09/09/2019

embracing me

I didn't start this week with a plan. 
Padahal ingat, tapi tetap aja sulit diwujudkan. Waktu untuk tersita oleh hal-hal lain. 
Nomor satu dengan porsi sitaan terbesar adalah Sam yang bolak-balik demam. Udah 2 minggu ini dia kayak gitu, 2 hari demam, 3 hari adem. Repeat.
Gue masih bertahan nggak bawa ke dokter karena terbayang akan dicibir dokter spesialis anak yang akan mengangkat satu alis ketika bertanya "Demamnya udah berapa hari?" lalu gue jawab baru 2 hari. 
Belum lagi selama 2 minggu itu tidurnya nggak pernah bener. Bolak-balik, gelisah, rewel, dan harus selalu disumpel nenen. Gue seolah cuma merem tanpa tidur.

Tapi akhirnya gue harus menyerah mampir ke dokter juga.. Di suatu pagi, tepatnya saat gue baru mau mulai rapat mentoring sama seorang C-level Bukalapak, gue terima telpon dari daycare. Terdengar suara tante di ujung sana, bicara dengan terburu-buru. 

"Haloh, mah.. ini Sam-nya udah 2 kali muntah. Mamah kapan ya bisa jemput ke daycare?" 

HHHHH.
Mentoring pun gue jalani dengan hati kebat-kebit. Sibuk ngejapri Marcho "Jangan lama-lama, yak!" 
Setelah kelar, gue segera melesat ke daycare dan ngangkut bayi ke dokter. 
Ketika di dokter, of course akhirnya gue dicibir juga heuuhh. Ngerti sih, maksudnya dokter tuh pengen orangtua bisa rasional menghadapi problema kesehatan anak. Nggak usah dikit-dikit minta cek darah, cek urine, atau semata ngantri lama buat konsul, yang malah berpotensi ngasih mudharat lebih banyak dibanding manfaat ke anak. Tapi gimana yak, kok gue nggak pinter-pinter urusan ginian?!

Alhamdulillah sekarang dia somewhat udah normal suhu badannya. Ini anak kayanya cuma perlu dibawa ke dokter dan liat emaknya dicibir sama sese-dokter anak, trus otomatis sembuh.
Nggak apa-apa, deh, nak. Mamak rela daripada sutris liatin dirimu rewel dan nampak tersiksa.  
Meski begitu, tidur malemnya sih belum kembali normal. Hari ini gue masih walking around like a zombie. No coffee could compensate this massive loss of sleep. 

Hal lain dari minggu lalu adalah gue dapat kesempatan untuk psikolog in-house daycare-nya Sam, bu Belinda dari Rainbow Castle. 
Rangkuman dari sesi konsultasi selama kurang lebih 20 menit kemarin antara lain:
- Si bayi usia 21 bulan emang lagi belajar otonom alias mandiri. 
Jadi jangan heyran kalau serba sok tau, ngotot, bahkan kadang tantrum. 

- Untuk menjembatani naluri otonomi, peraturan, dan juga tantrumnya bocah, Bu Bel ngajarin metode step-by-step kayak gini
1. Sebelum ngajak atau nyuruh anak ngapa-ngapain, kasih informasi dulu ke anak. Semacam mukadimah lah. Misalnya ini waktunya bobok.
2. Bridging dulu sebelum aktivitas. Kalau mau bobok, bentuk bridgingnya bisa berupa baca buku dulu, cerita-cerita dulu. 
3. Validasi perasaan anak: ketika anak bereaksi negatif saat mau diajak tidur, seperti tantrum atau mewek-mewek, kita validasi dulu perasaannya alih-alih langsung di-disctract. Validasi ini berupa pernyataan, BUKAN pertanyaan. "Kamu kayaknya kesel ya. Kalau kesel gak boleh gigit/lempar barang." Di sini sekaligus kita kasih tau tindakan yang kita harapkan tuh gimana, atau dengan kata lain ya mengenalkan anak pada peraturan.  
4. Fasilitasi keinginan anak: let's say si bocah mau main dulu sekali lagi sebelum bobok. Yaudah boleh, sekali saja abis itu bobok, yaa.
5. Ketika anak sudah mau bobok, diajak tenang. Yuk udah yuk, ini saatnya kita bobok. 
Intinya ya diulang-ulang terus tuh informasi ke anak. 
Sabar ye, mak!

- Time out itu nggak boleh buat anak di bawah 5 thn, karena anak justru butuh didampingi "expert" untuk mengenali perasaan dan melatih skill mengelola emosi. Expert yang dimaksud di sini ya orangtuanya. (Ya Allah PR banget buat ku yang boro-boro expert mengelola esmozi). Gantikan time out dengan time in, itu saran Bu Bel. Penjelasannya bisa dibaca di sini, nih. 

Gue juga sempat nanya soal playtherapy/theraplay yang banyak digembar-gemborin akhir-akhir ini. Di mana klinik yang recommended, tabiat seperti apa yang layak atau seharusnya jadi sasaran terapi ini, dsb. Lumayan deh, jadi dapat insight dari beliau. Sungguh 20 menitan yang penuh faedah. Thanks, daycare! 

Another "win" for last week is I finished another book. Yay, me!! 
Syulit loh, inii (iye iyee). Secara mata gue melulu tergoda screen. 
Buku yang dikelarin adalah There's No Grown Up by Pamela Druckerman yang nulis Bringing Up Bebe. Sukak! Insightful dan penuh nasehat tentang gimana melalui usia 40. 
Dipikir-pikir, gue baru merasa 'sreg' di usia sekarang ini. 30 tahunan di tengah-tengah.
Gimana ya kalau dijelasin... it's like how I'm supposed to be, all this time. It feels like the right age. 
Di usia 27-29 tahunan dulu gue bahkan udah langganan majalah MORE yang ditujukan buat perempuan usia 30-40an - seperti pernah gue celotehkan di blogpost ini

Isu-isu yang dibahas di majalah itu sesuai sama concern gue. 
Tentang pencarian "identitas," tentang revamping self. Bukan tentang how to get it all; no, because I don't need "all." I need my world in a manageable size. Sesuai kemampuan, dan jati diri gue. 
Dan sekarang, ya, I still haven't got it all figured out. Boro-boro, deh hahaha. 
Tapi, gue juga nggak menginginkan SEMUAnya. Nggak ada keharusan untuk memiliki apa yang orang lain punya dan rasakan. I am pursuing my own kind of experience. I am treading this journey with my own set of wishlist. 
Gue bahagia, gue udah diberkati dengan hal-hal yang gue sadari memang BAIK buat gue. 
Keluarga. Two beautiful children. A stable job with a luxury of entrepreneurship experience. 
A house of my own. Nggak besar, nggak semewah yang dijadiin konten Instagram, but my own, built with our own sweat and tears. 
A small circle of friends. Small banget, malah hahaha. And that's a convenience, for me. 
Punya circle persahabatan di kantor bersama tante-tante my age. 
Punya circle buat brainstorming bernuansa liberal, haha. 
Punya circle buat ngegaje. 
Nikmat mana lagi yang aku dustakan? Masya Allah. 

So, for this week's start of week check in, I'd go with this. 

My first priority this week is: dari segi fisik, makan bener DAN berolahraga. dari segi mental, bisa LIVE IN THE HERE AND NOW. I know it's an over the top concept, sebagai manusia kita dibangun untuk berpikiran maju, mencoba menerka masa depan. tapi, gue mulai merasakan betapa banyak momen yang dilalui "begitu saja." Momen-momen bersama anak-anak selagi mereka cilik begitu mudah terlalui, begitu gampang menguap rasa sukacitanya. Terlebih sekarang bocah yang besar mulai lebih banyak nyebelinnya. I often get too focused on how he's supposed to act, alih-alih melihat dia sebagaimana dirinya; dengan segala potensi dan kelebihannya. 

I want to do less bickering on the kids. Enough said lah ya. 
I want to do more.. finishing a book. Ngobrol sama Bumy. Makan bener. 
This week I want to feel confident and energetic. 
To feel this way, I will focus on what I am good at, and what I can be good at. 
If I get stuck, I'll remember that 
that I can deal with this too even though I prefer something else to happen. 
that not everything will go my way, but I am flexible. 
that I will breathe, I will think of solutions. 


Bismillah. 





03/09/2019

on trying to navigate the world

source

My end of week check in:


I feel tired yet satisfied. Beberapa 'agenda' berhasil terlaksana: makan bareng keluarga buat ngerayain ultah nyokap, nganter Bumy kejuaraan taekwondo, plus ngemol. Gue juga cukup bangga sama so-called pencapaian gue untuk makan lumayan bener minggu ini. Junk/fast food sangat terminimalisir, dan gue bisa maksain diri untuk mengonsumsi salad dan buah tiap hari. Yay me!

I need more time to just be alone and read but at the same have my kids around me, taken care of, preferably by the husband. That's precisely the ideal condition I'm craving, haha. Gue butuh dukungan buat narik napas dan leyeh-leyeh sejenak. Did I get that? Well, Adit facilitated it, sih. Pokoknya bocah-bocah dia yang ajak main keliling kompleks sampai suapin kalo bisa. Tapi emang minggu ini Sam bolak-balik demam dan batuk-batuk sampe muntah. Gue harus bawa dia kontrol cek darah dan inhalasi sendirian di hari kerja. Capek jiwa raga. Karena sepanjang malam juga bocah tidurnya nggak tenang; setiap 15 menit nyari nenen, rasanya. Udah mao gilaaaa hamba. 
Mencoba mengulang mantra yang dikukuhkan di awal minggu "that not everything will go my way, but I am flexible." 
Did it work? Yaaahh... kaya gak tau gue aja xD

It's also kinda hard to be emotionally present for the kids saat suasana lagi rungsing seperti itu. Guess I need to sharpen my emotional maturity for this issue. 

I forgive myself for lagi-lagi not having another family meeting. Lagi-lagi for not reading let alone finishing that book. Lagi-lagi myself for still nggak-sesabar-itu ke Bumy kalau lagi kzl :(( 

I celebrate pengalaman pertama Bumy ikut kejuaraan taekwondo fighting. It was scary as hell for him and for me. Tapi dia berani. And that rocks. I made sure I showed him the appreciation, semoga ngasih sesuatu yang positif ke hatinya.

I release kengototan gue to have everything worked out perfectly. 

I trust this process. This journey. Gue bisa lebih baik sama diri sendiri dan anak-anak dan keluarga. I'm on my way.

02/09/2019

se a vida e

malam ini di perjalanan dari karawaci menuju ke rumah, spotify muterin lagunya Pet Shop Boys.
se a vida e. 
entah gimana pikiran gue sekonyong-konyong terlempar pada sebuah ingatan. 
gue ingat pernah berkata sama diri sendiri, "pet shop boys ni kayanya oke juga. kapan-kapan gue dengerin dengan khusyuk deh lagu-lagunya sealbum." 
dan gue sering melakukan itu. ada sebuah band/musisi yang gue nilai bagus, lalu gue niatkan untuk mengenal musiknya lebih jauh. pertanyaannya, apakah akhirnya gue pernah menjalankan niat tersebut? ketebak lah ya, jawabannya no. nope. nada. 
tapi pertanyaan berikutnya yang lebih esensial adalah... kapankah niat tersebut gue ucapkan? 
well, the answer is, probably 20 years ago. 

GOSH. 
GOShh.... 
seketika gue merasa tertampar. kesadaran ini, bahwa hobi menunda-nunda gue emang segitu kronisnya. 
I knowww, some of you will think, yaelah it's only some music. no big deal at all. 
tapi 
I'm talking about 20 years, man. tujuh ribu tiga ratus hari. kurang lebih.

musik/musisi yang gue niatin untuk "kapan-kapan mau didengerin" entah ada berapa. dan entah apakah mereka masih relevan. (ih segitu FOMO-nya kah aqu?) 
gue juga rutin menunda keinginan untuk lari/olahraga apapun dengan serius. terakhir tahun 2015, ngkali. sama almarhum Weich.
ketika liat temen jalanin S2, kembali teringat ujian penerimaan di Komunikasi UI yang gue jalani dan alhamdulillah lulus di tahun 2017 lalu. sampai sekarang rencana kembali ke bangku kuliah masih tertunda. kapan akan gue jalankan? 

mungkin ini semata-mata karena guliran 'dadu' hidup yang menyodorkan pertanyaan ini, tapi blogpost dari januari 2017 ini pun tau-tau muncul ke permukaan. 
this blogpost, precisely. 
cuplikan ini menohoque:

untuk tahun yang baru ini, harapan gue nggak muluk-muluk. gue cuma pengen bisa menjawab kalau lain kali dapat kesempatan ketemu pak Anggoro dan diberikan pertanyaan yang sama,
"what's new with you, Ris?" jawabannya akan berupa either one or some of these statements
- I'm pursuing a masters degree in media and communication, pak,
- I'm thriving to run a half marathon AND a triathlon, pak (dream big, right?!),
- I'm half the way to obtain my DTM (Distinguished Toastmaster) level, pak,
- I'm busy juggling between the office and my volunteer work in children's education, pak,
- I'm taking a vocal course, pak, and preparing to enter my band to Fuji Rock Festival's lineup,
- I'm planning for my pilgrimage with the family, pak,
- I'm expecting my second child, pak (o really? haha!),
- I'm scheduling my early retirement while establishing my digital-based business, pak.
insya Allah.

siapa yang nyangka malah anak ke-dua duluan yang terwujud?
perlukah sedemikian berencana-nya? 


Come on, essa vida e
That's the way life is, that's the way life is
Se a vida e, I love you
Life is much more simple when you're young

27/08/2019

begin again

hey there, blog. 

beberapa waktu lalu gue menemukan semacam konsep meregulasi emosi berupa start of the week check-in dan end of the week check-in. visualnya dibuat dengan sangat ciamik oleh akun Instagram @heyamberrae. 



ini sejalan dengan konsep agile, sih. seperti tertuang di agile manifesto, 
"At regular intervals, the team reflects on how
to become more effective, then tunes and adjusts
its behaviour accordingly."
atau dengan kata lain, kalau hidup berbasis prinsip agile, kita perlu sering melakukan refleksi agar tau perubahan apa yang diperluin untuk mengimprove hidup kita. 
nah, karya visual ini sepertinya bisa ngebantu gue buat introspeksi diri. melihat ke dalam. bertanya ke dalam. harapannya sih supaya bisa kemudian ngerencanain perbaikan yang gue rasa diperlukan. 

yiuk dimulaai. 

My #1 priority this week is...
makan lebih bener. lebih bersih. lebih sehat. 
di minggu malam lalu, yang bertepatan dengan akhir dari minggu ketiga agustus, gue siap-siap bobok dengan kondisi begah sesudah menyikat seporsi ayam geprek bensu. 
dan ini bukanlah kejadian spontan semata. sepanjang weekend itu, gue udah mengonsumsi burger, ayam goreng, dan seperangkat hidangan fast food dari mcd, burger king, carl's jr, you name it. bahkan bukan di minggu ini saja gue rajin mengonsumsi fast/junk food; it's been going like this for yearssss.
padahal gue udah tau benar dari hasil medical check up kalau nilai kolesterol gue jelek. dan gue juga udah paham sekaleee kalau makanan berlemak minim serat semacam itu nggak baik untuk badan berusia 35 tahun gue ini. 
but I just keep consuming them. simply because they're fast, and easy. 
cepet kenyang, cepet puas, enak, dan mudah didapat. 

menyadari kalau dosa-dosa akibat makan dengan sembrono udah semakin menumpuk, malam itu gue semacam berjanji sama diri gue kalau "besok gue akan makan dengan lebih bener!" 
dan pencapaian terbesar gue SEJAUH INI (tolong dinotis kalau ini baru hari selasa pagi. yang berarti kurang dari 2 x 24 jam berlalu sejak sumpah tersebut terucap, haha!) adalah berhasil gak makan pakai nasi tadi malam. 
lalu pagi ini gue berhasil sarapan ala-ala my favorite content creator @congcongh pakai buah, greek yogurt campur granola dan brown sugar. tak lupa ngebekel homemade sandwich. ala-ala indeed, but I feel kinda great that I could do some change. meskipun (masih) sedikit hahayy. 
perjuangan kita masih berat, diriku!

I want to do less...
mbak Amber ngebantu untuk menjawab ini dengan pertanyaan tambahan: ada nggak hal-hal yang gue iyakan/lakukan padahal sebenernya gue nggak mau-mau amat? atau justru ada hal-hal yang gue lakukan tapi nggak berdampak apa-apa ke diri, atau simply nggak ngebantu mencapai goals gue?
hmm.. apa ya? 
yang saat ini kepikiran sih, I want to do less looking at my phone saat lagi sama anak-anak. 
hal lain yang selalu ada di wishlist untuk dikurangi adalah ke-moody-an diri ini. gampang banget ketenangan jiwa ini "terampas" sama hal-hal yang wajar terjadi di dunia. supir salah belok lah. ada barang ketinggalan lah. janji dibatalkan sepihak lah. just normal, duniawi, stuff kan padahal. 

next, I want to do more...
pastinya more clean eating. dan untuk mencapai itu, gue perlu lebih berKOMITMEN dan meluangkan waktu untuk bikin makanan sendiri di rumah
jika bisa dipersempit lagi ranah jawabannya, maka gue perlu tanyakan ke diri: apa aja hal-hal yang membawakan perasaan fulfillment dan joy buat gue? and how can I do more of that?

weekend lalu gue merasa cukup bangga dan puas sama diri sendiri, karena rencana-rencana yang disusun alhamdulillah bisa terlaksana. mulai dari nongol absen mingguan ke rumah nyokap, nganter Bumy tampil di konser dengan kostum lengkap dan on time, berhasil mampir ke rumah Nup (SainsOtakAnak.id) sekaligus mengikuti workshop nan sangat kaya manfaat berjudul "Apa yang Penting di Usia Dini vs Neuromyths dalam Parenting." bahkan dapet bonus sepulangnya dari workshop tersebut, kita bisa singgah di mol baru yaitu TransMart Cibubur, hahaha. 
meskipun sebelum menjalani weekend ini kita nggak pakai kegiatan family meeting seperti biasa, sih. Bumy sampai request, "ma kapan nih kita family meeting?" duuh. ini harus banget masuk ke kategori "more." more family meetings!
gue juga pengen lebih emotionally present saat lagi sama anak-anak, salah satu caranya ya dengan mengurangi distraksi hengpon tadi. mungkin ragam aktivitas gue sama anak-anak juga perlu lebih direncain, sih, since I'm an OCD yang nggak paling nggak tahan liat waktu terbuang "percuma." 
balik lagi, caranya lewat family meeting. buat si bayi, gue pengen lebih banyak reading aloud ke dia. buat yang gede, gue pengen sesi nonton berdua kek, atau ngerjain soal matematik berdua hahaha. 

This week, I want to feel...
powerful. confident. and satisfied. 

To feel this way, I will..
berusaha konsisten melakukan hal-hal yang baik buat diri, secara fisik dan mental. 
gue juga akan lebih milih baca buku dibandingkan melototin hengpon (the root of all evil di duniaku). harapan gue adalah bisa kelar satu buku lagi minggu ini.

If I get stuck, I'll remember..
that I can deal with this too even though I prefer something else to happen. 
that not everything will go my way, but I am flexible. 
that I will breathe, I will think of solutions. 

Bismillah.
how about you, o readers?


more of this, too!

di Ruang Komunal Sains Otak Anak Indonesia

21/08/2019

tough love


gue inget waktu bagi rapot saat masih kelas 2 atau 3 SMP, gue yang kala itu masih menjadi anak rajin nan berprestasi, mendapat ranking 1 di kelas. 
gue ingat merasa lega, dan senang, tentunya. 
my mom was busy congratulating me when I told her the news. 
tapi ketika bokap melihat isi rapot gue, komen dia adalah, 
“ini nilai pelajaran A kok cuma 7?” seraya menunjuk satu mata pelajaran entah-apa yang gak bia gue ingat. karena yang paling teringat justru komentarnya itu dan reaksi otomatis gue yang berupa rasa kesal.
menurut gue titel sebagai rengking satu udah segitu menterengnya, tapi malah nilai gue yg paling rendah yg doi komentarin. 
K E T E R L A L U A N.  
(lagian nilai 7 udah macem dosa besar aja, masi untung nilai gue kagak 4) (grumbles). 

reaksi berikutnya dari diri remajaku yang mudah mellow dan sensitif kala itu, adalah hati seketika luluh lantak. 
tega bener ye bokap… kok ranking 1 ini gak berarti apa-apa buat dia?
kenapa justru yang diliat, dispotlight, dikomenin, justru kekurangan gue, padahal yang paling gue inginkan hanyalah membuat dia BANGGA?
apa susahnya bilang selamet?! 

kejadian yang masih terekam jelas di ingatan ini, terputar kembali saat gue menemukan twit dari @roshennn. doi membeberkan screenshot chat ke bokap dan nyokapnya saat mengabarkan dia lulus dengan GPA sempurna, tapi reaksi dari kedua orangtuanya berbeza sangat bak bumi dan langit.
her mom didn’t even know his grades tapi udah kasih selamat. meanwhile bokapnya? liat sendiri nih hahahaha.


saat gue share ini dengan seorang temen, dia langsung meng-iyabanget-kan kalau kelakuan para bokap (hampir) selalu kayak gitu. at least my dad and her dad and Roshen’s dad are! 
temen gue juga ngerasa sulit banget membuat bokapnya seneng. no matter how many professional accomplishments she’s made. no matter how caring she is to her family.
rasanya kayak nggak pernah cukup! 

it’s a sad feeling. gue tau karena I’ve been there, too.
jadi anak seorang bokap yang boro-boro deh berkata bangga, sikapnya ke gue kalau nggak cuek-cuek sayang, ya mengkritik. kayak urusan ranking satu tadi. 
udah kenyang banget rasanya dikomenin,
kamu sih gini.” “kamu tuh selalu gitu.” yang kontennya mengkritik kekurangan gue. 

well, untungnya, sekarang gue bisa mengenang momen dan rasa nggak-pernah-dianggap-cukup itu tanpa baper. 
in fact, I began to view that experience the way my father did. which maybe a perk of being a parent. 
gue mulai memahami kalau maksud bokap tuh baik. klise banget, ya?
but in all honestly, sekarang sebagai orangtua, gue mengalami gimana yang kita maksudkan dan lakukan bisa  nggak nyambung banget. pengennya mendidik anak supaya mandiri, tapi bisa aja wujudnya dirasakan ‘kejam’ oleh sang anak. contohnya ngelatih anak tidur sendiri, atau nggak langsung beliin apa yang anak minta, dan lain sebagainya. 
mungkin dengan melontarkan komentar seperti itu, bokap pengen gue nggak besar kepala. yang bisa mengakibatkan gue jadi lalai memperbaiki kekurangan, atau malah jadi nggak bisa mempertahankan prestasi. 
gue rasa udah jadi nature orangtua (bapak-bapak in particular) menginginkan anaknya selalu eling dan waspada, karena dunia di luar sana nggak seramah di dalam rumah. (kejauhan nggak, sih, mikirnya? well, you can never be too parno - said a parno mom. hahaha..)

kalau diadu sama teori parenting terkini sih, sikap bokap yang seperti itu pasti akan langsung dianggap big no and so wrong. how could you not be appreciative towards your own children?? how could you make your kids feel invalidated and unworthy of unconditional love?? 
bisa jadi karena it’s the only way they knew how to parent. 

mental health, kayanya itu sesuatu yang sebagian besar dari mereka kurang pahami. 
di era di mana mereka dibesarkan, yang ‘industrial’ banget, manusia dilihat sebagai mesin, yang harus bisa menghasilkan, yang harus bisa ‘berguna’ dengan baik. 
gue ingat cerita bu Lanny waktu ngasih materi childbirth education. fyi, bu Lanny ini bidan senior banget. dia udah membantu ibu-ibu melahirkan lintas generasi. beliau cerita kalau dulu, ibu-ibu melahirkan di ruangan khusus lahiran tanpa ditemani suami atau keluarga. so they struggled all by themselves. suami dan keluarganya menunggu di luar, ngintip lewat jendela kecil saja. itu karena pemahaman tentang manusia pada saat itu baru sampai tahap fisikal. sisi emosionalnya belum diperhitungkan. barulah kemudian pandangan tersebut bergeser hingga melihat manusia secara holistik: body and soul. that’s why di kelas ibu hamil yang gue ikuti, kita diajak mempersiapkan momen kelahiran (siapa yang menemani, cara apa yang bisa membantu menenangkan kita, dll), supaya saat beneran lahiran nanti, fisik dan mental bisa sama-sama disupport. 

benang merah yang gue tangkap ya itu tadi, di jaman bokap nyokap kita dulu, pemahamannya adalah manusia itu (harus) bisa berfungsi, berguna, dengan baik secara "fisikal," atau dalam hal-hal yang kasat mata. 
nampaknya itu yang menjadikan mereka mati-matian mendukung anaknya dari sisi fisik/finansial dan pendidikan. karena mereka ingin anaknya “jadi” atau sukses atau mentas; yang dalam pengertian mereka adalah terjamin sandang, pangan, dan papannya. 
kemudian di usia tuanya, para ortu kita kebingungan, ini anak gue nampak udah punya segalanya, tapi kok masih bolak-balik ke psikolog? hahahhaa. 

I’m not saying yang mereka lakukan itu benar. but I’m sure they did the best they could. dan mereka ngasih segala resource yang mereka punya untuk membesarkan anak-anaknya dengan tulus. mereka pasti menghadapi perjuangan mentalnya sendiri juga saat itu - atau mungkin hingga sekarang. 

my friend said, kita memang harus re-parenting ourselves. 
nggak ada pihak yang ‘salah,’ - tidak diri kita kalau merasa kecewa atas sikap orangtua, tidak juga orangtua kita karena punya pola pikir dan harapannya sendiri, tidak juga ‘hidup’ yang mendesain seperti ini. 
apalah hidup kalau tanpa PR-PR seperti ini? hehehe. 


hope I could do better for you, kiddos

14/05/2019

staying hungry

“I tried being a stay-at-home mom, for eight weeks.  
I like the stay-at-home part. Not too crazy about the mom aspect, that shit is relentless.  
I was stupid and naive, and I thought that being a stay-at-home mom was about chillaxing, getting to shit in your own home, watch Wendy Williams and go out to brunch with your sassy girlfriends.  
I did not understand that the whole price you have to pay for staying at home is that you’ve gotta be a mom. Oh, and that’s a job. It’s a wack-ass job.  
You get no 401(k), no co-workers. You’re just in solitary confinement all day long with this human Tamagotchi ... That don’t got no reset button, so the stakes are extremely high.”
From the ever-sassy, hilarious, and brilliant Ali Wong. 
I agree with the whole part, tapi yang terutama perlu digaris bawahi adalah bagian "getting to shit in your own home." 
Boy, that's a luxury. Hahahha. 

Ok sekarang bagian rada seriusnya. 
Beberapa waktu lalu gue mendengar cerita kehidupan seorang rekan di kantor yang lagi ambil cuti di luar tanggungan perusahaan (CLTP) seperti gue dulu. Sebutlah si A. Meskipun sekarang udah berjudul "full-time mom," tapi sehari-hari, kedua anaknya tetap ditaro di daycare dan di sekolah. Sementara itu, si A ngisi waktu dengan wara-wiri ikut seminar dan sejenisnya yang memperkaya kualitas diri. Wah, takjub lho saya, it sounds like she has a solid plan untuk ngisi waktu CLTP. 

Otomatis gue jadi membandingkan dengan masa 3 tahun yang gue pake buat CLTP dulu.  
Apakah gue juga telah berencana dengan sedemikian baiknya? 
Kalau gue lihat-lihat lagi dokumentasi persiapan dulu sih, kayaknya udah cukup lumayan yaa... 
Setidaknya gue udah mikirin gimana soal keuangan, gimana mau mengisi hari. 
Gue curhatin malah di Mommies Daily, haha..di artikel ini, ini, dan ini setidaknya. 

Meskipun begitu, penilaian yang gue dapatkan bisa berbeda. 
Kalau orang 'luar' menilainya dengan: CLTP tapi kok nggak nambah anak? 
Hahaaa... Ya wajar sik, namapun kalau 3 tahun itu dipake buat gedein bayi pasti udah lulus asi dan toilet-training yekann. Nggak perlu pusing juga nyari third party kayak kalo emaknya ngantor. 

Sementara diri gue sendiri menilainya dengan: CLTP tapi kok belum tambah jago ngedidik anak dan rumah tangga?
UHUHUHUHUHUH.
Bukannya ku tak mencoba. I really did try. 
Kalau gue kilas balik ke masa-masa itu, yang otomatis keinget adalah rasa capeknya, karena beberes rumah sendiri, pun nyupirin anak ke mana-mana sendiri. Hal berikutnya yang terkenang adalah betapa dulu Bhumy masih kecil banget. Waktu begitu cepat berlalu. Dulu keperluan dia "cuma" dipeluk sebelum tidur, ditemenin main bikin-bikin, diajakin joget-joget les musik. Sementara sekarang, rasanya konflik gue dan dia semakin rupa-rupa bentuknya. 
Yang ngelawan karena hal-hal kecillah, yang susah dibilanginlah, yang bohonglah, inilah, itulah.
Emang semakin gede anak manusia, semakin berkembang juga segala halnya, sih. 
Apa mungkin gue menghadapi kesulitan karena skill gue belum berkembang yaaa, sebagai ibu?

Bener deh, sekarang baru gue sadari, kalau bagian netekin, toilet training, bahkan begadang-begadangnya, itu semua tergolong gancil! 

(Intermezzo: kok pas banget sih lagu yang mengalun "Yang Tlah Berlalu"-nya Gigi)

Kalau sekarang, gue harus mengatakan: welkam pubertas, marhaban isu-isu pra-remaja. 
Kebayang nggak sih, sementara gue terkadang masih dihantui isu yang terjadi kala gue remaja?
Contoh termudah, sampe sekarang aja gue masih bingung gimana menghandle emosi negatif di tengah mood swing?
Trus udah kudu ngajarin emotional regulation ke anak *tepukdahi :(
Intinya nggak enak deh kalau jadi orangtua yang belum "tuntas" PR bebenah dirinya. Karena akan sampai di suatu titik di mana kerjaan jadi dobel: bebenah diri SEKALIGUS meneruskan ilmu yang baik-baik saja ke anak.
Rasaaiiiiin kamuh, Riska!

Tapi memang sungguhlah Allah Sang Maha Designer.. pernah nggak sih, saat merasa ingin tau sesuatu, lalu segala tentangnya lantas tiba bertubi-tubi?
Tanpa diduga. Tanpa direncanakan. 
Mungkin seperti kata orang bijak: "When the student is ready, the teacher will appear."

Satu hal yang cukup menjadi turning point adalah ketika Kiti my bestbudcat mengenalkan gue pada Nova atau Nup (sinicenopy.com). 
Siapakah dia?

Well, Nup sebenarnya teman kuliah Kiti di kedokteran. Tapi pemikiran yang sejalan dan sefrekuensi membawa Kiti sering berdiskusi dengan Nup bahkan setelah lulus dari bangku perkuliahan. Dari situlah gue jadi suka mendengar tentang Nup dan kiprahnya, terutama di dunia PENDIDIKAN. 
From what I heard, apa yang Nup lakukan is so so ah-mazing. 
Dia menggunakan pengetahuan dan ketertarikannya di bidang sains otak (neuro science, brain science) untuk dimanfaatkan di bidang pendidikan anak. She's someone with a mission, an important one. Dan beruntunglah gue akhirnya bisa dikenalin dan bertemu dengan Nup. Pada pertemuan pertama kita, kita ngobrol sampai 3 atau bahkan 4 jam. Hahaha. Felt like there's soooo many things to discuss and brainstorm about. Di sosok Nup, gue juga menemukan panutan dalam hal parenting (among other things), karena dari yang gue lihat, 'kaki' Nup sudah menjejak dengan lebih ajeg dan tau mau melangkah ke arah mana. 
Bener-bener kayak lagunya Fourtwnty..

"Waktu ke waktu perlahan kurakit egoku
Merangkul orang-orang yang mulai sejiwa denganku
Ke-BM-an membukakan jalan mencari teman
Bergeraklah dari zona nyaman"
  
Hihi.
Lalu suatu ketika, tepatnya ketika gue sedang intens berkeluh-kesah seputar problema parenting, Nup merekomendasikan gue workshop bertitel Mother Culture. 
Saat gue baca deskripsi workshop-nya, gue nggak heran kenapa ini gue perlukan. Sub-temanya aja: Raising Yourself while Raising Your Children. Mengena abis!
Selebihnya diinfokan kalau akan dibahas gimana cara menghandle problema kehidupan modern yang serba sibuk, gimana mengembangkan diri sebagai orangtua, plus gimana memperbaiki relasi dengan pasangan dan anak. Uwowow combo ini mah. 

Alhamdulillah juga semesta mendukung, sehingga meskipun durasi workshopnya 5 jam dan di suatu Sabtu, gue bisa muncul di situ.
Apa yang disampaikan emang bener-bener yang gue butuh untuk tau, ternyata. Kudos to Nup my lup!
Di sini akan gue coba sampaikan lagi dengan cara gue memahaminya ya... biar ngelotok. 

Jadi, narsum workshop ini, mba Ellen Kristi, adalah seorang praktisi filosofi Charlotte Mason. 
Jujur gue cuma pernah dengar sekilas soal ini, dan belum pernah mencoba mencari tau. 
Workshop dibuka dengan menyampaikan apa makna pendidikan berdasarkan "paham" bu Mason, yaitu
"Education is an atmosphere, education is a discipline, and education is life." 

Tapi yang akan digarisbawahi adalah education is an atmosphere. 
Apaan sik maksudnya??
Gampangnya bisa dijelasin dengan: karena kita manusia hakikatnya adalah mahluk spiritual, maka pendidikan juga berarti kerja spiritual. Semua yang kita lakukan akan membekaskan sesuatu pada spirit kita. 
Nah, dengan anak-anak, spirit ini yang menentukan apakah waktu kita bersama anak itu berkualitas apa nggak. (!!)
Spirit kita sebagai orangtua harus sinkron, baik saat di depan/bersama anak, maupun di belakang anak. 

Yaampun baru segini aja udah tertampol aku rasanya. Masih terngingang dengan jelas saran bu Alzena tahun 2016 lalu yang bilang gue harus KHUSYUK saat sedang bersama anak. Ternyata ini toh lanjutannya! Gimana caranya gue perlu menumbuhkan spirit yang SEHAT untuk dihirup anak sehingga mereka bisa bertumbuh dari makanan spiritual yang diasupkan oleh gue. 

"Children breathe in the values we emanate," - another quote from the workshop. 
Lebih banyak hal yang ditangkap anak secara naluriah atau secara spirituil dibandingkan apa yang diajarkan blak-blakan lewat nasehat. Urusan spirit ini nggak main-main karena impact-nya pun segitunya. 

Trus gimana caranya? 
Gue udah mencoba dan mencoba rasanya T_T tapi kok tetap aja terkalahkan oleh diri sendiri dan kondisi. 

Jawaban yang ditawarkan mba Ellen adalah: kita perlu jadi orangtua yang bertumbuh
Bukan pertumbuhan secara materiil tapi secara emosionil dan spirituil.
Gampangnya deh, gimana karakter kita? Apakah udah bisa sabar? Apakah bisa berkata tidak pada keinginan yang nggak bener? 
Well, emang sih karakter ini bukan hal pertama yang diperhatikan orang, karena itulah kita jadi nggak fokus mengembangkannya. Yang otomatis dilihat, seperti kala kita menilai anak, apakah hanya tambah pintar, berprestasi, atau makin tinggi. Kala menilai orang dewasa, pertanyaan menjadi apakah ia sudah lebih kaya, lebih kece? Bukan gimana karakter kita. Huhu. 

Akan gue beberkan dengan lebih komprehensif di blogpost berikutnya yaw soal bertumbuh ini.
Buat gue, insight ini bener-bener menggeser paradigma. 
Aha moment at its best! 
Allah memberikan apa yang benar-benar gue butuhkan: petunjuk supaya gue bisa bertumbuh, berbenah, memperbaiki diri supaya bisa amanah mendidik anak.


"Sembilu yang dulu
Biarlah berlalu
Bekerja bersama hati
Kita ini insan bukan seekor sapi
Sembilu yang dulu
Biarlah membiru

Berkarya bersama hati"

03/05/2019

hipertensi okuli, suatu kondisi diri

Sampai sekarang ini, Sam sudah dititip di daycare kurang lebih selama 1 tahun 2 bulan. 
Alhamdulillah dapet daycare yang sejauh ini amanah dan cukup memuaskan layanannya. Membantu banget deh pokoknya buat gue. Tiap pagi, anak dibawa dalam keadaan masih bau acem, lalu sorenya diambil dalam keadaan udah kenyang dan wangi rapi jali. Ketika ketemu, kami main-main sebentar lalu si anak dinenenin dan terlelap. Sungguh membantu mengurangi satu kekhawatiran dan kelelahan sepulang kerja. 

Meskipun begitu, seperti semua hal di dunia ini, ada sisi lain dari "koin." 
Bagian nggak enaknya, seperti yang bisa ditebak ketika ada banyak anak ngumpul berjam-jam dalam sehari di bawah satu atap, bocah jadi mudah tertular (pun menulari) penyakit anak-anak lain. 
Di momen pergantian musim kayak Desember-Januari lalu, common cold bolak-balik diidap Sam.
Bahkan sempat kena roseola juga. 
Nah, di pertengahan bulan Januari, gue liat matanya kerap berair trus belekan buanyak banget kalau bangun tidur. Bisa ditebak, nggak lama setelah anaknya sembuh, gantian deh emaknya yang kena. Di gue, penyakit itu bukan berwujud berair dan belekan DOANG, tapi juga jadi bintitan. Heuhh. 

from here
Mungkin emak emang udah berumur ya, meski katanya bintitan bakal sembuh sendiri, tapi rasanya senut-senut banget. sampe pusiang kepala dibuatnya. 
Gue pun bikin janji untuk kontrol ke dokter spesialis mata di RSPI. 
Seandainya gue ke dokter umum atau ke rumah sakit lain, mungkin gue hanya tinggal konsul sama dokter, diceki-ceki, lalu diresepin obat. Tapi, di RSPI sebelum masuk ke ruang konsul, pasien disuruh cek tekanan bola mata dulu pake alat yang emang tersedia di situ. Nah, hasil dari pengecekan terhadap kedua mata gue nilainya 22 dan 23. Suster yang ngetes langsung berkomentar heran, kok tinggi banget yaa. Gue diinfoin kalau nilai yang normal itu 21 ke bawah. 
Ketika tatap muka sama dokter, setelah dicek kondisi bintitan gue (di mana si bintit akhirnya dipecahkan paksa. pop!), dokter ngecek lagi untuk kondisi tekanan bola mata tinggi atau bahasa medisnya hipertensi okuli.
Terkait kondisi ini, dokternya ngeresepin gue obat tetes untuk dipakai 2 kali sehari selama 2 minggu. Setelah itu, baru gue disuruh kontrol lagi. Bisa jadi tekanan bola mata gue tinggi karena lagi bintitan, soalnya. 

Balik dari RS, gue pun kepo googling soal hipertensi okuli. 
Dan hasilnya nyeremin! Kondisi ini bisa menjadi indikasi glaukoma yang berdampak kebutaan permanen. Alamak huhu...:((( 
Dari yang gue baca, penyebabnya mostly karena keturunan. Tapi seinget gue di keluarga nggak ada yang mengidap ini. Gue sempat cerita ke tan Iti, yang ngasih tau kalau ada kerabatnya yang punya kondisi seperti gue, dan alhamdulillah berhasil di-delay progress penyakitnya berkat tau sejak awal dan rutin pengobatan. Gue jadi bersyukur juga dengarnya. Alhamdulillah tau indikasi ini sejak dini... 

Kemudian 2 minggu pun berlalu... 
Apakah gue balik lagi kontrol ke RSPI?
Tentu saja tidak.
-___________-
Antara takut, males ribet, dan... takut. Itu aja sik.
Tindakan yang sangat tidak rasional, ai knoww. 
Tapi beneran deh saat itu gue sangat sangat enggan dan tak sanggup menerima berita tidak mengenakkan. 
.
.

Waktupun berlalu. fast forward ke 1 bulan kemudian. 
Apa yang terjadi? Gue bintitan LAGI. 
Kali ini kedua mata pula yang kena.. hoalahh. 
Akhirnya gue pun kembali ke poli mata RSPI. 

Dokter yang ngecek tentunya menyayangkan kenapa gue nggak balik kontrol tepat waktu sesuai yang diinstruksikan di awal. Concern utama bukan si bintit tapi kondisi hipertensi okuli tersebut. Beliau kembali ngasih gue obat mata untuk dicoba tetesin selama 2 minggu. Kali itu, tekanan bola mata gue berkisar di 21 dan 22. Yang mana masih tergolong di atas normal juga. 

2 minggu kemudian, gue kembali kontrol. Nilai tekanan 19 dan 20. 
Dokter merujuk gue untuk melakukan 3 macam tes buat mendeteksi kemungkinan glaukoma.  
Tapi gue nggak paham ataupun hapal nama tesnya kecuali tes Humphrey (lapang pandang). Hasil dari browsing, ada beberapa macem tes buat ngecek glaukoma, dan sepertinya gue udah menjalani beberapa kalau tidak semua.

  • Tonometry. Tes ini menggunakan alat khusus yang disebut tonometer. Dalam prosesnya, tonometer akan ditempelkan pada mata untuk memeriksa tekanan yang ada. Sebelum itu, pasien akan terlebih dahulu diberikan anestesi tetes.
  • Tes lapang pandang. Tes ini bertujuan untuk memeriksa keseluruhan ruang pandang mata pasien. Dokter akan meminta pasien untuk mengamati berbagai titik yang ditampilkan pada alat khusus yang disebut perimeter. Jika kondisi mata tidak normal, akan terdapat titik-titk yang tak terlihat oleh pasien.
  • Ophthalmoscopy. Dalam prosesnya, dokter akan memeriksa kondisi mata pasien menggunakan mikroskop atau alat pemindai khusus mata. Sebelum itu, pasien akan diberikan obat tetes yang berfungsi agar pupil dapat tetap melebar selama prosedur berlangsung.
  • Pachymetry. Tes ini bertujuan untuk memeriksa ketebalan kornea. Ketebalan kornea menunjukan tinggi rendahnya tekanan yang ada pada mata. Pachymetry termasuk tes tanpa rasa sakit yang berlangsung paling cepat.
  • Gonioscopy. Gonioscopy adalah tes yang bertujuan untuk mencari tahu cairan yang tertimbun di mata. Dalam prosesnya, dokter menggunakan alat bantu berupa lensa dan cermin khusus yang disebut genioskop.


Alhamdulillah setelah tes-tes itu dilalui, hasilnya menunjukkan normal. 
Gue kemudian dirujuk ke dokter mata yang spesialis glaukoma, dan beliau nyuruh gue tetap balik kontrol 6 bulanan lagi. To make sure and as a precaution step. 

Hhh... 
Jadi bisa dibilang bulan Januari sampai Maret kemarin diisi dengan kunjungan-kunjungan ke dokter mata. 
I never thought I would have an issue on this department. Sampai sekarang alhamdulillah gue belum perlu pakai kacamata. Makanya jadi agak takabur, mungkin. Then again, kalau nggak ada warning mungkin gue akan tetap slonong boy menggunakan mata. Dalam gelap melototin henpon, misalnya, yang merupakan suatu kelaziman bagi gue sebelumnya. 

Karena pengalaman ini, gue juga menyarankan ada bagusnya sekali-kali ngecek tekanan bola mata meski masih muda dan nggak ada keluhan. Kantor gue ngasih fasilitas medical check up tahunan yang cukup lengkap, tapi nggak meliputi tes tekanan bola mata. Jadi mungkin netijen yang membaca (jika ada) bisa minta dicek khusus.