28/09/2018

bali after a decade

yes, I believe it was a decade ago, my visit to Bali.

Adit ke sana dalam rangka acara kantor sih udah seringkali. sementara gue nggak pernah berkeinginan untuk menginjak Bali lagi. entah kenapa.
sampai sekitar dua bulan lalu. seperti biasa, diawali dengan kegragasan, ide jalan-jalan ke Bali kok terdengar seru. yaudah langsung cari-cari tiket, buka-buka situs hotel, dan tau-tau udah kebooking aja haha.

where we stayed: Hard Rock Hotel, Kuta.
duration: 4 days.
transportation: rental (Avanza), nyupir sendiri.

first of all, alhamdulillah we could catch the flight on time.
ahaha.
pesawat berangkat jam 8an. dan alhamdulillah Sam sangaaattt kooperatif di pesawat. (of course mamak tetap deg-degan mengingat pengalaman pertama kalinya bawa Sam naik pesawat kemarin).
tapi entah kebetulan entah nggak, seperti saat mau ke Singapur, sehari sebelumnya dia demam LAGI.
biasa, batuk pilek. tapi lumayan bikin mamak pening.
cuma pagi itu dia mau makan lumayan banyak, di pesawat pun tertidur lelap. 


sumringah banget begitu sampai di bandara. "ma fotoin Bumy ma"

kita mendarat di Bali jam 11 WITA. mobil sewaan sudah menunggu di bandara.
kita langsung menuju ke Uluwatu, ke GWK Cultural Park lebih tepatnya.
yeah it's a mainstream tourist destination. tapi memang "tema" liburan kali ini mau ngasih Bumy his first Bali experience. plus mamak sudah kekurangan tenaga (baca: tua) untuk sok ambisyes dan berepot-repot mengambil risiko. 
kita sampai di lokasi sekitar jam 12. yesss, sedang panas-panasnya.

but we love it there.
- tempatnya bersih
- ada atraksi tari-tarian nusantara yang bisa dinikmati. ada schedule tiap jamnya. Bumy suka banget nonton ini. "kita harus nonton sampai selesai!"
- ada Starbucks dan resto-resto lain yang bisa disinggahi untuk ngadem dan makan.
- ada opsi lain biar si bocah nggak ribut bilang bosen, yaitu main Segway.


dari sini, karena sudah di kawasan Uluwatu, kita pun melanjutkan wisata ke arah pantai Melasti demi melihat keindahan tebing-tebing, untuk kemudian menikmati sore di Sundays Beach Club.
nyari si sunday ini agak susah yaa - bisa jadi karena kita bluun meski sudah pakai Gmaps, atau karena pintu masuk ke sini ternyata dari tempat bernama The Ungasan Cliftop Resort - jadi seharusnya tempat ini yang kita tuju di Gmaps.

did we love it there?
- pantai dan fasilitas yang disedikan cocok buat aktiviti-aktiviti bocah seumur Bumy. 
- nice view. meskipun don't expect to catch the sunset karena ketutupan tebing karang.
- tangganya banyaaak bangettt... kita harus meniti ratusan tangga turun ke pantai. mending siapin selengkap mungkin barang dari mobil, jangan sampai ada yang tertinggal. cukup merepotkan buat bolak balik ke lokasi mobil diparkir.
- stafnya cukup friendly dan helpful. ketika gue minta tolong agar makanan Sam dipanasin, mereka sigap membantu, dan kita juga dicariin tempat duduk yang oke buat keluarga.
- in my opinion, makanan Indonesianya jauh lebih enak dibanding western dish (yang terasa keasinan buat gue).
- price-wise? $$$$$ banget buat kita hahahah. adults 400 rb/person, child 300 rb/person.

kita nongkrong cukup lama di situ (iyalah sayang udah bayar mihil xD) dan baru beranjak saat maghrib.

saat perjalanan balik, kita singgah sejenak di Gaya Gelato yang dilewati di jalan Uluwatu untuk menikmati aiskrim nan lezato. pilihan rasanya unik-unik. 
akhirnya kita baru check in di hotel jam 8 malam. udah lelah bangeeeet rasanya. dan sempat ngerasa
salah itineraty, haha. mungkin lain kali ada baiknya kita check in dulu di hotel dibandingkan langsung jalan-jalan. kali ini terasa lebih capek, euy. 

hari kedua.
we had our first breakfast at the hotel. dari segi rasa terbilang oke. tapi restonya memang rame, dan kebanyakan tamunya families with children. 

sepagian itu kita menjelajah kawasan hotel. ternyata di Hard Rock ada beberapa jenis kolam renang. ada sand island pool, ada chill out pool, lalu pool di mana ada perosotan untuk anak-anak. 

karena Bumy excited banget pengen mencicipi berenang, jadi pagi itu kita habiskan di hotel saja. baru saat mendekati jam makan siang, kita berangkat untuk kelayapan.
first stop adalah tempat makan nostalgia gue dan Adit: Be Pasih. 
10 tahun lalu, supir kantor Adit ngajak kita ke sini, dan kita terkenang-kenang banget sama rasa enaknya.
hidangan utama di sini (sesuai namanya in bahasa Bali) adalah ikan laut. rasanya khas, dan sambelnya lezat. minumannya juga seger-seger. 

mungkin karena kecapean main air, sesampainya di Be Pasih, Bumy teler dan malah bobok di mobil. 
gue juga cuma bisa mengelus dada karena hari itu Sam ngelepeh-lepeh disuapin makan untuk sesudahnya, mengunci mulut rapat-rapat. 

dari Be Pasih, kita sempat kebingungan mau ke mana. terpikir ke Ubud, tapi kok rasnaya udah kesiangan. 
mau main agak jauh ke Bedugul, tapi kok gentar, khawatir si bayi bosen di jalan. 
akhirnya kita melipir ke... pantai Petitenget. yang nggak jauh dan ada airnya sehingga menarik untuk bocah-bocah setidaknya. 
haha soooo not ambisyesss.
di Petitenget

Bumy tentunya seneng, karena buat dia yang penting bisa main air lagi. 
awalnya kita ingin nongkrong-nongkrong kekinian di seseresto kawasan Seminyak.. sebutlah Sea Vu Playlah, Sisterfieldslah, apalah apalah. 
tapi yang terjadi, kita lewatin aja resto-resto itu sambil melihat-lihat sekitar. the whole area felt crowded. dan entahlah, vibe-nya terasa terlalu "muda" buat kita yang nenteng-nenteng bayi. akhirnya dari pantai, kita pun mengarah balik ke hotel. Bumy yang emang udah kepengen main air LAGI di kolam renang hotel, seketika bersorak gembira. 
jadilah sore itu aktivitas kita hanya leyeh-leyeh di pantai artifisialnya Hard Rock. 
hotel ini emang bener-bener kid-friendly, sih. dalam sehari ada beberapa kali schedule acara buat anak-anak, biasanya di sand island pool. sore itu ada acara lomba dan kuis buat anak-anak yang lagi pada main di pool. lumayan well-organised dan seru. 
ini di chill out pool. ada jacuzzinya juga haha

menjelang sunset, kita jalan kaki ke pantai Kuta. pakai trik pesen teh botol 15 ribu per botol supaya bisa duduk di kursi plastik berpayung haha. di situ, Bumy dan Adit kembali main air, sementara gue planga plongo megangin Sam yang bobok. 
nurisss

di hari ketiga, kita sudah siap untuk berangkat lebih pagi dari hotel. 
we grabbed a quick breakfast, jam 9an kita cuss ke arah Ubud. 

our first stop is Pasar Ubud untuk beli oleh-oleh. 

singkat aja, kesan gue adalah harganya mahal-mahal banget. apa karena lagi rame turis mancanegara? nggak tau juga, tapi gue kerap terkaget-kaget saat nanya harga dan dijawab oleh penjualnya. harga yang disebut bisa sih ditawar, tapi gue malu sendiri karena jadi harus agak "tega" nawarnya. the initial price given didn't make any sense. 
kita dapat kain bali seharga 25 ribu (harga awal 100 ribuan). celana bahan ikat-ikat 80 ribu. tas bulat anyaman ala Raisa 120 ribu (harga awal 300 ribuan). daster. dan beberapa printilan lain. 
di tengah pasar ada penjual gelato. seems like a good choice karena hawanya kan emang gerah. tapi harganya wow, macam beli aiskrim di gerai mall. 
dari situ, kita makan siang di Bebek Tepi Sawah. we had a lovely feast there. suasananya enak. Sam pun bikin hati mamak tenang karena mau makan sampai habis. 

hari masih siang jadi kita memutuskan untuk bereksplorasi di sekitar Ubud. our next stop was air terjun Tegenungan. menemukan tempat ini nggak susah, tapiii ternyata untuk sampai ke depan waterfall, kita harus menuruni sekian banyak tangga yang cukup curam. 
turunnya sih nggak masyalah, tapi gue udah kebayang naiknya. 
semacam trauma sama tangga-tangga di Sundays Beach Club kemarin, gue dan Adit merasa cukup menikmati keindahan waterfall dari kejauhan saja. haha.
di bebek tepi sawah siang itu. oh!

mamak cukup jadi tukang foto



from Ubud, we headed to Sanur beach. tujuannya mau makan LAGI, kali ini di Makbeng. 
pantai sanur sih nggak bisa buat main-main syantik ya, apalagi pas kita sampai masih jam 3 sore dan teriiik banget mataharinya. tapi makanannya was soooo worth it!

selesai makan, kita menuju ke pusat oleh-oleh Kresna. di sini lengkap kap koleksi oleh-olehnya. dan ketika kita lihat harga-harga di sana, wowww jauh berbeda dari yang disebut di pasar Ubud. di sini lebih murah dan of course, kita nggak perlu nawar.

belum begitu lama di Kresna, Bumy udah rewel aja minta buru-buru balik supaya bisa main di kolam renang hotel lagi. kita tiba di Kuta sekitar jam 5 sore, dan nggak pakai mampir ke kamar lagi tapi langsung nongkrong di pinggir kolam renang. karena jarak dari kolam renang ke kamar cukup jauh. 

menjelang sunset, lagi-lagi kita jalan ke Kuta. waktu itu anginnya cukup kencang dan dingin, katanya efek musim dingin di Australia, sih.  

hari keempat, which was our last day in Bali. 
rasanya gimanaaa gitu.. kok inginnnya memperpanjang liburan xD
tapiii hari ini suhu badan Sam tiba-tiba meninggi. haiyaah. 

sepanjang pagi dan siang, kita nyemplung dan main-main aja di kolam renang hotel. 
makan siang di Yoshinoya. 
Sam menolak makan sampai sendok harus dipaksa masuk ke mulutnya. 
selama siang sampai sore, kita kelayapan di Beachwalk Mall. santai bangettt suasananya. hati pun jadi makin terasa berat untuk balik ke Jakarta, haha. Bumy bolak-balik ngomong minta "mau di Bali aja."
ih maunya juga gitu sikkk. tapi mamak bapak harus kembali banting tulang di Jakarta. 

well, hari itu pesawat kita berangkat sekitar jam 7. alhamdulillah Sam anteng walaupun masih demam. aahhh liburan kali ini terasa terlalu singkat. 
bottomline: we definitely would like to repeat our visit to Bali! 

dilukis di Beachwalk Mall :D
suatu saat di Kuta Bali kekekekk
seneng banget "ketemu" David Bowie!

yang bikin susah move on... the sky <3
susah moveon #2

21/09/2018

comptine d'un autre été

about a month ago, I noticed there was a viral theme on twitter. it was about "by the age of 35, I should've / would've / could've..."
some tweets are normal-sounding, like
"I would have travelled the world" or
"I would made twice the savings I'm making now"
"I would have been married to my best friend" 
yadda yadda.

meanwhile some others are so easy for me to love. which means, they're so sarcastic and cheeky they make me sneer and snort with laughter.

like these ones:
"by age 35, you should have lost most of your real life friends to misunderstandings, changing priorities, distance and unknown reasons and found a few hundred online strangers to laugh with." - @ruckcohlchez
"by age 35 you should have at least two thirds of your hard drive space taken up by recursively nested copies of the hard drives from all your previous computers." - @akerfoot
"by age 35 you should hate the last three albums by your favorite band" - @fowierism
"by age 35 you should wonder where your life went wrong at least 5 times an hour" - @Home_Halfway
or something as "dark" as
"by age 35 you should have completely lost your will to live" - @vivalacrap (to which I chuckle, bitterly).

I put a love to that kind of tweets because they feel so familiar. 

people my age, from all around the globe, are sharing the mutual feeling of disorientation and bleak perception to how our lives would or have turned out.
I don't mean to sound ungrateful. yes my life has been a blessing, I got my family, a job, a house, and things I must've been (un)consciously dreamed or needed. but there's a certain something to growing older. 

some things are lost, of course. youth, elasticity of the skin, spontaneity, recklessness, and even best friends... 

but as the nature of the world, it is balanced with some things that are gained. 
things like:
(as cliche as it always sounds) wisdom. 
maturity (or a slight of).
brain that responses faster than the mouth. (crossing my fingers for that)

well. this gal's about to turn 35 this december *insya Allah*  

I can't help not to ikut-ikutan envisioning what I think I would like to be by the age of 35.
you can call it a prayer, I guess. 
here they are:

by the age of 35, you'd realize that certain things inside you, they won't transform into something else. 
bad habits. poor judgments. weaknesses. 
laziness, ignorance towards one's health, one's lack of attention to details. moody-ness. 
they intensify. 
it becomes much harder to "change." 
so you'd just learn to live in harmony with them. maybe try to tame them, since it's never too late anyway. 

by the age of 35, it's when you start to reap what you sow. little by little. it can be scary, or it can be gratifying. 


by the age of 35, you'd finally learn to pick your battle. maybe it's because your heart softens, or maybe your emotional maturity improves. you just realize that some stuff are not worth to argue about. people believe what the want to believe.  


by the age of 35, you'd finally realize that you don't need much, in terms of friends, stuff, or an elaborate plan "to be fulfilled." 

as @theminimalists put it,
"I don't need much to pursue my passion. a cup of coffee, a place to write, and my thoughts tumbling onto the page will do just fine.
I don't need much to cultivate meaningful relationships. a friendly companion, a full-belly sunset, and a good conversation sound just right to me.
I don't need much to grow. daily action, small incremental changes, and a commitment to constantly improve my life will keep me growing. 
I don't need much to live a meaningful life."
you'd start with what you have and start anyway. 

by the age of 35, you'd finally (kind of) understand about acceptance.. how certain things are indeed *for* you, while some others aren't. 


*****

in a quite unrelated way, the other day Path (the app) announced that they will close down operation by October 2018.

I barely checked the app, let alone post anything on it. taking it for granted, I assume some people still enjoy using it and think it would still be around in the long run. 
but apparently not. it'll vanish just like Multiply did. 
what makes it hard for me is that memories of Weich (until now) is safely stored there. his updates, his words, and ultimately, his presence. I used to re-download Path just to check Weich's page whenever I feel like it. 
but it will be gone. and once again, I have to say goodbye to him... 

so as soon as I heard the news, I immediately re-downloaded it again, then scrolled down his page, this time I tried capturing some posts which I found "memorable" (everything is, though). 


I was engulfed with waves of emotions....
- it still feels as if he never left. 
- all those plannings.. how he had asked his friends to spend summer holiday on december 2016. how he had wanted to do road trips across australia. and how he had hoped to having been settled by that time of year. how could my heart not break?

and then a new realization hit me.
as I saw his posts from around 2014 and 2015, I realized how he had transformed from the kind of person I was most familiar with, which is a 15-year-old teenager, into a mature, highly-functioning, and wise adult. I could feel that from our interactions. but only at this time I noticed his gradual changes, and it's from his mundane posts, like when he cooked, or when he made 3D renderings of his home, or his trips to Ikea. 

I remember how he used to say, "lo sudah berjalan terlalu jauh, Kome, dan gue tertinggal di belakang."
just because I got married too early (ha). yeah at 24.
I graduated first among our friends. 
I got a job while he was still at college. 
I became a mother. and so on. 
but did he know I rushed to graduate from binus because I hated it there? 
did he know I rushed to get married because I wanted to get out of my parents' house as soon as I could?
did he know I settled that job at citi even though it was ridiculously low paying, because I had no clue what was even good for me? 
I saw things handed to me and I seized them the fastest I could. without even giving it much thoughts, without even knowing what meaning, or learning, or a thorough reasoning behind it all. I was too damn reckless. 

as I was stumbling into those roles that were handed to me (wife, mother, worker, clueless person), he strode silently, but resolutely. 
he made a choice to be a more domestic person. 
he spoke more gently. he became calmer, more understanding and less judgy (nyinyir di socmed sih teteuup). he thought more critically, he questioned consequential things. 
he became a prominent employee and gained expertise. 
he figured out whether he wanted to get a scholarship for master's degree or not. and where. 
he came out to his mom. 
he found new best friends. 
he found love. 

he was LIVING, and LEARNING. and then becoming. 

and then it occurred to me, that he was doing it in reverse from what I have been doing. for me, the becoming came first... and so I was living mindlessly because I couldn't figure out the meaning behind those blessings.


*****

if there's one thing I truly want him to know right now, it's that

"sometimes you're ahead. sometimes you're behind. 
the race is long and, in the end, it's only with yourself." 

(Mary Schmich) 

therefore, I hope by the age of 35, I'd learn everything happens at its own time, moves at its own pace. there's no need to rush.



*) blog title from Yann Tiersen's song.

15/08/2018

singapore trip with the baby

olala.. it's truly been a while. 
yesss gue SEGITU sibuknya handle 
1) kerjaan, 
2) bayi mungil, 
3) anak pra-abege 
(dll menyusul)
sampai nggak sempat ngeblog (atau ngoceh ngalor-ngidul membayangkan ada yang peduli).

ah emang sedari dulu gue bukan ibu yang rajin mendokumentasikan ina-inu anaknya. 
waktu bumy kecil dulu masih mending... bisalah rutin ngeblog sebulan sekali. pas sam sekarang, tangan rasanya nggak cukup "cuma" sepasang. dihimpit hectic aja rasanya.
begitu udah ada waktu luang yang memungkinkan hands-free, gue memilih molor. minimal leyeh-leyeh untuk menghela napas - sambil nonton netflix. 
but here we are! 

seminggu lalu, kita memberanikan diri plesir bawa bocah-bocah. 
dengan kondisi sam belum genap 8 bulan, plus gue dan adit belum berpengalaman bawa bayi naik pesawat, it's a bit risky, I know. 
menurut gue, plesiran kali ini sejatinya hanya mindahin lokasi ngangon anak. gue tau bakalan capek dan repot. tapiii a change of scenery wouldn't hurt lah. semacam sedikit bonus buat mamak yang sehari-harinya dikeroyok kerepotan belaka. harapannya di singapur meskipun repot, tapi paling nggak mamak hepi bisa menghirup hawa non-berpolusi dan berkesempatan blanja-blenjong. 

but first! izinkan gue memaparkan hal-ihwal yang mesti dihadapi menjelang keberangkatan... 


bayinya atitt huhu
- sehari sebelum bertolak ke singapur, sam demam 37,5 - 38,3 derajat celcius. sepertinya sih karena batuk pilek. 
gue bawalah dia ke dokter spesialis anak di KMC. karena dokter2 yang biasa ditemui lagi pada gak praktek, maka kemarin itu pertama kalinya gue konsul sama Dokter Made. ternyata beliau helpful banget. meriksanya bener-bener teliti dan menyeluruh. dijelasin kalo Sam kena common cold (aja alhamdulillah), nggak ada infeksi telinga, nafasnya juga grok-grok karena dahak yang terjebak di tenggorokan bukan di paru-paru. dokternya ngasih harapan kalau ini infeksi virus aja maka dalam 2-3 hari ke depan demamnya bakal reda. sungguh jelas, dan puas mamak jadinya. 

- on the other hand, gue belum sempat menyusun itinerary blasssss. adit nagih melulu yang cuma gue respon dengan dengusan. 

- sementara karena sam udah mamam, maka gue siapkan ransum berupa 4 set meal mamma kanin untuk dibawa ke sana (which is also his favorite). karena selama lagi demam ini dia males makan, gue berharap dengan ransum MK paling nggak dia bisa makan yang dia doyan. gue siapin dengan rapi jali di dalam cooler bag dan gue masukin ke freezer malamnya. 

- and then sekitar jam 11 malam, kita menemukan kalau obat batuk yang perlu diminumin ke sam tumpah. kebayang refotnya kudu nyari obat di sing, kita tilpunlah apotek KMC untuk janjian ambil obatnya jam 4 pagi keesokan hari.

- eh iya, flight kita tuh jam 5:20 pagi. 

- jam 3:30 pagi, taksi bluebird yang mau nganterin sudah tiba. kita grasak grusuk masukin barang ke taksi. 
pak supirnya komen, "ini perginya dadakan ya bu?" ehe.

- jam 4 pagi kita sampai di KMC, tebus obat 5 menit cus masuk tol jorr. 

- jam 4:10... gue berteriak di dalam taksi, "ya Allah ransum si sam ketinggalan!!" mao pingsaaaaannnn.
akibat dimasukin ke kulkas, cooler bag berisi ransum si sam nggak keangkut. 
adit segera nilpun supir gue yang alhamdulillah ngangkat telpon. gue segera nelpon ART (pulang pergi) yang alhamdulillah juga ngangkat telpon buat kasihin kunci rumah. setres nda kira-kira hahahha. supir gue pun segera melesaaaat ngebut nyusulin itu ransum ke bandara. 

- sampai di bandara jam 4:50, adit melenggang ke konter check-in, dikasih tau embaknya "oh sistemnya udah closed, pak." 
KETINGGALAN PESAWAT AJAH KAK. 

x)))))))))

saking lemesnya, gue sampe nggak bisa ngomel. padahal that's my automatic response in this kind of mess. hahaha. langsung gue telpon mamak buat minta maaf, minta ampun, minta ridho. uh... the power of restu orangtua tuh emang ya.. masya Allah. 

alhamdulillah, kita bisa dapat seat di flight berikutnya sekitar satu jam sesudahnya. 
and the flight with our infant? well, he screamed and cried almost the entire flight. 
aslilahhh, gue dari yang awalnya malu dan nggak enak sama penumpang lain sampe BODO AMAT gue nggak tau mau ngapain lagi huhuhu. kita udah siapin ear muffs tapi boro-boro deh nggak bisa dipakein karena anaknya meliuk-liuk saat ngamuk. 
kalau direview sekarang, kemungkinan karena kita terbang di jam sam lagi ngantuk-ngantuknya tapi doi nggak bisa tidur di tempat dan suasana yang nggak familiar buat dia. plus doi juga lagi nggak enak badan. 

selama di sing, kita cuma ke 
- sentosa karena bumy ngidam main luge. alhamdulillah kesampean dan si bocah menganggap that's the highlight of the trip, the rest of the days were just "membosankan!"
- ngider-ngider mooool
- national gallery 
- dinner at chijmes, which became the highlight for adit and me haha. udah lamaa banget berniat makan di sini, padahal beberapa kali nginap dekat-dekat situ tapi nggak terwujud untuk mampir. we ate at prive at night; makanannya enak-enaaak dan suasananya juga sangat okss. 
- haji lane, arab street, dan sekitarnya. 

sangat sangat tidak ambisius. dan membosankan sih emang hahaha. 
but I was too overwhelmed with kerempongan. 
sam nggak mau ditaro di stroller jadi ya dia digendong melulu. 
gue nggak berani pack lightly saat keliling-keliling, jadi tenaga lumayan kesedot buat angkut beban. 
tapi dari sini gue (dan adit) jadi belajar soal beberapa hal yang berguna, yang nggak berguna, dan what to note for our next trip(s). 

- stroller pockit pinjaman dari ibu peri Ika Loekita comes really handy karena ringan dan easy to assemble. semoga ke depannya sam udah mau ditaro di stroller. 

- sayota electric lunch box ini jugaaa... pinjaman dari bun-Ka dan sangat sangat membantu. bubur bisa dibikin langsung di situ, untuk manasin makanan juga oke karena fungsinya mengukus, jadi panasnya awet (nggak kayak kalo dipanasin pakai microwave). ukurannya juga kecil dan nggak makan tempat. 

- buat mandiin sam kita pakai bak mandi tiup gitu. ini enak juga untuk dipakai. permukaannya empuk, dan nggak licin. 

- packing suggestions that we did and found to be useful: bawa buku rumah sakit anak. bagi-bagi baju anak dalam sealed plastic bag harian (1 day 1 bag). oh dan aplikasi Pack yang enak dijadiin checklist (--> screenshot on the right)

- what we need (to improve):  PLAN AN ITINERARY. siapin gendongan yang bahannya nggak gerah. siapin perlak yang ringan buat dibawa-bawa. obat-obatan jangan cuma 1 botol jadi ada cadangan kalau tumpah. siapin wadah untuk snack kering yang gampang dirogoh tapi nggak gampang tumpah. siapin sippy cup because we didn't bring any in sing dan gue jadi harus kasih fresh ASI kalau si bocah haus hahaha. 

sejauh ini sih itu aja yang kepikiran...
mungkin untuk akomodasi keinginan si anak gede untuk berpetualang, baiknya sih kita bagi dua tim. adit sama bumy untuk kelayapan, gue ngendon ngadem sama bayi. 
yaay we made it (foto bertiga. difotoin ibu-ibu yang lewat haha)

night at chijmes

our stay at oasia. ini di lantai 12, enak buat leyeh-leyeh.

city tour bertiga saja (bumy not pictured), mamak felt successful bisa gondol dan suapin bayi "sendirian"
  
si kakak yang direpotin bawa-bawa ransum adeknya.. 



of course this is by request. "wooy gantian fotoin mamakk" kalo nggak mah boro-boro bisa berpose

14/08/2018

the daring adventure

gue nggak inget pernah baca di mana tapi kata-kata ini terpatri,
dikatakan kalau hal-hal yang "benar" nggak akan membuat suara hatilo bertanya-tanya, "is it the right thing?"
pun nggak akan mendatangkan bisikan-bisikan tentang apa yang seharusnya yang lo lakukan.

time for reality check.

I think I haven't done a proper kind of parenting towards my son. 
I should've done better. he deserves better. 
I think I should've managed my emotions better.. that way all the conflicts I have been facing would come to resolutions instead of anger and pain. semua ada solusinya, gue sebagai orangtua dan manusia dewasa bisa mencari cara, alih-alih larut dalam arus emosi tak berarah. 

sekitar dua minggu lalu gue mencari bantuan lagi, untuk urusan mental. 
udah gila-gilaan deh gue merasa dihajar sama kerepotan dan kelelahan. 
menghandle kerjaan yang menguras pikiran, mengurus bayi kecil, plus mencoba doing parenting ke anak pertama yang menjelang remaja. 
semua mua terbawa jadi drama. 
and that's wrong, ada yang salah pasti. 

gue jadi gampang ngomel terutama sama si sulung. sangaaat gampang ke-triggered.. padahal kenakalan dia ya masih "wajar" apalagi dalam koridor tafakur. nggak ada yang gimana banget sampe kudu diomelin MELULU. (oh gosh jangan sampai malah jadi behaviour problems).

the expert said, I am putting too much into my plate. 
gue seperti itu mostly ya karena overwhelmed... capek fisik dan mental (haloh kurang tidur)... kerjaan meskipun fleksibel dari segi waktu tapi pressure-nya justru lebih besar dibandingkan jadi karyawan biasa.  

the doctor said, harus ada yang dikalahkan. gue harus ngurangin jumlah stressor.
mungkin nggak mundur dari urusan startup? not for now, I said. at least keputusan mundurnya jangan dari gue, tapi kalau memang disuruh mundur barulah... 
buat urusan anak pertama yg sering jadi objek pelampiasan kekesalan (perih loh nulisnya), gue disarankan mengutilisasi partnership. how? urusan bumy dihandle bapaknya SEMUA. misalnya ketika ada behavior problem, ya bapaknya yang negor, atau semata-mata urusan ina inu sekolah... ya bapaknya juga. kenapa ya harus sampe gitu amat? menurut beliau, saat ini gue sedang berada di masa lagi ada bayi yang usianya less than 1 year PLUS sedang ngasih asi ekslusif. it👏🏼is👏🏼so👏🏼damn👏🏼tiring👏🏼physically👏🏼
hormon mamak awur-awuran (still). 
lagian untuk memberikan asi diperlukan kondisi emosional yang “tenang”- menurut sang dokter, it's not asi ekslusif kalo “cuma” susunya yang diberikan tapi bonding dan emotional support dll buat anaknya nggak ter-deliver.

sambil bercerita, somehow gue agak ngerasa “lebay yaaa keluhan gue...”
padahal gue udah hire pembantu pulang-pergi. padahal sam sudah ditaro di daycare. 
tapi ketika mendengar ini dari orang yang bisa dibilang “ahli”, gue baru ngerasa tervalidasi.. selama ini gue masih mempertanyakan jangan-jangan guenya aja yang nggak bener atur waktu, atur tenaga, drama, dll.
si dokter mengatakan kalau indikasi perlu ada "intervensi" adalah ketika hubungan sama orang lain mulai ada yang terganggu. in my case, jelasssss, hubungan gue sama suami dan anak diisi ngomel-ngomel melulu. 

and she said more, punya bayi ya memang melelahkan. tidur malam nggak tenang, anak rungsing. dan itu “saja” tervalidasi kalau bisa bikin stres. moreover with another kid and a stressful job, there’s so much on the plate to make me merasa terhimpit dan mau gilakk. 

I need to be better, for my sake and everyone's sake. 


Did We not expand for you, [O Muhammad], your breast? And We removed from you your burden Which had weighed upon your back. And raised high for you your repute. For indeed, with hardship [will be] ease. Indeed, with hardship [will be] ease. - QS Al-Inshirah



01/05/2018

Pengalaman Bikin Paspor untuk Bayi

huloh.. judulnya aja udah menjelaskan banget yak apa yang mau dicelotehin.
no suspense, nggak bikin penasaran samsek haha.

tau nggak gue bawa Sam ke mana untuk bikin paspor? 
ke Kanim Kelapa Gading :)))

jangan heran kenapa kita bikinnya JAUH AJE ke kelapa gading padahal rumah di belantara jagakarsa. sekitar sebulan lalu di suatu hari jumat, kita udah dandan rapi jalan dari rumah jam 5:30 pagi 'tuk menyambangi kantor imigrasi di Mampang. sampai di lokasi jam 6, dengan pede jasa Adit masuk ke dalam dengan sudah membawa berkas lengkap untuk ngambil nomor antrian.
eh nggak lama kemudian dia balik lagi ke mobil. kirain ada yang ketinggalan, eh tau-taunya dia bilang sekarang sistem bikin paspor udah berubah.

jadiii sekarang kita nggak bisa go-show aja buat bikin paspor, melainkan harus booking antrian dulu secara online.
booking antriannya bisa lewat web address ini: https://antrian.imigrasi.go.id/ atau lewat aplikasi "antrian paspor" di playstore.

nah yang kemarin input antrian online ini Adit, dan menurut dese, jadwal terdekat yang bisa didapat cuma di Kanim Kelapa Gading.
kenapa gitu harus buru-buru macem udah pegang tiket? ya gak kenapa-kenapa sih.. tapi kalau bisa cepet ya kita prefer gitu dibandingkan nunggu lama.
nah, kalau udah pilih jadwal booking yang cocok, nanti kita dapet QR code yang kudu diprint.

jadwal buat Sam kemarin dapetnya di hari Jumat jam 10 pagi. berangkat dari rumah jam 9:10, lewat tol JORR, kita sampai di lokasi jam 10 lewat dikiiit.
gue sempat celingak-celinguk nyari kantor imigrasi yang ternyata ada di kompleks ruko.
begitu masuk, gue jelasin mau bikin paspor buat anak ke petugas yang duduk di depan pintu.
bapak petugasnya helpful banget. dia langsung sodorin formulir untuk dilengkapi. beruntung gue juga udah menyiapkan fotokopi berkas, pulpen sendiri dan materai 6 ribu, karena kalau ada dokumen yang perlu difotokopi, gue harus naik tangga ke lantai 3. kebayang 'kan sambil gendong nak dendut sendirian xD
setelah form keisi lengkap, bapaknya langsung ngajak gue ke desk tempat checking dokumen. didampingi bapak petugas yang sama untuk naro dokumen dan verifikasi, alhamdulillah tanpa perlu antri. sesudahnya, baru gue dapat nomor antrian untuk wawancara dan foto.

di bagian inilah gue harus menunggu lama. sebenarnya gue mungkin cuma perlu menunggu 30 menit - 1 jam maksimal untuk dipanggil wawancara dan foto. tapi ndilalah hari itu Jumat. petugas istirahat mulai dari jam 11:30 sampai 13:00... huhuhu... rada nyesek karena padahal nomor antrian gue tinggal 6 lagi.
yasutralah, daripada harus bolak-balik dan mengulang proses dari awal, gue nunggu dan killing time di... Mall Artha Gading. haha, off topic dikit, mungkin udah 1 dekade sejak gue terakhir menginjak mol ini. dulu waktu ngantor di Jakut, hampir tiap minggu maksi di mol ini sama Ika. itung-itung reminiscing masa lalu deh.

oya, lokasi Kanim sama mol deket banget sebenernya. cukup jalan kaki 5 menit. cuma karena saat itu siang bolong, panas banget dan gue gendong bayi, yaudah jadi minta dianter pak supir masuk mol. setelah makan dan nunggu, jam 13:00 gue sudah duduk manis mengantri lagi di Kanim.
nggak ada 10 menit, nomor gue dipanggil. kelar menunggu difoto dan diwawancara, gue harus naik ke lantai 2 untuk bayar (siapin uang cash) dan ambil resi bikin paspor.

paspor selesai diproses sekitar 7 hari kerja. sebenernya bisa sihh dikirim via PT Pos hanya dengan bayar 25 ribu, tapi ada dokumen yang harus diisi dan difotokopi, which means gue harus manjat lagi ke lantai 3.. ugh, no thanks deh. biarlah ku balik lagi ke kelapa gading 10 hari dari saat itu, daripada pinggang tambah encok (saat itu udah jam 14:00, yang berarti udah 4 jam gue gendong Sam ke sana ke mari).

gue baru ambil paspornya 10 hari kemudian. lagi-lagi sampai di Kanim jam 10 pagi, dan gue udah deg-degan harus nunggu lama lagi. gue juga udah siapin semua dokumen asli juga in case diminta.
ternyata gue hanya perlu datang ke loket pengambilan paspor, lalu taro resi di dalam tray berisi tumpukan resi pengambilan paspor. nggak ada 10 menit, nama Sam udah dipanggil. gue hanya perlu nunjukin KTP gue, lalu tandatanganin form pengambilan. 
ALHAMDULILLAH jadi juga paspor anak bayik.

03/04/2018

hustle baby

assalammualaikum, cyber world...

begini amat yak tau-tau setelah puluhan purnama gak nengok blog. 
sesungguhnya gue bener-bener nggak punya topik khusus di kepala buat diceritain... everything has been so riweuh, rungsing, rusuh. albeit in a good, cathartic way. 
jadi entah apakah blogpost ini isinya bakal keluhan melulu, atau ngoceh ngalor-ngidul aja seperti biasa. 

*****

Sam hampir berusia 4 bulan. YAY!!
plis kumohon jangan ada tanggapan "whoa time flies!" because time does NOT fly (when you're raising a tiny human being), it CREEPS. 
etapi nggak tau juga ya kalau pakai jasa babysitter, gue belum pernah soalnya. 

quick updates on him:
- sudah vaksin 3 kali (urutannya sama dr. Apin, dr. Endah, dr. Apin).
- beratnya 7 kg
- sudah 5 kali dititip di daycare. and my heart SHATTERS everytime. 
- is such a manja baby (ini komen nyokap), karena bisa aja digendong semua orang tetep nangis-nangis, tapi begitu dikekep di ketek gue, langsung diem. gimana hati mamak gak kebat-kebit nitip dia di daycare?!?!? T____T
- sumeh, dan suka ngoceh.

- jam tidurnya alhamdulillah much MUCH better than Bumy. gue dan Adit bisa menikmati bobok malam dengan tenang like 90% of the time. easy baby dia nih, kecuali during the day yang maunya nemplok mulu sama mamake. 

- dan apa yang dia mau ketika nemplok? emaknya harus gendong sambil jalan-jalan. gendong sambil duduk? doi teriak-teriak. 
udah berdiri tapi gak gerak? jangan coba-coba. 
move your ass, girl! - gitu seolah titah doi... 
ya gini deh, lutut mulai senat-senut sekarang. 

- gendongan is my saviour. 
gendongan perdana Sam adalah hibah dari mamak @liactk berupa Sleepy Wrap (sekarang udah ganti nama jadi Boba Wrap). dan gendongan ini sungguh cucok meong karena bikin bayi di-snuggle dengan nyamannya dalam posisi kangguru. 
cumaaa emang 1) bahannya tebel dan jadi gerah kalau dipake outdoor tanpa AC, 
2) makenya rada ribet dan gak bisa buru-buru. 
jadi gue cobain beli gendongan kaos gitu, murah cuma 200 ribuan. 
mayanlah, bisa dipake dengan cepet, ringkes, dan bahannya adem. tapi kekurangannya: punggung cepet pegel. 
baru-baru ini gue nyobain pake ergo lungsuran adek gue. mayan... enak... tapi lebih cocok buat kalau anak sudah lebih besar, sudah lebih stabil lehernya.  
demikian review singkat dan asal-asalan mamah. 

- udah diajak jalan-jalan ke bandung. 
trip singkat 3 hari doang, tapi di hari pertama Bumy sakit (demam, radang tenggorokan). hari kedua, gue dan Adit juga ikutan sakit (demam tinggi, meler, puyeng dst). Sam alhamdulillah gak demam tapi ikutan batpil. jadilah di hari kedua itu kita berempat umpel-umpelan di kasur dalam keadaan ingusan, meriang dan demam. oh SUCH FUN x)))) 
tapi sepanjang perjalanan dia gak rewel, cukup kooperatif. yah, selama nenen dan ketek mamak available, dia adem-ayem. 

trus trus, gimana... apakah semua ketakutan nambah anak selama 8 tahun berhasil terbantahkan?? atau justru sebaliknya, terbukti semua? 
hahaha. 

takut kecapean dan tepar selama bunting... iya terbukti, emang capek dan tepar hahaha. meskipun alhamdulillah, gue bisa work from home/kosan most of the time. 
takut melahirkannya... well, ternyata lahiran emang tetep aja nakutin. #tidakmenolong. 
takut kerepotan ngegedein newborn... terbukti bingiiit. 
bulan-bulan pertama diisi begadang dan tetek kesakitan. 
menjelang bulan ketiga di saat gue mulai harus "ngantor," mulai deh diisi dengan kerepotan dan kegalauan. 
repot karena: saat mau nitip Sam di daycare ampun-ampunan deh yang disiapin. baju, botol susu, asi perah (eh kok dikit ya kalau dilist down? perasaan nyiapinnya remfong tiada terkira). 
galau karena: SEDIH AJA NINGGAL DIA DI DAYCARE. apalagi kalau abis dari daycare dia harus ikutan pulang sore/malem. trus karena gue ambil jasa daycarenya harian (pas harus meeting atau ada acara seharian), kadang ada kalanya acara mendadak jadi Sam gak dapet slot di daycare. jadi telah beberapa kali terjadi, Sam ngikut mamaknya 'ngantor' atau ke event. asli yah gue pun sesungguhnya gak nyaman banget kaya gitu. gue kan tipe gak suka menarik perhatian dan gak suka nampak "incapable." serba salah sudah; ninggalin anak gak mungkin, jadi ya dijalanin aja dengan segala risikonya. 

gue pernah tergugu sih mikirin ini saat lagi riweuh-riweuhnya, harus nenteng Sam ke kantor dan otak juga lagi mumet banyak banget kerjaan. 
apakah setiap anak ada moment of desperation-nya sendiri?
pas Bumy dulu, gue dan Adit sampe sedih mikirin siapa yang bisa dimintain tolong jagain Bumy sementara emak gue dulu suka ngambek. gue mau resign gak mungkin karena udah terbelit cicilan haha.. tapi asli dulu tuh ada banget momen gue merasa terbenam sedalam-dalamnya di rasa putus asa. 
pas Sam sekarang... ternyata ya sama, muncul lagi rasa lelah dan putus asa. startup gue sedang mau melaju dengan kencang... tapi gue maunya tetep bisa ngasuh Sam dengan berkualitas. sedih bayangin dia yang udah enak-enak di rumah bisa tatap-tatapan sama emaknya harus direndeng-rendeng ke daycare. geu pun udah sempet message Adit pagi-pagi "apa gue resign aja yah" yang diketik sambil bersimbah air mata hahaha. there you go, another moment of desperation. 

sampai kemarin, kebetulan gue harus bawa Sam ke kantor lagi. kali ini sih bisa bawa embak di rumah karena cuma sebentar. 
saat gue lagi nenenin Sam di ruang laktasi, ada dedek yang lagi pumping (kayanya kelahiran 94 gitu). biasalah, kita bertegur sapa. dari situ gue jadi tau kalau anaknya tinggal di jawa timur, dan dia nengokin seminggu sekali. T___T
dia bolak-balik naik kereta... abis kena tipes pula... no wonder gue pikir, karena pastilah kecapean banget.
pagi itu dia cerita kalau agak telat pumping, karena "baru sampe di jakarta jam 2 pagi tadi, trus aku ketiduran, hehe" dan sesampainya di kantor, kerjaan udah menggunung berjejal. 
masya Allah... T____T gue kehilangan kata. 
eh akhirnya gue komen, sih, meski cuma bilang "duh kamu hebat banget." and I truly meant it...

denger perjuangannya seperti itu bikin gue tergugah banget, tapi bagian yang paling mengiris hati adalah saat dia ngasih liat foto-foto anaknya T______T 
a mother must know THAT feeling. 
perasaan lo jadi kangen anak sendiri karena ngeliat bayi orang lain. 
perasaan pengen liatin fotonya setiap saat, nggak cuma buat diri sendiri tapi juga ke orang lain because you just LOVE looking at your baby and talking about him nonstop. 
ya Allah.... gue cuma ninggalin Sam beberapa jam aja hati bak dicabik-cabik. 

tapi yah, mungkin semakin berumur gini gue semakin paham untuk gak gampang menilai kondisi (idup) orang lain (thanks God ngurang-ngurangin nyinyir). 

setiap orang punya pilihan dan pertimbangan sendiri. 
kalau gue nggak bisa ngebantu mending DIEM, gak usah komentar.  

pertemuan singkat gue dengan si dedek (yang selalu TERSENYUM selama bercerita, omagah) kemarin, juga ngingetin gue untuk menyukuri kemudahan-kemudahan yang ada... 
siapa sih manusia yang nggak pernah merasa lemah, bahkan putus asa? ya mungkin justru dengan begitu Allah bisa masuk ke hati.
dan apakah kondisi ideal itu?
apa berarti kita harus dapetin semua yang kita mau? 
kita baru bisa hepi kalau everything goes the way we want them to be? 
apa iya? emang bisa? 

apa mungkin kondisi "ideal" justru adalah saat kita bisa berdamai dengan apa yang udah di depan mata..? 

ugh... you taught me a lot that day, dek. 
setiap mamak mungkin punya strugglenya sendiri-sendiri. semoga perjalanan kita jadi ibu ini bisa jadi satu "channel" untuk menambah ketaatan. 
hiks.