minggu lalu, gue membeli majalah MORE edisi november. awalnya sih, selain karena gue emang suka banget isi majalah ini, juga karena dapet bonus notebook, hehe. notebook bonus MORE tahun lalu aja masih belum habis gue pakai, but still i was excited to grab it.
besoknya, entah kenapa gue iseng membaca rubrik pengantar redaksi. terus terang, biasanya rubrik itu hampir nggak pernah gue tengok. but i was lucky to have read it. karena tak dinyata, pengantar redaksi yang ditulis sang pemred Candra Widanarko itu bagus banget! it shook me from sleepiness because it conveyed a strong message.
isinya kurang lebih begini, suatu pagi, Candra sedang sarapan bersama anak perempuan yang duduk di sekolah dasar. lantas ARTnya melapor kalau sepatu sopir-yang juga suami si ART-hilang di kantor Candra. mendengar itu, Candra merasa kesal dan marah, she planned to report that loss to the office security and made complaint. saat dia mau berangkat ke kantor, tiba-tiba anak perempuannya menghampiri dan berkata padanya "bu, sst sini deh. janji ya pulang kantor nanti kamu beliin sepatu untuk om Jajang (nama sopirnya)."
kata-kata anaknya itu membuat Candra tersentak. betapa anak-anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang sederhana. sungguh berbeda dengan tingkah laku kita orang dewasa ketika dihadapkan pada masalah. kita cenderung memberi reaksi, yang seringnya didominasi unsur emosi. sementara anak-anak memberi respons, mereka bertindak langsung ke akar masalah.
Candra mengaitkan lesson learned tadi dengan kehidupan kita sehari-hari, di mana kita berkutat dengan kemacetan, masalah di tempat kerja, finansial, dan banyak lagi. seberapa sering kita justru memberikan reaksi semata (dengan mengeluh, misalnya?) bukannya memberikan respons berupa tindakan untuk menyelesaikan masalah tersebut?
gue termangu begitu menyelesaikan rubrik pengantar redaksi ini. urusan reaksi vs respons (yang mungkin cuma berbeda di istilah saja) ini, mengingatkan gue akan kendali diri. gue pernah dengar, jadilah orang yang menyetir mobil, bukan disetir mobil. kayaknya dalam hidup secara umum, gue orang yang selalu dikendalikan emosi deh. i'm super reactive. padahal kalau mau berpikir 'sederhana', cobalah untuk mencari jalan penyelesaian masalah. cari penyebab marah itu kenapa, dan lakukan perbaikannya.
jadi wajar kan kalau tadi gue bilang tulisan itu mengguncang? *seka dahi*
besoknya, entah kenapa gue iseng membaca rubrik pengantar redaksi. terus terang, biasanya rubrik itu hampir nggak pernah gue tengok. but i was lucky to have read it. karena tak dinyata, pengantar redaksi yang ditulis sang pemred Candra Widanarko itu bagus banget! it shook me from sleepiness because it conveyed a strong message.
isinya kurang lebih begini, suatu pagi, Candra sedang sarapan bersama anak perempuan yang duduk di sekolah dasar. lantas ARTnya melapor kalau sepatu sopir-yang juga suami si ART-hilang di kantor Candra. mendengar itu, Candra merasa kesal dan marah, she planned to report that loss to the office security and made complaint. saat dia mau berangkat ke kantor, tiba-tiba anak perempuannya menghampiri dan berkata padanya "bu, sst sini deh. janji ya pulang kantor nanti kamu beliin sepatu untuk om Jajang (nama sopirnya)."
kata-kata anaknya itu membuat Candra tersentak. betapa anak-anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang sederhana. sungguh berbeda dengan tingkah laku kita orang dewasa ketika dihadapkan pada masalah. kita cenderung memberi reaksi, yang seringnya didominasi unsur emosi. sementara anak-anak memberi respons, mereka bertindak langsung ke akar masalah.
Candra mengaitkan lesson learned tadi dengan kehidupan kita sehari-hari, di mana kita berkutat dengan kemacetan, masalah di tempat kerja, finansial, dan banyak lagi. seberapa sering kita justru memberikan reaksi semata (dengan mengeluh, misalnya?) bukannya memberikan respons berupa tindakan untuk menyelesaikan masalah tersebut?
gue termangu begitu menyelesaikan rubrik pengantar redaksi ini. urusan reaksi vs respons (yang mungkin cuma berbeda di istilah saja) ini, mengingatkan gue akan kendali diri. gue pernah dengar, jadilah orang yang menyetir mobil, bukan disetir mobil. kayaknya dalam hidup secara umum, gue orang yang selalu dikendalikan emosi deh. i'm super reactive. padahal kalau mau berpikir 'sederhana', cobalah untuk mencari jalan penyelesaian masalah. cari penyebab marah itu kenapa, dan lakukan perbaikannya.
jadi wajar kan kalau tadi gue bilang tulisan itu mengguncang? *seka dahi*
wuaaaahhh it was shocked me too dear...biasalah bumil dengan perubahan hormonal plus aktivitas yang kudu d jalani seperti biasa bikin gue terlalu sering ber"reaksi" drpd ber"respon" *narik nafas panjang...*
ReplyDeletethank you ya dear ^_^
tantangan banget ya Ma buat kita para perempuan? bagaimana dikau yang lagi hamil, gue cuma PMS aja sensinya ampun-ampunan :)) yuk, let's breathe in breathe out....
ReplyDeleteeh, candra widanarko ga di Chic lagi ya? Dulu gue langganan, tapi skrg ngga lagi :(. Gue sukaa ama tulisan2nya desye *sok akrab
ReplyDeleteDia yang twitternya editor_in_chic bukan sih Nis? More ini seniornya Chic sepertinya, untuk wanita usia 35 tahun ke atas :D yet I can relate to it more than other magazines for 'my age' hehe
ReplyDeleteBukan ris.. twitternya @CandraWidanarko. Hmmm...jadi pengen baca More deh..
ReplyDeleteloove it! ;D thanks ub!
ReplyDelete