07/12/2014

thoughts on aging

Masih dalam rangkaian posting edisi "karawaci bersinar," gue sebut kalau dari sering ke sana, gue jadi bisa lebih sering 'nemenin' bokap-nyokap. Dari situ, somehow gue jadi mendapat insight seputar masa pensiun dan menjadi tua; some are in a form of warning, some other in ideas. Hal-hal random aja, sih, kayak...

a. Masa produktif itu pendek dan cepet berlalu banget, yah... 


Kalo udah pernah duduk ngebahas dana pensiun emang jadi lebih aware, sih, tapi dengan berinteraksi langsung dengan generasi baby boomers ini saat kita sendiri sedang di masa produktif, kok ya MAKIN BERASA. 
Nggak bisa dipungkiri deh, kalau kita - gue dan Adit - yang kelas menengah yang (alhamdulillah, though) di tengah-tengah banget dan berdikari ini perlu fokus menyiapkan diri secara finansial buat masa pensiun. Keputusan-keputusan terkait duit harus mempertimbangkan periode pas udah nggak produktif atau digaji lagi. Udah tau, sihh, tapi tetep aja suka 'lupa' kalo duit itu peruntukkannya BUKAN cuma buat masa kini, tapi juga masa depan...
pengennya masa pensiun bisa leha-leha gini.
tapi duit tetap ngalir! :))

Lagi-lagi alhamdulillah, bokap-nyokap kita nggak ada yang butuh bantuan kita secara finansial because of all the wise decisions they made while they were still in their productive years. They can still live their life (and lifestyle) comfortably - nggak berlebihan, tapi juga nggak kekurangan.

Gue yakin "wise decisions" mereka terkait lifestyle itu berwujud antara lain jarang ngemol, menjauhi belanja-belenji demi menyenangkan hati, eating out, serta hal-hal tersier/hedon lainnya... *uhuk!*

Keputusan-keputusan bijak dan gaya hidup 'secukupnya' yang mereka terapin itu ternyata memberikan benefit yang tak terkira, bukan cuma buat diri mereka sendiri, tapi juga buat kita, anak-anaknya. Gue pernah baca sebuah artikel QM Financial yang ngebahas "sandwich generation." Generasi ini disebut demikian karena terhimpit di tengah-tengah: perlu menghidupi anak-anaknya sambil tetap membiayai kebutuhan orangtua. 
Fenomena ini banyak dialami oleh generasi X dan Y kayak kita-kita ini. Entahlah, mungkin begitu banyak dari generasi baby boomers ini (generasi bokap-nyokap kita, maksudnya) yang belum paham perencanaan keuangan hingga menyebabkan fenomena generasi sandwich. Off topic sedikit, menurut gue program OJK untuk memberikan materi perencanaan keuangan ke anak-anak mulai usia SD itu keren banget. Gunanya ya untuk menghindari kesalahan yang sama diulang oleh generasi Z dan fenomena tadi terulang. 

FYI, dana pensiun yang perlu disiapin bukan cuma untuk kebutuhan hidup semata - yang harus bisa catch up sama inflasi jugak - tapi meliputi dana kesehatan setelah pensiun. Gue dan Adit pertama kali dibuat melek soal ini dari edukasi-edukasinya QM; kita jadi tersadar kalau premi askes semakin tua usia applicant akan semakin mahal, belum lagi terms & condition-nya juga macem-macem beda insurance company, Jadi, ya harus pinter-pinter milih dan siapin dana bayar preminya. Trus, tau sendiri kalo semakin tua, semakin rentan juga kita kena penyakit. And this thought leads me to thinking...
 

b. About health
Interaksi langsung maupun nggak langsung sama bokap-nyokap sendiri and people from their generation bikin kita semakin melek akan pentingnya menanamkan kebiasaan hidup sehat. Healthy lifestyle ini investasi yang nggak boleh ditunda-tunda lagi, deh.
Orangtua seorang temen gue ada yang baru ketauan kena lung cancer akibat kebiasaan merokok :( Gue langsung nasehatin bokap gue untuk berhenti, tapi yaa "namanya orang tua..." suseh untuk bisa di-brainwash.
Nyokap gue lain lagi, doyannya makan enak yang cenderung nggak sehat.
Jarang olahraga pula. Walhasil pas tua gini agak tergantung sama obat-obatan. 


Gue dan Adit sama-sama punya faktor keturunan terkait penyakit denegeratif, kaya sejarah diabetes di keluarga, tekanan darah tinggi, dsb. Jadi bisa dibilang menerapkan healthy lifestyle ini ikhtiar lah untuk menjaga kesehatan dan meraih kehidupan yang lebih nyaman ke depannya.
Kesimpulannya, nggak ada alasan lagi untuk nggak olahraga dan nerapin clean eating. *kibarin apron*



c. About fulfillment.  

Ini terpikir gara-gara rasa keluhan kesepian yang dilontarkan nyokap. Nggak, dia nggak kurang sibuk, tapi menurut gue, she's now facing her own demons. Maksud demons di sini apa? I'm talking about unresolved issues, personality flaws, and/or a lack of long-term vision about oneself.

are you with him?
Regarding the above meme, I kinda agree, sih.
Gue melihat gimana some people "age into their personality," and how it doesn't always turn out pretty.
Dari situ, gue semacam membentuk opini kalau masa pensiun justru can lead a person to whole new kinds of problems kalau seseorang nggak punya visi jangka-panjang atau arah hidup yang jelas. Kasus-kasus kayak depresi karena nggak kunjung dapet cucu, atau kesusahan karena udah pensiun tapi masih 'digelendotin' sama anak-anak dan anak-anak dari anak-anaknya, atau puber ke...sekian berujung unhappy marriage or else a divorce, dan banyak hal "serem-serem" lainnya, menurut gue nggak disebabkan oleh perubahan status atau karena kurang kesibukan. Penyebabnya justru apa-apa yang udah ada dan nggak ada di diri seseorang. 

Kalau dari awal nggak punya konsep diri yang 'utuh' ya wajar kalau mengharapkan diri dibuat jadi 'utuh' oleh achievement anak-anaknya, entah berupa karir, uang, status, atau kehadiran cucu :| 
Kalau dari awal nggak memupuk kemandirian di diri anak, ya wajar sampe tua digelendotin... ya nggak, sih?
Trus juga kalau dari awal udah nggak punya 'connection' sama pasangan, nggak heran kalau ujung-ujungnya 'basi' atau malah bubar....

So, dampaknya baru kerasa pada tahap usia ini.... To me it's like they're clueless atau merasa salah jalan pas bensin udah mau abis :|

Selain itu, gue juga mau menanamkan ke diri sendiri bahwa status "pensiun" itu bukan berarti saatnya berhenti belajar dan nggak produktif lagi. Emang sih, masa pensiun itu waktunya menikmati buah kerja keras, tapi gue prefer nantinya gue dan Adit bikin-bikin "sesuatu" yang bisa jadi "our baby" untuk ditumbuh-kembangkan sampai kita tua nanti. Sesuatu, a project, yang bisa jadi outlet kreativitas, inovasi, sekaligus bermanfaat untuk jadi kesibukan kita di masa tua. Lebih baik lagi kalau si "baby" itu bisa menyentuh kehidupan banyak orang dan memberikan social impact positif. We should really work on it from now, deh.


Lastly, still on aging, ada video TED talk yang inspiratif banget, judulnya "How to Live Passionately" by Isabelle Allende. She's a 71 year-old woman, dan dia 'ngajarin' gimana caranya agar tetap awet muda - but on the inside. She does this sambil ngasih perspektif baru tentang apa makna "menjadi muda." Ini cuplikan speech-nya yang enlightening menurut gue:

"So how can I stay passionate? I cannot will myself to be passionate at 71. I have been training for some time, and when I feel flat and bored, I fake it. Attitude, attitude. How do I train? I train by saying yes to whatever comes my way: drama, comedy, tragedy, love, death, losses. Yes to life. And I train by trying to stay in love. It doesn't always work, but you cannot blame me for trying."
Well, the truth is, contemplating about aging makes me feel giddy and scared. Because a part of me thinks to age is a blessing, yet the other part thinks it's a curse - because you watch your loved ones and friends die, your body weakens, your youth fades, your kids live their own lives, etc. 
But I guess it all boils down to each individual's perspective, huh? Because as Kurt Vonnegut said,
"We are what we pretend to be, so we must be careful about what we pretend to be."

So, maybe to be able to age gracefully, we need to "invest" the habit by living through the process from early on, just like achieving financial independence and health. We start from what we have and then work hard to reach our goals. I know, it doesn't always work, but... you cannot blame me for trying, right? :))

No comments:

Post a Comment