where were you when you heard the news about tsunami 10 years ago?
gue inget banget waktu itu lagi di rumah sahabat gue, Kiti. actually that was already a few days after December 26th, dan kita lagi di situ dalam rangka ngumpulin baju dan lain-lain yang bisa didonasikan ke Aceh. waktu itu lagi hujan deras, kayak sekarang, dan meskipun biasanya gue suka banget sama hujan, tapi kali itu perasaan gue nggak menentu.
it was a massive tragedy, dan gue memaknainya secara personal. beberapa waktu sebelum itu, gue mendengar kabar kalau seorang teman SMP gue meninggal secara tiba-tiba. hanya dalam dua minggu, dia terkena penyakit yang debilitating dan nggak jelas apa, lalu baru ketahuan near the end kalau dia terkena penyakit lupus. ternyata lupus memang penyakit seribu wajah, karena dokter-dokter yang menangani teman gue itu juga menemui kesulitan mengenali apa penyakit dia dan cara mengobatinya. and the sad thing is that she passed away. waktu itu umur kita baru berapa, sih... 21 tahun bok.
dan rasanya itu fakta yang menohok gue banget. si teman ini, she was everyone's sweetheart. ceria, baik, ramah, solehah. trus tau-tau kena lupus aja gitu.
dan tiba-tiba gue tersadar betapa hidup terasa kayak satu undian besar... nasib nggak mandang apakah elo cakep, jelek, baik, jahat, antisocial, populer, atau bagaimanapun. hiduplo adalah bagaimana nasiblo 'dalam' suratan undian.
setidaknya, begitu pikiran (dangkal, naif, lugu) gue waktu itu.
lalu terjadilah bencana Aceh. gue semakin tergugu. tempat yang dijuluki sebagai serambi Mekah. gue bingung, kurang beribadah gimana lagi coba orang-orang itu? islami, taat. pastinya yang terjadi pada mereka bukan hukuman. berarti itu ujian, ya 'kan?
tapi... kok sebegitu berat, ya?
gimana kalo orang macam gue yang diberi ujian? orang yang nggak mau tau agama, cuek, sembarangan.... udah punya bekal apa gue?
sanggupkah kita kalau kehidupan yang kita akrabi tiba-tiba sepenuhnya jungkir-balik hanya dalam satu kedipan mata?
sanggupkah kita menerima kehilangan orang-orang yang kita cintai?
sanggupkah kita mengikhlaskan kalau harta benda kita tiba-tiba raib?
| image from here |
tentu aja gue ketakutan membayangkan itu semua. gue ngerasa perlu tempat berlindung, perlu pegangan yang kokoh. dan gue sadarin kalau gue cuma bisa dapetin itu semua dari pemilik semesta alam ini.
bukan cuma ketakutan, gue jadi mulai nggak nyaman sama kebiasaan gue sehari-hari, sama cara gue menjalani hidup. gue ingin jadi lebih baik, yang 'layak' seenggaknya menurut standar agama yang gue anut. makanya, mungkin banyak yang kaget, termasuk nyokap gue sendiri, ketika ujug-ujug bulan april 2005 gue pake jilbab. padahal sih, 'proses'nya udah berjalan sekian bulan sebelumnya. momentum tsunami sendiri adalah salah satu trigger....
berkaca ke sekarang, sepuluh tahun kemudian. alhamdulillah gue masih diberi umur.
alhamdulillah dua bulan setelah desember 2004 gue lulus kuliah, bulan depannya masuk kerja di citi, dua tahun kemudian nikah, trus punya anak. jadi ibu. and now i'm in my thirties. it feels like i've moved so far from a decade ago. i feel like i've understood more about life.
tapi... gue sadarin kalau kualitas keimanan gue masih... begitu-begitu aja. bahkan mungkin berkurang, kalau mau jujur. masih minim (baca: males) menimba ilmu agama, kurang ada keinginan mengupgrade pemahaman tentang islam... oh who am i kidding, bayar utang puasa aja nggak lunas-lunas! gue disibukkan oleh kehidupan sehari-hari. pilihan-pilihan yang gue buat hampir selalu didasari oleh faktor kepraktisan dan kecondongan hati, bukannya apa yang wajib dan yang perlu.
mungkin hidup gue selama ini bukannya mengumpulkan amal tapi malah menumpuk dosa.
hiks... astaghfirullahalazim.
gue menulis ini nggak bermaksud menggurui atau malah mengumbar aib, sih. momentum satu dekade tsunami aceh kemarin kayak 'membangunkan' gue lagi dari bobok siang dalam 'kepompong' hidup gue yang nyaman. hari-hari yang gue jalani dalam autopilot mode. tanpa menghitung dosa, amal, kualitas diri, dan sebagainya. hari-hari yang nggak gue maknai sebagai berkurangnya waktu di dunia, tapi semata-mata hari untuk dilalui... dalam kekhawatiran, rasa letih, ketakutan, dan ketidakpuasan yang sama - mungkin cuma berbeda bentuk - dengan sepuluh tahun lalu.
kalau dulu yang dikhawatirin soal skripsi, cowok, urusan kerjaan.... sekarang yah jadi urusan cicilan rumah, cashflow, ina-inu soal anak, blablabla rumah tangga, pencapaian pribadi, etc.
i'm still the same old, older me.
.....
jadi, harus gimana?
what have i learned?
what do i want to do?
salah satu yang gue pelajari tahun ini adalah soal memilih keinginan. gue kerap kali menginginkan hal-hal yang memuaskan jasmani dan nafsu semata, tapi nggak membawa ketenangan hati, atau nggak 'dilengkapi' dengan kemampuan diri untuk memanfaatkan hal itu dengan baik jika tercapai.
i could wish for a prettier home - a bit upgrade here and there, but what good would it do if i still feel empty inside?
i could wish for more money, but what would that do? well, money sure takes you to a lot of nice places, but... can it give me health? can it give me perseverance? can it transform me to be passionate and enthusiastic all the time? can it even give me time?
i could wish for an opportunity to live abroad, but... have i been independent enough? have i proven to myself that i'm mentally ready?
i don't know whether this indicates i'm depressed or i've become... wiser? i wouldn't give such generous credit to myself, but i also don't want to view myself in a (too) negative light. maybe i'm simply evolving, as everyone would be. hopefully into something better....
well, i'm still quite not sure on how to sum it up. i surely have a wishlist, albeit how cliche it may sound, karena gue nggak mau percaya sama kata-kata "biarkan hidup mengalir...." i mean, are you willing to be taken straight into an abyss if that's where life flows?
tapi, lagi-lagi, MUNGKIN ini berarti gue perlu belajar lebih banyak lagi tentang memilih, dan menyadari kalau hidup ini ya isinya pilihan. qada, qadar, ikhtiar.
tapi, lagi-lagi, MUNGKIN ini berarti gue perlu belajar lebih banyak lagi tentang memilih, dan menyadari kalau hidup ini ya isinya pilihan. qada, qadar, ikhtiar.
"We’re all faced throughout our lives with agonizing decisions, moral
choices. Some are on a grand scale, most of these choices are on lesser
points. But we define ourselves by the choices we have made. We are, in
fact, the sum total of our choices. Events unfold so unpredictably, so
unfairly, human happiness does not seem to be included in the design of
creation. It is only we, with our capacity to love that give meaning to
the indifferent universe.
And yet, most human beings seem to have the
ability to keep trying and even try to find joy from simple things, like
their family, their work, and from the hope that future generations
might understand more." - Louis Levy.
| if only choices were always this easy... |
isshh... riska, seperti biasa, feels like slapped in the face by your words..
ReplyDeletebtw happy new year dear!! more 'meaningful' life ahead ya!
hehe gw gak nemu padanan kata yang pas selain 'meaningful'..
Desiii, selamat tahun baru juga! *ajak tos pakai jus sayur*
Deleteah gue juga nulis gini maksudnya self-tampar kok, huhu. aamiin, semoga meaningful buatmu juga yaah :**