Showing posts with label money. Show all posts
Showing posts with label money. Show all posts

12/02/2018

the long overdue: financial checkup keluarga

udah lama banget sejak gue terakhir ngebahas hal-ihwal berbau finansial di blog ini. bukan berarti udah jadi hutawan yang financially-free sih.. tapi emang karena tahun 2017 lalu kita terjun bebas.

tanpa disepakati, kita menghadapi awal 2017 dengan kondisi mental yang... campuran antara nggak ngoyo, tanpa target, dan semacam terbuka terhadap segala macam kemungkinan. gue rasa itu disebabkan oleh musibah kehilangan yang menimpa gue (kehilangan Weich) dan Adit (kehilangan bapaknya) yang semuanya terjadi secara tiba-tiba.
waktu ulang tahun Bumy yang ke-7 kita impulsif jalan-jalan ke Surabaya-Malang. bulan Maret, kita plesir ke Belitung sama Debby, Venda, dan Abhi. Aprilnya, kita jalan-jalan sama Kiti (she didn't make it to the journey though) ke KL-Penang. sempat juga staycation di hotel-hotel berkasur empuk di Jakarta dan Bandung.
we also changed our lifestyle to accomodate our activities, dengan tinggal di apartemen jadi nggak perlu capek-capek commuting.
gue rutin pijet di Bersih Sehat dan Kerastase ritual tiap 2 minggu - ceritanya biar nggak stres, haha.
Adit sibuk nyiapin Eurotrip sama sohib-sohibnya.
it was all about enjoying life. savoring its each and every minute.

kurang-lebih seperti itu, until suddenly there's a plot twist where we found out I got pregnant... hahaha.

kita pun mutusin nggak mau perpanjang tinggal di apartemen dan pengen tinggal di rumah Ciganjur aja. we thought we needed a bigger space and an additional room, so we decided to renovate the house.
yang udah pernah renov mungkin tau ya betapa boncosnya kantong dibuat x))))
plus, with a baby on the way, otomatis kita juga perlu nyiapin budget untuk belanja kebutuhan bayi dan urusan melahirkan. singkat cerita, tabungan pun ludes tak bersisa.

memasuki 2018, kondisi hidup yang telah berubah tentunya berefek ke cashflow.
muncul pos pengeluaran baru, seperti untuk beli pospak, baju bayi, breastpad dan semacamnya. dan karena kita mempekerjakan lagi asisten rumah tangga setelah setahun lebih nggak, maka muncul lagi pos ART dan grocery shopping rutin.

gue tersadar kalau financial check up urjen banget untuk dilakukan.
why? because we've made several sins selama tahun 2017! 
what are they exactly?

dosa 1: seperti tadi dibilang, kita menguras tabungan untuk renovasi rumah. belum lagi untuk mengisinya! kondisi euforia mempercantik rumah sering bikin gue lupa menahan diri untuk belanja macem-macem. beberapa barang yang udah telanjur dibeli bahkan overbudget.. yang menjadikan kita melakukan dosa kedua, yaitu

dosa 2: punya hutang kartu kredit berbentuk cicilan. gara-gara godaan kasur Sealy nan empuk dan iming-iming cicilan 0% selama 12 bulan, we spent more than we budgeted sampai 2 kali lipat.

dosa 3: seharusnya kita belajar dari pengalaman ngegedein Bumy, betapa di tahun pertama kelahiran anak, akan ada aja pengeluaran yang kadang tak terduga.. hal-hal seperti imunisasi yang nggak ditanggung full (di mana biaya untuk sekali visit dokter bisa seharga satu tas Coach), biaya gadget per-bayi-an (carseat, sterilizer, bouncer, inilah itulah yang untungnya sekarang banyak disewakan), bayar uang pangkal daycare, dan lain-lain. seharusnya kita punya dana cadangan untuk membiayai itu supaya nggak mengganggu cashflow.

numbers don't lie, that's why tahun 2018 ini kita jadikan momentum untuk tobat finansial.

gue jadi keinget analoginya Marie Kondo di buku The Life-Changing Magic of Tidying Up. dia bilang, kondisi rumah yang acak-acakan seringkali melambangkan adanya kekacauan di dalam diri kita secara mental. kadang kita nggak mau menghadapi apa yang jadi root cause atau momok terbesar bagi kita, sehingga milih melakukan hal-hal lain untuk mengalihkan perhatian kita dari masalah. this is how I had been feeling in terms of personal finance.
setelah tahu kalau hamil, gue malah mengacuhkan urusan finansial. merasa udah dipusingin sama urusan renov dan belanja perlengkapan bayi, gue justru merasa terbebani secara mental kala berhitung dan lantas menyadari kalau udah bikin dosa, seperti overspending, misalnya.
padahal dengan bertindak begitu gue malah menumpuk masalah jadi semakin besar. just like a mess in a house, it gets bigger and worse if we keep piling it up.
konsekuensinya, kita jadi nggak punya "ruang" - or in this case, the budget - buat hal-hal yang sesungguhnya lebih penting. 


image from here
alhamdulillah akhirnya momen "kejedot kenyataan" terjadi juga. dimulai dengan menyadari dosa-dosa finansial, gue pun tergerak untuk menyusun langkah-langkah berikutnya buat memperbaiki kondisi keuangan rumah tangga.
to-do list gue seperti ini:

1. menyesuaikan cashflow dengan kondisi hidup saat ini, dengan memetakan pengeluaran bulanan dan tahunan.
2. menjadikan pelunasan hutang kartu kredit sebagai prioritas utama saat ini.
3. mulai ngumpulin dana darurat!! target di tahun pertama ini cukup 5 x pengeluaran bulanan biar nggak memberatkan. itupun rasanya udah cukup ambisius.
4. berkaca dari pengalaman, dalam membahas keuangan kita bukan cuma perlu blak-blakan soal dosa, tapi juga perlu jujur mengakui apa aja khayalan-khayalan babu kita. karena kalo nggak gitu, nanti di tengah perjalanan bisa-bisa kita malah menyabotase financial goals yang lebih penting!
makanya penting banget buat menyusun target finansial sesuai urjensinya, supaya kita eling dan waspada dalam berbelanja.
5. hmm sesungguhnya belum ada langkah kelima, hehe. maybe we need to try frugal living? entahlah.

untuk langkah pertama, gue dan adit merasa perlu pakai bantuan aplikasi di gadget buat memudahkan kita memantau cashflow. akhirnya kita pakai app Money Lover, yang ternyata sejauh ini bisa memenuhi ekspektasi. kita bisa melihat berapa uang yang sudah dihabiskan di satu pos pengeluaran, dan berapa sisanya. kita juga bisa menentukan budget untuk sebuah event, contohnya untuk akekahan Sam tempo hari.

kita juga mulai menyusun daftar pengeluaran tahunan, karena berpotensi membocorkan kantong kalau nggak diantisipasi. sejauh ini, pengeluaran tahunan yang tercatat antara lain
  • premi tahunan asuransi jiwa
  • bayar pajak mobil dan motor
  • pengeluaran hari raya, di dalamnya termasuk bayar zakat maal, belanja, dsb. 
  • bayar kurban
  • bayar uang semesteran sekolah
  • premi tahunan asuransi mobil
  • bayar PBB rumah
langkah kedua dan ketiga kayanya sih udah cukup jelas caranya gimana.
untuk langkah keempat, gue mulai dengan menuliskan apa adanya financial goals yang mau dicapai, antara lain
- the big four: dana darurat, dana pendidikan, dana pensiun, dan dana kesehatan setelah pensiun.
- untuk mengcover urusan rumah sakit, kita butuh either asuransi kesehatan tambahan ATAU tabungan kesehatan.
- biaya sunatan - karena Bumy udah minta disunat tahun ini
- bayar uang pangkal daycare - jika memang jadi pakai jasa daycare
- dana naik haji
- dana kuliah S2
- passive income, entah berupa properti, bisnis atau saham
- last but not least: YALAN-YALAN because posting apa di instagram kalau nggak ke mana-mana?!?!?! hahahah.

langkah berikutnya adalah mengurutkan prioritas target finansial yang sifatnya wajib. iyalah perlu diurutkan, karena kita ngumpulin duitnya 'kan bertahap, jadi nggak bisa menggolkan semua yang wajib tadi secara bersamaan. 
jadi gue coba memisahkan target-target itu berdasarkan urjensinya menjadi kategori Wajib (mau nggak mau harus dibayar), Sunnah (poin lebih kalau bisa dicapai), dan Good to Have (semacam tersier, kalau nggak dicapai juga yaaa nggak apa-apa, at least for now). 

biar nggak pusing, gue bikin tabelnya sebagai berikut:



terpampang jelas dan nyata kaaannn... uhuk, tapi road trip ke Jogja doang bisa kali yaaa *timang-timang celengan*

mungkin untuk target yang di kolom Wajib sih udah jelas ya, pasti harus dicapai semua haha, tapi kalau untuk membedakan mana Wajib-Sunnah-dan Good-to-have agak sulit, mungkin bisa dibantu sama tool "The Prioritizer"nya CNN Money seperti yang gue gunakan sejak dulu. hasil pengurutan target finansial gue seperti ini:


fiuhhh.. meskipun perjalanan/perjuangan mencapai financial goals itu baru akan dimulai, tapi rasanya kok LEGA, ya. setidaknya sudah jelas arah mana yang perlu ditempuh. 


mungkin rasa lega itu muncul karena sudah mengahadapi momok finansial?

langkah berikutnya yang nggak akan gue tuangkan di sini adalah crunching the numbers di Excel, hehe. dari situ baru akan ketauan berapa yang bisa kita sisihkan setiap bulan atau saat dapat income tahunan untuk mencapai target.

bismillah bismillah bismillah.



05/02/2016

about easy money

cukup lama gue nggak berceloteh soal hal-hal yang berbau finansial di blog. bukannya gue kehilangan minat terhadap tetek-bengek financial stuff, sik. perduitan 'kan bisa dibilang salah satu passion gue, hehe.  
jujur aja, belakangan ini financial planning keluarga agak terbengkalai. boro-boro punya guideline atau peta finansial, cashflow bulanan aja nggak terlalu dipantau lagi. yang penting utang lunas dibayar setiap bulannya, dan akupun bisa bernapas lega. 



efeknya apa? 
ya berasa banget sih, jadi seolah berjalan tak tentu arah. financial wishlist mengawang ke mana-mana. bahkan ada investasi yang 'terpaksa' dicairin demi beberapa tujuan jangka pendek. 

nah, sekarang mungkin karena efek tahun baru (iya bener, efek tahun baru), mulai tumbuh lagi concern terhadap urusan perduitan di sanubari.  
gue bebenah dulu, sik sebelum mulai menggila dan mengawang-awang bikin wishlist. beresin cashflow, check up kesehatan finansial (ngerjainnya sambil meringis-meringis ketakutan), dilanjutin nyusun plan baru... plan yang much less ambitious dibanding sebelum-sebelumnya, tapi realistis. 
dalam "financial wishlist" gue, selain ada hal-hal standar dan serius (kayak "healthy financial condition," dana darurat, dsb), ada sesuatu yang gue rasa perlu dimasukin. apakah itu?

jadi awalnya gini, suatu hari gue dan bumy lagi cerita-cerita mesra seperti biasa, tau-tau dia nyeletuk, "ma, masa temen bumy si anu nggak punya mobil, loh!" dia ngomong gitu dengan takjubnya. 
reaksi pertama gue cuma, "emang kenapa mi kalo nggak punya mobil? mama juga dulu waktu kecil nggak punya mobil."
dia jawab, "kalo mau jalan-jalan gimana?"
"ya naik bis. atau taksi sekali-sekali." 
dia pun manggut-manggut tapi mukanya masih keheranan. 

kejadiannya sederhana banget, tapi ternyata membekas euy di gue. 
gue jadi mikir... has my kid been having it easy? and is it wrong if he had? 
it's not like we're super rich or anything, but my kid does enjoy things I couldn't when I was his age. contoh nyata pertama ya soal mobil itu. now it seems pretty normal, right? everyone has a car. at least everyone I and bumy know. 
hal ini semacam 'wajar' untuk saat ini, di mana jumlah middle class di Indonesia lagi meroket. bedalah sama jaman bokap-nyokap gue masih produktif dulu. dan ini juga ngaruh ke gaya hidup. buat bokap-nyokap, mobil pribadi itu prioritas kesekian. kita juga jarang banget nge-mall. dan masih bisa idup tuh tanpa harus liburan setiap 3 bulan. 

tapi kalau dilihat secara objektif, it's like we (the so-called middle class) are living inside a capsule. kita cuma bergaul sama mereka yang ada di kapsul itu aja. padahal di luar kapsul, ada bermacam-macam ragam gaya hidup. hal ini yang sering bikin nggak sadar how privileged we are. 

somehow gue jadi keinget materi seminar tim bu Elly, yang mengusung istilah "digital native" untuk membedakan jenis manusia dalam mempersepsi teknologi. mereka yang tergolong digital native adalah anak-anak kita yang sejak lahir udah 'melek' teknologi digital. bahkan mungkin sejak di dalem perut pun tanpa disadari udah akrab sama gadget dan teman-temannya. karena mereka adalah "native" alias warga asli di ranah digital, mereka menganggap beginilah normalnya dunia bekerja. keberadaan dunia yang digitalized menjadi common sense buat mereka.

mungkin begitu juga yang terjadi dengan keberadaan privilege, fasilitas, dan kenyamanan hidup. anak-anak kita (gue) yang sedari kecil hidup dan dibesarkan dalam 'kapsul' mungkin akan berpikir "this is how the world works." everyone should have cars, decent houses, and other privileges. 
dan muncullah perasaan "berhak" itu. these kids will grow up thinking they're entitled with cushioned life. 

komik ini bisa ngejelasin dengan simpel dan gamblang tentang apa dan gimana privilege itu.


dari sini

suatu ketika gue lagi nonton serial tv favorit gue, "Orange is the New Black." ada suatu adegan di mana Alex dan Nicky lagi ngobrol. bagi yang nggak nonton tv show ini, Alex adalah seorang pengedar drugs (dan dipenjara karena itu), sementara Nicky pecandu drugs. padahal Nicky ini anak orang kaya (from Upper East Side) tapi dipenjara karena mencuri mobil orang gitu deh. 
nah, sambil ngelipet laundry, mereka berkhayal seandainya mereka udah kenal sejak di dunia luar penjara dulu. apakah  Alex bakal nge-hire Nicky untuk kerja jadi pengedar atau drug intel di jaringannya? 
jawaban Alex begini, 
“My business was built on sniffing out girls like her and turning them into drug mules. You grew up rich so you’re used to easy money, you have enough stamps on your passport to avoid suspicion, you hate your parents, you’re in your experimental phase, all you want to do is f*ck a woman or a black guy, have some adventure and still be able to afford a Birkin bag.”
excuse the french, tapi pesan yang ada di dalam dialog ini membangunkan gue, cin, terutama bagian yang di-bold. 
the answer is yes, Alex would definitely hire Nicky, atas dasar alasan yang dijembrengin di atas. latar belakang idup Nicky yang udah terbiasa sama easy money, tapi kurang perhatian dan butuh 'sensasi' dalam hidupnya, menjadikan dia sosok yang tepat untuk terlibat di jaringan pengedar drugs. 

jadi terlintas di pikiran gue, betapa hal-hal yang didapetin dengan mudah rentan membawa penikmatnya ke 'jurang' - kalo penikmatnya itu nggak dibekali sama kesadaran dan ilmu yang cukup. dikembaliin ke diri sendiri, tentunya gue nggak mau anak gue tumbuh jadi penikmat easy money yang bakal bisa direkrut jadi drug mule. tapi kembali ke realitas, namanya anak semata wayang, emang sih, gue sering beliin bumy sesuatu tanpa dia minta atau harus berusaha keras. kalo adit sih agak beda, dia sering bilang nanti kalau udah kelas 4 SD bumy disuruh ke sekolah naik angkot aja. tentunya alasan keamanan wajib jadi pertimbangan yah (gue sendiri langsung mencak-mencak pas denger usul adit), tapi deep down gue ngerti maksud di balik nyuruh anak naik angkot itu. 

mungkin selain untuk bikin anak paham soal value of money, juga seperti yang tertuang dalam tulisan di blog ini.. 
"Jika engkau terlalu sering makan di restoran mewah, sesekali makanlah di warung kecil pinggir terminal atau gubug di tengah sawah
Jika engkau terbiasa naik mobil mentereng, sesekali nikmatilah berdesakan di dalam bus dalam kota yang padat
Jika engkau terlalu sering tidur di kasur yang empuk, sesekali lelaplah di pelataran masjid
Jika engkau acap berbelanja di pusat perbelanjaan megah, sesekali rasakan asyiknya berbelanja dan menawar di pasar rakyat
Jika engkau terbiasa berdiskusi dengan orang orang berdasi, sesekali akrablah berbincang santai dengan anak anak kecil dan bapak bapak di bawah jembatan

Tidak.. Bukan untuk membuktikan dirimu peduli..
Hanya sekedar untuk... melembutkan hati."

maka kalau bisa disimpulkan, gue punya satu tujuan finansial untuk tahun ini (dan seterusnya) yang bersifat sangat urgent, yaitu ngasih pemahaman tentang konsep uang dan keuangan ke bumy. 

dimulai dari ngasih dia pengertian tentang apa aja kegunaan uang. kayak dijelasin lewat video edukasi buat anak ini, uang itu memiliki fungsi untuk di-"earn, save, spend, and donate." jadi, uang itu nggak turun dari langit, atau keluar dari ATM. you've got to earn it, by working, by empowering yourself. 
sesudah didapatkan, kita punya pilihan mau menggunakan uang tadi buat apa. yang jelas, setiap pilihan ada konsekuensinya. 
lantas bergerak ke soal membedakan wants vs needs - yang mana gue sendiripun nampaknya masih sering gagal ujian, hehe. urusan uang ini implikasinya bisa ke mana-mana, sampai pemerintah di negara-negara maju pun mulai bertindak untuk memberikan materi financial education sejak usia dini. 



it's never too early to start educating our kids about money. sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, kayak menabung. ilmu diasupin lewat hal-hal kecil, contoh, dan kebiasaan. semoga bisa nyantol dan jadi kompas idupnya kelak. 
mitamit ya buun xD

31/12/2014

be smart about money with Smart Money Game

Di awal bulan Desember, gue diajak sama Mommies Daily ikutan acara dari PT. Asuransi Cigna yang judulnya "Literasi Keuangan: Perempuan dan Keputusan Keuangan."
Baru baca judul acaranya aja gue udah excited pengen ikutan. Tau sendirilah gimana gue sama duit, eh perencanaan keuangan, kekekek. It's one of my many passion - I mean, financial planning is, not (only) the money. Hehe.

Faktor lain yang bikin semakin penasaran, diinformasikan kalau konsep acaranya bukan sekadar penyampaian materi dan edukasi semata, tapi juga ada simulasi game mengolah keuangan, yang akan dipandu oleh Mike Rini Sutikno, financial planner dari Mitra Rencana Edukasi. Akan seperti game itu nanti?? Seru kayaknyaaa.

Dalam acara ini, dijelasin kalau keuangan, perempuan, dan keluarga merupakan tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Perempuan memilki peran penting dalam segala keputusan keuangan keluarga. Bahkan hasil riset yang dibuat Forbes pada tahun 2010 menyatakan kalau perempuan membuat lebih dari 80% keputusan pembelian konsumen.
Memahami hal tersebut. PT. Asuransi Cigna mengadakan acara-acara literasi keuangan, salah satunya kayak kemarin, untuk mengedukasi bagaimana merencakan kebutuhan keuangan masa depan, baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga.




Acara ini diawali dengan penjelasan soal apa dan bagaimana perencanaan keuangan itu. Tentunya, siapapun perlu melakukan perencanaan keuangan, sih, karena setajir-tajirnya orang, uangnya pasti ada batasnya 'kan. Nah, untuk memulai perencanaan keuangan, yang perlu kita lakukan pertama-tama adalah menyusun prioritas. Keinginan kita pastinya bermacam-macam dan nggak ada habisnya, bukan, sementara uang kita ada batasnya. Makanya, kita perlu bedain dulu wants versus needs.

Nggak cuma sampai di situ, kita juga perlu bedain mana yang penting, mana yang genting. Karena uang itu gunanya bukan cuma untuk membiayai yang genting-genting aja, tapi juga yang penting. Hihi ini nih yang kadang silap di pikiran.
Contoh hal yang penting tuh kayak impian-impian kita di masa depan, sebutlah mau naik haji, atau mau punya properti lagi, juga dana pendidikan buat anak, dana darurat, dan dana persiapan pensiun.

Then here comes the fun part, para peserta diajak bermain SMART Money Game! Hihihi, ini yang gue tunggu!
Sebenarnya ini adalah sebuah board game yang mirip monopoli, yang gunanya adalah mengajarkan pemainnya tentang pengelolaan keuangan.
Permainan ini berupa simulasi pengambilan keputusan yang terkait dengan keuangan, jadi ya seperti monopoli, tapi kalau di monopoli adanya Dana Umum dan Kesempatan, di Smart Money Game ini ada tawaran berinvestasi - baik yang menggiurkan banget atau yang standar aja, maupun berita kondisi keuangan di 'dunia' game, kayak nilai saham turun, atau malah kena musibah. Realistis banget, yah!




Melalui permainan ini, banyak banget manfaat yang bisa kita dapatkan, di antaranya:

1. Menguasai dasar-dasar perencanaan keuangan dan monitoring kondisi keuangan kita.
Detil banget, bahkan, karena kita perlu menyusun laporan arus kas, neraca, dan tracking spending segala. Tapi yang seru, ini dilakuin dengan cara yang nggak ribet sama sekali!


the paperwork

2. Mengantisipasi berbagai risiko keuangan dengan dana darurat dan memanfaatkan produk asuransi.

3. Memahami dan bijak dalam memilih penawaran fasilitas pinjaman, konsekuensinya, hingga bunga cicilannya.

4. Memahami penawaran investasi mulai dari reksadana, ORI, obligasi, unitlink, emas, properti, sampai bisnis.

5. Memahami situasi ekonomi yang bisa berdampak pada investasi kita seperti inflasi, suku bunga, dll.

6. Paham cara melakukan evaluasi keuangan pribadi dengan menghitung:
a. Rasio hutang terhadap aset
b. Rasio total aset terhadap aset bersih
c. Rasio passive income


Nah, dimulailah game ini. Kita dibagi jadi beberapa kelompok yang isinya 7 orang. Setiap peserta dalam kelompok dibagikan uang menurut profesinya. Jadi, ada 7 profesi yang berbeda-beda dengan income, aset, dan hutang yang juga berbeda-beda hehe.
Dan apakah profesi yang gue dapatkan saat diundi? Pilot aja gituh haha, tau aja suami gue aviation geek.


Jadi, skenario dalam permainan ini ada 3, yaitu
1. Mengurangi hutang.
2. Menambah aset bersih
3. Mempersiapkan pensiun.

We played the game with those points or goals in mind, dan seharusnya dalam hidup juga diterapkan seperti itu, yah. Gamenya berjalan dengan seruuu seperti yang gue tebak. Dalam kelompok gue ada pribadi yang berbeda-beda. Ada yang napsuan saat dapat tawaran investasi yang seperti tadi gue bilang, kadang menggiurkan banget keuntungannya. Ada yang insecure kalau uang cash yang dipegang berkurang. Ada juga yang memperhitungkan dengan cermat setiap pilihan-pilihan yang mau dibikin, hehehe.

Gue sendiri selama main dapat tawaran bisnis yang terdengar so-so, maksudnya keuntungan gue nilai bagus dan gue masih afford biaya investasi dan cicilan bulanannya. So i took it. Ternyata lumayan bisa nambah-nambahin income bulanan.
Tapiii di tengah permainan, ternyata gue kena PHK bookk! Hahahah... Jadilah kelewat satu putaran permainan tanpa dapet gaji xD
Trus juga ada peserta yang melewatkan tawaran beli sebuah saham, eh ternyata pilihannya tepat karena berikutnya muncul 'berita' kalau nilai saham itu turun banget.
Lalu, ada peserta dalam tim gue yang kena musibah sehingga setengah asetnya harus 'disita!' Nah, ini sebenernya bisa dihindari kalau aja doi sebelumnya udah beli asuransi. Hehehe this game really imitates real life.

Akhirnya waktu permainan habis, dan saatnya menentukan pemenang. Gimana cara menentukannya? Yaitu dengan menilai melalui indikator kesehatan keuangan yang terdiri dari:
1. Rasio penurunan hutangnya paling besar
2. Rasio kenaikan aset bersihnya paling besar
3. Rasio passive incomenya paling besar.

Jadi, bukan yang punya paling banyak uang yang menang! Ketika akhirnya dihitung, jreng jeng, ternyata pemenang dalam kelompok gue adalah... gue! Beta! Moi! Hakhakhakhk aseli girang banget. Padahal ya itu tadi, sisa duit gue nggak banyak, mana sempat kena PHK segala xD





Wihihi senangnya bisa ikutan acara inii, kalaupun nggak menang, gue udah dapetin pengalaman berharga banget tentang gimana mengelola keuangan lewat simulasi Smart Money Game.

Nah, untuk informasi lebih lengkap tentang perencanaan keuangan dan asuransi, silakan buka aja kanal-kanal informasi Cigna berikut ini:

www.cigna.co.id
www.livingwell.com
Facebook Page: Cigna Indonesia
Twitter: @Cigna_ID

Yuuk, saatnya jadi "pemenang" juga di kehidupan nyata kekekkek...



pictures from Mommies Daily





07/12/2014

thoughts on aging

Masih dalam rangkaian posting edisi "karawaci bersinar," gue sebut kalau dari sering ke sana, gue jadi bisa lebih sering 'nemenin' bokap-nyokap. Dari situ, somehow gue jadi mendapat insight seputar masa pensiun dan menjadi tua; some are in a form of warning, some other in ideas. Hal-hal random aja, sih, kayak...

a. Masa produktif itu pendek dan cepet berlalu banget, yah... 


Kalo udah pernah duduk ngebahas dana pensiun emang jadi lebih aware, sih, tapi dengan berinteraksi langsung dengan generasi baby boomers ini saat kita sendiri sedang di masa produktif, kok ya MAKIN BERASA. 
Nggak bisa dipungkiri deh, kalau kita - gue dan Adit - yang kelas menengah yang (alhamdulillah, though) di tengah-tengah banget dan berdikari ini perlu fokus menyiapkan diri secara finansial buat masa pensiun. Keputusan-keputusan terkait duit harus mempertimbangkan periode pas udah nggak produktif atau digaji lagi. Udah tau, sihh, tapi tetep aja suka 'lupa' kalo duit itu peruntukkannya BUKAN cuma buat masa kini, tapi juga masa depan...
pengennya masa pensiun bisa leha-leha gini.
tapi duit tetap ngalir! :))

Lagi-lagi alhamdulillah, bokap-nyokap kita nggak ada yang butuh bantuan kita secara finansial because of all the wise decisions they made while they were still in their productive years. They can still live their life (and lifestyle) comfortably - nggak berlebihan, tapi juga nggak kekurangan.

Gue yakin "wise decisions" mereka terkait lifestyle itu berwujud antara lain jarang ngemol, menjauhi belanja-belenji demi menyenangkan hati, eating out, serta hal-hal tersier/hedon lainnya... *uhuk!*

Keputusan-keputusan bijak dan gaya hidup 'secukupnya' yang mereka terapin itu ternyata memberikan benefit yang tak terkira, bukan cuma buat diri mereka sendiri, tapi juga buat kita, anak-anaknya. Gue pernah baca sebuah artikel QM Financial yang ngebahas "sandwich generation." Generasi ini disebut demikian karena terhimpit di tengah-tengah: perlu menghidupi anak-anaknya sambil tetap membiayai kebutuhan orangtua. 
Fenomena ini banyak dialami oleh generasi X dan Y kayak kita-kita ini. Entahlah, mungkin begitu banyak dari generasi baby boomers ini (generasi bokap-nyokap kita, maksudnya) yang belum paham perencanaan keuangan hingga menyebabkan fenomena generasi sandwich. Off topic sedikit, menurut gue program OJK untuk memberikan materi perencanaan keuangan ke anak-anak mulai usia SD itu keren banget. Gunanya ya untuk menghindari kesalahan yang sama diulang oleh generasi Z dan fenomena tadi terulang. 

FYI, dana pensiun yang perlu disiapin bukan cuma untuk kebutuhan hidup semata - yang harus bisa catch up sama inflasi jugak - tapi meliputi dana kesehatan setelah pensiun. Gue dan Adit pertama kali dibuat melek soal ini dari edukasi-edukasinya QM; kita jadi tersadar kalau premi askes semakin tua usia applicant akan semakin mahal, belum lagi terms & condition-nya juga macem-macem beda insurance company, Jadi, ya harus pinter-pinter milih dan siapin dana bayar preminya. Trus, tau sendiri kalo semakin tua, semakin rentan juga kita kena penyakit. And this thought leads me to thinking...
 

b. About health
Interaksi langsung maupun nggak langsung sama bokap-nyokap sendiri and people from their generation bikin kita semakin melek akan pentingnya menanamkan kebiasaan hidup sehat. Healthy lifestyle ini investasi yang nggak boleh ditunda-tunda lagi, deh.
Orangtua seorang temen gue ada yang baru ketauan kena lung cancer akibat kebiasaan merokok :( Gue langsung nasehatin bokap gue untuk berhenti, tapi yaa "namanya orang tua..." suseh untuk bisa di-brainwash.
Nyokap gue lain lagi, doyannya makan enak yang cenderung nggak sehat.
Jarang olahraga pula. Walhasil pas tua gini agak tergantung sama obat-obatan. 


Gue dan Adit sama-sama punya faktor keturunan terkait penyakit denegeratif, kaya sejarah diabetes di keluarga, tekanan darah tinggi, dsb. Jadi bisa dibilang menerapkan healthy lifestyle ini ikhtiar lah untuk menjaga kesehatan dan meraih kehidupan yang lebih nyaman ke depannya.
Kesimpulannya, nggak ada alasan lagi untuk nggak olahraga dan nerapin clean eating. *kibarin apron*



c. About fulfillment.  

Ini terpikir gara-gara rasa keluhan kesepian yang dilontarkan nyokap. Nggak, dia nggak kurang sibuk, tapi menurut gue, she's now facing her own demons. Maksud demons di sini apa? I'm talking about unresolved issues, personality flaws, and/or a lack of long-term vision about oneself.

are you with him?
Regarding the above meme, I kinda agree, sih.
Gue melihat gimana some people "age into their personality," and how it doesn't always turn out pretty.
Dari situ, gue semacam membentuk opini kalau masa pensiun justru can lead a person to whole new kinds of problems kalau seseorang nggak punya visi jangka-panjang atau arah hidup yang jelas. Kasus-kasus kayak depresi karena nggak kunjung dapet cucu, atau kesusahan karena udah pensiun tapi masih 'digelendotin' sama anak-anak dan anak-anak dari anak-anaknya, atau puber ke...sekian berujung unhappy marriage or else a divorce, dan banyak hal "serem-serem" lainnya, menurut gue nggak disebabkan oleh perubahan status atau karena kurang kesibukan. Penyebabnya justru apa-apa yang udah ada dan nggak ada di diri seseorang. 

Kalau dari awal nggak punya konsep diri yang 'utuh' ya wajar kalau mengharapkan diri dibuat jadi 'utuh' oleh achievement anak-anaknya, entah berupa karir, uang, status, atau kehadiran cucu :| 
Kalau dari awal nggak memupuk kemandirian di diri anak, ya wajar sampe tua digelendotin... ya nggak, sih?
Trus juga kalau dari awal udah nggak punya 'connection' sama pasangan, nggak heran kalau ujung-ujungnya 'basi' atau malah bubar....

So, dampaknya baru kerasa pada tahap usia ini.... To me it's like they're clueless atau merasa salah jalan pas bensin udah mau abis :|

Selain itu, gue juga mau menanamkan ke diri sendiri bahwa status "pensiun" itu bukan berarti saatnya berhenti belajar dan nggak produktif lagi. Emang sih, masa pensiun itu waktunya menikmati buah kerja keras, tapi gue prefer nantinya gue dan Adit bikin-bikin "sesuatu" yang bisa jadi "our baby" untuk ditumbuh-kembangkan sampai kita tua nanti. Sesuatu, a project, yang bisa jadi outlet kreativitas, inovasi, sekaligus bermanfaat untuk jadi kesibukan kita di masa tua. Lebih baik lagi kalau si "baby" itu bisa menyentuh kehidupan banyak orang dan memberikan social impact positif. We should really work on it from now, deh.


Lastly, still on aging, ada video TED talk yang inspiratif banget, judulnya "How to Live Passionately" by Isabelle Allende. She's a 71 year-old woman, dan dia 'ngajarin' gimana caranya agar tetap awet muda - but on the inside. She does this sambil ngasih perspektif baru tentang apa makna "menjadi muda." Ini cuplikan speech-nya yang enlightening menurut gue:

"So how can I stay passionate? I cannot will myself to be passionate at 71. I have been training for some time, and when I feel flat and bored, I fake it. Attitude, attitude. How do I train? I train by saying yes to whatever comes my way: drama, comedy, tragedy, love, death, losses. Yes to life. And I train by trying to stay in love. It doesn't always work, but you cannot blame me for trying."
Well, the truth is, contemplating about aging makes me feel giddy and scared. Because a part of me thinks to age is a blessing, yet the other part thinks it's a curse - because you watch your loved ones and friends die, your body weakens, your youth fades, your kids live their own lives, etc. 
But I guess it all boils down to each individual's perspective, huh? Because as Kurt Vonnegut said,
"We are what we pretend to be, so we must be careful about what we pretend to be."

So, maybe to be able to age gracefully, we need to "invest" the habit by living through the process from early on, just like achieving financial independence and health. We start from what we have and then work hard to reach our goals. I know, it doesn't always work, but... you cannot blame me for trying, right? :))

01/12/2013

confession of an intense weekender

Menyiasati Budget Akhir Pekan


by vanshe — Monday, November 25th, 2013 at 7:30 am

 
Kalau sudah menyebut kata-kata “weekend” atau “akhir pekan,” baik saat masih bekerja atau sudah jadi ibu rumah tangga seperti sekarang, saya selalu excited. Saya kira saat sudah tidak jadi pegawai kantoran, saya akan biasa-biasa saja menghadapi weekend. Karena toh sehari-hari juga sudah “libur.” Tapi ternyata, excitement (alias kenorakan, hehehe) saya sama saja, tuh. I’m sure you Mommies know why.
Akhir pekan adalah saat kami sekeluarga bisa puas menikmati quality time.
Seperti yang saya tulis di sini, jika menyangkut quality time, kadang yang terpenting bukanlah ke mana atau melakukan apa, tapi bersama siapa. Kadang hal-hal sesederhana tidur siang bertiga bisa membuat ‘tangki’ kebersamaan kembali terisi penuh. Tapi, kadang karena terlena dengan semangat beraktivitas bersama saat akhir pekan, pengeluaran juga bisa menjadi kurang terkontrol.
Sudah sejak pacaran, saya dan suami memiliki pos pengeluaran untuk digunakan saat akhir pekan. Kalau dulu, sih, tujuannya untuk jadi budget pacaran. Tapi sekarang, pos yang juga kami sebut “Weekend Budget” itu digunakan untuk membiayai kegiatan keluarga kami bersenang-senang, bersantai, atau jalan-jalan selama akhir pekan.
Kenapa pos ini dipisah dari pos pengeluaran lainnya? Karena pengeluaran saat weekend biasanya jauh lebih besar dibanding hari-hari lain. Dari segi frekuensi eating out, misalnya. Kalau sehari-hari kami eating in tiga kali sehari, saat weekend, biasanya kami makan dengan membeli jadi atau makan di mall. Selain itu, kegiatan yang dilakukan saat weekend juga lebih ‘niat,’ seperti berwisata ke luar kota, mengajak Bumy main ke playground atau event tertentu, dan sebagainya.


Pada saat menentukan besaran anggaran weekend, saya dan suami menetapkan nominal X sebagai angka budget mingguan. Angka X itu tidak berubah hingga kini kami telah pindah tempat tinggal.

Namun belakangan ini, saya perhatikan anggaran weekend kami seringkali ‘melar’ dari seharusnya. Yang tidak kami sadari adalah bahwa perubahan tempat tinggal ternyata berpengaruh pada pengeluaran yang kami buat saat weekend.


Kalau dulu kami masih sering mampir ke Rumah Oma untuk leyeh-leyeh saat weekend (dan ujung-ujungnya numpang makan, yang berarti menghemat biaya eating out :D), sekarang ini kami justru memanfaatkan momen kebersamaan Bumy dengan Oma untuk pacaran (yang berarti more eating out).

Setelah duduk bareng dengan suami untuk membahas ‘kebocoran’ “Weekend Budget,” ini yang kami lakukan:

1. Kami mem-break down kegiatan saat weekend, lalu merinci pengeluaran yang dibuat. Tujuannya adalah untuk menemukan titik-titik kebocoran budget.

Dari sini, kami dapat menyimpulkan bahwa, selain tidak menyadari berubahnya bentuk spending kami setelah pindah, penyebab kebocoran adalah karena kami tidak punya skenario atau rencana untuk mengisi weekend dengan kegiatan apa. Ini membuat kegiatan maupun pengeluaran yang kami buat sifatnya impulsif. Akibatnya, porsi eating out menjadi lebih besar, biaya untuk jalan-jalan juga tidak disiapkan sebelum menyusun budget.

2. Mencari cari untuk menyiasati agar pengeluaran bisa sesuai dengan budget. Atau membuat penyesuaian yang masuk akal pada budget kami, bila memang perlu.
We came up with an idea. Kami mencoba membuat skenario untuk kegiatan weekend kami, dengan memberikan tema yang berbeda tiap minggu. Begini hasilnya,
Minggu 1.
Tema : Ke Rumah Oma.
Kegiatan : Menginap di Rumah Oma, Bumy having quality time with Oma, papa-mama having quality time together, hehe.

Skenario pengeluaran: Eating out selama di luar rumah (Oma), dan ‘biaya’ kencan (maybe we would go to the movies, or maybe we would have our date at a family massage parlor. Who knows? Yang penting biayanya sudah diperhitungkan ;).)


Minggu 2.

Tema : Staycation. Berkegiatan di sekitar rumah saja.

Kegiatan : Meskipun “tidak ke mana-mana,” pilihan kegiatannya banyak sekali, lho. Bisa beberes rumah bersama-sama, olahraga bareng, crafting, baking (ini bukan spesialisasi Mama saja, tapi bisa dilakukan bersama-sama), camping di halaman rumah, nonton DVD, atau main board games (berapa tahun lalu Mommies terakhir main monopoli? Ular tangga? Atau congklak?). Kita juga bisa mengundang teman-teman atau keluarga terdekat untuk bersilaturahmi ke rumah untuk mengadakan potluck, misalnya.

Skenario pengeluaran: Bolehlah dianggarkan untuk memesan makanan spesial yang diantar ke rumah, atau membeli es krim berukuran large bucket, hehe.


Minggu 3.

Tema : Enjoy Jakarta. Atau kota-kota satelitnya, BoDeTaBek.

Kegiatan : Bisa ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi bersama-sama, seperti museum, pasar tradisional, pasar tanaman hias, galeri, atau green kampongs. Mencoba transportasi publik. Menghadiri event tertentu yang bisa dicek melalui akun Twitter yang memuat informasi kegiatan di Jakarta dan sekitarnya.
Skenario pengeluaran : Biaya transportasi, tiket masuk, dan eating out selama di tempat berkegiatan.
Minggu 4.
Tema : Mengajak Bumy ke playground atau waterpark. Sebisa mungkin yang tidak berada di dalam mall.
Kegiatan : Ada banyak playground yang bisa dicoba, misalnya di dekat rumah saya, ada playground yang baru dibuka dan harganya sangat terjangkau. Taman-taman di wilayah Jakarta juga sudah banyak yang dibenahi dan nyaman untuk dikunjungi, lho, Mommies. Beberapa malah menyediakan sarana dan alat-alat bermain untuk anak-anak.

Skenario pengeluaran: Budget untuk ke playground.
Kalau diperhatikan, saya tidak menyelipkan agenda khusus ke mall, ya, Mommies? :D


Selama menyusun skenario weekend ini, saya teringat sekaligus terinspirasi oleh cerita dari beberapa orang ibu. Pertama dari rekan orangtua murid di sekolah Bumy yang pernah berbagi tentang kegiatan keluarganya saat weekend. Beliau pernah sambil lalu berkata, “Kalau hari libur, kita serumah kerja bakti. Beberes rumah, nyuci mobil, nyabutin rumput. Lumayanlah biar hemat. Anak-anak juga udah seneng banget diajak cuci mobil sama papanya, jadi gak usah mahal-mahal ke game arcades di mall.”


Ini berbeda dengan cerita eks-rekan kerja yang juga seorang ibu, sebut saja Bu Nana. Bu Nana pernah mengeluhkan, “Ternyata kalau dihitung-hitung, biaya ngajak anak-anak ke mall saat weekend, tuh, mahal juga, ya. Anak-anakku hobinya main di game arcades, belum lagi untuk makan di restoran dan belanja-belanja.”


Kebetulan, saya juga baru menyaksikan acara yang menampilkan Ligwina Hananto sang perencana keuangan di televisi. Beliau membahas tentang mengajak pasangan dan juga anak-anak untuk menjadi price-sensitive. Caranya adalah dengan menganalisa kebiasaan spending dan gaya hidup kita. Jika biasanya kita dan keluarga makan di tempat A dengan harga sekian, mungkin di tempat B bisa mendapat makanan yang sama tapi dengan harga yang lebih murah. Diharapkan dari situ, kita bisa menyadari apakah selama ini gaya kita “sok kaya” hihihi, atau apakah gaya hidup dan pengeluaran kita sudah sesuai dengan pendapatan kita.
  

Berkat bahasan ini, saya terinspirasi untuk menelaah kembali kebiasaan spending kami saat weekend. Karena seperti Ligwina bilang, mahal-murah itu relatif. Pilihan untuk menghabiskan uang kita dengan cara apa ada di tangan kita sendiri. Terlebih jika dikaitkan dengan mencontohkan kebiasaan spending yang baik pada anak. Tentunya saya ingin agar anak-anak saya kelak bisa menggunakan uangnya dengan bijak.

Selain itu, kami juga merasakan manfaat lain dari “metode” baru kami dalam menyiasati anggaran weekend ini, yaitu bertambahnya kreativitas dalam mencari kegiatan yang menyenangkan, bisa memperkaya quality time, sekaligus frugal.


Sharing yuk, Mommies, apa saja kegiatan ‘alternatif’ saat weekend yang bisa saya dan Mommies lain contek? ;)

31/10/2013

the weekend scenarios

bulan baru, cashflow baru. 
kali ini, gue punya target baru juga untuk dibidik dalam casfhlow. yaitu budget weekend. 

semenjak kita pindah rumah, kita jadi punya jadwal khusus untuk sowan dan nginep di karawaci setiap dua minggu sekali. dari segi waktu sih kayanya gak ada masalah. tapi ternyata, rutinitas ini memberikan dampak ke pengeluaran. 

gue dan adit udah sejak lama punya pos pengeluaran yang kita kasih nama "budget weekend." 
jadi, pos ini isinya budget yang diperlukan kita untuk bersenang-senang/kelayapan selama weekend. pos ini kita pisahin dari pos "makan keluarga" karena pengeluaran saat weekend itu unik. kenapa unik? karena tujuan utamanya buat bersenang-senang dan jalan-jalan, jadi pengeluarannya pasti lebih besar dari makan keluarga di hari biasa. dari segi frekuensi, porsi eating outnya lebih besar. udah gitu, kegiatan yang dilakukan juga lebih 'niat' dari kegiatan selama hari kerja, misalnya tiba-tiba ke bogor seperti yang kita lakukan weekend lalu, atau ngajak bumy main ke playground, dan sebagainya. 

karena nggak mau urusan weekend menyabotase urusan makan keluarga, makanya pos pengeluaran ini kita pisahin. hal ini bukan barang baru buat gue dan adit. dulu pas masih pacaran, gue dan adit punya rekening cinta (ohohoek!) yang tujuannya membiayai kegiatan pacaran kita, hahaha. jadi dulu tuh, setelah kita pikir-pikir, "pacaran tuh mihil juga ye?" akhirnya kita sepakati untuk nyetor sejumlah uang tiap abis gajian ke satu rekening. nanti biaya pacarannya ya dicukup-cukupi dari situ. 
kembali ke saat ini, menyediakan budget khusus untuk pacaran (kali ini sama anak) tetap kita lakuin. waktu masih tinggal deket nyokap, kita menentukan budget weekend sejumlah X per minggu. jumlah itu masih cukup, karena well, kita sering numpang makan di rumah nyokap (ya hari kerja, ya weekend, numpang makan jalan terus) :))) 
tapi sekarang, budget itu membengkak karena kita jadi lebih sering eating out. 

breakdown aktivitas kita saat weekend sekarang seperti ini:

  • jumat malam - jalan ke karawaci.  
  • sabtu - sarapan dan/atau lunch biasanya jajan atau di mall.
  • minggu - sebelum lunch udah berangkat pulang ke ciganjur, jadi lunch-nya makan di luar, dinner-nya beli karena seringnya udah males masak begitu sampai rumah. 


berapa kali eating out tuh? bisa 4 kali 'kan. belum lagi budget nge-mall-nya, kayak buat nonton, atau pijat bersih sehat, atau apa kek gitu. 
begitu kita itung dengan cermat, ternyata tiap kali ke karawaci, kita bisa menghabiskan 2 kali lipat budget weekend mingguan. kalo ke karawaci-nya dua kali dalam sebulan, bisa ditebak kalo budget weekend bulanan kita ya tentunya bengkak 0,5 kali lipat. 

jadi, setelah beberapa bulan mengalami tekor di pos weekend, di family meeting kemarin, gue dan adit secara khusus ngebahas soal ini buat nyari solusinya.

pertama-tama, tentunya kita merinci kegiatan kita saat weekend di karawaci maupun di ciganjur dan menuliskan pengeluaran yang kita buat. 
kedua, nyari cara gimana biar pengeluaran kita cocok sama budget weekend. 

akhirnya kita sampai pada kesimpulan kalo kita harus mengurangi frekuensi ke karawaci. DAN mengurangi frekuensi ngemall. 

gue agak mendapat inspirasi juga dari sharing seorang ibu di grup wassap sekolah. dia nih salah satu role model gue juga, karena punya anak 3, tapi menolak pakai jasa pembantu. bukan karena gak mampu yang jelas (suaminya kerja di oil company, rumahnya juga terlihat dari sekolah), tapi karena udah males direpotin sama drama pembantu. tapi kali ini, bukan urusan pembantu yang jadi fokus gue. 
nah, si ibu ini cerita sambil lalu kalo weekend kemarin dia yang 
"biasa nih kalo hari libur, kita serumah kerja bakti. ya nyabutin rumput, nyuci mobil, beberes. lumayanlah biar hemat, anak-anak udah seneng banget diajak cuci mobil sama papanya, jadi gak usah mahal-mahal ke timezone."

saat baca itu, gue yang "dang…." 
ini gue kemukakan sambil meeting sama adit kemarin. jadi menerbitkan pertanyaan juga sih ke diri sendiri, "apa selama ini kita sok kaya yaaaaa" dilanjutkan dengan ekspresi mental seperti ini >___<
kebetulan pagi ini baru nonton acara @yourmoneymetro di mana ligwina hananto jadi narasumbernya. topik pagi ini soal "price-sensitive." 
dia ajak para pasangan untuk mencoba jadi sensitif sama gaya hidupnya. dia ngasih saran, "selama ini kita selalu makan di A yang harganya xxx, gimana kalo kita coba di B? makanan sama tapi harganya bisa xxx-100ribu, misalnya." atau "apa iya perlu kopi seharga xxx tiap hari? padahal kalo di daerah sana, harga segitu tuh bisa buat makan 3 kali." 
dari sini, suami-istri mencoba ngembangin attitude price-sensitive terhadap pengeluaran dan lifestyle-nya. lha ligwina aja bisa bilang ke suaminya "apa selama ini kita sok kaya yaaa?" tentunya it's only natural dong kalo gue melakukan hal yang sama setelah mendengar cerita sambil-lalu si ibu yang weekend-nya diisi kerja bakti itu?? 
yaeyaalah.

jadi, gue dan adit mencoba bikin skenario untuk weekend. gimana? dengan ngasih tema untuk tiap-tiap weekend dalam sebulan. sejauh ini, kita come up dengan 4 tema sesuai jumlah minggu dalam sebulan.

week 1 
tema: mrican. (maksudnya rumah oma di karawaci).
skenario pengeluaran: 
  • eating out sebanyak 3 kali (bisa berarti sarapannya beli, lunch di mall, dan ngebungkus dari RM padang untuk dinner).
  • budget kegiatan selama di karawaci (nonton, nyalon, pijat, dsb) sejumlah x.
  • budget oleh-oleh (karena biasanya bumy kita titipin ke nyokap, hihihi) sejumlah x.


week 2
tema: staycation.
kegiatan: beberes rumah, olahraga bareng, crafting DIY, kemping di halaman rumah, baking, nonton DVD, board games, pinter-pinternya kita milih aktivitas, deh.
skenario pengeluaran:
  • eating in 3 kali (baca: masak).
  • eating out 3 kali.


week 3
tema: enjoy jakarta.
kegiatan: bisa ke tempat-tempat baru (museum, pasar tanaman hias, galeri, green kampongs, dsb), nyobain public transportation, atau ke events tertentu. 
skenario pengeluaran:
  • budget kegiatan enjoy jak sejumlah x.
  • eating out 3 kali.


week 4
tema: playground (+rumah mertua).
skenario pengeluaran:
  • eating out 3 kali.
  • budget ke playground sejumlah x.
  • budget oleh-oleh untuk ke rokum mertoku sejumlah x.


ketika gue bilang ke adit, "ada minggu khusus ngemall dong!" dia cuma bilang, "kalo ngemall mah gak usah diagendain, kali. kalo bisa malah selama weekend gak ke mall."  
-____-
yatapi gue jadi inget sih, sama cerita ex-rekan kerja di tlkm. dia ibu-ibu usia 30an akhir. dia punya anak 3 orang, usianya 5-10 tahun. dia bilang baru menyadari (setelah selama ini, indeed) kalo budget ngemall pas weekend tuh "gede juga yaaa. bisa 500 ribu setiap pergi ke mall. anakku pada demen main ke timezone, belum lagi makan (junk food-red), dan belanja-belanjanya."

saat ligwina mengakhiri sesi @yourmoneymetro tadi, dia bilang, "bukan cuma anak-anak yang perlu belajar sensitif tentang duit. orang dewasa juga perlu. karena mahal-murah itu relatif. jadi untuk membesarkan anak-anak yang price-sensitive, kitanya perlu jadi orang yang price-sensitive dulu." 


ya deh, kalo judulnya kebaikan untuk anak, gue ikutan. hihi. tapi ya emang bener juga, kalo melulu berkegiatan di mall, jangankan anak-anak, gue juga jadi berhasrat untuk liat ini-itu, sentuh ini-itu, dan ujungnya, beli ini-itu. jadi, marilaahh… kita coba skema budgeting, sekaligus kebiasaan baik baru ini hehe.

jadi, nak, kamu lebih suka gini



(eh ini bukan di mall, tapi tamani cinere. but he does look cozy, huh?)

atau giniii? (mengerjap-erjap manja)