Sampai sekarang ini, Sam sudah dititip di daycare kurang lebih selama 1 tahun 2 bulan.
Alhamdulillah dapet daycare yang sejauh ini amanah dan cukup memuaskan layanannya. Membantu banget deh pokoknya buat gue. Tiap pagi, anak dibawa dalam keadaan masih bau acem, lalu sorenya diambil dalam keadaan udah kenyang dan wangi rapi jali. Ketika ketemu, kami main-main sebentar lalu si anak dinenenin dan terlelap. Sungguh membantu mengurangi satu kekhawatiran dan kelelahan sepulang kerja.
Meskipun begitu, seperti semua hal di dunia ini, ada sisi lain dari "koin."
Bagian nggak enaknya, seperti yang bisa ditebak ketika ada banyak anak ngumpul berjam-jam dalam sehari di bawah satu atap, bocah jadi mudah tertular (pun menulari) penyakit anak-anak lain.
Di momen pergantian musim kayak Desember-Januari lalu, common cold bolak-balik diidap Sam.
Bahkan sempat kena roseola juga.
Nah, di pertengahan bulan Januari, gue liat matanya kerap berair trus belekan buanyak banget kalau bangun tidur. Bisa ditebak, nggak lama setelah anaknya sembuh, gantian deh emaknya yang kena. Di gue, penyakit itu bukan berwujud berair dan belekan DOANG, tapi juga jadi bintitan. Heuhh.
![]() |
| from here |
Mungkin emak emang udah berumur ya, meski katanya bintitan bakal sembuh sendiri, tapi rasanya senut-senut banget. sampe pusiang kepala dibuatnya.
Gue pun bikin janji untuk kontrol ke dokter spesialis mata di RSPI.
Seandainya gue ke dokter umum atau ke rumah sakit lain, mungkin gue hanya tinggal konsul sama dokter, diceki-ceki, lalu diresepin obat. Tapi, di RSPI sebelum masuk ke ruang konsul, pasien disuruh cek tekanan bola mata dulu pake alat yang emang tersedia di situ. Nah, hasil dari pengecekan terhadap kedua mata gue nilainya 22 dan 23. Suster yang ngetes langsung berkomentar heran, kok tinggi banget yaa. Gue diinfoin kalau nilai yang normal itu 21 ke bawah.
Ketika tatap muka sama dokter, setelah dicek kondisi bintitan gue (di mana si bintit akhirnya dipecahkan paksa. pop!), dokter ngecek lagi untuk kondisi tekanan bola mata tinggi atau bahasa medisnya hipertensi okuli.
Terkait kondisi ini, dokternya ngeresepin gue obat tetes untuk dipakai 2 kali sehari selama 2 minggu. Setelah itu, baru gue disuruh kontrol lagi. Bisa jadi tekanan bola mata gue tinggi karena lagi bintitan, soalnya.
Balik dari RS, gue pun kepo googling soal hipertensi okuli.
Dan hasilnya nyeremin! Kondisi ini bisa menjadi indikasi glaukoma yang berdampak kebutaan permanen. Alamak huhu...:(((
Dari yang gue baca, penyebabnya mostly karena keturunan. Tapi seinget gue di keluarga nggak ada yang mengidap ini. Gue sempat cerita ke tan Iti, yang ngasih tau kalau ada kerabatnya yang punya kondisi seperti gue, dan alhamdulillah berhasil di-delay progress penyakitnya berkat tau sejak awal dan rutin pengobatan. Gue jadi bersyukur juga dengarnya. Alhamdulillah tau indikasi ini sejak dini...
Kemudian 2 minggu pun berlalu...
Apakah gue balik lagi kontrol ke RSPI?
Tentu saja tidak.
-___________-
Antara takut, males ribet, dan... takut. Itu aja sik.
Tindakan yang sangat tidak rasional, ai knoww.
Tapi beneran deh saat itu gue sangat sangat enggan dan tak sanggup menerima berita tidak mengenakkan.
.
.
Waktupun berlalu. fast forward ke 1 bulan kemudian.
Apa yang terjadi? Gue bintitan LAGI.
Kali ini kedua mata pula yang kena.. hoalahh.
Akhirnya gue pun kembali ke poli mata RSPI.
Dokter yang ngecek tentunya menyayangkan kenapa gue nggak balik kontrol tepat waktu sesuai yang diinstruksikan di awal. Concern utama bukan si bintit tapi kondisi hipertensi okuli tersebut. Beliau kembali ngasih gue obat mata untuk dicoba tetesin selama 2 minggu. Kali itu, tekanan bola mata gue berkisar di 21 dan 22. Yang mana masih tergolong di atas normal juga.
2 minggu kemudian, gue kembali kontrol. Nilai tekanan 19 dan 20.
Dokter merujuk gue untuk melakukan 3 macam tes buat mendeteksi kemungkinan glaukoma.
Tapi gue nggak paham ataupun hapal nama tesnya kecuali tes Humphrey (lapang pandang). Hasil dari browsing, ada beberapa macem tes buat ngecek glaukoma, dan sepertinya gue udah menjalani beberapa kalau tidak semua.
- Tonometry. Tes ini menggunakan alat khusus yang disebut tonometer. Dalam prosesnya, tonometer akan ditempelkan pada mata untuk memeriksa tekanan yang ada. Sebelum itu, pasien akan terlebih dahulu diberikan anestesi tetes.
- Tes lapang pandang. Tes ini bertujuan untuk memeriksa keseluruhan ruang pandang mata pasien. Dokter akan meminta pasien untuk mengamati berbagai titik yang ditampilkan pada alat khusus yang disebut perimeter. Jika kondisi mata tidak normal, akan terdapat titik-titk yang tak terlihat oleh pasien.
- Ophthalmoscopy. Dalam prosesnya, dokter akan memeriksa kondisi mata pasien menggunakan mikroskop atau alat pemindai khusus mata. Sebelum itu, pasien akan diberikan obat tetes yang berfungsi agar pupil dapat tetap melebar selama prosedur berlangsung.
- Pachymetry. Tes ini bertujuan untuk memeriksa ketebalan kornea. Ketebalan kornea menunjukan tinggi rendahnya tekanan yang ada pada mata. Pachymetry termasuk tes tanpa rasa sakit yang berlangsung paling cepat.
- Gonioscopy. Gonioscopy adalah tes yang bertujuan untuk mencari tahu cairan yang tertimbun di mata. Dalam prosesnya, dokter menggunakan alat bantu berupa lensa dan cermin khusus yang disebut genioskop.
Alhamdulillah setelah tes-tes itu dilalui, hasilnya menunjukkan normal.
Gue kemudian dirujuk ke dokter mata yang spesialis glaukoma, dan beliau nyuruh gue tetap balik kontrol 6 bulanan lagi. To make sure and as a precaution step.
Hhh...
Jadi bisa dibilang bulan Januari sampai Maret kemarin diisi dengan kunjungan-kunjungan ke dokter mata.
I never thought I would have an issue on this department. Sampai sekarang alhamdulillah gue belum perlu pakai kacamata. Makanya jadi agak takabur, mungkin. Then again, kalau nggak ada warning mungkin gue akan tetap slonong boy menggunakan mata. Dalam gelap melototin henpon, misalnya, yang merupakan suatu kelaziman bagi gue sebelumnya.
Karena pengalaman ini, gue juga menyarankan ada bagusnya sekali-kali ngecek tekanan bola mata meski masih muda dan nggak ada keluhan. Kantor gue ngasih fasilitas medical check up tahunan yang cukup lengkap, tapi nggak meliputi tes tekanan bola mata. Jadi mungkin netijen yang membaca (jika ada) bisa minta dicek khusus.




























