjur dulu sementara jadwal visit dokternya jam 10:40. karena nggak ada persiapan, tentunya buku rumahsakit Bumy nggak dibawa. sempat dilema apa mau go show aja (dengan penampilan bak joggers ala-ala, lengkap dengan bau keringat dan wajah berminyak.. eww). tapi akhirnya kita mutusin balik dulu ke rumah, and it turned out to be a wise decision. 

begitu ada di dalam ruangan konsultasi, hal pertama yang 'dikritik' eyang dokter adalah "Kok imunisasinya nggak sekalian aja kemaren?" ek. strike one. 

percuma deh, gue mencoba mengelak dengan 'belain' dokter yang kemarin ngevaksin hahaha. akibatnya, kenyang diceramahin dan dikasih tau berulang-ulang "ibu gabung milis sehat deh, biar bisa belajar bareng-bareng!" (padahal akyu udah gabung milis sehat dari 2009, tapi sengaja nggak ngaku! soalnya udah lama nggak buka folder milis tsb dan buka situs milissehat.org kalo lagi perlu contekan doang xD) 
tappiii, meskipun jlab-jleb tertusuk dan tertunduk malu, ada beberapa wejangan dari beliau yang meskipun hit me (eh "us" ding!) in the gut, tapi berhargaaaaa banget.
gue mau share di blog ini dengan disclaimer pemaparan ini hasil interpretasi gue sendiri yaa, jadi kalo ada yang kurang tepat pasti itu dari gue jadi silakan dikoreksi.

1. vaksinasi itu sebaiknya simultan dan tepat waktu. simultan maksudnya beberapa vaksin bersamaan. misalnya di usia 4 bulan, berarti anak dikasih vaksin yang bertanda angka 2 kayak gambar jadwal imunisasi di bawah secara simultan (polio, DTP, Hib, PCV, rotavirus). simultan dan tepat waktu ini selain supaya vaksinasinya efektif, juga untuk meminimalisir kunjungan anak ke klinik atau RS. di tempat-tempat itu 'kan anak bisa terekspos sama penyakit yang bermacam-macam. udah gitu, perlu tepat waktu juga untuk mengurangi risiko anak terkena penyakit yang belum divaksinkan. selama anak belum dapat vaksin tertentu, berarti ada masa di mana tubuhnya belum terlindungi dari suatu penyakit. 

Gambar dari sini
terkait meminimalisir kunjungan, gue jadi inget adek gue yang TIAP BULAN bawa anaknya ke RS untuk vaksinasi. gue juga heran sih, kok tiap bulan sangat?? perasaan Bumy dulu DSA-nya meski gak RUM-RUM amat tapi mau ngegabungin beberapa vaksinasi. tapi kalo dipikir-pikir RS langganan adek gue itu emang RS baru, sih... swasta pula. :|

anway, the #jleb part is when dr. Wati said "kalo kaya gini yang rugi siapa? ya anak!" er, um... *senyum-senyum lugu*
nah, berkat bawa buku rumahsakit, jadi bisa keliatan history vaksinasi Bumy dan hasil  konsul sama DSA lain. dr. Wati jadi ngasih insight tentang vaksinasi mana aja yang sebenernya perlu, mana yang nggak efektif lagi buat anak seusia Bumy, dsb. 

2. dokter terbaik buat anak adalah... orangtuanya sendiri. this is another quotable sentence from her. "jangan alesan 'yah baru anak pertama, dok, belum ngerti.' makanya, gabung di milis sehat supaya gak ngulangin kesalahan yang sama." dia ingetin kalo diskusi di milis itu lebih dinamis dan juga lebih current, karena namanya ilmu 'kan selalu berkembang. making mistakes jangan jadi excuse #strike #jleb. padahal gue udah pernah ikut workshop PESAT lohhh x))) emang sih, jadi jauuh lebih berdaya (empowered) ketika udah dapet ilmu lewat workshop ini. cuma emang, akibat nggak ng-update ilmu, ya suka kebawa panik lagi begitu anak sakit. 

3. selama masa kanak-kanak, anak perlu medical check up sebanyak 3 kali. pas masih bayi (usia 1 tahun kalo nggak salah? eh lupa guee, CMIIW, pls!), usia 5 tahun, dan usia pre-teen. kita patut mewaspadai gaya hidup modern yang meskipun way more practical, tapi mengakibatkan manusia kurang beraktivitas outdoor dan lebih banyak exposure ke gadget. akibatnya ya macem-macem; masih anak-anak tapi matanya udah plus sebelah lah, atau kolesterolnya tinggi, dsb. perlu juga dicek fungsi organ-organ tubuh anak. beliau bilang, "nanti ngasih tau hasilnya nggak usah pake visit lagi! kirim aja ke email." God, salut banget deh, sama dokter satu ini. bener-bener 'pendobrak' pakem, terutama dalam urusan hubungan antara dokter-pasien. way too inspiring :)

No telpon Markas Sehat: 021-7128-4653 | 0812-8355-2332

Markas Sehat kini lebih berwarna

anak gueh... -__-

07/10/2014

keep moving forward

kalau gue tengok sekilas, selama bulan september, gue banyak disodorin hal-hal baru, deh. bukan cuma pemahaman dan cara berpikir yang dibukakan terhadap kemungkinan-kemungkinan baru kaya soal sekolah, tapi ngalamin beberapa hal baru juga. jadinya "seimbang," sih, karena ada yang bikin excited, tapi ada juga yang bikin sutris.

- ikutan workshop clean eating
menemukan info soal workshop kecil-kecilan ini lewat retweet-an seseorang yang gue follow di twitter. sebenernya gue nggak health-freak banget, sih, olahraga aja udah makin jarang. ngejus juga udah nggak pernah lagi hoahoa. tapi gue pengen juga, sih, ngubah gaya hidup terutama terkait dengan apa yang dimasukin ke perut. acara ini diadain sama Dynna, yang ternyata inspiring juga kiprahnya terkait clean eating: memulai healthy eating habit, trus kepikiran untuk "ngeracunin" orang-orang dengan metode clean eating, sampai weight loss story-nya, semua bisa diintip lewat akun instagramnya @dynzzzz. 





mengenai workshopnya sendiri, hampir aja gue batal ikutan. jumat siang, bumy panas tinggi, sampe 39 bok. ini sebelum ketauan DBD, yah, jadi gue pikir dia mau flu atau gara-gara ISK. sabtu pagi sempat agak galau untuk ninggalin anak lagi panas tinggi, tapi gue pikir bisalah ke-handle sama oma opanya (padahal ternyata selama gue tinggal itu, panasnya mencapai 40,5!! T___T).

yang gue syukuri, meski pake ninggalin anak yang lagi sakit (huhu), workshop ini bermanfaat banget. selain dijelasin soal konsep dan tips 'n trick seputar clean eating, juga ada cooking demo menu-menu sederhana dan mudah. berkat acara ini juga gue jadi tau orang-orang yang emang serius ngejalanin clean eating, dan info sayur-mayur organik yang murah.

berikut beberapa slideshows from the workshop:




rehab kulkas! buang yang kemasan-kemasan jadi, gantiin dengan tupperware2 cantik hehehe


PR besar gue: bikin meal plan *keringet dingin*

trus sekarang progress gue sendiri gimana? well, masih pelan-pelan berusaha nyusun menu yang applicable, sih. tapi satu perubahan yang drastis adalah gue nggak lagi menggunakan jasa katering rumahan, hehehe. sebelumnya ini kerasa berat banget bahkan impossible, loh... nggak kebayang gue mau refot-refot lagi belanja - potong-potong- masak - cuci perkakas setelah tau enak dan praktisnya jasa katering. tapiii... gara-gara 'didoktrin' untuk "reclaim our kitchen!", semangat gue untuk kembali ngedapur berkobar sendiri :))) lumayan deh, sekarang gue bisa bela-belain masak malem hari demi bisa makan buatan sendiri besoknya. tapi ya gitu, kadang kacau juga gara-gara suka kelayapan nggak jelas. biasalah, ujung-ujungnya ketemu lagi sama sahabat lama satu itu: problema konsistensi. xD
oiya, satu lagi yang juga perubahan drastis: nggak makan sambal botolan lagihh. berrraaaaat buanget buat gue yang lebih doyan sambel botol dibanding sambel asli, huhu. tapi alhamdulillah, sejak workshop itu sampai sekarang masih mulus perjalanan gue detox sambel botol. wismilak yah supaya yang satu ini bisa konsisten!

- as i mentioned earlier, bumy kena demam berdarah dengue. huhuhu.
ini pengalaman pertama di keluarga (kecil) gue, dan tentunya, it suckeeeddddd. awalnya sama sekali nggak kepikiran bumy kena DBD. bukan cuma gue, tapi juga dokternya! berhubung bumy abis medikasi buat ISK, dokternya curiga ini ISK berulang makanya badan doi panas lagi. tapi pas hari ketiga masih juga panas tinggi, gue bawalah bumy ke RS dengan tergopoh-gopoh sambil berjibaku dengan ganasnya jalanan senin pagi. ya Allah nyeseeel banget nggak buru-buru tes NS1 jadi bisa cepet ketauan.

gue juga kok ya polos banget, bisa nggak kepikiran bumy kena DBD. padahal sebelumya udah ada 2 anak kena DBD di sekolahnya bumy. belum lagi gue pernah menemui sendiri si nyamuk dengue ini pas lagi nungguin bumy pulang sekolah. hiks, nyeseeeell dan sedih banget rasanya.

seminggu kita bertiga nginap di RS. dua kali dalam sehari gue mulessss tiap dengar langkah suster berderap ke kamar untuk ngasih tau jumlah trombosit bumy hari itu. pas awal baru masuk juga udah kebat-kebit nggak karuan, karena bumy nggak juga berhasil dipasangin infus setelah 4 jam! tangannya udah ditusuukkk berkali-kali tapi nggak dapet juga. langsung deh gue nelpon nyokap untuk curhat keputusasaan. akhirnya dipanggilin suster dari perina untuk masangin infusnya di kaki, dan mungkin berkat doa nyokap gue juga, akhirnya berhasil juga infus dipasang. fiuhh.
alhamdulillah kondisi bumy selama di RS stabil dan bagus meski trombositnya naik-turun. makan masih lancar meski gampang mual (kata dokternya itu disebabkan hatinya agak membesar jadi menekan lambung). kalau soal bintik-bintik merah, gue perhatiin nggak muncul sama sekali sih di badannya.

- ke bandung, kali ini nggak nginep di concordia.
iya, kita mini-vacation ke bandung lagi, makanya sempat ke kineruku. kali ini nggak mampir ke 'rumah singgah' yang biasa (concordia, hihi), tapi menjajal hotel mercure di setiabudi yang masih pre-opening (ini bukan ya istilahnya?). yang jelas, rate hotel yang diberikan masih 50% dari rate normalnya kelak. kita suka banget hotel ini selain karena baru, kolam renangnya yang guedeee juga full air anget! hotelnya sendiri family-friendly; ada playroom di depan kolam renang, trus ukuran single bed di kamar yang twin-bed gedee jadi kita gak berdesakan tidur sama bumy. oiya, karena hari pertama dateng itu sabtu, kita kebagian nyicipin fasilitas BBQ night yang diadain setiap malam minggu. all you can eat buffet buat 2 orang 133 ribu ajah!! kita bisa makan malam by the pool ataupun di dalam resto. menunya oke-oke banget, standar bintang lima. berhubung gue bukan big fan of meats, jadi juaranya buat gue ya dessertnya. tapi dagingnya juga ada wagyu, gue yang nggak demen daging karena males ngunyahnya ini jadi bisa menikmati juga.

ke mana ajakah kita? itinerarynya kurleb begini: miss bee providore (wajib hukumnya nyobain yg lagi heits hahah) - kineruku - check in hotel - tjendana bistro - hotel lagi buat renang dan dinner. besoknya ke de ranch (setelah bingung mau pilih ini atau dusun bambu. tapi ternyata cukuplah sekali aja mampir ke de ranch) - treehouse & lavie (nyetok kado lahiran, berhubung perlunya buanyaakk. selain ke lavie, gue sempat mampir ke yen's juga) - dinner ke maja house. yang belakangan ini baru pertama kali dicoba, hehe telat yee... ternyata oke juga. menawarkan suasana nongkrong sambil makan yang beda, makanannya juga enak-enak. meskipun makin malem makin dingin dan jadi banyak yang ngerokok, tapi overall bikin pengen nyobain lagi. siang-siang pasti bakal beda suasananya.


de ranch
 




the infamous miss bee








tjendana bistro


tjendana bistro - inside


rumah pohon di treehouse. obviously.



tempat yang belum juga dicoba tuh warung laos dan lawangwangi art space. kayanya enak buat duduk manis menikmati view bebukitan dago dan nyeruput-nyeruput cantik deh. tapi tempat-tempat yang kita datengin kemaren semuanya family-friendly. tjendana ada indoor playground meski kecil, dan juga outdoor space yang luas jadi anak bisa lari-lari. treehouse yang di belakang RS Borromeus pasti udah pada familiarlah ya, ada rumah pohon, flying fox mini, dan playhouse. miss bee yang lagi heits selain tempatnya cantik, makanannya juga cantik- cantik banget tampilannya.

- ikutan workshop essential oil
apalagi, nih? hehehe... nggak sengaja gue baca thread event di forum FD, eh ada tentang essential oil ini. menarik banget, ternyata. gue masih utang tulisan soal laporan event ini, sih xD intinya EO ini bermacam-macam rupa dan khasiat. karena indera penciuman itu nyambung langsung ke otak (dijelasin anatominya gimana), jadi bisa mempengaruhi kondisi tubuh juga. event kemarin topiknya khusus tentang EO dan hormon perempuan. jadi dapet pencerahan deh gimana mengahadapi problema-problema hormonal dengan bantuan EO. acara kemarin ini gratis dan diadain sama pihak Young Living, gue tertarik sih pengen nyoba ngoleksi beberapa. tapi dicicil dulu deh, soalnya harganya lumayan mahal. btw, narsumnya kemarin itu oma Frances Fuller yang udah 71 tahun tapi nggak keliatan berumur segitu, bok.


 


 


- bumy les renang
udah hampir dua bulan ini si mas dilesin renang di anak air kebagusan. selama ini dia suka berenang tapi nggak berani nyelupin kepala -__- gue tertarik ngelesin doi di AA selain gak jauh dari rumah, juga karena programnya bagus dan pengajarnya sarjana-sarjana olahraga gitu. sebulan pertama sih, porsi 'belajar' dan main-mainnya masih 50-50. gue pribadi nggak ada masalah dengan metode banyak main-main begini, biar dibawa fun sama bumy. sekarang sih bumy udah berani nyelupin kepala dan tahan napas dalam air. gerakannya juga lebih konsisten dan udah lebih kuat juga. awal-awal les, 30 menit lesson udah bilang "capeek," sekarang abis les malah minta main-main air setengah jam lagi.

ya begitulah.... alhamdulillah masih bisa merasakan semua yang baru-baru; baik pait maupun manis, heheheh. whatever happens, i think we should just see it as moving forward, gitu kali ya?

06/03/2014

flow and adapt

sejak bulan lalu, gue mulai mengikuti kelas yoga. i mentioned it earlier, that i love the ambience and also the teacher's style.
gue ikutin kelas yoga di hari biasa, karena kalau hari libur, susah banget bangun paginya. sekalian buat ngisi waktu 'kosong' pas bumy gak sekolah. jadi ya otomatis bumy gue bawa.
karena bawa bumy, sebelum berangkat yoga, pagi-pagi pasti gue udah riweuh deh nyiapin ini-itu. baju ganti, botol minum, susu, sampe mainan. berhubung si bocah usianya baru 4 tahun, rentang perhatian doi tentunya pendek. pas pertama kali gue ajak, dikit-dikit dia 'berulah.' ya duduk di mat guelah, merengek-rengek, dsb.
dari situ, gue belajar untuk bikin kesepakatan sama doi. doi boleh atau dapet xyz ASAL mau nungguin mama yoga dengan tenang. hehehe. alhamdulillah it works. gue salut juga sih sama kemampuan si bocah memenuhi kesepakatan ini. dan tiap minggu, each of us sort of makes improvements. gue tambahin pesan kalo dia harus main dengan tenang, not making any noise. gue juga dapet ide nambahin cemilan buat bekal dia. dia juga mulai memahami kalo kelas yoga udah mulai, area melantai gak boleh dimasuki lagi. he also learns how to keep himself busy. kadang dia nemu teman main, kadang ya asik aja main sendiri.

anyways, sebenernya yang bikin gue mau nyeritain soal kelas yoga adalah materi hari ini yang menarik banget buat gue. Chandra, sang guru, bilang kalo fokus latihan hari ini adalah menyeimbangkan energi chakra ke-tiga, chakra manipura.
sebelumnya gue ceritain dulu, kalo ada 7 chakra utama di dalam tubuh manusia. btw, gue tau dan menyadur ini dari buku "Panduan Lengkap Yoga"  oleh Pujiastuti Sindhu yang gue beli sebelum mulai ikut kelas, hehe. bukannya overprepared sih, cuma kebetulan nemu bukunya di books 'n beyond dan pas lagi dapet diskon ultah adit :p
back to topic, chakra itu maksudnya pusat energi di dalam tubuh kita. chakra ke-tiga yang jadi fokus latihan ini letaknya di hati, tepatnya kelenjar pankreas dan adrenal. unsurnya api.
nah, Chandra tadi ngejelasin sebelum kita mulai latihan, kalau chakra ini mewakili kualitas wiilpower, atau kemauan keras. it deals with sense of belonging, mental understanding of emotions, self-esteem, personal power, stamina, success, ego (from myyogaonline.com).

nah, attitude yang keluar dari ketidakseimbangan chakra ini bisa berupa perfeksionis, gampang marah, bahkan gila hormat. lebih lengkapnya dari myyogaaonline.com, masalah fisik dan emosional yang bisa muncul akibat ketidakseimbangan chakra ini di antaranya lack of self-esteem, depression, judgmental, anger, rage, hostility, perfectionism, issues with self-image and fear of rejection.... gue tercengang pas dengar itu. loh... kok, mirip-mirip sama yang sering gue 'derita' yah :(((
gue cenderung perfeksionis. meskipun gue curigai ini bawaan orok alias akibat pola asuh. tapi, apapun penyebabnya gue rasa gak gitu penting, yang justru di-highlight adalah gimana caranya menyikapi kekurangan ini (ternyata bener ya ini kekurangan. 'kan kalo lagi interview, pas ditanya apa kekurangan kamu, seringnya dijawab "saya perfeksionis").

lebih jauhnya lagi, karena chakra ini menguasai bagian liver, kidney, adrenals, dan lainnya di seputar ulu hati, disfungsi fisik yang bisa terjadi tuh diabetes, stomach ulcerns, intestinal tumors, colon disease.... glek, gue jadi inget kalo maag gue suka kambuh kalo lagi "banyak pikiran."

begitulah, gara-gara pembukaan dari sang guru, gue jadi menjalani dan memaknai latihan hari ini dengan lebih atentif.
latihan diawali dengan metode pernapasan kapalabhati, atau bernapas menghembus kuat dengan tarikan otot diafragma (perut). setelah gue baca, cara bernapas ini  bermanfaat untuk meredakan stres dan membersihkan pikiran dari energi negatif. disarankan dilakukan oleh penderita diabetes, penyakit jantung, juga tekanan darah tinggi. baru pertama kali gue mencoba pernapasan model begini.

Chandra juga ngejelasin, gerakan yoga yang kita lakuin untuk fokus ke chakra ke-tiga tadi dapat mengobarkan unsur api di dalam diri kita. that's why, dia kasih gerakan memuntir ke kiri-kanan dan Navasana supaya bisa menjaga kobaran api supaya tetep seimbang.
Affi pernah tulis di sini soal makna gerakan yoga favoritnya. it's Virabhadrasana or warrior pose. gue sangat terpukau oleh deskripsinya akan makna gerakan tersebut.
ketika gue mencoba cari tau makna gerakan Navasana or boat pose, gue mendapatkan ini:

"Nava means ship or vessel and asana means seat or pose. The pose represents a boat where the arms are the oars. The capacity for movement and fluidity is where water gets it power.  The essence of our inner journey is seen through the water element.

Boat pose has a beneficial effect on the skeleton, which is governed by the water element.  This pose can help to turn a weak spine into one of support and strength.  It is also said the Navasana tones the kidneys.  This pose will give them greater ability to regulate the fluids in the body. The pathway of the bladder runs up the back of the legs through the buttocks and along the spine.  The bladder official is responsible for the storage of fluids and helps us to flow and adapt to change, like a boat on the waves." (dari sini)

hmm... to flow and adapt to change. i think i need that the most these days.

and i think this is why i like doing yoga. ada maksud dan dasar filosofi dari setiap gerakannya. gue juga suka sama guru gue karena dia ngejelasin semua ini. gak cuma ngajak jungkir-balik yang penting keringetan dan berpose cihuy. chandra juga selalu ngingetin kita to listen to our body, and respect our body. jangan ngejar bisa mencapai pose tertentu dan menghukum badan kita ketika gak bisa mencapainya. tujuan utama kita seharusnya adalah mengenal diri dengan lebih baik, dan berusaha agar diri kita, badan kita, dan orang-orang tersayang kita bisa mendapat manfaat dari latihan yang kita lakukan. esensinya seperti gambar kutipan yang ditaro Chandra di newsletter ini:

i totally love it!

well, meskipun mengikuti latihan dengan lebih atentif, kok rasanya pas ngejalanin tadi, badan gue gempor buanget yahhh. biasanya sih gempor juga, tapi yang ini jauuhh lebih melelahkan. entah apa karena area abdomen dan ulu hati gue emang lagi bermasalah... yang jelas, gue sampe beberapa kali jatohin diri ke child pose saking gak bisa ngikutin gerakan xD

well, i'm zillion miles away from being a yogini at heart atau bahkan beli outfit lulu lemon, sih. but i'm definitely hooked on the classes.

08/05/2013

school interview (ke-sekian)


gak terasa udah mei aja. insya Allah bumy mau disekolahin per tahun ajaran baru, yaitu bulan juli. trus kawinan adek gue juga tinggal 2 minggu lagi. 
cerita satu-satu deh.

hari minggu lalu, kita datang ke tetum karena diundang untuk ketemu sama kepala sekolah, bu endah. setelah 'berjuang' bangun lagi abis subuh, jam 8 lewat kita jalan juga ke tetum. sampe di sana, bu endah lagi interview sama sepasang orang tua sebelum kita. nggak lama, tiba deh giliran kita. 
yang diobrolin pertama-tama sih 'standar,' yaitu seputar tingkah laku bumy, baik dari segi sikap, kebiasaan, rutinitas, perkembangan emosi, dan whether dia udah toilet-trained. tiba-tiba, bu endah bilang, "sekarang saya mau ngobrol sama papanya bumy, ya." adit yang tadinya asik pegang bumy (baca: gak nyangka bakal ditanya khusus), langsung duduk tegak. pertanyaan-pertanyaannya ternyata begini,
- papa anak ke-berapa dari berapa bersaudara.
- deket sama ayahnya gak? 
- waktu untuk bumy biasanya kapan, dan kalo lagi bersama bumy biasanya ngapain. 
- apa cita-cita papa untuk bumy? (doi gelagapan jawabnya. caught offguard! jawaban adit, "maunya bumy jadi bahagia aja." gue ketawa, bu endah juga. "coba dijelasin pa, kalo 'bahagia' aja kayaknya terlalu abstrak." rasaiiiin.)
- apa visi papa untuk diri sendiri ke depannya?

tanpa sadar gue jadi keringetan liat adit ditanya gitu. gara-gara gemez kali ya doi jawabannya 'ngasal' banget! huahaha. 
buat gue, pertanyaannya mirip-mirip. as expected, muncul pertanyaan seputar perubahan status juga. bu endah bilang, "mama kan boleh dibilang perjalanan hidupnya dinamis ya, dari bekerja menjadi di rumah. gimana tuh menghadapinya? apa harapannya dengan berada di rumah?"
bok! antara seneng dan tegang ditanya begini. noone has ever asked me this bluntly before. 
gue juga ditanya apa harapannya untuk bumy ke depan. ya gue jawab maunya bumy dapat basic pendidikan yang baik dan sesuai untuk level perkembangannya.
sementara untuk visi diri sendiri ke depannya, gue menjawab (hampir sekenanya), "maunya sih seperti sekarang bu, ngurus anak dan berkarya, seperti menulis." :')
gue juga ceritain cita-cita #khayalanbabu yang selama ini belum pernah dikatakan out loud kepada orang selain adit, yaitu ingin bumy mencicipi pendidikan di luar negeri. bu endah merespon loh, dia nanya tanpa terkesan ngenyek atau gengges. 
"apa yang mama papa lakukan untuk mencapai itu? negara mana yang ada di bayangan papa mama?"

sambil menginterview, beliau juga ngejelasin metode pendidikan di tetum. kayak nantinya anak level playgroup mulai dari datang akan diajak buka sepatu sendiri, makan dan minum sendiri. trus juga nyuci piring sendiri(!). piringnya beling lowhh. tapi yang materialnya gak pecah berkeping-keping. juga diajarin untuk take care of himself,  take care of his surroundings/environment (baca: diajak nyapu, masak, dan bercocok tanam. jadi gue yang excited dengernya!), karena tetum mengadaptasi metode montessori yang ingin membentuk tabiat mandiri di diri anak. 
trus tetum juga full bahasa indonesia. karena niatnya ingin agar anak menguasai bahasa ibu sebagai pijakan kemahiran berbahasa. kata bu endah, yang enggak bagus itu yang setengah-setengah, kayak bilang "please ambilkan sepatu yang warnanya red." haha. nanti di luar negri 'kan kondisinya full berbahasa asing, tenang aja, gak usah anak dicekokin bahasa asing dari usia dini. anak-anak tuh mudah menyerap kok. duh, amin :')

truus, di tetum, anak level playgroup dan tk bebas dari calistung. intinya sih sekolah ini ingin memberikan stimulasi kepada anak sesuai dengan kapasitasnya. untuk level playgroup, yang diperkuat adalah dasar kemampuan anak untuk menulis. nanti akan distimulasi lewat kegiatan kayak meronce, memotong-motong, tracing, dsb. 

satu lagi pesan dari bu endah, yang paling penting dalam urusan partnership antara ortu dan sekolah, adalah sejalan. apa yang diterapkan di sekolah ya dilakuin juga di rumah. 

begitu selesai ketemu bu endah, gue dan adit jadi anteng di perjalanan. masing-masing sibuk mikir. berkontemplasi. kaget juga kayaknya karena 'ditodong' dengan pertanyaan yang 'dalem' padahal awalnya cengar-cengir dengan mood easy like a sunday morning. hahaha. 
bistu kita ngobrol,
"menurut kamu gimana?"
"kok aku jadi sreg ya."
"iya, aku juga. serius banget jalanin misi pendidikannya. concerned banget."
dengan menjalani tahapan interview kemarin tuh bukan berarti 'urusan' kita udah beres trus tinggal bayar. abis ini masih ada sesi pembahasan hasil assessment bumy, yang akan ngajak kita ngobrol nanti psikolog. insya Allah jumat ini agendanya. 

tapiiii... kita juga tetap menjalani tahapan pendaftaran di opsi B, alias kepomp*ng. 
setelah mundur maju mundur dari jadwal pengembalian formulir awal yang mana hampir sebulan lalu, akhirnya kita memutuskan terusin admission di sini. 
selang 3 hari dari tetum, kita ke kepomp lagi. 
sebelumnya, gue melengkapi form checklist kesehatan bumy. sengaja bela-belain daftar untuk konsultasi sama dr. Wati. maksudnya biar tau aja gituu seperti apa observasi dokter anak kenamaan. 
pas udah dijalanin, ternyata 'seru' juga sesi konsultasinya hehehe. yang terjadi antara somewhat expected dan nggak; gue sempat diceramahi panjang-lebar terkait keputusan-keputusan seputar kesehatan anak yang telah gue buat :P 
well, I wasn't there to debate, jadi gue iya-iya aja sambil senyum simpul. ngomong juga apa adanya tenan. 
"kenapa dulu c-sect bu?"
"minta sendiri, dok. soalnya takut lahiran normal. hehehe."
"ibuuu... blablabla" lantas doi jelasinlah panjang-lebar ke gue soal keunggulan lahiran normal.
gue, ya senyum simpul ajeee. 

"kenapa kemarin diopname?"
"soalnya udah demam 4 hari gak turun-turun dok. tes darah deh. trus disaranin rawat inap sama DSA-nya karena trombosit turun dan tetangga abis kena DBD. ujung-ujungnya sih emang radang tenggorokan doang."
*doi kasihtau soal diagnosis DBD dan DD, cara baca hasil uji lab untuk darah. yang mana udah gue ketahui juga, sih*
"saya heran deh sama ibu-ibu jaman sekarang, kalo anak udah demam 3 hari langsung panik. nanya dulu aja ke milis. selama anaknya gak menunjukkan tanda-tanda kegawatdaruratan ya gak apa-apa."
jujur aja, gue mah udah gak napsu nanya ke milis setelah nunggu 3 hari dan anaknya belom juga membaik. mending gue langsung cuus ke KMC. nanya langsung sama spesialis anak toh. 

terlepas dari itu semua, alhamdulillah bumy baik-baik aja perkembangannya.
trus, mau ke dokter itu lagi gak? ya kenapa enggak? dokter pinter, penganut RUM, dan keliatan concerned banget sama well-being anak-anak. 

oya balik lagi ke admission di kepomp. kita ke sana untuk balikin form pendaftaran, trus interview sama kepsek. it lasted for about 30 minutes. bumy sibuk mainin mainan yang sengaja ditaro di atas meja kecil dalam ruangan sang kepsek. 
bu kepsek kemudian nanyain hal-hal seputar bumy. panggil mama papa apa. udah toilet-trained belum. apa yang khas dari bumy. pernah sakit apa. di rumah ada siapa aja. 
selesai bertanya-tanya, sejurus kemudian... beliau menyodorkan nominal uang pangkal dan kegiatan untuk setahun. gue agak terkejut ya, karena mikir "eh kok begini doang?" mungkiin gara -gara sebelumnya gue mengalami sesi interview yang intense di tetum?
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di interview ini jadi terasa seadanya aja, gitu... 

kenapa sih tempo hari kita maju mundur buat milih kepomp?
+ maju karena reputasinya oke, berbahasa indo full, kita pengen sekolahin bumy di sd kupu-kupu, daaan... gue bisa nungguin bumy sembari beraktivitas di kawasan kemang situ. ditulis paling akhir padahal bobotnya gede tuh :P gue mikirnya pengen olahraga, ikut zumba kek, yoga kek, 'kan di daerah situ banyak pilihan dibandingkan di udik sini (.__.) 
- mundur karena tadinya belom yakin bisa berangkat bareng adit. gue males juga nyetir sendiri pagi-pagi ke arah situ.
+ maju lagi karena setelah dipikir-pikir, insya Allah bisa berangkat bareng adit.

tapi sekarang kayaknya mundur lagi nih. setelah terpampang nyata proses interview yang udah dijalanin kemaren. jadi makin yakin yaudahlah bumy di tetum aja, deket rumah dan ngejalanin misi edukasinya juga gak main-main. meski reputasi mah kalah sama kepomp. terbukti waktu nanny di daycare nanya bumy mau sekolah di mana, gue bilang masih belum decide antara tetum dan kempomp, doi komentar, "ooh kepomp bagus tuh bu!"

and then there's this minor, sebenernya-gak-penting-tapi-agak-bikin-muter-mata factor. kemarin pas gue lagi nunggu di halaman kepomp sambil gendong-gendong bumy, ada dua ibu-ibu muda yang lagi nungguin anaknya sambil ngobrol. trus... mereka tiba-tiba diem dan liatin gue dari atas sampe bawah dengan pandangan yang... yagitudeh. gue langsung yang, "what? it's high school all over again? ah just admit I'm way slimmer than you." and then I strolled like a peacock. 
#SONGONG :))))
(note: what's with my face sih? huhu bitchface kayak Nisha post di sini ngkaliyak). 

kesimpulannya, kita pilih sticking to yang bersahaja dan terletak di belantara udik. meski mama less happy gak bisa nungguin anak sambil zumba atau swing yoga (lagaaak, kayak bisa ajah!), seenggaknya bisa irit bensin, deh. x))