Showing posts with label music. Show all posts
Showing posts with label music. Show all posts

24/04/2017

starvation of the heart

jauh sudah aku berjalan.
rasakan pahit, rasakan manis
rasakan gelap, rasakan terang.. sampai ku tak tau jalan pulang
tinggi, aku terbang semakin tinggi, lewati awan hampa udara hingga ku lemas, hingga ku jatuh
tapi aku harus bertahan hidup
tolonglah, tolonglah tunjukkan jalan ke rumahku
tolonglah, tolonglah beri udara 'tuk napasku
siapa yang akan menolongku, pegang tanganku bawa ke rumahku?
rasakan kasih, rasakan sayang.. hangat pelukan, hangat kecupan
ada teh hangat dan roti bakar, bantal yang empuk, kasur yang lembut
ada larangan, ada aturan, tatapan mata penuh curiga
gorden yang cantik, dapur yang unik, dan anak kecil panggilku ibu
dan seorang pria ucapkan salam "selamat pagi"
aku jadi rindu rumah

di atas tuh potongan lagunya Oppie Andaresta yang gue sukaaaaa bangett. pertama kali dengar di album "Bidadari Badung" tahun 1995, waktu gue masih bocah SD yang nggak ngerti-ngerti amat maksud lagunya tapi somehow suka aja. kini, semakin gue menua, lagu ini malah semakin 'menusuk.'

siang ini, entah kenapa gue kebayang suatu momen di masa lalu bersama Weich ketika lagu ini mengalun.
waktu itu gue baru mulai kerja setelah lulus kuliah.. jam 6 pagi duduk di angkot bersebelahan dengan nyokap yang mau berangkat kerja. posisi duduk gue/kita tepat di sebrang pintu masuk angkot. 
ketika memasuki gerbang portal sebuah kompleks, angkot berhenti sejenak untuk menaik-turunkan penumpang. tiba-tiba gue liat dia, Weich, lagi berdiri di pinggir jalan dan sedang melihat ke arah gue juga. serta-merta gue dengan heboh dadah-dadah ke dia, begitupun sebaliknya. tapi angkot buru-buru berjalan lagi. it was just a brief moment, mungkin lima detik pun nggak sampai.
tapi gue masih inget banget momen di pagi itu, sampai sekarang.
entah gimana gue ngerasa Weich takjub sekaligus seneng ngeliat gue... dan itu terbukti. beberapa saat kemudian (gue lupa, mungkin di hari yang sama, bisa jadi bukan) Weich bilang ke gue, "waktu gue liat lo pagi itu, chom, gue berpikir, emang yah, akhirnya kita akan 'balik' juga ke keluarga."

kita udah saling kenal sejak umur 12 tahun. Weich mungkin orang yang paling hapal gimana turbulensi hubungan gue sama nyokap. it's a classic love and hate relationship. 
Weich *tahu* gimana kejadian gue duduk bersebelahan dengan nyokap di pagi itu bermakna sesuatu... 
salah satunya mungkin bahwa meskipun gue dan nyokap bisa dibilang "musuh" abadi, but deep down I've always been my mom's little girl. that making her happy is my ultimate goal in life. gue sebel diatur-atur sama dia tapi bakal nurut anyway karena she's the only one I trust. di momen papasan itu, gue belum lama memutuskan pakai jilbab, mungkin baru sebulan. dan nyokap adalah orang pertama yang menentang. alasannya macem-macem, tapi mungkin yang terasa paling jujur adalah : "mama nggak mau jadi nggak kenal kamu lagi."

but time is helping us like it always does. and there we were, sitting next to each other on our way to work.

**

usia 30 tahunan ini bagi gue rasanya identik banget dengan kegiatan mengevaluasi keputusan-keputusan dalam hidup. hari demi hari, pembicaraan gue dengan diri sendiri bukan lagi diisi dengan "apa yang mau gue capai habis ini?" atau "where do I go from here?" melainkan "apa gunanya?" "bener ga sih ini yang gue mau?” “gue lakuin ini buat siapa?”

the thing about parents, is that they only and always want the best for you. maksud mereka pasti dan selalu baik, tapi apa yang mereka pikir terbaik dengan apa yang gue mau nggak selalu sejalan. and that is something I've been struggling with my whole life.. 

let's say dalam hal jurusan kuliah. if it had been totally up to me, gue yakin udah kuliah di IKJ. tapi ya gitu... are we gonna go through that again? hahaha. 
atau... selera gue terhadap lawan jenis. I know my taste in men was questionable. gue kerap tergila-gila suka sama orang yang 'nggak biasa.' musisi, aktor teater, pengembara, gambler (haha) dan entah macam apa lagi. tapi... mungkin berkat doa ibu, gue dikasih partner idup yang 'normal' dan reliable - yang terbaik buat gue. 

mungkin... saat weich melihat gue sekilas di angkot itu, dan sekarang saat gue denger lagu "Rumahku," yang dia dan gue rasakan adalah... mungkin hidup untuk menyenangkan orangtua is not that bad after all. dikatakan kalau ridho orangtua adalah ridho Allah, and it's something that I believe deeply. 

hidup gue mungkin jadi se'genah' ini berkat konsistensi bokap nyokap mendoakan gue. 

tempo hari, waktu lagi makan siang di dekat kantor seperti biasa, tiba-tiba gue berpapasan sama Arryo. dia bisa dibilang childhood friend bagi gue, dan juga Weich karena kita satu sekolah sejak SMP. di tengah perbincangan kita, tiba-tiba Arryo bilang, "elo itu anak baik-baik yang jago berkamuflase jadi anak bandel, Ris." 
dan gue termangu. 
mungkin dia udah tau hal itu sejak lama.. sebagaimana Weich juga sudah sadari jauh-jauh hari, mungkin sejak pagi kita berpapasan itu. 
despite all my rage and rebelliousness, I am still just my parents' little girl. 

dan tugas gue sekarang, adalah berdamai dengan "identitas" itu. 
I crave for stability, security, and logical things that my parents have been cultivated in me since I was a child. 
maybe that's why I ended up masuk tlkm and returned back to the place despite all my complaints and unhappiness. 
but there's also the yearning in me to "burn my bridges, to swallow the poison in one gulp instead of drop by drop, to go down into the bottom of my fear and see if I could pull myself up,"*) because I never really know what it's like to do things for the sake of MYSELF. 
maybe that's why I do what I do; restlessly questioning, restlessly searching, continuously starving ... for something that could cater all the contradictions within me. 

***

seperti kilas pertemuan gue dengan Weich pagi itu, hidup mungkin hanya untuk bersua sesaat. dan di tengah semua kegelisahan dan kesakitan menjalani pilihan-pilihan ini, gue diingatkan, bahwa ya, hidup hanya sesaat. I don't have all the time in the world. 
now is the time to make peace. now is the time to make closure. 
now is the time to do the things I've always been scared of. 

oh Weich, betapapun kini kita sudah tak berada di "ruangan" dimensi yang sama, tetap saja lo menjaga dan mengurusi gue yang senantiasa linglung ini. 
never realized how truly lucky I am to be a friend of yours... for a moment here on earth, and hopefully later in heaven as well. 

always have, always will


*) quoted from the book "Fear of Flying" by Erica Jong.

26/05/2016

thursday playlist: travelling north

so I'm starting out this new "series" for my blog, which is a playlist series. 
this is where I document a chain of songs that captures the way I'm feeling throughout the week. 

and for a start, I made this one called "travelling north." 
what the heck is it intended for?

masih berhubungan dengan blogpost gue di minggu ini, yang berjudul "on loving." di situ gue ngebahas soal konsep mencintai diri sendiri - more or less. I wrote something like, 
"..kalo memang passion gue itu hal yang membuat gue bahagia/fulfilled/feel whole, maka gue harus terus mengejarnya, mencari-cari alasan untuk 'bertemu' dengannya, dan mencurahkan energi untuk bisa 'bersama'nya. 
just like when you're in love."

and this is what the playlist all about. 
tentang jatuh cinta, pada sesuatu yang MUNGKIN nggak akan pernah bisa lo rasakan untuk miliki. tentang gimana perasaan yang kuat itu terus menarik lo, sehingga mau nggak mau lo mengambil risiko juga untuk "berjudi." 
even though you might end up broken and beaten down, but you just have to take the chance anyways. because you just can't fight the feeling. that longing to something that pulls your heart the hardest. that one thing that never fails to excite you. that passion. 

a wise man once said passion adalah sesuatu yang we enjoy the most, sekaligus sesuatu yang sifatnya "must" buat kita. 
"Must is who we are, what we believe, and what we do when we are alone with our truest, most authentic self. It's that which calls to us most deeply. It's our convictions, our passions, our deepest held urges and desires - unavoidable, undeniable, and inexplicable.To choose Must is to say yes to hard work and constant effort, to say yes to a journey without a road map or guarantees, and in so doing, to say yes to what Joseph Campbell called 'the experience of being alive, so that our life experiences on the purely physical plane will have resonance within our innermost being and reality, so that we actually feel the rapture of being alive.'Choosing Must is the greatest thing we can do with our lives."
(from the book "The Crossroads of Should and Must")
the words "travelling north" are uttered in Vashti Bunyan's "Train Song."
bagi gue, lirik lagu itu berbicara tentang mencari sesuatu yang udah lama hilang. elo tau apa yang lo cari, tapi nggak tau harus ke mana supaya ketemu. so you travel north to find it... lo nggak tau apa yang akan terjadi ketika lo akhirnya bisa bertemu sama dia/hal tsb ("don't even know what I'll find when I get to you"), but you know for sure that you will finally be where you truly belong. *sigh*

but as we all know, the journey to attain something we desire is often not a smooth one. you will feel endless doubts. you'll question yourself so many times you'd lose your mind. 
you'll get lost. you'll be afraid to even possess the faintest sight of hope. 
so you'll try to relent that desire. you'll even try to turn back and change your course... you'll try to say goodbye. you'll struggle to stop wanting, but fail. until one day you just don't care "if the feeling goes both ways," and start the search all over again. 

and so it's all rendered in these following songs:
1. Oh Nadine (You were in My Dreams) - Willow Smith
2. The Circle Married the Line - Feist
3. Your Type - Carly Rae Jepsen
4. Kiss It Better - Rihanna
5. Lost in You - Ash
6. Goodbye to Love - The Carpenters
7. Feels Like We Only Go Backwards - Tame Impala
8. Do I Wanna Know? - Arctic Monkey
9. Train Song - Ben Gibbard & Feist


22/02/2016

wildest dreams

tempo hari Lita nulis tentang 30 hal yang dia nggak suka. it kind of inspired me to make a list out of something. but since I'm not in the mood to remind myself of things I dislike, jadi kali ini gue susun a list of my current favorite things aja. hal-hal yang dimasukin di sini random, seperti layaknya pikiran gue yang suka melompat-lompat ke sana ke mari, hehe. so please, bear with me through the rest of the list.   

• gara-gara Grammy 2016, gue jatuh cinta abis-abisan sama dua hal ini: 
a) Demi Lovato singing a cover version of Lionel Richie's "Hello" (merinding gila mak!).


and b) Hamilton
ini adalah judul pertunjukan teater Broadway yang menang Grammy untuk kategori Best Musical Theater Album. awalnya perhatian gue tercuri gara-gara Lin-Manuel Miranda, sang kreator sekaligus bintang pertunjukan ini, ngerap saat bacain acceptance speech-nya. kok seru amat 'ni orang?, gue pikir. setelah baca sana-sini, gue pun hinggap ke video opening number "Hamilton" yang dihadirkan live saat Grammy. opening number alias lagu pembuka ini mengenalkan siapa sih Hamilton ini, yang disebut "America's 'Founding Father Without a Father'" dengan memaparkan sejarah singkat masa kecilnya dan gimana dia sampe merantau ke dataran Amerika. silakan diliat sendiri, deh, betapa KEREN GILAKnya performance para pemain dan musiknya! 



gue nonton ini bersama Bumy, yang kemudian juga sama melongo dan terpukaunya kayak gue. dia abis-abisan bilang Leslie Odom, Jr. "keren, ma! bagus suaranya!" hahaha. ih, semoga someday kita bisa nonton pertunjukan di Broadway ya, nak! (menerima ucapan doa online dengan hashtag #emakinginnontonbroadway).

• next one is about skincare. (told you it's gonna be random)
berbeda dengan saat gue berceloteh seputar skincare regimen sebelumnya, di mana gue belum memakai pre-essence, sekarang gue udah pake. 
buat pagi, gue pakai SK-II Facial Treatment Essence yang alhamdulillah banget kali ini nggak bikin wajah bruntusan. dianalisa lagi, ada perbedaan yang memang kentara. sekarang gue rajin double cleansing. diawali dengan mengusap muka pakai Vichy Micellar Water untuk ngilangin makeup, dilanjutin dengan Sulwhasoo Cleansing Oil, lantas cleansing foam/scrub - which makes me wonder whether I've been TRIPLE cleansing :| 

apapun istilahnya, yang jelas it's all been ok.  
gambar dari sini
buat malam, gue memakai pre-essence yang berbeda. bukannya mau sok ala-ala skincare junkie yang paham kenapa malem dan pagi harus beda produknya, sikk... murni karena kebetulan ada sampel pre-essence yang belum dipake, haha. akhirnya gue prawanin juga History of Whoo's Ja Saeng Essence yang kebetulan sudah gue kekep beberapa lama. gue udah mendengar banyak review positif tentang produk ini, tapi to be honest belum muncul keinginan membara buat nyoba. singkat cerita, I finally gave it a try, dan udah hampir sebulan gue pakai produk ini, jadi layaklah ya buat kasih testimoni? tanggapan gue terhadap produk ini termuat dalam satu kalimat sahaja: it does me wonder. 

uh-huh, no more no less than a wondrous effect it is. terdengar terlalu lebay kah? hehehe. percayalah, gue tidak dibayar dengan produk gratisan sama Whoo (#kode). all I know is, sejak pakai ini, my skin has been supple, dan jerawat jadi jarang nongol (hanya sesekali saat mau dapet dan itupun cepet kering abis 'disumpal' pake si Ja Saeng ini). jadi begitulah, how can I not love this product?
kepikiran mau beli full size-nya sih, tapi pas gue tanya mbak BA-nya, dijawab harganya lebih dari 2 juta rupiah. er... agak gentar yah eke jadinya #dilema #pilihmukaapacicilan. mungkin gue bakalan restock sample size lagi, sik kalau begini caranya. tapi kalaupun gue somehow bisa beli full size, gue rasa setahun juga nggak abis, deh. karena ini aja cuma 5 ml tapi awet sebulan.  

• next on my favorite things is hosting friends.
gue baruuu aja berceloteh di blogpost ini, betapa gue seneng kalau bisa menjamu teman-teman yang mampir ke rumah. tempo hari 'kan ada Ika dan suami yang mampir ke rumah buat berlatih moto dengan cara motoin kita sekeluarga, hahaha. ya kita mah seneng banget atuh xD udahlah disamperin, dipotoin pula!
lalu minggu laluuu, kita kedatengan tamu lagi. kali ini konco-konco kentel gue jaman SMP. kaget dan seneng banget gueee, karena kita bisa kumpul lagi dan mereka sudi mampir ke pelosok ciganjur uhuhuhu. 
semoga Allah kasih gue banyak kesempatan buat latihan jadi nyonya rumah yang oke, yaak hehehe... 


hasil photo sessionnya <3

rasanya baru sekejap berlalu sejak kita gegoleran nonton vcd take that dan boyzone live in concert sepulang sekolah. hiks :')

• perihal tontonan, Orange is the New Black adalah tv show yang membuat gue melotot malam demi malam demi namatin season 1-3 dan bermata panda keesokan harinya. this show is a real bad a**! emang I would not recommend this show for anyone who's conservative in mind, sih. ada graphic depiction of s*x, profanity, and violence, even. tapi cerita yang disampaikan bener-bener 'hidup' lewat para tokohnya. I don't think I've ever fallen in love with so many characters in a show before. 




- lastly, THIS.
It's a very nice and inspiring writing by someone whose life seems to be led by passion. 
Let me quote some parts:
"If you feel you’re stupid, read books. If you think you’re smart, read more books. 
"Membicarakan atau mendiskusikan buku bersama orang lain yang juga senang membaca buku adalah satu dari sedikit kebahagiaan yang tidak mahal — dan jauh lebih baik daripada ikut membicarakan gosip terbaru para selebritas. Saling bertukar buku, tentu saja, juga lebih baik dibandingkan dengan bertukar pasangan. 
"Membaca buku adalah salah satu pekerjaan paling sulit yang saya tahu — dan itulah alasan kenapa banyak orang tidak suka membaca buku."
karena tulisan tadi dan lain hal, gue menyadari kalau buku adalah passion gue yang nggak pernah padam dari dulu sampai sekarang. it makes me feel alive. 
maka gue pun mulai 'memaksa' diri untuk kembali menyentuh dan akrab dengan buku. 
perjalanan diawali dengan langkah-langkah kecil... seperti memperbarui keanggotaan di Rimba Baca. gue kepikiran melakukan ini supaya selain pilihan bacaan Bhumy semakin banyak, juga untuk merangsang minat bacanya. nilai keanggotaannya totally worth the price (cuma Rp375.000/tahun) dibandingkan membeli sendiri. 

kebetulan banget, tau-tau Gemma (@lilbibliophile) ngajak ikut meramaikan hashtag #SatuHariSatuBuku-nya. tujuannya selain mendokumentasikan buku yang dibaca bareng anak, juga untuk ngasih review buku-buku yang udah dibaca. 

maunya sih bisa melangkah lebih lebar lagi ke depannya... gue mulai menargetkan kelar berapa buah buku per 2 minggu, trus kalau bisa, organize a book club sama temen-temen. berhubung gue anaknya seneng sharing, jadi rasanya kecintaan itu bisa tersalurkan lewat menceritakan opini dan berdiskusi soal buku sama orang lain. ada yang tertarik gabung? monggo banget lohhh. 







something to start the book club with...

one afternoon at Rimba Baca


if this is not inspiring, then what is?

30/01/2016

i hear mirrors

it starts with a random thought.
tiba-tiba gue teringat gimana lewat tafakur gue kerap diajak dan diingatkan untuk berkaca. 
saat berkaca, pantulan diri akan terpampang jelas dan nyata. setiap bopeng, setiap lekuk. setiap kelebihan, setiap kekurangan. melalui berkaca secara spiritual, kita jadi tau seperti apa "wujud" diri.  lalu dari situ, diharapkan kita bisa sadar apa yang perlu secara legowo kita terima, dan apa yang perlu diperbaiki.  

and then I remember some songs... 

1. "I'll be Your Mirror" by The Velvet Underground


the song has this part:
"I'll be your mirror, reflect what you are, in case you don't know
I'll be the wind, the rain and the sunset,
the light on your door to show that you're home.."

kata-katanya indah, tapi juga mengandung semacam warning. hubunganlo dengan pasangan akan menjadi bayangan yang lo liat di 'kaca.' begitupun hubunganlo dengan anak, 'rekam jejak' perilakulo terhadap anak, pun terhadap orang yang berinteraksi denganlo sehari-hari. what they think about you shapes the way they treat you. and eventually, will be a reflecting image of yourself.

kalau lo berhasil membentuk hubungan yang indah dengan pasangan, anak, atau siapapun, then you will find to a beautiful "home" to return to. tapi kalau hubunganlo nggak diurusi dengan baik - ditelantarkan, atau malah diisi rekam jejak yang buruk - maka yang akan lo temui adalah rumah yang bobrok.
hubungan sebab-akibat biasa.
jadi mungkin hikmahnya, jangan keburu ngamuk kalau sikap orang-orang di sekitar lo nggak positif terhadaplo. bisa jadi mereka cuma memantulkan kembali apa yang mereka terima dari lo selama ini.

2. "Mirrors" by Justin Timberlake



man, I just love his performance here. 
JT's hotness aside, this song is beautiful, and deep, yet bears a warning. 

"..this promise that we're making two reflections into one,
'cause it's like you're my mirror, 
my mirror staring back at me"

mirip dengan lagu yang pertama tadi, pasangan akan menjadi pantulan diri kita. 
tapi lagu ini juga semacam memberikan janji yang manis dan menenangkan,

"if you ever feel alone and the glare makes me hard to find,
just know that I'm always parallel on the other side"

ini kayak ngasih tau kalau you're not fighting the fight alone by yourself. mungkin aja pasangan kita juga merasakan kesusahan atau kegelisahan yang sedang kita rasakan, tapi dengan cara yang berbeda dengan kita. gue inget gimana saat kemarin dadakan nggak ada pembantu. gue galau siang-malam mempertimbangkan apakah gue harus berenti kerja lagi. I was wallowing for days. ternyata, adit juga diam-diam pusing mikirin gimana cara nyari pembantu, contingency plan selama nggak ada pembantu, dan rentetan urusan ke depannya. gue baru tau segitu kepikirannya dia pas denger dia bilang, "dada aku sampe sakit rasanya, pusing mikirin ini." antara terharu sama mau ngakak gue dengernya. 

3. "Man in the Mirror" by Michael Jackson



it's a timeless classic. and a very wise song, too. 

"I've been a victim of a selfish kind of love
it's time that I realize that there are some with no home, no nickel to loan
could it be really me, pretending that they're not alone?

a widow deeply scarred, somebody's broken heart, and a washed out dream,
they follow the pattern of the wind, you see
'cause they got no place to be, 
that's why I'm starting with me

I'm starting with the man in the mirror, I'm asking him to change his ways
and no message could've been any clearer: 
if you wanna make the world a better place, take a look at yourself 
and then make a change. "

lagi-lagi ini bikin gue keinget materi tafakur: mengorbitlah di diri sendiri. nggak perlu ngurusin kenapa orang begini, kenapa dunia begitu. seperti halnya motivasi, hal-hal dan kondisi yang sifatnya eksternal atau di luar kendali diri, juga nggak akan efektif. 
motivasi eksternal nggak bisa memberi pengaruh jangka panjang, apalagi membentuk karakter.
begitu pula hal-hal eksternal, things that we have no control over, let alone can change.   
stop expecting people to change. stop wishing the world could change. bukannya mau ngasih perspektif yang suram, tapi kita justru perlu curahin energi ke hal-hal yang emang jadi porsi kita, yang ada dalam kendali kita. jangan ngatur Tuhan harusnya gimana ke kita, tapi kita justru perlu numbuhin rasa ingin lebih banyak berbuat baik, rasa ingin lebih taat.
stop comparing. stop trying to think positively. 

just see things as they are. 
and I guess that can only be done by constantly looking at our soul in the mirror. ada banyaaaakkk yang perlu dibenahi, ada banyaaakkkk sumber syukur, dan ada banyaaakkk sumber kesadaran. 
that being said, I'm writing this for myself. hahaha. ya siapa lagi yang gue tau banyak kekurangan dan khilafnya sehingga perlu banyak refleksi dan diingetin selain diri gue sendiri? 



16/06/2015

i hear colours

songs that mention colors. 


the first one is Blur's "Colours." 


Blue is where I want to be
Makes me feel I'm in the sea
Look at all the stars they told me to say
Red's the color when you're dead
It gets there under your head
I don't feel the end, I just want to be

And I know so many things
Oh well I have to sing
There's nothing left to do
And my house is made of bricks
But that's just such a fix
There's nothing I can do

Black is where I want to stay
I think it is in my way
But I won't hurt myself, I'll just let it flow
White is what I was to start
But I don't want to get undone
All my life I've just set everything free

And I know so many things
Oh well I'm just the knee
Puts it on the side
And her house is made of bricks
Oh well it's such a fix
I ain't got nothing now
You'll be bad when everything is slow

and the second one, i only heard it recently. 
come to think of it, it *is* quite "recent" compared to other songs in my library. 
it's Taylor Swift's "Red." 
heard it just a few weeks ago, and it's such a good song! gosh, i think i'm officially a Swiftie.




Loving him is like driving a new Maserati down a dead-end street
Faster than the wind, passionate as sin, ending so suddenly
Loving him is like trying to change your mind once you're already flying through the free fall
Like the colors in autumn, so bright just before they lose it all

Losing him was blue like I'd never known
Missing him was dark grey all alone
Forgetting him was like trying to know somebody you never met
But loving him was red

Loving him was red

Touching him was like realizing all you ever wanted was right there in front of you
Memorizing him was as easy as knowing all the words to your old favorite song
Fighting with him was like trying to solve a crossword and realizing there's no right answer
Regretting him was like wishing you never found out that love could be that strong

Losing him was blue like I'd never known
Missing him was dark grey all alone
Forgetting him was like trying to know somebody you never met
But loving him was red
Oh, red
Burning red

Remembering him comes in flashbacks and echoes
Tell myself it's time now, gotta let go
But moving on from him is impossible
When I still see it all in my head
In burning red
Burning, it was red

And that's why he's spinnin' 'round in my head
Comes back to me, burning red

His love was like driving a new Maserati down a dead-end street 

15/05/2015

on being vulnerable

gambar dari sini
it's been a while since i last updated this blog. in case anyone notice, hehehe.
i just lost the mood to ramble. atau lebih tepatnya, untuk mencurahkan isi hati dan pikiran sambil (berharap) dibaca orang. meski begitu, ada sesuatu yang gue sadari dari fase 'mogok' ngeblog kemaren, yaitu bahwa gue tipe orang yang mengkurasi bagaimana citra gue di mata orang lain. well, yeah, pretty much like most people in this socmed era, actually. gue cuma menunjukkan bagian diri gue yang acceptable; yang normal dan baik-baik saja. malah mungkin yang bisa 'mengesankan' di mata orang lain.
ketika gue lagi mumet atau generally feeling low seperti kemarin, i prefer to keep that part unseen. hidden. nggak diketahui orang lain, jadi gue nggak perlu mengakuinya, and just keep hoping it's only a phase that would soon pass.
but then i realize, that if i want to accept myself the way i am and if i want to learn to grow, then i need to deal with those weaknesses, or things that i perceive as weaknesses. so maybe by mentioning that i went through that phase of "not being okay" here, it can be one of the little steps to be better. i was a mess, yet i'm fine now, and that's just how human lives.

anyway, april was kind of a blur. i just kept moving from one gloomy feeling to another depressive mood and so on and so forth. kalau diingat-ingat apa aja yang terjadi, gue jadi bisa memahami sih kenapa sampe muram banget rasanya bulan itu.
Bumy sempat nggak masuk sekolah berhari-hari karena flu, nggak lama kemudian tiba-tiba mengeluh kakinya sakit. ternyata sendinya semacam bergeser and it took almost a week to recover. masih 'cuti' sekolah, ternyata sakitnya lanjut dengan demam tinggi beberapa hari karena ISPA. gue nggak sempat olahraga karena badan tepar dan literally nggak punya waktu. selain merawat anak yang sakit, gue juga harus bolak-balik ke kantor telkom slipi karena tau-tau dikabarin cuti gue nggak bisa diperpanjang. pihak HR yang terhormat (but no so resourceful it turned out) sendiri baru tau ada peraturan kalo perpanjangan cuti hanya boleh diajukan SATU KALI. jadi ya bubar jalanlah seluruh strategi gue untuk satu tahun ke depan. tadinya gue pikir bisa mengajukan balik kerja lagi bersamaan dengan Bumy udah masuk SD nanti. tapi ternyata sekarang opsi gue cuma mengajukan penempatan kembali jadi karyawan. sementara begitu dulu langkahnya. ini juga udah seminggu berlalu dan belum kunjung ada kabar dari HR telkom. kalo nanti ternyata ditempatin bukan di kantor wilayah Jaksel (yang mana kemungkinannya pun kecil banget), ya berarti harus resign dadah babay dari telkom. atau kalo ternyata nggak diterima untuk balik jadi karyawan lagi (there's a possibility, the HR assured), ya emang harus dadah babay juga, sih.


membeberkannya seperti ini terasa ringan aja, tapi pas menjalani proses ngambil keputusannya, beuh mumet banget. mikirin pro-kontra yang nggak abis-abis, berdebat sama adit, dan tentunya juga gundah gulana karena gue khawatir nggak punya safety net lagi berupa status employment di sebuah perusahaan BUMN besar. tapi seiring waktu, gue sadarin kalo gue emang perlu melewati semua kegundahgulanaan itu. pasti ada sesuatu yang Allah mau benamkan ke diri gue lewat hal-hal nggak enak ini. because sometimes the gift of God isn't wrapped the way you want it to be.

dan ternyata, hal tersulit dari menjalani hari-hari yang muram bukan cuma berusaha melaluinya - dengan selamat. tapi juga gimana biar bisa tetap "produktif" dan tetap memenuhi tugas-tugas yang sudah jadi kewajiban. i was kind of stuck for days, nggak tau mau nulis apa. males ngapa-ngapain. berkubang.
tapi syukurlah pelan-pelan datang kesadaran...
salah satunya bahwa mungkin the demons aren't out there in the big bad world, ever-ready to struck me with their sharp claws; but within me. yang bikin gue jadi nggak produktif atau berkubang, ya diri gue sendiri. bukan keadaan atau siapa-siapa.

jadi, saat ini gue bisa bilang kalau gue baik-baik aja. i'm allright. "pencapaian" kecil seperti berhasil menyelesaikan artikel, atau berhasil berpikir dulu sebelum bereaksi, hal-hal itu yang bikin gue yakin kalau fase muram ini sebenernya kesempatan buat gue menjadi lebih baik. seperti layaknya kesempatan, sometimes it only passes once and that's your only chance to grab it. so i'm thankful for it. 

by the way i was writing this while randomly listening to playlists people put on 8tracks. lalu tiba-tiba lagu ini terdengar. it's "no surprises" by radiohead. lucunya, mungkin udah 2-3 tahun ini gue nggak mau dengerin lagu-lagu radiohead lagi. i still like the music, but i just avoid listening to their songs. because i find them so depressing! 
but, what are the odds, having gone through some gloomy days, now i perceive this particular song as a breath of fresh air. i still think the lyrics is depressing, but it speaks to me... dearly. it feels like the song is one rare being that understands what i've been through.



no alarms and no surprises; silence can be good after days of storm and thunders. 

and i suppose things do get better. i know because one day, out of the blue, my friend Kiti sent me these words...
"most people believe vulnerability is weakness.
but really, vulnerability is courage.
we must ask ourselves... are we willing to show up and be seen?" - Brené Brown

09/04/2015

anthem for a fifteen year-old girl

dulu, lebih tepatnya duluuuuuuuu banget, 17 tahun lalu tepatnya, gue harus memilih lagu untuk dibawakan dalam rangka ujian EBTA praktek SMP. i know, there's so many jebakan umur in the sentence i shouldn't even bother to conceal my real age. nah, waktu itu kita diijinkan untuk entah memainkan lagu tersebut pakai alat musik yang kita kuasai, atau semata-mata nyanyi, sambil tepok tangan kayak pengamen jalanan juga boleh. 
mengingat diri gue yang sejak dulu pemalu kelas berat/pengidap demam panggung akut, entah kenapa gue memilih untuk menyanyikan lagu yang gue pilih. dan sambil main gitar. lengkap pisan yah. 
dan entah kenapa gue memilih lagu tertentu ini. bukannya lagu populer yang guru SMP gue bakal ngerti, misalnya, jadi kans gue dapat nilai bagus agak lebih besar. atau lagu dengan vokal yang butuh keahlian tertentu atau improvisasi meliuk-liuk kek, jadi lagi-lagi mungkin guru gue akan terpesona (meskipun gue ragu dese ngerti soal pitch control whatsoever berhubung those were the days when AFI wasn't even around yet) dan sebagai dampaknya, ngasih gue nilai bagus. 

tapi, gue malah ngotot memilih satu lagu ini. lagu yang rasanya cuma dua anak lain di kelas yang ngeh. lagu yang nadanya cenderung datar bahkan membosankan; nggak butuh liukan vokal nan ciamik atau kalau dimainin pakai gitar pun cuma berisi ritme yang biasa-biasa aja.
gue inget waktu gue menyanyikan lagu itu, si guru penilai cuma melirik ke arah gue sebentar trus keliatan bosen. i don't blame her - she was a 40 something woman, living in a low-to-middle-class suburb and obviously never watched MTV. 
udah bawaan gue untuk jadi overly self-conscious, bahkan sejak masih bocah kayak saat itu. normalnya, gue ngejaga banget perasaan lawan interaksi gue, dan bahkan bisa ikutan nggak nyaman kalo mereka nunjukin gelagat nggak nyaman because of what i say or do. that's how self-conscious i am (or was, maybe). tapi gue inget banget, saat nyanyi itu, gue nggak peduli sama reaksi si guru penilai. to hell with your boredom i thought. you can look as bored and unimpressed as you want but i'm still gonna finish this song 'til the very end. 
and there, i sang it. 
tapi ketika gue baru sampe di bagian menyanyikan chorus yang kedua kali, dia nyuruh gue berhenti. 
"udah, cukup cukup" she said, and told me to get out. 
i assumed she had finished scoring me. 
yaudah sih. but how come that bitch didn't even let me finish?! that's what i thought then, and still do now.

sampe sekarang hal itu masih mengganggu gue. bukan, bukan karena nilai yang gue dapet - i got a 7. or equal as a "meh," "so-so," or even a "naon sih?"
i didn't care about nilai, i never (actually) did.
tapi karena dia memotong saat gue lagi menyanyi. meskipun gue tau dia nggak familiar sama sekali sama lagu, nggak ngerti di mana enaknya, dan bukan salah dia juga kalo dia nggak mencoba memahami letak 'berarti'nya lagu itu buat gue PADAHAL pekerjaan dia adalah guru seni musik dan menjadi sensitif serta mengapresiasi segala bentuk seni seharusnya menjadi hal yang naluriah buat dia. 
no no, i don't blame her. because that's only a miniscule size of effect dari apa yang sudah diperbuat Orde Baru, spesifiknya di bidang pendidikan dalam 'kasus' gue ini, yaitu menciptakan kurikulum sedemikian rupa yang menganggap manusia sebagai statistik semata untuk diluluskan, but let's not go there this time. i should focus on how that little ignorant act made me feel. and on why it mattered to me.

dari awal, gue tau siapa audiens gue - yaitu si guru dengan segala profilnya tadi.dan gue sadar risikonya, bahwa lagu ini nggak akan mengesankan buat dia. 
tapi siapalah gue waktu itu? a 15 year old kid. i didn't care about her, i didn't really care about EBTA praktek either. all i knew was that lirik lagu itu isi hati gue banget. atau dengan istilah sekarang: gue berniat curhat terselubung melalui lagu itu. waktu itu, impian gue adalah jadi vokalis sebuah band (yes, a laughable dream one might say) dan gue bisa meneriakkan kata-kata yang menjadi isi hati gue di hadapan ribuan orang (!) (a girl should dream big, right?!). of course i also wanted the fame and glory, tapi gue membayangkan kepuasan bernyanyi itu and i thought that's what i wanted to do for the rest of my life. 
but it's not only about the singing. i did manage to have a band(s) later in my youth, and became a vocalist. tapi gue nggak pernah merasakan dorongan untuk menyanyikan suatu lagu dengan sama kuatnya seperti waktu EBTA praktek itu.

gue inget sekitar dua minggu sebelum momen EBTA praktek tersebut dan harus memilih lagu untuk dibawakan. saat itu gue punya ratusan kaset dan puluhan CD (i saved my money diligently). i could pick any song. i could pick any reason needed to pick a song. gue bisa ingin dapet nilai bagus. gue bisa ingin disukai. gue bisa ingin merasa senang karena udah membuktikan kemampuan gue bernyanyi.
tapi saat itu, cuma lagu ini yang 'berbicara' sama gue, dan mengerti gue.
i didn't even like oasis. haha. 
but i needed to sing that song, in front of another person.
kalo dipikir-pikir sekarang, maybe i didn't wanna let go of the chance of having an audience (albeit a not so compatible one) and pouring out what i felt inside to another living, breathing individual. i took the only chance i had that time, to be heard, understood, and even though it's a stretch, comforted. 

well, i soon found out where my choice led me. a plain seven.
as expected, my mission failed. 
i took the chance and it haunts me.
"Here's a thought for every man
Who tries to understand what is in his hands
He walks along the open road of Love & Life
surviving if he can

Bound with all the weight of all the words he tried to say
Chained to all the places that he never wished to stay
Bound with all the weight of all the words he tried to say
and as he faced the sun he cast no shadow

As they took his soul they stole his pride
As they took his soul they stole his pride
As they took his soul they stole his pride

As he faced the sun he cast no shadow
Here's a thought for every man
Who tries to understand what is in his hands
He walks along the open road of Love & Life
surviving if he can

Bound with all the weight of all the words he tried to say
Chained to all the places that he never wished to say
Bound with all the weight of all the words he tried to stay
and as faced the sun he cast no shadow

As they took his soul they stole his pride
As they took his soul they stole his pride
As they took his soul they stole his pride

And as he faced the sun he cast no shadow"

19/01/2015

superstar

tepat seminggu lalu, kita dateng ke acara konser Tribute to the Carpenters. i was so excited when i first knew about this event. kebayang bisa dateng sama Adit dan Bumy juga. we are, after all, sort of enthusiastic Carpenters fans (meskipun ini pernyataan yang agak-agak self-proclaimed sih, hehehe).
image from here

sesampainya di Pacific Place sore itu, kita masih berpikir suasana konsernya akan mini dan intim. jarang, kali, ABG yang suka the Carpenters... gitu gue pikir.

tapii, ketika kita makan malam di Ky*chon, kebetulan meja di seberang kita diisi oleh segerombolan anak-anak kuliahan yang hip dan "G*ods Dept" banget. lalu tanpa diniatkan untuk nguping, kita jadi tau kalo mereka mau dateng ke konser yang sama. tepatnya dari celetukan seorang di rombongan itu, "'Just like me... they long to be... close to youu' pasti lagu ini nanti dimainin, deh!" wew, kuno amat pemikiran gue yang mengira selera musik nggak bisa lintas generasi segitu jauhnya. hahaha... mungkin gue terlalu underestimate selera anak-anak kuliahan jakarta masa kini xD

berhubung acaranya dijadwalin mulai jam 7 sementara Bumy belum kelar makan, gue memutuskan jalan duluan ke venue untuk liat-liat situasi. ternyata begitu sampai di depan Atamerica, antrian udah panjang sampai ke bagian pintu terluar Atamerica. mak! begitu akhirnya bisa masuk, gue intip tempat konser akan diadain dan menemukan semua tempat duduk udah keisi. telat pisan ternyataa T__T

gue nungguin Adit dan Bumy bisa masuk di bagian luar tempat konser. sambil duduk-duduk di salah sofa di situ, gue denger seorang staf Atamerica ngomong kalo ini pertama kalinya pengunjung acara di situ serame ini! ternyata bukan gue doang yang salah perhitungan, hahah.
pas udah jam 7, gue telpon Adit lagi, dan dia bilang dia masih stuck di antrian yang sekarang udah mengular sampe ke luar Atamerica. yaudah deh, gue putusin masuk ke bagian konsernya duluan aja. masih kebagian duduk, sih... tapi di ubin tepat di depan panggung. glek. well, at least i can get that 'intimate' vibe i was imagining about.

sebenernya, selain pengen denger rendition lagu-lagu Carpenters, gue punya motif lain yang bikin gue ngotot dan excited dateng ke acara ini. tak lain tak bukan seorang penampil yang gue kagumi dan sukai sejak lama, tapi culunnya, nggak pernah gue liat perform secara langsung. it's Imel! atau lengkapnya Imelda Simangunsong, kakaknya THE Dewi Lestari, hehe.
image from here
gue sukaaaaaaa banget album dia produksi tahun 2002 silam, yang judulnya "Di Ladang Stroberi." sebenernya sih tau soal Imel ini dari sohib gue si Level 7. dia merekomendasikan album tersebut dibumbui dengan kata-kata "ris, you HAVE to listen to this. she's ah-mazing!"
ternyata setelah mendengarnya sendiri, it turned out that i fell in love with each and every song on that album. bahkan saking lagu-lagu di situ 'dapet' banget nuansa dari pesan dan tema yang mau disampein, tiap kali gue 'jatuh cinta,' gue menganalogikannya dengan "berada di ladang stroberi." x)))


well, back to the concert, jam 7 lewat, akhirnya masuk juga para performers malam ini: the Simangunsong sisters, hehe. sebutan ini sendiri baru 'dibuat' ketika Dewi Lestari 'ngobrol' dengan para penonton dan bertanya-tanya nama apa yang cocok buat 'grup' mereka ini. dari obrolan tersebut, gue juga jadi tahu kalo the sisters ini biasanya cuma 'manggung' di acara-acara keluarga, macam natalan, gitu. gue jadi ngerasa beruntung banget bisa dateng ke acara ini karena seolah-olah bisa sekejap mencicipi kerennya acara keluarga mereka itu hehehe.

jujur, gue nggak nyatetin song list mereka malam itu. tapi yang jelas, sebagian lagunya gue kenal dan sangat sangattt nikmati. kayak "Rainy Days and Mondays," "Superstar," "For All We Know," "We've Only Just Begun," "I Need to be in Love(!!)," "Sing," daaaan masih banyak lagi. gilakkk membuncah banget dada ini oleh kegembiraan hahahaha.

cerita dan kesan-kesan yang gue dapat dari konser ini dirangkum dalam titik-titik peluru berikut:

- the sisters bilang kalau dalam memilih lagu-lagu untuk dimainkan di konser ini, mereka pilih lagu yang cocok dengan warna suara mereka semua. hasilnya, menurut gue, lagu-lagu the Carpenters dibawakan dengan nuansa yang fresh dan 'baru' karena Dewi, Imel, dan Arina nyanyi dengan gaya khas atau signature style mereka masing-masing.


pada satu titik, rasanya kayak mendengar Mocca bawain the Carpenters dan nuansanya jadi "indie" banget. di titik lain, lagu the Carpenters jadi bernuansa jazz dengan suara Imel dan dentingan piano yang dia improvisasikan sedemikan rupa. dan ada saat-saat di mana Carpenters terasa 'paling' Carpenters ketika Dewi yang nyanyi, karena emang suaranya yang paling 'dekat' dengan Karen Carpenter. tapi most of the time, karena hampir sepanjang konser mereka bertiga nyanyi bersama-sama dalam satu lagu, lagu-lagu Carpenters yang dibawakan jadi terasa begitu kaya berkat banyak "warna" suara yang dicipratkan.

- gue dan Adit beberapa kali karaokean berdua aja dan milih untuk nyanyiin lagu-lagu Carpenters. i have to admit kalau kesederhanaan struktur lagu yang terdiri dari bait awal - chorus - bait kedua - chorus - bridge - lalu chorus diulang-ulang, bisa terasa membosankan. emang sih, kekuatan lagu-lagu Carpenters justru terletak pada kesederhanaannya itu - yang diracik dengan legitnya suara "chocolate-and-cream alto"-nya Karen Carpenter. tapi, gue bayangkan on a concert, hal ini bisa menjebak mood drifting along menuju hal yang monoton dan predictable, apalagi kalo yang bawain suaranya standar-standar aja. tapi yang terjadi pas konser mini ini, nggak ada tuh rasa 'bosen' - meskipun kita udah pada tau struktur lagu-lagu Carpenters bakal sesimpel apa. gue rasa ini berkat 'olahan' improvisasi Imel, baik dalam permainan pianonya yang jazzy maupun dalam menyanyikan lagu-lagunya. Arina juga bawa her iconic flute ke panggung. hal lain yang jadi faktor gue rasa adalah karisma ketiga perempuan ini, yang memang udah dikenal dan membawa citra musik yang berkualitas. 
Dewi Lestari juga berhasil mengisi jeda antar lagu, jadi suasanya makin akrab hehe. mulai dari berbagi panggilan sayang antara kakak-beradik itu, juga nyeritain kesan personalnya terhadap lagu-lagu Carpenters. that way, we got to have another peek at their childhood and family life.
Imel juga beberapa kali ngasih insight tentang the Carpenters dan gimana mereka milih lagu untuk dibawakan.   
oh iya, pada beberapa lagu di penghujung konser, Reza Gunawan didaulat untuk naik ke stage dan mengiringi dengan piano. it really felt like a family gathering! i guess these factors gave 3 points score for that "intimacy" i craved, hehe.

- Imel is an awesome musician. hahaha this is the groupie in me yang butuh membuat penekanan. 

well, satu setengah jam di malam itu rasanya cepet banget. padahal lumayan pegel juga sih, karena gue duduk bersila sambil memangku Bumy di sekitar 3 lagu terakhir. :D tapi rasanya seneng banget bisa menikmati suguhan keren dari Simangunsong sisters ini. 
btw, do i need to reveal how i cried on several songs? it's *that* beautiful. :')


27/11/2013

the weekend with girl from mars

i had a me-time galore last weekend. setelah minggu sebelumnya yang padat dan cukup bikin kelimpungan. nyiapin (seribu perintilan) ultah bumy (atau bisa juga disebut: pertama kalinya kami menghelat acara yang melibatkan banyak orang di rumah sendiriii), ngebut bikin artikel for the upcoming MD's project, dan alhamdulillah dapet cipratan kerjaan copywriting dari Nisha xixixi <3<3

bokap nyokap nginap sejak kamis malam di rumah. besoknya, mereka bawa bumy ke karawaci sepulang sekolah. jadi, resmi sejak jumat siang gue memiliki rumah untuk diri sendiri :P
tapi malah bingung gitu mau ngapain....
glundungan di kasur sampe bosen. akhirnya memutuskan nyetel dvd yang udah dibeli dari dua bulan lalu tapi belum juga ditontonin.
  • "the paperboy": ada nicole kidman, matthew mccoughnahey, sama zac efron, tapi filmnya lebih "festival' daripada "hollywood"-y. gak bisa bilang gue suka sama ceritanya sih, tapi film ini kuat juga 'tonjokan'nya ey. bikin kepikiran sampe sebelom tidur :|
  • "penelope": picked this movie randomly, tapi debi bilang film ini bagus. gue juga berharap demikian saat memilih karena ada james mcavoy-nya. ternyataaa... what happened was worse: film ini bikin jatuhati ugal-ugalan sama mr. mcavoy nan tampancharmingbritishpula! xD but also a feel-good romance&family movie it is. tentunya gak sah disebut begitu kalo gak bikin mata basah di satu dua adegan.
  • "on the road": film dari tahun 2012, main casts-nya belum ada yang gue kenal selain tom sturridge, kiki dunst, dan kristen stewart. tapiii, dua cowok main casts ini bikin termehek-meheeek (nobody uses this word anymore, right? only makes it legal for me to put it in here). aarghh sam riley + garrett hedlund = ibuk-ibuk menjelang 30 tahun yang kelojotan terpesona. hysteria aside, i think this movie is not your typical hollywood movie. lebih "jiffest" lah macam si paperboy (which is to be expected, lha wong ceritanya dari buku fenomenalnya jack kerouac, the one and only "on the road"). sedikit banyak mengingatkan pada "motorcycle diaries" karena tema coming-of-age-nya. tapi yang ini terasa lebih "amerika," karena memotret kegalauan kaum muda amerika di tahun 40an, dengan karakter-karakter yang restless, don't wanna settle, dan gak takut keluar dari comfort zone. inspiring lah.
  • "paris manhattan": LOVE THIS MOVIE TO THE MOON AND BACK. film ini tentang cewek yang suka banget sama woody allen dan film-filmnya. ain't that soooo familiar or what?! yang makin bikin hati teraduk-aduk (by excitement!) adalah skenarionya yang "woody allen" banget!! lucu, tolol, witty, unpredictable, tapi hit you on the gut saat menyuguhkan hikmah dan kebijaksanaan hidup. this movie is a homage to woody allen, yet ALSO serves as a love letter to his fans! can't say how much i lovvve, luurrveee, the movie :)))

so, that's day one.
on day two, noo we didn't have somekinda hornymoon day. kita berdua bangun pagi-pagi karena masing-masing punya agenda. adit ikut volunteering benerin sekolah ke parung, sementara gue menunaikan janji untuk... senam sama ibu-ibu kompleks. oh yes, i'm "there," at the point where i put on my training suit at 6 am on saturday morning, to mingle and jiggle.
meskipun demikiaaan, seru juga olahraganya (baca: bikin badan rontok, keringetan, dan ngos-ngosan). sesudahnya, berhubung si embak telah kembali bekerja, gue menghabiskan pagi dengan glundungan lagi di kasur... LOL. saat-saat seperti ini nih, ternyata malah bikin kangen banget sama anak. si koala. bocah lucu. yang mengganggu mama dengan pertanyaan "kok?" dan "kenapa?"nya 111000 kali dalam sehari. huks. 


sorenya, gue nungguin kiti dateng ke rumah. we were about to have a date that saturday night... not just a regular date, but a DATE WITH TIM WHEELER AND ASH. hahaha... oh yeaah (no-pun intended), satu lagi band masa muda gue dihadirkan ke jakarta. excited banget jiwa forever-13-tahun-kuu.
jalanan jakarta juga bersahabat banget sore itu, jadi jam 5an kita udah sampe di senayan.
begitu tiba di lapangan D, tercium... bau rumput itu. hembusan angin dan keriuhan dari speaker raksasa itu. i instantly felt like home. funny, huh. maybe because the place has been holding some memorable events in my life. weezer. blur. and now ash. SUBHANALLAH.


di awal malam itu, anginnya terasa agak dingin. gue sempet menyesal gak pake jaket atau numpuk baju di badan. penontonnya bisa dibilang sepi, tapi semangat nostalgia dan kekangenan yang mutual di antara sanubari para hadirin bikin suasananya jadi terasa intim. bagaikan a private gig. beneran deh gak dilebih-lebihkan, haha. (ya Allah, lagi nulis ini tiba-tiba terdengar "Lost in You" dari media player....).

ash tampil enerjik, dan mr. wheeler ramaah banget sama kite-kite. momen "ledakan kerinduan" gue terjadi kala lagu "sometimes" dan "angel interceptor" hihihi, ini nih yang bikin kecanduan sama konser. 
gue jadi inget jaman kuliah dan jatcin sama seorang pria 'aneh' dari provinsi yang istimewa, haha. jadi inget juga sama masa-masa SMP dan doyan nyetel kaset "1977" sekaligus OST. Angus. ajaibnya, ash ngebawain lagu "Jack Names The Planet" yang cuma bisa gue temukan di kaset Angus itu!


1977 = celebration of long-lost youth <3

"sometimes it happens feelings die.
all years are lost in a blink of an eye.
we once had it all, but events conspired. 
sometimes...." 


hati dan kepala gue juga membuncah akibat raungan distorsi gitar dan dentuman drum yang seolah jadi trademark musik masa muda gue. era sembilanpuluhan. kangen banget sama tune macam begini! jadi kepikiran, apakah tune ini akan jadi 'klasik' dan semakin langka? and will today's youngsters cringe at the sound of it the way i did when i heard my dad's 70's music as a teenage kid? but i believe good music perseveres. one day, another teenage kid will fall in love with this kind of music perpetual adolescents like ash made.

  

busuk banget foto-fotonya yaa. maklum deh dari jarak jauh (yang kanan dari screen. iseng diambil setelah kiti komentar muka tim wheeler "model-model tom cruise."), dan gue juga gak pernah ngotot capture foto dan video saat konser. karena bakal ada banyaaak foto yang lebih keren yang diambil sama para fotografer dan juga rekaman video konser versi lengkap yang akan di-upload-in ke youtube. jadi ngapain ngerusak momen merekam kenangan di kepala dan hati sendiriii.

oiya, efek rumah kaca/pandai besi juga tampil dengan sangat memukau. lagu-lagu pandai besi bikin teringat sigur ros. megah, bagai mimpi, dan menghanyutkan. love them. highlight dari performance mereka adalah cholil sang vokalis ngajak anaknya ke panggung. sepanjaaang performance, si bocah kecil berdiri di samping bapaknya, dan kadang tangannya megangin ujung kemeja bapaknya. :"}}} (pas lihat akun instagram tim wheeler, ternyata dia ambil foto si anak yang lagi ikut manggung, dan dikasih caption: "The band on before us has a 3 year old genius prodigy amongst their ranks" :D)

malam itu, gue, kiti dan adit sampe di rumah jam 11an. bukannya langsung tidur, malah asik ngobrol. mana yang dibahas soal keuangan, yang ada malah makin semangat ngoceh. tiba-tiba sekitar jam 12:30 pagi, listrik mati. bubaaar deh. esoknya, kita sempat maksi dulu bertiga di demang cafe di sarinah. lagi-lagi nostalgia! terakhir kita barengan ke sini ya pas ngerayain ultah pertama bumy tiga tahun lalu. tempatnya masih cozy, makanannya masih enak-enak. cuma kok sepi banget yaa untuk minggu siang?



setelah semalaman bersama dan gak kepikiran buat foto berdua...zzz. 

well, anyway, i guess all there is to say now is... alhamdulillah.