dulu saat masih bertitel new parents, kayaknya apa-apa bawaannya ribet. pilihan ngelahirin, pilihan ngasih anak asi vs sufor, jadi ibu rumah tangga atau working mom; ini baru yang "esensial" aja. di luar itu masih banyakkk macam pilihan yang bisa bikin mumet. name it, deh: jenis stroller, merk popok, pilihan aktivitas buat anak, pilihan DSA, naro asip di botol apa plastik, dst dlsb.
padahal, TERNYATA pendapat kita soal hal-hal itu bisa berubah. apa yang dulu dianggap prinsipil dan dipikirin bolak-balik sampai kurang tidur, ternyata bisa menjadi tidak se-prinsipil itu seiring dengan berjalannya waktu. those options don't get any easier, sih. tapi mungkin kitanya yang jadi lebih 'mateng' sebagai pribadi, dan juga sebagai orangtua.
dalam tulisan ini, hal yang secara khusus mau gue bahas karena juga mengalami fenomena pergeseran opini tadi, adalah soal pilihan sekolah.
sebenernya udah sejak Bumy mau masuk TK gue mau menuangkan pendapat gue di blog soal pemilihan sekolah. eh, tapi ternyata ada untungnya juga tulisan itu kepending terus (terima kasih, time-management skill-ku yang buruk), karena seiring dengan berjalannya waktu, ternyata opini gue, ya itu tadi, bergeser.
dulu, pertama kali melalui fase nyari-nyari sekolah "terbaik" buat anak, check list gue sifatnya idealis banget. maunya yang full berbahasa indonesia, yang gak ngajar calistung, yang membumi, sekaligus yang mendahulukan pembentukan karakter anak di atas segalanya.
ketika mulai survey-survey sekolah untuk jenjang PG dulu, kriteria jadi lebih spesifik, misalnya yang
- metode pendidikannya oke; bikin anak suka belajar, bukannya terbebani.
- kurikulumnya nyambung dengan visi kita buat anak.
- biayanya nggak melebihi 10% income hehehe.
tapi tentunya kriteria "idealis" di awal tadi tetap diikutkan. buat gue saat itu, yang jadi prioritas ya yang ada di list tadi. yang lain-lain ya bukan prioritas. cincay ajah. nggak perlu deh fasilitas yang keren bin mutakhir, yang penting si anak hepi dengan metode pengajaran yang asik.
atau nggak pentinglah kualifikasi guru-gurunya kayak gimana, yang penting punya kepedulian tinggi.
atau juga nggak apa-apa deh metode pendidikannya masih eksperimental, yang penting anak gue bisa bersosialisasi dan terbiasa bersekolah.
sekarang, dengan bertambahnya pengalaman menyekolahkan anak, mulai deh mata gue terbuka dan gue bisa melihat dengan lebih jelas faktor-faktor lain dalam memilih sekolah buat anak.
gue juga jadi terbantu untuk mengenali apa sih hal-hal yang sifatnya bener-bener krusial buat gue.
kadang gue mikir, mungkin perbedaan antara mau jadi idealis dengan being ill-informed itu tipis, ya? karena jujur aja, dengan menganggap kriteria gue itu udah yang paling ideal, gue jadi kurang kritis sama cara berpikir dan pilihan gue sendiri, dan ujung-ujungnya, jadi suka nyinyir sama pilihan-pilihan lain. misalnya dengan menganggap pilihan gue udah yang paling oke dan "bener."
bergerak dari situ, gue mulai menyambangi beberapa sekolah, dan ternyata gue dapet bermacam-macam insight dari kunjungan-kunjungan itu. misalnya dari
- sekolah A: fasilitasnya bagus, metode yang ditawarin menarik. tapi gue liat "gaya" SDM-nya bikin kurang sreg. pas gue diajak liat sebuah ruangan, ada guru yang posisinya lagi duduk di lantai dan nyender ke dinding sampai melorot. err... kurang pantes aja deh pas lagi jam kerja sikap badannya kayak gitu, menurut gue. gue juga pernah menemui kelakuan SDM sebuah sekolah yang ngingetin anak-anak buat gak lari-lari dengan teriak kenceng-kenceng, atau malah ada yang gurunya pada selfie rame-rame (er, we-fie?) bukannya ngawasin murid-muridnya yang pada lagi outdoor play.
ini bikin gue nyadarin kalo attitude SDM sebuah sekolah itu penting. karena anak-anak 'kan meniru dan menyerap perilaku siapapun di sekelilingnya, terlebih yang ketemu tiap hari seperti di sekolah.
- sekolah B: megah, fasilitas oke banget, metode pengajaran inovatif dan keren. tapi kok gue perhatiin chemistry guru-guru dengan para muridnya kurang. malahan guru terkesan bagaikan babysitter karena kurang berwibawa. ini ngasih gue insight bahwa selain kualifikasi pendidikan, kualitas guru sebagai pendidik juga perlu diperhatikan.
- sekolah C: lokasinya ribet, biayanya mahal banget. tapi pas lihat kondisi belajar-mengajarnya, chemistry guru dan murid bagus, anak-anaknya juga tenang dan terarah. begitu ngobrol dengan vice principalnya, jadi tau kalau metode pengajaran yang diterapkan ternyata oke banget karena memandang anak sebagai entitas yang unik dan menjadikan value "respect" sebagai landasan untuk mendidik, prasarana mengajar otentik dan sesuai dengan metode yang digunakan, udah gitu guru-gurunya secara rutin di-training. hmm jadi tau kalau biaya yang dikenakan itu emang sebanding dengan kualitas pendidikan yang diberikan.
- sekolah D: metode pendidikan inovatif karena terdiri campuran beberapa jenis metode, cuma sayangnya fasilitas dan kondisi sekolah kurang memadai, serta tenaga pengajarnya minim pemahaman tentang kesehatan dan higienitas. sementara itu, kesan dari interaksi dengan pihak sekolah begitu menggoda karena dipaparkan visi yang aduhai, metode pendidikan, character building, dsb. gimana, dong, tuh?
dari hal-hal di atas, gue jadi banyak dialog sama diri sendiri, dan juga diskusi sama adit. misalnya soal kebersihan dan keamanan sekolah. tadinya sih, gue nggak rewel urusan higienitas atau safety. katanya 'kan, sedikit kotor itu baik. begitu juga sedikit-sedikit kena virus, bukannya bisa membangun imunitas? tapi jika dipikir ulang, gimana anak bisa sempat di-build karakternya kalau jarang dateng ke sekolah karena sakit atau naudzubillah, kenapa-kenapa di sekolah?
lalu soal fasilitas sekolah. emang sih, nggak ngarep tiap kelas punya playground sendiri (nggak kuat bayarnya jugak xD), tapi setidaknya tersedia fasilitas yang memadai dan terawat untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. ini sifatnya subjektif banget, sih. apa yang buat orang lain cukup, belum tentu dipandang memadai sama gue; begitupun sebaliknya.
yang lainnya, faktor bahasa yang digunakan. idealisme gue untuk milih sekolah yang bahasa indonesia full only thok mulai terkikis berkat informasi bahwa belajar bahasa lain sejak dini itu nggak apa-apa, asalkan si anak siap dan kondisi di rumah mendukung - kayak dibeberkan di artikel ini.
| gambar dari sini |
well, segini banyaknya sekolah di jaksel dan sekitarnya - belum lagi di kawasan yang agak jauh tapi dikaruniai banyak sekolah bagus kayak serpong - tentunya gak mungkin gue sambangi satu persatu. nah, gue terbantu banget oleh thread "School's Cool"-nya MD, karena banyak mamah-mamah yang rajin nyari tau soal opsi-opsi sekolah dan mau berbagi soal apa yang dicari dari metode pendidikan tertentu. salah satunya, gue jadi tau kalau sekolah itu bisa dibedakan nggak cuma dari kurikulumnya, tapi juga menurut jenis manusia seperti apa yang ingin dicetak. misalnya ada sekolah yang ingin mencetak manusia dengan leadership skill dan kepercayaan diri yang tinggi, jadi ya jangan nyinyir kalau sekolah itu sering ngadain school performance, baik itu dengan cara mengasah skill presentasi, maupun menumbuhkan keberanian untuk tampil di depan orang banyak.
atau ada sekolah yang ingin mencetak manusia yang unggul di bidang akademis, jadinya ya wajar kalo anak-anak di sekolah dapet banyak tugas, dikejar target untuk meraih nilai akademis gemilang, dsb. atau bila ada sekolah yang ngebiarin murid-muridnya kotor-kotoran dan gelayutan di pohon, ya jangan mencibir juga, mungkin metode dekat-dengan-alam sesuai dengan visinya untuk mencetak anak-anak yang membumi.
begitu juga ada sekolah yang ingin mencetak manusia-manusia dengan pemahaman tinggi di bidang agama, atau yang ingin mencetak pengusaha-pengusaha sukses, daaan lain-lain.
akhirnya, ya balik lagi ke visi kita buat anak seperti apa. iyaah benar, capek-capek visiting, trial, interview, ujung-ujungnya peer besar itu harus diberesin sama orangtua dulu. mau kurikulum yang bagaimana? udah kenal baik kepribadian dan preferensi cara belajar anak, belum? belum lagi faktor-faktor eksternalnya, seperti kondisi sekolahnya gimana, berapa jarak rumah ke sekolah, ada jemputan atau nggak, ekskulnya apa aja, makanan disediain atau nggak (faktor penting buat gue! hehe), sampe "sekolah itu peminatnya banyak, nanti kalo kita nggak kebagian seat, gimana??"
so officially, pusiang urusan sekolah kembali dimulai. apalagi sekarang udah harus lebih membidik ke arah SD.
pada kesempatan berikutnya, akan gue ulas hasil menyambangi beberapa sekolah, yahh.