19/03/2014

ch-ch-changes!

Dari Kantor ke Rumah: My #ExcitingChange


by vanshe — Monday, March 17th, 2014 at 7:30 am

 

Bulan lalu, #excitingchange menjadi tema yang diusung Female Daily Network. Ini dapat kita lihat lewat makeover tampilan website, dan fokus baru yang diusung Female Daily.
Secara tidak langsung, hal ini menginspirasi saya untuk mengevaluasi berubahnya peran saya dari ibu bekerja jadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Has it also been an exciting change?

Seorang sahabat berkata pada saya, “I think it takes at least a year to adapt with a new place, or a new role.
My friend said that based on her personal experience. Dia meninggalkan tanah air untuk menuntut ilmu ke Inggris selama beberapa tahun.

The first year in UK was rough, she said. Meskipun Inggris adalah negara yang selalu dia (kami!) impi-impikan untuk tinggali suatu hari, dan seperti layaknya penduduk negara dunia ke tiga yang belum pernah tinggal di luar negeri, kami bayangkan segala sesuatu di sana pasti 100 kali lebih baik, lebih keren, lebih menawan… hehe. Tapi tetap saja, beradaptasi tidak pernah semudah memutuskan membeli barang saat Mothercare sedang sale (analoginya emak-emak banget!). Butuh sekitar satu tahun baginya untuk benar-benar ‘menikmati’ segala sesuatu tentang Inggris. Ya makanannya, ya cuacanya, ya budayanya.

And then, as predicted, saat kembali ke Indonesia, she started back at one in terms of adapting. Lucu, ya, padahal sebelumnya seumur hidup dia tinggal di Indonesia.
Kalimat soal beradaptasi itu muncul di kepala saya ketika mencoba mengulas perubahan yang telah dijalani selama, well, tepat setahun ini. Have I been adapting well? Is the change really THAT exciting?
Hmm, untuk menjawab itu, sebaiknya saya reka ulang apa saja yang ada di bayangan saya sebelum benar-benar banting setir.
Sebelumnya, saya bayangkan, jadi IRT itu…

Pasti punya banyak waktu luang! I would have time to attend yoga classes, untuk berkonsentrasi menulis, untuk mencoba banyak resep, melahap banyak buku. Saya juga bisa punya banyak quality time dengan anak.
Namun kenyataannya….

Mengatur waktu supaya semua keinginan sekaligus kewajiban terpenuhi itu butuh skill manajemen waktu yang mumpuni. Mau jadi ibu bekerja kek, mau jadi IRT kek.

The exciting change yang saya hadapi adalah menemukan bahwa dinamika seorang IRT itu sangat berbeda dengan saat masih bekerja. Ketika jadi IRT, we set our own timeline, and create our own schedule. Jam ‘kerja’ IRT nggak jelas dan terencana seperti waktu jadi karyawan. Dan, aktivitas apa yang kita pilih untuk mengisi jam ‘kerja’ tadi juga sepenuhnya tergantung pada kita.

Meskipun akhirnya membuat jadwal mingguan, kelemahan saya adalah masih gampang dikendalikan oleh mood. Kadang seharusnya saya mengajak anak bermain di luar, tapi, kok rasanya males banget. Kadang jadwalnya menulis, tapi, kok saya lebih mood bebenah.

Selanjutnya, perubahan dalam kehidupan sosial.
Sebelum jadi IRT, saya bayangkan, sepertinya bakalan nelongso, nih. Saya akan jarang ketemu teman-teman lama. Dunia juga akan ‘menyempit’ karena berotasi di sekitar rumah saja.

Kenyataannya, memang sih, saya jadi lebih banyak berada di rumah dibandingkan sebelumnya. Bertemu dengan teman-teman lama juga hanya sesekali. Tapi ternyata, circle of friends saya merambah ke lingkungan baru, misalnya ibu-ibu di sekolah anak saya. Berawal dari pertemuan saat mengantar dan menjemput anak, berlanjut ke Whatsapp group, hingga janjian untuk playdate. Di sini, saya menemukan teman-teman yang “setipe” dan nyambung dengan peran baru saya.

Berkat mereka, saya jadi tahu tempat-tempat yang child-friendly di kawasan tempat tinggal, ‘tren’ terbaru di dunia fashion (anak-anak), sampai berbagai rupa jajanan untuk dicicipi.
Sementara soal dunia yang ‘menyempit’ tadi, pada kenyataannya saya menemukan cara untuk membuatnya jadi lebih luas. Caranya dengan lebih intens mengurusi kerjaan sampingan, menemani anak saat les, serta mengikuti kelas-kelas olahraga.

Last but not least, soal pencitraan.

Waktu masih bekerja, saya berikrar pada diri sendiri. Kalau sudah jadi IRT, saya:
1. Nggak mau ngomongin urusan domestik dengan siapapun kecuali suami.
Kenapa tidak? Karena… frankly, to me, it’s boring! I don’t wanna hear the long and winding drama about someone’s ART. Or how your floor hasn’t been mopped, or how your kids are fighting all over the place.
2. Nggak mau ‘tertangkap basah’ bergosip. Karena saat masih bekerja, saya sering mendengar komentar, “Aduh, ngurusin orang lain aja, kayak emak-emak kurang kerjaan!”
Ew… gengsi ‘kan, kalau saya nanti dicap kurang kerjaan a.k.a. hidupnya membosankan hanya karena membahas gosip artis (artis luar negri sekalipun! Hihi).

Ketika sudah menjalani peran sebagai IRT, dan tanpa bisa dihindari membahas urusan domestik dengan orang lain, juga tetap suka membahas gosip artis dan selebtwit, saya jadi sadar, bahwa:
1. Membahas urusan domestik bukan dosa besar, kok. Asalkan teman bicaranya tepat dan membahasnya pun tidak untuk berkeluh-kesah panjang-lebar. Saya malah bisa mendapat wawasan dan saran kalau sharing dengan orang yang tepat.
2. Nggak usah insecure sama pendapat orang kalau tertangkap basah bergosip, atau masak pakai bumbu instan, atau ‘tanpa sengaja’ memukul pantat anak saat dia tantrum sementara kepala sedang senut-senut karena PMS.

In fact, nggak usah insecure soal gimana citra diri ini di mata orang lain, apapun peran yang kita pegang, selama apa yang kita lakukan tidak merugikan orang lain dan sejalan dengan nilai-nilai yang kita anut.
Well, I don’t say bergosip atau memukul anak itu perilaku yang membanggakan, sih.
Tapi, seperti saya ceritakan di sini, we can never be perfect, and we’ll always have ups and downs in life.

Dengan demikian, one thing I learned is to not judge people based on what they show from the outside.
Karena, banyak kok, orang yang bermulut manis, tapi enggan menolong orang lain.
Atau yang hobi mengomentari IRT itu “kurang kerjaan” padahal sebenarnya kepengen jadi IRT.
Atau yang menampilkan kesan sebagai ibu nan paripurna, padahal sadis banget kalau marah-marah sama anak.

Akhirnya, kembali lagi ke pertanyaan di awal, has it been an exciting change? 

Setelah mengulasnya panjang-lebar di sini, saya dapat menyimpulkan: The change feels scary sometimes, not comfortable occasionally, but mostly, it feels exciting. Perubahan ini membawa saya ke tempat-tempat baru, mengajak saya mencoba hal-hal baru. Meskipun pada awalnya serbuan perubahan itu membuat saya kewalahan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saya dapat menentukan apa yang menjadi fokus saya.

Nggak perlu ngotot memasak tiga macam hidangan berbeda kalau memang dari awal tidak suka berlama-lama di dapur.
Tidak usah terus-terusan ngedumel soal ART, karena memang butuh dan terbantu oleh tenaganya.
Berhenti mengkhawatirkan apakah kenalan akan ngomongin yang jelek-jelek soal saya di belakang, karena toh mereka cuma kenalan, bukan mereka yang penilaiannya penting buat saya.

Berkat punya fokus, saya jadi bisa mencurahkan pikiran dan tenaga ke hal-hal yang memang penting buat saya. Dan nyuekin hal-hal di luar itu.
So I think this change has definitely brought me to a new level.

Bagaimana dengan Mommies, apakah baru mengalami exciting change juga? And what did you learn from it? Silakan berbagi di sini. :)

*gambar dari sini dan sini

06/03/2014

flow and adapt

sejak bulan lalu, gue mulai mengikuti kelas yoga. i mentioned it earlier, that i love the ambience and also the teacher's style.
gue ikutin kelas yoga di hari biasa, karena kalau hari libur, susah banget bangun paginya. sekalian buat ngisi waktu 'kosong' pas bumy gak sekolah. jadi ya otomatis bumy gue bawa.
karena bawa bumy, sebelum berangkat yoga, pagi-pagi pasti gue udah riweuh deh nyiapin ini-itu. baju ganti, botol minum, susu, sampe mainan. berhubung si bocah usianya baru 4 tahun, rentang perhatian doi tentunya pendek. pas pertama kali gue ajak, dikit-dikit dia 'berulah.' ya duduk di mat guelah, merengek-rengek, dsb.
dari situ, gue belajar untuk bikin kesepakatan sama doi. doi boleh atau dapet xyz ASAL mau nungguin mama yoga dengan tenang. hehehe. alhamdulillah it works. gue salut juga sih sama kemampuan si bocah memenuhi kesepakatan ini. dan tiap minggu, each of us sort of makes improvements. gue tambahin pesan kalo dia harus main dengan tenang, not making any noise. gue juga dapet ide nambahin cemilan buat bekal dia. dia juga mulai memahami kalo kelas yoga udah mulai, area melantai gak boleh dimasuki lagi. he also learns how to keep himself busy. kadang dia nemu teman main, kadang ya asik aja main sendiri.

anyways, sebenernya yang bikin gue mau nyeritain soal kelas yoga adalah materi hari ini yang menarik banget buat gue. Chandra, sang guru, bilang kalo fokus latihan hari ini adalah menyeimbangkan energi chakra ke-tiga, chakra manipura.
sebelumnya gue ceritain dulu, kalo ada 7 chakra utama di dalam tubuh manusia. btw, gue tau dan menyadur ini dari buku "Panduan Lengkap Yoga"  oleh Pujiastuti Sindhu yang gue beli sebelum mulai ikut kelas, hehe. bukannya overprepared sih, cuma kebetulan nemu bukunya di books 'n beyond dan pas lagi dapet diskon ultah adit :p
back to topic, chakra itu maksudnya pusat energi di dalam tubuh kita. chakra ke-tiga yang jadi fokus latihan ini letaknya di hati, tepatnya kelenjar pankreas dan adrenal. unsurnya api.
nah, Chandra tadi ngejelasin sebelum kita mulai latihan, kalau chakra ini mewakili kualitas wiilpower, atau kemauan keras. it deals with sense of belonging, mental understanding of emotions, self-esteem, personal power, stamina, success, ego (from myyogaonline.com).

nah, attitude yang keluar dari ketidakseimbangan chakra ini bisa berupa perfeksionis, gampang marah, bahkan gila hormat. lebih lengkapnya dari myyogaaonline.com, masalah fisik dan emosional yang bisa muncul akibat ketidakseimbangan chakra ini di antaranya lack of self-esteem, depression, judgmental, anger, rage, hostility, perfectionism, issues with self-image and fear of rejection.... gue tercengang pas dengar itu. loh... kok, mirip-mirip sama yang sering gue 'derita' yah :(((
gue cenderung perfeksionis. meskipun gue curigai ini bawaan orok alias akibat pola asuh. tapi, apapun penyebabnya gue rasa gak gitu penting, yang justru di-highlight adalah gimana caranya menyikapi kekurangan ini (ternyata bener ya ini kekurangan. 'kan kalo lagi interview, pas ditanya apa kekurangan kamu, seringnya dijawab "saya perfeksionis").

lebih jauhnya lagi, karena chakra ini menguasai bagian liver, kidney, adrenals, dan lainnya di seputar ulu hati, disfungsi fisik yang bisa terjadi tuh diabetes, stomach ulcerns, intestinal tumors, colon disease.... glek, gue jadi inget kalo maag gue suka kambuh kalo lagi "banyak pikiran."

begitulah, gara-gara pembukaan dari sang guru, gue jadi menjalani dan memaknai latihan hari ini dengan lebih atentif.
latihan diawali dengan metode pernapasan kapalabhati, atau bernapas menghembus kuat dengan tarikan otot diafragma (perut). setelah gue baca, cara bernapas ini  bermanfaat untuk meredakan stres dan membersihkan pikiran dari energi negatif. disarankan dilakukan oleh penderita diabetes, penyakit jantung, juga tekanan darah tinggi. baru pertama kali gue mencoba pernapasan model begini.

Chandra juga ngejelasin, gerakan yoga yang kita lakuin untuk fokus ke chakra ke-tiga tadi dapat mengobarkan unsur api di dalam diri kita. that's why, dia kasih gerakan memuntir ke kiri-kanan dan Navasana supaya bisa menjaga kobaran api supaya tetep seimbang.
Affi pernah tulis di sini soal makna gerakan yoga favoritnya. it's Virabhadrasana or warrior pose. gue sangat terpukau oleh deskripsinya akan makna gerakan tersebut.
ketika gue mencoba cari tau makna gerakan Navasana or boat pose, gue mendapatkan ini:

"Nava means ship or vessel and asana means seat or pose. The pose represents a boat where the arms are the oars. The capacity for movement and fluidity is where water gets it power.  The essence of our inner journey is seen through the water element.

Boat pose has a beneficial effect on the skeleton, which is governed by the water element.  This pose can help to turn a weak spine into one of support and strength.  It is also said the Navasana tones the kidneys.  This pose will give them greater ability to regulate the fluids in the body. The pathway of the bladder runs up the back of the legs through the buttocks and along the spine.  The bladder official is responsible for the storage of fluids and helps us to flow and adapt to change, like a boat on the waves." (dari sini)

hmm... to flow and adapt to change. i think i need that the most these days.

and i think this is why i like doing yoga. ada maksud dan dasar filosofi dari setiap gerakannya. gue juga suka sama guru gue karena dia ngejelasin semua ini. gak cuma ngajak jungkir-balik yang penting keringetan dan berpose cihuy. chandra juga selalu ngingetin kita to listen to our body, and respect our body. jangan ngejar bisa mencapai pose tertentu dan menghukum badan kita ketika gak bisa mencapainya. tujuan utama kita seharusnya adalah mengenal diri dengan lebih baik, dan berusaha agar diri kita, badan kita, dan orang-orang tersayang kita bisa mendapat manfaat dari latihan yang kita lakukan. esensinya seperti gambar kutipan yang ditaro Chandra di newsletter ini:

i totally love it!

well, meskipun mengikuti latihan dengan lebih atentif, kok rasanya pas ngejalanin tadi, badan gue gempor buanget yahhh. biasanya sih gempor juga, tapi yang ini jauuhh lebih melelahkan. entah apa karena area abdomen dan ulu hati gue emang lagi bermasalah... yang jelas, gue sampe beberapa kali jatohin diri ke child pose saking gak bisa ngikutin gerakan xD

well, i'm zillion miles away from being a yogini at heart atau bahkan beli outfit lulu lemon, sih. but i'm definitely hooked on the classes.