30/12/2014

oh mothers...

Ibu-ibu Saja Atau Ibu-ibu Banget?

by: - Friday, December 19th, 2014 at 7:00 am
 
Entah bagaimana awalnya, obrolan ngalor ngidul saya dengan teman yang sama-sama seorang ibu di Whatsapp, berujung dengan dialog begini

Teman: “Duh, kita kok nggak ‘ibu-ibu’ banget, ya?”
Saya: “Haha.. iya juga, ya!”

Gara-gara celetukan itu, saya jadi disentak oleh “Aha!” moment.
Saya memang ibu-ibu, tapi deep down inside, kok saya nggak merasa seperti ibu-ibu, ya?

mothers-day-crown 
*Gambar dari sini

Bukannya menolak kenyataan atau malah delusional mengganggap diri masih ABG kinyis-kinyis, sih.
Yang saya maksud, sepertinya ada standar tertentu bagaimana seorang ibu-ibu itu berpikir dan bersikap; semacam stereotype, begitu, tentang ‘ibu-ibu.’ Dan kalau melihat diri sendiri, rasanya banyak melenceng dari standar itu.

Tapiii, ini juga tidak berarti saya mau mem-branding diri sebagai ibu yang ‘beda’ atau (sok) keren, lho! Hmm, seperti apa, ya, tepatnya? Supaya nggak semakin ribet sendiri, coba saya jabarkan dulu stereotype ‘ibu-ibu’ yang ada di kepala saya.
  • Bisa nawar saat membeli barang.
Memang, siih, kesempatan melakukan tawar-menawar barang saat saya berbelanja jauuuh lebih minim dibandingkan ibu saya yang rutin ke pasar tradisional tiap minggu. Tapi tetap aja, misalnya di bazaar atau di ITC di mana menawar barang masih perlu dilakukan, saya tergagap kebingungan. Ujung-ujungnya, ya melontarkan kalimat ‘andalan': “Pasnya aja, deh, berapa.”
  • Masih mengacu pada ibu sendiri, beliau tuh bisa memulai percakapan dengan siapa saja dan di mana saja. SKSD abis pokoknya!
Tapi manfaatnya memang banyak, sih. Satu contoh, gampang saja buat ibu saya mencari pembantu baru karena ‘networking‘nya luas, hahaha. Entah nitip ke tetangga, tukang pijit langganan, mbak-mbak salon, sampai ke tukang becak. xD
Begitu juga dengan guru-guru saya dan adik-adik saat sekolah. Beliau bisa ngobrol dengan akrab dengan mereka, beberapa bahkan jadi seperti saudara sendiri. Benefitnya buat kami, ya jadi lebih diperhatikan oleh guru-guru hahaha. Tapi kalau saya, malah khawatir guru-guru risih diajak ngobrol tanpa janjian terlebih dulu.
Teman saya lain lagi, dia merasa canggung untuk bersosialisasi dengan ibu-ibu di sekolah anaknya. Simply karena nggak tahu saja mau memulai percakapan dari mana!
  • Follow akun selebgram ibu-ibu… hihi.
Eh, Mommies sudah tahu, dong, maksud istilah ini? Menurut saya, yang tergolong ini tuh ibu-ibu yang menjadi seleb lewat Instagram karena di-follow ribuan orang, atau juga selebriti yang sudah jadi ibu-ibu. Silakan dikoreksi kalau salah, yaa, hehehe. Dalam salah satu obrolan kami, untuk jenis selebgram yang pertama, saya dan teman saya sama-sama keheranan melihat bagaimana orang biasa bisa melejit pamornya di dunia maya. Padahal yang mereka upload foto-foto kesehariannya aja. Makan apa, liburan di mana, OOTD anaknya (kadang-kadang juga selfie dan OOTD si ibu, sih), dll. Kami berteori, mungkin banyak yang dibuat kagum sekaligus kepo dengan lifestyle para selebgram itu, yang kerap terlihat ‘wah’ dan shiny happy bak editorial majalah. Mungkin, yaa….
  • Segera pasang badan kalau terjadi apa-apa terhadap anaknya.
“Siapa yang gituin kamu? Yang mana anaknya? Sini, biar mama samperin!” Ini, nih, definisi ‘ibu-ibu’ sejati buat saya. Naluri melindungi anak begitu meresapi jiwa raga, sampai-sampai refleksnya terlatih banget. Saya, kok, nggak bisa begitu, ya? *nunduk*
Kalau dihadapkan pada kondisi yang sama, rasanya saya keburu malu membayangkan harus ngomel-ngomel di depan umum. Ngomelin anak orang, pula!
  • Always put the kids first.
Memang sih, kalau soal belanja, saya lebih sering tergoda membeli barang-barang kebutuhan anak dibanding buat diri sendiri. Tapi, kalau ada waktu luang, dibandingkan mengejar kegiatan berkualitas di anak, seringnya, saya lebih memilih menggunakannya buat me-time (contoh konkret: mengirim anak bermain di kamarnya, supaya saya bisa nonton rerun ANTM… *tutup muka*).

Mentang-mentang punya stereotype sendiri di kepala, tapi nggak berarti saya berhak menilai mana yang jelek dan mana yang lebih baik.


mom_smartphone*Gambar dari sini

Karena, dengan membentuk stereotype tentang bagaimana perilaku yang ‘ibu-ibu’ banget itu, bisa jadi sebenarnya saya sedang defensif; tidak mau masuk ke dalam kotak stereotype dan tidak mau dinilai berdasarkan stereotype. Padahal, meskipun ada hal-hal yang saya tidak bisa relate dengan sesama ibu-ibu, sebenarnya ada banyak juga kesamaan saya dengan ibu-ibu lain. Misalnya…
  • Hobi berlama-lama menggenggam smartphone.
Hihihi. Selain untuk bersosialisasi (punya berapa Whatsapp group, Bunda?), ibu-ibu zaman sekarang juga haus informasi, ‘kan? Kita mau mendapatkan kejelasan sebelum membuat sebuah pilihan. Rumor-rumor yang nggak jelas juga rajin kita cek dan ricek dulu sebelum heboh sendiri lalu men-share-nya di sosmed. Kita bisa sharing informasi seputar parenting dan juga mendapatkan support group lewat forum online – pastinya di Mommies Daily. *wink*
  • Kalau dibandingkan dengan orangtua jaman dulu yang ‘cuek’ dan easy-going dalam membesarkan anak, rasanya kita, ibu-ibu zaman sekarang, bisa disebut helicopter parents, ya?
“Helicopter parent” maksudnya tipe orangtua yang mengurusi segala aspek dalam rutinitas dan perilaku anaknya. Bukan cuma build our lives around our children and hover like a helicopter, tapi tipe orangtua ini juga identik dengan micromanaging. Segala hal diperiksa baik-baik; mulai dari memilah mainan (harus yang edukatif!) sampai mengkurasi dengan seksama pilihan pendidikan untuk anak mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Memang, sikap orangtua yang seperti ini tujuannya baik, yaitu ingin memastikan anak-anaknya berada dalam jalur yang benar menuju kesuksesan. Tapi, caranya kayaknya yang salah? Karena orangtua mengukirkan jalan itu buat anak alih-alih membiarkan anak berpikir mandiri sehingga bisa membuat pilihan-pilihannya sendiri. OK, #notetoself kalau begitu.
  • But on the brighter side, banyak dari kita juga getol belajar ini-itu karena nggak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan orangtua kita dulu.
Atau meniru kata-kata di spanduk: Demi masa depan yang lebih baik!
Dari yang tadinya tidak bisa masak sama sekali jadi jago mengulik resep-resep MPASI. Yang tadinya couch potato jadi rajin olahraga dan menerapkan clean eating. Yang tadinya cuek sama lingkungan, berubah haluan karena menyadari pentingnya mewariskan bumi yang masih subur dan nyaman untuk generasi berikutnya.
  • Selain itu, kita juga masih ingin mengejar mimpi ini-itu, yang tidak melulu berkaitan dengan peran sebagai ibu.
Hidup nggak lagi satu dimensi seperti kredo menyeramkan tentang takdir perempuan jaman dahulu: dapur – sumur – kasur. Perkembangan zaman membuka pintu kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk berkontribusi, berkarya, dan mewujudkan impian. Apalagi kita, perempuan Indonesia, yang disokong oleh support system yang baik, entah itu berwujud orangtua yang bisa dititipi anak, asisten rumah tangga, atau nanny. And this leads us to…
  • Kita lebih aware akan identitas kita; kita tak ingin hanya didefinisikan lewat peran saja, tapi juga mimpi-mimpi dan pencapaian kita.
Sebagian dari kita mungkin mengernyit saat disebut “Bundanya A” karena kita tidak mau jati diri kita sebagai individu hilang setelah menjadi ibu.

Jadii, mungkin saya nggak perlu galau-galau amat, ya, soal identitas diri setelah menjadi ibu? Apa yang saya pikirkan sebagai stereotype ibu-ibu belum tentu sama dengan pendapat orang lain. Dan ternyata, saya juga nggak beda-beda amat dengan kebanyakan ibu-ibu.

Mungkin inilah potret ibu-ibu generasi milenial.
We were raised not only to be “mothers” but also a whole human-being.
We are not exactly alike, but we certainly have some things in common. We have choices. We are well-connected with every piece of information in this world.
And, we have clear visions of how we want to live our lives and what legacy we want to give to our children.

Nah, Mommies sendiri bagaimana? Menilai diri sebagai ibu-ibu saja, atau ibu-ibu banget? Kalau saya, sih, ternyataa… ibu-ibu banget, hihihi.

2 comments:

  1. Bok, satu yang gue tangkep sebagai 'tren' bersama 'ibu-ibu sekarang' (istilah baru lagi, nih, 'ibu-ibu sekarang') tuh yang "nggak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan orang tua kita dulu". Ini apa ada semacam trauma bersama dengan pola asuh ortu dulu, atau mungkin gara2 faktor perkembangan teknologi jadi bikin banyak orang baru 'ngeh' kalo ortu kita dulu melakukan (banyak) kesalahan dalam ngasuh kita (in our version, ya).

    Di satu sisi kita banyak menghargai apa yang udah ortu lakuin buat kita, di sisi lain ya itu, banyak yang gue liat merasa sangat gak puas dengan masa kecilnya... and that leads us to.... still on process of searching our identity in our current age, don't you think? No? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaa, gue setuju sama setiap poinlo, Nur.. hahaha. mungkin kalau nggak ada internet, kita cenderung mengulang pola asuh orangtua kita, just like the way our parents did, karena itu cara yang sudah kita tahu pasti.
      but here we are, trying to raise our kids in the internet era. kita dapetin banyak kemudahan, tapi juga banyak 'tantangan.' entah jadi kepo sama cara dan lifestyle orangtua lain, neverending ngebanding-bandingin, jadi insecure, atau juga kaya lo bilang, merasa nggak puas sama masa kecilnya, gue banget nih, hahaha. tapii, seiring dengan waktu, makin tua, makin gue nyadarin juga my parents tried the best they could. dengan segala kapasitas yang mereka punya dan mampu usahakan. gue jadi tau soal karakteristik generasi mereka thanks to internet, dan jadi maklum sama cara pandang mereka.
      i turn out - sort of - alright, kok. hahaha.

      Delete