jadiii, di awal term kemarin, dalam rangka Parents-Teachers Conference (PTC), sekolah Bumy ngundang psikolog bu Alzena Masykouri buat ngasih materi berjudul "Understanding Child Development aged 6-12 years old."
gue sendiri excited banget buat denger materinya, maklum ortu amatiran yang untungnya masih haus belajar. timing yang dipilih juga pas banget buat ngasih materi ini, yaitu di awal tahun ajaran. bisalah dianggap effort supaya ortu dan sekolah bisa satu visi dan misi.
seperti PTC sebelumnya, juga ada presentasi dari para guru mengenai yaitu topik dan metode pembelajaran yang diterapkan dalam tiap aktivitas montessori. guru-guru SD mendemonstrasikan metode belajar bahasa, matematika, science, Islamic studies dan lainnya menggunakan apparatus Montessori.
| guru sedang mendemonstrasikan penggunaan apparatus montessori |
| demonstration of learning math the montessori way |
jawabannya tentunya macem-macem.. yang kemudian sama beliau dibawa ke seperti apa ciri khas pendekatan montessori.
jadi, pendekatan montessori yang memberikan pendidikan sesuai tahapan perkembangan anak (developmentally appropriate practice), punya ciri khas mengenalkan konsep secara konkret, bersifat interaktif, dan menerapkan mindful-ness dalam aplikasinya.
beliau kemudian mengajak kita mengenali seperti apa ciri-ciri anak usia middle childhood. bu Alzena menjelaskan kalau secara ilmu, ciri-ciri anak tadi bisa dikategorikan dalam empat hal, antara lain kognitif, fisik, afektif, dan sosial.
sembari kita orangtua menyebutkan ciri-ciri yang dikenali dari anak sendiri, bu Alzena nulisin masuk ke kategori mana ciri tersebut.
hasilnya begini,
1. kognitif - wujudnya berupa pengetahuan yang bertambah luas, semakin ingin tau, kreatif, kemampuan berkomunikasi yang semakin baik, semakin banyak maunya, bisa talk back kalo dikasih tau (haha), dll.
2. fisik - berupa badan yang meninggi, gigi bertambah banyak, makannya juga jadi lebih banyak, dll.
3. afektif - sikapnya minta diperhatikan, maunya harus diturutin, lebih susah dikasih tau, ekspresinya kadang lebay, dll.
4. sosial - lebih pede, lebih mandiri, makin tertarik membentuk persahabatan dan teamwork, ingin disukai dan diterima teman-temannya, dll.
dalam ilmu psikologi, di rentang usia 7 sampai 11, anak-anak sedang berada di periode perkembangan kognitif yang disebut oleh Jean Piaget sebagai tahapan concrete operational.
keseluruhannya ada 4 tahapan sbb:
1. tahap sensory motor usia 0-2 tahun
anak mengenal dunia lewat gerakan dan sensasi.
2. tahap preoperational usia 2-7 tahun
anak mulai mengenal berpikir lewat simbol dan belajar menggunakan kata-kata dan gambar untuk mewakili objek. meskipun udah lebih fasih berbicara, tapi anak masih cenderung berpikir dan memahami hal-hal secara konkret.
3. tahap concrete operational usia 7-11 tahun
cara anak berpikir udah lebih logis dan terorganisir, tapi masih sangat konkret - mereka masih kesulitan menangkap konsep yang abstrak atau hipotesis.
4. formal operational usia 12 tahun ke atas
anak sudah bisa mengerti konsep abstrak atau bersifat hipotesis. ketika sudah remaja, mereka mulai memikirkan soal isu moral, filosofi, etika, sosial dan politik yang membutuhkan penalaran teoritis dan abstrak.
dari situ, bisa disimpulkan kalau cara anak berpikir pada dasarnya berbeda dengan orang dewasa. anak-anak middle childhood, berada di tahap concrete operational. yang meskipun kemampuan berkomunikasinya udah lebih baik, tapi masih belum bisa memahami hal-hal yang abstrak. karena itulah, pendekatan montessori yang mengenalkan konsep secara konkret dianggap paling tepat untuk anak usia middle childhood, karena sesuai banget dengan tahap perkembangan anak usia tsb.
| bu Alzena speaking |
1. kognitif
2. afektif
3. psikomotor
yeuk dibahas satu-satu.
- kawasan kognitif ini isinya perilaku yang menekankan aspek intelektual. kayak kemampuan berpikir, kemampuan memahami, kecerdasan, dan keterampilan.
- kawasan afektif berisi perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, kayak sikap, minat, dan apresiasi. wujud penerapannya dalam mendidik anak, yaitu mendidik dengan melibatkan faktor afektif juga. suka denger 'kan omongan psikolog atau expert pendidikan kalo anak bisa menyerap materi dengan lebih cepat dan lebih baik kalau perasaannya bisa disentuh?
- kawasan psikomotor isinya perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik kayak tulisan tangan, kemampuan mengoperasikan sesuatu, atau kebisaan berenang. materi yang kita ingin untuk anak kuasai bisa disampaikan lewat gerakan. gue inget pada PTC beberapa waktu silam para guru mendemonstrasikan cara mengenalkan abjad pada anak yang ternyata nggak cuma lewat see & tell, tapi juga bisa lewat menggerakan jari di atas sandpaper, pun pakai gerakan badan seperti ngajak anak olahraga atau joget.
nah, dari sini bisa disimpulkan kalo stimulasi kognitif tetep perlu, tapi bukan cuma itu doang yang perlu digempur.. inget kalau ada kawasan "feeling" sama "psikomotor" juga yang perlu dikembangkan.
pendekatan montessori memberikan stimulasi yang menyeluruh dengan mengembangkan seluruh kawasan di diri anak, sementara sekolah konvensional cuma menekankan atau menggempur kawasan kognitif. jadi inget sekolah gue dulu, deh... dan ini juga yang bu Alzena sampaikan, pendidikan sekolah tipe old-school memproduksi banyak anak yang ketika sudah melewati masa middle childhood justru 'tumpul' feelingnya dan/atau nggak bisa olahraga. padahaaal semua kawasan itu sama penting dan krusialnya untuk dididik.
berikutnya, bu Alzena ngasih masukan tentang gimana cara stimulasi yang tepat yang bisa dilakukan orangtua untuk anak-anak usia middle childhood ini.
- di kawasan kognitif, orangtua bisa menawarkan kesempatan belajar buat anak lewat berbagai cara. misalnya dengan membaca bersama anak untuk meng-encourage anak membaca. gunanya banyak, di antaranya untuk menambah kosakatanya dan meningkatkan konsentrasi.
butuh nggak les yang bersifat akademik?
nah di sini bu Alzena ngejelasin seputar hobi, minat, dan bakat. ketiganya hal yang berbeda. hobi itu kegiatan produktif yang dilakukan anak di waktu luang. "anak harus merasa bosen dulu untuk mencari kegiatan," kata beliau. tapi inget, kegiatannya harus yang produktif untuk bisa disebut hobi.
anak disebut punya bakat, jika ia mampu menguasai suatu hal dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan anak lain.
sementara minat, ya ketertarikan anak, yang bisa berubah-ubah. satu hari minat main bola, hari lain minatnya karate.
tugas orangtua adalah (hanyalah?) memancing anak, untuk mengenali bakatnya, untuk memfasilitasi minatnya, dan untuk mengarahkan anak memilih hobi (yang produktif, cateut).
menurut bu Alzena, anak boleh ambil les kalau memang BUTUH. either untuk mengembangkan bakat atau butuh secara akademik JIKA kemampuan anak ada di bawah rata-rata. karena yang dibutuhkan anak usia middle childhood lebih ke kegiatan yang mengasah di bidang olahraga dan seni.
- di kawasan fisik, disarankan kita terus memantau tumbuh-kembang anak secara rutin. sehingga bisa segera diketahui kalau ada hal-hal yang perlu perhatian khusus. tinggi anak sebaiknya diukur secara rutin. trus ditekankan juga pentingnya resting time.
sekolah anak gue setiap harinya berjalan sampai jam 3-4 sore. kalau anak bisa/mau tidur siang itu bagus, tapi kalau nggak, yang penting mereka dapet resting time, yaitu waktu untuk bisa leyeh-leyeh secara fisik tanpa distraksi tv/gadget atau teman/saudara lain. semacam "me time" kali ya, di mana anak bisa memulihkan diri lagi setelah beraktivitas.
bu Alzena juga menekankan pentingnya berolahraga buat anak. disarankan anak mengikuti olahraga rutin selama 1 jam setiap minggu. kalau berenang, bukan yang cipak-cipuk nggak terarah, tapi yang beneran belajar teknik berenang. begitupun kalau main futsal, yoga, atau lainnya. gue artikan berolahraga di sini berarti mengalokasikan waktu dan tenaga untuk menguasai teknik tertentu secara terarah.
- sekarang kawasan afeksi, ini nih yang banyak pe-ernya...
anak usia middle childhood kebutuhan sosialnya besar. karena emang lagi begitu adanya sesuai dengan tahap perkembangan mereka. buat mereka, ini masanya buat mulai berinteraksi dengan scope dunia yang lebih lebar, seperti di sekolah. di masa ini, peer pressure juga akan terasa lebih kuat buat anak. semakin anak merasa nyaman dengan dirinya, semakin kuat pula ia dalam menghadapi terpaan peer pressure yang negatif dan justru akan bisa membuat pilihan yang baik untuk dirinya sendiri.
apa yang perlu dilakukan orangtua?
bu Alzena lantas menjelaskan soal tahapan emosi, yang terdiri dari: Merasakan - Menyatakan - Mengidentifikasi - Mengelola.
anak butuh banget peran orangtua sebagai coach untuk mengelola emosinya. caranya?
- the priceless stuff in life come for free. berikan perhatian dan kasih sayang sebanyak-banyaknya buat anak. kata kuncinya adalah "mindful" yang tadi udah disebut di awal. be present, be khusyuk saat bersama anak.
khusyuk 'kan berarti melibatkan perhatian dan segenap jiwa raga, jadi cencunya ya disingkirkan dulu segala beban pikiran yang dibawa dari kantor dan segala layar yang tangtingtung minta perhatian.
ajak anak ngobrol soal sekolah - bukan soal pelajaran sekolah atau soal dapet nilai berapa di sekolah - tapi soal apa yang terjadi di sekolah. siapa temen baiknya, apa yang bikin dia senang, apa hal baru yang dia pelajari.
- ajarin anak untuk ngasih nama untuk perasaannya. "oh kamu sedih ya?" "kamu merasa marah?" "kamu kangen sama mama?"
- bantu anak mengelola emosi dengan menunjukin cara penyaluran yang sehat dan aman untuk meluapkan emosi. emosi negatif bukan berarti harus dipendam atau dianggap nggak ada. acknowledge perasaannya, kasih nama untuk perasaannya itu, dan ajarin cara yang tepat untuk mengelola emosi itu.
gosh... kayanya justru gue yang perlu menguasai ilmu seputar emosi ini deh, sebelum bisa ngajarin Bumy xD
bahasan lebih lanjut tentang kawasan emosi ini terjadi lewat sesi tanya-jawab.
- Ada orangtua yang bertanya gimana kalau anak mencontoh perilaku teman yang nggak baik. saran bu Alzena, orangtua bisa langsung menyatakan tidak suka (sama perilaku tsb) tanpa menjelekkan temannya.
beliau juga ngingetin, "imun, bukannya steril." dalam artian, jadi orangtua itu bukannya berusaha bikin anak steril dari segala pengaruh buruk di dunia ini, karena kita nggak bisa menghilangkan keburukan atau menghindar selamanya. tapi bikin anak punya kekebalan alami. ya seperti ulasan soal peer pressure tadi, bikin anak strong enough untuk bisa menimbang sendiri mana yang buruk dan mana yang jelek buat dirinya.
balik ke soal menyatakan ketidaksukaan akan kelakuan teman anak, pesan bu Alzena cukup menyentil, "Kalo kita punya hubungan dekat dengan anak, pasti dia mengerti."
- Ada yang nanya cara menumbuhkan motivasi anak, karena dirasa anaknya nggak seperti anak lain yang berani bahkan nyaman berkompetisi.
bu Alzena bilang, jangan pernah membandingkan anak dengan anak lain. TAPIII kita bisa ajak anak acknowledge perasaannya dan perasaan yang bakal ditimbulkan kalau dia misalnya, ikut berkompetisi atau rajin belajar atau suka menolong, dan sebagainya. choose our words wisely. jangan memuji hasil atau keberhasilan (anak sendiri atau anak lain), tapi usahanya. ini akan bikin anak fokus sama the joy of learning or competing or helping supaya menumbuhkan motivasi intrinsik.
- Bangun sense of responsibility anak dengan ngasih tugas rumahtangga.
menurut bu Alzena, anak bisa dikasih sesuai usianya. hitungannya gini, 1 tahun 1 tugas rumahtangga.
sekarang Bumy hampir 7 tahun, berarti bisa dapet 7 tugas.
kita udah sepakati tugasnya dia ini:
1. merapikan kamar
2. mandi sendiri
3. makan sendiri
4. siapkan tas sekolah: baju ganti, comm book, snack box dan botol air.
5. cuci piring sendok gelas sendiri habis makan
6. kasih makan snack kucing peliharaan
7. jaga kebersihan electone
| bu Alzena ngajak beberapa ortu jadi volunteer 'percobaan' hehe |
dari sesi PTC ini, gue jadi tau gimana pandangan beliau soal pendidikan anak, di mana beliau paham banget soal montessori.
nah, sebagai tindaklanjut meeting sama Kepsek kemarin, akhirnya kita putuskan untuk mulai konsultasi sama beliau. apa aja masukan yang didapet akan gue share di blogpost berikutnyahh.
