26/02/2018

the kids are alright

are they? 
are they really?

menurut gue, salah satu ciri khas menjadi orangtua adalah the neverending surprises. be it good or bad. if you do love a thrill seperti dinyanyikan di lagu pembuka glee (#lawas), then be a parent. lagi nggak angin nggak ada hujan, tau-tau tau-tau bocah panas tinggi aja gitu. atau waktu pulang kantor setelah commuting berjam-jam, baruuu ingin merebahkan punggung di kursi, tiba-tiba si anak eeknya berdarah, dan harus berlari lintang-pukanglah elo ke UGD. contoh-contoh yang gue sebut ini berdasarkan kisah nyata. pastinya para orangtua lain punya contohnya masing-masing. dari satu titik netral, kondisi kita bisa seketika dibawa ke titik nadir karena apa yang terjadi sama anak. it's a rollercoaster ride! 
makanya kalau bisa disebut hikmah, yang bisa gue petik dari sekian tahun jadi orangtua (newbie) adalah: jangan takabur. iya, jangan dehhh nyombong baru liat anaknya pinter makan sebentar, karena bisa jadi sekian hari kemudian si anak GTM ora kelar-kelar x))) atau kaya sekarang nih waktu punya newborn, baru merasa jumawa punya bayi yang nggak ngajak begadang, eeeh tau-tau besoknya doi kena ruam popok dan jadi riwiiil banget. tahan-tahan deh ini mulut dan jari dari bersikap "sombong." because you might not know what'll happen next. 

tapiii tadi 'kan gue bilang kalo ngegedein anak itu bagaikan naik rollercoaster, yang berarti ada saat-saat cihuynya juga. jadi orangtua kadang terasa kayak lo dapet kejutan-kejutan manis dari hidup di saat yang nggak diduga. kado-kado kecil yang bikin semuanya terasa berarti. 
kayak waktu si sulung nyeletuk "mama tuh the best mom," entah kenapa dan bagaimana padahal kerjaan gue ngomeeeeel melulu sama dia :(((
atau kayak waktu si bayi ketawa (saat lagi sadar bukan lagi ngelindur) untuk pertama kalinya waktu lo ajak bercanda. it's always the littlest things. mungkin cuma 0,01% dari keseluruhan hahaha... tapi ajaibnya itu yang bikin lo bisa jalanin hari demi hari. 

selama jadi orangtua anak tunggal tempo hari, kondisi kehidupan kayaknya udah mendingan banget. udah jarang bolak-balik rumah sakit (alhamdulillah for that), bumy udah makin nyambung diajak ngobrol (which means dia juga makin jago ngeles dan bales omongan kalau lagi diomelin), gue pun merasa kondisi mental gue dan adit sebagai orangtua udah lumayan santai. occassional worrying atau kekhawatiran sesekali ada, tapi di isu-isu tertentu aja. 
ketika punya newborn lagiii, jreng, ternyata kita nggak jadi lebih berpengalaman dalam urusan menata hati. welcome back my old friend, the constant worrying. 
meskipun secara umum gue dan adit udah lebih "berpengetahuan" dalam artian we know what to expect most of the time, tapi ada hal dan kondisi yang emang berbeda. yang sedang gue alami sekarang adalah khawatir karena mau menitipkan sam di daycare. 

dulu bumy emang sempat di daycare, tapi 'kan umurnya udah 3 tahun. 
sekarang sam belum genap 3 bulan... huhuhu. bisa dibilang bumy dulu beruntung karena 3 tahun pertama hidupnya diasuh sama nyokap gue atau omanya. dan gue juga beruntung karena bebas dari kekhawatiran, bisa menitipkan bumy di tangan orang yang paling gue percaya. 
untuk sam sekarang, gue dan adit udah pertimbangkan kayaknya untuk saat ini daycare yang sesuai. bukan paling sesuai, no no, karena 'kan kayak tadi gue bilang, jangan jumawa duluu. pertimbangannya adalah karena gue nggak harus ngantor full time, selain itu rumah kita juga nggak pantes buat diisi 2 orang asisten nginep (let's say yang satu khusus ngurus bayi). 

kontranya? ada banget. dan ini yang bikin gue kebat-kebit khawatir. 
ada yang bilang kondisi dititipin di daycare secara nggak rutin bisa mengganggu kondisi psikologis anak. gue sendiri pernah baca sih kalau anak emang sebaiknya mendapatkan pengasuhan dari orang yang sama di 2 tahun pertama hidupnya. 
gue juga khawatir nanti sam "menderita" di daycare.. karena di rumah dia bisa nenen anytime dan dengan pose apapun yang dia pengen. sementara di daycare... ya pakai botol. gue takut inilah itulah aduuuh banyaak banget. 
nggak tega, ya jelas. abisan kok masih kicil banget ini anak, tapi udah harus dititipin di luar rumah.. huhuhu. 

apapun pilihan pasti ada risikonya, sih. 
kondisi kayak gini pun bikin gue "mentok", bukan berarti jadi nggak ambil opsi manapun, tapi jadi mentok untuk serahin semuanya ke Allah aja. 
there's only so much I can do!!
udah usaha nyari daycare yang cocok... udah survey sekian kali... hhh... nggak ada jaminan apapun untuk fisik dan mentalnya sam, tapi ya emang idup di dunia kaya gitu ya kan ;(

sampai lalu gue nemuin kata-kata yang diposting sama bu Inca Restu salah seorang fasilitator tafakuran di akun IGnya. duh kok pas banget sama kebat-kebit di hati ini. 


Hati membaca kebenaran yang tersirat; bahwa anak adalah "titipan"-Nya.
Apa yang dititipkan-Nya? Jiwa anak!
Karena anak adalah "titipan"-Nya, terserah DIA mau menitipkan anak yang seperti apa.
Pernahkah bertanya untuk apa Allah menitipkan jiwa anak?
DIA menitipkan jiwa anak untuk DIBINA bukan DIBINASAKAN.
Anak memang lemah, tapi backing-Nya Maha Kuat.
DIA menitipkan jiwa anak untuk di"isi" dengan persepsi2 Qur'ani.
DIA MENITIPKAN JIWA ANAK UNTUK DIBINA, TAPI KITA TIDAK DISURUH SAMPAI BERHASIL!
Karena sampai kiamat, Al-Qur'an tidak akan berubah; ANAK ADALAH COBAAN.
Al-Qur'an menginformasikan bahwa kemampuan kita hanya menyampaikan, kita tidak diberi kemampuan mencerahkan anak. JANGANLAH PUNYA KEINGINAN MELEBIHI KEMAMPUAN. 

hiks... menusuk ke relung sanubari. 
semoga kesadaran ini meresap dan bisa gue praktekin. 
indeed, hasil itu bukan wilayah kita, sama sekaliiii. hasil itu urusan Allah. gue mah cuma bisa berusaha... ikhtiar maksimal bukanlah supaya hasil sesuai sama keinginan gue, tapi ikhtiar maksimal adalah jalanin apapun hasil yang dikasih Allah.... T___T   

jadi, apakah pertanyaan gue di atas masih perlu dijawab? atau emang itu sebuah pernyataan seperti judul yang gue taro? 
the kids are alright. "backing-Nya Maha Kuat." serahkan mereka sama yang menciptakan, and they will be, alright. 


21/02/2018

one day at a time

these are the thoughts 
that go through my head
in my dining room on a wednesday afternoon
when I'm alone with the baby (and the maid) 
and I have nowhere else to be, but here.
hidup bersama newborn memang membuat dunia jungkir balik.
dunia gue, setidaknya. gak tau orang lain.

satu waktu, rasanya seperti diisi total chaos.
kurang tidur. mood berantakan. badan pegel-pegel kaya abis lari maraton. hating the sight of yourself on the mirror. kesepian dan merasa terisolasi. meratap diam-diam minta dianugrahi kesabaran oleh Allah. and the worrying, oh God, the constant worrying.
at one point, you'd even dare ask, why would anyone nambah anak?

hamil, beranak, dan ngurus anak is sure as hell melelahkan dan merepotkan.
bahkan bumy berkomentar "I never want to have kids." I won't say an amen to that, but that proves how even a kid gets how tiring it is.
but somehow, I'm still thriving, trying not to screw up in raising this second kid.
(or have I started my way on screwing things up?)

lalu di lain waktu, things just feel... right. no not perfect, because it's never perfect.
entah bagaimana, seperti ada harmoni yang menenangkan di tengah semua hal yang "tidak pada tempatnya."
you can just sense it, like the wind on your skin.
just like right now. just like today.

hari dimulai dengan terburu-buru, karena gue harus meeting sama tim startup di tengah jakarta. bayi diangkut tanpa mandi. dengan kalut mengangkut pompa asi, blue ice, kantong asi, diaper bag, dan berdoa sebisa mungkin sudah mengangkut semua yang diperlukan. baru masuk mobil aja rasanya udah capek. tapi, sepanjang perjalanan sam mau anteng digendong adit. gue jadi bisa dandan, makan, ngobrol sama bumy, dan nelpon adinda debsterbun yang lagi ultah untuk dinyanyiin hepi bersdey tu yu oleh bumy sambil teriak-teriak.
menjelang sampai di tempat meeting, perut krucuk-krucuk. eh ternyata bisa sarapan buffet di situ cuma seharga 50 ribu. jadilah gue bisa menikmati toast, buah-buahan, nasi goreng, mie ayam (yes another carbo), sampai bubur ketan hitam hahaha.
tadi adalah meeting pertama dengan tim setelah hampir 3 bulan gue menghilang dari radar, we've got so so so much to be done. banyak banget PR dan beban di pundak!
tapi entahlah, it feels like there's a lightness in my heart. mungkin karena interaksi sama temen-temen satu tim yang emang bawaannya riang dan optimis. it's just a little thing, but such a blessing.

hore meeting cuma sejam! gue dan sam pun dibawa pak supir balik ke rumah. sempat kepikiran mau ina-inu jajan dulu, tapi ah... kangen kasur.
and then when we're already at home, the rain fell.
ngobrol sama bayi di kasur. (I made up this song which lyrics go like, "sayang-sayangan / tatap-tatapan / gendong-gendongan / itulah mama dan sam / sepanjang hariiii" gue ngakak dan merasa bodoh tiap abis nyanyiin but hey a mother can do whatever to get thru the day!)
dia sempat rungsing nangis-nangis, tapi kita bisa nap sambil berpelukan hampir 2 jam. which is heavenly!
trus kayanya adit diem-diem mau ngasi kejutan: dia pulcep tanpa bilang-bilang. tapi dibocorin sama supir gue, hahaha, pas gue nelpon pak nun dengan riang bilang "saya udah di cilandak nih bu, sama bapak juga." yaaaayyyy.

tapiiii ternyata pulang-pulang bumy sakit. badan anget, sakit kepala, ngeluh pegal-pegal. so it's time to babysit the big kid. fiuh.
jam 6, si sulung udah mandi makan dan diolesin vicks sebadan. diselimutin di kamar sambil diuapin peppermint. sam dibobokin bapaknya. dan gue akhirnya bisa me time: mandi keramassss tanpa interupsi hahaha.

and then the clock hits 8 pm.
gue ngeteh sambil makan roti gambang dan nonton hyori's bed and breakfast di netflix. bumy adit sam tidur pelukan bertiga.
like i said, it's not perfect, but it's ok.
a woman's work is never done anyway, so i'll just chew it one bite at a time.

why is it so hard to be objective about myself?
why do I feel cellularly alone?
am I supposed to live in this crazy city?

oh why am I encouraged to shut my mouth when it gets too close to home? 
why cannot I live in the moment? 
~~ ("These are the Thoughts" by Alanis Morissette)

12/02/2018

the long overdue: financial checkup keluarga

udah lama banget sejak gue terakhir ngebahas hal-ihwal berbau finansial di blog ini. bukan berarti udah jadi hutawan yang financially-free sih.. tapi emang karena tahun 2017 lalu kita terjun bebas.

tanpa disepakati, kita menghadapi awal 2017 dengan kondisi mental yang... campuran antara nggak ngoyo, tanpa target, dan semacam terbuka terhadap segala macam kemungkinan. gue rasa itu disebabkan oleh musibah kehilangan yang menimpa gue (kehilangan Weich) dan Adit (kehilangan bapaknya) yang semuanya terjadi secara tiba-tiba.
waktu ulang tahun Bumy yang ke-7 kita impulsif jalan-jalan ke Surabaya-Malang. bulan Maret, kita plesir ke Belitung sama Debby, Venda, dan Abhi. Aprilnya, kita jalan-jalan sama Kiti (she didn't make it to the journey though) ke KL-Penang. sempat juga staycation di hotel-hotel berkasur empuk di Jakarta dan Bandung.
we also changed our lifestyle to accomodate our activities, dengan tinggal di apartemen jadi nggak perlu capek-capek commuting.
gue rutin pijet di Bersih Sehat dan Kerastase ritual tiap 2 minggu - ceritanya biar nggak stres, haha.
Adit sibuk nyiapin Eurotrip sama sohib-sohibnya.
it was all about enjoying life. savoring its each and every minute.

kurang-lebih seperti itu, until suddenly there's a plot twist where we found out I got pregnant... hahaha.

kita pun mutusin nggak mau perpanjang tinggal di apartemen dan pengen tinggal di rumah Ciganjur aja. we thought we needed a bigger space and an additional room, so we decided to renovate the house.
yang udah pernah renov mungkin tau ya betapa boncosnya kantong dibuat x))))
plus, with a baby on the way, otomatis kita juga perlu nyiapin budget untuk belanja kebutuhan bayi dan urusan melahirkan. singkat cerita, tabungan pun ludes tak bersisa.

memasuki 2018, kondisi hidup yang telah berubah tentunya berefek ke cashflow.
muncul pos pengeluaran baru, seperti untuk beli pospak, baju bayi, breastpad dan semacamnya. dan karena kita mempekerjakan lagi asisten rumah tangga setelah setahun lebih nggak, maka muncul lagi pos ART dan grocery shopping rutin.

gue tersadar kalau financial check up urjen banget untuk dilakukan.
why? because we've made several sins selama tahun 2017! 
what are they exactly?

dosa 1: seperti tadi dibilang, kita menguras tabungan untuk renovasi rumah. belum lagi untuk mengisinya! kondisi euforia mempercantik rumah sering bikin gue lupa menahan diri untuk belanja macem-macem. beberapa barang yang udah telanjur dibeli bahkan overbudget.. yang menjadikan kita melakukan dosa kedua, yaitu

dosa 2: punya hutang kartu kredit berbentuk cicilan. gara-gara godaan kasur Sealy nan empuk dan iming-iming cicilan 0% selama 12 bulan, we spent more than we budgeted sampai 2 kali lipat.

dosa 3: seharusnya kita belajar dari pengalaman ngegedein Bumy, betapa di tahun pertama kelahiran anak, akan ada aja pengeluaran yang kadang tak terduga.. hal-hal seperti imunisasi yang nggak ditanggung full (di mana biaya untuk sekali visit dokter bisa seharga satu tas Coach), biaya gadget per-bayi-an (carseat, sterilizer, bouncer, inilah itulah yang untungnya sekarang banyak disewakan), bayar uang pangkal daycare, dan lain-lain. seharusnya kita punya dana cadangan untuk membiayai itu supaya nggak mengganggu cashflow.

numbers don't lie, that's why tahun 2018 ini kita jadikan momentum untuk tobat finansial.

gue jadi keinget analoginya Marie Kondo di buku The Life-Changing Magic of Tidying Up. dia bilang, kondisi rumah yang acak-acakan seringkali melambangkan adanya kekacauan di dalam diri kita secara mental. kadang kita nggak mau menghadapi apa yang jadi root cause atau momok terbesar bagi kita, sehingga milih melakukan hal-hal lain untuk mengalihkan perhatian kita dari masalah. this is how I had been feeling in terms of personal finance.
setelah tahu kalau hamil, gue malah mengacuhkan urusan finansial. merasa udah dipusingin sama urusan renov dan belanja perlengkapan bayi, gue justru merasa terbebani secara mental kala berhitung dan lantas menyadari kalau udah bikin dosa, seperti overspending, misalnya.
padahal dengan bertindak begitu gue malah menumpuk masalah jadi semakin besar. just like a mess in a house, it gets bigger and worse if we keep piling it up.
konsekuensinya, kita jadi nggak punya "ruang" - or in this case, the budget - buat hal-hal yang sesungguhnya lebih penting. 


image from here
alhamdulillah akhirnya momen "kejedot kenyataan" terjadi juga. dimulai dengan menyadari dosa-dosa finansial, gue pun tergerak untuk menyusun langkah-langkah berikutnya buat memperbaiki kondisi keuangan rumah tangga.
to-do list gue seperti ini:

1. menyesuaikan cashflow dengan kondisi hidup saat ini, dengan memetakan pengeluaran bulanan dan tahunan.
2. menjadikan pelunasan hutang kartu kredit sebagai prioritas utama saat ini.
3. mulai ngumpulin dana darurat!! target di tahun pertama ini cukup 5 x pengeluaran bulanan biar nggak memberatkan. itupun rasanya udah cukup ambisius.
4. berkaca dari pengalaman, dalam membahas keuangan kita bukan cuma perlu blak-blakan soal dosa, tapi juga perlu jujur mengakui apa aja khayalan-khayalan babu kita. karena kalo nggak gitu, nanti di tengah perjalanan bisa-bisa kita malah menyabotase financial goals yang lebih penting!
makanya penting banget buat menyusun target finansial sesuai urjensinya, supaya kita eling dan waspada dalam berbelanja.
5. hmm sesungguhnya belum ada langkah kelima, hehe. maybe we need to try frugal living? entahlah.

untuk langkah pertama, gue dan adit merasa perlu pakai bantuan aplikasi di gadget buat memudahkan kita memantau cashflow. akhirnya kita pakai app Money Lover, yang ternyata sejauh ini bisa memenuhi ekspektasi. kita bisa melihat berapa uang yang sudah dihabiskan di satu pos pengeluaran, dan berapa sisanya. kita juga bisa menentukan budget untuk sebuah event, contohnya untuk akekahan Sam tempo hari.

kita juga mulai menyusun daftar pengeluaran tahunan, karena berpotensi membocorkan kantong kalau nggak diantisipasi. sejauh ini, pengeluaran tahunan yang tercatat antara lain
  • premi tahunan asuransi jiwa
  • bayar pajak mobil dan motor
  • pengeluaran hari raya, di dalamnya termasuk bayar zakat maal, belanja, dsb. 
  • bayar kurban
  • bayar uang semesteran sekolah
  • premi tahunan asuransi mobil
  • bayar PBB rumah
langkah kedua dan ketiga kayanya sih udah cukup jelas caranya gimana.
untuk langkah keempat, gue mulai dengan menuliskan apa adanya financial goals yang mau dicapai, antara lain
- the big four: dana darurat, dana pendidikan, dana pensiun, dan dana kesehatan setelah pensiun.
- untuk mengcover urusan rumah sakit, kita butuh either asuransi kesehatan tambahan ATAU tabungan kesehatan.
- biaya sunatan - karena Bumy udah minta disunat tahun ini
- bayar uang pangkal daycare - jika memang jadi pakai jasa daycare
- dana naik haji
- dana kuliah S2
- passive income, entah berupa properti, bisnis atau saham
- last but not least: YALAN-YALAN because posting apa di instagram kalau nggak ke mana-mana?!?!?! hahahah.

langkah berikutnya adalah mengurutkan prioritas target finansial yang sifatnya wajib. iyalah perlu diurutkan, karena kita ngumpulin duitnya 'kan bertahap, jadi nggak bisa menggolkan semua yang wajib tadi secara bersamaan. 
jadi gue coba memisahkan target-target itu berdasarkan urjensinya menjadi kategori Wajib (mau nggak mau harus dibayar), Sunnah (poin lebih kalau bisa dicapai), dan Good to Have (semacam tersier, kalau nggak dicapai juga yaaa nggak apa-apa, at least for now). 

biar nggak pusing, gue bikin tabelnya sebagai berikut:



terpampang jelas dan nyata kaaannn... uhuk, tapi road trip ke Jogja doang bisa kali yaaa *timang-timang celengan*

mungkin untuk target yang di kolom Wajib sih udah jelas ya, pasti harus dicapai semua haha, tapi kalau untuk membedakan mana Wajib-Sunnah-dan Good-to-have agak sulit, mungkin bisa dibantu sama tool "The Prioritizer"nya CNN Money seperti yang gue gunakan sejak dulu. hasil pengurutan target finansial gue seperti ini:


fiuhhh.. meskipun perjalanan/perjuangan mencapai financial goals itu baru akan dimulai, tapi rasanya kok LEGA, ya. setidaknya sudah jelas arah mana yang perlu ditempuh. 


mungkin rasa lega itu muncul karena sudah mengahadapi momok finansial?

langkah berikutnya yang nggak akan gue tuangkan di sini adalah crunching the numbers di Excel, hehe. dari situ baru akan ketauan berapa yang bisa kita sisihkan setiap bulan atau saat dapat income tahunan untuk mencapai target.

bismillah bismillah bismillah.



07/02/2018

cerita lahiran pt. 2: KMC and pregnancy

(karena kritik dari seorang makmak netyzen @liactk kalo ceriteranya kepanjangan, maka eke potong blogpostnya menjadi dua bagian)

3. Hours in labor room?
But the show must go on yekaaan. 
Just like eight years ago, operation room still crept the hell out of me. 

Long story short, kurang lebih yang terjadi selama sekitar 1-1,5 jam itu begini:
- Yes, gue parno, panik, dan meracau lagi di ruang operasi kayak waktu lahiran Bhumy dulu.
- Tapi bedanya kali ini, tim kamar operasi di KMC super duper mendukung, baik hati dan compassionate. Asli beda banget sama tempat lahiran Bumy dulu di seseRS di Tangerang, yang dokternya ngomelin ketika gue ketakutan. Dokter Yulia (anastesi) dengan sangat baikhatinya sudi menggenggam tangan gue sepanjang operasi, nenangin, dan bimbing gue untuk berzikir. Obgyn yang nge-assist dr. Ridwan (gak tau namanya) mau bantuin gue masang dan milih lagu dari playlist di hape, susternya pun baik-baik... Pokoknya alhamdulillah banget, deh. 
- Adit (akhirnya) diijinin masuk, and he said he saw "the whole thing." Untungnya doi lempeng aja liat blood and gory stuff, dan bisa fokus nenangin gue. 
- Again, alhamdulillah semua berjalan lancar, Sam terlahir jam 5:59 pagi. Dia sempat IMD sekitar 30 menit sebelum dibawa ke ruang observasi (I think). Trus di akhir operasi setelah ruangan di-clear out dan gue mau diderek ke ruang pemulihan, dr. Ridwan nepuk-nepuk kepala gue hahahahah.. maksudnya bilang "good job" apa gimana, entah xD

Jam 9an gue kembali ke kamar rawat, dan begitu ketemu Adit (dia ngilang setelah gue dioperasi. Jadi selama di ruang observasi ibu-ibu yang lain pada didampingin suaminya, sementara gue all alone menggigil sambil main hape. Ada suster yang nanya "Ibu ini suaminya mana ya?" Kzl), hal pertama yang gue bilang ke dia adalah, "Udeh ye, cukup 2 kali aja gue lahiran." 
#betalelah



4. Baby's weight?
3,4 kg. Lebih endut dikit dari Bhumy. 

(entah kenapa kok tau-tau pertanyaannya loncat ke seputar kehamilan. Ikutin aja deh yaa.)

5. Morning sickness?
Bingits. Jadi ketika tau hamil di usia sekitar 4 minggu, gue belum ngerasain mual sama sekali. Masih hayu aja perut digempur sama kopi sehari sekali. Dua minggu kemudian mulai muncul si mual-mual, pusing-pusing, lemes-lemes. Gue jadi super sensitif nyium bau. Hampir rutin muntah sejadi-jadinya. Tapi alhamdulillah, meskipun muntah-muntah tapi nafsu makan nggak pernah sekalipun meredup. 

6. Cravings? 
Hmm gue bisa bilang selama hamil dua kali ini gue nggak pernah ngidam, sih. Palingan cuma suka random bilang "Pengen makan ini, nih," atau "Lucu deh makan di situ" yang mana jarang diturutin sama Adit... zzz. 

7. Kilos gained? 
14. 

8. Place you gave birth?
timing kontak laktasi ini emang membantu banget bisa lancar nyusuin.
tried and tested by me.
KMC. 

Duluuu banget, gue pernah bercita-cita dan berdoa duh semoga kalau lahiran lagi bisa di KMC dan bisa sama dr. Ridwan. Alhamdulillah Allah ijinin. 

Kenapa sih KMC-minded bener kesannya? 
Semua berawal dari Bhumy masih bayi dan rasanya susehhhh banget nemu dokter dan rumah sakit yang menerapkan filosofi RUM (rational use of medicine). Waktu Bumy masih satu-dua bulanan, kebetulan doi kena batpil. Kita yang orangtua baru dengan paniknya bawa konsul ke DSA senior di rumah sakit tempat Bhumy dilahirkan. Di situ, dicek suhu badannya 37,5. Trus reaksi DSA-nya langsung "Yaampun ibu ini anaknya kok nggak diobatin apa-apa, suhu segini nih sumeng lho!" Dan abis itu kita diresepin puyer, obat asma, endebre endebre. Over medikasi abizzzz - dan sebelnya ini baru kita sadari kemudian. Baru setelah kenal Milis Sehat, Yayasan Orangtua Peduli dan ikut seminar seputar itu kita paham. 

Tapi namapun anak kecil ada aja sakitnya yang gejalanya pun nggak sama persis sama booklet seminar, dan dasar kita emang parnoan aja sebagai orangtua, jadilah dulu kita jauh-jauh bawa Bhumy berobat ke KMC. Biar tenang aja. 
Bahkan bisa dibilang salah satu pertimbangan milih rumah di sini sekarang adalah demi deket ke KMC loh. 
Meskipun gitu, bukan berarti kita nggak pernah kecewa sama layanan di situ. Komplen pernah, tapi sejauh ini sih masih acceptable. Di KMC gue ngerasa ada banyak pilihan DSA yang RUM, dan ketika lahiran Sam 8 tahun kemudian, gue sadari RS ini oke banget kalau kita ingin sukses menyusui anak.

Jadiii, kalau lahiran di KMC, kita bakal rooming in sama si bayi. Nggak ada tuh ruang perina di mana bayi bisa dititipin. Mulai dari lahir sampai check out dari RS, bayi akan berada di ruang yang sama dengan kita. Oh kecuali saat bayi dimandiin. 
Plus, setiap hari ada dokter laktasi yang visit ke ruangan. Gue sadari sekarang kalau hal-hal ini SANGAT membantu gue untuk bisa menyusui di awal melahirkan. 

Awalanya gue kira ASI bakal baru keluar di hari ke 3-4 melahirkan kayak waktu Bhumy dulu. Jadi gue santai-santai aja, nggak ngoyo di hari pertama lahiran. Waktu dokter laktasi visit ke kamar, dijelasin kalau salah satu kunci kesuksesan ng-ASI adalah skin to skin contact di 24 jam pertama kelahiran anak. Dokternya serta-merta jejelin Sam ke dekapan gue (yang masih fully bed rest), bajunya dibuka-bukain, ditempelin ke badan gue sambil tempelin mulutnya ke nipple gue. 
Dokter laktasi juga sempat massage payudara gue, dan ternyataaaa ASI gue udah keluar. Masya Allah... jadilah gue bisa nyusuin Sam sejak hari pertama. 

Oya hal lain yang nggak gue dapati di RS lahiran dulu adalah ada semacam SOP sesudah c-section yang jelas. Hari pertama fully bed rest, hari kedua bisa mulai tinggiin kasur, trus nyoba duduk. Berapa jam kemudian boleh coba berdiri dan jalan. Jadi nggak ada tuh kasus suster nyinyirin kita tiduran mulu atau nyuruh maksain bangun, dan dokter laktasi pun akan ngajarin kita pose menyusui yang sesuai sama kondisi kita saat itu. Kalau lagi harus bedrest ya diajarin pose nyusui sambil tiduran. 
Overall, gue bersyukur banget deh kali ini bisa lahiran di KMC. Ketika visit untuk konsul dokter di bulan Januari ini, gue liat bahkan di KMC udah disaranin buat pakai jasa doula loh buat melahirkan. Kekinian banget yah, haha, but for a good cause lah I think. 

9. Most memorable event during pregnancy? 
Kita tinggal di apartemen sampai gue hamil 7 bulan. Berhubung rumah renovasinya molor parah, jadi kita sempat tinggal di kosan selama 2 bulan. Most memorable event kayaknya waktu kakek di kamar kos depan kita dadakan sakit dan minta dianter ke RS malem-malem. He passed away about a month after that... 
Hal yang rada nyebelin selama hamil mungkin ketika sambil mual-mual disuruh dines keluar kota. 
But on a lighter note, selama hamil gue dapat rejeki lolos Amoeba jadi di 4 bulan terakhir kehamilan gue nggak usah ngantor lagi setiap hari (alhamdulillah indeed), dapat SK pindah dari unit lama ke unit digital untuk fokus ngembangin startup, dan... lolos ujian masuk program S2 di UI. Untuk yang belakangan ini akhirnya gue minta cuti setahun dulu, let's see gimana nanti ke depannya karena gue baru tahu hamil sesudah ikut ujian, haha. 

10. How old is your baby today?
53 hari! Alhamdulillah. 
Melalui hari bersama newbord is definitely not a walk in the park. Dua minggu pertama diisi dengan masalah seputar menyusui.. Sam didiagnosa tongue tie dan harus diinsisi. Sekarang tidur malamnya lumayan panjang, tapi ya gitu, tetep aja some days kita harus begadang. 

Well, kelar juga nih curhatnya setelah sekian jam disambi netein dan gendong-gendong. Sekarang suka terpikir, why did we have to wait for so long buat nambah anak?? Hahahahha... Tapi lalu dipikir lagi, Allah's timing must be the best. 


Semoga bisa tetep waras dan sehat-sehat buat ngegedein si bayi satu ini <3