| gambar dari sini |
- Bumy lahir di bulan "nanggung" kalau dilihat dari kalender akademik, yaitu di bulan November. Tahun ajaran ini usianya 5,5 tahun, cuma kurang sedikit dari syarat umur minimum untuk masuk SD (6 tahun). Berhubung di sekolah montessori kelasnya pakai sistem mixed-age, jadi Bumy sekelas sama teman-teman yang rentang usianya mulai dari 3 sampai 6 tahun. Nah, kebetulan sohib-sohibnya kebanyakan udah berusia 6 tahun dan bakalan masuk SD tahun ini. Karena itulah dia jadi kepengen masuk SD juga; precisely he said, "Bumy mau (masuk) SD juga, ma, biar bareng sama X, Y, Z!"
Kok seolah gue mendukung anak supaya ikut-ikutan, yaah. To be honest, gue dan Adit belum mengiyakan atau membantah keinginannya itu, sih, tapi ini jadi hal yang kita pertimbangkan. Apalagi ada semacam kekhawatiran kalau... (lanjut ke poin berikutnya)
- Seandainya dia 'dibiarkan' tetap di TK, gue khawatir dia nggak terstimulasi secara optimal. Gue pribadi beranggapan kemampuan dia udah cukup untuk masuk SD. Kemampuan apa sajakah? Yang terlihat secara 'kasat mata' aja, sih, yaitu kemampuan kognitif dan perkembangan sosial-emosionalnya. Kemampuan calistungnya di mata gue udah cukup - terlebih karena sebelum masuk sekolah ini dia nggak bisa baca-tulis sama sekali, tapi hanya dalam satu term, dia bisa keep up.
Yang bikin kagum, cara mengajarkan calistung di sini nggak pakai drilling atau metode yang bikin anak setres, melainkan sambil bermain dan dengan bantuan apparatus montessori. Jadi gue pikir ke depannya insya Allah dia nggak menemui kesulitan.
Kalau dari segi perkembangan sosial-emosional, one thing for sure, making friends is an easy-peasy business for him (baca: anaknya sok akrab beneuur). Dia udah bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara jelas, trus juga bisa mengikuti proses belajar dan berinteraksi dengan positif di lingkungan sekolah. Simply by knowing this membuat gue yakin dia sanggup-sanggup aja masuk SD.
Namun, kembali ke soal under-stimulated yang gue sebut tadi, takutnya dia jadi nggak termotivasi kalau masih di TK tahun ini karena a) materi anak TK jadinya udah terlalu 'gampang' buat dia, atau b) dia merasa seolah 'ditinggal' teman-temannya di TK.
Karena itulah, gue yang tadinya yakin dan nyaman aja terhadap gagasan menyekolahkan Bumy ke SD saat usianya udah cukup, sekarang jadi agak goyah. Gue tanya Adit, dia sih mendukung aja kalo Bumy mau dimasukin SD sekarang. Gue tanya bokap-nyokap, jawaban mereka saling mengontradiksi (as always, kapan sih mereka seiya-sekata selain kalau lagi nyalah-nyalahin gue? #tercurcol). Bokap bilang, "Jangan! Biarin Bumy puas main dulu di TK! Lagian nanti kayak kamu, lagi. Dimasukin SD umur 5,5 tahun jadinya nggak dewasa." And whose fault was that, yah??! Zzzz. -___-
Kalo nyokap komentarnya, "Nggak apa-apa! Bagus Bumy masuk SD, biar nanti pas lulus SMA juga nggak ketuaan." And just like that, I know I had made a mistake just by asking for their no-it-can-never-be-objective opinion.
Meskipun begitu, dengan berproses seperti ini gue jadi bisa melihat dengan lebih jelas, sih. Setidaknya jadi tau apa yang gue butuhkan: pendapat yang objektif. Gue nggak ngerasa perlu "jauh-jauh" mengontak pihak ketiga seperti psikolog untuk mendapat masukan, karena menurut gue yang tau banget gimana performansi Bumy di sekolah tidak lain ya pihak sekolah. Jadilah gue bikin janji sama Kepsek sekolah untuk membahas ini.
Sebagai bahan pertimbangan lain, sekolah Bumy ini punya program yang disebut "early elementary." Anak yang usianya sudah cukup masuk TK tapi nanggung (kayak Bumy), bisa berkesempatan 'menyicipi' pendidikan SD tanpa harus menunggu tahun ajaran baru. Pada bulan Januari 2016 nanti atau di tengah tahun akademik, jika anak dinilai sudah siap, maka dia bisa mulai ngikutin pelajaran SD.
The thing is, jam belajar SD itu lebih panjang 2 jam dibanding di TK. Dan karena SD-nya juga pakai metode dan kurikulum montessori, maka kelasnya mixed-age juga, di mana rentang usianya akan berkisar 6-9 tahun (CMIIW). Gue yang tadinya pede memandang kapabilitas anak, jadi mulai 'ciut' memikirkan efek yang timbul dari faktor-faktor ini. Kekhawatiran yang muncul antara lain khawatir Bumy overwhelmed sama materi pelajaran SD dan panjangnya durasi sekolah; juga khawatir Bumy stres karena tantangannya sekarang lebih besar, yaitu untuk bisa keep up sama anak-anak usia kelas 2 dan 3 SD - bukan cuma yang sebaya.
Jadi, jadi, ik mesti gimana??
Trus, apa aja, sih, sebenarnya tolak ukur kesiapan anak untuk masuk SD? Googling doang sih gampang ya, tapi 'kan gue juga butuh penilaian objektif terhadap Bumy.
Alhamdulillah, kesempatan yang dinanti-nanti tiba jua, gue bisa meeting dengan sang Kepsek. Hal yang pertama dibahas waktu itu soal bagaimana pandangan sekolah tentang kesiapan anak masuk SD. Dijelasin dulu kenapa Pemerintah Indonesia menjadikan syarat usia minimal anak untuk masuk SD itu 7 tahun, kalau gue nggak salah ingat, sebenarnya supaya anak sudah punya kesiapan secara emosional untuk duduk tenang mengikuti pembelajaran di sekolah. Bukan karena sudah 'matang' kemampuan kognitifnya (baca: lancar calistung). Abis itu beliau menjelaskan soal perkembangan otak anak, di mana di bawah 12 tahun itu baru area pre-frontal cortex yang berkembang. Bagian otak itu adalah yang mengolah nilai-nilai - mana yang benar yang salah, bukan yang mengolah kemampuan kognitif. Jadi sebenarnya tujuan pendidikan selama di TK adalah memperkenalkan anak pada nilai-nilai itu.
| gambar dari sini |
Dari diskusi ini, gue jadi tahu hal penting tentang bagaimana proses pendidikan anak usia dini dalam montessori. Di montessori, selama di TK anak dikenalkan pada bunyi-bunyian dan simbol-simbol yang akan menjadi dasar kesiapan baca dan tulis. Anak dikenalkan pada angka dan sistem desimal melalui material konkret untuk menunjukkan cara dan konsep berhitung. Anak juga belajar tentang bentuk tanah dan air, bentuk-bentuk geometris, negara-negara di dunia; bagian-bagian dari tumbuhan dan binatang, pun tentang musik dan seni, sesuai kecepatan masing-masing anak, sehingga anak akan menguasai suatu materi pada waktunya masing-masing.
Jadi, selama di TK inilah anak-anak disiapkan untuk "panen" saat SD kelak. Kemampuan baca, tulis, dan pemahaman matematika berkembang dari bibit-bibit yang ditanam selama di TK. Anak akan lulus dari TK dengan kemampuan akademik yang kuat; tapi yang lebih penting, dengan ATTITUDE bahwa belajar itu menyenangkan, seru, dan tanpa batas. (quoted from here)
Kata yang gue tulis dengan huruf kapital semua itu yang jadi kunci.
Kepsek kemudian menjelaskan bahwa challenge yang akan dihadapi anak saat usia SD kelak adalah kondisi fisiknya, di mana anak akan bergerak menuju pubertas. Dari segi fisik, Bumy dinilai udah nyaman sama fisiknya; kemampuan motorik, balance, fleksibilitas, spatial awareness dan koordinasinya berkembang dengan baik sehingga dia bisa leluasa bereksplorasi. Tapi yang perlu disiapkan untuk masuk SD bukan cuma itu.
Pada saat SD, anak diharapkan sudah menguasai kemampuan problem solving dan menyelesaikan konflik. Tentunya ini kemampuan yang levelnya di atas anak di TK; yang baru sampai pada bisa mengatur emosi ketika berinteraksi dengan teman-teman di kelasnya.
Kemampuan lain yang juga penting bagi anak SD adalah organizational skills. Anak SD nantinya perlu bisa membagi waktu sesuai prioritasnya. Anak juga perlu bisa membagi perhatian dan tenaganya untuk mengerjakan hal-hal di luar sekolah, seperti bikin tugas sekolah, ikut kegiatan olahraga, dan mengerjakan tugas (chores) di rumah.
Kalau anak digegas masuk SD sementara kemampuannya di area yang lain belum matang, dikhawatirkan anak akan menghadapi semua tantangan itu all at once.
Bergerak dari situ, Kepsek mengajak gue untuk sama-sama melihat Bumy sudah 'sampai di mana' dari segi kognitif maupun sosial-emosional, melalui laporan perkembangan anak yang diupdate setiap 3 bulan. Laporan ini sebenarnya bukan cuma tentang improvement anak, tapi menggambarkan scope penilaian setiap kemampuan, yang ternyata nggak sesempit yang gue kira.
Contohnya dalam kemampuan berbahasa, ternyata yang dinilai bukan cuma apakah anak sudah bisa casciscus berbahasa englais. Tolak ukur kemampuan ini dilihat dari
- perkembangan active listening skills anak
- apakah anak sudah bisa menggunakan bahasa untuk membagi ide dan pemikiran secara tepat dan sistematis
- menggunakan body language (eye contact, gesture) secara tepat
- clear pronounciation, hingga
- menggunakan nada suara dan kecepatan yang tepat saat berbicara.
Trus untuk kemampuan menulis, ternyata perkembangan anak dinilai bukan dari sebagus apa hasil tulisannya, tapi salah satunya apakah anak sudah bisa mengonstruksi kalimat sederhana secara grammatikal.
Kemampuan matematika dinilai bukan cuma dari bisa berhitung atau mengerti penambahan pengurangan perkalian pembagian, tapi juga apakah anak bisa memahami konsep volume, konsep waktu, dan konsep jam. Pun konsep uang, serta pengukuran.
Berkat menyimak laporan perkembangan dari sekolah ini, gue tersadarkan bahwa tolak ukur kemampuan anak itu ternyata nggak sesempit yang gue kira. Suatu kemampuan dinilai bukan cuma dari hasilnya, tapi juga dari aspek-aspek lain secara keseluruhan.
Lalu, dari laporan perkembangan anak yang disusun sekolah, gue jadi tahu bahwa ada satu kemampuan yang suka "dilupakan" karena emang nggak kasat mata, tapi ternyata penting banget. Kemampuan ini terkait bagaimana anak menyikapi tugas dan tantangan, yang gue tulis dengan huruf kapital semua tadi, yaitu WORKING ATTITUDE. Gue sebut tadi kalau inilah yang bisa jadi kunci atau penentu keberhasilan anak di SD - bahkan ke depannya kelak.
Apa saja yang diukur dalam kemampuan ini? Jadi, dilihat apakah anak...
- Menunjukkan kepercayaan diri
- Menunjukkan kemandirian
- Menunjukkan inisiatif
- Termotivasi dari dalam
- Becomes a self-directed learner
- Mencoba benda-benda baru atau tugas yang lebih menantang
- Berkonsentrasi saat bekerja
- Memerhatikan arahan dan presentasi guru
- Membuat keputusan
- Bisa mengeksplorasi berbagai material secara mandiri
- Bekerja tanpa mengganggu yang lain
- Mengerjakan tugas sampai selesai
- Hanya meminta tolong ketika benar-benar butuh
- Mampu menggunakan waktu dengan baik
- Mempraktikkan skills yang dipelajari
- Menghargai hasil pekerjaan orang lain
- Mampu mengikuti ground rules
Hasil observasi Bumy di kelas menunjukkan kalau dia sudah bisa memilih his own work alih-alih ngikutin temen. Tapi, dia masih suka enggan mengerjakan tugas yang lebih menantang. Fakta ini membuka mata gue banget, loh. Gue jadi sadar kalau mungkin selama ini Bumy termotivasi dari luar - entah itu supaya dapat pujian, hadiah, atau kekaguman dari teman atau guru - bukannya dari dalam. Mungkin selama ini gue juga yang secara langsung atau nggak langsung bikin dia terbiasa berfokus pada hasil, bukannya pada proses. Padahal, bagaimana dia bisa jadi self-directed learner tanpa motivasi intrinsik?
Bumy juga masih perlu belajar untuk mematuhi ground rules, dan mengatur waktunya dengan baik. Kadang dia nggak sempat melakukan kegiatan yang lain karena masih berkutat di satu aktivitas. Kebayang, sih, ini anak suka keasikan ngobrol atau main. -__-
Karenanya sekarang ini di TK, gurunya mengasah self-discipline-nya dengan membiasakan Bumy membuat rencana aktivitas harian. Bumy juga di-encourage untuk jadi contoh/role model yang baik untuk teman-temannya yang lebih kecil, dengan diberikan role tertentu di kelas, seperti jadi teacher's helper atau jadi imam saat sholat.
Menyadari masih banyak working attitude yang perlu diimprove, walhasil keraguan gue seketika hilang. Gue jadi sreg Bumy lebih lama di TK.
Tentunya gue bersyukur sekolah Bumy melakukan observasi terhadap kemampuan satu ini; karena in a way, tolak ukur dalam working attitude ini bisa memberikan arahan buat gue dalam mengasuh anak. Gue sadar kalau perlu belajar menumbuhkan motivasi anak, bukan cuma bikin dia jadi pengejar prestasi. Gue juga perlu lebih mendukung usaha anak untuk mandiri, mengatur waktu (!!!! tanda seru tiga biji karena gue sendiri manajemen waktunya masih ngaco, huhuhu), menghargai orang lain dan seterusnya. Simply because these are the things that really matter! Hal-hal inilah yang bikin diri anak 'lengkap'; sehingga anak bukannya jadi jago matematika/lukis/nulis/apalah tapi nggak punya life skills untuk bisa mandiri. Bukannya kaya-raya tapi merasa hampa karena nggak punya tujuan hidup.
Ini bukan tugas yang mudah pastinya, tapi tetap perlu dijalani.
"Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas." - Ki Hadjar Dewantara