I didn't start this week with a plan.
Padahal ingat, tapi tetap aja sulit diwujudkan. Waktu untuk tersita oleh hal-hal lain.
Nomor satu dengan porsi sitaan terbesar adalah Sam yang bolak-balik demam. Udah 2 minggu ini dia kayak gitu, 2 hari demam, 3 hari adem. Repeat.
Gue masih bertahan nggak bawa ke dokter karena terbayang akan dicibir dokter spesialis anak yang akan mengangkat satu alis ketika bertanya "Demamnya udah berapa hari?" lalu gue jawab baru 2 hari.
Belum lagi selama 2 minggu itu tidurnya nggak pernah bener. Bolak-balik, gelisah, rewel, dan harus selalu disumpel nenen. Gue seolah cuma merem tanpa tidur.
Tapi akhirnya gue harus menyerah mampir ke dokter juga.. Di suatu pagi, tepatnya saat gue baru mau mulai rapat mentoring sama seorang C-level Bukalapak, gue terima telpon dari daycare. Terdengar suara tante di ujung sana, bicara dengan terburu-buru.
"Haloh, mah.. ini Sam-nya udah 2 kali muntah. Mamah kapan ya bisa jemput ke daycare?"
HHHHH.
Mentoring pun gue jalani dengan hati kebat-kebit. Sibuk ngejapri Marcho "Jangan lama-lama, yak!"
Setelah kelar, gue segera melesat ke daycare dan ngangkut bayi ke dokter.
Ketika di dokter, of course akhirnya gue dicibir juga heuuhh. Ngerti sih, maksudnya dokter tuh pengen orangtua bisa rasional menghadapi problema kesehatan anak. Nggak usah dikit-dikit minta cek darah, cek urine, atau semata ngantri lama buat konsul, yang malah berpotensi ngasih mudharat lebih banyak dibanding manfaat ke anak. Tapi gimana yak, kok gue nggak pinter-pinter urusan ginian?!
Alhamdulillah sekarang dia somewhat udah normal suhu badannya. Ini anak kayanya cuma perlu dibawa ke dokter dan liat emaknya dicibir sama sese-dokter anak, trus otomatis sembuh.
Nggak apa-apa, deh, nak. Mamak rela daripada sutris liatin dirimu rewel dan nampak tersiksa.
Meski begitu, tidur malemnya sih belum kembali normal. Hari ini gue masih walking around like a zombie. No coffee could compensate this massive loss of sleep.
Hal lain dari minggu lalu adalah gue dapat kesempatan untuk psikolog in-house daycare-nya Sam, bu Belinda dari Rainbow Castle.
Rangkuman dari sesi konsultasi selama kurang lebih 20 menit kemarin antara lain:
- Si bayi usia 21 bulan emang lagi belajar otonom alias mandiri.
Jadi jangan heyran kalau serba sok tau, ngotot, bahkan kadang tantrum.
- Untuk menjembatani naluri otonomi, peraturan, dan juga tantrumnya bocah, Bu Bel ngajarin metode step-by-step kayak gini
1. Sebelum ngajak atau nyuruh anak ngapa-ngapain, kasih informasi dulu ke anak. Semacam mukadimah lah. Misalnya ini waktunya bobok.
2. Bridging dulu sebelum aktivitas. Kalau mau bobok, bentuk bridgingnya bisa berupa baca buku dulu, cerita-cerita dulu.
3. Validasi perasaan anak: ketika anak bereaksi negatif saat mau diajak tidur, seperti tantrum atau mewek-mewek, kita validasi dulu perasaannya alih-alih langsung di-disctract. Validasi ini berupa pernyataan, BUKAN pertanyaan. "Kamu kayaknya kesel ya. Kalau kesel gak boleh gigit/lempar barang." Di sini sekaligus kita kasih tau tindakan yang kita harapkan tuh gimana, atau dengan kata lain ya mengenalkan anak pada peraturan.
4. Fasilitasi keinginan anak: let's say si bocah mau main dulu sekali lagi sebelum bobok. Yaudah boleh, sekali saja abis itu bobok, yaa.
5. Ketika anak sudah mau bobok, diajak tenang. Yuk udah yuk, ini saatnya kita bobok.
Intinya ya diulang-ulang terus tuh informasi ke anak.
Sabar ye, mak!
- Time out itu nggak boleh buat anak di bawah 5 thn, karena anak justru butuh didampingi "expert" untuk mengenali perasaan dan melatih skill mengelola emosi. Expert yang dimaksud di sini ya orangtuanya. (Ya Allah PR banget buat ku yang boro-boro expert mengelola esmozi). Gantikan time out dengan time in, itu saran Bu Bel. Penjelasannya bisa dibaca di sini, nih.
Gue juga sempat nanya soal playtherapy/theraplay yang banyak digembar-gemborin akhir-akhir ini. Di mana klinik yang recommended, tabiat seperti apa yang layak atau seharusnya jadi sasaran terapi ini, dsb. Lumayan deh, jadi dapat insight dari beliau. Sungguh 20 menitan yang penuh faedah. Thanks, daycare!
Another "win" for last week is I finished another book. Yay, me!!
Syulit loh, inii (iye iyee). Secara mata gue melulu tergoda screen.
Buku yang dikelarin adalah There's No Grown Up by Pamela Druckerman yang nulis Bringing Up Bebe. Sukak! Insightful dan penuh nasehat tentang gimana melalui usia 40.
Dipikir-pikir, gue baru merasa 'sreg' di usia sekarang ini. 30 tahunan di tengah-tengah.
Gimana ya kalau dijelasin... it's like how I'm supposed to be, all this time. It feels like the right age.
Di usia 27-29 tahunan dulu gue bahkan udah langganan majalah MORE yang ditujukan buat perempuan usia 30-40an - seperti pernah gue celotehkan di blogpost ini.
Isu-isu yang dibahas di majalah itu sesuai sama concern gue.
Tentang pencarian "identitas," tentang revamping self. Bukan tentang how to get it all; no, because I don't need "all." I need my world in a manageable size. Sesuai kemampuan, dan jati diri gue.
Dan sekarang, ya, I still haven't got it all figured out. Boro-boro, deh hahaha.
Tapi, gue juga nggak menginginkan SEMUAnya. Nggak ada keharusan untuk memiliki apa yang orang lain punya dan rasakan. I am pursuing my own kind of experience. I am treading this journey with my own set of wishlist.
Gue bahagia, gue udah diberkati dengan hal-hal yang gue sadari memang BAIK buat gue.
Keluarga. Two beautiful children. A stable job with a luxury of entrepreneurship experience.
A house of my own. Nggak besar, nggak semewah yang dijadiin konten Instagram, but my own, built with our own sweat and tears.
A small circle of friends. Small banget, malah hahaha. And that's a convenience, for me.
Punya circle persahabatan di kantor bersama tante-tante my age.
Punya circle buat brainstorming bernuansa liberal, haha.
Punya circle buat ngegaje.
Nikmat mana lagi yang aku dustakan? Masya Allah.
So, for this week's start of week check in, I'd go with this.
My first priority this week is: dari segi fisik, makan bener DAN berolahraga. dari segi mental, bisa LIVE IN THE HERE AND NOW. I know it's an over the top concept, sebagai manusia kita dibangun untuk berpikiran maju, mencoba menerka masa depan. tapi, gue mulai merasakan betapa banyak momen yang dilalui "begitu saja." Momen-momen bersama anak-anak selagi mereka cilik begitu mudah terlalui, begitu gampang menguap rasa sukacitanya. Terlebih sekarang bocah yang besar mulai lebih banyak nyebelinnya. I often get too focused on how he's supposed to act, alih-alih melihat dia sebagaimana dirinya; dengan segala potensi dan kelebihannya.
I want to do less bickering on the kids. Enough said lah ya.
I want to do more.. finishing a book. Ngobrol sama Bumy. Makan bener.
This week I want to feel confident and energetic.
To feel this way, I will focus on what I am good at, and what I can be good at.
If I get stuck, I'll remember that
that I can deal with this too even though I prefer something else to happen.
that not everything will go my way, but I am flexible.
that I will breathe, I will think of solutions.
Bismillah.
09/09/2019
03/09/2019
on trying to navigate the world
![]() |
| source |
My end of week check in:
I feel tired yet satisfied. Beberapa 'agenda' berhasil terlaksana: makan bareng keluarga buat ngerayain ultah nyokap, nganter Bumy kejuaraan taekwondo, plus ngemol. Gue juga cukup bangga sama so-called pencapaian gue untuk makan lumayan bener minggu ini. Junk/fast food sangat terminimalisir, dan gue bisa maksain diri untuk mengonsumsi salad dan buah tiap hari. Yay me!
I need more time to just be alone and read but at the same have my kids around me, taken care of, preferably by the husband. That's precisely the ideal condition I'm craving, haha. Gue butuh dukungan buat narik napas dan leyeh-leyeh sejenak. Did I get that? Well, Adit facilitated it, sih. Pokoknya bocah-bocah dia yang ajak main keliling kompleks sampai suapin kalo bisa. Tapi emang minggu ini Sam bolak-balik demam dan batuk-batuk sampe muntah. Gue harus bawa dia kontrol cek darah dan inhalasi sendirian di hari kerja. Capek jiwa raga. Karena sepanjang malam juga bocah tidurnya nggak tenang; setiap 15 menit nyari nenen, rasanya. Udah mao gilaaaa hamba.
Mencoba mengulang mantra yang dikukuhkan di awal minggu "that not everything will go my way, but I am flexible."
Did it work? Yaaahh... kaya gak tau gue aja xD
It's also kinda hard to be emotionally present for the kids saat suasana lagi rungsing seperti itu. Guess I need to sharpen my emotional maturity for this issue.
I forgive myself for lagi-lagi not having another family meeting. Lagi-lagi for not reading let alone finishing that book. Lagi-lagi myself for still nggak-sesabar-itu ke Bumy kalau lagi kzl :((
I celebrate pengalaman pertama Bumy ikut kejuaraan taekwondo fighting. It was scary as hell for him and for me. Tapi dia berani. And that rocks. I made sure I showed him the appreciation, semoga ngasih sesuatu yang positif ke hatinya.
I release kengototan gue to have everything worked out perfectly.
I trust this process. This journey. Gue bisa lebih baik sama diri sendiri dan anak-anak dan keluarga. I'm on my way.
02/09/2019
se a vida e
malam ini di perjalanan dari karawaci menuju ke rumah, spotify muterin lagunya Pet Shop Boys.
se a vida e. entah gimana pikiran gue sekonyong-konyong terlempar pada sebuah ingatan.
gue ingat pernah berkata sama diri sendiri, "pet shop boys ni kayanya oke juga. kapan-kapan gue dengerin dengan khusyuk deh lagu-lagunya sealbum."
dan gue sering melakukan itu. ada sebuah band/musisi yang gue nilai bagus, lalu gue niatkan untuk mengenal musiknya lebih jauh. pertanyaannya, apakah akhirnya gue pernah menjalankan niat tersebut? ketebak lah ya, jawabannya no. nope. nada.
tapi pertanyaan berikutnya yang lebih esensial adalah... kapankah niat tersebut gue ucapkan?
well, the answer is, probably 20 years ago.
GOSH.
GOShh....
seketika gue merasa tertampar. kesadaran ini, bahwa hobi menunda-nunda gue emang segitu kronisnya.
I knowww, some of you will think, yaelah it's only some music. no big deal at all.
tapi
I'm talking about 20 years, man. tujuh ribu tiga ratus hari. kurang lebih.
musik/musisi yang gue niatin untuk "kapan-kapan mau didengerin" entah ada berapa. dan entah apakah mereka masih relevan. (ih segitu FOMO-nya kah aqu?)
gue juga rutin menunda keinginan untuk lari/olahraga apapun dengan serius. terakhir tahun 2015, ngkali. sama almarhum Weich.
ketika liat temen jalanin S2, kembali teringat ujian penerimaan di Komunikasi UI yang gue jalani dan alhamdulillah lulus di tahun 2017 lalu. sampai sekarang rencana kembali ke bangku kuliah masih tertunda. kapan akan gue jalankan?
mungkin ini semata-mata karena guliran 'dadu' hidup yang menyodorkan pertanyaan ini, tapi blogpost dari januari 2017 ini pun tau-tau muncul ke permukaan.
this blogpost, precisely.
cuplikan ini menohoque:
untuk tahun yang baru ini, harapan gue nggak muluk-muluk. gue cuma pengen bisa menjawab kalau lain kali dapat kesempatan ketemu pak Anggoro dan diberikan pertanyaan yang sama,
"what's new with you, Ris?" jawabannya akan berupa either one or some of these statements
- I'm pursuing a masters degree in media and communication, pak,
- I'm thriving to run a half marathon AND a triathlon, pak (dream big, right?!),
- I'm half the way to obtain my DTM (Distinguished Toastmaster) level, pak,
- I'm busy juggling between the office and my volunteer work in children's education, pak,
- I'm taking a vocal course, pak, and preparing to enter my band to Fuji Rock Festival's lineup,
- I'm planning for my pilgrimage with the family, pak,
- I'm expecting my second child, pak (o really? haha!),
- I'm scheduling my early retirement while establishing my digital-based business, pak.
insya Allah.
siapa yang nyangka malah anak ke-dua duluan yang terwujud?
perlukah sedemikian berencana-nya?
Come on, essa vida e
That's the way life is, that's the way life is
Se a vida e, I love you
Life is much more simple when you're young
Subscribe to:
Posts (Atom)
