31/12/2014

be smart about money with Smart Money Game

Di awal bulan Desember, gue diajak sama Mommies Daily ikutan acara dari PT. Asuransi Cigna yang judulnya "Literasi Keuangan: Perempuan dan Keputusan Keuangan."
Baru baca judul acaranya aja gue udah excited pengen ikutan. Tau sendirilah gimana gue sama duit, eh perencanaan keuangan, kekekek. It's one of my many passion - I mean, financial planning is, not (only) the money. Hehe.

Faktor lain yang bikin semakin penasaran, diinformasikan kalau konsep acaranya bukan sekadar penyampaian materi dan edukasi semata, tapi juga ada simulasi game mengolah keuangan, yang akan dipandu oleh Mike Rini Sutikno, financial planner dari Mitra Rencana Edukasi. Akan seperti game itu nanti?? Seru kayaknyaaa.

Dalam acara ini, dijelasin kalau keuangan, perempuan, dan keluarga merupakan tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Perempuan memilki peran penting dalam segala keputusan keuangan keluarga. Bahkan hasil riset yang dibuat Forbes pada tahun 2010 menyatakan kalau perempuan membuat lebih dari 80% keputusan pembelian konsumen.
Memahami hal tersebut. PT. Asuransi Cigna mengadakan acara-acara literasi keuangan, salah satunya kayak kemarin, untuk mengedukasi bagaimana merencakan kebutuhan keuangan masa depan, baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga.




Acara ini diawali dengan penjelasan soal apa dan bagaimana perencanaan keuangan itu. Tentunya, siapapun perlu melakukan perencanaan keuangan, sih, karena setajir-tajirnya orang, uangnya pasti ada batasnya 'kan. Nah, untuk memulai perencanaan keuangan, yang perlu kita lakukan pertama-tama adalah menyusun prioritas. Keinginan kita pastinya bermacam-macam dan nggak ada habisnya, bukan, sementara uang kita ada batasnya. Makanya, kita perlu bedain dulu wants versus needs.

Nggak cuma sampai di situ, kita juga perlu bedain mana yang penting, mana yang genting. Karena uang itu gunanya bukan cuma untuk membiayai yang genting-genting aja, tapi juga yang penting. Hihi ini nih yang kadang silap di pikiran.
Contoh hal yang penting tuh kayak impian-impian kita di masa depan, sebutlah mau naik haji, atau mau punya properti lagi, juga dana pendidikan buat anak, dana darurat, dan dana persiapan pensiun.

Then here comes the fun part, para peserta diajak bermain SMART Money Game! Hihihi, ini yang gue tunggu!
Sebenarnya ini adalah sebuah board game yang mirip monopoli, yang gunanya adalah mengajarkan pemainnya tentang pengelolaan keuangan.
Permainan ini berupa simulasi pengambilan keputusan yang terkait dengan keuangan, jadi ya seperti monopoli, tapi kalau di monopoli adanya Dana Umum dan Kesempatan, di Smart Money Game ini ada tawaran berinvestasi - baik yang menggiurkan banget atau yang standar aja, maupun berita kondisi keuangan di 'dunia' game, kayak nilai saham turun, atau malah kena musibah. Realistis banget, yah!




Melalui permainan ini, banyak banget manfaat yang bisa kita dapatkan, di antaranya:

1. Menguasai dasar-dasar perencanaan keuangan dan monitoring kondisi keuangan kita.
Detil banget, bahkan, karena kita perlu menyusun laporan arus kas, neraca, dan tracking spending segala. Tapi yang seru, ini dilakuin dengan cara yang nggak ribet sama sekali!


the paperwork

2. Mengantisipasi berbagai risiko keuangan dengan dana darurat dan memanfaatkan produk asuransi.

3. Memahami dan bijak dalam memilih penawaran fasilitas pinjaman, konsekuensinya, hingga bunga cicilannya.

4. Memahami penawaran investasi mulai dari reksadana, ORI, obligasi, unitlink, emas, properti, sampai bisnis.

5. Memahami situasi ekonomi yang bisa berdampak pada investasi kita seperti inflasi, suku bunga, dll.

6. Paham cara melakukan evaluasi keuangan pribadi dengan menghitung:
a. Rasio hutang terhadap aset
b. Rasio total aset terhadap aset bersih
c. Rasio passive income


Nah, dimulailah game ini. Kita dibagi jadi beberapa kelompok yang isinya 7 orang. Setiap peserta dalam kelompok dibagikan uang menurut profesinya. Jadi, ada 7 profesi yang berbeda-beda dengan income, aset, dan hutang yang juga berbeda-beda hehe.
Dan apakah profesi yang gue dapatkan saat diundi? Pilot aja gituh haha, tau aja suami gue aviation geek.


Jadi, skenario dalam permainan ini ada 3, yaitu
1. Mengurangi hutang.
2. Menambah aset bersih
3. Mempersiapkan pensiun.

We played the game with those points or goals in mind, dan seharusnya dalam hidup juga diterapkan seperti itu, yah. Gamenya berjalan dengan seruuu seperti yang gue tebak. Dalam kelompok gue ada pribadi yang berbeda-beda. Ada yang napsuan saat dapat tawaran investasi yang seperti tadi gue bilang, kadang menggiurkan banget keuntungannya. Ada yang insecure kalau uang cash yang dipegang berkurang. Ada juga yang memperhitungkan dengan cermat setiap pilihan-pilihan yang mau dibikin, hehehe.

Gue sendiri selama main dapat tawaran bisnis yang terdengar so-so, maksudnya keuntungan gue nilai bagus dan gue masih afford biaya investasi dan cicilan bulanannya. So i took it. Ternyata lumayan bisa nambah-nambahin income bulanan.
Tapiii di tengah permainan, ternyata gue kena PHK bookk! Hahahah... Jadilah kelewat satu putaran permainan tanpa dapet gaji xD
Trus juga ada peserta yang melewatkan tawaran beli sebuah saham, eh ternyata pilihannya tepat karena berikutnya muncul 'berita' kalau nilai saham itu turun banget.
Lalu, ada peserta dalam tim gue yang kena musibah sehingga setengah asetnya harus 'disita!' Nah, ini sebenernya bisa dihindari kalau aja doi sebelumnya udah beli asuransi. Hehehe this game really imitates real life.

Akhirnya waktu permainan habis, dan saatnya menentukan pemenang. Gimana cara menentukannya? Yaitu dengan menilai melalui indikator kesehatan keuangan yang terdiri dari:
1. Rasio penurunan hutangnya paling besar
2. Rasio kenaikan aset bersihnya paling besar
3. Rasio passive incomenya paling besar.

Jadi, bukan yang punya paling banyak uang yang menang! Ketika akhirnya dihitung, jreng jeng, ternyata pemenang dalam kelompok gue adalah... gue! Beta! Moi! Hakhakhakhk aseli girang banget. Padahal ya itu tadi, sisa duit gue nggak banyak, mana sempat kena PHK segala xD





Wihihi senangnya bisa ikutan acara inii, kalaupun nggak menang, gue udah dapetin pengalaman berharga banget tentang gimana mengelola keuangan lewat simulasi Smart Money Game.

Nah, untuk informasi lebih lengkap tentang perencanaan keuangan dan asuransi, silakan buka aja kanal-kanal informasi Cigna berikut ini:

www.cigna.co.id
www.livingwell.com
Facebook Page: Cigna Indonesia
Twitter: @Cigna_ID

Yuuk, saatnya jadi "pemenang" juga di kehidupan nyata kekekkek...



pictures from Mommies Daily





30/12/2014

oh mothers...

Ibu-ibu Saja Atau Ibu-ibu Banget?

by: - Friday, December 19th, 2014 at 7:00 am
 
Entah bagaimana awalnya, obrolan ngalor ngidul saya dengan teman yang sama-sama seorang ibu di Whatsapp, berujung dengan dialog begini

Teman: “Duh, kita kok nggak ‘ibu-ibu’ banget, ya?”
Saya: “Haha.. iya juga, ya!”

Gara-gara celetukan itu, saya jadi disentak oleh “Aha!” moment.
Saya memang ibu-ibu, tapi deep down inside, kok saya nggak merasa seperti ibu-ibu, ya?

mothers-day-crown 
*Gambar dari sini

Bukannya menolak kenyataan atau malah delusional mengganggap diri masih ABG kinyis-kinyis, sih.
Yang saya maksud, sepertinya ada standar tertentu bagaimana seorang ibu-ibu itu berpikir dan bersikap; semacam stereotype, begitu, tentang ‘ibu-ibu.’ Dan kalau melihat diri sendiri, rasanya banyak melenceng dari standar itu.

Tapiii, ini juga tidak berarti saya mau mem-branding diri sebagai ibu yang ‘beda’ atau (sok) keren, lho! Hmm, seperti apa, ya, tepatnya? Supaya nggak semakin ribet sendiri, coba saya jabarkan dulu stereotype ‘ibu-ibu’ yang ada di kepala saya.
  • Bisa nawar saat membeli barang.
Memang, siih, kesempatan melakukan tawar-menawar barang saat saya berbelanja jauuuh lebih minim dibandingkan ibu saya yang rutin ke pasar tradisional tiap minggu. Tapi tetap aja, misalnya di bazaar atau di ITC di mana menawar barang masih perlu dilakukan, saya tergagap kebingungan. Ujung-ujungnya, ya melontarkan kalimat ‘andalan': “Pasnya aja, deh, berapa.”
  • Masih mengacu pada ibu sendiri, beliau tuh bisa memulai percakapan dengan siapa saja dan di mana saja. SKSD abis pokoknya!
Tapi manfaatnya memang banyak, sih. Satu contoh, gampang saja buat ibu saya mencari pembantu baru karena ‘networking‘nya luas, hahaha. Entah nitip ke tetangga, tukang pijit langganan, mbak-mbak salon, sampai ke tukang becak. xD
Begitu juga dengan guru-guru saya dan adik-adik saat sekolah. Beliau bisa ngobrol dengan akrab dengan mereka, beberapa bahkan jadi seperti saudara sendiri. Benefitnya buat kami, ya jadi lebih diperhatikan oleh guru-guru hahaha. Tapi kalau saya, malah khawatir guru-guru risih diajak ngobrol tanpa janjian terlebih dulu.
Teman saya lain lagi, dia merasa canggung untuk bersosialisasi dengan ibu-ibu di sekolah anaknya. Simply karena nggak tahu saja mau memulai percakapan dari mana!
  • Follow akun selebgram ibu-ibu… hihi.
Eh, Mommies sudah tahu, dong, maksud istilah ini? Menurut saya, yang tergolong ini tuh ibu-ibu yang menjadi seleb lewat Instagram karena di-follow ribuan orang, atau juga selebriti yang sudah jadi ibu-ibu. Silakan dikoreksi kalau salah, yaa, hehehe. Dalam salah satu obrolan kami, untuk jenis selebgram yang pertama, saya dan teman saya sama-sama keheranan melihat bagaimana orang biasa bisa melejit pamornya di dunia maya. Padahal yang mereka upload foto-foto kesehariannya aja. Makan apa, liburan di mana, OOTD anaknya (kadang-kadang juga selfie dan OOTD si ibu, sih), dll. Kami berteori, mungkin banyak yang dibuat kagum sekaligus kepo dengan lifestyle para selebgram itu, yang kerap terlihat ‘wah’ dan shiny happy bak editorial majalah. Mungkin, yaa….
  • Segera pasang badan kalau terjadi apa-apa terhadap anaknya.
“Siapa yang gituin kamu? Yang mana anaknya? Sini, biar mama samperin!” Ini, nih, definisi ‘ibu-ibu’ sejati buat saya. Naluri melindungi anak begitu meresapi jiwa raga, sampai-sampai refleksnya terlatih banget. Saya, kok, nggak bisa begitu, ya? *nunduk*
Kalau dihadapkan pada kondisi yang sama, rasanya saya keburu malu membayangkan harus ngomel-ngomel di depan umum. Ngomelin anak orang, pula!
  • Always put the kids first.
Memang sih, kalau soal belanja, saya lebih sering tergoda membeli barang-barang kebutuhan anak dibanding buat diri sendiri. Tapi, kalau ada waktu luang, dibandingkan mengejar kegiatan berkualitas di anak, seringnya, saya lebih memilih menggunakannya buat me-time (contoh konkret: mengirim anak bermain di kamarnya, supaya saya bisa nonton rerun ANTM… *tutup muka*).

Mentang-mentang punya stereotype sendiri di kepala, tapi nggak berarti saya berhak menilai mana yang jelek dan mana yang lebih baik.


mom_smartphone*Gambar dari sini

Karena, dengan membentuk stereotype tentang bagaimana perilaku yang ‘ibu-ibu’ banget itu, bisa jadi sebenarnya saya sedang defensif; tidak mau masuk ke dalam kotak stereotype dan tidak mau dinilai berdasarkan stereotype. Padahal, meskipun ada hal-hal yang saya tidak bisa relate dengan sesama ibu-ibu, sebenarnya ada banyak juga kesamaan saya dengan ibu-ibu lain. Misalnya…
  • Hobi berlama-lama menggenggam smartphone.
Hihihi. Selain untuk bersosialisasi (punya berapa Whatsapp group, Bunda?), ibu-ibu zaman sekarang juga haus informasi, ‘kan? Kita mau mendapatkan kejelasan sebelum membuat sebuah pilihan. Rumor-rumor yang nggak jelas juga rajin kita cek dan ricek dulu sebelum heboh sendiri lalu men-share-nya di sosmed. Kita bisa sharing informasi seputar parenting dan juga mendapatkan support group lewat forum online – pastinya di Mommies Daily. *wink*
  • Kalau dibandingkan dengan orangtua jaman dulu yang ‘cuek’ dan easy-going dalam membesarkan anak, rasanya kita, ibu-ibu zaman sekarang, bisa disebut helicopter parents, ya?
“Helicopter parent” maksudnya tipe orangtua yang mengurusi segala aspek dalam rutinitas dan perilaku anaknya. Bukan cuma build our lives around our children and hover like a helicopter, tapi tipe orangtua ini juga identik dengan micromanaging. Segala hal diperiksa baik-baik; mulai dari memilah mainan (harus yang edukatif!) sampai mengkurasi dengan seksama pilihan pendidikan untuk anak mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Memang, sikap orangtua yang seperti ini tujuannya baik, yaitu ingin memastikan anak-anaknya berada dalam jalur yang benar menuju kesuksesan. Tapi, caranya kayaknya yang salah? Karena orangtua mengukirkan jalan itu buat anak alih-alih membiarkan anak berpikir mandiri sehingga bisa membuat pilihan-pilihannya sendiri. OK, #notetoself kalau begitu.
  • But on the brighter side, banyak dari kita juga getol belajar ini-itu karena nggak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan orangtua kita dulu.
Atau meniru kata-kata di spanduk: Demi masa depan yang lebih baik!
Dari yang tadinya tidak bisa masak sama sekali jadi jago mengulik resep-resep MPASI. Yang tadinya couch potato jadi rajin olahraga dan menerapkan clean eating. Yang tadinya cuek sama lingkungan, berubah haluan karena menyadari pentingnya mewariskan bumi yang masih subur dan nyaman untuk generasi berikutnya.
  • Selain itu, kita juga masih ingin mengejar mimpi ini-itu, yang tidak melulu berkaitan dengan peran sebagai ibu.
Hidup nggak lagi satu dimensi seperti kredo menyeramkan tentang takdir perempuan jaman dahulu: dapur – sumur – kasur. Perkembangan zaman membuka pintu kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk berkontribusi, berkarya, dan mewujudkan impian. Apalagi kita, perempuan Indonesia, yang disokong oleh support system yang baik, entah itu berwujud orangtua yang bisa dititipi anak, asisten rumah tangga, atau nanny. And this leads us to…
  • Kita lebih aware akan identitas kita; kita tak ingin hanya didefinisikan lewat peran saja, tapi juga mimpi-mimpi dan pencapaian kita.
Sebagian dari kita mungkin mengernyit saat disebut “Bundanya A” karena kita tidak mau jati diri kita sebagai individu hilang setelah menjadi ibu.

Jadii, mungkin saya nggak perlu galau-galau amat, ya, soal identitas diri setelah menjadi ibu? Apa yang saya pikirkan sebagai stereotype ibu-ibu belum tentu sama dengan pendapat orang lain. Dan ternyata, saya juga nggak beda-beda amat dengan kebanyakan ibu-ibu.

Mungkin inilah potret ibu-ibu generasi milenial.
We were raised not only to be “mothers” but also a whole human-being.
We are not exactly alike, but we certainly have some things in common. We have choices. We are well-connected with every piece of information in this world.
And, we have clear visions of how we want to live our lives and what legacy we want to give to our children.

Nah, Mommies sendiri bagaimana? Menilai diri sebagai ibu-ibu saja, atau ibu-ibu banget? Kalau saya, sih, ternyataa… ibu-ibu banget, hihihi.

24/12/2014

the perfect body (image)

All About That Bass: Bukan Sekadar Lagu Enak

by: - Monday, December 15th, 2014 at 7:00 am
 
“Because you know I’m all about that bass
‘Bout that bass, no treble
I’m all about that bass, 
‘Bout that bass, no treble
I’m all about that bass, 
‘Bout that bass”

Lagu ini sedang ngehits banget, yah, Mommies?
Setiap saya menyetel radio, saya mendengar lagu ini diputar paling tidak dua sampai tiga kali dalam sehari. Lagu yang dibawakan Meghan Trainor ini memang sangat catchy, mudah disukai dan juga dinyanyikan. Apakah ada Mommies yang juga suka lagu ini? Hihi, sepertinya bukan cuma orang dewasa yang suka, tapi juga anak-anak dan remaja, ya.

allaboutthatbass*Gambar dari sini

Tapi, selain ikut bernyanyi kalau lagu ini sedang diputar, apakah Mommies pernah memperhatikan lirik lagunya juga?
Saya sendiri baru tahu, kalau ternyata lagu ini mengajak para perempuan yang “ain’t no size two” untuk nggak terobsesi menguruskan badan agar langsing seperti “stick figure silicone Barbie doll.” Lagu ini juga ingin kita menyadari kalau kecantikan yang dilihat di halaman-halaman majalah wanita kebanyakan tidak nyata. Because you know, Photoshop and all. Another strong message from this song is that “every inch of you is perfect / from the bottom to the top.” 

Pesan yang sangat positif, bukan? Tapi, ketika saya sedang iseng browsing di sebuah forum ibu-ibu yang berbasis di Amerika Serikat, saya menemukan sebuah thread yang membahas lagu ini namun dengan nada yang tidak begitu positif. Ada beberapa ibu yang beranggapan kalau lagu ini memuat bait lirik yang ‘berbahaya.’ Spesifiknya, yang ini:

“Yeah, my mama she told me don’t worry about your size
She says boys like a little more booty to hold at night”

Kalimat yang belakangan itu membuat beberapa ibu merasa tidak sreg, karena patokan kecantikan perempuan dianggap diserahkan ke tangan laki-laki. It’s like you need boys’ approval to feel pretty. Karena lagu ini banyak disukai oleh anak-anak usia ABG, banyak ibu khawatir ini dapat mempengaruhi body image mereka dengan mengarahkan bahwa menjadi cantik berarti berwujud seperti yang disukai oleh laki-laki.

Intriguing, huh? 
Saya jadi berpikir, iya juga, ya. Saya ingat ada fase di mana lagu-lagu Britney Spears sedang ngehits dan banyak anak perempuan (di luar negeri, sih) yang ikut-ikutan memakai cropped tank top seperti idolanya. Meski kalau dipikirkan secara praktis, sometimes all you think about a pop song is just that it’s nice to singalong to. 

Terlepas dari apakah lagu ini mengandung pesan yang kontroversial, atau bisa mengindoktrinasi anak-anak perempuan, saya jadi ingin menyoroti hal utama yang dibahas oleh lagu ini sekaligus menjadi bahan perdebatan ibu-ibu tadi. It’s body image. 

Body image atau citra diri akan tubuh adalah bagaimana kita berpikir tentang diri sendiri, baik itu saat kita sedang mematut diri di depan cermin, atau saat kita membayangkan sosok diri di pikiran.
Saya kutip dari situs ini, citra diri mencakup antara lain:
  • Apa yang kita yakini tentang penampilan kita, termasuk ingatan, asumsi, dan generalisasi.
  • Bagaimana perasaan kita tentang diri sendiri, termasuk tinggi, bentuk, dan berat badan.
  • Bagaimana kita merasakan dan mengendalikan badan kita saat kita bergerak.
Selanjutnya: Mudahkah memiliki citra diri yang positif?

Baru-baru ini, saya mendapatkan me-time lewat kencan dengan sahabat. Obrolan kami tak tentu arah, berpencar ke mana-mana mengikuti isi hati dan situasi, lalu kami sampai pada episode masa remaja. Dalam kenangan saya, masa itu tidak hanya diisi oleh keseruan masa-masa sekolah, tapi juga growing pains.

Seperti saya curhatkan di artikel ini, terjadi fase puber yang menyebabkan begitu banyak perubahan, secara emosi dan tentunya fisik. Saya ingat jelas kalau waktu itu, saya sering stres memikirkan jerawat yang memenuhi muka. Saya juga sebal dengan rambut saya yang keriting (dan kerap diledek “sarang tawon!” oleh anak-anak lelaki, huh), kulit saya yang gelap, bahkan pada tinggi badan saya yang menjulang dibandingkan anak-anak seusia di sekolah. I hated my body and I wanted God to change me. 

Acne 
*Gambar dari sini

Kenapa saya tidak bisa seputih teman saya yang itu sih? Kenapa muka saya tidak semulus model-model di majalah remaja itu? Kenapa saya bongsor banget??
Ternyata, sahabat saya bilang kalau diapun menghadapi isu yang sama. Masalah kami memang tidak serupa, tapi dia juga merasakan bagaimana body image yang buruk dapat mengikis kepercayaan diri.

Jadi, bisa dibilang kalau masa ABG adalah masa-masa kritis bagi body image. Kita berhadapan tidak hanya dengan growing pains efek pubertas, tapi juga perjuagan membentuk konsep body image yang positif.
Meskipun begitu, kalau saya pikir ulang, body image melekat sepanjang hidup, dan setiap fase dalam hidup bisa menjadi masa kritis jika kita masih belum memiliki body image yang positif. Saya banyak melihat perempuan seusia saya terobsesi menjadi lebih kurus, lebih langsing, lebih tirus. Itu baru soal berat badan, masih ada begitu banyak hal yang bisa menjadi faktor insekuritas perempuan, mulai dari warna kulit, model rambut, kondisi wajah, sampai keinginan mengikuti gaya berbusana mengikuti tren terbaru.
 It’s like we cannot help not to compare ourselves, not only with our peers, but also from what we see on TV, magazines, and the internet.  

Sebenarnya sih, menurut saya pribadi, tidak ada salahnya ingin terus meng-improve diri. Tapi, pasti ada batasan perilaku antara citra tubuh yang sehat dengan yang tidak, bukan?

Masih dari situs yang sama, saya jadi tahu kalau perbedaan antara dua hal itu sebagai berikut:
- Body image yang negatif:
  • Punya persepsi yang menyimpang tentang bentuk tubuh — melihat bagian-bagian dari tubuh tidak sesuai kondisi nyatanya
  • Meyakini bahwa hanya orang lain yang menarik, sementara ukuran dan bentuk tubuh sendiri adalah wujud kegagalan
  • Merasa malu, self-conscious, dan cemas tentang tubuh sendiri
  • Merasa tidak nyaman dan canggung dalam tubuh sendiri
Sementara itu,
- Body image yang positif berarti:
  • Punya persepsi yang jelas dan sejati tentang bentuk tubuh — melihat bagian-bagian tubuh sebagaimana adanya
  • Menghargai bentuk alami tubuh dan memahami bahwa penampilan fisik hanya mengungkapkan sedikit sekali tentang karakter dan nilai-nilai seseorang
  • Merasa bangga dan menerima keunikan tubuh, serta tidak mengkhawatirkan makanan, berat badan, dan kalori
  • Merasa nyaman dan percaya diri dalam tubuh sendiri
Dijelaskan di webmd.com bahwa anak perempuan maupun laki-laki sama-sama dapat terpengaruh oleh konsep citra tubuh negatif. Anak perempuan mungkin ingin memiliki wajah cantik dan tubuh sempurna bak model, sementara anak laki-laki bisa terobsesi mendapatkan tubuh berotot seperti atlet dan bintang film.

Padahal, orang-orang dengan citra tubuh negatif lebih cenderung mengidap eating disorder dan menderita depresi, perasaan terisolasi, kepercayaan diri yang rendah, serta obsesi untuk menurunkan berat badan. Tentunya kita tidak mau anak-anak kita mengalaminya, bukan? Lalu bagaimana caranya agar anak-anak kita memiliki citra tubuh positif?


Express Yourself 
*Gambar dari sini

Bagi orangtua, penting untuk memerhatikan hal-hal berikut:

1. Jadilah role model yang baik. 
Tanpa disadari, anak-anak mengobservasi dari dekat gaya hidup kita, kebiasaan makan, dan sikap kita terhadap penampilan dan berat badan. Berhati-hatilah memberikan contoh perilaku, karena anak akan meniru sikap kita terkait tubuh. Jika kita terus-menerus mengeluhkan ukuran pinggul atau rambut yang nggak oke, anak-anak akan belajar berfokus pada kekurangan dirinya.
Satu lagi, lakukan perubahan jika kita tidak menyukai kondisi tubuh kita, alih-alih hanya mengeluh.

2. Be positive.
Jangan pernah melontarkan komentar negatif tentang tubuh anak, karena itu hanya akan membuat mereka merasa lebih down, dan juga tidak menyelesaikan masalah.
Justru kita perlu memuji anak atas kemampuan fisiknya — “Wah, kamu kuat banget bisa membantu mama membawa belanjaan,” atau “Cekatan banget yah, kamu!” karena ini akan membangun citra tubuh positif.
Kita juga bisa mendukung anak mengoptimalkan kualitas yang ada pada dirinya, misalnya dengan mengajaknya menjaga personal hygiene, menegakkan postur tubuh, serta menerapkan kebiasaan makan sehat dan tidur teratur.

3. Ajarkan tentang media dan industri kecantikan kepada anak.
Jangan biarkan anak perempuan kita menjadi fashion victim atau anak lelaki kita terobsesi menjadi berotot dengan cara instan yang tidak sehat. Bantu mereka menumbuhkan sikap skeptis yang sehat terhadap gambar-gambar di majalah, TV, dan internet. Pastikan mereka tahu bahwa ada teknologi manipulasi foto, pengarah gaya, personal trainers, operasi kosmetik, dan banyak trik lain di balik itu semua.

4. Menekankan pentingnya kualitas diri selain penampilan.
Dukung anak kita untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang tidak ada hubungannya dengan penampilan, seperti musik, olahraga, seni, dan kegiatan sukarela. Berikan juga apresiasi terhadap hal-hal yang kita suka dari diri anak, misalnya bagaimana mereka bisa membuat kita tertawa, atau keseriusannya mengerjakan tugas sekolah, atau kepeduliannya terhadap orang lain.

5. Jadikan kesehatan sebagai concern keluarga.
Seluruh anggota keluarga dapat menjadi sehat dengan menghindari junk food, menyediakan masakan bergizi, dan juga berolahraga. Melakukan kebiasaan ini bersama-sama sebagai keluarga dapat membantu anak kita menerapkannya.

Saya jadi ingat artikel tentang positive parenting ini; kita memang tidak dapat melindungi anak-anak kita dari ancaman pengaruh buruk. Apapun, baik itu TV, majalah, internet, sampai ke lagu pop, bisa berpotensi ‘merusak’ kepolosan anak-anak kita. Karenanya, penting bagi orangtua untuk membekali mereka dengan nilai-nilai dan contoh perilaku.

Hmm… baiklah, kalau begitu saya mau beranjak dari depan layar laptop dan menggelar karpet yoga dulu, ya, Mommies. Sementara itu, boleh juga, lho, dibagi komentar dan pengalamannya seputar citra tubuh. :)


21/12/2014

words aptly spoken

"We have taller buildings but shorter tempers; wider freeways but narrower viewpoints; we spend more but have less; we buy more but enjoy it less; we have bigger houses and smaller families; more conveniences, yet less time; we have more degrees but less sense; more knowledge but less judgment; more experts, yet more problems; we have more gadgets but less satisfaction; more medicine, yet less wellness; we take more vitamins but see fewer results. 

We drink too much; smoke too much; spend too recklessly; laugh too little; drive too fast; get too angry; stay up too late; get up too tired; read too seldom; watch TV too much and pray too seldom.

We have multiplied our possessions, but reduced our values; we fly in faster planes to arrive there quicker, to do less and return sooner; we sign more contracts only to realize fewer profits; we talk too much; love too seldom and lie too often. 

We've learned how to make a living, but not a life; we've added years to life, not life to years
We've been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street to meet the new neighbor. 
We've conquered outer space, but not inner space; we've done larger things, but not better things; we've cleaned up the air, but polluted the soul; we've split the atom, but not our prejudice; we write more, but learn less; plan more, but accomplish less; we make faster planes, but longer lines; we learned to rush, but not to wait; we have more weapons, but less peace; higher incomes, but lower morals; more parties, but less fun; more food, but less appeasement; more acquaintances, but fewer friends; more effort, but less success. 
We build more computers to hold more information, to produce more copies than ever, but have less communication; drive smaller cars that have bigger problems; build larger factories that produce less. We've become long on quantity, but short on quality.

These are the times of fast foods and slow digestion; tall men, but short character; steep in profits, but shallow relationships. 
These are the times of world peace, but domestic warfare; more leisure and less fun; higher postage, but slower mail; more kinds of food, but less nutrition. 
These are the days of two incomes, but more divorces; these quick trips, disposable diapers, cartridge living, throw-away morality, one-night stands, overweight bodies and pills that do everything from cheer, to prevent, quiet or kill. 
It is a time when there is much in the show window and nothing in the stock room."
Words by Bob Moorehead.

10/12/2014

walking after you

setelah 9 tahun bersama dan 7 tahun menikah, gue masih bertanya-tanya... tanggal anniversary kita tuh 9 apa 13 desember, sih?? 
but i'm sure this feeling is mutual, karena semalem adit menanyakan hal yang sama...
zzz, so much for a romantic commemoration. 

but, really, i'm glad we've gone this far. we are a weird and a bit nonsensical combination - me being "complicated," him being "basic". but if i have to be extremely honest, i know from day one that he could be the one. 
a dear friend once said a bit mean (but truthful!) thing to me, "you've got a nice thing going on here. if this got messed up, i'd know it's you." the one who screws things up, she meant -__-  
but i appreciate her for saying it. because deep down, i know it's true.... 

well, 7 tahun itu bisa dibilang lama, sih. diukur bukan dengan patokan siapa-siapa, melainkan kondisi 'pelayaran' hubungan kita sendiri yang jadi barometer. we fight kinda a lot because both of us are stubborn dan sok tau. we strive to maintain this 'ship' afloat, and we've got many challenges ahead.
also, God knows that we're not perfect parents. but here we are, still sailing. 
alhamdulillah, and may God help us. ^___^

anyways, nggak ada kencan khusus untuk memperingati dan semacamnya. now i'm sitting in a starbucks and this song is suddenly played on my iTunes. udah lama banget gue nggak dengar lagu ini, ternyata masih semanis dan seindah biasanya. tapi kali ini, tau-tau, kok jadi inget sama mitra hidup, ya? apa gara-gara kata-kata "Things just won't do without you, matter of fact?" 
dan mungkin juga karena bikin teringat sama tulisan gue beberapa (puluh) tahun lalu...


"jangan pernah pergi. aku jauh lebih suka diriku sejak kau putuskan membopongku beserta sekwintal beban beratku dan tersenyum setiap kali aku mendesah bosan dan ingin dibuang saja dari dunia. kau dan ketekunanmu mengipasi lepuhan-lepuhan di kakiku, membuatku bisa memandang mereka dan tersadar bahwa pilihanku hanyalah mengobati.
saat malam, kau akan segera lelap hanya setelah semenit berbaring, aku tak pernah bisa. kuhabiskan kantuk untuk memandangimu dan terlalu tergugu tak bisa memutuskan apakah kau memang bermental malaikat atau cuma dungu. pagi terlalu cepat datang lagi dan langsung membuatku silau dengan penyesalan karena membuang-buang malam untuk main teka-teki sampai tak memelukmu sesering biasanya. kau tak kenal lelah, akan merayu sambil mengacak-acak rambutku untuk segera mulai berjalan lagi.
sepanjang hari, saat mendaki ataupun tertatih menurun, aku akan berceloteh tentang apa saja. kalau matahari begitu terik, begitu sering aku memaki, menangis, dan memukul-mukul punggungmu yang berkeringat. kau tak menghiraukan rasa laparmu dan rewelnya bayi besar di gendonganmu. nuraniku sesekali mengetuk-ngetuk dan membuatku ingin melangkah sendiri. tapi tentu kedua tanganmu selalu sedia memapah dan lalu akan kuseka dahimu yang basah kuyup.
karenanya, teruslah di sini. kaki-kaki ini belum lagi kuat menapaki hidup yang terus berguncang bak koantas dan bertaburan begitu banyak ranjau darat. aku berjanji senantiasa membuka mata untuk ketulusanmu dan belajar dari itu. dan semoga akan datang juga suatu hari di mana aku akan berjalan di sampingmu dan kau hanya akan perlu menggandeng satu tanganku." 

(titled "jusqu'a la fin" or "until the end.")

i'm on his back. atau mungkin lebih tepatnya, being carried on his back. hehehe. semoga dia nggak gampang kecapekan; tetap bersabar mendengar rengekan dan ngajarin gue berjalan. 




09/12/2014

sleep well with a seahorse

Tanggal 27 November 2014 lalu, gue diajak Mommies Daily ikutan acara “Peluncuran Fisher-Price Soothe & Glow Seahorse™.” Sekilas info yang gue tahu waktu itu, Soothe & Glow Seahorse™ ini mainan yang bisa membantu ibu-ibu dalam menidurkan anaknya. Gue aware sih, kalau kadang emang diperluin trik khusus supaya anak jadi lebih gampang tertidur. tapi bagaimana cara mainan ini membantu misi 'mulia' ibu-ibu tadi, dan kenapa anak butuh tidur yang berkualitas, ini yang pengen gue ketahui lebih lanjut. 

Kalau dari pengalaman sendiri, Bumy waktu bayi emang tergolong nggak gampang untuk ditidurkan. Apalagi pas masih newborn, alamaak... Gue inget banget orang-orang bilang "Bayi emang begitu, rewel. Tapi nanti pas udah lewat 40 hari pertama udah enggak, kok." Dan gara-gara itu gue literally menghitung hari sampai tiba di hari ke-41. Maklumlah, ibu-ibu amatir. Gue berharap entah bagaimana Bumy akan bisa tertidur pulas dengan mudah dan sentosa di malam hari, semudah menjentikkan jari.
Lalu gimana, terbuktikah 'urban legend' tersebut? Ternyata nggak sama sekali, tuh T___T anak gue tetep aja rewel kalau mau tidur malam sampai sekitar 4 bulanan.

Gue baru bisa tidur malem dengan enak ketika Bumy udah disapih, yaitu pas umurnya 2 tahun. Dia nggak lagi nyari nenen di tengah malam, palingan minta dianterin pipis. Terlebih sekarang, pas dia udah bisa tidur sendiri. Gue bukan cuma bisa menikmati tidur yang nggak kepotong-potong, tapi di kasur juga bisa lebih leluasa (tidurnyaaa, hahaha); otomatis lebih berkualitas, deh, tidur gue dan Adit. Kalau udah begini, rasanya makin berat, yah, untuk punya newborn lagi? xD

Ngomong-ngomong tidur berkualitas, di acara kemarin ternyata dikupas tuntas soal ini. Vera Itibiliana yang seorang psikolog anak, memaparkan bahwa selain nutrisi, waktu bermain, dan stimulasi yang tepat, ternyata porsi tidur yang berimbang itu juga penting supaya tumbuh-kembang anak maksimal. Kenapa begituh?
Jadi, saat anak tidur tuh terjadi sebuah proses di mana otak anak berkembang dengan pesat. Kalau kita lihat mata anak bergerak-gerak sambil tidur, nah, itu tandanya proses ini sedang terjadi, dinamakan REM (Rapid Eye Movement) Sleep atau tidur yang aktif. Saat itu, anak sedang menstimulasi dirinya sendiri.

Kebutuhan tidur anak berusia di bawah 18 bulan itu 15-18 jam per hari menurut Tracy Hogg, pengarang buku "Secrets of the Baby Whisperer" (one of my favorite parenting books inih!). Udah gitu, ternyata pola tidur anak mulai dari bayi akan berpengaruh sampai besar nanti, jadi orangtua perlu mengusahakan anak punya waktu tidur yang rutin meskipun jadwal kegiatan maupun ritme kehidupan anak berubah-ubah. Ini penting karena saat anak udah bersekolah, waktu masuk dan keluarnya 'kan pada jam-jam yang sama. 



para narasumber acara kemarin: Tan Shu Mei (Fisher-Price) - Vera Itabiliana, S.Psi, - Cathy Sharon (Brand Ambassador Fisher-Price)

Di sini, mbak Vera ngasih insight dan kiat-kiat menghadapinya, antara lain

1. Ternyata kecemasan dan stres yang dirasain ibu tuh bisa mempengaruhi anak, dan ini bisa membuat anak lebih sulit tertidur!

Menurut gue, ini menjelaskan banget problema yang gue hadapi pas Bumy masih newborn, deeh. Bawaannya emang sutris aja waktu itu; khawatir ASI nggak cukup, khawatir stok ASI perah nggak memadai padahal udah mau kembali ngantor, khawatir kalau anak cegukan terus, dan ina-inu yang bisa panjang banget kalo diurutin. Pengalaman gue dan Adit bikin Bumy tertidur tuh pernah sampai ngebawa doi ngider-ngider naik mobil jam 2 pagi. Taubaat.

2. Orangtua bisa mencoba dan mengatur waktu tidur yang tetap buat anak. Meskipun kedengarannya sulit, tapi ortu harus bersikap fleksibel agar anak bisa menemukan waktu yang tepat buat diri mereka sendiri, dengan waktu tidur yang rutin sebagai tujuan. Ini maksudnya nggak usah dipatok anak kudu udah tertidur jam sekian hanya dalam beberapa hari, tapi pelan-pelan aja kita ciptain suasana yang memudahkan anak-anak tertidur.
Caranya bisa dengan merekayasa atmosfernya; kita ajak anak masuk ke kamar, membuat ruangan menjadi redup supaya mata anak jadi rileks, mengatur suhu ruangan yang nyaman, bisa juga memainkan suara-suara yang menenangkan. Ini yang gue dan Adit lakuin. Bumy diajak masuk ke kamar sejam sebelum target waktu tidurnya, trus kita bikin rileks dengan mandi air anget dulu, dibacain cerita, trus lampu kamarnya dimatiin dan kita nyalain lampu tidur yang redup.

3. Terakhir, orangtua bisa memberikan anak semacam security object, seperti selimut kecil, bantal guling, atau soft toy yang bisa dipeluk.
Di sinilah Fisher-Price hadir menyediakan solusi. Soothe & Glow Seahorse™ ini mainan yang akan menyala serta memainkan lagu pengantar tidur dan suara laut yang menenangkan ketika diremas dengan lembut. Setelah lima menit, musik akan mati dan lampu akan redup, sehinggu membantu bayi tertidur. Hehe, mainan pintar ini. 



pic from Fisher-Price's website
Fisher-Price menganggap tidur yang cukup dan berkualitas itu penting agar perkembangan otak anak bisa maksimal. Bergerak dari situ, diadakan kontes #BayikuBobo di www.bayikubobo.com sebagai sarana para orangtua di Indonesia untuk sharing pengalaman menidurkan bayi. Cerita dan pengalaman yang dibagikan ini selain bisa jadi informasi berharga buat orangtua lain, juga bisa menjadi semacam pukpuk di bahu, nggak, sih? Like saying, "Yes, we've been through the same problem before," hehehe.

Gampang banget cara ikutannya, kita tinggal unggah foto atau video yang menggambarkan pengalaman unik ketika berusaha menidurkan si kecil. Abis itu kita share foto atau video itu di Facebook dan Twitter, dan ajak teman-teman kita untuk vote. Jangan lupa like/follow Fan Page Facebook, akun Twitter, dan juga akun Instagram Fisher Price Indonesia untuk dapatin informasi lengkap tentang kontes ini. Kita juga bisa tahu update produk-produk Fisher-Price yang mengedepankan pilar-pilar utama perkembangan anak, loh. Siap-siap ngileer sama semuanya. 


07/12/2014

thoughts on aging

Masih dalam rangkaian posting edisi "karawaci bersinar," gue sebut kalau dari sering ke sana, gue jadi bisa lebih sering 'nemenin' bokap-nyokap. Dari situ, somehow gue jadi mendapat insight seputar masa pensiun dan menjadi tua; some are in a form of warning, some other in ideas. Hal-hal random aja, sih, kayak...

a. Masa produktif itu pendek dan cepet berlalu banget, yah... 


Kalo udah pernah duduk ngebahas dana pensiun emang jadi lebih aware, sih, tapi dengan berinteraksi langsung dengan generasi baby boomers ini saat kita sendiri sedang di masa produktif, kok ya MAKIN BERASA. 
Nggak bisa dipungkiri deh, kalau kita - gue dan Adit - yang kelas menengah yang (alhamdulillah, though) di tengah-tengah banget dan berdikari ini perlu fokus menyiapkan diri secara finansial buat masa pensiun. Keputusan-keputusan terkait duit harus mempertimbangkan periode pas udah nggak produktif atau digaji lagi. Udah tau, sihh, tapi tetep aja suka 'lupa' kalo duit itu peruntukkannya BUKAN cuma buat masa kini, tapi juga masa depan...
pengennya masa pensiun bisa leha-leha gini.
tapi duit tetap ngalir! :))

Lagi-lagi alhamdulillah, bokap-nyokap kita nggak ada yang butuh bantuan kita secara finansial because of all the wise decisions they made while they were still in their productive years. They can still live their life (and lifestyle) comfortably - nggak berlebihan, tapi juga nggak kekurangan.

Gue yakin "wise decisions" mereka terkait lifestyle itu berwujud antara lain jarang ngemol, menjauhi belanja-belenji demi menyenangkan hati, eating out, serta hal-hal tersier/hedon lainnya... *uhuk!*

Keputusan-keputusan bijak dan gaya hidup 'secukupnya' yang mereka terapin itu ternyata memberikan benefit yang tak terkira, bukan cuma buat diri mereka sendiri, tapi juga buat kita, anak-anaknya. Gue pernah baca sebuah artikel QM Financial yang ngebahas "sandwich generation." Generasi ini disebut demikian karena terhimpit di tengah-tengah: perlu menghidupi anak-anaknya sambil tetap membiayai kebutuhan orangtua. 
Fenomena ini banyak dialami oleh generasi X dan Y kayak kita-kita ini. Entahlah, mungkin begitu banyak dari generasi baby boomers ini (generasi bokap-nyokap kita, maksudnya) yang belum paham perencanaan keuangan hingga menyebabkan fenomena generasi sandwich. Off topic sedikit, menurut gue program OJK untuk memberikan materi perencanaan keuangan ke anak-anak mulai usia SD itu keren banget. Gunanya ya untuk menghindari kesalahan yang sama diulang oleh generasi Z dan fenomena tadi terulang. 

FYI, dana pensiun yang perlu disiapin bukan cuma untuk kebutuhan hidup semata - yang harus bisa catch up sama inflasi jugak - tapi meliputi dana kesehatan setelah pensiun. Gue dan Adit pertama kali dibuat melek soal ini dari edukasi-edukasinya QM; kita jadi tersadar kalau premi askes semakin tua usia applicant akan semakin mahal, belum lagi terms & condition-nya juga macem-macem beda insurance company, Jadi, ya harus pinter-pinter milih dan siapin dana bayar preminya. Trus, tau sendiri kalo semakin tua, semakin rentan juga kita kena penyakit. And this thought leads me to thinking...
 

b. About health
Interaksi langsung maupun nggak langsung sama bokap-nyokap sendiri and people from their generation bikin kita semakin melek akan pentingnya menanamkan kebiasaan hidup sehat. Healthy lifestyle ini investasi yang nggak boleh ditunda-tunda lagi, deh.
Orangtua seorang temen gue ada yang baru ketauan kena lung cancer akibat kebiasaan merokok :( Gue langsung nasehatin bokap gue untuk berhenti, tapi yaa "namanya orang tua..." suseh untuk bisa di-brainwash.
Nyokap gue lain lagi, doyannya makan enak yang cenderung nggak sehat.
Jarang olahraga pula. Walhasil pas tua gini agak tergantung sama obat-obatan. 


Gue dan Adit sama-sama punya faktor keturunan terkait penyakit denegeratif, kaya sejarah diabetes di keluarga, tekanan darah tinggi, dsb. Jadi bisa dibilang menerapkan healthy lifestyle ini ikhtiar lah untuk menjaga kesehatan dan meraih kehidupan yang lebih nyaman ke depannya.
Kesimpulannya, nggak ada alasan lagi untuk nggak olahraga dan nerapin clean eating. *kibarin apron*



c. About fulfillment.  

Ini terpikir gara-gara rasa keluhan kesepian yang dilontarkan nyokap. Nggak, dia nggak kurang sibuk, tapi menurut gue, she's now facing her own demons. Maksud demons di sini apa? I'm talking about unresolved issues, personality flaws, and/or a lack of long-term vision about oneself.

are you with him?
Regarding the above meme, I kinda agree, sih.
Gue melihat gimana some people "age into their personality," and how it doesn't always turn out pretty.
Dari situ, gue semacam membentuk opini kalau masa pensiun justru can lead a person to whole new kinds of problems kalau seseorang nggak punya visi jangka-panjang atau arah hidup yang jelas. Kasus-kasus kayak depresi karena nggak kunjung dapet cucu, atau kesusahan karena udah pensiun tapi masih 'digelendotin' sama anak-anak dan anak-anak dari anak-anaknya, atau puber ke...sekian berujung unhappy marriage or else a divorce, dan banyak hal "serem-serem" lainnya, menurut gue nggak disebabkan oleh perubahan status atau karena kurang kesibukan. Penyebabnya justru apa-apa yang udah ada dan nggak ada di diri seseorang. 

Kalau dari awal nggak punya konsep diri yang 'utuh' ya wajar kalau mengharapkan diri dibuat jadi 'utuh' oleh achievement anak-anaknya, entah berupa karir, uang, status, atau kehadiran cucu :| 
Kalau dari awal nggak memupuk kemandirian di diri anak, ya wajar sampe tua digelendotin... ya nggak, sih?
Trus juga kalau dari awal udah nggak punya 'connection' sama pasangan, nggak heran kalau ujung-ujungnya 'basi' atau malah bubar....

So, dampaknya baru kerasa pada tahap usia ini.... To me it's like they're clueless atau merasa salah jalan pas bensin udah mau abis :|

Selain itu, gue juga mau menanamkan ke diri sendiri bahwa status "pensiun" itu bukan berarti saatnya berhenti belajar dan nggak produktif lagi. Emang sih, masa pensiun itu waktunya menikmati buah kerja keras, tapi gue prefer nantinya gue dan Adit bikin-bikin "sesuatu" yang bisa jadi "our baby" untuk ditumbuh-kembangkan sampai kita tua nanti. Sesuatu, a project, yang bisa jadi outlet kreativitas, inovasi, sekaligus bermanfaat untuk jadi kesibukan kita di masa tua. Lebih baik lagi kalau si "baby" itu bisa menyentuh kehidupan banyak orang dan memberikan social impact positif. We should really work on it from now, deh.


Lastly, still on aging, ada video TED talk yang inspiratif banget, judulnya "How to Live Passionately" by Isabelle Allende. She's a 71 year-old woman, dan dia 'ngajarin' gimana caranya agar tetap awet muda - but on the inside. She does this sambil ngasih perspektif baru tentang apa makna "menjadi muda." Ini cuplikan speech-nya yang enlightening menurut gue:

"So how can I stay passionate? I cannot will myself to be passionate at 71. I have been training for some time, and when I feel flat and bored, I fake it. Attitude, attitude. How do I train? I train by saying yes to whatever comes my way: drama, comedy, tragedy, love, death, losses. Yes to life. And I train by trying to stay in love. It doesn't always work, but you cannot blame me for trying."
Well, the truth is, contemplating about aging makes me feel giddy and scared. Because a part of me thinks to age is a blessing, yet the other part thinks it's a curse - because you watch your loved ones and friends die, your body weakens, your youth fades, your kids live their own lives, etc. 
But I guess it all boils down to each individual's perspective, huh? Because as Kurt Vonnegut said,
"We are what we pretend to be, so we must be careful about what we pretend to be."

So, maybe to be able to age gracefully, we need to "invest" the habit by living through the process from early on, just like achieving financial independence and health. We start from what we have and then work hard to reach our goals. I know, it doesn't always work, but... you cannot blame me for trying, right? :))

06/12/2014

kid-friendly pools in karawaci

berawal gara-gara eh, berkat sering ke karawaci, kita jadi mengeksplor kawasan tangerang dan sekitarnya lagi. berhubung si mas lagi getol-getolnya berenang, thanks to swim lessons di anak air bersama kak rangga hahaha, minggu pagi diisi dengan berenang semacam menjadi aktivitas rutin. kebeneran, dedek susanto juga udah bisa diajak renang. makin bersemangatlah kita memboyong si dedek beserta abah-bundanya untuk pool-hopping. 

pertama-tama, kita nyoba mampir ke kolam renang Sekolah Pelita Harapan (SPH) lagi, sebelumnya setau kita kolam renang itu cuma boleh dimasuki sama yang les berenang di situ aja. kebetulan, pas mampir lagi ke situ hari minggu dan kita lupa kalau hari minggu kolam renang itu ditutup. pas kita tanya ke satpam sih, katanya udah bisa dimasuki khalayak umum lagi. tapi so far kita belum cek lagi.

akhirnya pilihan beralih ke kolam renang sports club Palem Semi. di sini, kolam renangnya udah di-improve, ada 3 macem kolam; yang cetek buat bayi-bayi or anak piyik; satu lagi cetek juga namun dengan arcade perosotan dan guyur-guyuran lebih besar; satu lagi kedalaman 1 hingga 2 meter (kalo gak salah). di sini, biaya masuknya emang nggak gitu mahal sih, 20 ribuan aja, tapi ya gitu, jadinya ruame.

minggu lalu kita nyoba ke kolam renang di sports club perumahan Victoria Park di Ligamas. sebenernya keputusan renang di sini impulsif - tadinya mau ke palem semi, tapi pas ngelewatin daerah perum 1 menuju ke palem ternyata muaceett parah gara-gara pasar kaget -__-


di victoria, suasana beda buanget sama di palem; tenang dan bersih, hehe. kolam renangnya emang cuma 2 macem, satu cetek banget, semata kaki orang dewasa, kali;  satu lagi 1 - 1,5 meter. udah gitu nggak ada perosotan maupun arcade seru-seruan kaya di palem. biaya masuknya, kalo nggak salah inget, 37 ribu buat anak-anak (bayi gratis) dan 47 ribu buat orang dewasa. di sini ada outdoor playground, sih, lokasinya di sebelah kolam, tapi gue liat udah nggak terawat bahkan rusak atau kurang aman.
selain itu, kolam renang dikelilingi pohon kelapa, dan... ada kelapanya :| gue jadi rada ngeri. emang posisi pohonnya nggak tepat di atas tempat duduk berpayung sih, tapi tetap aja ngeri kejatuhan kepala pas lagi melintas di bawahnya.

buat orang dewasa sih lebih enak berenang di sini daripada di palem. kolamnya gede, sepi, jadi bisa puas bolak-balik cardio. nyokap gue aja jadi kepengen (akhirnya) berenang (lagi) abis diajak ke sini. 

oh iya, ada lapangan hijau yang gede juga dalam kompleks sports club ini, jadi anak-anak bisa puas lari-lari atau main bola kalau mau, hehe. 


susanto dan abah hehehe

abaikan yang di belakang xD



serem juga gak ada jaring pengaman di bawahnya, padahal jarak antar rantai itu mayan jauh untuk ukuran tapak anak-anak

related: kid-friendly places in karawaci.