so I'm starting out this new "series" for my blog, which is a playlist series. this is where I document a chain of songs that captures the way I'm feeling throughout the week. and for a start, I made this one called "travelling north." what the heck is it intended for? masih berhubungan dengan blogpost gue di minggu ini, yang berjudul "on loving." di situ gue ngebahas soal konsep mencintai diri sendiri - more or less. I wrote something like, "..kalo memang passion gue itu hal yang membuat gue bahagia/fulfilled/feel whole, maka gue harus terus mengejarnya, mencari-cari alasan untuk 'bertemu' dengannya, dan mencurahkan energi untuk bisa 'bersama'nya. just like when you're in love." and this is what the playlist all about. tentang jatuh cinta, pada sesuatu yang MUNGKIN nggak akan pernah bisa lo rasakan untuk miliki. tentang gimana perasaan yang kuat itu terus menarik lo, sehingga mau nggak mau lo mengambil risiko juga untuk "berjudi." even though you might end up broken and beaten down, but you just have to take the chance anyways. because you just can't fight the feeling. that longing to something that pulls your heart the hardest. that one thing that never fails to excite you. that passion. a wise man once said passion adalah sesuatu yang we enjoy the most, sekaligus sesuatu yang sifatnya "must" buat kita.
"Must is who we are, what we believe, and what we do when we are alone with our truest, most authentic self. It's that which calls to us most deeply. It's our convictions, our passions, our deepest held urges and desires - unavoidable, undeniable, and inexplicable.To choose Must is to say yes to hard work and constant effort, to say yes to a journey without a road map or guarantees, and in so doing, to say yes to what Joseph Campbell called 'the experience of being alive, so that our life experiences on the purely physical plane will have resonance within our innermost being and reality, so that we actually feel the rapture of being alive.'Choosing Must is the greatest thing we can do with our lives." (from the book "The Crossroads of Should and Must")
the words "travelling north" are uttered in Vashti Bunyan's "Train Song." bagi gue, lirik lagu itu berbicara tentang mencari sesuatu yang udah lama hilang. elo tau apa yang lo cari, tapi nggak tau harus ke mana supaya ketemu. so you travel north to find it... lo nggak tau apa yang akan terjadi ketika lo akhirnya bisa bertemu sama dia/hal tsb ("don't even know what I'll find when I get to you"), but you know for sure that you will finally be where you truly belong. *sigh* but as we all know, the journey to attain something we desire is often not a smooth one. you will feel endless doubts. you'll question yourself so many times you'd lose your mind. you'll get lost. you'll be afraid to even possess the faintest sight of hope. so you'll try to relent that desire. you'll even try to turn back and change your course... you'll try to say goodbye. you'll struggle to stop wanting, but fail. until one day you just don't care "if the feeling goes both ways," and start the search all over again. and so it's all rendered in these following songs: 1. Oh Nadine (You were in My Dreams) - Willow Smith 2. The Circle Married the Line - Feist 3. Your Type - Carly Rae Jepsen 4. Kiss It Better - Rihanna 5. Lost in You - Ash 6. Goodbye to Love - The Carpenters 7. Feels Like We Only Go Backwards - Tame Impala 8. Do I Wanna Know? - Arctic Monkey 9. Train Song - Ben Gibbard & Feist
ada sebuah pernyataan di majalah parenting yang nyantol banget di kepala gue. dalam sebuah artikel, dikatakan kalau apa yang dibutuhkan oleh anak dari orangtua bisa terangkum dalam 3 hal, yaitu cinta, aturan, dan konsistensi. berasal dari narasumber yang juga psikolog dan bisa dianggap expert di bidangnya, mata gue bak dibukakan lebar-lebar saat 'menemukan' pernyataan tersebut. terlebih waktu itu gue masih menjabat titel orangtua baru alias newbie, yang sehari-harinya berkutat dengan perasaan takuuut, was-was, dan khawatiiiir, tanpa henti mempertanyakan apakah yang gue lakukan selama ini udah 'bener' apa malah 'salah' tanpa gue ketahui. I'm no expert myself. kalau dinilai, semua yang gue lakuin dalam menjalankan peran sebagai ibu menerapkan paham trial & error semata. tapi semenjak mengenal konsep "3 Bahan Pokok" tadi, gue merasakan langkah gue lebih ringan.. well, if you can't trust your own heart, what else can it be? walhasil, setelah tau teori ini, kelar deh teori yang lain-lain. sampai lalu tiba-tiba terbetik di pikiran, kalau 3 hal tadi esensial demi well-being anak, kenapa nggak coba diterapin ke diri sendiri juga? mencintai (anak maupun mencintai diri sendiri), kayaknya terdengar mudah banget, deh. of course we love our children. and of course we love ourselves. tapi gue rasa tantangannya terletak pada gimana mencintai secara sehat. mencintai tanpa menggenggam erat-erat, tanpa merasa anak itu "milik" atau our God-given right sehingga berhak kita perlakukan kayak gimana aja, semau kita. kalau meminjam istilah Ki Hadjar Dewantara, menurut gue wujud cinta yang bener itu adalah dengan menumbuhkan ia atau mereka yang kita cintai, bukannya dengan mengekang atau mendikte....
attachment is the very opposite of love. love says "I want you to be happy." attachment says "I want you to make me happy."
saat udah menjabat titel sebagai orangtua, gue hampir secara otomatis ngerasa perlu banyaakk banget belajar. waktu masih newbie dulu, getol banget melajarin soal ASI, MPASI, dan tumbuh-kembang anak. abis itu jadi getol belajar soal financial planning demi terwujudnya impian-impian buat anak dan keluarga. lantas getol belajar tips 'n tricks seputar parenting (demi bisa meghentikan tantrum anak tanpa harus ketularan tantrum), seputar pendidikan (demi bisa memilih sekolah 'terbaik' jadi nggak malu-maluin kalau check in location di Path), seputar ini itu, banyaaak sekali. emak-emak jaman sekarang pasti udah familiar banget deh sama ungkapan, "perasaan dulu emak-bapak gue nggak ribet-ribet amat kayak begini, dah!" dan ya, sungguh ya, kalimat itu juga terlontar di benak gue. meski harus gue akui kalau implikasi dari pemikiran tersebut kadang berupa hal negatif, sih, di gue. kadang gue jadi suka menyesalkan, kok dulu nyokap gue nggak concern sama hal ini sih. atau kok dulu bokap gue nggak peduli amat waktu gue lagi begini begitu. I wish they would have learned "how to be a parent" like I've been doing until now! hehehe gue ngerti siih, nggak bolehlah nyalah-nyalahin emak-bapak sendiri. they did their best, and yes I believe in that as well! nggak ngerasa gue orangtua paripurna juga, kok... tapi ya itu tadi, sometimes, I just can't help not to wonder... how much difference would that make? well, kembali ke saat ini, gara-gara kepikiran untuk menerapkan aturan "3 Bahan Pokok" tadi, gue jadi mulai berpikir, bahwa sekarang ini, saat gue udah kadung dewasa, tanggung jawabnya ya ada di tangan gue sendiri. gue yang harus mensuplai apa-apa yang gue perlukan tadi; ya cinta, ya aturan, ya konsistensi. ("lha emang iyaaaa, jeng.. telmi amat!" mungkin begitu respon sebagian khalayak blog ini saat membaca kalimat gue itu kekekek. but I'm a slow learner, so.. maklumin ye). gue perlu memberikan cinta yang menumbuhkan itu ke diri gue sendiri, for my own sake. gue yang perlu menerima segala kelebihan dan kekurangan diri, tanpa judging, tanpa bad-mouthing, and without being discouraging. lucu deh kalau dipikir-pikir, kita jauuuuh lebih sungkan sama orang yang kita nggak kenal dibanding sama diri kita sendiri. trus, as we all know, mencintai juga terwujud dalam usaha membahagiakan, right? kalo buat anak, setengah mati deh kita berusaha memberikan yang terbaik (kaki jadi kepala, kepala jadi kaki kalo kata bapak-bapak di kantor). why not do the same buat diri sendiri? it does sound kinda selfish sih, terutama buat emak-emak. karena seperti yang gue rasain sendiri, begitu jadi emak-emak, prioritas kesenangan diri munduuur ke urutan sekian puluh. padahal udah sering denger 'kan salah satu rumus parenting yang bilang kalo "happy mothers make happy kids?" segitu esensialnya loh membahagiakan diri sendiri, sampe dianggap bisa ngejadiin anak-anak kita bahagia juga. esensial, dan juga segitu simplenya kalo dipikir-pikir. hmm... in order to do that, firstly we need to define what "happiness" means for us dulu nggak sih? karena setiap orang pasti punya konsep yang berbeda-beda tentang bahagia itu seperti apa. kalo di tafakur sih dibilangin kalau bahagia itu kondisi jiwa, batiniah, bukannya badan atau jasmaniah. jiwa ini yang abadi. ketika badan udah nggak bisa berfungsi lagi, atau rusak, atau hancur, jiwa ini masih akan terus eksis. cuma berpindah alam aja.. dari alam dunia ke alam kubur lantas alam akhirat. kalo udah aware of that fact, masih penting lagi nggak sih apa-apa yang kita kejar di alam dunia inih? seharusnya sih... kita membahagiakan jiwa dengan sebanyak-banyaknya ngumpulin bekal. karena kayak dibilang tadi, jiwa ini yang abadi, yang bakalan "pulang." some things changed sejak gue balik kerja full-time lagi. secara fisik ya jelas banget, gue jadi punya tempat yang dituju setiap pagi selain sekolah bumy. tapi yang paling berasa ada perubahan ya jelas di hati. I definitely feel "happier." bukan berarti hari-hari di kantor melulu diisi tawa canda riang serta asupan nilai, ilmu, dan inspirasi yang bermakna. sucky things happen. almost always.. like a lot, malahan hahaha. tapi gue jadi makin kenal kebutuhan jiwa gue sih, yang butuh bersosialisasi, yang butuh memedulikan hal-hal di luar urusan domestik. gue seneng ngantor karena I get to meet people. even though the work is not satisfying, soul-wise. tempo hari waktu tafakur, dokter yuniar ngingetin gue lagi soal niat bekerja. supaya terhitung ibadah, kita perlu lurusin niat... apalagi sebagai perempuan, nyari nafkah itu bukan "main job" gue. kalo menurut beliau sih, niat yang 'lurus' itu adalah membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga... bukan yang lain-lain. gue nggak bisa bilang apakah sanubari gue setuju sepenuhnya dengan pernyataan itu, sih. karena ada hal lain yang gue "cari" dari bekerja. gue pengen bisa ngasih impact yang nyata, bikin perubahan positif, termasuk juga bener-bener mengenal dan menumbuhkan diri gue.
tempo hari ada kesempatan berkarir yang hampir datang ke pangkuan gue. meskipun akhirnya batal, tapi proses yang udah gue lalui bikin gue tersadar, kalo gue akhirnya tau apa passion gue. gue juga tersadar kalo memang passion gue itu hal yang membuat gue bahagia/fulfilled/feel whole, maka gue harus terus mengejarnya, mencari-cari alasan untuk 'bertemu' dengannya, dan mencurahkan energi untuk bisa 'bersama'nya. just like when you're in love. tapiiii kembali ke prinsip "3 Bahan Pokok" tadi, kalo nurutin cinta doang, ya bisa-bisa buta, terjatuh, atau mabuk. sebagai orangtua, apapun yang gue lakukan buat anak rasanya dilandaskan sama pemikiran kalau semua itu demi kebaikan dia. tapi cinta yang menumbuhkan, yang bener, juga berarti memagari dengan peraturan. seperti yang pernah gue bahas di blogpost ini, cinta ibu ke anaknya sampai bisa dianalogikan dengan cinta Tuhan pada mahlukNya. Tuhan aja ngasih kita peraturan; yang mana semuanya itu demi kebaikan kita (di akhirat kelak). dari situ bisa jadi contoh juga buat gue sebagai orangtua, kalo mencintai bukan berarti membebaskan sejadi-jadinya. kalau untuk diterapkan ke diri sendiri, dengan demikian gue juga PERLU menerapkan aturan ke diri gue sendiri. mulai dari disiplin bangun pagi, sholat lima waktu, disiplin urusan duit, eat right, fight right, punya batasan-batasan yang nggak boleh dilanggar, dan lain sebagainya. in short, I need to do the RIGHT things. terakhir, adalah konsistensi. yak, semua aturan yang udah diterapkan tadi ya perlu dilakukan terus-menerus. kalau kita larang anak melakukan satu hal, ya harus konsisten dilarang di setiap kesempatan dan kondisi, tanpa ada dalih alih-alih hehe. begitupun ke diri sendiri, kalau udah yakin sama satu nilai/value tertentu, ya jangan dikotak-katik lagi... makanya gue suka banget kata-kata/doa "semoga istiqomah." di dalamnya ada harapan untuk bisa terus sukses melakukan sesuatu sampai titik akhir... sesuatu yang bener, yang positif, tentunya.
tempo hari gue nyetatus di Path seperti ini: "New milestone unlocked: bayar uang pangkal SD." lega rasanya udah menjatuhkan pilihan, meskipun seperti yang pernah gue ocehkan di sini, sampe batas waktu terakhir harus memilih tetep aja gue belum merasa 100% sreg. dipikir-pikir sekarang, yang bikin kita nggak sreg adalah faktor-faktor di luar metode pendidikan yang diterapkan. contohnya lokasi, yang udah nggak bisa diapa-apain kecuali kita pindah rumah (#ihaveadream). trus juga uang pangkalnya yang bakal bikin kita mikir sekian kali kalau mau relokasi - ya sapa tauk adit dapet kerjaan di negeri tetangga atau pindah benua, gituh (#agirlcandream) - saking agak 'meleset'nya dari ancer-ancer uang pangkal SD di financial plan awal. serta sederet hal-hal lainnya sih... yang udah pernah gue beberkan sebelumnya. intinya, it wasn't THE perfect choice. but when the time came for us to make a choice, setelah ditimbang-timbang, satu hal yang bikin sreg sampai bisa melampaui faktor-faktor tadi ya metode pendidikan yang dipake. it's none other than the authentic montessori method, applied with Islamic values. yang udah paket combo bangetlah di mata gue!
kenapa montessori segitu memikatnya bagi gue secara pribadi, jawabannya ya karena pendidikan tsb oke banget. secara garis besarnya, karena montessori menyesuaikan dengan perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences dan active learning, melatih kemandirian anak (dalam berpikir dan berperilaku), PLUS... membentuk anak jadi lifelong learner. biar afdol, kalau mau liat pembahasan lebih runut seputar kayak apa montessori dan manfaatnya kayaknya bisa ditemukan di sini. well, mungkin ada yang mikir semua benefit tadi iming-iming 'dagang' semata.. of kors gue pun nggak menampik gimana output dari pendidikan montessori akan sangat tergantung pada penerapannya di lapangan. tapi gue harus bilang kalau sejauh ini I feel quite optimistic, sih. ada kejadian di mana bumy ikut 'tes' observasi di sekolah lain yang tadinya jadi kandidat calon SD. sekolah ini reputasinya terbilang cetar-lah. kurikulumnya lumayan didominasi nuansa akademik, nilai UN level SD-nya oke, dapat peringkat ke sekian di DKI. dari hasil riset, kunjungan, dan hearsay, bisa disimpulkan kalau sekolah ini punya threshold yang cukup tinggi untuk kemampuan kognitif calon siswanya. gue sih nggak nyiapin apa-apa buat bumy untuk ngikutin tes di situ. bahkan yang nganterin bumy tes cuma embak ART (dan tukang kebon freelancer sebagai ojek dadakan). setelah tes, tentunya hasilnya diobrolin oleh Kepsek sekolah tersebut dengan gue. as I said, gue nggak ngoyo untuk masukin anak ke sini, dengan berbagai pertimbangannya, jadi nggak ada debar-debar aneh juga ketika mau denger gimana hasil observasinya. but when I talked with the principal, this is what I heard: "aduh, kalo anak montessori nggak usah ditanya lagi deh, kemampuan calistungnya di atas rata-rata. (mereka) juga mandiri dan dewasa banget dibandingkan yang lain." *insert gif hidung kembang-kempis* singkatnya, bumy diterima masuk ke situ. tapiii setelah mikir bolak-balik, alih-alih masukin bumy ke sekolah tsb, gue dan adit tetep milih sekolah bumy yang sekarang dengan segala risikonya. sekolah bermetode montessori otentik yang memang belum bisa menyelenggarakan UN di sekolah sendiri (karena belum punya lulusan), yang belum dapet akreditasi, lahannya terbatas, dan manajemennya juga masih 'hijau.' tapi jika dilihat lewat perspektif yang berbeda, sekolah bumy sekarang ini udah cukup lumayanlah dalam menerapkan metode yang diusung - karena ya keliatan hasilnya di bumy. kalau gue liat-liat sekeliling, cukup banyak orangtua yang milih nyekolahin anaknya di sekolah bermetode montessori. karena nama montessori sendiri nggak dipatenkan, makanya banyak sekolah yang bisa mengadopt maupun mengklaim menerapkan metode tersebut - meski mungkin cuma sebagian, dengan dicampur metode pendidikan lainnya. montessori juga lebih banyak diterapkan buat pendidikan anak usia dini aja alih-alih dilanjutin sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. ketika diulik-ulik (meski tanpa sengaja hehe), ternyata banyak stigma yang beredar seputar montessori, bahkan di kalangan orangtua yang juga udah menyekolahkan anaknya di TK montessori. salah satu yang suka gue denger adalah "aduh montessori kayaknya terlalu santai/kurang nampol kalo buat SD." gue paham banget sih maksudnya. sekolah montessori (anak gue) emang nggak ngasih nilai, rewards, hukuman, bahkan juga nggak ada PR. sementara di mata (banyak) orangtua, masa bersekolah di SD itu seharusnya dipergunakan untuk 'menggempur' anak dengan pelajaran, rupa-rupa skills, dan disiplin dalam belajar. I used to think that way jugak. tapi... kala ku menyadari kalo diri ini nggak bisa sabar ngajarin anak, gue bersyukur sekolah bumy ngajarin calistung tanpa harus gue drill sama sekali di rumah (tau-tau anaknya bisaa aja). menyadari diri ini pemalas, begitu mendarat di rumah maunya main-main sama anak sekadarnya, gue bersyukur sekolah bumy nggak ngasih PEER dan project yang sulit-sulit. menyadari diri ini mudah stres, hati gue adem pas baca status temen yang anaknya bersekolah di SD montessori kayak begini: "di saat ibu-ibu lain lagi sutris ngajarin anaknya buat UTS, kami bisa leyeh-leyeh, ketawa-ketawa, main-main bareng." ya secara sekolah bumy nggak ngasih ujian, ulangan, atau sejenisnya tiap sekian bulan. guilty as charged, gue mikirin yang enak di gue doang hahaha. but in a more serious light, I believe in montessori education. efeknya keliatan banget di diri bumy. mungkin ini mamak semacam pamer bin riya' yah, tapi jika memang yang dijadikan tolak ukur cuma kemampuan kognitif semacam calistung, 'rapot' bumy udah bisa dapet nilai A semua. meskipun begitu, gue prefer menilai anak secara lebih luas. seperti yang pernah gue tulis di sini, scope penilaian setiap kemampuan anak yang diterapkan di pendidikan montessori nggak sesempit yang gue kira. anak bukan cuma dibentuk untuk lulus dari TK dengan kemampuan akademik yang kuat; tapi yang lebih penting, dengan ATTITUDE bahwa belajar itu menyenangkan, seru, dan tanpa batas. karena itulah gue terkagum-kagum melihat gimana ada semacam eagerness di diri bumy untuk belajar dan menguasai suatu hal. terasa kalau ada working ethics yang ditumbuhkan di dirinya. ini hal yang nggak kasat mata, karena nggak bisa diukur cuma dengan menanyakan "1+1 berapa?" atau "ini huruf apa? dibacanya gimana?" kalau mau bicara faktor penguat secara scientific, ternyata ada studi yang diterbitkan di jurnal "Science" di tahun 2006 yang menyatakan bahwa murid-murid montessori cenderung menunjukkan skill sosial dan kreativitas yang lebih advanced, dan bisa perform lebih baik dalam ujian baca dan matematika dibandingkan anak-anak lain di program tradisional. that being said, asumsi kalo montessori itu nggak memberikan efek 'nampol' buat anak sejatinya bisa disebut mitos.. ya ndak? dari situ, gue pun mulai lebih kepo sama asumsi-asumsi semacam ini. tujuannya apa? bukaan, bukan supaya bisa bales nyinyir ke orang lain hahaha. justru supaya gue bisa lebih sreg sama pilihan yang udah dibuat. lalu kalaupun ada asumsi negatif yang ternyata emang valid, ya supaya gue udah siap aja, gitu *pasrah* kebetulan, suatu hari seorang ibu yang punya concern besar sama pendidikan (dan kebetulan nyekolahin anak-anaknya di sd montessori hehe) nge-share artikel di sini. judulnya "Montessori Myths Busted", dan ini yang mau gue share ulang di blogpost ini. kurang lebih gue bakal nerjemahin apa isi artikelnya aja sih, tapi mungkin bakal ditambahin juga sama pendapat gue pribadi. Mitos #1: Montessori cuma buat anak-anak yang berbakat. apa iya anak harus berbakat buat bisa disekolahin di montessori? jelaslah sebenernya montessori itu buat semua anak, tanpa memandang level kemampuannya. tapi asumsi ini muncul mungkin karena di mata orang awam, murid-murid montessori kerap terlihat lebih advanced dibandingkan anak-anak lain seusianya, yang menimbulkan asumsi kalo sekolah tsb cuma bisa memenuhi pendidikan untuk anak-anak yang berbakat. (personal note: ini kok berasa humblebrag banget yak? hahaha). padahal yang sesungguhnya terjadi adalah, pendidikan Montessori memanfaatkan dorongan alami di diri setiap anak, yaitu dorongan kuat untuk belajar, dan memberi stimulasi sesuai kecerdasan majemuk anak. ketertarikan anaklah yang menjadi pedoman bagi guru untuk mengatur pembelajaran yang bisa menstimulasi anak.
Mitos #2 – ruang kelas Montessori itu kacaww alias chaos. kalo ada yang nyoba merhatiin seperti apa kegiatan dalam ruang kelas montessori sehari-seharinya, selama dua jam gitu misalnya, maka yang akan diliat sesungguhnya bakalan jauh banget dari ribut dan kisruh. penerapan sistem pembelajaran dalam montessori mengizikan anak melakukan banyak hal sendiri. kemerdekaan pembelajaran sangat ditekankan, dan sebaliknya intervensi dari orang dewasa dalam lingkungan belajar sangat tidak dianjurkan. anak-anak didorong untuk melatih self-discipline-nya sendiri, dan ini berlaku juga bahkan untuk anak-anak yang masih sangat kecil. guru lebih bertindak sebagai pemandu dan memfasilitasi anak untuk belajar sendiri, dengan menggunakan material yang sudah dirancang khusus untuk tujuan belajar tsb. berbeda dengan di sekolah tradisional, dalam pendidikan montessori anak-anak nggak diajak berpindah-pindah tempat dalam kelas secara berkelompok atau disuruh melakukan aktivitas yang sama di saat bersamaan. anak-anak justru akan dipaparkan pada berbagai jenis material yang bersifat self-correcting. prosesnya gini, pertama-tama guru akan mendemonstrasikan sebuah material, atau bahkan terkadang bisa ditemukan anak yang lebih tua yang melakukan demonstrasi itu. lalu anak-anak bebas memilih aktivitas mana yang menarik bagi mereka. mereka ditinggalkan sendiri untuk bereksperimen dan berlatih dengan material tadi, yang sebenernya suatu hal yang membantu anak-anak ini mengajarkan diri sendiri berkonsentrasi, membangun skill koordinasi, dan juga kemandirian dalam suatu keteraturan yang tidak membutuhkan pengawasan orang dewasa. montessori percaya kalau setiap anak harus merasa santai, tenang, dan tenggelam dalam aktivitas. saat terjadi argumentasi antara anak-anak, mereka dibiarkan berusaha menyelesaikannya sendiri. meskipun begitu, mereka juga memperoleh keterampilan manajemen konflik dari para guru, yang membantu mereka menyelesaikan masalah. Mitos #3 – Montessori tidak memfasilitasi perkembangan sosial. respek yang ditunjukkan guru kepada setiap anak menjadi teladan bagi anak-anak untuk saling menghargai. anak-anak kecil berinteraksi dengan anak-anak lain dan juga dengan orang dewasa, sehingga secara bertahap mereka menjadi lebih peduli dan sensitif terhadap sekelilingnya. rentang usia 2-3 tahun dalam kelas menyebabkan pembelajaran terjadi dari anak-anak yang lebih besar ke yang lebih kecil, dan ini terjadi secara alamiah. namun montessori juga menghargai anak dan kebutuhannya akan privasi. selain memenuhi kebutuhan anak untuk beraktivitas sendiri(an), area dan aktivitas dalam kelas juga memungkinkan anak-anak saling berinteraksi. anak-anak yang lebih besar sering menjadi guru bagi yang lebih kecil, serta anak bisa bekerja sama ataupun sendiri-sendiri sesuai pilihan mereka.
Mitos #4 – Montessori tidak ketat secara akademis. banyak orangtua khawatir menyekolahkan anak di pendidikan Montessori karena berpikir metode ini tidak akan mempersiapkan anak-anak mereka untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sekali lagi, ini bisa dibilang sangat tidak benar. Sistem Montessori tahu bahwa anak-anak yang masih sangat kecil dapat memahami konsep-konsep yang rumit jika mereka diperkenalkan secara konkret. Sebagai contoh, jika mereka telah belajar tentang tabel perkalian menggunakan material '100's Board' maka mereka akan memiliki pemahaman yang jauh lebih besar tentang perkalian ketika pembelajaran berkembang menjadi simbol abstrak. Seiring anak tumbuh dewasa, mereka mempelajari keterampilan seperti membaca, menulis dan juga meneliti dengan mengeksplorasi mata pelajaran lain dalam kurikulum, seperti kajian budaya dan ilmu pengetahuan. Keterampilan tidak hanya diajarkan untuk kepentingan itu, tapi juga untuk mendorong peserta didik maju lebih cepat karena mereka sering mempelajari area yang menarik bagi mereka.
Seperti dikutip dalam studi Angeline Lillard yang diterbitkan dalam jurnal, Science, pada tahun 2006, "Siswa Montessori terbukti secara signifikan lebih siap untuk sekolah dasar dalam keterampilan membaca dan matematika daripada anak-anak non-Montessori. "Mereka juga teruji lebih baik pada 'fungsi eksekutif,' yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan masalah yang lebih kompleks, suatu indikator kesuksesan dalam bersekolah dan hidup di masa depan." Menurut neuroscientist, Dr Steven Hughes, "Jika kami memutuskan bahwa tujuan pendidikan seharusnya adalah membantu otak setiap anak mencapai potensi tertinggi perkembangan ... pendidikan Montessori menyajikan pendekatan pendidikan yang secara radikal berbeda - dan juga secara radikal efektif - yang mungkin menjadi metode terbaik untuk memastikan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional yang optimal dari setiap anak." Mitos #5 – Anak-anak yang lebih besar akan mengintimidasi yang lebih kecil. anak-anak Montessori disusun dalam kelas dengan rentang usia 2 sampai 3 tahun. ini bikin banyak orang tua khawatir nantinya anak-anak yang lebih tua akan mengintimidasi anak-anak yang lebih kecil. padahal kondisi mixed-age (campur-usia) ini memberikan kesempatan bagi siswa yang lebih berpengalaman untuk menjadi role model dan membantu anak lain. hal ini menaikkan harga diri anak. dengan adanya rentang usia di kelas, kompetisi diminimalisir sebagai motivator. Para siswa dapat dengan nyaman berbagi pengetahuan dengan satu sama lain. Mereka belajar untuk bekerja sebagai tim dan menghargai kontribusi masing-masing anggota dalam situasi apapun. Kemampuan ini bisa menjadi "alat" bagi anak dalam memecahkan konflik, yang akan membangun toleransi untuk sudut pandang yang berbeda dan mempersiapkan anak-anak menjadi orang dewasa yang penuh kasih. Mitos #6 – Montessori Terlalu Terstruktur Beberapa orang meyakini kalau Montessori kacau dan tidak terstruktur, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sementara yang lain percaya kalau montessori terlalu terstruktur. di mata mereka, anak-anak duduk dan bekerja sepanjang hari dan tidak diizinkan untuk bergerak. Dalam kelas Montessori, anak-anak benar-benar memiliki kebebasan untuk berjalan-jalan di sekitar kelas, menyelesaikan pekerjaan dalam urutan yang mereka pilih. Tidak ada batasan waktu di dalam kelas, yang berarti selama 3 jam siklus kerja, anak-anak dapat mengunjungi meja suara, atau material sensorik, practical life, kemudian pindah ke Matematika. Satu hal yang penting adalah ketika mereka berinteraksi dengan material, 'bekerja' terasa lebih seperti 'bermain' yang semakin membuat mereka terlarut dalam aktivitasnya. Mitos #7 – Anak-anak bebas melakukan apa saja di dalam kelas montessori Sebenarnya lingkungan montessori disiapkan dengan sangat hati-hati dan kaya dengan material yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. anak dapat mengeksplorasi apa yang menjadi ketertarikan mereka. Jika anak-anak diajarkan kemerdekaan memilih sejak dini, mereka dapat jauh lebih termotivasi untuk belajar.
Guru bergerak di dalam kelas, membimbing dan mendorong anak-anak untuk menantang diri mereka sendiri di area pembelajaran yang sedang mereka jelajahi dan di area-area baru. Guru menjadi pengamat terlatih danmembantu anak-anak untuk bertumbuh secara intelektual selagi mereka menguasai keterampilan baru. Bahkan, di tingkat yang lebih rendah, anak-anak belajar untuk membuat rencana kerja mereka sendiri untuk satu hari yang mencakup area dasar seperti matematika, membaca, budaya, ilmu pengetahuan dan banyak lagi. Manajemen diri ini menjadi fondasi penting seiring tingkat pemahamana anak bergerak ke tingkat lebih tinggi. Mitos #8 – program Montessori tidak akan bisa mengimbangi kurikulum di sekolah non-Montessori. Mitos ini sering diangkat dan pastinya tidak terjadi. Faktanya anak-anak Montessori seringkali maju jauh melampaui tingkat yang dicapai di sekolah umum. Ini telah dibuktikan oleh hasilnya. Sering ada komentar bahwa anak-anak Montessori sangat cemerlang dan lebih unggul secara akademis ketika dimasukkan ke sekolah umum. Ini juga terbukti saat mereka berada di jenjang SMA. Mitos #9 – Montessori hanya berhasil untuk anak-anak tertentu. lagi-lagi ini hanyalah mitos. montessori bisa diterapkan pada setiap anak. pendidikan ini menerapkan ketiga model pembelajaran, yaitu visual, pendengaran dan kinetik, sehingga setiap peserta didik bisa mencapai kesuksesan. Guru juga bertindak sebagai pengamat yang terampil seperti telah disebutkan tadi, sehingga bisa tahu kekuatan dan tantangan yang dihadapi setiap murid dalam kelasnya. setiap guru menghandle kelompok kecil murid sehingga bisa memastikan anak-anak memahami konsep sebelum bergerak ke pekerjaan independen yang terkait. Mitos #10 – Montessori tidak memberi peluang untuk bermain bebas atau pengembangan kreativitas. Ada banyak waktu untuk anak bermain bebas di waktu istirahat. juga banyak kegiatan tambahan yang ditawarkan seperti seni, musik, drama, bahasa tambahan dan pendidikan jasmani. Kelas-kelas ini dianggap sangat penting untuk pengembangan anak secara keseluruhan. Kreativitas juga dipelihara dan didorong dalam lingkungan kelas dengan mendukung rasa ingin tahu dan minat anak. kita mungkin akan kaget kalau tahu berapa banyak inovator dalam teknologi tinggi dan seni yang punya landasan pendidikan di sekolah Montessori. demikianlah. panjang yak... karena emang ternyata banyak mitos seputar pendidikan montessori. apalagi buat level pendidikan yang lebih tinggi dari PAUD; wajarlah banyak asumsi karena di Indo kita kenalnya kurikulum nasional yang akademik banget. kesimpulannya, mitos-mitos ini timbul jika kita hanya melihat Montessori secara selintas. padahal dalam kenyataannya, pendidikan ini sangat memperkaya perkembangan diri anak.