Ibu-ibu Saja Atau Ibu-ibu Banget?
Teman: “Duh, kita kok nggak ‘ibu-ibu’ banget, ya?”
Saya: “Haha.. iya juga, ya!”
Gara-gara celetukan itu, saya jadi disentak oleh “Aha!” moment.
Saya memang ibu-ibu, tapi deep down inside, kok saya nggak merasa seperti ibu-ibu, ya?
*Gambar dari sini
Bukannya menolak kenyataan atau malah delusional mengganggap diri masih ABG kinyis-kinyis, sih.
Yang saya maksud, sepertinya ada standar tertentu bagaimana seorang ibu-ibu itu berpikir dan bersikap; semacam stereotype, begitu, tentang ‘ibu-ibu.’ Dan kalau melihat diri sendiri, rasanya banyak melenceng dari standar itu.
Tapiii, ini juga tidak berarti saya mau mem-branding diri sebagai ibu yang ‘beda’ atau (sok) keren, lho! Hmm, seperti apa, ya, tepatnya? Supaya nggak semakin ribet sendiri, coba saya jabarkan dulu stereotype ‘ibu-ibu’ yang ada di kepala saya.
- Bisa nawar saat membeli barang.
- Masih mengacu pada ibu sendiri, beliau tuh bisa memulai percakapan dengan siapa saja dan di mana saja. SKSD abis pokoknya!
Begitu juga dengan guru-guru saya dan adik-adik saat sekolah. Beliau bisa ngobrol dengan akrab dengan mereka, beberapa bahkan jadi seperti saudara sendiri. Benefitnya buat kami, ya jadi lebih diperhatikan oleh guru-guru hahaha. Tapi kalau saya, malah khawatir guru-guru risih diajak ngobrol tanpa janjian terlebih dulu.
Teman saya lain lagi, dia merasa canggung untuk bersosialisasi dengan ibu-ibu di sekolah anaknya. Simply karena nggak tahu saja mau memulai percakapan dari mana!
- Follow akun selebgram ibu-ibu… hihi.
- Segera pasang badan kalau terjadi apa-apa terhadap anaknya.
Kalau dihadapkan pada kondisi yang sama, rasanya saya keburu malu membayangkan harus ngomel-ngomel di depan umum. Ngomelin anak orang, pula!
- Always put the kids first.
Mentang-mentang punya stereotype sendiri di kepala, tapi nggak berarti saya berhak menilai mana yang jelek dan mana yang lebih baik.
Karena, dengan membentuk stereotype tentang bagaimana perilaku yang ‘ibu-ibu’ banget itu, bisa jadi sebenarnya saya sedang defensif; tidak mau masuk ke dalam kotak stereotype dan tidak mau dinilai berdasarkan stereotype. Padahal, meskipun ada hal-hal yang saya tidak bisa relate dengan sesama ibu-ibu, sebenarnya ada banyak juga kesamaan saya dengan ibu-ibu lain. Misalnya…
- Hobi berlama-lama menggenggam smartphone.
- Kalau dibandingkan dengan orangtua jaman dulu yang ‘cuek’ dan easy-going dalam membesarkan anak, rasanya kita, ibu-ibu zaman sekarang, bisa disebut helicopter parents, ya?
- But on the brighter side, banyak dari kita juga getol belajar ini-itu karena nggak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan orangtua kita dulu.
Dari yang tadinya tidak bisa masak sama sekali jadi jago mengulik resep-resep MPASI. Yang tadinya couch potato jadi rajin olahraga dan menerapkan clean eating. Yang tadinya cuek sama lingkungan, berubah haluan karena menyadari pentingnya mewariskan bumi yang masih subur dan nyaman untuk generasi berikutnya.
- Selain itu, kita juga masih ingin mengejar mimpi ini-itu, yang tidak melulu berkaitan dengan peran sebagai ibu.
- Kita lebih aware akan identitas kita; kita tak ingin hanya didefinisikan lewat peran saja, tapi juga mimpi-mimpi dan pencapaian kita.
Jadii, mungkin saya nggak perlu galau-galau amat, ya, soal identitas diri setelah menjadi ibu? Apa yang saya pikirkan sebagai stereotype ibu-ibu belum tentu sama dengan pendapat orang lain. Dan ternyata, saya juga nggak beda-beda amat dengan kebanyakan ibu-ibu.
Mungkin inilah potret ibu-ibu generasi milenial.
We were raised not only to be “mothers” but also a whole human-being.
We are not exactly alike, but we certainly have some things in common. We have choices. We are well-connected with every piece of information in this world.
And, we have clear visions of how we want to live our lives and what legacy we want to give to our children.
Nah, Mommies sendiri bagaimana? Menilai diri sebagai ibu-ibu saja, atau ibu-ibu banget? Kalau saya, sih, ternyataa… ibu-ibu banget, hihihi.
Bok, satu yang gue tangkep sebagai 'tren' bersama 'ibu-ibu sekarang' (istilah baru lagi, nih, 'ibu-ibu sekarang') tuh yang "nggak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan orang tua kita dulu". Ini apa ada semacam trauma bersama dengan pola asuh ortu dulu, atau mungkin gara2 faktor perkembangan teknologi jadi bikin banyak orang baru 'ngeh' kalo ortu kita dulu melakukan (banyak) kesalahan dalam ngasuh kita (in our version, ya).
ReplyDeleteDi satu sisi kita banyak menghargai apa yang udah ortu lakuin buat kita, di sisi lain ya itu, banyak yang gue liat merasa sangat gak puas dengan masa kecilnya... and that leads us to.... still on process of searching our identity in our current age, don't you think? No? :D
yaa, gue setuju sama setiap poinlo, Nur.. hahaha. mungkin kalau nggak ada internet, kita cenderung mengulang pola asuh orangtua kita, just like the way our parents did, karena itu cara yang sudah kita tahu pasti.
Deletebut here we are, trying to raise our kids in the internet era. kita dapetin banyak kemudahan, tapi juga banyak 'tantangan.' entah jadi kepo sama cara dan lifestyle orangtua lain, neverending ngebanding-bandingin, jadi insecure, atau juga kaya lo bilang, merasa nggak puas sama masa kecilnya, gue banget nih, hahaha. tapii, seiring dengan waktu, makin tua, makin gue nyadarin juga my parents tried the best they could. dengan segala kapasitas yang mereka punya dan mampu usahakan. gue jadi tau soal karakteristik generasi mereka thanks to internet, dan jadi maklum sama cara pandang mereka.
i turn out - sort of - alright, kok. hahaha.