25/11/2011

Make You Feel My Love


saat pertama kali mendengar lagu ini dinyanyikan Adele, i thought it was just another good love song. tapi begitu membaca liriknya, kok apresiasi yang muncul bukan cinta terhadap lawan jenis semata ya? gue merasa kata-katanya (meski sebagian saja) cocok banget untuk mendeskripsikan cinta ibu kepada anaknya. gue sih nggak mau jumawa melabelkan diri sebagai ibu yang who-would-do-it-all, karena gue masih ibu-ibu amatir, masih lebih banyak egoisnya :P tapi kalau gue inget nyokap gue dan segala hal yang dia lakukan untuk gue, duh mulai deh air mata menggenang di pelupuk :') 

me and my mom, we're never best friends, and we probably won't be. but she understands me more than anyone, and she gives me comfort like no drug can ever give.

When the rain is blowing in your face
And the whole world is on your case

I could offer you a warm embrace

To make you feel my love


When the evening shadows and the stars appear

And there is no one there to dry your tears

I could hold you for a million years

To make you feel my love


I know you haven't made your mind up yet
But I would never do you wrong
I've known it from the moment that we met
No doubt in my mind where you belong

I'd go hungry, I'd go black and blue
I'd go crawling down the avenue

There's nothing that I wouldn't do

To make you feel my love


The storms are raging on the rollin' sea
And on the highway of regret
The winds of change are blowing wild and free
You ain't seen nothing like me yet

I could make you happy, make your dreams come true
Nothing that I wouldn't do
Go to the ends of the earth for you
To make you feel my love 

(lyrics by Bob Dylan)

love you, mak, though i can never say it out loud :")

The Jilbab Story

trending topic saat ini di dunia maya (region ibu-ibu, di mana aktivitas maya gue paling tinggi :p) adalah soal hijab. gue emang gak eksis apalagi terkenal urusan blogging atau twitter, tapi gue cukup aktif sebagai observer *ehem* nah, sehubungan ramainya si hijab ini dibahas, gue jadi terinsipirasi untuk mengenang kembali pengalaman awal gue berjilbab (btw gue lebih seneng nyebut jilbab daripada hijab. lebih endosyah aja).

gue mulai kepikiran untuk pakai di awal 2005. baru kepikiran ya, belum berkeinginan. pertengahan akhir 2004 gue udah mulai nyusun skripsi dan jarang ke kampus. kebanyakan aktivitas gue dihabiskan di rumah, browsing internet, dan somehow, that made me wonder what i was gonna do with my future. lulus dari kampus itu kan sebuah langkah besar, karena gue seharusnya udah tau mau melakukan apa untuk mengisi hidup gue. in terms of career, setidaknya. but the answer I got was close to nothing. nada.
jadi, mulai deh fase hidup galau -__- galau di sini, gue jadi mulai merasa insecure, gak punya arah untuk dituju. gue jadi mempertanyakan 'pilihan' gue untuk kuliah IT sementara gue nggak bisa membayangkan diri bekerja 8 to 6 sebagai pegawai, pegawai IT pula! i didn't know where my position was in this world, nor what I could contribute to make my life meaningful. *lebay yah, tapi sejujurnya begitu*

lalu pada desember 2004, bencana tsunami di aceh terjadi. exposure media terhadap bencana ini sedemikian besarnya sehingga gue ingat hari demi hari melihat tayangan dari dan tentang aceh. being an already fragile person that i was, the massiveness of the tragedy and the 'message' it conveyed made me contemplate deeper. life is fragile. we don't know how it would end, nor where, nor when.
tak lama setelah itu, gue dengar kabar teman SMP gue, cewek, meninggal karena sakit yang cuma seminggu. dia seumuran sama gue, dan yang gue ingat, dia orangnya ceria dan aktif banget (not that those two related, it's just how i remembered her). it shook me harder.

gue nggak tau awal mulanya gimana, yang jelas gue mulai mendekatkan diri ke hal-hal berbau islam. gue baca banyak buku berbau islam, berusaha ngebenerin ibadah, dan bergabung ke komunitas remaja islam yang namanya sama dengan gue (halah). salah satu sosok yang berperan sangattt besar adalah bunda nuri. gue inget di masa-masa galau gue ngintilin beliau ke kampus psikologi UI dan kosannya :') awalnya sih gak ada niat mencari ilmu agama atau semacamnya tuh saat main dengan bu akhwat ini (eh dulu masih miss ding). i just felt peaceful being around her ;'))) i felt like she's one of verrrry few persons who understood my 'new'found interest. karena harus gue akui, teman-teman yang kenal gue sejak dahulu, akan terbelalak kalau tau gue tertarik sama hal-hal relijius. circle of friends gue-with all due respect-mayoritas non-agamis/hedonis, hahaha, kecuali bunda nuri ini, yang entah kenapa mau sahabatan sama gue sejak SMU. padahal dari SMU doi udah jadi akhwat, sementara gue ber-rok mini + long socks niru-niru anak tarki :P #aib.
jadilah dulu gue suka nginep di kosan nuri, nongkrong di kampusnya, bahkan pernah ikut sesi kuliah di jurusan psikologi. gue inget bersama doi, gue selalu diajak sholat, lima waktu pula. dan saat berada di musholla kampus UI, gue liat banyak akhwat yang nongkrong di situ untuk membaca Al-Qur'an. hal ini mungkin biasa aje banget buat mereka yang hidupnya 'akrab' dengan hal-hal relijius, tapi bagi gue, melihat dan berada di dekat hal itu membuat terkagum-kagum. dan rindu. perasaan rindu yang gue maksud itu seperti berkeinginan masuk islam (all over again). dan rindu itu sangaaaat kuat, menggedor-gedor batin.

bicara tentang minimnya dukungan yang gue dapatkan untuk bisa terkoneksi lagi dengan agama gue, hal serupa juga gue temui dari keluarga. nyokap gue malah khawatir gue sering bolak-balik ke depok. i have to admit bahwa dia punya stigma terhadap jilbaber, apalagi yang jilbabnya panjang (slash syar'i, hehe). dia mengungkapkan kekhawatirannya dengan gamblang ke gue, meskipun dia gak melarang gue mau ngapain selama gue lapor pergi ke mana dan mau pulang kapan. keluarga gue tidak relijius. we're pretty much democrats in terms of religion. nyokap bokap gue (cuma) nyuruh sholat, puasa, dan mendaftarkan gue dan adik-adik ke guru ngaji. tapi kita nggak pernah punya ketertarikan atau agenda khusus untuk kegiatan berbau agama.
gue ingat suatu hari sepulang kuliah, nyokap ngajak gue pergi berdua, terserah gue mau ke mana, katanya. berhubung gue demen belanji, gue bilang aja mau ke kemang, nengok butik favorit masa muda (yang sekarang udah digusur aje) boys meet girls atau apa yah namanya. di sebrang butik tersebut ada bakmi japos, setelah gue kuras dompet nyokap, kita makan di situ. kondisi hubungan gue dengan nyokap gak pernah akrab dan intim seperti di film-film. nyokap gue wanita sumatera yang pengasuhan anaknya bergaya old school. meaning: gue nggak bisa curhat apa adanya sama dia, dia sangat ekspresif (yells a lot when she's mad, laughs hard, says what she means), sangat controlling, dan menuntut kepatuhan dari seorang anak. tapi yang gue inget sampai sekarang, momen di bakmi japos itulah satu-satunya kejadian nyokap gue ngomong 'dalem' sama gue, memperlihatkan kerapuhannya. she said "kak, mama takut kakak berubah."
pengen mewek ga sih :(((
dia bilang, dia gak mau gue jadi penganut islam fanatik kayak yang dia dengar dari berita. dia khawatir gue bakal nurut disuruh kawin dan dipilihin jodoh sama guru ngaji gue (as if there had been any deh si mamah), dia takut gue jadi orang yang gak dia kenal dan gak dia sukai.
lantas gue paparkan ke dia keinginan dan visi yang ada di kepala gue. gue cuma pengen tau ilmu agama, karena gue merasa gak punya kompas ke mana harus melangkah dan gue harus menjadi manusia seperti apa. and then i promised her i would not be a stranger to her. i would not disappoint her.

nuri dulu bilang "mungkin ini izzah/harga diri lo sebagai muslim yang sedang terdorong ke luar." gue rasa iya. gue lagi mencari identitas, dan hal pertama yang terlintas di kepala adalah bagaimana mendefinisikan diri gue sebagai muslim-stempel yang udah ada sejak gue lahir ke dunia.

maret 2005, gue kerja di citi, dan sebulan kemudian, gue memutuskan pakai jilbab ke kantor. it was somewhat out of the blue. bukan keinginan untuk pakai jilbabnya yang tiba-tiba datang, melainkan kenapa harus hari itu. gue ingat berpikir "idup cuma satu kali." and i wanted to do it 'right.' at least dengan mengikuti aturan agama yang gue anut dalam hal berpakaian, yaitu bagaimana kita menampilkan diri dan ciri kita di depan umum sebagai muslim. beberapa saat sebelum D-day, gue udah mulai membiasakan diri pakai baju lengan panjang atau rok panjang. dan pastinya temen yang pertama ngeh sama perubahan gue adalah weiche the fashion police. he bluntly asked, "cin, lo mau pake jilbab ya kok pake rok dan baju panjang gitu mulu?" hihi dasar my soulmate.
tapi yah emang dasar gak modis, gue gak pernah sengaja mengalokasikan waktu apalagi duit untuk mengoleksi rupa-rupa baju dan jilbab.

jadi on D-day, which was senin, gue inget heboh nyari-nyari scarf nyokap gue yang bisa dipakai sebelum berangkat kerja. kebetulan saat itu nyokap gue mulai suka pakai jilbab kalau lagi hang out atau pergi kerja, jadi beliau mengoleksi scarf untuk dijadikan penutup kepala plus ciput-ciputnya. kenapa gak gue siapin semalam sebelumnya? pertimbangan gue, kalau dari malam udah 'ketauan' berniat pakai jilbab besoknya, bisa-bisa terjadi interogasi dan persidangan sepanjang malam. jadi gue pilih untuk memanfaat pagi hari senin yg sibuk untuk meminimalisir durasi drama.
jadilah persidangan tersebut terjadi dalam perjalanan menuju kantor. bokap nyokap yang saat itu masih bekerja dan selalu berangkat bareng gue, mengutarakan disapproval mereka. mulai dari khawatir gue gak konsisten, sampai khawatir gue susah cari jodoh gara-gara berjilbab. i know, silly it was, tapi gue yakin gue akan mengkhawatirkan hal-hal konyol semacam itu juga sebagai orangtua (eh i guess i already did now).
percakapan dalam mobil pagi itu tidak berjalan mulus. gue inget gue marah-marah dan nangis :( kalau dipikirkan sekarang sih durhaka banget yah eike, yelling ke orangtua. what i felt that time was i had to defend it, my decision to wear jilbab. pada akhir percakapan, bokap nyokap gue 'nyerah,' they left the decision to me. your decision, your consequences to bear.
on the other hand, i felt relieved. i felt that's the way i should have been all along.

selain dari orangtua, respon yang harus gue hadapi adalah dari temen-temen. gue tulis di atas kalau mereka DULU tipe yang non-agamis/hedonis, hehe (karena kebanyakan udah berubah seiring dengan usia yang tambah tua). nah saat itu reaksi mereka yang "ciiin, for real?" tapi syukurlah jarang terjadi kondisi gak nyaman dalam pertemanan kita. gue juga tau diri, kalau mereka dugem ya gue gak nimbrung. sebaliknya saat kita lagi jalan bareng seperti ngemol dan gue minta break untuk sholat, mereka juga hayuk aja.
beda dulu sama sekarang, respon yang harus gue hadapi kan seputar keluarga dan teman kantor plus main aja ya. kalau sekarang, seiring dengan semakin mudahnya akses ke dunia maya, otomatis kita juga jadi eksis secara virtual. mungkin ini tantangan bagi para jilbaber baru yang cukup eksis di dunia maya. tindakan sebagian dari mereka yang hobi memajang hijab of the day mendapat reaksi yang beragam. ada orang-orang yang kagum, ada juga yang lebih kritis seperti menanyakan "mana sisi spiritualnya?"
internet memberikan exposure ke banyak manusia yang gak kita kenal maupun gak kenal kita, jadi para jilbaber baru ini juga harus menyiapkan diri menampung respon dari beragam pribadi itu sih menurut gue.

yang jelas, tantangan berjilbab bukan cuma sampai di tahap menerima berbagai reaksi atas 'perubahan' kita, tapi menurut gue, yang paling berat justru gimana tetap istiqomah. sampai saat ini, alhamdulillah gue masih pakai jilbab. tapi emang kondisi keimanan selalu naik turun, ujian demi ujian harus dialami dalam proses menjadi muslimah yang baik.
to be honest, wujud naik turun ini di gue yah kadang gue males menambah ilmu agama, kadang pengen. kadang x, kadang y.
karenanya gue mencoba sebisa mungkin gak mengkritik atau menasehati orang lain yang berjilbab harus bersikap gimana atau berpakaian seperti apa, kecuali kalo emang diminta. hahaha cari aman aja yah gue :P abis gimana dong, soalnya gue merasa belom punya pengetahuan yang cukup sih untuk bisa mendakwahi orang dan semacamnya. daripada omdo, mendingan gue anggap ini pe-er guna meningkatkan kualitas diri sebagai muslim. seperti layaknya saat mendapat peran baru sebagai ibu, gue browsing dan cari ilmu sebanyak-banyaknya seputar pengasuhan dan pendidikan anak (not to mention the gadgets and the belanjaans hehe). jadi demi menjadi muslimah yang diharapkan lebih baik, harusnya emang gue terus meng-update knowledge dan meng-upgrade level keimanan #self-reminder.

tapi kalau ngomongin fashion dalam berjilbab, sejauh ini gue cuma pernah nyobain bahan sutra, paris, sama katun. gaya berjilbabnya juga sama terusss hahaha... abis muke gue bentuknya bulet, gak pantes dimacem-macemin ah :p gue juga anti peniti dan pentul, maunya yang praktis-praktis ajahh. #gaadayangnanya
sekarang mah mari kita rayakan aja deh semakin berkembangnya ragam fashion untuk wanita berjilbab. liat, sortir, terus apply mana yang paling cucok dengan diri kita. cheers to all jilbabers!

22/11/2011

Cushion Hole

http://cushionhole.blogspot.com
my other blog :| it contains mostly my motherhood ramblings. i suppose that kind of topic would better be off multiply, hehe... malukk sama contacts yang tulisan-tulisannya "bermutu."

the weekender

akhir pekan lalu:
- sabtu pagi kita berangkat ke KMC untuk imunisasi Bumy (tifoid, hep A, MMR). appointment kita jam 11, tapi ternyata kita sampai di situ jam 11:05, dan dapat antrian nomor 6-sementara pasien yang ada di dalam adalah antrian nomor 3. karena udah masuk lunchtime, kita makan di kantin KMC dari jam 11 sampai 12 siang. jam 12 kita udah nangkring lagi di ruang tunggu DSA, tau gak sampai jam berapa? jam 13:30 aje! jam 12 ketika gue tanya ke perawat, dibilang pasien yang di dalam adalah nomor 5. gue heran juga, kok nunggu satu setengah jam tapi nggak kunjung dipanggil. ketika gue tanya ke perawat (ya, di jam 13:30) ternyata pasien yang di dalam adalah nomor 9!! kampret gak?! mereka bilang udah nelponin ke hp adit, tapi pas dicek sama sekali gak ada telpon masuk. trus adit suruh mereka telpon saat itu juga, dan masuk -__-
aseli disappointing... kenapa mereka gak punya kebijakan memanggil pasien yang tidak di tempat tiap kali nomor pasien tersebut terlewati. sampe kapan gue mau nunggu coba kalau kaya gitu? gue dan adit lantas protes ke Customer Service (CS) mereka, dan kita disuruh mengisi formulir keluhan. petugas CS-nya sih berusaha ngasih penjelasan ke gue dan adit serta minta maaf. begitu masuk ke ruangan dr. Endah, beliau ngasih penjelasan lagi dan minta maaf juga. tapi yang gue sesalkan, sampai sekarang nggak ada tuh follow up berupa at least phone call dari manager CS RS tersebut.
let this be a reminder deh buat pasien lain RS itu, siap-siap aja kalau kita nggak di tempat (atau menurut istilah mereka "gak bisa dihubungi via telpon") dan kitanya nggak inisiatif nanya udah nomor berapa, kita di-skip aje gitu terus-terusan.

- well, it's kinda ruining my mood to start the entry with a complain :S anyways, sebenarnya setelah dari KMC gue udah janjian mau ketemu Nisha (dan 'rombongan'nya juga hehe), somewhere in PIM. tapi pasca imunisasi dan nangis kejer, Bumy malah tidur, jadi batal LAGI deh rencana kita ketemuan. di rumah, seperti informasi dari dokter, pasca imunisasi tifoid, badan Bumy akan agak hangat. dari sore sampai malam, gue pantau suhu badan Bumy paling tinggi 37.5. alhamdulillah dia tetap lincah dan tidur malamnya juga nyenyak. sementara efek imunisasi MMR menurut dokter dalam jangka waktu 5-14 hari badan Bumy akan agak hangat juga dan timbul ruam-ruam merah. 

- ohya, dalam perjalanan balik dari KMC, kita lewat Pondok Indah trus Jl. Panjang. tau-tau gue dan adit malah jadi reminiscing masa-masa kita naik motor bolak-balik Ciganjur-Karawaci on weekend, dan spotting tempat-tempat ban motor pernah bocor di mana aja, haha. perasaan dulu cukup sering itu ban motor bocor... karena emang banyak paku sih di rute yang kita lewati :( dulu tuh gak kebayang kita yang dua bocah ingusan, kacung kampret di kantor, bisa saving money to buy a car. ke mana-mana naik motor, tapi tetep aja hepi 2000 *jangan mulai sok bijak deh* we've come a long way yah ubi :D

- lantas malam minggu itu kita habiskan dengan nongkrong di rumah aja, makan malam dengan ayam pop RM Simpang Raya, dan nonton dvd. it was a 'peaceful' saturday night.

- some flicks i watched last weekend, and the previous weekend:
  • I Don't Know How She Does It - 3 stars out of 5. kayaknya film wajib tonton buat ebu-ebu nih. filmnya gak dangkal, tapi tetap lucu dan heartwarming. my eyes teared up a few times, because some scenes depict myself or are verrry familiar with our situation, hehe.
  • Midnight in Paris - 4 out of 5. love love loveeeee it. why? mostly because it's Woody Allen's, haha. Owen Wilson starred in it, and obviously, i couldn't hate him as i used to (because it's Allen's movie :p). the story shook me a bit, because it depicts something exactly like what i've been feeling lately. the feeling of wanting to be someplace else *sigh*
  • The Help - 4 out of 5! this is a nice movie to see. plus Emma Stone's in it. i love this girl *lagi-lagi kurang objektif* meskipun dvdnya agak 'kusut' tapi ceritanya 'mengikat.'
  • Texas Killing Fields - 2.5 out of 5. as usual, i need to have my dose of thriller/murder flick. hehe.
  • Julie&Julia - 3 out of 5. another chick flick, tapi bukan semacam Shopaholic blabla atau The Devil Wears Prada kinda chick flick. film ini berdasarkan kisah nyata seorang cewek yang turning 30, clueless about what she wants to do with her life (soo familiar :p), until she decided to become a food blogger. she blogs about her experiment trying out recipes from Julia Child cookbook. selain tentang si blogger, film ini juga menampilkan kisah Julia Child yang mengawali 'karir'nya sebagai pemasak legendaris dari titik clueless-about-what-she-wants-to-do-with-her-life jugak. i found it interesting. besides, Meryl Streep's in it.
  • Adventure of Tintin - 3 out of 5. it's good for the eyes :)
  • In Time - 3.5 out of 5. terlepas dari fakta there's Justin Timberlake in it, ceritanya bagussss. mata gue berkaca-kaca beberapa kali! it's a love story slash 'tragedi' kemanusiaan slash action flick slash a girl rebelling on her parent *spoiler ga yah?* film ini melampaui ekspektasi gue, gak nyesel nontonnya di bioskop hehe.  

- hari Minggu: ngemol, grocery shopping, nyobain Chatter Box yang baru buka di Lippo (dan diskon 50% pake cc Mega haha), beliin Bumy cd lagu anak-anak (absurd banget liat anak gue goyang-goyang kepala hebooh + joget dengan dua tangan ke atas denger lagu anak yang toet toet gitu musiknya. merinding sekaligus hati hangat, hahaha, it is quite a complicated thing yah jadi orangtua :p), keliling kompleks naik sepeda di sore hari, lantas berkunjung ke Mrican untuk numpang makan (hahaha) dan ngobrol-ngobrol aje. 

- ohya lagi, weekend ini pembeti gue gak masuk karena keluarganya ada yang nikah. jadilah gue dan adit bahu-membahu nyapu ngepel rumah plus nyuci baju. dari situ kita jadi menemukan bahwa sepertinya kita gak butuh pembeti :| kerjanya tetep kurang memuaskan, malah kita jadi 'terlibat' urusan remeh tapi nyebelin macam diutangin sama dia. setelah kita itung-itung, mendingan kita taro setrikaan di laundry dan mempekerjakan a so-called tukang kebon untuk menyapu halaman dan nyabutin rumput 3 hari sekali. tugas yang harus dikerjakan sendiri adalah nyapu, ngepel, nyuci piring, dan gosok wc. suppose we could do that again seperti dahulu saat masih berdua *sok optimis*

- tried to paint the wall (mau sok-sok bikin mural ceritanya), but couldn't finish it this weekend. cat akriliknya udah dibeli, gambarnya udah dibuat di dinding pake pensil, tapi belum dicat ey. tadinya gue mau 'memaksakan' diri beresin itu, bikin-bikin crafting and stuff, tapi gue buka mata dan liat gue, adit, bumy hepi-hepi aja tanpa itu semua... maksudnya, gue merasa agak 'maksa' kalau HARUS put aside some time to finish the little project. because truthfully, i see that we don't need more or 'different' kind of activies to have a more meaningful weekend, or more qualified time together. we just need to be actually together, doing whatsoever, and be there for the kid. i'm just as happy as i could get.

- and here are some pics.
 
di kantin KMC *masih sebel kalo inget*

geli liat foto ini. anak-anak banget deh anak gue! *emak gendeng*
 
kursi dari tong di Disc Tarra. susehhh memfoto si bocah sekarang
 
kenapa musti kaya gitu sih mukanya mi -_-

18/11/2011

Ultah Bumy yang ke-2


perayaan kecil-kecilan hanya 'diramaikan' keluarga kecil gue dan Mricans. maklum budget lagi tiris :D pulang kerja, gue dan adit meluncur ke Harvest Senopati menjemput kue ultah. jadi ya terpaksa tampilannya masih dengan seragam biru unyu.
i wish you health, luck, and more good things to come, kid. selamat ulang tahun, guruku :***

my most beloveds :D

TSI Trip


minggu lalu, akhirnya kami berhasil merealisasikan rencana ke Taman Safari Indonesia (TSI). udah lama berangan-angan bawa Bumy ke situ karena dia udah mulai kenal binatang-binatang, gue bayangkan it would be exciting.

Sabtu lalu, kita jalan dari rumah di Karawaci jam 6:30 pagi. barang-barang yang gue siapkan selain baju dan makanan, adalah lima jenis mainan yang berbeda dan lima buku bacaan. sebetulnya ini perjalanan agak jauh ke-tiga setelah tempo hari ke Sukabumi dan Bandung, jadi gue nggak begitu overprepared. walaupun tetap sedikit gentar Bumy kumat cranky-nya kalau jalanan macet dan dia udah nggak betah di carseat. tapi Bismillah kita berharap semoga semuanya lancar-lancar aja.

saat memasuki tol Kebon Jeruk, gue bilang ke adit, "beb, hati-hati" dan langsung ditiru sama si little imitator "bee, bebii, ati(ati)" berrrrkali-kali hahaha. perjalanan sampai keluar tol Jagorawi lancar, jam 8:30 kita tiba di exit tol Puncak. mulai deh ngantri. heran juga pagi-pagi udah macet.
setelah merayap sekitar 30 menit, kita sampai di TSI. awalnya kita sempat mau naik bis supaya kita bisa dapat penjelasan dari guide dan karena gue deg-degan melewati kandang binatang buas (biasalah, emak parno). tapi saat kita tanya ke petugas "pak, bisnya kapan berangkat?" dijawab dengan "nggak tau, nanti nunggu penumpangnya agak banyak." sementara kita liat di 'terminal'nya cuma ada 3 orang calon penumpang. jadi kita putuskan masuk pakai mobil pribadi aja. 


perjalanan di tengah satwa lancir-lancir aja, pengunjung masih sepi, jadi masing-masing mobil bisa cuek berhenti di satu tempat satwa agak lama. kita keluar dari tempat satwa dan masuk ke theme park-nya sekitar jam 10:15. ternyata, konter mainan maupun show satwa baru mulai jam 11 teng. akhirnya kita jalan-jalan aja, Bumy main perosotan, dan kita foto sana-sini.
saat akhirnya sudah jam 11, kita malah memutuskan untuk turun (maksudnya kembali ke arah tempat parkir), karena perut udah lapar. pertimbangan kita saat itu antara lain:
1. mainan-mainannya belum ada yang bisa dinaiki Bumy sendirian, dan kondisinya nampak kurang sophisticated.
2. ada family gathering sebuah (later we knew ada 2) perusahaan, dan show satwa tertentu sudah di-booking mereka. jadi penonton jelata macam kami cuma bisa nonton dari samping-samping arena penonton yang duduk. males juga yah bo.
3. kita berniat makan di Rindu Alam, bukan di kawasan TSI. khawatir perjalanan naik udah macet, jadi kita putuskan segera capcus dari TSI.

sebelum sampai di tempat parkir, kita mampir dulu ke toko souvenir. menurut gue sih barang-barangnya berkualitas biasa aja, dengan harga yang hampir overpriced. tapi 'mahal'nya sih masih wajar, gak ngerampok banget. ragam barangnya juga gak unik, jadi nggak begitu mewakilkanlah untuk jadi souvenir.
dari situ, kita mampir lagi terlebih dahulu di konter kereta mini yang mengelilingi Baby Zoo. awalnya sih penumpangnya cuma kita plus satu orang anak usia 7 tahunan (iya sendiri aje gitu dia). tapi saat kereta mau berangkat, ada lagi serombongan keluarga terdiri dari 7-8 orang.
tentang kereta mini itu, i think it should come with a warning. bukan apa-apa ya bo, gue kira lintasannya cuma mengelilingi Baby Zoo aja. ternyataaa ada bagian di mana kita melintasi bangunan semacam gua buatan, gelap, berisi dinousaurus-dinosaurus yang bergerak-gerak dan pake sound effect yang lumayan bikin takut! yahh karena gue emang bernyali mini, emang gampang takut aja bawaannya. adit sih cuma cengar-cengir. poin lain yang bikin deg-degan, gue khawatir bumy juga takut dan teriak-teriak nangis! tapi alhamdulillah selama di dalam dia cuma ngeliatin dino-dino berisik itu sambil melongo, bahkan sempat bilang ke gue "gapapa... gapapa!" hahaha.

Bumy di Cimory

dari situ kita capcus ke Rindu Alam, lalu turun dan berhenti untuk snack sore di Cimory. dari info lalu lintas di twitter, arus buka-tutup di puncak dijadwalkan jam 3 sore, tapi ternyata kita baru boleh turun jam 4:30 sore aje. jadi yah garing juga nunggu. perjalanan di tol dalam kota merayapppp, dan begitu memasuki tol Kebon Jeruk malah ngantri kayak hari kerja, huhuw. Bumy udah mulai cranky, minta nenennn terus. di rest area Tangerang, kita berhenti untuk beli nasi padang, baru deh balik ke rumah. 

at Rindu Alam
gue dan adit memberi konklusi untuk trip kita tadi.
1. agak males juga mengulangi jalan-jalan ke puncak, karena kita bawaannya parno ketemu macet. karena macet sudah menjadi menu sehari-hari, we keep trying our best to avoid it, and it's kinda tiring! jalur puncak sendiri gak bisa diprediksi, jam buka-tutupnya gak selalu on time. belum lagi perjalanan kita sendiri menuju Karawaci masih juga padat.
2. agak males juga mengulangi wisata ke TSI. gimana yah, kurang seru aja. mainan dan fasilitasnya juga kurang bagus. mengenai ini, malam setelah sampai di rumah, gue tau dari Nisha dan Lia kalau terjadi kecelakaan di kereta wisata TSI. sepertinya sih bukan kereta mini yang kita naiki, melainkan kereta macam odong-odong yang digunakan untuk keliling TSI.
3. tapi lumayanlah, Bumy excited juga liat binatang apalagi saat kuda atau llama menghampiri dan menjilat-jilat jendela mobil.

ohya di jejeran foto ini hampir gak ada foto satwanya, haha. adit nyetir sementara Bumy malah menolak duduk di carseatnya saat kita lagi melintasi tempat satwa. jadi gue harus megangin Bumy deh dan kamera terlupakan. 
please find more photos at my other blog

08/11/2011

mushaboom

gara-gara nisha dan lia menyebut-nyebut kata "resolusi" di group chat tempo hari, gue jadi tergerak untuk melihat kembali apa aja yang ada di daftar resolusi gue. sejujurnya agak deg-degan juga sih, soalnya 2011 akan berlalu just a month from now! tapi mungkin ada baiknya mengingatkan diri pada target-target menuju perbaikan. let's see then...

> kategori: Body
1. rutin olahraga, entah ngegym, renang, yoga, atau jogging.
--> i'd score the completion of this goal merely 30%. gue udah berhasil mengajak ibu-ibu kantor untuk rutin yoga, bahkan saking niatnya gue nyari instrukturnya sendiri via internet. namun setelah yoga rutin berjalan 2 bulan ini, kehadiran gue cuma sekitar 2 kali :|
kelas yoga diadain sore dan pagi. di sore hari, seringnya kerjaan gue masih numpuk. atau kalau kerjaan gak numpuk, gue prefer capcus cepet bareng adit daripada harus pulang malam naik bis. sementara kelas paginya sama sekali gak pernah gue hadiri karena, well, hampir tiap hari gue dateng telat ke kantor hehehe.
--> langkah selanjutnya sih BERNIAT nyoba renang saat weekend, atau minimal jogging keliling kompleks. but boy, it's easier said than done deh! atau mungkin gue bisa mulai apply for gym membership lagi. tapi kalau udah bayar dan gue kumat malesnya, sayang juga. jadi, jadi... *doze off*

2. invest on sunscreen
--> score: 30&
--> selama ini gue pake merk acnes yang bisa sekalian jadi foundation. gue sempat coba merk l'oreal tapi ternyata gak cocok karena sepertinya formulanya untuk kulit kering, sementara kulit gue berminyak banget.
--> next step: belom ada.

3. cari bedak, pelembab, lipstik, eyeliner, dan mascara yang cocok (intinya dandan!)
--> score: 50%
--> gue menemukan mac mineralize skinfinish yang sepertinya cocok buat gue pakai sehari-hari. formula mineralnya bikin kulit gak jerawatan. coverage seadanya, yang emang sesuai ekspektasi gue. selain itu, adit juga 'cinta' produk ini karena bentuknya yang padat. selama ini gue selalu pakai bedak tabur, jadi kalau gue 'beraksi' di mobil, dia suka ngeluh bedak gue bikin mobil kotor -___-
sementara untuk lipstik, eyeliner, blabla, to be honest, i don't really care about finding the right one for those hehe. kondisi gue suka dandan seasonal banget soalnya, jadi gue gak membutuhkan produk yang oke-oke bangetlah. lipstik masih body shop atau mac, eyeliner bourjois, mascara maybelline. that's sufficient enough for me.

4. disiplin sikat gigi tiap malam.
--> score: 20%
--> AMPUNNNN.

5. pap smear
--> score 100%.

6. kontrol gigi
--> score: 50%
--> masih ada satu gigi bolong nihhhh gede pula T__T

7. eat right: daily intake of veggie and fruits, less artificial ingredients.
--> score: 10%
--> masih doyan makanan sampah, saos ber-MSG, dan jarang makan buah. NOTED dulu aja deh resolusinya. fufufu.


> kategori: Family
1. ART full time
--> score: 0
--> gue berubah pikiran, agak ragu naro ART full time di rumah apalagi yang asal-usulnya kurang jelas. alhamdulillah ART part time kita udah ganti, sebelumnya si A yang kerjanya seadanya dan agak absurd gitu-meski jujur. sekarang dapet si B yang ruajiiiin, komunikatif, dan sejauh ini sih jujur juga. meski err cerewet banget orangnya!

2. Bumy di daycare
--> score: 0
--> yes, i changed my mind again.

3. alergi Bumy berlalu, bisa minum UHT.
--> score: 100%
--> ini sih bukan resolusi melainkan DOA. jadi alhamdulillahh ya Allah :)

4. montessori at home vs playgroup for Bumy
--> score: 0
--> none decided. untuk menerapkan montessori at home, gue udah baca buku seputar pendidikan dengan metode tersebut, dan pelan-pelan mulai menerapkannya. tapi gue belum menyusun jadwal belajar khusus untuk Bumy, yang hopefully bisa dijalankan juga oleh nyokap gue nantinya. sementara untuk playgroup sekarang ini sih gue belum mau. karena faktor child exposure ke lingkungan dengan berbagai virus (emak parno), dengan tingkah polah anak dengan background parenting yang berbeda-beda (emak parno 2), maupun kekhawatiran gue akan kelemahan pilihan untuk memberikan early education di lembaga sekolah. takut anak bosen nantinya kelamaan bersekolah formil (formil yang gue maksud di sini yaitu datang ke suatu tempat, dikasih pengajaran, dengan jadwal, rutinitas, dan semacamnya).

5. membuat weekly healthy menu
--> score: 30%
--> ART part time gue si B syukurnya bisa disuruh masak, dan masakannya enak! gue udah pernah membuat weekly menu buat di rumah, mau gue coba biar diterapin sama si B per minggu depan.

6. menyusun visi misi pendidikan anak
--> where the hell did i get this?? berat amattt -__-
--> score: 0
--> next step: perwujudan resolusi ini sepertinya berupa daftar stimulasi (minimal) mingguan untuk Bumy. I'll get to that ASAP. (See, ada faedahnya juga bikin review.. Hehe)

7. membacakan buku untuk Bumy minimal 7 menit setiap malam
--> score: 50%
--> gue mencoba dan mencoba untuk rutin melakukan ini setiap malam. pokoknya berusaha keras gak jadi 'manja' kalau udah ketemu anak. ohya sekarang ini Bumy kalau lihat buku otomatis minta dibacain, jadi yah gue agak bersyukur juga 'jatah' dia gak cuma 7 menit. selain itu, kalau lagi rewel di jalan misalnya, dia bisa diem kalau gue (berlagak) mendongengkan atau bercerita ke dia.
gue agak melenceng dari pembahasan resolusi nih, mau cerita kalau akhir-akhir ini gue suka takjub melihat dampak dari menerapkan hal-hal yang gue baca dari buku atau internet semata, ternyata efeknya ke anak tuh nyata. misalnya dampak dari memberikan makanan tanpa gula garam. sekarang Bumy benar-benar 'menolak' kalau makan junk food terlalu banyak. he knows when to stop!
lalu dampak dari membacakan cerita dengan metode read aloud (atau gue terjemahkan dengan bacakan seekspresif mungkin), pelan-pelan kosakata anak mulai bertambah dan dia jadi seneng dibacain cerita.
selanjutnya mungkin teori untuk weaning ya, gue baca tulisan dr. Sears, there's no need to rush, kita observasi dulu gimana kesiapan anaknya. sekarang sih gue suka ajak Bumy ngomong kalau dia sudah besar, dan anak besar berhenti nenen. respon dia seolah ngerti, karena dia langsung nyebut dirinya Kakak, tapi dia masih aja nagih nenen kalau mau tidur. mungkin setelah ulang tahun ke-2 nanti dan Adit udah bisa ambil cuti, akan kita coba terapin metode weaning yang hopefully with love itu. tapi target gue bisa weaning Bumy juga belum di tahun ini sih, hihi, jadi masih bisa 'curang' sebulan dua bulan untuk keberhasilannya.

> kategori: Financial
1. Mulai setoran dana pendidikan
--> score: 50%
--> untuuung gue pakai istilah "mulai" di resolusi ini, bukannya "memenuhi."

2. Mulai setoran dana pensiun
--> score: 50%

3. Mulai setoran dana darurat
--> score: 50%

4. Melengkapi asuransi
--> score: 70%
--> sudah beli asuransi jiwa sesuai rekomendasi QM.

5. Nonton konser
--> score: 50%
--> went to some, but still yearn for more :D

6. Berlibur tanpa berhutang
--> score: 50%
--> alhamdulillah bisa liburan gratis lantas semi-gratis dari kantor. akhir tahun, gue dan adit punya ide gila+nekat untuk mengulang road trip ke jawa tengah dan jawa barat seperti saat honeymoon berabad-abad lalu, haha. tapi masih maju mundur nih, kurang kenekatan karena seperti kata nicole fox di ANTM "maybe it's all the diaper changings that changed her." :p

nah untuk selanjutnya ini edisi "dream big, they say" hihihi
7. rumah di kawasan jakarta selatan
8. beli furniture
9. kitchen set. AMIN.

Jadi kalau disimpulkan, Alhamdulillah udah ada kemajuan, hihi, walau secara angka sih persentasenya gak besar. Tapi gue juga jadi diingatkan kalau pekerjaan rumah masih numpukkk, apalagi di kategori Family yang bobotnya paling besar dibandingkan yang lain :) hayoo yang ngeracunin gue bikin review, mana review kaliaaan....

montessori book review

buku yang sedang giat gue baca adalah "Membesarkan Anak Hebat dengan Metode Montessori." sebenarnya sih kata "heybat"nya agak mengganggu buat gue, karena visi gue untuk anak bukan jadi hebat yang jenius atau superior, melainkan anak yang bahagia dan percaya diri. tapi ternyata isi buku ini gak se-pretentitious judulnya. gue begitu menikmati membaca buku ini karena menjelaskan cara berpikir anak, cara menstimulasi anak, dan bagaimana menyediakan tempat hidup yang baik bagi anak. praktis, plus dengan alasan yang masuk akal.

bab awal buku menjelaskan tentang sejarah montessori dan kenapa metode montessori direkomendasikan bagi anak. jadi, awalnya si maria motessori ini memperhatikan bahwa anak umur 3-4 tahun senang mempelajari keterampilan hidup sehari-hari, seperti merawat sekolah, menyiapkan makanan, dan membantu memelihara kebersihan lingkungan. gue quote dari buku:
"anak yang diperlakukan dengan hormat (merasa dihormati) dan didorong untuk mencoba keterampilan baru, secara emosi akan lebih berkembang dibanding anak yang hanya disayang dan dimanja."
jadi, metode ini mengaitkan kedua pemahaman tersebut. untuk membesarkan anak yang percaya diri, kita perlu membuatnya mandiri. anak sendiri menyukai membantu orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hal itu bisa dijadikan media menumbuhkan rasa percaya dirinya.

di montessori, anak-anak bebas memilih aktivitas, mau berjalan-jalan sendiri, atau berkreasi sendiri. guru cuma membantu memilihkan aktivitas yang menghadirkan tantangan dan eksplorasi baru. nanti ketika anak selesai main, anak-anak mengembalikan mainan ke tempat semula. karena itu, diperlukan ruangan yang nyaman dan teratur untuk anak. buat rumah lebih aman untuk anak, dengan 2 tujuan:
1. membantu anak lebih mandiri dan percaya diri, dengan mengedepankan prinsip keamanan dan kesehatan
2. merancang rumah yang mencerminkan keindahan dan keteraturan

anak juga memiliki yang disebut masa peka, yaitu masa untuk mempelajari suatu keterampilan dengan cepat dan hampir seperti tanpa usaha, di mana kondisi tersebut bersifat sementara. begitu anak menguasai suatu keterampilan, masa peka menghilang.
misalnya untuk usia 0-6 tahun, masa peka anak adalah untuk keterampilan bahasa. 2-6 tahun untuk musik, keramahan dan sopan santun, serta panca indera.

bab paling penting yang merupakan esensi metode montessori ada di bab "help me to do it myself." di sini dijelaskan bahwa pelajaran hidup untuk anak dibagi menjadi 3 hal, yaitu perawatan diri sendiri, tugas sehari-hari di rumah, dan sopan santun dan keramahan. di sini dijelaskan bagaimana cara kita sebagai orangtua mendorong anak mencoba keterampilan baru.

isi buku selanjutnya adalah tentang parenting, bagaimana menciptakan suasana penuh cinta, menangani tantrum, dan pendekatan positif untuk mendisiplinkan anak. kesimpulan gue, buku ini bisa dijadikan guidance untuk pengasuhan anak sekaligus parenting, dengan cara-cara yang sejauh ini sih sepaham sama gue. dalam artian mengedepankan kepentingan anak, bukan kepentingan orangtua untuk menjadikan anak super ini atau super itu. selain itu, gara-gara buku ini juga gue jadi semakin berhasrat membuatkan kamar yang "indah dan teratur" buat Bumy, ihik. menurut gue, buku ini recommended terutama untuk calon orangtua dan para orangtua baru, karena akan sangat membantu membentuk visi pengasuhan dan pendidikan anak.