30/09/2014

which school?

setelah hampir lima tahun jadi orangtua, gue menyadari kalau terjadi banyak pergeseran dalam pemahaman maupun cara berpikir gue (efek memasuki usia kepala 3?), salah satunya ya seputar pengasuhan.
dulu saat masih bertitel new parents, kayaknya apa-apa bawaannya ribet. pilihan ngelahirin, pilihan ngasih anak asi vs sufor, jadi ibu rumah tangga atau working mom; ini baru yang "esensial" aja. di luar itu masih banyakkk macam pilihan yang bisa bikin mumet. name it, deh: jenis stroller, merk popok, pilihan aktivitas buat anak, pilihan DSA, naro asip di botol apa plastik, dst dlsb. 

padahal, TERNYATA pendapat kita soal hal-hal itu bisa berubah. apa yang dulu dianggap prinsipil dan dipikirin bolak-balik sampai kurang tidur, ternyata bisa menjadi tidak se-prinsipil itu seiring dengan berjalannya waktu. those options don't get any easier, sih. tapi mungkin kitanya yang jadi lebih 'mateng' sebagai pribadi, dan juga sebagai orangtua. 

dalam tulisan ini, hal yang secara khusus mau gue bahas karena juga mengalami fenomena pergeseran opini tadi, adalah soal pilihan sekolah.

sebenernya udah sejak Bumy mau masuk TK gue mau menuangkan pendapat gue di blog soal pemilihan sekolah. eh, tapi ternyata ada untungnya juga tulisan itu kepending terus (terima kasih, time-management skill-ku yang buruk), karena seiring dengan berjalannya waktu, ternyata opini gue, ya itu tadi, bergeser.

dulu, pertama kali melalui fase nyari-nyari sekolah "terbaik" buat anak, check list gue sifatnya idealis banget. maunya yang full berbahasa indonesia, yang gak ngajar calistung, yang membumi, sekaligus yang mendahulukan pembentukan karakter anak di atas segalanya.

ketika mulai survey-survey sekolah untuk jenjang PG dulu, kriteria jadi lebih spesifik, misalnya yang
- metode pendidikannya oke; bikin anak suka belajar, bukannya terbebani.
- kurikulumnya nyambung dengan visi kita buat anak.
- biayanya nggak melebihi 10% income hehehe.
tapi tentunya kriteria "idealis" di awal tadi tetap diikutkan. buat gue saat itu, yang jadi prioritas ya yang ada di list tadi. yang lain-lain ya bukan prioritas. cincay ajah. nggak perlu deh fasilitas yang keren bin mutakhir, yang penting si anak hepi dengan metode pengajaran yang asik.
atau nggak pentinglah kualifikasi guru-gurunya kayak gimana, yang penting punya kepedulian tinggi.
atau juga nggak apa-apa deh metode pendidikannya masih eksperimental, yang penting anak gue bisa bersosialisasi dan terbiasa bersekolah.  


sekarang, dengan bertambahnya pengalaman menyekolahkan anak, mulai deh mata gue terbuka dan gue bisa melihat dengan lebih jelas faktor-faktor lain dalam memilih sekolah buat anak.
gue juga jadi terbantu untuk mengenali apa sih hal-hal yang sifatnya bener-bener krusial buat gue.
kadang gue mikir, mungkin perbedaan antara mau jadi idealis dengan being ill-informed itu tipis, ya? karena jujur aja, dengan menganggap kriteria gue itu udah yang paling ideal, gue jadi kurang kritis sama cara berpikir dan pilihan gue sendiri, dan ujung-ujungnya, jadi suka nyinyir sama pilihan-pilihan lain. misalnya dengan menganggap pilihan gue udah yang paling oke dan "bener."
 

bergerak dari situ, gue mulai menyambangi beberapa sekolah, dan ternyata gue dapet bermacam-macam  insight dari kunjungan-kunjungan itu. misalnya dari

- sekolah A: fasilitasnya bagus, metode yang ditawarin menarik. tapi gue liat "gaya" SDM-nya bikin kurang sreg. pas gue diajak liat sebuah ruangan, ada guru yang posisinya lagi duduk di lantai dan nyender ke dinding sampai melorot. err... kurang pantes aja deh pas lagi jam kerja sikap badannya kayak gitu, menurut gue. gue juga pernah menemui kelakuan SDM sebuah sekolah yang ngingetin anak-anak buat gak lari-lari dengan teriak kenceng-kenceng, atau malah ada yang gurunya pada selfie rame-rame (er, we-fie?) bukannya ngawasin murid-muridnya yang pada lagi outdoor play.
ini bikin gue nyadarin kalo attitude SDM sebuah sekolah itu penting. karena anak-anak 'kan meniru dan menyerap perilaku siapapun di sekelilingnya, terlebih yang ketemu tiap hari seperti di sekolah.

- sekolah B: megah, fasilitas oke banget, metode pengajaran inovatif dan keren. tapi kok gue perhatiin chemistry guru-guru dengan para muridnya kurang. malahan guru terkesan bagaikan babysitter karena kurang berwibawa. ini ngasih gue insight bahwa selain kualifikasi pendidikan, kualitas guru sebagai pendidik juga perlu diperhatikan.

- sekolah C: lokasinya ribet, biayanya mahal banget. tapi pas lihat kondisi belajar-mengajarnya, chemistry guru dan murid bagus, anak-anaknya juga tenang dan terarah. begitu ngobrol dengan vice principalnya, jadi tau kalau metode pengajaran yang diterapkan ternyata oke banget karena memandang anak sebagai entitas yang unik dan menjadikan value "respect" sebagai landasan untuk mendidik, prasarana mengajar otentik dan sesuai dengan metode yang digunakan, udah gitu guru-gurunya secara rutin di-training. hmm jadi tau kalau biaya yang dikenakan itu emang sebanding dengan kualitas pendidikan yang diberikan.

- sekolah D: metode pendidikan inovatif karena terdiri campuran beberapa jenis metode, cuma sayangnya fasilitas dan kondisi sekolah kurang memadai, serta tenaga pengajarnya minim pemahaman tentang kesehatan dan higienitas. sementara itu, kesan dari interaksi dengan pihak sekolah begitu menggoda karena dipaparkan visi yang aduhai, metode pendidikan, character building, dsb. gimana, dong, tuh?



dari hal-hal di atas, gue jadi banyak dialog sama diri sendiri, dan juga diskusi sama adit. misalnya soal kebersihan dan keamanan sekolah. tadinya sih, gue nggak rewel urusan higienitas atau safety. katanya 'kan, sedikit kotor itu baik. begitu juga sedikit-sedikit kena virus, bukannya bisa membangun imunitas? tapi jika dipikir ulang, gimana anak bisa sempat di-build karakternya kalau jarang dateng ke sekolah karena sakit atau naudzubillah, kenapa-kenapa di sekolah?

lalu soal fasilitas sekolah. emang sih, nggak ngarep tiap kelas punya playground sendiri (nggak kuat bayarnya jugak xD), tapi setidaknya tersedia fasilitas yang memadai dan terawat untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. ini sifatnya subjektif banget, sih. apa yang buat orang lain cukup, belum tentu dipandang memadai sama gue; begitupun sebaliknya.  

yang lainnya, faktor bahasa yang digunakan. idealisme gue untuk milih sekolah yang bahasa indonesia full only thok mulai terkikis berkat informasi bahwa  belajar bahasa lain sejak dini itu nggak apa-apa, asalkan si anak siap dan kondisi di rumah mendukung - kayak dibeberkan di artikel ini.


gambar dari sini

well, segini banyaknya sekolah di jaksel dan sekitarnya - belum lagi di kawasan yang agak jauh tapi dikaruniai banyak sekolah bagus kayak serpong - tentunya gak mungkin gue sambangi satu persatu. nah, gue terbantu banget oleh thread "School's Cool"-nya MD, karena banyak mamah-mamah yang rajin nyari tau soal opsi-opsi sekolah dan mau berbagi soal apa yang dicari dari metode pendidikan tertentu. salah satunya, gue jadi tau kalau sekolah itu bisa dibedakan nggak cuma dari kurikulumnya, tapi juga menurut jenis manusia seperti apa yang ingin dicetak. misalnya ada sekolah yang ingin mencetak manusia dengan leadership skill dan kepercayaan diri yang tinggi, jadi ya jangan nyinyir kalau sekolah itu sering ngadain school performance, baik itu dengan cara mengasah skill presentasi, maupun menumbuhkan keberanian untuk tampil di depan orang banyak.
atau ada sekolah yang ingin mencetak manusia yang unggul di bidang akademis, jadinya ya wajar kalo anak-anak di sekolah dapet banyak tugas, dikejar target untuk meraih nilai akademis gemilang, dsb. atau bila ada sekolah yang ngebiarin murid-muridnya kotor-kotoran dan gelayutan di pohon, ya jangan mencibir juga, mungkin metode dekat-dengan-alam sesuai dengan visinya untuk mencetak anak-anak yang membumi.
begitu juga ada sekolah yang ingin mencetak manusia-manusia dengan pemahaman tinggi di bidang agama, atau yang ingin mencetak pengusaha-pengusaha sukses, daaan lain-lain.

akhirnya, ya balik lagi ke visi kita buat anak seperti apa. iyaah benar, capek-capek visiting, trial, interview, ujung-ujungnya peer besar itu harus diberesin sama orangtua dulu. mau kurikulum yang bagaimana? udah kenal baik kepribadian dan preferensi cara belajar anak, belum? belum lagi faktor-faktor eksternalnya, seperti kondisi sekolahnya gimana, berapa jarak rumah ke sekolah, ada jemputan atau nggak, ekskulnya apa aja, makanan disediain atau nggak (faktor penting buat gue! hehe), sampe "sekolah itu peminatnya banyak, nanti kalo kita nggak kebagian seat, gimana??"

so officially, pusiang urusan sekolah kembali dimulai. apalagi sekarang udah harus lebih membidik ke arah SD.
pada kesempatan berikutnya, akan gue ulas hasil menyambangi beberapa sekolah, yahh.

23/09/2014

on august and september

- bosen dengan tempat main yang itu-itu aja, atau lebih tepatnya mall yang itu-itu aja, minggu lalu, kita main ke bintaro xchange dan mall kelapa gading. dalam satu hari. sedih yak kedengarannya, weekend abisnya dari mall ke mall aja? hehehe... yaabes kalau siang panas banget, sementara gue lagi nggak bernapsu juga untuk mengejar kegiatan-kegiatan berbudaya #hapalah. atau mungkin sebenernya yang kita cari tuh berkeliling pake mobilnya; nggak kepanasan, tapi juga nggak bermuram durja di rumah aja. 

anyways, gue sempat nongkrong alone/me time pas di MKG. bumy dan adit main-main, sementara gue buka laptop di jco, nyelesaiin hutang kerjaan, browsing, dsb. sembari kerja, tanpa dikehendaki gue ikut mencuri dengar obrolan tamu-tamu di meja sebrang. yang satu keluarga agak-muda, yang satu lebih-tua. yang agak-muda ini anaknya cuma satu dan udah kelas 3 SD. ketebak dong, yang lebih-tua sibuk mem'bully' dengan "kok nggak dikasih adek siiih anaknyaaa... kasian lohhh nggak ada temen maiiin" and the likes. tapi kedengarannya pasangan agak-muda (PAM) ini udah terlatih banget untuk menjawab dakwaan-dakwaan semacam itu.
PAM: "nggak usahlah. biaya sekolah YANG BAGUS sekarang mahal."
pasangan agak tua (PAT): "halahh, masukin sekolah ya nggak usah yang bagus-bagus amat. sekolahin di **** (nyebut nama sekolah swasta terkenal) aja, nggak mahal kok!"
PAM: "ehehehe... yaa nanti kan maunya kuliah di luar negri."
PAT: "iihh nanti anakmu dapet jodoh orang luar loh! emangnya mau dapet mantu orang sono?"
PAM: "eheheheh...."
diam-diam gue mengacungkan jontos tanda solidaritas dan penyemangat buat pasangan agak-muda ini. boleh deh ntar gue contek jawaban-jawaban ngelesnyah. 

ok, ceritanya gitu aja, sih. no moral of the story.

- sumpah gue butuh banget struktur hidup. ketemu halaman ini dan ngerasa masalah gue banghet yang dibahas. for maybe i am a shut in; one thing for sure, my mind IS scattered all over the place and i don't know where to put my hands on.
setelah gue jahit agar sesuai dengan problema dan kondisi gue, nasehat polly bisa disimpulkan seperti ini:

"Escaping is not going to help. Rewarding yourself in moderation will. But you absolutely must
1) exercise, 2) write down your feelings for you and no one else, 3) eat good things, 4) sleep regular hours, 5) get up early and do your work SOMEWHERE YOU CAN CONCENTRATE, 6) expect more from see a therapist, 7) focus, and 8) remind yourself, over and over and over, that things will get better.

THINGS WILL GET BETTER."

so i guess that's exactly what i'm gonna do. atau lebih tepatnya what i need to do.
lihatlah gue saat ini, jam 4 sore dan belum mandi, kurang tidur tapi nggak bisa tidur (siang), berniat megang kerjaan tapi malah loncat ke sana ke sini di dunia maya, mau abcd tapi malah melakukan wxyz. setidaknya bumy udah makan mandi tidur siang main keurus, memang. tapi in general, i'm a huge mess.

jadi tadi gue akhirnya membuat langkah-langkah kecil: nanya soal pembantu pulang-pergi ke tetangga, nyari alamat klinik psikolog yang deket dari rumah, nyiapin jadwal dan dana buat ngegym, nyiapin dana buat ngikutin bumy jemputan, dan nulis ini. still so much work to be done. but this is where i start.

- akhirnya ke kineruku. yep setelah bertahun-tahun penasaran, berniat, dan hanya sampai pada menyambangi hegarmanah 52 tapi ruku-nya lagi tutup, sabtu lalu berhasil juga gue masuk ke situ. kebetulan bisa ketemu juga budi warsito, one of the owners. gue tau budi ini pertama kali dari blognya di jaman dahulu kala, budibadabadu.blogspot.com. awal-awal mbaca, gue mikir "ini orang gilak amat otaknya" i mean he could abruptly associate a word with random songs, books, films, names, or whatever. it's like a huge "library" on his head.
and then i was hooked on the blog dan jadi suka baca tulisan-tulisan lama di arsip blog tsb. tapi tau-tau blog itu inactive. sempat linglung juga sih, bertanya-tanya bisa nemuin tulisan doi di mana lagi... sampai lalu bisa menemukan budi lagi di multiply. kalau nggak salah ingat sih begitu kisahnya... pokoknya lewat multiply itu gue jadi bisa 'kenal' sama beliau dan tau soal ruku/kineruku. siapa sangka ternyata dia punya dan mengelola sebuah perpustakaan in real life. dengan gemes dan penasaran gue membayangkan segilak apa koleksi perpustakaan yang dikurasi oleh THE budibadabadu... sampai tahun demi tahun berlalu dan gaung kineruku as one of the "it" places in bandung semakin terdengar. tapi sedihnya, gue belum juga berhasil sowan.
padahal 'kan hotel concordia semacam 'rumah' gue kalo ke bandung, dan jaraknya cuma selemparan batu dari hegarmanah. tapi ya gitu... siapa bisa menggegas suratan hidup? hahahah.

well, saat akhirnya gue masuk dan liat koleksi kineruku, rasanya ekspresi gue udah kaya muka bumy saat masuk ke toko mainan yang superbesar dan koleksinya menggetarkan dada. etapi mungkin aja gue udah nyengir lebar, garuk-garuk kepala, dan mondar-mandir tanpa gue bener-bener sadari sih. bingung mau mulai dari mana, tapi gue putuskan untuk memulai dari koleksi filmnya. sayang seribu sayang, gue nggak bisa minjem film karena waktu pinjamnya cuma 3 hari... dan nyesel juga nggak bawa laptop supaya bisa sempat nonton di hotel. setelah pandang-pandang dan pegang-pegang koleksi film dan cd, baru deh gue ke koleksi buku. gue mulai dari rak puisi dan hmm mungkin non-fiksi, di situ gue udah mulai 'pusing' karena excited lihat judul-judulnya. setelah mencomot buku "ariel"nya sylvia plath, buku puisi emily dickinson, dan bukunya yb mangunwijaya, gue ke rak fiksi. di situ gue lebih terhenyak lagi. i knew this would happen, makanya gue menyambangi rak fiksi belakangan. because, you know, i'm totally into "delayed gratification" dan udah curiga kalau koleksi buku fiksi di sini bakal bikin gue megap-megap. to cut long story short, buku yang gue pungut di sini adalah "noone belongs here more than you"nya miranda july yang nggak bisa gue temukan di manapun (di jakarta, tangerang) dan "nine stories"nya jd salinger.
sekilas catatan untuk budi: 1) terima kasih sudah mengizinkan gue yang berdomisili di jakarta untuk bisa minjam buku-buku di ruku, and it's an awesome place you're running! 2) tolong kabari kalau movie room sudah available lagi karena God only knows betapa saya kepingin nonton "eliana, eliana" hehe, 3) yang ini baru kepikiran, kalau saya mau meminjam lagi, apa bisa minta tolong dikirimkan ke jakarta?? sadar sih, betapa ngelunjaknya permintaan satu ini xD 


tau-tau teringat salah satu scene kesukaan di "jane austen book club"

yasudahlah sepertinya blogpost ini udah terlalu random. akan lanjut berceloteh di lain hari. :D