sabtu lalu, akhirnya kita menggunakan fasilitas free trial di G*mbor*e Lippo Karawaci. yah sebelumnya kan gue dan adit berpendapat kalau bumy belum perlu bersekolah. tapi beberapa hal mengubah pikiran kita,
1. anak gue haus teman banget. udah sejak usia setahun sih, kalau ketemu teman sebaya atau paling enggak anak kecil juga deh, hebohnyaaa minta ampun. "kakak!" "dedek!" "teman!", begitu doi akan berteriak-teriak sampe gue jadi salting kalo di tempat umum.
2. buat penyaluran hasrat dan tenaganya, sekaligus jadi variasi tempat main. kasian sehari-hari mendekam di rumah omanya melulu.
3. testimoni temen gue, dina. anaknya dina, mylan, usianya baru setahun, tapi udah disekolahin di G*mbo juga. menurut doi, sebelumnya kalau dibawa ngariung dengan sesama bayi, anaknya pasif gitu, malu-malu dan cenderung gak mau ngumpul dengan sesama bayi. maybe it's his personality, or maybe because mylan's just like bumy yang sehari-hari 'jago kandang' di rumah omanya. yang jelas setelah disekolahin, mylan jadi lebih supel dan kalau main lebih terorganisir. maksud terorganisir di sini, sebelumnya kalau main random aja, semua mainan tumpah ruah jadi satu dan he just played whatever he wanted to play with-just like bumy now. tapi setelah sekolah, dia main satu hal dulu sampai 'selesai', baru beralih ke mainan yang lain. emang sih hal itu lazim untuk toddler karena mereka punya short attention span, but i thought that could be improved.
rundown kegiatannya sbb:
- greetings with teachers, mommies, daddies, nannies and the kids pakai nyanyi-nyanyi dan gerak-gerak badan
- main puzzle atau boardgame yang melatih motorik halus lainnya
- anak diajak cuci tangan lalu dikasih gelas, piring, dan sendok kecil untuk makan biskuit sendiri. sesudahnya, anak disuruh taruh alat-alat makannya itu ke tempat piring kotor
- main puzzle atau boardgame yang melatih motorik halus lainnya lagi
- circle time, anak diajak duduk di lantai sambil diajak berhitung dan dikenalkan pada alfabet sambil nyanyi-nyanyi
- bikin prakarya
- main ke playground, naik tangga terus ke perosotan
- circle time di luar kelas, ada game melatih keseimbangan, blowing bubbles, anak dipangku terus diperosotin, sambil nyanyi-nyanyi.
hasil observasi:
- bumy seneng di bagian game fisiknya, pas kegiatan motorik halus dia kayak bosen gitu. malah saat anak lain duduk manis ngerjain prakarya atau main puzzle, dia teriak-teriak minta keluar -__-
- bahasa pengantarnya inggris doang-only-thok.
- gurunya agak terburu-buru deh. anak belum selesai makan, disuruh buru-buru. anak belum selesai mainin puzzle eh malah dibantu. this kinda bothers me.
- dampaknya yang udah keliatan sih sekarang kalau makan insist makan sendiri, gak mau disuapin.
- bumy masih malu-malu diajak nyanyi dan melakukan gerakan sembari bernyanyi. masih adaptasi sama lingkungan yang 'ramai' kayaknya, and he's not used with conformity (hence the 'jago kandang').
- anak dikenalkan pada konsep mengantri atau bergiliran. ketika circle time, ada permainan goyang-goyang kursi, guru memanggil anak yang dia pilih untuk naikin mainan itu. bumy ngeloyoooor aja berkali-kali ke depan padahal belum dipanggil -___-
- i don't like the idea that the kid has to make the same kind of 'artwork.' in my mind, hasil prakarya seharusnya bebas, tergantung kreativitas dan mood pembuatnya.
 |
| bumy MILIH dipangku guru yang kece. gak gue gak bangga. cuma HERAN. |
 |
| ini doi serius supaya cepet-cepet selesai.gemes gitu doi. |
 |
| this is it! yang kanan jelaslah bikinan eike... |
 |
| awalnya doi excited, setelah itu kabur ke playground |
setelah trial itu, gue jadi berpikir.... gini, gue bukan orangtua yang idealis, sejak masa kehamilan dan menyusui lantas mpasi, gue gak pernah strict atau ngoyo harus mengikuti paham tertentu atau harus melakukan sesuatu dengan kualitas tertentu.
pas hamil, gue makan indomie karena ada masanya cuma makanan itu yang bikin gue pengen makan di tengah badai muntah selama trimester pertama.
waktu di RS, gue nurut aja anak diminumin sufor selama 4 hari (kadang sedikit nyesel kalo inget, tapi gue sekarang sih mikir it's the best decision. daripada gue stres mikirin asi yang belum keluar).
soal mpasi and all, yang penting anak gak makan micin (sering-sering) aja deh. mungkin prinsip parenting gue sejauh ini adalah sesedikit mungkin menghadirkan pemicu stres untuk diri gue, anak, suami, dan nyokap gue sebagai caretaker utama bumy saat gue bekerja. makanya diperlukan dosis kompromi yang besar, gak bisa terlalu strict, dan kurangin dikit ambisi mencapai kesempurnaan #jadiceramah #audiencenyamonitor
nah sejauh ini gue pikir begitu. tapi kemarin, saat memperhatikan dengan sungguh-sungguh metode pengajaran yang diberikan ke bumy, tiba-tiba gue merasa gamang. ini edukasi, bagian dari pembentukan life skill sekaligus kecintaan anak terhadap belajar-which is a lifelong process. kalo gue "salah langkah" memilih metode pembelajaran dan partner mendidik anak (yaitu sekolahnya), bisa-bisa ekstrimnya, anak menjadi tidak menyukai kegiatan belajar because he finds it boring, or even frustrating.
gue gak mau anak gue diburu-buru saat dia sedang asik mengerjakan sesuatu.
gue gak mau anak gue diajak ngomong bahasa inggris padahal dia hidup di indonesia! emang sih anak pada tahap golden age mudah beradaptasi, dia akan dengan mudah menyerap pembelajaran bahasa baru. kemarin gue liat bumy seolah lost in translation karena si guru menyebut gue "mommy', menyebut sendok dengan "spoon", dan berkata ke bumy "come here! yes good boy!"
padahal dia udah menguasai sekian banyak kosakata. gue pernah baca, anak yang mempelajari dua bahasa cenderung malah lebih lambat perkembangan linguistiknya. gue lihat ekspresi bingung bumy kemarin seolah berkata "what the heck are these bubbly hyperactive teachers sayin?"
lagipula, bahasa indonesia itu kaya dan indah. gue akan lebih bangga kalau anak gue bisa menyusun kalimat dan rangkaian cerita yang terstruktur dan 'cantik' dalam bahasa indonesia, daripada ngomong ke tetangganya dalam bahasa inggris! not to mention kita tinggal di tangerang dan none of our neighbours are westeners! hahaha... ironis kan.
imo, belajar bahasa inggris lebih awal gak menjamin apa-apa ah. he can speak english at 2 yo, so what? can it make him smarter, more curious, or else?
gue belum mau anak gue belajar membaca-atau mengenal abjad. for now, i think it's good for nothing. ada expert's opinion yang bilang bahwa anak yang sejak dini diajar membaca, akan tumbuh menggunakan otak kirinya untuk membaca. karena pijakan dia saat belajar membaca dulu adalah menghafal bentuk abjad dan menghafal cara baca, otomatis otak kirinya yang akan aktif digunakan saat dia membaca. padahal kalau otak kanan yang aktif digunakan, anak akan lebih mudah berimajinasi, memahami tema utama bacaan, hingga membayangkan langkah-langkah lanjutan (misalnya solusi) atas permasalahan di bacaan tersebut.
dalam hal ini, yaitu edukasi anak, gue berpendapat gak apa-apa deh sok idealis. gue menginginkan anak gue jadi pembelajar seumur hidup, yang selalu curious akan ilmu baru, yang excited memecahkan masalah, yang doyan riset :D gue jadi melakukan refleksi perjalanan pembelajaran gue di lembaga sekolah negeri (sd-sma) dan swasta (tk dan s1). hal yang gue inget banget saat bersekolah, selain perasaan seneng banget mau ketemu teman-teman, adalah perasaan deg-degan di perjalanan menuju sekolah (tepatnya di atas becak, hehe). gue membayangkan "hari ini belajar apa ya? nanti bisa gak ya ngerjain x y z? nanti guru ini ngajar apa dengan gimana yaaa?" maybe it's just the geek in me, but i find that excitement and enthusiasm something that's worth more than other achievements in life. it's something that becomes hard to find as we grow older.
setelah masuk sma, gue gak lagi merasakan deg-degan itu. school days become days just like any other. nothing new, nothing quite "unpredictable". i became accustomed to the whole system. we're merely expected to sit through classes, memorize stuff in the book, score high in tests, graduate, and voila, my teachers' task were done. the way i remember it is how cold and distant the education system i had to (unluckily) endure was. noone asked me what i wanted to be when i grow up (except in tk or sd) or what my passion was/is, noone cared to know about my so-called "grand life plan", noone analyzed whether i had chosen the right major that helped me achieve my goals. i was treated simply as a number the school needed to be graduated from.gue gak tega melihat antuasisme anak gue untuk belajar
pelan-pelan, gradually, padam karena sistem yang inhuman. he can choose
whatever he wants to learn, and i will always, always, ask him his
opinions about everything. berkat kontemplasi ini, jelaslah sudah prioritas hidup gue. i would do what it takes to choose the 'best' learning method and education partners for him. tugas gue selanjutnya adalah rajin-rajin survey nih, selain banyak browsing seputar memilih sekolah, dan pastinyah ngumpulin dana pendidikan!
Bismillah.