please, don't get sick of me yet.
anyways, begitu adit sampai di rumah, kita langsung cabs lagi. ke holycow kemang hehehe. yaaa gitu deh, modus dapet steak gratisan. gue sih nggak doyan steak, tapi bumy dan adit iya. it was just like any other dinner we've had, cuma sempat saling mengingat-ingat umur.
gue: "eh, ini ultah kamu yang keberapa ya? 32?"
adit: "bukan, 33."
...sejurus kemudian,
gue: "aku kira kita cuma beda setahun..."
adit: "emang berapa? kamu kemaren ultah yang ke-30 bukan?"
hadeh. macam wayang pak lurah aja ini percakapan.
oke melencengnya kejauhan.
nah, balik dari holycow kemang, entah siapa yang ngomporin, tau-tau kita ngayal-ngayal babu. salah satu khayalan itu adalah tinggal di c*s*mora cipete karena kayanya lebih deket jaraknya ke sekolah bumy namun suasananya masih rindang bersahabat, hakakhak. ya ngakaklah, lha kalo diseriusin bisa merinding sendiri mikirin jumlah angka nol rumah di kawasan itu.
seperti gue racaukan di sini, gue sekarang entah jadi pesimistis soal berangan-angan, atau makin berhati-hati aja dalam berkeinginan. gue segera berujar ke adit, "halah, apa mungkiin?"
respon dia terhadap celetukan pemadam-bara-impian gue yang malesin tersebut ternyata memberikan efek yang tidak gue sangka-sangka di sanubari.
dia ngingetin kalau dulupun pas kita berangan-angan pindah rumah ke ciganjur, rasanya out of this world banget. lebay. ketinggian. impossi-b-le. tapi, who'd have known? ternyata kesampean (meski dengan darah dan airmata, sih... teteup).
mungkin emang udah waktunya gue dapet pencerahan, ya, setelah sekian lama bermuram durja dalam realitas. karena abis dengar kata-kata doi itu, dada rasanya enteng. seketika gue merasa kembali antusias.
untuk ngapain? ya untuk kembali bermimpi! (semoga tidak terdengar seperti jargon MLM)
so what if i have dreams? even the seemingly impossible ones? as long as i don't let those dreams become obsessions, i mean, we all could benefit from some targets and directions in life, right?
gue jadi menyadari kalau antusiasme itu bahan bakar untuk menapaki hidup. tanpa antusiasme, hidup rasanya ya hambar aja, bahkan mungkin meaningless. if i were smarter, i would've remembered how i spent years doing a job i didn't feel passionate about. hari demi hari dilalui bak zombie, just waiting for pay day to come. why would i go there again? after all, being realistic surely doesn't equal to shutting down every silly, crazy dream i have in mind, just like what i did to adit earlier. that's just plain bitter.
ah, mungkin inilah "fungsi" sebenar-benarnya dari partner hidup: memberi tepukan lembut di bahu supaya kita bisa 'sadar' dan kembali ke jalur saat mata udah sepet dan hati udah eneg. if that's the case, then he really does an awesome job. like he's been doing all these years.
(serenading "kau jiwa yang s'lalu aku pujaaa...").
so, again, happy birthday to you, ub! let's make a long list of silly, crazy dreams, shall we?
![]() |
| pic from here |

No comments:
Post a Comment