tanpa disepakati, kita menghadapi awal 2017 dengan kondisi mental yang... campuran antara nggak ngoyo, tanpa target, dan semacam terbuka terhadap segala macam kemungkinan. gue rasa itu disebabkan oleh musibah kehilangan yang menimpa gue (kehilangan Weich) dan Adit (kehilangan bapaknya) yang semuanya terjadi secara tiba-tiba.
waktu ulang tahun Bumy yang ke-7 kita impulsif jalan-jalan ke Surabaya-Malang. bulan Maret, kita plesir ke Belitung sama Debby, Venda, dan Abhi. Aprilnya, kita jalan-jalan sama Kiti (she didn't make it to the journey though) ke KL-Penang. sempat juga staycation di hotel-hotel berkasur empuk di Jakarta dan Bandung.
we also changed our lifestyle to accomodate our activities, dengan tinggal di apartemen jadi nggak perlu capek-capek commuting.
gue rutin pijet di Bersih Sehat dan Kerastase ritual tiap 2 minggu - ceritanya biar nggak stres, haha.
Adit sibuk nyiapin Eurotrip sama sohib-sohibnya.
it was all about enjoying life. savoring its each and every minute.
kurang-lebih seperti itu, until suddenly there's a plot twist where we found out I got pregnant... hahaha.
kita pun mutusin nggak mau perpanjang tinggal di apartemen dan pengen tinggal di rumah Ciganjur aja. we thought we needed a bigger space and an additional room, so we decided to renovate the house.
yang udah pernah renov mungkin tau ya betapa boncosnya kantong dibuat x))))
plus, with a baby on the way, otomatis kita juga perlu nyiapin budget untuk belanja kebutuhan bayi dan urusan melahirkan. singkat cerita, tabungan pun ludes tak bersisa.
memasuki 2018, kondisi hidup yang telah berubah tentunya berefek ke cashflow.
muncul pos pengeluaran baru, seperti untuk beli pospak, baju bayi, breastpad dan semacamnya. dan karena kita mempekerjakan lagi asisten rumah tangga setelah setahun lebih nggak, maka muncul lagi pos ART dan grocery shopping rutin.
gue tersadar kalau financial check up urjen banget untuk dilakukan.
why? because we've made several sins selama tahun 2017!
what are they exactly?
dosa 1: seperti tadi dibilang, kita menguras tabungan untuk renovasi rumah. belum lagi untuk mengisinya! kondisi euforia mempercantik rumah sering bikin gue lupa menahan diri untuk belanja macem-macem. beberapa barang yang udah telanjur dibeli bahkan overbudget.. yang menjadikan kita melakukan dosa kedua, yaitu
dosa 2: punya hutang kartu kredit berbentuk cicilan. gara-gara godaan kasur Sealy nan empuk dan iming-iming cicilan 0% selama 12 bulan, we spent more than we budgeted sampai 2 kali lipat.
dosa 3: seharusnya kita belajar dari pengalaman ngegedein Bumy, betapa di tahun pertama kelahiran anak, akan ada aja pengeluaran yang kadang tak terduga.. hal-hal seperti imunisasi yang nggak ditanggung full (di mana biaya untuk sekali visit dokter bisa seharga satu tas Coach), biaya gadget per-bayi-an (carseat, sterilizer, bouncer, inilah itulah yang untungnya sekarang banyak disewakan), bayar uang pangkal daycare, dan lain-lain. seharusnya kita punya dana cadangan untuk membiayai itu supaya nggak mengganggu cashflow.
numbers don't lie, that's why tahun 2018 ini kita jadikan momentum untuk tobat finansial.
gue jadi keinget analoginya Marie Kondo di buku The Life-Changing Magic of Tidying Up. dia bilang, kondisi rumah yang acak-acakan seringkali melambangkan adanya kekacauan di dalam diri kita secara mental. kadang kita nggak mau menghadapi apa yang jadi root cause atau momok terbesar bagi kita, sehingga milih melakukan hal-hal lain untuk mengalihkan perhatian kita dari masalah. this is how I had been feeling in terms of personal finance.
setelah tahu kalau hamil, gue malah mengacuhkan urusan finansial. merasa udah dipusingin sama urusan renov dan belanja perlengkapan bayi, gue justru merasa terbebani secara mental kala berhitung dan lantas menyadari kalau udah bikin dosa, seperti overspending, misalnya.
padahal dengan bertindak begitu gue malah menumpuk masalah jadi semakin besar. just like a mess in a house, it gets bigger and worse if we keep piling it up.
konsekuensinya, kita jadi nggak punya "ruang" - or in this case, the budget - buat hal-hal yang sesungguhnya lebih penting.
![]() |
| image from here |
alhamdulillah akhirnya momen "kejedot kenyataan" terjadi juga. dimulai dengan menyadari dosa-dosa finansial, gue pun tergerak untuk menyusun langkah-langkah berikutnya buat memperbaiki kondisi keuangan rumah tangga.
to-do list gue seperti ini:1. menyesuaikan cashflow dengan kondisi hidup saat ini, dengan memetakan pengeluaran bulanan dan tahunan.
2. menjadikan pelunasan hutang kartu kredit sebagai prioritas utama saat ini.
3. mulai ngumpulin dana darurat!! target di tahun pertama ini cukup 5 x pengeluaran bulanan biar nggak memberatkan. itupun rasanya udah cukup ambisius.
4. berkaca dari pengalaman, dalam membahas keuangan kita bukan cuma perlu blak-blakan soal dosa, tapi juga perlu jujur mengakui apa aja khayalan-khayalan babu kita. karena kalo nggak gitu, nanti di tengah perjalanan bisa-bisa kita malah menyabotase financial goals yang lebih penting!
makanya penting banget buat menyusun target finansial sesuai urjensinya, supaya kita eling dan waspada dalam berbelanja.
5. hmm sesungguhnya belum ada langkah kelima, hehe. maybe we need to try frugal living? entahlah.
untuk langkah pertama, gue dan adit merasa perlu pakai bantuan aplikasi di gadget buat memudahkan kita memantau cashflow. akhirnya kita pakai app Money Lover, yang ternyata sejauh ini bisa memenuhi ekspektasi. kita bisa melihat berapa uang yang sudah dihabiskan di satu pos pengeluaran, dan berapa sisanya. kita juga bisa menentukan budget untuk sebuah event, contohnya untuk akekahan Sam tempo hari.
kita juga mulai menyusun daftar pengeluaran tahunan, karena berpotensi membocorkan kantong kalau nggak diantisipasi. sejauh ini, pengeluaran tahunan yang tercatat antara lain
- premi tahunan asuransi jiwa
- bayar pajak mobil dan motor
- pengeluaran hari raya, di dalamnya termasuk bayar zakat maal, belanja, dsb.
- bayar kurban
- bayar uang semesteran sekolah
- premi tahunan asuransi mobil
- bayar PBB rumah
untuk langkah keempat, gue mulai dengan menuliskan apa adanya financial goals yang mau dicapai, antara lain
- the big four: dana darurat, dana pendidikan, dana pensiun, dan dana kesehatan setelah pensiun.
- untuk mengcover urusan rumah sakit, kita butuh either asuransi kesehatan tambahan ATAU tabungan kesehatan.
- biaya sunatan - karena Bumy udah minta disunat tahun ini
- bayar uang pangkal daycare - jika memang jadi pakai jasa daycare
- dana naik haji
- dana kuliah S2
- passive income, entah berupa properti, bisnis atau saham
- last but not least: YALAN-YALAN because posting apa di instagram kalau nggak ke mana-mana?!?!?! hahahah.
langkah berikutnya adalah mengurutkan prioritas target finansial yang sifatnya wajib. iyalah perlu diurutkan, karena kita ngumpulin duitnya 'kan bertahap, jadi nggak bisa menggolkan semua yang wajib tadi secara bersamaan.
jadi gue coba memisahkan target-target itu berdasarkan urjensinya menjadi kategori Wajib (mau nggak mau harus dibayar), Sunnah (poin lebih kalau bisa dicapai), dan Good to Have (semacam tersier, kalau nggak dicapai juga yaaa nggak apa-apa, at least for now).
biar nggak pusing, gue bikin tabelnya sebagai berikut:
terpampang jelas dan nyata kaaannn... uhuk, tapi road trip ke Jogja doang bisa kali yaaa *timang-timang celengan*
fiuhhh.. meskipun perjalanan/perjuangan mencapai financial goals itu baru akan dimulai, tapi rasanya kok LEGA, ya. setidaknya sudah jelas arah mana yang perlu ditempuh.
![]() |
| mungkin rasa lega itu muncul karena sudah mengahadapi momok finansial? |
langkah berikutnya yang nggak akan gue tuangkan di sini adalah crunching the numbers di Excel, hehe. dari situ baru akan ketauan berapa yang bisa kita sisihkan setiap bulan atau saat dapat income tahunan untuk mencapai target.
bismillah bismillah bismillah.

















