are they really?
menurut gue, salah satu ciri khas menjadi orangtua adalah the neverending surprises. be it good or bad. if you do love a thrill seperti dinyanyikan di lagu pembuka glee (#lawas), then be a parent. lagi nggak angin nggak ada hujan, tau-tau tau-tau bocah panas tinggi aja gitu. atau waktu pulang kantor setelah commuting berjam-jam, baruuu ingin merebahkan punggung di kursi, tiba-tiba si anak eeknya berdarah, dan harus berlari lintang-pukanglah elo ke UGD. contoh-contoh yang gue sebut ini berdasarkan kisah nyata. pastinya para orangtua lain punya contohnya masing-masing. dari satu titik netral, kondisi kita bisa seketika dibawa ke titik nadir karena apa yang terjadi sama anak. it's a rollercoaster ride!
makanya kalau bisa disebut hikmah, yang bisa gue petik dari sekian tahun jadi orangtua (newbie) adalah: jangan takabur. iya, jangan dehhh nyombong baru liat anaknya pinter makan sebentar, karena bisa jadi sekian hari kemudian si anak GTM ora kelar-kelar x))) atau kaya sekarang nih waktu punya newborn, baru merasa jumawa punya bayi yang nggak ngajak begadang, eeeh tau-tau besoknya doi kena ruam popok dan jadi riwiiil banget. tahan-tahan deh ini mulut dan jari dari bersikap "sombong." because you might not know what'll happen next.
tapiii tadi 'kan gue bilang kalo ngegedein anak itu bagaikan naik rollercoaster, yang berarti ada saat-saat cihuynya juga. jadi orangtua kadang terasa kayak lo dapet kejutan-kejutan manis dari hidup di saat yang nggak diduga. kado-kado kecil yang bikin semuanya terasa berarti.
kayak waktu si sulung nyeletuk "mama tuh the best mom," entah kenapa dan bagaimana padahal kerjaan gue ngomeeeeel melulu sama dia :(((
atau kayak waktu si bayi ketawa (saat lagi sadar bukan lagi ngelindur) untuk pertama kalinya waktu lo ajak bercanda. it's always the littlest things. mungkin cuma 0,01% dari keseluruhan hahaha... tapi ajaibnya itu yang bikin lo bisa jalanin hari demi hari.
selama jadi orangtua anak tunggal tempo hari, kondisi kehidupan kayaknya udah mendingan banget. udah jarang bolak-balik rumah sakit (alhamdulillah for that), bumy udah makin nyambung diajak ngobrol (which means dia juga makin jago ngeles dan bales omongan kalau lagi diomelin), gue pun merasa kondisi mental gue dan adit sebagai orangtua udah lumayan santai. occassional worrying atau kekhawatiran sesekali ada, tapi di isu-isu tertentu aja.
ketika punya newborn lagiii, jreng, ternyata kita nggak jadi lebih berpengalaman dalam urusan menata hati. welcome back my old friend, the constant worrying.
meskipun secara umum gue dan adit udah lebih "berpengetahuan" dalam artian we know what to expect most of the time, tapi ada hal dan kondisi yang emang berbeda. yang sedang gue alami sekarang adalah khawatir karena mau menitipkan sam di daycare.
dulu bumy emang sempat di daycare, tapi 'kan umurnya udah 3 tahun.
sekarang sam belum genap 3 bulan... huhuhu. bisa dibilang bumy dulu beruntung karena 3 tahun pertama hidupnya diasuh sama nyokap gue atau omanya. dan gue juga beruntung karena bebas dari kekhawatiran, bisa menitipkan bumy di tangan orang yang paling gue percaya.
untuk sam sekarang, gue dan adit udah pertimbangkan kayaknya untuk saat ini daycare yang sesuai. bukan paling sesuai, no no, karena 'kan kayak tadi gue bilang, jangan jumawa duluu. pertimbangannya adalah karena gue nggak harus ngantor full time, selain itu rumah kita juga nggak pantes buat diisi 2 orang asisten nginep (let's say yang satu khusus ngurus bayi).
kontranya? ada banget. dan ini yang bikin gue kebat-kebit khawatir.
ada yang bilang kondisi dititipin di daycare secara nggak rutin bisa mengganggu kondisi psikologis anak. gue sendiri pernah baca sih kalau anak emang sebaiknya mendapatkan pengasuhan dari orang yang sama di 2 tahun pertama hidupnya.
gue juga khawatir nanti sam "menderita" di daycare.. karena di rumah dia bisa nenen anytime dan dengan pose apapun yang dia pengen. sementara di daycare... ya pakai botol. gue takut inilah itulah aduuuh banyaak banget.
nggak tega, ya jelas. abisan kok masih kicil banget ini anak, tapi udah harus dititipin di luar rumah.. huhuhu.
apapun pilihan pasti ada risikonya, sih.
kondisi kayak gini pun bikin gue "mentok", bukan berarti jadi nggak ambil opsi manapun, tapi jadi mentok untuk serahin semuanya ke Allah aja.
there's only so much I can do!!
udah usaha nyari daycare yang cocok... udah survey sekian kali... hhh... nggak ada jaminan apapun untuk fisik dan mentalnya sam, tapi ya emang idup di dunia kaya gitu ya kan ;(
sampai lalu gue nemuin kata-kata yang diposting sama bu Inca Restu salah seorang fasilitator tafakuran di akun IGnya. duh kok pas banget sama kebat-kebit di hati ini.
Hati membaca kebenaran yang tersirat; bahwa anak adalah "titipan"-Nya.
Apa yang dititipkan-Nya? Jiwa anak!
Karena anak adalah "titipan"-Nya, terserah DIA mau menitipkan anak yang seperti apa.
Pernahkah bertanya untuk apa Allah menitipkan jiwa anak?
DIA menitipkan jiwa anak untuk DIBINA bukan DIBINASAKAN.
Anak memang lemah, tapi backing-Nya Maha Kuat.
DIA menitipkan jiwa anak untuk di"isi" dengan persepsi2 Qur'ani.
DIA MENITIPKAN JIWA ANAK UNTUK DIBINA, TAPI KITA TIDAK DISURUH SAMPAI BERHASIL!
Karena sampai kiamat, Al-Qur'an tidak akan berubah; ANAK ADALAH COBAAN.
Al-Qur'an menginformasikan bahwa kemampuan kita hanya menyampaikan, kita tidak diberi kemampuan mencerahkan anak. JANGANLAH PUNYA KEINGINAN MELEBIHI KEMAMPUAN.
hiks... menusuk ke relung sanubari.
semoga kesadaran ini meresap dan bisa gue praktekin.
indeed, hasil itu bukan wilayah kita, sama sekaliiii. hasil itu urusan Allah. gue mah cuma bisa berusaha... ikhtiar maksimal bukanlah supaya hasil sesuai sama keinginan gue, tapi ikhtiar maksimal adalah jalanin apapun hasil yang dikasih Allah.... T___T
jadi, apakah pertanyaan gue di atas masih perlu dijawab? atau emang itu sebuah pernyataan seperti judul yang gue taro?
the kids are alright. "backing-Nya Maha Kuat." serahkan mereka sama yang menciptakan, and they will be, alright.
the kids are alright. "backing-Nya Maha Kuat." serahkan mereka sama yang menciptakan, and they will be, alright.



