28/05/2015

is faster always better?

gambar dari sini
Kemarin ini, gue sempat berniat untuk memasukkan Bumy ke SD lebih cepat dari yang seharusnya. Tepatnya tahun ini, pas umur dia belum genap 6 tahun. Beberapa hal yang jadi pertimbangan antara lain:

- Bumy lahir di bulan "nanggung" kalau dilihat dari kalender akademik, yaitu di bulan November. Tahun ajaran ini usianya 5,5 tahun, cuma kurang sedikit dari syarat umur minimum untuk masuk SD (6 tahun). Berhubung di sekolah montessori kelasnya pakai sistem mixed-age, jadi Bumy sekelas sama teman-teman yang rentang usianya mulai dari 3 sampai 6 tahun. Nah, kebetulan sohib-sohibnya kebanyakan udah berusia 6 tahun dan bakalan masuk SD tahun ini. Karena itulah dia jadi kepengen masuk SD juga; precisely he said, "Bumy mau (masuk) SD juga, ma, biar bareng sama X, Y, Z!"
Kok seolah gue mendukung anak supaya ikut-ikutan, yaah. To be honest, gue dan Adit belum mengiyakan atau membantah keinginannya itu, sih, tapi ini jadi hal yang kita pertimbangkan. Apalagi ada semacam kekhawatiran kalau... (lanjut ke poin berikutnya)

- Seandainya dia 'dibiarkan' tetap di TK, gue khawatir dia nggak terstimulasi secara optimal. Gue pribadi beranggapan kemampuan dia udah cukup untuk masuk SD. Kemampuan apa sajakah? Yang terlihat secara 'kasat mata' aja, sih, yaitu kemampuan kognitif dan perkembangan sosial-emosionalnya. Kemampuan calistungnya di mata gue udah cukup - terlebih karena sebelum masuk sekolah ini dia nggak bisa baca-tulis sama sekali, tapi hanya dalam satu term, dia bisa keep up. 
Yang bikin kagum, cara mengajarkan calistung di sini nggak pakai drilling atau metode yang bikin anak setres, melainkan sambil bermain dan dengan bantuan apparatus montessori. Jadi gue pikir ke depannya insya Allah dia nggak menemui kesulitan.
Kalau dari segi perkembangan sosial-emosional, one thing for sure, making friends is an easy-peasy business for him (baca: anaknya sok akrab beneuur). Dia udah bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara jelas, trus juga bisa mengikuti proses belajar dan berinteraksi dengan positif di lingkungan sekolah. Simply by knowing this membuat gue yakin dia sanggup-sanggup aja masuk SD.
Namun, kembali ke soal under-stimulated yang gue sebut tadi, takutnya dia jadi nggak termotivasi kalau masih di TK tahun ini karena a) materi anak TK jadinya udah terlalu 'gampang' buat dia, atau b) dia merasa seolah 'ditinggal' teman-temannya di TK.

Karena itulah, gue yang tadinya yakin dan nyaman aja terhadap gagasan menyekolahkan Bumy ke SD saat usianya udah cukup, sekarang jadi agak goyah. Gue tanya Adit, dia sih mendukung aja kalo Bumy mau dimasukin SD sekarang. Gue tanya bokap-nyokap, jawaban mereka saling mengontradiksi (as always, kapan sih mereka seiya-sekata selain kalau lagi nyalah-nyalahin gue? #tercurcol). Bokap bilang, "Jangan! Biarin Bumy puas main dulu di TK! Lagian nanti kayak kamu, lagi. Dimasukin SD umur 5,5 tahun jadinya nggak dewasa." And whose fault was that, yah??! Zzzz. -___-
Kalo nyokap komentarnya, "Nggak apa-apa! Bagus Bumy masuk SD, biar nanti pas lulus SMA juga nggak ketuaan." And just like that, I know I had made a mistake just by asking for their no-it-can-never-be-objective opinion.

Meskipun begitu, dengan berproses seperti ini gue jadi bisa melihat dengan lebih jelas, sih. Setidaknya jadi tau apa yang gue butuhkan: pendapat yang objektif. Gue nggak ngerasa perlu "jauh-jauh" mengontak pihak ketiga seperti psikolog untuk mendapat masukan, karena menurut gue yang tau banget gimana performansi Bumy di sekolah tidak lain ya pihak sekolah. Jadilah gue bikin janji sama Kepsek sekolah untuk membahas ini.
Sebagai bahan pertimbangan lain, sekolah Bumy ini punya program yang disebut "early elementary." Anak yang usianya sudah cukup masuk TK tapi nanggung (kayak Bumy), bisa berkesempatan 'menyicipi' pendidikan SD tanpa harus menunggu tahun ajaran baru. Pada bulan Januari 2016 nanti atau di tengah tahun akademik, jika anak dinilai sudah siap, maka dia bisa mulai ngikutin pelajaran SD.
The thing is, jam belajar SD itu lebih panjang 2 jam dibanding di TK. Dan karena SD-nya juga pakai metode dan kurikulum montessori, maka kelasnya mixed-age juga, di mana rentang usianya akan berkisar 6-9 tahun (CMIIW). Gue yang tadinya pede memandang kapabilitas anak, jadi mulai 'ciut' memikirkan efek yang timbul dari faktor-faktor ini. Kekhawatiran yang muncul antara lain khawatir Bumy overwhelmed sama materi pelajaran SD dan panjangnya durasi sekolah; juga khawatir Bumy stres karena tantangannya sekarang lebih besar, yaitu untuk bisa keep up sama anak-anak usia kelas 2 dan 3 SD - bukan cuma yang sebaya.

Jadi, jadi, ik mesti gimana??
Trus, apa aja, sih, sebenarnya tolak ukur kesiapan anak untuk masuk SD? Googling doang sih gampang ya, tapi 'kan gue juga butuh penilaian objektif terhadap Bumy.

Alhamdulillah, kesempatan yang dinanti-nanti tiba jua, gue bisa meeting dengan sang Kepsek. Hal yang pertama dibahas waktu itu soal bagaimana pandangan sekolah tentang kesiapan anak masuk SD. Dijelasin dulu kenapa Pemerintah Indonesia menjadikan syarat usia minimal anak untuk masuk SD itu 7 tahun, kalau gue nggak salah ingat, sebenarnya supaya anak sudah punya kesiapan secara emosional untuk duduk tenang mengikuti pembelajaran di sekolah. Bukan karena sudah 'matang' kemampuan kognitifnya (baca: lancar calistung). Abis itu beliau menjelaskan soal perkembangan otak anak, di mana di bawah 12 tahun itu baru area pre-frontal cortex yang berkembang. Bagian otak itu adalah yang mengolah nilai-nilai - mana yang benar yang salah, bukan yang mengolah kemampuan kognitif. Jadi sebenarnya tujuan pendidikan selama di TK adalah memperkenalkan anak pada nilai-nilai itu.


gambar dari sini

Dari diskusi ini, gue jadi tahu hal penting tentang bagaimana proses pendidikan anak usia dini dalam montessori. Di montessori, selama di TK anak dikenalkan pada bunyi-bunyian dan simbol-simbol yang akan menjadi dasar kesiapan baca dan tulis. Anak dikenalkan pada angka dan sistem desimal melalui material konkret untuk menunjukkan cara dan konsep berhitung. Anak juga belajar tentang bentuk tanah dan air, bentuk-bentuk geometris, negara-negara di dunia; bagian-bagian dari tumbuhan dan binatang, pun tentang musik dan seni, sesuai kecepatan masing-masing anak, sehingga anak akan menguasai suatu materi pada waktunya masing-masing.

Jadi, selama di TK inilah anak-anak disiapkan untuk "panen" saat SD kelak. Kemampuan baca, tulis, dan pemahaman matematika berkembang dari bibit-bibit yang ditanam selama di TK. Anak akan lulus dari TK dengan kemampuan akademik yang kuat; tapi yang lebih penting, dengan ATTITUDE bahwa belajar itu menyenangkan, seru, dan tanpa batas. (quoted from here)
Kata yang gue tulis dengan huruf kapital semua itu yang jadi kunci.

Kepsek kemudian menjelaskan bahwa challenge yang akan dihadapi anak saat usia SD kelak adalah kondisi fisiknya, di mana anak akan bergerak menuju pubertas. Dari segi fisik, Bumy dinilai udah nyaman sama fisiknya; kemampuan motorik, balance, fleksibilitas, spatial awareness dan koordinasinya berkembang dengan baik sehingga dia bisa leluasa bereksplorasi. Tapi yang perlu disiapkan untuk masuk SD bukan cuma itu.
Pada saat SD, anak diharapkan sudah menguasai kemampuan problem solving dan menyelesaikan konflik. Tentunya ini kemampuan yang levelnya di atas anak di TK; yang baru sampai pada bisa mengatur emosi ketika berinteraksi dengan teman-teman di kelasnya.
Kemampuan lain yang juga penting bagi anak SD adalah organizational skills. Anak SD nantinya perlu bisa membagi waktu sesuai prioritasnya. Anak juga perlu bisa membagi perhatian dan tenaganya untuk mengerjakan hal-hal di luar sekolah, seperti bikin tugas sekolah, ikut kegiatan olahraga, dan mengerjakan tugas (chores) di rumah.
Kalau anak digegas masuk SD sementara kemampuannya di area yang lain belum matang, dikhawatirkan anak akan menghadapi semua tantangan itu all at once.

Bergerak dari situ, Kepsek mengajak gue untuk sama-sama melihat Bumy sudah 'sampai di mana' dari segi kognitif maupun sosial-emosional, melalui laporan perkembangan anak yang diupdate setiap 3 bulan. Laporan ini sebenarnya bukan cuma tentang improvement anak, tapi menggambarkan scope penilaian setiap kemampuan, yang ternyata nggak sesempit yang gue kira.

Contohnya dalam kemampuan berbahasa, ternyata yang dinilai bukan cuma apakah anak sudah bisa casciscus berbahasa englais. Tolak ukur kemampuan ini dilihat dari
- perkembangan active listening skills anak
- apakah anak sudah bisa menggunakan bahasa untuk membagi ide dan pemikiran secara tepat dan sistematis
- menggunakan body language (eye contact, gesture) secara tepat
- clear pronounciation, hingga
- menggunakan nada suara dan kecepatan yang tepat saat berbicara.

Trus untuk kemampuan menulis, ternyata perkembangan anak dinilai bukan dari sebagus apa hasil tulisannya, tapi salah satunya apakah anak sudah bisa mengonstruksi kalimat sederhana secara grammatikal.
Kemampuan matematika dinilai bukan cuma dari bisa berhitung atau mengerti penambahan pengurangan perkalian pembagian, tapi juga apakah anak bisa memahami konsep volume, konsep waktu, dan konsep jam. Pun konsep uang, serta pengukuran.

Berkat menyimak laporan perkembangan dari sekolah ini, gue tersadarkan bahwa tolak ukur kemampuan anak itu ternyata nggak sesempit yang gue kira. Suatu kemampuan dinilai bukan cuma dari hasilnya, tapi juga dari aspek-aspek lain secara keseluruhan.
Lalu, dari laporan perkembangan anak yang disusun sekolah, gue jadi tahu bahwa ada satu kemampuan yang suka "dilupakan" karena emang nggak kasat mata, tapi ternyata penting banget. Kemampuan ini terkait bagaimana anak menyikapi tugas dan tantangan, yang gue tulis dengan huruf kapital semua tadi, yaitu WORKING ATTITUDE. Gue sebut tadi kalau inilah yang bisa jadi kunci atau penentu keberhasilan anak di SD - bahkan ke depannya kelak.

Apa saja yang diukur dalam kemampuan ini?
Jadi, dilihat apakah anak...
- Menunjukkan kepercayaan diri
- Menunjukkan kemandirian
- Menunjukkan inisiatif
- Termotivasi dari dalam
- Becomes a self-directed learner
- Mencoba benda-benda baru atau tugas yang lebih menantang
- Berkonsentrasi saat bekerja
- Memerhatikan arahan dan presentasi guru
- Membuat keputusan
- Bisa mengeksplorasi berbagai material secara mandiri
- Bekerja tanpa mengganggu yang lain
- Mengerjakan tugas sampai selesai
- Hanya meminta tolong ketika benar-benar butuh
- Mampu menggunakan waktu dengan baik
- Mempraktikkan skills yang dipelajari
- Menghargai hasil pekerjaan orang lain
- Mampu mengikuti ground rules

Hasil observasi Bumy di kelas menunjukkan kalau dia sudah bisa memilih his own work alih-alih ngikutin temen. Tapi, dia masih suka enggan mengerjakan tugas yang lebih menantang. Fakta ini membuka mata gue banget, loh. Gue jadi sadar kalau mungkin selama ini Bumy termotivasi dari luar - entah itu supaya dapat pujian, hadiah, atau kekaguman dari teman atau guru - bukannya dari dalam. Mungkin selama ini gue juga yang secara langsung atau nggak langsung bikin dia terbiasa berfokus pada hasil, bukannya pada proses. Padahal, bagaimana dia bisa jadi self-directed learner tanpa motivasi intrinsik?

Bumy juga masih perlu belajar untuk mematuhi ground rules, dan mengatur waktunya dengan baik. Kadang dia nggak sempat melakukan kegiatan yang lain karena masih berkutat di satu aktivitas. Kebayang, sih, ini anak suka keasikan ngobrol atau main. -__-
Karenanya sekarang ini di TK, gurunya mengasah self-discipline-nya dengan membiasakan Bumy membuat rencana aktivitas harian. Bumy juga di-encourage untuk jadi contoh/role model yang baik untuk teman-temannya yang lebih kecil, dengan diberikan role tertentu di kelas, seperti jadi teacher's helper atau jadi imam saat sholat.
Menyadari masih banyak working attitude yang perlu diimprove, walhasil keraguan gue seketika hilang. Gue jadi sreg Bumy lebih lama di TK. 

Tentunya gue bersyukur sekolah Bumy melakukan observasi terhadap kemampuan satu ini; karena in a way, tolak ukur dalam working attitude ini bisa memberikan arahan buat gue dalam mengasuh anak. Gue sadar kalau perlu belajar menumbuhkan motivasi anak, bukan cuma bikin dia jadi pengejar prestasi. Gue juga perlu lebih mendukung usaha anak untuk mandiri, mengatur waktu (!!!! tanda seru tiga biji karena gue sendiri manajemen waktunya masih ngaco, huhuhu), menghargai orang lain dan seterusnya. Simply because these are the things that really matter! Hal-hal inilah yang bikin diri anak 'lengkap'; sehingga anak bukannya jadi jago matematika/lukis/nulis/apalah tapi nggak punya life skills untuk bisa mandiri. Bukannya kaya-raya tapi merasa hampa karena nggak punya tujuan hidup.
Ini bukan tugas yang mudah pastinya, tapi tetap perlu dijalani.


"Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas." - Ki Hadjar Dewantara

27/05/2015

thank you, polly

"It's a luxury, to sit and write every day.
Am I changing the world? Should I have done more by now? Those questions are just needless noise, like the cheap click of that boom box.
If I AM a failure, then being a failure fucking rules, because here I am, right now, doing what I love."

- from a "Dear Polly" column.

24/05/2015

how to learn like japanese

Beberapa minggu lalu, ibu-ibu ortu murid sekolah Bumy ngadain semacam seminar. Kecil-kecilan aja, sih. Diadainnya juga di rumah salah seorang ortu. Kebetulan seorang ibu berinisiatif mengundang temen-temennya yang pernah tinggal sekaligus jadi guru di Jepang, tujuannya tak lain untuk sharing seperti apa, sih, sistem pendidikan dan juga pengasuhan yang diterapkan di sana. Gue sendiri penasaran karena udah sering banget 'kan tuh dibahas soal betapa okenya sistem yang dianut masyarakat Jepang.

Bukti dari pengasuhan dan pendidikan itu juga kentara banget di perilaku orang-orangnya; yang paling membuat gue terkesan terutama pas liat betapa positifnya attitude masyarakat Jepang pasca gempa yang menyebabkan tsunami tahun 2011 lalu.
Seperti banyak diangkat di artikel-artikel yang banyak beredar waktu itu, diceritain meskipun dalam kondisi kena musibah dan pasca gempa mereka kedinginan dan kelaparan, tapi nggak terjadi penjarahan. Rakyatnya tetap ngantri ketika menerima bantuan, dan nggak ada sikap menangisi nasib atau memohon bantuan. Mereka tetap disiplin, tenggang rasa, sabar, dan yang paling 'khas' Jepang: tetap berjuang. Kayak slogan "Gambaru" yang sering gue baca di komik-komik, yang ternyata berasal dari istilah “Gambaru shika nai” yang berarti “hanya bisa dengan berusaha.”


video yang menunjukkan rasa terima kasih rakyat Jepang atas bantuan dari negara-negara lain saat bencana tsunami. bikin terharu sekaligus kagum banget.

Ibu yang ngusulin seminar ini adalah teh Ifa @alyahzie, yang padahal anaknya udah nggak sekolah di GMS lagi cuma emang masih aktif di grup WA ortu murid. Grup WA tersebut emang masih 'diramaikan' sama para alumni sekolah; menguntungkan buat orang baru kayak gue gini, karena jadi bisa dapet info dan insight dari orang lama seputar sekolah hehe.
Nah, ketika acara ini akhirnya dimulai, diperkenalkanlah beberapa orang narasumbernya. Ada 3 orang, cuma yang 1 orang kok nampak familiar, yaa... Dan kebetulan si ibu yang nampak familiar ini dapat giliran prensentasi pertama. Begitu beliau cerita sedikit tentang background dan keluarganya, gue baru ngeh... ternyata doi seorang seleb blog yang suka gue baca blognya, yaitu Sekar W. Prasetya alias Miss Tya ourwedjournal.blogspot.com
Ternyata orangnya maniezt banget, lho, hahaha *starstruck* udah gitu cara menjelaskannya juga jelas dan menarik banget - well, namapun ibu guru, yah. tapi guru atau dosen yang bisa menjelaskan sesuatu dengan enak juga nggak banyak, 'kan.

Pada segmennya, Miss Tya (dipanggil gini aja, deh *salim*) nyeritain soal gimana metode pendidikan yang diterapkan kepada anak-anak usia preschool dan TK di Jepang. Gue ngeh kalau dia pernah berbagi tentang betapa mandiri anak-anak di Jepang di Mommies Daily, tepatnya di artikel ini. Selama di sana, anak-anak beliau dititipkan di daycare (hoikuen) dari jam 7 pagi sampai 7 malam. Dari situlah dia dapat banyak insight tentang cara mengasuh a la Jepang yang ternyata mengandung banyak value positif.
Berhubung gue kemaren menyimak presentasinya nggak sambil tekun mencatat (sedang mencoba mengurangi multitasking demi ke-zen-an batin, kekeke - red), jadi gue coba tuangkan poin-poin yang nyantol di otak, yah.


gambar dari sini

- Hal pertama yang diceritain Miss Tya adalah bagaimana orangtua sangat "dimanjakan" oleh pemerintah Jepang. Sebenarnya ini bisa dibilang wujud pemerintah negara tersebut memfasilitasi rakyatnya, ya. Tapi kalau dibandingkan kondisi di Indonesia, beuh kastanya jauh banget. Para orangtua di Jepang dilimpahi banyak kemudahan dan insentif. Contohnya, ketika kita punya anak, kita akan mendapat semacam subsidi selaku orangtua baru, dengan nominal yang lumayan banget - sekian belas juta gitulah.

Udah gitu, sekolah negeri di sana semuanya gratis. Orangtua nggak perlu khawatir mencari sekolah, karena lokasi sekolah anak akan diarahkan sesuai "rayon"nya, dicarikan yang dekat dari tempat tinggal. Selain itu, orangtua juga nggak perlu pusing milih-milih sekolah, karena mutu semua sekolah di penjuru negeri itu sama, setara. Seandainya anak mau dimasukin ke daycare atau sekolah, lagi-lagi ortu juga nggak usah pusing nyari, hanya tinggal melapor ke kantor kelurahan yang akan mencarikan daycare atau sekolah mana yang ada 'lowongan.'

Wujud privilege lain yang bisa dinikmati orangtua di antaranya cuti melahirkan selama 6 bulan (*glek!) dan juga ada cuti setengah hari khusus untuk menyaksikan performance anaknya di sekolah. Hahahha... gimana nggak takjub? Sampai hal begini aja dipikirin oleh pemerintah Jepang! Orangtua nggak perlu repot nyari cuti dari kantor, atau menghadapi dilema menghadiri acara anak versus urusan kantor, karena udah ada cuti khusus untuk itu!


gambar dari sini
- Value yang paling menonjol dari pola asuh dan didik Jepang adalah penekanan pada kemandirian. Seperti yang diceritain di artikel Mommies Daily tadi, anak usia 2 tahun diharapkan udah bisa makan sendiri, lalu usia 3-4 tahun diharapkan udah bisa mandi dan merapikan barang-barang pribadinya sendiri. Miss Tya cerita gimana anaknya bisa menggelar alas tidur lalu melipatnya sendiri selama di daycare. Nah, untuk bagian yang ini, gue (dan ibu-ibu yang lain) bisa agak tenang, soalnya sekolah anak-anak juga menerapkan hal yang sama. Anak-anak udah dibiasain untuk unpacking dan packing barang-barangnya sendiri selama di sekolah; mulai dari sepatu, sandal, snack box, baju ganti dan sajadah (plus mukena buat yang cewek) untuk sholat setiap hari di sekolah. Anak-anak juga diajarkan hal-hal practical di dunia nyata seperti mencuci piring, tidying up after meal, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan (ngelap, nyapu, ngepel and the likes). PR-nya tinggal gimana konsisten menanamkan sikap-sikap mandiri itu di luar sekolah, yang mana justru ini yang suka kelewat, hehe.
Pada praktiknya, kalo ngeliat anak makannya lammma, kita gampang banget menukas "Sini mama suapin aja, deh!"
Begitupun ketika anak mau pake baju sendiri, mau pake sepatu sendiri, atau mau mandi sendiri, kita sendiri yang suka menyabotase usaha mereka buat belajar mandiri itu dengan alasan "nggak tega" atau (yang paling sering, nih) "nggak sabaran." *tersipu-sipu*


gambar dari sini
- Sekolah di Jepang juga sangat memerhatikan soal nutrisi. Miss Tya cerita kalau anaknya sempat disuruh diet pada beberapa bulan pertama masuk sekolah! Padahal, di sini orangtua berlomba-lomba menggendutkan anaknya (termasuk gue, beda tipis sekilo sampai setengah kilo sama anak sebaya aja rasanya bangga beneuur).
Sementara di Jepang, makanan yang disajikan untuk anak diukur sampai ke gramnya. Dalam penyajian makanan sehari-hari, porsi serat jauh lebih banyak dibandingkan unsur gizi yang lain. Apa aja, sih, makanan mengandung serat yang biasa dikasihkan ke anak? Selain sayur-mayur, pastinya ya buah, juga jelly. Untuk protein, orang Jepang banyak mengonsumsi protein nabati, daging putih dan ikan, sementara daging merah cuma dikasihkan 2 kali per minggu. Snack ya tetep ada, tapi bedanya, dipilih yang "sehat" kayak makanan kukusan atau rebusan, macam ubi jepang, zukini, atau kacang-kacangan kayak edamame gitu. Porsi nasi juga sedikit, beda banget sama di sini... emak-emak macam gue galau kalo anak makan nasinya dikit. xD
Oh ya miss Tya juga nyeritain 'trik' yang dipakai di sekolah Jepang supaya anak doyan sayur. Makanan untuk anak 'kan disajikan dalam cups atau mangkok-mangkok kecil gitu, yang dipisahkan sesuai jenis makanannya. Ketika tiba saatnya makan besar, makanan yang dihidangkan pertama ke anak adalah SAYURAN. Jadi, ketika anak lagi lapar-laparnya setelah beraktivitas, pilihan pertama dia ya cuma sayur... wajar 'kan kalau sayur tersebut akan dimakan dengan lahap. Setelah itu baru yang lain-lain menyusul - kalau gue nggak salah ingat, nasi akan diberikan belakangan. Emang, sih, kandungan nasi (putih terutama) banyakan gulanya, jadi nggak diperlukan banyak-banyak oleh tubuh. Udah tau, tapi tetep aja susah ngubah kebiasaan nyidukin nasi banyak-banyak ke piring anak xD

- Materi pengajaran sehari-hari di sekolah Jepang banyak diisi dengan musik dan olahraga. Porsi untuk kedua materi ini bahkan seimbang dengan materi yang menstimulasi kemampuan kognitif anak macam math, language atau science. Orang Jepang percaya kalau otak perlu distimulasi secara seimbang, I guess, and that's a good point. Miss Tya cerita kalau ekskul anak-anak sana biasanya non-akademik, seperti les musik dan olahraga. Kursus akademik macam Kum*n gitu sifatnya cuma tambahan, dan anak hanya di-drill di materi tertentu di mana dia perlu improvement. Hmm... agak beda, sih, ya sama di sini.
Tapi, bukan berarti anak-anak TK di sana nggak diajarin baca, nulis dan berhitung. Tetap diajarkan, tapi lagi-lagi nggak di-drill, melainkan pakai cara yang menyenangkan dan sambil main-main, jadi anak nggak merasa sedang belajar. Bahkan di Jepang sana, anak-anak juga belajar aksara Kanji, loh, yang ribet dan suseh menurut Miss Tya, tapi ternyata anak-anak nggak pake stres memelajarinya. Berkaca dari pengalaman, metode seperti ini mirip seperti yang diterapkan di sekolah montessori.
Semakin jauh Miss Tya bercerita tentang metode pendidikan, gue menemukan semakin banyak kemiripan dengan montessori. Misalnya bagaimana pada tiap semester, orangtua akan diundang ke sekolah untuk merasakan bagaimana anak bersekolah sehari-hari. Saat itu, orangtua bahkan bisa melihat sampai ke proses makanan disiapkan, sehingga bisa yakin kalau makanan yang disediakan itu higienis. Mau nggak mau ini mengingatkan gue sama kegiatan yang mirip diadain di sekolah montessori, seperti gue ceritakan di blogpost ini.
Hal lain yang mirip, rasio anak dengan guru, yaitu 2 guru menghandle 30 anak pada kelas yang isinya anak-anak mulai dari usia 3 tahun. Berhubung anak sudah diajarkan dan dibiasakan mandiri, maka kondisi tersebut nggak jadi masalah. Kalau ada kejadian anak let's say kejedot atau jatuh ketika main, orangtua di Jepang juga cenderung pengertian. Namapun mata guru cuma sepasang - lagian ketika anak sedang berada dalam pengawasan orangtuanya sendiri aja suka jatuh, bukan.

- Contoh kasus anak jatuh itu berkaitan dengan gimana cara guru di sana menyelesaikan konflik. Miss Tya nyeritain gimana sikap guru ketika anaknya digigit sama temen sekelasnya. Pertama-tama, seperti sudah sewajarnya, si guru meminta maaf, tapi corrective actionnya nggak berhenti di situ. Guru lalu memfasilitasi pertemuan antara Miss Tya dengan ortu murid yang menggigit itu. Dibikinlah beberapa kali pertemuan, untuk selanjutnya disusun langkah-langkah usaha yang akan dan sudah dilakukan oleh masing-masing pihak terkait masalah ini. Sampai beberapa bulan kemudian, guru anaknya masih akan mem-follow up, lho, dengan nanya kabar sekaligus tindakan yang udah diambil oleh para ortu murid. Kata Miss Tya, bahkan guru itu masih suka meminta maaf atas kesilapannya padahal udah lewat berbulan-bulan, ehehe... jadi kepikiran kok bangsa Jepun ini amanah bangeet, yah, sama jabatan.

Lalu, gimana cara guru menghandle kelakuan anak yang 'salah?' Dari cerita Miss Tya, ketika anak berbuat salah dan dilihat guru, cara guru menanganinya adalah anak dibikin sadar akan efek tindakannya terhadap orang lain. Jadi guru bukan yang langsung menghakimi kesalahan, melainkan mengajak anak berpikir apa dampak dan konsekuensi dari tindakannya. 

Dari semua poin yang udah dipaparkan itu, gue jadi bisa menyimpulkan kalau 'modal' untuk membiasakan anak berlaku mandiri bukan rasa tega (haha) tapi kayak kaya Miss Tya, anak harus dibiarkan... dibiarkan mencoba, dibiarkan bikin salah, dan karenanya dibiarkan belajar.
Kita juga perlu percaya sama prosesnya. Miss Tya cerita gimana anak-anak kecil di Jepang biasa lelarian tanpa dilarang-larang, atau ketika di playground, mereka dibiarkan main di monkey bar yang tinggi tanpa sedikit-sedikit diteriakin sama orangtuanya. Bedalah sama kecenderungan ortu di sini - setidaknya dari pengamatan gue saat nganterin Bumy ke playground, yah, hehe.


gambar dari sini
Lastly, semua nilai-nilai itu gue rasa bisa sukses ditanamkan karena udah didukung dengan sistem yang well-managed juga. Kayak di artikel MD tadi, dijelasin kalau anak usia mulai dari 6 tahun udah bisa berangkat dan pergi ke sekolah sendiri. Rada ngeri yaah kalo diterapin di sini... padahal bukan berarti di Jepang sana nggak ada kriminalitas, tapi hal itu bisa terjadi karena 1) Sistem transportasi umumnya sudah memadai, 2) Dibuat sistem yang bisa memungkinkan itu terjadi, seperti dibuat kelompok jadi anak nggak pulang-pergi sendirian, trus anak dilengkapi peluit tanda bahaya, juga ada relawan yang tugasnya menjaga area yang mungkin berbahaya buat anak-anak, seperti di pertigaan yang nggak ada lampu merahnya.
Kalau sudah ada infrastruktur yang sedemikian mantap, otomatis orangtua juga bisa tenang, 'kan.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh 2 narasumber lain yang punten banget gue lupa namanya T__T Yang jelas mereka menceritakan tentang sistem pendidikan pada level SD dan SMP. Secara garis besar paparannya sama, yaitu orang Jepang sangat berpegang pada value, dan sistem pendidikannya menstimulasi anak untuk belajar dengan cara yang menyenangkan. Anak selalu di-encourage untuk bereksplorasi; contohnya di dalam kelas Matematika, guru akan menyuguhkan sebuah persoalan, tapi nggak mencekoki anak dengan cara menjawab atau bahkan jawabannya. Murid dibiarkan mencari caranya sendiri untuk mendapatkan jawaban. Menurut gue dari situ, setiap hasil pemikiran individu dihargai, begitupun prosesnya. Anak akan termotivasi dari dalam alih-alih termotivasi untuk dapat jawaban yang benar dan nilai 100 semata.  


gambar dari sini.
All in all, it's a very cool insight. Gue sendiri jadi semakin yakin akan pilihan menyekolahkan Bumy di sekolah berbasis kurikulum montessori, insya Allah sampai level SD dan pendidikan menengah kalau bisa. Kudos untuk teh Ifa yang menggagas acara ini, juga para narasumber yang sudi meluangkan waktu dan berbagi ilmu.

PS
: Berhubung gue udah keburu cabut sebelum acara benar-benar kelar (pas lagi makan-makan, silaturahim, dan sesi foto-foto lebih tepatnya) jadi nggak ada 'eviden' foto-foto kebersamaan, hehehe. Yang jelas ilmunya sangat membekas di hati, kok, and I guess that's what really matters, right?

Oh ya, mohon maaf seandainya ada kesalahan pada "reportase" gue ini, ya. Maklum, sengaja nggak tekun mencatat biar bisa paham dan meresap ke hati, hehehe.

15/05/2015

on being vulnerable

gambar dari sini
it's been a while since i last updated this blog. in case anyone notice, hehehe.
i just lost the mood to ramble. atau lebih tepatnya, untuk mencurahkan isi hati dan pikiran sambil (berharap) dibaca orang. meski begitu, ada sesuatu yang gue sadari dari fase 'mogok' ngeblog kemaren, yaitu bahwa gue tipe orang yang mengkurasi bagaimana citra gue di mata orang lain. well, yeah, pretty much like most people in this socmed era, actually. gue cuma menunjukkan bagian diri gue yang acceptable; yang normal dan baik-baik saja. malah mungkin yang bisa 'mengesankan' di mata orang lain.
ketika gue lagi mumet atau generally feeling low seperti kemarin, i prefer to keep that part unseen. hidden. nggak diketahui orang lain, jadi gue nggak perlu mengakuinya, and just keep hoping it's only a phase that would soon pass.
but then i realize, that if i want to accept myself the way i am and if i want to learn to grow, then i need to deal with those weaknesses, or things that i perceive as weaknesses. so maybe by mentioning that i went through that phase of "not being okay" here, it can be one of the little steps to be better. i was a mess, yet i'm fine now, and that's just how human lives.

anyway, april was kind of a blur. i just kept moving from one gloomy feeling to another depressive mood and so on and so forth. kalau diingat-ingat apa aja yang terjadi, gue jadi bisa memahami sih kenapa sampe muram banget rasanya bulan itu.
Bumy sempat nggak masuk sekolah berhari-hari karena flu, nggak lama kemudian tiba-tiba mengeluh kakinya sakit. ternyata sendinya semacam bergeser and it took almost a week to recover. masih 'cuti' sekolah, ternyata sakitnya lanjut dengan demam tinggi beberapa hari karena ISPA. gue nggak sempat olahraga karena badan tepar dan literally nggak punya waktu. selain merawat anak yang sakit, gue juga harus bolak-balik ke kantor telkom slipi karena tau-tau dikabarin cuti gue nggak bisa diperpanjang. pihak HR yang terhormat (but no so resourceful it turned out) sendiri baru tau ada peraturan kalo perpanjangan cuti hanya boleh diajukan SATU KALI. jadi ya bubar jalanlah seluruh strategi gue untuk satu tahun ke depan. tadinya gue pikir bisa mengajukan balik kerja lagi bersamaan dengan Bumy udah masuk SD nanti. tapi ternyata sekarang opsi gue cuma mengajukan penempatan kembali jadi karyawan. sementara begitu dulu langkahnya. ini juga udah seminggu berlalu dan belum kunjung ada kabar dari HR telkom. kalo nanti ternyata ditempatin bukan di kantor wilayah Jaksel (yang mana kemungkinannya pun kecil banget), ya berarti harus resign dadah babay dari telkom. atau kalo ternyata nggak diterima untuk balik jadi karyawan lagi (there's a possibility, the HR assured), ya emang harus dadah babay juga, sih.


membeberkannya seperti ini terasa ringan aja, tapi pas menjalani proses ngambil keputusannya, beuh mumet banget. mikirin pro-kontra yang nggak abis-abis, berdebat sama adit, dan tentunya juga gundah gulana karena gue khawatir nggak punya safety net lagi berupa status employment di sebuah perusahaan BUMN besar. tapi seiring waktu, gue sadarin kalo gue emang perlu melewati semua kegundahgulanaan itu. pasti ada sesuatu yang Allah mau benamkan ke diri gue lewat hal-hal nggak enak ini. because sometimes the gift of God isn't wrapped the way you want it to be.

dan ternyata, hal tersulit dari menjalani hari-hari yang muram bukan cuma berusaha melaluinya - dengan selamat. tapi juga gimana biar bisa tetap "produktif" dan tetap memenuhi tugas-tugas yang sudah jadi kewajiban. i was kind of stuck for days, nggak tau mau nulis apa. males ngapa-ngapain. berkubang.
tapi syukurlah pelan-pelan datang kesadaran...
salah satunya bahwa mungkin the demons aren't out there in the big bad world, ever-ready to struck me with their sharp claws; but within me. yang bikin gue jadi nggak produktif atau berkubang, ya diri gue sendiri. bukan keadaan atau siapa-siapa.

jadi, saat ini gue bisa bilang kalau gue baik-baik aja. i'm allright. "pencapaian" kecil seperti berhasil menyelesaikan artikel, atau berhasil berpikir dulu sebelum bereaksi, hal-hal itu yang bikin gue yakin kalau fase muram ini sebenernya kesempatan buat gue menjadi lebih baik. seperti layaknya kesempatan, sometimes it only passes once and that's your only chance to grab it. so i'm thankful for it. 

by the way i was writing this while randomly listening to playlists people put on 8tracks. lalu tiba-tiba lagu ini terdengar. it's "no surprises" by radiohead. lucunya, mungkin udah 2-3 tahun ini gue nggak mau dengerin lagu-lagu radiohead lagi. i still like the music, but i just avoid listening to their songs. because i find them so depressing! 
but, what are the odds, having gone through some gloomy days, now i perceive this particular song as a breath of fresh air. i still think the lyrics is depressing, but it speaks to me... dearly. it feels like the song is one rare being that understands what i've been through.



no alarms and no surprises; silence can be good after days of storm and thunders. 

and i suppose things do get better. i know because one day, out of the blue, my friend Kiti sent me these words...
"most people believe vulnerability is weakness.
but really, vulnerability is courage.
we must ask ourselves... are we willing to show up and be seen?" - Brené Brown