24/11/2014

because adolescence never ends...

Memahami ABG Lewat Diary


by: - Friday, November 21st, 2014 at 7:00 am
In: Activity Mommy Chatter Tweens & Teen 3 responses

Ingat nggak, sih, seperti apa rasanya saat kita masih ABG? Tunggu sebentar, is there any other people out there still use the term “ABG” like i just did? Hihihi…
Saya sendiri, sih, ingat dengan jelas bagaimana rasanya. Tidak hanya berbekal ingatan, tapi saya juga bisa mengenangnya lewat buku harian alias “diary.” Saya masih menyimpan semua diary saya, mulai dari yang pertama, dated way back to 1993! Ternyata ada untungnya juga doyan curhat, saya bisa tinggal membuka buku-buku itu kalau ingin mengenang suatu kejadian.

Nah, beberapa hari yang lalu, tiba-tiba ada dorongan untuk membuka buku harian pertama saya, yang ditulis saat kelas 4 SD sampai 2 SMP. Hmm, meskipun bukan tanpa alasan juga, sih, saya ingat buku itu, pastinya ada faktor editorial letter Lita bulan ini yang bertema “Teenage Dream,” hehehe.

dear diary book(1)Buku harian pertama saya modelnya ‘klasik’ banget – untuk tidak menyebutnya norak. Covernya diisi gambar bernuansa romantis a la majalah remaja yang ngetren di tahun 90an. Buku harian pertama saya terinspirasi dari buku cerita berjudul “Dear Diary” yang waktu itu dikirimkan oleh tante yang tinggal di luar kota. Melalui buku yang dikarang oleh Carrie Randall itu, Lizzie, tokoh utamanya yang seorang ABG juga seperti saya, memperkenalkan saya pada konsep “curhat.” Lizzie menceritakan hidupnya sehari-hari dengan segala drama, keresahan, dan masalah yang sedang dihadapi.

Saat membuka kembali buku harian itu, saya sangat penasaran dan excited seperti akan membuka mesin waktu! Sekitar satu jam berikutnya, saya disuguhkan kembali keseharian saya semasa SD; wajah teman-teman (meski hanya lewat deskripsi); lagu-lagu kesukaan, daaan lainnya. Napak tilas mental ini, selain membanjiri dengan kenangan, ternyata juga menyuguhkan hal-hal yang bisa menjadi rambu-rambu pengasuhan bagi saya saat ini. Apa sajakah itu?

- Ternyata, memperhatikan perasaan si kakak saat punya adik baru itu penting.
Curhat banget, ya? Jadi, waktu saya masih kelas 5 SD, adik saya yang ke-dua (laki-laki) lahir. sementara, saya sudah punya adik perempuan yang ‘hobi’nya berantem terus dengan saya. Nah, waktu itu, saya merasa setiap kali kami berantem, saya yang terus-menerus kena semprot, sementara si adik dibela.

Sepertinya, sih, bukan cuma karena saya mulai puber hingga sering galau sendiri, tapi mungkin juga karena mengalami yang disebut Manda sebagai “Kakak Blues.” Jadi bawaannya sensi dan carper menyambut kelahiran adik baru.
Maunya, sih, ketika nanti Bumy punya adik (entah kapan hihihi), saya sudah tahu cara menyiapkannya menjadi kakak baru, seperti di artikel ini.

- Bullying!
Akhir-akhir ini, berita tentang bullying (sedihnya) sudah kerap kita dengar, ya, Mommies. Sebenarnya, sih, sejak dulupun bullying sudah banyak terjadi. Mommies sendiri mungkin familiar dengan perploncoan yang seolah menjadi ritual di banyak sekolah, bukan? Tapi, ketika masih duduk di kelas 6 SD, bullying menjadi bagian dari hidup saya bukan karena menjadi korban, melainkan pelaku!

Yaa, ini memang bisa dibilang aib. Mungkin karena merasa punya banyak teman, saya jadi suka mengolok-olok teman yang terlihat ‘berbeda.’ Entah itu karena kekurangan maupun kelebihannya. Kalau dipikirkan sekarang, apa mungkin waktu itu saya kurang perhatian, ya, karena Kakak Blues tadi? Hehe… tidak tahu juga, sih. Tapi, menurut saya, kontrol dari sekolah yang minim juga bisa menjadi penyebab terjadinya bullying; baik karena murid yang jumlahnya banyak, perhatian guru yang kurang, maupun tidak adanya sistem untuk menangani bullying.

Tapi, waktu jadi murid SMA, seperti Kiki, saya merasakan di-bully. Biasalah, oleh kakak-kakak kelas yang sama-sama perempuan. Hal itu menyadarkan saya, bahwa meskipun tidak melibatkan kekerasan fisik, perasaan diteror dan juga diolok-olok TERNYATA didn’t hurt any less. :( Mungkin itu yang membuat saya jadi tidak mau mengulang tindakan bully ketika sudah jadi kakak kelas.

Kini, sebagai orangtua, tentunya saya tidak mau anak mengalami bullying. Menurut saya, anak perlu sering-sering diajak berempati agar memedulikan perasaan orang lain. Tapi, seperti Kirana, saya juga mengajarkan anak agar dapat membela dirinya jika di-bully.

Selanjutnya: Naksir-naksiran. Uhm!


diary*Gambar dari sini
- Yang satu ini ciri khas ABG banget, yaitu sudah mulai memerhatikan lawan jenis dan, pastinya, ingin diperhatikan.
Kalau menilik pengertian masa puber, ini berarti saat-saat di mana seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Biasanya dimulai di usia 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. (Wikipedia)

Nah, jadinya wajar ‘kan kalau saya sudah mulai melirik lawan jenis saat kelas 5 SD? Hahaha… Dari yang saya baca di diary, sih, penyebab rasa suka itu karena si teman lucu atau seru diajak ngobrol, atau yah, semata-mata ‘cakep’ di mata saya waktu itu. xD

Pastinya bisa ditebak kalau urusan ini saya rahasiakan. Nggak kebayang saya bisa ngobrolin ini dengan orangtua saya. Tapi, saya maunya, sih, anak saya nanti mau bercerita pada saya (atau papanya, deh) jika dia sudah mulai naksir cewek, hehe. Sekadar suka would be harmless, I think. Justru kalau orangtua tahu, bisa menjadi jalan pembuka untuk diskusi soal seks dan seksualitas.

Tapi, sepertinya saya sudah mulai menyiapkan diri dari sekarang untuk diskusi ini, nih, Mommies. Karena seperti yang pernah dibahas di artikel ini, 10 is the new 16. Yup, anak-anak kita akan jauh lebih cepat ‘dewasa’ daripada kita dulu!

- Tentang memilih ekskul atau les di luar sekolah.
Nah, berhubung saya banyak bercerita soal kegiatan saya sehari-hari di buku harian, saya jadi teringat apa saja ekskul dan les saya waktu itu. Ternyata, saya dulu sebal banget kalau disuruh les menari oleh ibu. Sekarang saja, membayangkan saya yang kikuk dan pemalu ini menari membuat geli sendiri. Dulu, ibu saya mengikutkan saya les menari karena melihat adik perempuan saya luwes banget ketika menari dan sepertinya sih ingin saya lebih luwes dan percaya diri seperti dia. But to me, having to follow the dance course was excruciating. 

Lalu saya juga dipanggilkan guru privat ke rumah untuk les matematika. Saya baca kalau saya sebal banget
harus les ini dan cemberut sepanjang les pada guru saya. Poor teacher! 

Tapi sebaliknya, waktu itu saya senang banget melakukan kegiatan yang aktif dan outdoorsy seperti bersepeda, berenang, main kasti, main galasin/gobak sodor (sampai membentuk tim galasin “all stars” ketika SD! Hahaha), dan… jadi pramuka. Oh ya, i was a dedicated girl scout sampai beberapa kali ikut kemping.

Nah, membaca soal ini dari buku harian, saya jadi diingatkan untuk nggak memilihkan aktivitas untuk anak ketika dia sudah bisa membangun preference-nya sendiri. Kebetulan, beberapa hari lalu saya mendengar siaran radio pagi yang membahas soal karakteristik Generasi Y (1978-1994). Gara-gara dibesarkan dalam kondisi ekonomi yang stabil bahkan cenderung menanjak, anak-anak generasi ini jadinya tahu gampang aja. Apa-apa sudah disediakan dan dipilihkan. Misalnya saja pilihan sekolah dan les.
Gen Y sudah dipilihkan perlu ikut les apa saja yang bisa menunjang kemampuannya oleh orangtuanya; difasilitasi kalau menginginkan barang x, mempelajari skill y, dan lain-lain. Otomatis, ‘ciri khas’ generasi ini adalah maunya serba-instan dan kurang berjuang. Er… kalau berkaca pada diri sendiri, yaa memang (banyak) benarnya, siih, hahaha.

Saya simpulkan dari siaran itu, sebagai orangtua, kita tak perlu sedikit-sedikit menyodorkan sesuatu pada anak,  atau hanya memberi instruksi pada mereka. Selalu tanyakan pendapat mereka, dan libatkan mereka dalam proses. Kiat lengkap membantu memilihkan ekskul anak bisa disimak di artikel ini, ya, Mommies.

- Growing pains are inevitable.
Saya saksikan itu lagi lewat buku harian. Saya bergerak dari zona nyaman selama 6 tahun di SD ke SMP yang ‘asing’ dan berisi norma-norma baru. Teman-teman berubah; yang tadinya nyambung bisa tiba-tiba sombong. Mood swings membuat saya jadi sering ‘berantem’ dengan orangtua. Apalagi soal penampilan fisik… ugh, badan seolah membengkak, jerawat bermunculan; semua perubahan akibat pubertas yang kerap bikin rikuh. Above all that, I was also somewhat trying hard to “fit in” – ingin punya gaya berpakaian yang ‘benar,’ ingin tahu hal-hal yang keren, juga ingin bersikap ‘politically correct’ untuk standar pergaulan anak SMP, hehehe. Kalau dikenang sekarang mungkin terkesan sepele, tapi saat itu, it was the life I lived in. It didn’t feel comfortable.

Kalau saya ingat-ingat, sih, sepertinya orangtua saya berusaha sebaik yang mereka bisa untuk mendampingi saya melewati masa-masa itu; mereka memang tidak mendampingi secara emosional (understandable, mengingat ciri khas kepribadian generasi mereka), tapi mereka melakukan hal lain yang kalau saya nilai sekarang memang diperlukan: Mereka ‘mendoktrin’ saya dengan nilai-nilai, memberi batasan tanpa mengekang, juga memberikan konsekuensi jika perlu.

I think that’s something I’m going to imitate.  

Karena jika dinilai sekarang, sepertinya saya bisa melalui turbulensi masa puber dengan baik-baik saja. Maksudnya, saya bisa melanjutkan pendidikan, tidak memiliki masalah dengan kejahatan, narkoba dan sejenisnya, dan bisa dibilang…  pada akhirnya bersahabat dengan kedua orangtua. So I guess they raised me just fine.

Selanjutnya: Buku diary bukan sekedar curhat!

 
Girl Writing in Diary*Gambar dari sini
Menggali masa ABG melalui buku harian juga memberikan insight tentang betapa bermanfaatnya menularkan kebiasaan curhat ini pada anak-anak kita. Sebuah artikel di Huffington Post tahun 2013 menyebutkan bahwa 83 persen anak perempuan berusia 16 sampai 19 tahun masih mendokumentasikan hidup mereka di buku harian meskipun blog dan social media semakin populer. Dengan paper and pen, buku harian memenuhi kebutuhan untuk mengobservasi hidup dan mencurahkan emosi. It’s a tradition that keeps going strong. Tidak mengherankan, karena menulis buku harian atau jurnal memberikan banyak manfaat, di antaranya:

- Menuturkan perasaan dan pemikiran membuat kita melihatnya dengan lebih jelas.
- Membuat kita lebih mengenal diri sendiri. Dengan menulis secara rutin, kita bisa mengetahui apa yang membuat kita merasa senang dan percaya diri. Kita juga bisa lebih memahami situasi sulit atau orang-orang yang ‘toxic’ untuk kita, dan ini penting bagi kesejahteraan mental kita.
- Mengurangi stres. Menuliskan kesedihan, kemarahan, dan emosi negatif lain membantu mengurangi intensitas perasaan itu.
- Menjadi cara pemecahan masalah yang lebih efektif. Umumnya, kita memecahkan masalah dengan perspektif otak kiri yang lebih analitis. Tapi terkadang, jawaban dapat ditemukan dengan mengolah kreativitas dan intuisi yang khas otak kanan. Menulis membuka jalan untuk kemampuan ini.

Bagi remaja sendiri, manfaat emosional dari menulis jurnal dirangkum oleh para periset sebagai berikut:
  • Menyediakan a sense of control
  • Memungkinkan remaja merencakanan masa depan dengan lebih baik
  • Mengingatkan untuk bersyukur
  • Mengentaskan stres yang berkepanjangan
Kita bisa mendorong anak untuk membuat jurnalnya. But, sometimes the best way to support is to step back. Biarkan anak mengenali kebutuhan emosinya sendiri, berikan mereka waktu untuk mengisi jurnal, dan biarkan mereka menuangkan ekspresi maupun selera artistiknya lewat jurnal tersebut.

Namun jika anak belum berminat memiliki jurnal atau buku harian, kita dapat mencoba menumbuhkan minatnya dengan memberikan ide-ide untuk menjadi bahan tulisan mereka melalui beberapa pertanyaan, seperti
  • Apa saja ketakutanmu?
  • Apa yang ingin kamu capai dalam hidup?
  • Apa saja pertanyaan-pertanyaan yang ingin kamu tanyakan?
  • Tuliskan 3 hal baik yang terjadi hari ini.
  • Tuliskan 3 hal yang kamu inginkan terjadi di masa depan dan bagaimana mencapainya.

Apa Mommies juga punya kenangan yang berkesan seputar buku harian? Atau apakah anak-anak Mommies sudah ada yang suka curhat di buku hariannya sendiri? It must be very interesting. :)

Referensi:
http://www.homeschooling-ideas.com/
http://www.huffingtonpost.com/
http://psychcentral.com/
http://www.parentscanada.com/

21/11/2014

him

Gara-gara baca artikel "Doa Orangtua, Pelindung Tanpa Batas," selain terharu, jadi (makin) terkesan sama si pendamping hidup selama hampir-7-tahun-inih. Tiap kali abis dapat rejeki, kesenangan, atau hal-hal baik menimpa, komentarnya pasti,
"Ini pasti gara-gara doa nyokap kamu, deh."

T___T

Coming from a person who was left by her mother when he was merely 2 yo, it's a bit heart-wrenching.
Your mother must've been so proud of you if only she were here today.

19/11/2014

a dose of reality check

Mengukur Keinginan Dan Kenyataan

by: - Tuesday, November 11th, 2014 at 7:00 am
In: Mommy Chatter Parenting no response

Reality Check
Suatu hari di akhir pekan, saya dan adik perempuan saya asyik mengobrol tentang berbagai hal. Mulai dari ‘keseruan’ hari-harinya sebagai ibu baru, sampai membahas kabar orang-orang yang kami kenal. Pembicaraan kami lalu sampai ke kabar seorang Om.

Om ini tahun depan akan memasuki masa pensiun, namun ia mengambil keputusan yang menurut kami agak drastis. Ia memasukkan anaknya ke universitas swasta yang terkenal mahal, ke fakultas yang juga terkenal sulit. Yang kami sayangkan, sebelumnya si anak sudah mencoba tes masuk ke fakultas yang sama di berbagai universitas – negeri maupun swasta – dan dinyatakan gagal di semua tempat tersebut. Menurut kami, kok keputusannya tetap memasukkan anaknya ke fakultas itu terkesan ‘maksa’ banget, ya?

Saya jadi menyimpulkan, bahwa “moral of the story” yang bisa kami petik – selain bahwa hobi bergosip sebaiknya jangan dipelihara, hehehe – adalah sepertinya si Om perlu reality check, deh. Kenapa meskipun sudah disodorkan fakta bahwa kemampuan anaknya tidak memadai, tapi ia masih tetap ngotot juga? Apa dia tidak bisa melihat apa yang orang lain (baca: pihak yang menguji kemampuan anaknya) lihat?

Tapi, sebelum saya bertanya-tanya lebih jauh dan bersikap menghakimi (uhuk!), saya berhenti sejenak untuk berkaca pada diri sendiri. Apa iya saya juga suka terlewat melakukan reality check, ya?
Reality check yang saya maksud adalah melihat suatu hal atau kondisi sesuai dengan kenyataan. Tanpa tertutupi ‘kabut’ ekspektasi, optimisme buta, mispersepsi, atau bahkan “excessive idealism” akibat kurangnya pemahaman atas apa yang terjadi.

Ibu saya sering sekali berkata, “Bayang-bayang sepanjang badan.” Artinya kurang-lebih dalam mengharapkan sesuatu, hendaklah sesuai dengan keadaan dan kemampuan. Seringnya, sih, ibu saya memakai peribahasa ini untuk menasihati saya dalam soal berbelanja, hehehe. Lagi-lagi, ketika sudah sekian tahun menjadi orangtua, saya baru memahami manfaat dari kata-kata dan tindakan orangtua saya dahulu. Ternyata nasehat ini pas banget untuk reality check.

Misalnya saja, seperti Om tadi, apa saya juga suka terlampau berlebihan menilai kemampuan anak saya? Memang sih, manusiawi kalau sebagai orangtua kita suka susah bersikap objektif terhadap anak sendiri. Baik dalam kelebihan, maupun kekurangannya.
Bagi orang lain, hal yang kita anggap sebagai kelebihan anak mungkin terlihat biasa-biasa saja, tapi bagi kita, sangat membanggakan. Begitupun kekurangannya; orang lain mungkin beranggapan kita tak perlu memusingkan hal yang menjadi kekurangan di diri anak, tapi bagi kita, bisa menjadi masalah besar.
Apa mungkin sudah menjadi ‘bawaan’ orangtua untuk memakai kaca pembesar setiap kali menilai anak sendiri, ya?

Dalam hal kemampuan anak, berhubung anak saya masih balita, yang menjadi concern masih seputar kemampuan kognitif dan motoriknya saja, memang.
Tapi, apakah saya bisa menilai bakat atau kemampuan anak saya dengan adil?
Misalnya, saat anak-anak lain sudah jago berenang sementara anak saya masih takut menyemplungkan kepalanya ke kolam, apa saya akan tergoda untuk memaksanya masuk ke kolam renang?
Atau ketika anak laki-laki lain hobi bermain bola sementara anak saya memilih duduk tenang crafting, apa saya akan tetap menyodorkan bola kaki padanya?
Ketika anak-anak lain seusianya sudah lancar membaca sementara ia belum, apa saya akan parno dan men-drill-nya dengan berbagai metode instan?
Kalau seperti itu, apakah kira-kira saya akan bisa menemukenali bakat dan ketertarikan sejati anak?
Kalau saya kerap membandingkannya dengan anak lain, apakah itu adil baginya? Don’t we need to see our child as a whole individual, dengan keunikan dan kondisinya masing-masing?
Selain itu, apakah keinginan saya untuknya itu murni karena kepedulian saya terhadap dirinya, atau saya hanya tidak ingin dipandang sebelah mata oleh ibu-ibu lain?

Nah, jleb deh, yang ini. Apalagi yang harus kita cek?


family_reading

Lalu, jika terjadi masalah dalam diri anak, entah itu menyangkut dirinya sendiri atau menjadikannya berkonflik dengan anak lain, apakah saya akan dengan emosionil menunjuk berbagai faktor dan juga pihak-pihak untuk disalahkan? Atau saya buru-buru mengecek adakah tindakan saya yang berkontribusi terhadap masalahnya itu?
Tak hanya itu, seberapa sering, sih, saya bisa bersikap netral ketika anak menghadapi konflik dengan temannya? Lalu, apakah saya bisa dengan kepala dingin mencari tahu apakah anak butuh solusi, mencari bemper, atau hanya perlu tempat curhat ketika ia sedang menghadapi konflik?
Belum lagi jika ‘masalah’ di diri anak membuatnya merugikan orang lain, apa saya bisa legowo meminta maaf, mengambil tanggung jawab sebagai primary caretaker, dan mengoreksi diri? Atau malah in denial, berkata, “Ih, anak saya NGGAK MUNGKIN kayak begitu!”?

Dan, jika masuk ke ranah pilihan pribadi maupun keluarga; seberapa banyak yang dibuat karena memang perlu, dan berapa yang hanya karena ikut-ikutan orang lain?
Baik pilihan yang terkait anak seperti pilihan sekolah, pilihan ekskul atau les, maupun pilihan-pilihan untuk diri sendiri. Apakah kita sudah mampu memilih secara mandiri?
Can we afford what we buy? Do we run after what we really need? But, first and foremost, do we know what we really matters to us?

Yang terakhir, apakah kita sudah tahu metode bagaimana yang paling tepat namun juga paling nyaman diterapkan untuk mendidik anak?
Sudahkah kita tahu karakteristik generasi anak-anak kita, yaitu generasi Z?
Apakah kita sudah mendidik mereka sesuai zamannya?
Masa di mana anak-anak terhubung sejak mereka lahir ke seluruh dunia melalui internet. Masa di mana online activities akan menjadi bagian tak terelakkan dari keseharian mereka; mereka “bertemu” dengan teman-temannya secara online, namun mereka juga terekspos pada celah-celah kelam dunia maya yang diisi oleh online bullying, sexual predator, dan sebagainya.
Sudahkah saya membatasi screen time agar mereka tidak asyik memeloti gadget sementara kami sedang duduk bersama-sama di meja makan?

Waduuh, panjang sekali, ya, daftar pertanyaan untuk “reality check” saya, Mommies. Tapi tentulah tidak mungkin semuanya kita tanyakan all at once.
Dari yang saya baca, ada baiknya reality check dilakukan secara berkala namun berkelanjutan, misalkan saat “family meeting” mingguan atau bulanan. Momen ini bisa menjadi ajang diskusi dengan pasangan, maupun dengan anak-anak saat mereka sudah paham.
Saat itu, kita bisa mengajukan topik untuk dicek sesuai situasi, misalkan saat akan membuat sebuah pilihan. Tak hanya seputar pengasuhan, kita juga bisa melakukan reality check terhadap hal-hal lain, misalnya kesehatan, aturan di keluarga, keputusan finansial, dan lain sebagainya.

Lalu, apa yang diperlukan dalam melakukan reality check?


photography-quotes-reality-welcome-to-reality-favim-com-581101

Kalau menurut saya, sih, kita perlu:

1. JUJUR pada diri sendiri; tentang kondisi yang dihadapi, tentang permasalahan atau halangan yang ada, maupun tentang keterbatasan diri.
2. Buka mata, hati, dan telinga. Banyak melakukan “riset,” dengan cara meng-update informasi lewat  browsing, membaca buku, mengikuti seminar, mendengarkan talkshow di radio, dll.
3. Jika perlu, meminta pendapat orang lain yang bisa bersikap objektif dan profesional di bidangnya.

Tapi, sebelum repot-repot melakukan reality check, tentu saja sebaiknya kita pahami dulu, apa, sih, manfaatnya?
Dengan secara berkala melakukan reality check, kita bisa:
  • Menyesuaikan keputusan yang diambil dengan nilai-nilai keluarga maupun long-term goals keluarga.
  • Mengetahui kemampuan dan bakat sejati anak by seeing our children as they are. Also by seeing kids as kids. Jadi, kita mengarahkannya ke aktivitas maupun stimulasi yang tepat agar perkembangannya dapat optimal.
  • Menemukenali masalah yang dihadapi atau pada diri anak, sehingga dapat cepat mencari cara mengatasinya.
  • Mengulas pilihan-pilihan kita, baik itu sikap mental maupun perilaku; sudah berapa banyak yang sesuai ‘target?’ Berapa yang belum? Apa halangan untuk mencapainya? Saya sendiri suka melakukan ‘review’ dengan rumus “Happiness = Expectations – Reality,” lalu ‘menghitung’ seberapa besar selisihnya, hehehe.
  • Mengajak anak aware pada permasalahan yang sedang dihadapi oleh keluarga, maupun dunia dalam skala kecil (sesuai dengan yang dihadapi). Tapi, tentu saja kita perlu membahasnya dengan nuansa yang positif dan optimis. Ajak anak mencari solusi permasalahan yang dihadapi, awali kalimat dengan, “Meskipun…” lalu menggiring diskusi ke arah sikap aktif dan optimistis.
Jadi, tidak ada ruginya, bukan melakukan reality check? Daripada reality bites yang terjadi duluan, hehehe.
“Sometimes the most horrendous thing a person can see, is all the hidden things inside them, the things they’ve covered, the things they choose not to look at. And you’re not hurting them, you’re setting them free.” ― C. JoyBell C.
Gambar dari sini dan sini.

10/11/2014

head over feet with montessori


akhir-akhir ini, seperti gue tulis di blogpost ini, metode montessori jadi salah satu item di daftar "current favorite things" gue. gue pertama kali tahu secara agak mendalam tentang metode ini saat ngebaca buku "Membesarkan Anak Hebat dengan Metode Montessori." sebelumnya, kesan yang gue dapat dari kata montessori adalah metode pendidikan yang banyak dipakai di preschool tapi gue nggak tau dengan jelas seperti apa; gue malah berpikir montessori terkait dengan suatu agama tertentu. heuheu padahal sebenernya mah melenceng jauh dari itu. 

antusiasme yang gue rasakan terhadap montessori kembali meletup-letup dikarenakan kepindahan bumy ke sekolah yang menerapkan montessori secara full, just a month ago. jujur aja, saat gue survey ke sekolah ini, apa yang gue tau tentang montessori rasanya udah menguap semua. ini gue sadari ketika wakil kepala sekolah mengawali pembicaraan dengan menanyakan apa yang kita tau tentang metode montessori. karena merasa "seharusnya gue tau, nih! 'kan udah pernah baca bukunyaa," gue jadi merasa tertantang ditanya begini. dan jatohnya mungkin jadi ngejawab dengan agak sotoy hahaha. 

tapi, untung wakepseknya bertanya bukan buat mengassess kita sebagai orangtua hehe, tapi cuma untuk mengetahui sejauh apa yang kita tahu tentang metode tersebut. syukurlah gue malah jadi diingatkan lagi tentang apa dan bagaimana metode montessori itu; it's only predictable kalau efek pasca membaca buku "Membesarkan Anak Hebat dengan Metode Montessori" tahun 2011 lalu kembali terulang: gue jadi terpikat dan jatuh cinta all over again sama metode ini.  

sebelum gue kilas balik metode montessori itu seperti apa, mau gue ceritain dulu kalau ke-jatuhcinta-an gue ini seolah berbalas... hahaha. awal minggu ini, gue tiba-tiba dapet undangan dari sekolah bumy yang sekarang untuk mengikuti seminar berjudul "Montessori Education: How It Prepares for the Future Life." dari acara ini, para orangtua bisa mendapat gambaran lebih jelas lagi tentang montessori, apa efeknya terhadap anak, apa makna dari proses pendidikan, dan juga perbedaan metode montessori dengan sekolah konvensional. tentunya gue antusias banget untuk ikut!

nah, untuk bisa nyeritain isi seminar yang gue ikutin itu, kayaknya perlu dibahas lagi montessori itu sebenernya apa dan bagaimana. montessori ini diciptakan oleh Dr. Maria Montessori (1870-1952), seorang pendidik dan physician dari Italia yang emang mencurahkan usaha untuk mengembangkan filosofi pendidikan yang paling efektif buat anak-anak. di buku yang gue sebutin di atas, dijelasin gimana awalnya Dr. maria montessori memperhatikan bahwa anak umur 3-4 tahun senang mempelajari keterampilan hidup sehari-hari, seperti merawat kebersihan lingkungan sekolah, menyiapkan makanan, dan mengurus dirinya sendiri. nah, ketika anak-anak diajak melakukan hal-hal kecil yang berkaitan dengan keterampilan hidup itu tadi, anak-anak merasakan harga dirinya meningkat. in short, untuk membesarkan anak yang percaya diri, kita perlu membuatnya mandiri.

filosofi montesori berdiri di atas keyakinan bahwa pendidikan harus berjalan paralel dengan kondisi unik masing-masing anak. metode montessori menghormati anak dengan menerima mereka sebagaimana kekuatannya, minatnya, kebutuhannya, maupun gaya belajarnya. dengan demikian, metode ini memandang anak sebagai entitas yang unik dan menjadikan value "respect" sebagai landasan untuk mendidik
aktivitas montessori sendiri berpusat pada anak, atau student-centered. di montessori, anak-anak bebas memilih aktivitas; mau berjalan-jalan sendiri, atau berkreasi sendiri. guru 'hanya' berperan sebagai pemandu bagi anak untuk memastikan mereka menguasai skill sesuai tahap perkembangannya, dengan membantu memilihkan aktivitas yang menghadirkan tantangan dan eksplorasi baru.

trus, apa aja yang diajarin sih, di sekolah dengan metode montessori?
ternyataaa, montessori itu nggak cuma ngajarin practical life skills dan sensorial studies semata. diajarkan juga bahasa, matematika, dan culture yang terdiri dari science dan geografi. dan semua subjek pelajaran ini saling terkait, nggak berdiri sendiri, sehingga anak bisa punya pemahaman yang menyeluruh tentang dunia dan hal-hal di sekitarnya. 
ciri khas lain dari montessori adalah mixed-age classroom, yaitu kelas anak dibagi-bagi per kelompok usia dalam rentang 3 tahun, yaitu 3-6 tahun, 6-9 tahun, serta 9-12 tahun. 

kenapa sih perlu dicampur usianya gini? karena dalam kondisi berbeda-bedanya usia serta kemampuan tiap anak, akan tercipta atmosfer saling membantu. anak yang lebih besar dapat menjadi mentor bagi anak lain yang lebih kecil; atau anak yang meskipun usianya lebih muda tapi sudah menguasai suatu kemampuan tertentu, dapat membantu anak-anak lain yang belum menguasai kemampuan tersebut. dari situasi saling membantu ini, anak yang berperan sebagai mentor atau penolong bagi anak lain dapat mengasah kemampuannya dan percaya dirinya akan meningkat. sementara itu, anak yang dibantu akan secara alamiah termotivasi untuk menguasai kemampuan yang diajarkan. 

kalau dari basil obrolan dengan wakepsek, mixed-age system ini juga efektif untuk menghindari potensi terjadinya bullying, lho. sudah ada penelitian ilmiah yang menunjukkan kalau mixed-age system ini menumbuhkan attitude yang positif di diri anak terhadap sekolah, dirinya sendirinya, dan juga orang lain dibandingkan sistem same-age. dari kondisi saling membantu tadi, akan tumbuh empati di dalam diri anak, karena ia menyadari bahwa sebelumnya ia bisa menguasai kemampuan tertentu, ia berangkat dari kondisi "tidak tahu" terlebih dahulu. 

hal lain (dari sekian banyak 'kehebatan' metode ini) yang bikin semakin tertarik adalah gimana anak diarahkan untuk jadi lifelong learner, mandiri, sekaligus tau apa yang mau dia achieve dalam hidup.

nah, pas nulis ini, gue jadi teringat catatan yang gue buat di tahun 2011 dulu, saat bumy usianya belum genap 2 tahun tapi gue udah mikirin metode pendidikan yang gue inginkan buat dia. visi yang gue susun waktu itu di antaranya ingin bumy menjadi manusia yang
- soleh
- mandiri
- have a "can-do" attitude
- penuh cinta kasih terhadap sesama dan lingkungan
- knows what he wants from life (DANG!) 

makdarit, dalam memilih sekolah yang bisa membantu mewujudkan visi tadi, gue membayangkan sekolah yang:
- memberikan dasar pengetahuan agama
- memberikan stimulasi sesuai milestone anak
- mengajarkan anak untuk 'survive' di dunia orang dewasa (mengajarkan basic life skills, tata krama).

ndilalah, kok senada-seirama dengan apa yang dibeberkan tentang metode montessori tadi? udah gitu faktor pengetahuan agamanya kebetulaaaan banget didapetin juga karena sekolah ini menerapkan montessori dengan islamic values. ya Allah, amazed sendiri ketika menyadarinya. 

btw, tadi 'kan gue bilang kalau sekolah Bumy ini ngadain seminar untuk memahami lebih jauh tentang montessori. seminar kemarin diawali dengan menggali apa yang orangtua pahami tentang makna pendidikan, kemudian sekolah sebagai fasilitator merangkum bahwa pendidikan berarti menjadikan anak terlibat dengan dunia dan lingkungan sekitarnya; pendidikan juga membantu anak mengembangkan kemampuan yang dibutuhkannya untuk memperoleh manfaat terbaik dari hidup.



selanjutnya, berhubung secara khusus seminar kemarin ini ditujukan bagi orangtua anak-anak level preschool, dijelasin kalau pada anak berusia di bawah 6 tahun, ada 2 karakteristik utama yaitu absorbent mind dan sensitive period.

1. absorbent mind 
artinya anak menyerap segala hal, tanpa disadarinya. yes, just like a sponge. hal-hal seperti bahasa, pengetahuan, dan aspek-aspek sosial (how we treat others, how we speak to others) dipelajari dan ditiru oleh anak. anak menganggap apa-apa yang diserapnya sebagai hal yang dibutuhkan bagi mereka untuk survive di dunia, dan mereka mengadaptasinya sebagai values. oleh karena itu, dalam montessori, kind, loving, respectful and positive environment dipandang sangat penting untuk disediakan bagi anak.

2. sensitive period atau masa peka
anak memiliki yang disebut masa peka, yaitu masa untuk mempelajari suatu keterampilan dengan cepat dan hampir seperti tanpa usaha, di mana kondisi tersebut bersifat sementara. 
dengan ada atau tidaknya stimulasi, setiap anak memiliki kapasitas untuk mengajar dirinya sendiri. potensi itu sudah ada di diri anak, bersama kemampuan mengikuti program pembelajaran yang disediakan alam dan membangun fondasi bagi potensinya. in short, anak itu nggak pernah berhenti belajar karena mereka memiliki dorongan dari dalam dirinya untuk menguasai keterampilan tertentu. 
dorongan itu tadi akan membuat mereka akan melakukan keterampilan yang mereka ingin kuasai itu dengan penuh konsentrasi dan berulang-ulang, dan begitu sudah menguasai, mereka akan puas dan bergerak ke keterampilan baru. pernah 'kan ngalamin saat anak lagi 'terobsesi' bikin gambar pesawat, misalnya, maka mereka akan menggambar itu berulang-ulang dan di mana-mana? atau tau-tau mereka doyan sama mainan atau cerita tertentu, maka akan mainan dan cerita ituuu aja yang pengen diulik berulang-ulang.

kepekaan itu sendiri dapat dibedakan menjadi
1. sensitivity of order. 
anak perlu kondisi di mana hal-hal terjadi sesuai urutan, jadi mereka bisa merasa aman untuk mengekplorasi.
2. sensitivity of senses. 
anak menggunakan seluruh inderanya untuk mendapatkan informasi tentang lingkungan sekitarnya. informasi ini kemudian akan dikategorikan sehingga mereka dapat beradaptasi. 
3. sensitivity of language. 
4. sensitivity of movement. 
5. sensitivity of small objects. 
6. sensitivity ofsocial aspects. 

masa peka sendiri berbeda-beda, misalnya usia 0-6 tahun adalah masa peka keterampilan bahasa, 2-6 tahun untuk musik, keramahan dan sopan santun, serta panca indera, dst. 
nah, dari informasi ini, diharapkan orangtua dapat mengetahui bagaimana cara mendukung perkembangan anak. yang paling penting, don't ever rush a kid! baik itu dengan menyuruh anak melakukan sesuatu yang belum dia kuasai, misalnya nyuruh dia nulis dengan rapih, atau makan tanpa berantakan *glek* maupun nggak ngeburu-buru anak saat melakukan sesuatu, contohnya pas udah mau telat sampai di sekolah, karena anak pakai sepatunya lammma, orangtua yang, "ayo cepat cepat! euhh kamu lama, deh, udah sini mama pakein aja!" *tertunduk malu*


balik lagi ke visi buat anak dalam montessori, agar ketertarikan anak untuk belajar terus tumbuh sepanjang hidupnya, kita perlu memperlakukan anak penuh respect dan menstimulasi mereka sesuai masa pekanya. kita juga perlu menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi mereka untuk bereksplorasi. jadi inget catatan yang gue bikin tentang gimana melatih anak agar mandiri; disebutin hal yang sama di situ, ya nggak heran, karena motif untuk membahas soal kemandirian juga muncul akibat observasi dari sekolah bumy yang sekarang.

visi yang terakhir yaitu agar anak tahu apa yang mau dia achieve dari hidup, dicapai melalui cara montessori mendorong anak membuat sendiri 'target' keterampilan yang ingin dicapai alih-alih menjejalkan daftar keterampilan yang harus dikuasai anak.  anak juga diajak melakukan refleksi secara berkala agar memiliki sense of ownership terhadap target personalnya. 
aseli, ini poin penting banget yang gue ingin bumy miliki. kenapa? karena gue merasa kalau gue bukan orang yang tau apa yang mau gue achieve dalam hidup. erratic, kalau kata Rene Suhardono. maunya ngegas aja, ngebut aja, tapi entah mau sampai ke mana (gen Y buanget!)
and it's so damn tiring! this erratic behavior. iyalah, energi udah dikeluarin untuk jadi yang tercepat dan terdepan, tapi begitu sampai di titik terdepan itu, baru sadar kalau dirinya nyasar. hahaha. kalau di montessori, anak diajak mikirrr dulu, ngegodok dulu apa yang mau mereka capai, mau ke mana mereka, baru deh disusun langkah demi langkah untuk mencapainya. 

kayak kata-kata dari akun @therealbanksy, "Direction is so much more important than speed. Many are going nowhere fast." 
ouch!

anyways, tulisan ini murni dibuat dengan latar belakang kekaguman gue terhadap metode montessori, bukan terhadap sekolahnya semata, hehehe. so far sih gue masih dalam fase "wait and see" sama gimana perkembangan bumy sejauh ini. jadi, jangan dianggap sebagai rekomendasi, yaa :))

oh ya ada video menarik tentang perbedaan antara metode montessori dengan metode konvensional, kebetulan kemarin di sekolahnya juga disetelin video yang sama. 
mencoba berimbang, untuk selanjutnya mungkin gue akan mencoba mencari tahu apa kekurangan atau concern terkait metode ini, yaah. 

07/11/2014

the one with museum and some thoughts

ternyata masih ada beberapa catatan dari weekend lalu yang tercecer.

- kita ke museum nasional, untuk pertama kalinya! hehe kempi yah.... kunjungan ke situnya juga nggak direncanain banget. beberapa hari sebelumnya, gue yang emang follow psikolog muda Devi Raissa di Twitter dapet info kalau dia bersama Rabbit Hole ID mau launching buku anak-anak karangannya di Festival Dongeng Indonesia. btw Rabbit Hole ini pertama kali gue tau dari flyernya di Rimba Baca. jadi mereka itu penyedia pembuatan buku anak-anak; bisa customized, loh, bukunya, dan suka ngadain storytelling juga. Devi ini penggagasnya kalau nggak salah - karena dulu gue follow dia untuk tau jadwal yoga anak-anak di Rimba Baca yang mana dia jadi pengajarnya. anyways, ternyataa kebetulan banget Lita ngeforward email undangan acara launching buku ini yang ditujukan untuk Mommies Daily. ya langsung aja gue mengajukan diri buat dateng, hehe...
acaranya ternyata seru, banyak storytelling buat anak, dan ada workshop juga yang mengiringi acara launchingnya. 



 

btw, coba liat website Rabbit Hole ini deh, ada cerita interaktifnya. keren!



                                             booth Rabbit Hole dan miss Devi


ohya, museumnya sendiri modern dan bagus banget (parkirnya juga gretong hohoho). ada eskalator dan lift, ber-ac, bersih. nggak nyangka biaya masuknya 5000 aja untuk dewasa, dan 2500 untuk anak-anak hehe.




- dari depan museum, sebenernya kita mau naik bis tingkat yang lagi hits ituuh. tapi udah nunggu 30 menit lebih kok nggak lewat-lewat? akhirnya nyerah, deh, naik mobil sendiri ke plaza indo, buat ketemuan sama bipus alias kiti, hehe. senengnya bisa quality time sama sahabat. catching up kabar, dan berbagi keresahan seperti biasa. yang kemarin kita bahas seputar "be careful what you wish for." maksudnya, kadang kita suka nggak me-review apa yang udah kita minta ke Allah SWT... gue sendiri baru menyadari kalau permintaan/doa-doa gue 80% isinya duniawi banget.

padahal, 'kan kita udah dikasih tau ya, kalau "apa yang kita minta, itulah yang kita dapatkan." kenapa gue suka lupa minta hal-hal yang nggak fisikal dan nggak duniawi? padahal hal-hal itulah yang nggak bisa dibeli dengan uang (inget 'kan iklan citibank jaman dulu?). kayak ketenangan batin, rasa syukur, rasa nyaman dalam beribadah, lebih banyak ketawa, and all that stuff that money can't buy.


gue sadar kalau doa-doa gue dikabulkan sama Allah, misalnya pengen tinggal di rumah yang sekarang. tapi, rasanya seperti gue 'lupa' meminta untuk dikasih mentalitas untuk melengkapinya, misalnya rasa syukur yang berkelimpahan. jadi semacet apapun jalanan yang ditempuh setiap hari, atau seribet apapun rasanya bolak-balik nganter anak sekolah dan les, gue bisa tetap dipenuhi rasa syukur.

atau dari kasus-kasus yang gue bayangkan, kayak minta materi sebanyak XXX, tapi suka nggak sadar kalau dari terkabulkannya permintaan (yang 'nggak lengkap' itu), let's say kita dijauhi temen-temen karena dianggap suka pamer di socmed, atau ada yang dipandang negatif sama masyarakat atau keluarganya sendiri karena caranya mengumpulkan harta.
kepengen punya tas branded Y, tapi pas udah punya malah jadi insecure sendiri dan ngiri karena orang lain udah punya YY (Y season terbaru haha).

sometimes we gain some, and lose some.
jadi, mungkin kita perlu berpikir dan merasa lebih dalam sebelum membuat doa/permintaan. pastiin isinya 'lengkap,' yaitu mencakup kualitas yang non-material juga, hehehe.
and maybe the moral of our discussion is to be careful what we wish for, jangan sampai kita kehilangan hal-hal yang kita butuhin - yang really matters - demi mendapatkan apa yang kita inginkan. whew....


salem aman nyamanku <3

 

- pagi-pagi kemarin nggak sengaja dengar wawancara di 90.4 FM sama alexander sriwijono. isinya menarik banget, pembahasan soal generasi baby boomers, X, dan Y, dan interaksi antar generasi itu di, secara khusus, tempat kerja, serta dalam hidup in general.
kata doi, "ciri khas" masing-masing generasi itu ketara banget,
 

  • baby boomers (before 1962, lupa pastinya!) 
yang dikejar adalah kestabilan. makanya, generasi bokap-nyokap kita ini yang dikejar ya jadi PNS (pernah gue bahas secuplik di blogpost ini) karena berangkat dari masa pasca-kemerdekaan di mana kondisi ekonomi belum stabil. atau kalau nggak PNS, ya mereka stick in one job 'til the rest of working period. mereka ingin menyediakan hidup yang lebih baik, yang stabil, buat anak-cucu mereka.
tantangan menghadapi generasi ini biasanya mereka suka males belajar hal-hal baru. cara memotivasinya kalo kata sang narsum adalah dengan ngajak mereka jadi role model, iming-imingi untuk "living the legacy," karena buat mereka, anak-cucu itu motivator terkuat.
 

  • gen x (1962-1977)
yang dikejar itu kemandirian. gimana caranya biar bisa mandiri secara finansial. mereka udah lebih berani ngambil risiko, misalnya aja banyak yang jadi pengusaha.  "jelek"nya, suka terkesan nggak sabaran. selebihnya gue nggak terlalu ngeh, hehehe.  

  • gen Y (1978-1994) 
widih, anak-anak nyokap gue generasi ini semua, dong. ciri khasnya yaa ambisius. bener banget deh, sesuai yang dijabarkan di artikel ini dan juga hasil refleksi diri haha! gara-gara dibesarkan dalam kondisi ekonomi yang stabil bahkan cenderung menanjak, anak-anak generasi ini jadinya tau gampang aja. apa-apa udah disediain, dan dipilihin. misalnya aja pilihan sekolah. 
kalo generasi baby boomers mau sekolah kudu struggle dulu dalam hal ekonomi, generasi X kudu struggle untuk bisa masuk universitas negeri, nah generasi Y mah tinggal capcipcup aja mau sekolah di mana karena ortunya toh udah mampu nyekolahin di universitas swasta yang bagus. 
gen Y juga udah dipilihin les apa aja yang bisa menunjang kemampuannya, difasilitasin kalau mau barang x, belajar y, dan lain-lain. otomatis, generasi ini pengennya ya instan! hahaha... nggak cocok kerja di suatu tempat, atau karena gajinya nggak segede temen-temennya, sok ajah cabut. kalo gue simpulin sendiri, buat gen Y ini yang penting ngebut, ngegas! nggak penting deh tujuannya mau ke mana, atau jalan yang ditempuh searah nggak sama apa yang mau dicapai... hahaha xD  (bener juga sih, banyak banget temen-temen gue dan adit yang kutu loncat di kerjaan... err gue juga, sih!). 

kalo kata mas alex, buat gen Y ini, jangan apa-apa disodorin atau diinstruksiin. ditanya dulu pendapatnya dan dilibatin dalam proses. maybe because we want to feel special, huh?
sayangnya belum dibahas generasi Z nih, generasi bocah-bocah kiteee.
tapi dari pembahasan ini gue jadi bisa berkaca dan mengoreksi diri, sih. salah satunya untuk nggak apa-apa milihin sesuatu duluan buat anak. let him make his choices. kecuali mungkin milih SD sih sesuai visi dan kantong bapak-emaknya, yaa... #teteup.

btw, gue jadi keinget pernah nemuin tulisan yang bagusss soal generasi Z. hasil riset pula! hasilnya bernada optimistis, bikin gue sebagai orangtua bernapas lega (a big "PHEEEWW") dan juga terharu, deh! salah satunya hasil riset terhadap 11.000 anak yang bilang kalau generasi Z ini lebih memilih jadi smarter than better looking!

“They are the most connected, educated and sophisticated generation in history, they don’t just represent the future, they are creating it.”
generasi ini juga di-dubbed sebagai "Rebel WITH a cause." why? karena generasi-generasi sebelumnya meninggalkan dunia yang udah bermasalah buat mereka, jadi anak-anak ini ya mau nggak mau harus mencoba 'menyelematkan' dunia. contohnya aja kondisi iklim yang udah memanas, menurunnya jumlah hutan dan satwa, kemiskinan, dll. 
“In previous generations, there was a feeling that when you were young, you were a passive bystander, an adult-in waiting, but today because of technology, young people have this sense of self-confidence and a belief they can change the world.”
gen Z ini juga cenderung memilih profesi yang punya impact terhadap dunia - bukannya pencapaian pribadi semata, karena mereka merasa jadi citizen of the world berkat keterhubungan mereka (yang udah dimulai sejak lahir!) lewat teknologi.

nah, kayak di paragraf atas tadi 'kan gue sebut kalau "sometimes we gain some, and lose some," begitu juga yang terjadi pada gen Z ini. emang sih, di satu sisi, akibat exposure yang tinggi terhadap teknologi, kerap terjadi 'fenomena' online bullying, sexting, atau menurunnya attention span pada gen Z. tapi di sisi lain, meskipun anak-anak jadi cenderung nggak menggali secara mendalam atau berpikir rasional tentang suatu isu, refleks adaptifnya menjadi berupa kondisi otak yang lebih multi-tasking. disebut juga kondisi nantinya akan berupa '"post-logical" world,' yang lebih menekankan pada reaksi emosional. contoh nyatanya bisa diliat saat berinteraksi di social media, di situ, otak kanan yang lebih 'bermain.'


sementara itu, ada beberapa bacaan lain yang juga menarik seputar generasi Z:

- Generation Z: The Kids who'll Save the World?
- Gen Z: Child of our times
- Meet Generation Z: Forget Everything You Learned About Millennials


menurut gue, tau tentang ini bikin bersemangat karena i am raising a citizen of the world, the one of many who will change the world, and hopefully making it a better place... uhuhuhuh. semoga bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.



oh iyaa, lastly mau naro foto-foto dari yang seru-seru dari museum kemarin. ada bazaar gitu lho di FDI, dan yang ngisi bukan cuma pedagang makanan, tapi juga crafty stuff. seru-seru! ada yang bikin storytelling set customized, gambar-gambar ala ayang cempaka, juga sablonan tote bag, apron, cushion dll dengan kata-kata witty.




wooden toy painting di booth Sidkar
thematic storytelling di booth Sidkar

cutesy!
tumbuhan yang bisa ditaro indoor di booth Naik Daun
word!

06/11/2014

ordinary monday

monday monday here again in dishevelled attire...*)

gini deh, dari bangun tidur pun udah 'lecek' karena malamnya telat naik kasur dan pagi-pagi nemenin suami masak. but! alhamdulillah setelah berjibaku dengan macet, mules sampai mendengking-dengking (di tengah macet), drama anak nggak mau dilepas ke sekolah, lupa bawa charger laptop, kriyep-kriyep ngantuk di tengah hari, dan lain sebagainya, here we are, surviving thru the day and weekend as well.

weekend kemarin lumayan berkualitas, karena sabtunya adit bolos ngampus, hehe. biasanya 'kan dia ngampus seharian dan gue kabur ke mrican bawa bumy supaya nggak garing di rumah aja (dus, mesti masak!).
dia bela-belain bolos karena kebetulan sekolah bumy ngadain Science Fair dan si anak bakalan "tampil" memeragakan eksperimen science. format acaranya bener-bener "fair" alias pameran, jadi ruangan-ruangan di sekolah sampai ke halaman disulap jadi lorong pameran berisi booth-booth dengan eksperimen sciencenya masing-masing. booth bumy meragain "capilarity." 
overall, science fairnya seru, bisa sekaligus jadi showcase kemampuan murid-murid - bukan cuma yang preschool, tapi juga level SD - dalam berbahasa inggris dan pemahaman pelajarannya. ngasih gambaran buat kita kalau mau nyekolahin sampai SD nanti. 








anyways, we spent the rest of the day visiting rumah eyangnya bumy, trus ke mrican buat tidur siang (oh joy!), lalu nitipin bumy ke oma karena mau "kencan"... dengan terapis masing-masing di Bersih Sehat hahaha. aih bahagia banget rasanya disentuh lagi oleh ibu-ibu BS xD
di perjalanan menuju ke BS, it was just the two of us in the car. tiba-tiba tercetus, "are we turning into a boring couple?" 
karena, ada banyaakkkk pilihan aktivitas untuk dilalui di malam minggu. lagi bisa berduaan pula; tapi bukannya liat pameran apa kek, kencan di tempat-tempat lucu apa kek, nonton, ke bedah buku, liat mini konser, or anything yang susah dilakuin kalau bawa anak, kita malah.... 
(emang sih, dipijit adalah sesuatu yang sedang kita butuhkan saat itu... instead of any soul-charging activity.)
adit menghibur, "nanti ada waktunya lah untuk yang begitu-begitu." x))

"untungnya" perjalanan dari rumah nyokap ke tempat BS di taman ubud macet, jadi kita sempat ngebahas yang lain-lain; quality time tercapai jadinya hehe.
salah satunya kekhawatiran gue soal proses adaptasi bumy di sekolah barunya. tadinya 'kan dia sekolah cuma sampai jam 11, sekarang sampai jam 1:30 siang. dia emang suka ngeluh capek, dan juga "sekolahnya nggak seru." mungkin karena semua aktivitasnya 'terarah' dan 'serius', yah? yang gue ucapin ini kesan semata, sih, karena gue liat anak-anaknya nggak pernah terlihat lari awur-awuran pas outdoor time.
udah gitu, montessori time juga butuh ketekunan dan kehati-hatian meskipun yang dilakuin hal-hal sederhana kaya menjepit makaroni dsb. 


tapi gue dan adit perhatiin perkembangan bumy dalam sebulan sejak bersekolah di tempat baru pesat banget.
untuk pemahaman agama, dia udah hapal al-fatihah dan bacaan-bacaan sholat, udah bisa wudhu, iqomat, bahkan ngingetin kita sholat. waktu awal dia 'pamer' kebisaan ini, gue terkaget-kaget, tapi trus nyadar kalo "o iya ya 'kan sekolahnya sekolah islam."

perubahan lain yang keliatan adalah dia bisa tekuuunn melakukan sesuatu selama berpuluh-puluh menit. nggak tau juga apa kaitannya erat dengan no more tv and gadget. tapi dia jadi lebih antusias buat menuangkan cerita lewat gambar, crafting, dan latihan nulis padahal nggak pernah gue suruh. untuk yang terakhir ini, dia sekarang emang jadi kepo sama huruf dan cara membaca. sama berhitung juga! kemarin dia nanya, "2 tambah 2 jadi 4 ya ma?" dia peragain ngitungnya pake jari tangan. "trus kalo 5 + 5? tu wa ga pat... sepuluh ya?" 

yang lainnya ya tentu aja soal attitude, sekarang dia hampir selalu makan sendiri, bilangnya, "anak (menyebut nama sekolahnya) 'kan kalau makan sendiri!" nyiapin baju sendiri, udah gitu eager banget bantu-bantu di rumah xD 


gue ngebahas ini semua bukan bermaksud defensif atau nyeneng-nyenengin hati, sih... well, maybe in a way iya juga, hahaha. gue mencoba mengubah perspektif dengan meyakini kalau sekarang ini bumy lagi menjalani proses adaptasi. dan seperti yang kita tau, other than that IT TAKES TIME, bergerak keluar dari comfort zone pastinya memberikan efek ketidaknyamanan.... 


an "addict"'s step to recovery haha
masih soal sekolah, ada satu kejadian yang jadi eye-opener buat gue. tadi pagi, kita lewatin sebuah SMA digit, dan adit bilang, "itu si A kenapa nggak disekolahin di situ aja, sih? kenapa harus homeschooling yang mahal dan jauh dari rumahnya?"
A ini keponakan gue yang somehow nggak cocok di sekolah konvensional. not that he has learning disabilities or anything sebenernya, cuma secara psikologis nggak cocok. dia "anak tante" banget karena dibesarkan oleh tante-tantenya yang semuanyaaa nurutin apa mau dia. misalnya, dia gak bisa makan XYZ, kalau hujan gede harus 'berlindung' ke mall, nggak bisa naik angkot, dst. in short, dia dibesarkan oleh fasilitas pelindung.
gara-gara bahas si A, adit jadi kepikiran "mungkin dengan kita pilih sekolah bumy yang sekarang ini, kita bertindak sebagai fasilitas belajar buat dia, karena kita keluarin dia dari zona nyamannya untuk menuju perbaikan."
yeah, that's a new way to look at it.

lagian, adit juga sekarang ini makin sreg, karena menemukan temennya nyekolahin 2 anaknya di sekolah yang sama. yang satu udah SD pula. ya khas cowok kalo shopping... udah nemu yang sesuai kebutuhan trus ya udah, beli. sementara gue? maunya liat semuaaaa pilihan yang ada sebelum memutuskan, hehehe. 

masih soal si mas, terlihat perkembangan juga dari les-lesnya (cuma dua kok hehe). permainan electone-nya tergolong baiklah. emang kita belum beliin electone, sih, latihannya masih pake piano ELC (yang padahal tidak direkomendasikan buat latihan oleh kakak guru, karena tutsnya nggak selembut electone, nadanya juga nggak tepat sama). awal-awal mainin not di electone, bumy suka frustasi karena merasa itu susah dan dia nggak bisa. tapii gue ajak dia sering-sering latihan di rumah. iya, pake piano ELC itu! xD
gue semangatin dia pake omongan, "mi, tuts yang di sini agak susah ya dipencetnya? nggak gampang kayak electone?" dia jawab, "iya ma!"
gue bilang, "nah, kalau bumy bisa mainin lagu dengan bener di piano ini, nanti di electone akan jauh lebih mudah, mi!" 

pas di kelas les, gue ingetin, "tuh kan, mi, lebih gampang 'kan mainnya?" dan dia ngangguk-ngangguk kesenengan hahaha. berkat sering latihan (meski nggak di electone beneran), dia jadi lebih pede untuk main, dan nggak lagi gampang frustasi kalau salah atau nemuin kesulitan.
yaah, metode gue kemungkinan besar ngawur, siih, hehe.
gue dan adit belum beliin electone selain karena harganya muahal, juga takut anak kehilangan minat di tengah jalan. maklumlah, kelas menengah yang di tengah-tengah banget, jadi sebisa mungkin meminimalisir risiko. :)))
di les renang juga kemampuannya berkembang dan makin berani. yeah, apapun yang dia pilih nantinya sih kita nggak bakal bisa maksa, emang... cuma bisa "mengarahkan" (OMG can't believe i'm finally repeating my parents' line).

once more soal si mas, a couple of weeks ago dia ikutan lomba lari pertamanya, yaitu di jakarta kids dash run di ancol. 800 meter sahaja, tapi dia buanggaaa banget bisa finish. malah jadi penasaran, "kapan nih bumy lomba lari lagi?" -___-
kalo gue lihat, dari ikutan lomba lari ini, dia belajar sportivitas. doi 'kan karakternya kompetitif dan cenderung nggak mau kalah, ya; misalnya lagi main sama Naya trus adu entah-apalah, kalau kalah, komentarnya "aah, kamu curang!"
tapi pasca lomba lari ini, dia jadi tau kalau yang menang adalah yang lebih kuat lari. jadi, nggak ada tuh komen curang-curang dari mulutnya. dia malah kagum sama yang menang, karena dia ngerasain ngos-ngosannya nyelesaiin lari sampe ke garis finish haha. 




atas before, bawah after :))

sebagai penutup, ada foto-foto dari reuni bumy sama temen-temen sekolah lama. bukan cuma bumy yang reuni, tapi emaknya juga! udah kaya jumpa fans aja deh, temen-temennya pada histeris saat ketemu. xD 
ihik, lagi-lagi maaf, ya, nak, mengeluarkanmu dari zona nyaman. semoga kita bisa belajar banyak hal baru dari perubahan ini, dan semoga jadi bertumbuh lebih baik lagi #mencobabijak







*): dicomot dan dimodif dari "sunday, sunday"-nya blur hehe...