sekarang ini, bumy membawa ke rumah apa-apa yang dia pelajarin di sekolah. bacaan sholat, doa-doa, pengetahuan tentang asmaul husna, minta belajar iqra, dll. dia jadi banyak nanya, emang ini artinya apa, itu gunanya apa, bahkan suatu hari ketika lagi mau sholat berjamaah, dia request bapaknya baca surat tertentu (yang ternyata bapaknya nggak hapal hahaha!). kadang jadi semacam a slap in the face, kok kita yang lebih tua dan 'mengirim' dia untuk belajar tentang islam malah pengetahuannya cetek?
tapi, semakin dijalani, hal ini jadi motivasi. seiring dengan bumy makin gede, gue jadi makin banyak belajar juga. belajar dari awal lagi sih, tepatnya. membaca(kan) kisah-kisah nabi, berusaha menghapal surat-surat juz'amma, begitu juga berusaha walking the talk. adab dalam islam itu gimana, perilaku Rasullullah SAW seperti apa, dsb.
nggak cuma soal agama, pertanyaan-pertanyaan dan keingintahuan anak juga mencakup banyak ranah; ya science, sosial, budaya (untung belum politik ekonomi dan sosial segala). i'm sure every other parent out there has or maybe is going through the same phase. mungkin ini malah baru permulaan; ke depannya, gue yakin pertanyaan-pertanyaan itu akan lebih kompleks dan menantang. and maybe this is what makes parenting so darn exciting, hehehe.
kembali ke soal homogenitas agama di sekolahnya sekarang, sebelumnya gue suka menganggap preference orangtua untuk masukin anaknya ke sekolah homogen itu didasari ekspektasi yang naif. kenapa naif? karena dari pengalaman hidup, gue ketemu banyak orang yang TK-SMA di sekolah islam, khatam Al-Qur'an berkali-kali, pengetahuannya luas soal islam, dst, tapi perilakunya yaa nggak jauh beda sama gue yang TK-SMA di sekolah nasional. apa yang didoktrinkan ke anak tuh nggak menjamin perilaku, pilihan-pilihannya, apalagi nasibnya.
jadi, sekarang ini, sebisa mungkin gue ngingetin diri gue buat nggak 'ge-er.' bahwa apa yang bumy pelajari sekarang ya nggak bisa diharapkan untuk jadi 'jaminan' hidupnya bakal aman dan sentosa ke depannya, secara moril. dan, apa yang dia pelajarin di sekolah itu bisa stick dan gak jadi hapalan atau retorika semata asalkan value yang sama juga diterapkan dan dijalanin di luar sekolah. ya sama siapa lagi kalau bukan oleh emak-bapaknya? *sigh*
gue jadi keinget waktu lagi hamil, ada ibu-ibu rekan kerja senior yang nyuruh gue rajin baca Qur'an. gue cuma nyengir sopan menanggapinya. pas ibu-ibu itu udah berlalu, ex-bos gue, pak elfin, komentar, "berat yah tuntutan buat ibu hamil!" seraya ngakak -__- little did i know kalau ke depannya lebih buanyaakkk tugas dan 'beban' moril yang harus diemban. itu mah baru kulit-kulitnya doang!
tapi gini, tak kenal maka tak sayang, bukan? gimana bisa 'sayang,' akrab, dan memahami, kalau belum kenal sama sekali?
jadi, sekarang gue memaknai bersekolahnya bumy di sekolah islam ini sebagai salah satu wujud ikhtiar. dia mau naksir atau jatuh cinta itu gimana pilihan dia nanti, yang penting gue dan adit udah jalanin porsi kita untuk mengenalkan dan ngasih pemahaman.
lagian, bukannya pernah gue nyatakan di tujuan pengasuhan kalau ingin bumy salah satunya jadi orang yang soleh? (oh come on, don't act so surprised!)
terlepas dari itu, gue mensyukuri kondisi keluarga besar yang setengahnya berbeda keyakinan. karena gue rasa ini bisa jadi semacam "penyeimbang." meskipun sekolahnya homogen, tapi kondisi ini bisa jadi sarana buat Bumy memahami tentang perbedaan dan toleransi secara langsung. kayak kemarin pas mau Natal, dia excited mau berkunjung ke rumah Opung yang ngerayain. gue jelasin kalau saudara-saudara kita ada yang agamanya berbeda, but that doesn't really make any difference. they love us the way we are, and so do we. blood is thicker than water - or any difference among us for that matter.
ah, tiba-tiba gue jadi inget this particular video, di mana pendeta terry jones lagi 'asyik' berpidato menjelek-jelekkan agama islam di tengah keramaian times square. islam minoritas di sana, nggak kayak di sini, terlebih setelah 9/11, jadi tercap agama teroris. liat deh gimana reaksi New Yorker terhadap hate speech terry jones. gue masih mewek setelah nonton berkali-kali! sungguh, toleransi adalah kunci...
No comments:
Post a Comment