27/12/2016

EoH series: the walk

source
jalan kaki sore-sore, sepulang ngantor, bisa dibilang jadi aktivitas favorit gue akhir-akhir ini. 
I try to do it every day, if possible. 
jarak tempuhnya nggak jauh sih, palingan bayar di bawah 10 ribu perak kalau naik ojek aplikasi. tapi kesempatan buat bergerak dan (sedikit) berkeringat, sambil menyesap suasana sore hari, itu yang bikin gue ketagihan melakukannya. 

waktu baru mulai memilih jalan kaki dari kantor, niatnya sih cuma supaya badan ini nggak mager-mager amat. paling tidak efektiflah buat mengurangi rasa bersalah gue setelah seharian duduk manis di depan laptop selama 8 jam. 

tapi semakin sering dijalani, this afternoon walk gradually becomes a necessity for me. gue jadi menemukan celah-celah lain yang bisa dinikmati, contohnya: I can be alone with my own thoughts. 

alone time ini makin gue sadari jadi kebutuhan jiwa gue. sebagai orang yang ngaku-ngaku "an outgoing introvert," gue mendapat suntikan energi dari interaksi dengan orang-orang yang 'mengelilingi' gue. 

tapi seolah buat mengimbangi kondisi terekspos ke 'luar' itu, gue tetep perlu momen buat balik lagi ke 'dalam.' (mungkin karena itu dulu gue bisa selon aja melewati macet sambil nyetir sendirian sepulang kerja dari Priok, karena yaa jadi bisa dapet alone time.)  

meskipun begitu, kadang sambil berjalan sendirian terlintas keinginan untuk ditemani. random aja sih.. kepengen punya temen ngobrol a la before sunrise/set, haha. I dont know. maybe just for the sake of having a friend around. keinginan ini nggak pernah terwujud. at least sampai sekarang. tapi dari situ, ternyata gue bisa belajar sesuatu. 


suatu hari, gue janjian minta dijemput sama pak supir di kantor. sayangnya, sore itu traffic nggak masuk akal banget, mungkin karena hujan seharian, supir gue nggak kunjung sampe di kantor. daripada nunggu tanpa kepastian, gue bilang ke dia buat langsung ketemuan di kantor Adit aja, jadi nggak makin buang-buang waktu. 


waktu itu, gue lagi bener-bener nggak mood buat jalan kaki. badan lagi kerasa capeeekkk banget. udah nyoba nyetop taksi beberapa kali, tapi nggak dapet-dapet. trus tau-tau gerimis! dan seolah untuk membuat gue semakin males jalan, footwear gue saat itu cuma sepasang sendal tali-tali - yang tentunya kurang cucok yaa buat berbecek-becek jalan kaki.


to make things worse, entah kenapa sore itu gue kegenitan bawa laptop pulang! daannn karena kepalang yakin bakal dijemput supir, hari itu gue bawa handbag - alih-alih backpack macho seperti biasanya. 

what are the odds??
tapi apa mau dikata? I had to walk the walk. 
I totally wouldn't mind had the circumstances been better. but maybe sometimes you just had to improvise. 
jadi mulailah gue melangkah, dengan agak terseok-seok karena sendal tali-tali sok cantik gue itu alasnya licin dipakai jalan menembus becek. 

sepanjang jalan, yaudah sibuk ngeluh-ngeluh dalem hati. 

tapi nggak lama kesadar sendiri sih, I was just making matters worse, haha... tas tetep aja berat, kaki tetep aja pegel, kebahagiaan terampas pula. rugi banget 'kan! jadi, abis itu gue coba mencari hal yang bisa dienjoi-enjoi-kan saja. hal-hal seperti I wasn't even in a rush. walking might've done me good. plus keinget kata-kata di tafakur, "Allah memang memberi ketidaknyamanan, tapi Dia tidak pernah memberi keburukan." 
segitunya yah!

setengah perjalanan udah ditempuh, sampailah gue di putaran jalan sebelum masuk kawasan SCBD. karena harus nyebrang, jadi gue berhenti dulu sejenak untuk perhatiin mobil-mobil yang lewat. 

di tengah atensi liatin mobil, gue sempat notice eh ada yang mirip mobil gue . tapi berhubung mobil gue pasaran banget, jadi nggak terlalu geer. sampai lalu gue perhatiin plat nomornya.. eh kok 3 hurup belakangnya sama? tiba-tiba mobil yang gue perhatiin itu bunyiin klakson. otomatis gue liat yang nyupir dong. ndilalah... supir gue o__O
bok, pas-pasan banget! 

padahal sepanjang jalan kaki gue udah nggak koling-kolingan lagi sama doi (mahzab '80an banget). 

I. was. stunned. 

yang pertama terlintas di pikiran adalah ini:

betapa Allah memberikan gue apa yang gue BUTUHKAN.
exactly. precisely. 
not the 'sugary' things I've been wanting. not the cherry on top. not the unneeded embellishment. He gives me things I really, truly, need. fullstop. 

isn't that something?!

 "Allah memang memberi ketidaknyamanan, tapi Dia tidak pernah memberi keburukan." 
I'm glad I walked the walk that afternoon, because who could've guessed, something priceless was wrapped inside that walk: a lesson. 

26/12/2016

EoH series: the epiphany

so, I mentioned about this so-called series of writing for my blog, called the Enlightenment of the Heart (EoH). rasanya sayang aja kalau apa-apa yang sempat mampir di hati nggak dituangkan di sini. karena, buat gue pribadi, achievement nggak melulu diukur dalam bentuk perubahan secara fisikal. transformasi mental dan segala usaha yang menyertainya, juga bisa dianggap pencapaian. malah mungkin itu yang beneran matters. 
well, for a start, because it's December (still), which happens to be my birthday month as well, I'd like to ramble about stuff relating to the occasion. 

yes, I've turned 33. bukannya nggak bersyukur, tapi gue nggak lagi terlalu menandai ultah sebagai momentum yang sebegitu bermaknanya. mungkin ini lazim ya setelah melewati usia 30. you don't expect that many milestones, nggak kaya waktu masih 20an. ada momentum first cool job, first serious relationship, first marriage (haha), first pregnancy, first-time parenting, dst. 
sekarang? yah not that there is nothing I'm looking forward to; masih adalah keinginan untuk mewujudkan first time haji, first time jadi home owner (not loaner haha), nyunatin anak, and so on - tapiii.. (mungkin) sensasi pencapaiannya nggak sebegitu meletup-letupnya. perhaps it's because, as you get older, things don't feel as special as they used to be, and you yourself also no longer feel *that* special. moments are just moments, they fleet by, they pass. 
   
nah, karena pemaknaan akan ultah yang nggak segitu sensasionalnya itulah, gue nggak really expected anything. nggak ada rencana khusus untuk diri sendiri dan keluarga kecil. diinget ultahnya syukur, nggak juga ndak masyalah samsekk. 
di pagi hari ultah itu, begitu terbangun dari tidur, gue cek hape dan menemui ucapan ultah pertama. dari syapakah? ternyata bokap. 
mungkin itu biasa aja, ya. secara dialah (salah satu) orang yang membawa gue hadir ke dunia. tapi entah kenapa hal itu membuat seperti ada yang terhimpit di hati gue, dan himpitannya membawa kaca-kaca ke bola mata. tiba-tiba gue disadarkan, oh such a great time it is to be alive. 
everyday is, actually. 
kesadaran itu seolah membuka pintu di hati gue, yang bikin gue merasa bersyukurrrrrrr banget. it IS a special time; sungguh waktu adalah rejeki tertinggi… Alhamdulillah gue masih diberi kesempatan untuk diucapin selamat ultah sama bokap gue. Alhamdulillah I still have both of my parents around. 

sekitar setengah jam kemudian, nyokap nelpon, juga untuk ucapin selamat ultah. nggak tau kenapa, kayak ada switch yang ditekan bersamaan di hati kita berdua, karena di tengah ucapannya, gue tiba-tiba merasa trenyuh banget - padahal ucapan nyokap standar-standar aja - dan nyokap pun tau-tau mewek! haha.. maybe we are melancholic creatures, but I believe at that moment, the same realization touched our hearts. kesadaran bahwa laku sesederhana mengucapkan selamat ultah ini sejatinya sangatlah berharga… ya, karena hal ini belum tentu bisa terulang! 
:'))))) ya Allah gue jadi trenyuh lagi… 

source
segala puji bagiMu ya Allah… saat itu, gue merasa kayak dipersembahkan HADIAH yang berhargaaaaa banget dari Dia… kesadaran yang tiba-tiba hadir itu, gue percaya adalah wujud cintaNya. 
setelah itu, seolah agar kesadaran itu benar-benar tertancap di hati, Elmo berkata dalam ucapan ultahnya, 
"Chomey… Semoga hari ini penuh berkah ya. You are loved and blessed."

:')
sometimes, this fragile self needs to be reminded, again and again. 
I AM special. this moment IS special. 
terima kasih banyak ya Allah… 

meanwhile, other notable moments that I remember from that day were
- Adit ngucapin selamat selagi gue nongkrong di toilet. haha. dia ngelongok ke kamar mandi dan bilang "hepi bersdey ya mah," atau semacam itulah xD guess this is how an #oldmarriedcouple does it. 
- hal pertama yang Bumy ucapin begitu kebangun (masih di kasur), "mama hari ini umurnya udah TIGA TIGA ya?" 
- sampe di kantor, dicurhatin sama sese-dedek yang lagi melalui breakup. dia belum sadar gue ultah, jadi kita sibuk deh tuh ngebahas the guy who broke her heart. begitu tau gue ultah gara-gara adeee ajeee yang ngucapin di grup kantor, dia langsung meluk gue dan bilang "yaampun mba riska ultahnya bareng sama si X!" a.k.a. the guy she's been venting about!! hahahahah mungkin ada #hikmah yang terselip dalam kebetulan itu?? entahlah.  

tapi, somehow dari kejadian breakup si dedek, gue jadi dapat semacam pencerahan. 
entah gimana gue jadi kepikiran tentang gimana budaya atau lifestyle masa kini yang cenderung "sekarang-centris" alias cuma peduli sama SAAT INI. walhasil manusianya (me included) jadi cuma fokus pada usaha mengejar kesenangan sesaat. atau obat instan. atau apapun namanya yang bisa segera dinikmati. dan ini terasa bukan cuma di skala personal, tapi juga dalam skala besar. terlihat dari gimana banyak industri yang nggak peduli sama kondisi bumi yang seharusnya jadi legacy untuk generasi selanjutnya. gimana bisnis cuma peduli sama gimana biar untung untung untung duit duit duit, tanpa mikirin kualitas jualannya. kok "kita" nggak belajar dari sejarah… gimana dulu bangsa Romawi dulu unggul dan menguasai dunia tapi bisa ancur juga. 
generasi yang sekarang ini lagi bisa berjalan di muka bumi kayak nggak sadar kalau kita ini cuma generasi kesekian dari sekian ribu generasi yang sudah dan mungkin akan datang kelak. we are only, simply, a tiny blip in the universe! it (our lives) doesn't really matter, yet it also really totally matters. 
why? there is a perfect answer to that, something I read about in Rookie actually. let me quote:
"if your life is just a teeny tiny blip on the radar, the only meaning it has is what I give it, and the only person it needs to mean anything to is ME." (source)

it came to me like an epiphany.
gue tiba-tiba tersadarkan, kalau gue ada di sini, for a while on earth, for a reason. pasti ada manfaatnya. mungkin bukan buat diri gue sendiri, mungkin buat generasi ratusan tahun ke depan, apapun itu, it doesn't matter. what matters is gue yang harus kasih makna buat hidup gue sekarang. 
dan lucunya… kesadaran yang tiba-tiba ini membuat gue merasa kalau segala ambisi duniawi yang gue rasakan nggak lagi begitu penting. keinginan untuk dikenal, dikenang, dirayakan, atau apalah… yang penting cuma: enjoying my TIME on the planet as fully as possible… and make the best use of the time I have… each and every day. 

it was undoubtedly the best thing that could've happened, on my birthday. 



*"epiphany" (noun)

a moment when you suddenly feel that you understand, or suddenly become conscious of, something that is very important to you - source


20/12/2016

december specials: EoH

"let me photograph you in this light, 
in case it is the last time that we might be exactly
like we were before we realized
we were sad of getting old, it made us restless
it was just like a movie, it was just like a song
when we were young..."

kata-kata di lagu ini, mau nggak mau bikin gue teringat masa muda. dan Weich. of course, my youth had Weich in it. in almost every moment. 

masa muda benar-benar rasanya berlalu kaya ditiup angin dalam sekejap. 
how can those years be so short? can't I have a say in this violent roll of time?
i remember how it felt when I was just turning 24.. it's like I had a big space to do stuff, unlimited time, and vast choices. 
trus tau-tau sekarang udah 33.  
dan trus tau-tau I'm on my own, without Weich... 

alhamdulillah tahun 2016 ini gue dikasih kesempatan oleh Allah untuk melalui banyak hal... ulang tahun gue, Bumy, Adit, dan keluarga. ulang tahun pernikahan yang ke-sembilan (dear Lord!). another year with both of my parents. another year to make mistakes, and to learn... truly, Allah memberi gue pelajaran dalam bentuk kehilangan. kehilangan mertua, kehilangan sahabat, ditinggalkan rekan kerja. 

it feels like I've lost so, so much. 
yet gained so many treasures as well...

and now, December is here again. the countdown to the new year has been started... 

what have I learned thus far?
about myself? about people around me? about love, life and death?
have I changed? or am I merely becoming a truer version of myself?

saking udah lamanya nggak n̶u̶l̶i̶s̶ meracau di blog, gue jadi bingung mau mengulas tahun yang nyaris akan berlalu ini dari mana. kalau Nazura Gulfira pernah bikin serial Reproduction of Happiness (ROH) di blognya untuk membahas hal-hal yang membuat hatinya senang, gue jadi kepikiran untuk membuat semacam serial juga. 

mungkiiin... untuk berbagi tentang hal-hal yang berkesan banget bagi gue di tahun 2016 ini. mohon maklum kalau bahasan di serial itu singkat dan acak. karena tujuannya cuma buat mendokumentasikan stream of thought dan semata-mata 'tuk mengajak hati ini bicara, sih. ahahah... 

apa ya sebutan untuk serial ocehan itu? 

how about... "Enlightment of the Heart" series.
mungkin bagi orang lain apa-apa yang gue celotehkan akan terkesan biasa-biasa aja, tapi bagi gue, membukakan mata hati dan pintu pikiran. 

we are only young once. maybe one day I'll look back at these things bothering my mind and laugh them off. but I believe the real treasure lies in the process. in the way those thoughts transform me into someone who can recognize my own potential, and settle into who I am, and make life work for me. 

maybe.