08/06/2005

An Episode from Old Sideway of Slipi Interstate (written by Grafityo)

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Documentary
Membicarakan tentang kebahagiaan di pinggir jalan raya


Chomey masih dalam dunianya sendiri ketika kita masih sabar menunggui bus di pinggir jalan raya di loby sebuah plaza kecil di jakarta barat. Bus menuju arah karawaci sudah banyak yang dilewati karena chomey bersikukuh kalau kita harus menumpangi bus bernomor 119, yang katanya lebih ramah dan menyenangkan, mengingat kami tadi sempat membeli 2 potong bolu kismis yang rencananya akan dimakan di sepanjang perjalanan jakarta- tangerang.

Dia selalu terbengong-bengong ketika harus memikirkan sesuatu. Rencana awal kita akan ke Bentara Budaya, tapi mood langsung luntur ketika menyadari cuaca sepanas ini tidak tepat menyusuri jalanan pasar palmerah menuju bentara budaya, jadinya kita lebih memilih pulang.

“Apa sih yang lo pikirin chom?” aku masih menyelidiki kemeja putihnya yang tampak membuatnya kelihatan semakin kurus, tapi tetap serasi dengan capri krem dan sepatu kulit baletnya. Tas elle yang disandangnya juga tersamping ciamik dan dipenuhi berbagai berkas lamaran kerja.

Aku tahu sekali, Chomey sedang melampaui tahapan yang menurutku, paling sulit dalam hidup. Dia berjalan sendirian dimana semua teman-temannya masih satu tingkat di bawah anak tangga yang dia pijak. Dia merasa terlalu cepat melangkah, dan dia merasa belum siap untuk itu. Kata-kata favoritku untuk menasehatinya adalah

“Nggak fokus” karena memang dia tidak pernah tahu motivasi apa yang harus dia lakukan, paling tidak untuk mengisi hidupnya-

Chomey yang kukenal, selalu harus didorong oleh banyak pihak untuk dapat mencapai sesuatu. Nyokapnya- selalu ikut campur- yang kutahu ketika dia harus memilih harus kuliah dimana- ikut repot memikirkan kerja prakteknya- membantu mencarikan perusahaan sebagai tempat skripsi, dan sekarang, amplop cokelat berkas lamaran yang dipegangnya bertuliskan alamat perusahaan tempat teman nyokapnya bekerja.

Aku sih tidak bisa bilang dia bisa berdiri sendiri (atau apa yang disebut dengan mandiri?) Sepanjang dia bisa bertahan dengan itu. Dan aku yakin Chomey selalu mendapat pertolongan dari orang-orang yang memang dengan tulus menolongnya.

Yang kukkhawatirkan adalah-- dirinya sendiri. Dia merasa terbebani dengan semua itu, seakan-akan yang orangtuanya lakukan untuknya hanyalah sebagai wujud kemauan sang orang tua agar si anak menjadi lebih baik. Well.. itu tidak sepenuhnya salah, tetapi bukannya lebih baik kalau kesadaran itu timbul dari sang Anak itu sendiri?

Aku takut Chomey tidak pernah punya semangat untuk menjalani kehidupan yang dipaksa-

Tapi aku lebih takut kalau dia kutanya—bahkan dia tidak tahu apa yang dia mau.

Psikolognya cerita kalau Chomey membutuhkan sesuatu yang simple dalam hidupnya. Sesederhana sebuah kotak kosong,,, diisi oleh sesuatu—seperti masukan dari orang-orang yang senantiasa dikenalnya.

Aku selalu memberikannya masukan-masukan yang menurutku lebih baik untuk hidupnya.

“Weich.. menurutlo kapan sih elo bener-bener merasa bahagia?” pertanyaan itu tiba-tiba meluncur saja darinya.

“Gue?” aku masih berfikir.. terus terang aku harus memilah-milah bagian mana dari hidupku yang benar-benar berkesan sebagai ungkapan bahagia. Dan aku sadar tidak ada yang benar-benar membuatku merasa bahagia. Aku tidak pernah mendapatkan kursi kedokteran UI atau UNPAD. Aku juga tidak pernah mendapatkan sesuatu yang kuinginkan secara instan,, jadi aku sama sekali bukan tipe yang berbahagia.

“Kalo gue sih, kayaknya waktu saat-saat kita SMA ya.” Katanya,ada sedikit harapan di setiap muntahan kata-katanya-
mungkin—
Sepertinya pertanyaan itu dibuat untuk dirinya sendiri.

Akhirnya kita flash back ke masa-masa SMA. Dimana Aku dan Chomey pernah duduk sebangku kelas 3 IPA 3, dimana seluruh muridnya dipanggil dengan sebutan Rebit (remaja Elite Bertalenta IPA 3).

Kami benar-benar menikmati saat menyenangkan saat itu.

“Gue bener-bener nggak punya beban saat itu weich. Mengalir aja, pagi-pagi yang nyaman, duduk di pojokan 02, sampai di sekolah berlari-lari kecil sambil mengucapkan selamat pagi pada siapaun yang lewat..
Bahkan PR yang setumpuk nggak jadi beban buat gue. Lo inget kan gimana lo harus mengalihkan perhatian bu Sri, guru matematika kita, ketika buku PR gue Cuma ditulis nama dan tanggal,
Gimana semua catatan gue hanya berupa lembaran-lembaran...
Makan siang di pojokan parlan.. china-china cabul itu...”
Chomey makin kalap dengan nostalgia masa SMA nya.

Mau tidak mau aku kembali mengingat masa-masa itu. Memang sih- aku tidak pernah merasa lebih baik dari masa SMA, tapi saat itu, aku tahu aku belum menjadi jati diriku,,,

Aku menatap bus yang melaju lambat dan menawarkan ‘karawaci-karawaci’- tapi Chomey tidak beranjak dari duduknya .

“Gue maunya naik 119.”

Aku hanya mendengus.

”tapi, menurut gue, saat yang paling membahagiakan itu—ya sekarang ini deh cint. Gue ngerasa udah jadi diri gue aja dan nggak ada yang perlu disembunyiin aja.”

Chomey tersenyum. “emang ya cint.” Katanya. Tulus.

“tapi lo sebenernya waktu SMA dulu emang sempet naksir mayang kan weich?”

Hah? “enggak ah cint. Itu Cuma perasaan gue doang. Gue nggak berani bilang itu cinta atau suka..”

Pembicaraan kami terputus ketika patas 119 itu datang.

Memang bangku di belakang terlihat nyaman, dan kami mengambil tempat kosong di deretan 3 bangku.

Aku mengeluarkan kue kismis yang tadi dibeli. Sepertinya lembut dan gurih... sambil kusodorkan bagian untuk chomey.

Dia hanya mengambilnya dan menaruhnya di tas. Aku tahu selalu ada yang tidak beres dipikirannya.Padahal tadi yang dia sendiri yang menawarkan untuk membeli kue kismis itu.

“lo fokus aja kali cint.” Aku mengingatkannya kembali.


“Kadang emang lo nggak tahu apa yang harus lo kerjain, tapi itu lebih baik daripada lo nggak ngerjain apa-apa.

Kebosanan itu membunuh elo secara perlahan-lahan, mengerikan aja kalo kita tahu kita mati karena bosan.”

“Iya weich. Gue juga sih pengennya kerja aja. Udah lulus gini, mo ngapain lagi?”

“Baguslah. Jangan anggap beban ya. Kan untuk dirilo juga.”

Kami lebih banyak membicarakan tentang masalah dia dan pria-pria di sekitarnya. Mungkin aku akan membicarakan pria-pria itu lain kali dalam bab yang berbeda, tapi untuk kebahagian yang ingin dicapai, setiap orang punya pandangan yang berbeda.

Kue kismis dan masa-masa SMA, tentu berbeda untuk semua orang.