15/08/2018

singapore trip with the baby

olala.. it's truly been a while. 
yesss gue SEGITU sibuknya handle 
1) kerjaan, 
2) bayi mungil, 
3) anak pra-abege 
(dll menyusul)
sampai nggak sempat ngeblog (atau ngoceh ngalor-ngidul membayangkan ada yang peduli).

ah emang sedari dulu gue bukan ibu yang rajin mendokumentasikan ina-inu anaknya. 
waktu bumy kecil dulu masih mending... bisalah rutin ngeblog sebulan sekali. pas sam sekarang, tangan rasanya nggak cukup "cuma" sepasang. dihimpit hectic aja rasanya.
begitu udah ada waktu luang yang memungkinkan hands-free, gue memilih molor. minimal leyeh-leyeh untuk menghela napas - sambil nonton netflix. 
but here we are! 

seminggu lalu, kita memberanikan diri plesir bawa bocah-bocah. 
dengan kondisi sam belum genap 8 bulan, plus gue dan adit belum berpengalaman bawa bayi naik pesawat, it's a bit risky, I know. 
menurut gue, plesiran kali ini sejatinya hanya mindahin lokasi ngangon anak. gue tau bakalan capek dan repot. tapiii a change of scenery wouldn't hurt lah. semacam sedikit bonus buat mamak yang sehari-harinya dikeroyok kerepotan belaka. harapannya di singapur meskipun repot, tapi paling nggak mamak hepi bisa menghirup hawa non-berpolusi dan berkesempatan blanja-blenjong. 

but first! izinkan gue memaparkan hal-ihwal yang mesti dihadapi menjelang keberangkatan... 


bayinya atitt huhu
- sehari sebelum bertolak ke singapur, sam demam 37,5 - 38,3 derajat celcius. sepertinya sih karena batuk pilek. 
gue bawalah dia ke dokter spesialis anak di KMC. karena dokter2 yang biasa ditemui lagi pada gak praktek, maka kemarin itu pertama kalinya gue konsul sama Dokter Made. ternyata beliau helpful banget. meriksanya bener-bener teliti dan menyeluruh. dijelasin kalo Sam kena common cold (aja alhamdulillah), nggak ada infeksi telinga, nafasnya juga grok-grok karena dahak yang terjebak di tenggorokan bukan di paru-paru. dokternya ngasih harapan kalau ini infeksi virus aja maka dalam 2-3 hari ke depan demamnya bakal reda. sungguh jelas, dan puas mamak jadinya. 

- on the other hand, gue belum sempat menyusun itinerary blasssss. adit nagih melulu yang cuma gue respon dengan dengusan. 

- sementara karena sam udah mamam, maka gue siapkan ransum berupa 4 set meal mamma kanin untuk dibawa ke sana (which is also his favorite). karena selama lagi demam ini dia males makan, gue berharap dengan ransum MK paling nggak dia bisa makan yang dia doyan. gue siapin dengan rapi jali di dalam cooler bag dan gue masukin ke freezer malamnya. 

- and then sekitar jam 11 malam, kita menemukan kalau obat batuk yang perlu diminumin ke sam tumpah. kebayang refotnya kudu nyari obat di sing, kita tilpunlah apotek KMC untuk janjian ambil obatnya jam 4 pagi keesokan hari.

- eh iya, flight kita tuh jam 5:20 pagi. 

- jam 3:30 pagi, taksi bluebird yang mau nganterin sudah tiba. kita grasak grusuk masukin barang ke taksi. 
pak supirnya komen, "ini perginya dadakan ya bu?" ehe.

- jam 4 pagi kita sampai di KMC, tebus obat 5 menit cus masuk tol jorr. 

- jam 4:10... gue berteriak di dalam taksi, "ya Allah ransum si sam ketinggalan!!" mao pingsaaaaannnn.
akibat dimasukin ke kulkas, cooler bag berisi ransum si sam nggak keangkut. 
adit segera nilpun supir gue yang alhamdulillah ngangkat telpon. gue segera nelpon ART (pulang pergi) yang alhamdulillah juga ngangkat telpon buat kasihin kunci rumah. setres nda kira-kira hahahha. supir gue pun segera melesaaaat ngebut nyusulin itu ransum ke bandara. 

- sampai di bandara jam 4:50, adit melenggang ke konter check-in, dikasih tau embaknya "oh sistemnya udah closed, pak." 
KETINGGALAN PESAWAT AJAH KAK. 

x)))))))))

saking lemesnya, gue sampe nggak bisa ngomel. padahal that's my automatic response in this kind of mess. hahaha. langsung gue telpon mamak buat minta maaf, minta ampun, minta ridho. uh... the power of restu orangtua tuh emang ya.. masya Allah. 

alhamdulillah, kita bisa dapat seat di flight berikutnya sekitar satu jam sesudahnya. 
and the flight with our infant? well, he screamed and cried almost the entire flight. 
aslilahhh, gue dari yang awalnya malu dan nggak enak sama penumpang lain sampe BODO AMAT gue nggak tau mau ngapain lagi huhuhu. kita udah siapin ear muffs tapi boro-boro deh nggak bisa dipakein karena anaknya meliuk-liuk saat ngamuk. 
kalau direview sekarang, kemungkinan karena kita terbang di jam sam lagi ngantuk-ngantuknya tapi doi nggak bisa tidur di tempat dan suasana yang nggak familiar buat dia. plus doi juga lagi nggak enak badan. 

selama di sing, kita cuma ke 
- sentosa karena bumy ngidam main luge. alhamdulillah kesampean dan si bocah menganggap that's the highlight of the trip, the rest of the days were just "membosankan!"
- ngider-ngider mooool
- national gallery 
- dinner at chijmes, which became the highlight for adit and me haha. udah lamaa banget berniat makan di sini, padahal beberapa kali nginap dekat-dekat situ tapi nggak terwujud untuk mampir. we ate at prive at night; makanannya enak-enaaak dan suasananya juga sangat okss. 
- haji lane, arab street, dan sekitarnya. 

sangat sangat tidak ambisius. dan membosankan sih emang hahaha. 
but I was too overwhelmed with kerempongan. 
sam nggak mau ditaro di stroller jadi ya dia digendong melulu. 
gue nggak berani pack lightly saat keliling-keliling, jadi tenaga lumayan kesedot buat angkut beban. 
tapi dari sini gue (dan adit) jadi belajar soal beberapa hal yang berguna, yang nggak berguna, dan what to note for our next trip(s). 

- stroller pockit pinjaman dari ibu peri Ika Loekita comes really handy karena ringan dan easy to assemble. semoga ke depannya sam udah mau ditaro di stroller. 

- sayota electric lunch box ini jugaaa... pinjaman dari bun-Ka dan sangat sangat membantu. bubur bisa dibikin langsung di situ, untuk manasin makanan juga oke karena fungsinya mengukus, jadi panasnya awet (nggak kayak kalo dipanasin pakai microwave). ukurannya juga kecil dan nggak makan tempat. 

- buat mandiin sam kita pakai bak mandi tiup gitu. ini enak juga untuk dipakai. permukaannya empuk, dan nggak licin. 

- packing suggestions that we did and found to be useful: bawa buku rumah sakit anak. bagi-bagi baju anak dalam sealed plastic bag harian (1 day 1 bag). oh dan aplikasi Pack yang enak dijadiin checklist (--> screenshot on the right)

- what we need (to improve):  PLAN AN ITINERARY. siapin gendongan yang bahannya nggak gerah. siapin perlak yang ringan buat dibawa-bawa. obat-obatan jangan cuma 1 botol jadi ada cadangan kalau tumpah. siapin wadah untuk snack kering yang gampang dirogoh tapi nggak gampang tumpah. siapin sippy cup because we didn't bring any in sing dan gue jadi harus kasih fresh ASI kalau si bocah haus hahaha. 

sejauh ini sih itu aja yang kepikiran...
mungkin untuk akomodasi keinginan si anak gede untuk berpetualang, baiknya sih kita bagi dua tim. adit sama bumy untuk kelayapan, gue ngendon ngadem sama bayi. 
yaay we made it (foto bertiga. difotoin ibu-ibu yang lewat haha)

night at chijmes

our stay at oasia. ini di lantai 12, enak buat leyeh-leyeh.

city tour bertiga saja (bumy not pictured), mamak felt successful bisa gondol dan suapin bayi "sendirian"
  
si kakak yang direpotin bawa-bawa ransum adeknya.. 



of course this is by request. "wooy gantian fotoin mamakk" kalo nggak mah boro-boro bisa berpose

14/08/2018

the daring adventure

gue nggak inget pernah baca di mana tapi kata-kata ini terpatri,
dikatakan kalau hal-hal yang "benar" nggak akan membuat suara hatilo bertanya-tanya, "is it the right thing?"
pun nggak akan mendatangkan bisikan-bisikan tentang apa yang seharusnya yang lo lakukan.

time for reality check.

I think I haven't done a proper kind of parenting towards my son. 
I should've done better. he deserves better. 
I think I should've managed my emotions better.. that way all the conflicts I have been facing would come to resolutions instead of anger and pain. semua ada solusinya, gue sebagai orangtua dan manusia dewasa bisa mencari cara, alih-alih larut dalam arus emosi tak berarah. 

sekitar dua minggu lalu gue mencari bantuan lagi, untuk urusan mental. 
udah gila-gilaan deh gue merasa dihajar sama kerepotan dan kelelahan. 
menghandle kerjaan yang menguras pikiran, mengurus bayi kecil, plus mencoba doing parenting ke anak pertama yang menjelang remaja. 
semua mua terbawa jadi drama. 
and that's wrong, ada yang salah pasti. 

gue jadi gampang ngomel terutama sama si sulung. sangaaat gampang ke-triggered.. padahal kenakalan dia ya masih "wajar" apalagi dalam koridor tafakur. nggak ada yang gimana banget sampe kudu diomelin MELULU. (oh gosh jangan sampai malah jadi behaviour problems).

the expert said, I am putting too much into my plate. 
gue seperti itu mostly ya karena overwhelmed... capek fisik dan mental (haloh kurang tidur)... kerjaan meskipun fleksibel dari segi waktu tapi pressure-nya justru lebih besar dibandingkan jadi karyawan biasa.  

the doctor said, harus ada yang dikalahkan. gue harus ngurangin jumlah stressor.
mungkin nggak mundur dari urusan startup? not for now, I said. at least keputusan mundurnya jangan dari gue, tapi kalau memang disuruh mundur barulah... 
buat urusan anak pertama yg sering jadi objek pelampiasan kekesalan (perih loh nulisnya), gue disarankan mengutilisasi partnership. how? urusan bumy dihandle bapaknya SEMUA. misalnya ketika ada behavior problem, ya bapaknya yang negor, atau semata-mata urusan ina inu sekolah... ya bapaknya juga. kenapa ya harus sampe gitu amat? menurut beliau, saat ini gue sedang berada di masa lagi ada bayi yang usianya less than 1 year PLUS sedang ngasih asi ekslusif. it👏🏼is👏🏼so👏🏼damn👏🏼tiring👏🏼physically👏🏼
hormon mamak awur-awuran (still). 
lagian untuk memberikan asi diperlukan kondisi emosional yang “tenang”- menurut sang dokter, it's not asi ekslusif kalo “cuma” susunya yang diberikan tapi bonding dan emotional support dll buat anaknya nggak ter-deliver.

sambil bercerita, somehow gue agak ngerasa “lebay yaaa keluhan gue...”
padahal gue udah hire pembantu pulang-pergi. padahal sam sudah ditaro di daycare. 
tapi ketika mendengar ini dari orang yang bisa dibilang “ahli”, gue baru ngerasa tervalidasi.. selama ini gue masih mempertanyakan jangan-jangan guenya aja yang nggak bener atur waktu, atur tenaga, drama, dll.
si dokter mengatakan kalau indikasi perlu ada "intervensi" adalah ketika hubungan sama orang lain mulai ada yang terganggu. in my case, jelasssss, hubungan gue sama suami dan anak diisi ngomel-ngomel melulu. 

and she said more, punya bayi ya memang melelahkan. tidur malam nggak tenang, anak rungsing. dan itu “saja” tervalidasi kalau bisa bikin stres. moreover with another kid and a stressful job, there’s so much on the plate to make me merasa terhimpit dan mau gilakk. 

I need to be better, for my sake and everyone's sake. 


Did We not expand for you, [O Muhammad], your breast? And We removed from you your burden Which had weighed upon your back. And raised high for you your repute. For indeed, with hardship [will be] ease. Indeed, with hardship [will be] ease. - QS Al-Inshirah