bulan puasa, seperti kita tau, identik dengan bukber. seberapapun klisenya, bukber emang efektif menjadi sarana silaturahim.
pertemuan dan reuni-reuni kecil yang alhamdulillah bisa gue alami selama bulan puasa tahun ini bukan cuma jadi kesempatan untuk bisa berinteraksi (secara nyata) sama temen-temen, relasi, dan juga keluarga. tapi ternyata bisa membuka kesadaran dan ngasih pemahaman baru di diri gue.
well, para ulama bilang bulan puasa itu momen untuk melakukan refleksi terhadap jiwa masing-masing. somehow, gue seakan terfasilitasi untuk 'bercermin' lewat bukber dan beberapa kejadian.
salah satunya adalah saat menerima berita kepergian seorang temen satu sekolah selama SMP sampai SMA. kedatangan kabar itu sungguh-sungguh mengejutkan. i was shaken and i got so gloomy for the rest of the week. bulan maret lalu, gue dan temen-temen sekolah sebenernya juga udah dibuat terkejut atas kabar yang kita terima tentang dia. tiba-tiba kita tahu kondisinya sedang kritis di sebuah rumah sakit, akibat leukimia. gue pribadi terakhir berinteraksi dengan dia - rasanya sih - waktu anak-anak kita masih newborn atau mungkin di bawah satu tahun. yes, she had a child. waktu itu kita suka saling bertanya seputar ngurus anak atau beli baju, melalui facebook. lalu rasanya udah cukup lama gue nggak pernah berinteraksi atau dengar kabar dari dia lagi. ternyata, yah, karena akun facebooknya udah dideaktivasi.
waktu denger kabar dia sakitpun gue dan temen-temen udah sangat kaget. terlebih ketika tahu dia sekarang single parent. tapi, jeleknya gue, rencana mau nengokin dia cuma sebatas rencana. what's sad is the next news i heard about her is that she passed away.
gue harus mengakui kalau gue nggak pernah berteman sama dia. iya, bukannya nggak berteman dekat, tapi emang nggak pernah berteman. gue rasa the closest interaction i had ever had with her adalah saat di facebook itu. pengakuan lainnya adalah gue nggak pernah menyukai dia atau bahkan pengen berteman dengan dia selama kita satu sekolah. not until we had those facebook interactions.
what was she like, sih, you may wonder. waktu SMP dia populer, karena terbilang kece, selalu ranking 3 besar, dan puncaknya, dia menyalonkan diri jadi ketua OSIS. gue sendiri waktu SMP mainnya sama beberapa jenis 'geng.' ada geng cewek-cewek sok gaul (more like bengal sebenernya) yang suka ngebully dan badmouth other people. juga ada geng anak-anak yang gue anggap lumayan pinter tapi asik - karena sama-sama suka boyband (zzz). lucunya, atau anehnya, kedua geng ini sama-sama "sebel" sama dia, si teman ini. kenapa sebelnya gue kasih tanda kutip? karena, how i see it now, it's because none of us really knew her. none of us were in her circle of friends. dia anak yang aktif di sekolah, alim, dan tau-tau nyalonin diri jadi ketua OSIS; guess we just didn't like her for those reasons. to put it simply: we were just jealous. nothing more i can say about kelakuan konyol abege-abege 13 tahun....
lalu waktu SMA, gue satu sekolah lagi sama dia, tapi lagi-lagi nggak berteman. padahal jumlah anak SMP gue yang masuk SMA ini sedikit banget. gue main sama anak-anak yang gue anggap asik tapi kali ini hampir nggak ada yang terbilang pintar - untuk standar SMA 1 tangerang, hehe. sementara dia, jadi anak paskibra, OSIS, dan aktif di banyak ekskul, salah satunya jadi penyiar radio sekolah. at this period, i no longer hated her. but i have, really have to admit now, that i didn't think fondly of her. kalau gue inget-inget sekarang, mungkin karena dia sempat pacaran sama seorang temen 'geng' gue. temen yang dipacarinya ini adalah satu-satunya yang paling "beradab" di geng tsb. yang dapet ranking 5 besar, jago main piano, dan setia nyupirin kita ke mana-mana (meskipun pernah ditimpuk kapur pas pelajaran sejarah gara-gara duduk tegak tapi matanya merem). i guess now, maybe i was still mean to her because, once again, i was jealous. this time may be because i thought she "stole" one of our best buddies.
sepertinya yang membuat gue sangat terguncang hari itu, ketika mendengar kabar kepergiannya, selain karena dia masih begitu muda, punya anak seumur gue, dan gue menyesal nggak pernah nengokin selama dia sakit, juga karena gue pernah berpikir nggak baik tentang dia selama kita satu sekolah :(
gue dan beberapa teman melayat ke rumah orangtuanya beberapa hari kemudian. i was there with nuri, weche, sasa and some other friends. i met her child for the first time. a beautiful child. and then i spoke to her mom. ibunya sangaaaattt mirip dengan dia. wajahnya, suaranya. dan ibunya menceritakan perjuangannya menghadapi sakit yang dideritanya, sampai hari terakhir yang dilaluinya. beberapa kali gue menahan diri untuk nggak meneteskan air mata, ketika ibunya bercerita cucunya bilang "kangen bunda..." akibat nggak bisa tidur sekamar lagi dengan dia (badannya begitu sakit bahkan saat disentuh). ketika ibunya menceritakan perjuangannya menghadapi rupa-rupa perawatan dan akibat yang ditanggung. terlebih ketika ibunya bilang, "hati saya hancur... kehilangan anak." i just lost words. and how i wished i had offered her mom a hug.
yes... there are many things i wish i had done differently. tapi bagaimanapun, kisah hidup teman gue ini ada untuk diambil hikmahnya, i'm sure of that. she had been a very wonderful person inside and out - terbukti dari nggak pernahnya dia mendendam; gue bersyukur pasca masa sekolah masih sempat sharing sama dia, meski cuma sesaat. gue juga yakin she was a fighter until the very end.
malam setelah kabar kepergiannya, our mutual friend, ratri, mengupload foto rangkaian bunga yang dikirimkan ke rumahnya, dibarengi tulisan, "Selamat jalan sahabatku Echi, Allah memang Maha Penyayang. Dia memanggilmu di bulan yg penuh berkah ini, setelah ulang tahun hijriyah kamu, malam Nuzulul Qur'an. Melihat wajah kamu tadi yg begitu cantik, bersih & seperti hanya tertidur, aku percaya in shaa Allah kamu akan diberikan tempat terbaik oleh Allah SWT."
yes, i'm also sure of that.
pada akhir kunjungan kami ke rumah orangtuanya, tepat sebelum keluar dari pagar, nyokapnya Echi bilang, "kalian yang sudah pada punya anak, dijaga ya anaknya... jangan ditinggal-tinggal."
T______T
i guess that's her way of saying that we have to cherish our time here on earth. enjoy each moment spent with our kids. be grateful for even the littlest things.
now i can really see why we should. because life is just a blink of an eye....
so long, my friend. semoga kamu tidur nyenyak dalam pelukanNya.
Berkaca-kaca sendiri pas baca.. :'(
ReplyDeletegue masih sulit mencerna fakta ini, mungkin karena she's one of very few people who so full of life... *sigh*
Delete