knowing my passion over "money" (hahha, who doesn't have that 'passion'?!), it's only understandable if i would like to write the recent contemplation i have regarding it. but this time, it's in regards with my status transformation: from a person who once contributed money to the household, to a person who now merely spends it.
gue pernah menulis tentang dilema gue seputar gaji pamungkas dari kantor. dilema yang gue rasakan adalah apakah gue mau bertindak responsible dengan berkontribusi kepada tujuan finansial keluarga?
atau, bertindak agak sentimental, dengan membelanjakannya untuk membeli sesuatu yang menjadi "simbol" titik balik perubahan status gue, sekaligus reward untuk diri sendiri?
mari kita flash back dulu ke 5 tahun 2 bulan lalu, ketika gue pertama kali masuk tlkm.
kebetulan gue diterima di tlkm dua bulan setelah menikah. tempat kerja baru, nominal gaji baru, penganten baru. gimana enggak euforia?! jadilah gue 'merayakan' momen dan segala hal baru itu dengan... nyicil mobil.
tanpa bekal pengetahuan finansial sama sekali, keputusan tersebut berujung pada cicilan mobil yang menghabiskan 80% dari gaji bulanan gue. prokprokprok! mantap! ...dodolnya.
lambat laun, keinginan dan kebutuhan rumah tangga kami meningkat. bukan cuma karena punya anak, tapi juga karena kita mulai nyicil KPR. untungnya adit dapat benefit sebagai karyawan bank, karena itu memungkinkan kita mendapat rate interest KPR yang jauuh lebih rendah dari customer biasa, dan nominalnya juga fixed. meski begitu, kondisi cashflow bulanan kami tetap ngap-ngapan, karena selain kebutuhan rumah tangga bertambah untuk anak, juga karena sekarang cicilan ada dua, bok.
therefore, i felt like i needed to push our financial condition hard to the limit. gue mewajibkan kita bisa bayar cicilan tiap bulan, bayar penuh penggunaan kartu kredit tiap bulan, DAN menyisihkan 30% gaji untuk investasi dana pendidikan bumy. ambisius abis!
kondisi tersebut tentunya nggak memungkinkan gue untuk bisa sering belanja hal-hal yang khas perempuan. bahkan nggak memungkinkan untuk bisa belanja 'hedon' sama sekali (.___.)
was i happy with that? did we even feel better because of that?
pastinya enggak sih. but noone said a thing. adit didn't even correct me and my policies.
sampai lalu kami memutuskan untuk memakai jasa financial planner. ketika mbak planner mereview cashflow bulanan kita, dia sampai terkesiap. "bok, kalian yakin nih mau hidup ketat begini? gimana mau menikmati gaji?"
bagusnya, komentar dia itu ditindaklanjuti dengan memberikan kita solusi berupa cashflow bulanan dan TAHUNAN yang lebih fleksibel. what we couldn't penuhi on monthly basis, we could make up with our yearly income. d'oh, itu nggak pernah kepikiran sebelumnya.
praise the Lord i went to QM. hati jadi lebih ringan, kepala juga nggak mumet karena seolah udah di"sah"kan kalo belanja tuh boleh aja kok, bahkan perlu! :')
berkat saran dari planner, gue jadi bisa belanja hal-hal yang agak 'hedon.' tanpa rasa bersalah juga. tapi, semakin tua (:P) nafsu gue untuk belanja baju-tas-sepatu-makeup-onderdilapalah malah berkurang. gue jadi cenderung mikir "perlu nggak sih?" sebelum gue belanja untuk diri sendiri. pertanyaan itu seringnya dijawab dengan "enggak deh ah."
was i happy with that?
well, berkat keengganan gue belanja personal, duitnya jadi bisa dialokasikan untuk pos-pos lain sih. kayak ngisi rumah, benerin rumah karawaci yang bocor, pasang kanopi, dsb, dsb. and i was satisfied with that.
fast forward to three years later, ketika gue mulai mempertimbangkan masak-masak keputusan untuk berhenti kerja. mempertimbangkan di sini maksudnya bener-bener ngitung dan nyusun financial plan baru. gue tahu dan sadari kalau gue nggak akan jadi ibu rumah tangga yang hidup 'mewah'. yang pakai sopir, keluar negri untuk shopping, atau arisan dengan nominal jutaan. but i was okay with it. i still am. karena gue tau dari awal nggak nikah sama hartawan (tapi suatu hari akan jadi hartawan? hehehhee... amin) :)))
what we have now is enough. nggak berlebih-lebihan, tapi alhamdulillah nggak kekurangan.
orang yang dengar keinginan (dan ujungnya keputusan) gue untuk berhenti kerja, otomatis selalu nanya, "trus nanti mau ngapain di rumah?" mereka selalu nebak jawabannya bisnis, atau bahkan kerja di tempat lain. gue jawab "mau di rumah aja. ngurus anak." dan mereka hampir selalu mengernyit. heran. seolah bilang, "kok mau jadi nggak produktif?"
tentunya ukuran yang mereka pakai di sini ya ekonomi.
gue sama sekali nggak berencana untuk kerja di tempat lain. i just want to be at home. yes, i don't make any money that way. tapi apa waktu dan keberadaan untuk keluarga perlu dikaitkan dengan nominal secara ekonomi? some things are just illogical, and can't be measured with money.
kembali ke pertanyaan awal tadi, gaji pamungkas gue mau diapain, jawabannya: kalau bisa ya dua-duanya, hehehe. sekarang, gue merasa lebih 'enteng' untuk belanja baju-tas-sepatu, karena toh gue udah berkontribusi semaksimal mungkin untuk kemaslahatan keluarga selama gue bekerja.
di sisi lain, gue juga merasa it's an honour kalo, for once more, income gue bisa dipakai untuk pasang kanopi, dan beli water heater. hahah.
karena kayak kata suze orman,
so now, i would like to think that my resignation from work, my stopping-to-contribute-in-the-form-of-money, as a piece of offering. some thing i give away to receive more. mungkin wujud yang akan insya Allah gue terima itu nggak selalu berwujud uang, tapi ketenangan hati dan barokah untuk keluarga (amin).
tapiii, tentunya berharap doang tanpa ngejalanin dengan bener tiada gunanya.
dengan peran gue dalam urusan finansial yang sekarang bebannya yang lebih berat ini (menghasilkan enggak, ngabisin iye), gue ngerasa wajar aja kalo tiap akhir bulan gue perlu mempertanggungjawabkannya ke adit. the sole bread winner. gue juga harus lebih pinter spending, dan nyari keran penghasilan kalo bisa (tanpa berbisnis dan kerja di tempat lain. hayoh, pe-er gak tuh?!).
well... i know this post has no coherrent message not even a good narration. i just hope, in a way, this could give an insight for those who want to become a SAHM but still need reassurance to actually do it. that people will chase after you with their tricky questions. and you will face dillemmas. and nothing like happy-go-lucky ever after in the real world if you're not born with loads of money. but you also need to have the gut because noone can predict the weather. jadi ya, begitulah... balik lagi ke niat, hehehe (standar abis).
gue pernah menulis tentang dilema gue seputar gaji pamungkas dari kantor. dilema yang gue rasakan adalah apakah gue mau bertindak responsible dengan berkontribusi kepada tujuan finansial keluarga?
atau, bertindak agak sentimental, dengan membelanjakannya untuk membeli sesuatu yang menjadi "simbol" titik balik perubahan status gue, sekaligus reward untuk diri sendiri?
mari kita flash back dulu ke 5 tahun 2 bulan lalu, ketika gue pertama kali masuk tlkm.
kebetulan gue diterima di tlkm dua bulan setelah menikah. tempat kerja baru, nominal gaji baru, penganten baru. gimana enggak euforia?! jadilah gue 'merayakan' momen dan segala hal baru itu dengan... nyicil mobil.
tanpa bekal pengetahuan finansial sama sekali, keputusan tersebut berujung pada cicilan mobil yang menghabiskan 80% dari gaji bulanan gue. prokprokprok! mantap! ...dodolnya.
lambat laun, keinginan dan kebutuhan rumah tangga kami meningkat. bukan cuma karena punya anak, tapi juga karena kita mulai nyicil KPR. untungnya adit dapat benefit sebagai karyawan bank, karena itu memungkinkan kita mendapat rate interest KPR yang jauuh lebih rendah dari customer biasa, dan nominalnya juga fixed. meski begitu, kondisi cashflow bulanan kami tetap ngap-ngapan, karena selain kebutuhan rumah tangga bertambah untuk anak, juga karena sekarang cicilan ada dua, bok.
therefore, i felt like i needed to push our financial condition hard to the limit. gue mewajibkan kita bisa bayar cicilan tiap bulan, bayar penuh penggunaan kartu kredit tiap bulan, DAN menyisihkan 30% gaji untuk investasi dana pendidikan bumy. ambisius abis!
kondisi tersebut tentunya nggak memungkinkan gue untuk bisa sering belanja hal-hal yang khas perempuan. bahkan nggak memungkinkan untuk bisa belanja 'hedon' sama sekali (.___.)
was i happy with that? did we even feel better because of that?
pastinya enggak sih. but noone said a thing. adit didn't even correct me and my policies.
sampai lalu kami memutuskan untuk memakai jasa financial planner. ketika mbak planner mereview cashflow bulanan kita, dia sampai terkesiap. "bok, kalian yakin nih mau hidup ketat begini? gimana mau menikmati gaji?"
bagusnya, komentar dia itu ditindaklanjuti dengan memberikan kita solusi berupa cashflow bulanan dan TAHUNAN yang lebih fleksibel. what we couldn't penuhi on monthly basis, we could make up with our yearly income. d'oh, itu nggak pernah kepikiran sebelumnya.
praise the Lord i went to QM. hati jadi lebih ringan, kepala juga nggak mumet karena seolah udah di"sah"kan kalo belanja tuh boleh aja kok, bahkan perlu! :')
berkat saran dari planner, gue jadi bisa belanja hal-hal yang agak 'hedon.' tanpa rasa bersalah juga. tapi, semakin tua (:P) nafsu gue untuk belanja baju-tas-sepatu-makeup-onderdilapalah malah berkurang. gue jadi cenderung mikir "perlu nggak sih?" sebelum gue belanja untuk diri sendiri. pertanyaan itu seringnya dijawab dengan "enggak deh ah."
was i happy with that?
well, berkat keengganan gue belanja personal, duitnya jadi bisa dialokasikan untuk pos-pos lain sih. kayak ngisi rumah, benerin rumah karawaci yang bocor, pasang kanopi, dsb, dsb. and i was satisfied with that.
fast forward to three years later, ketika gue mulai mempertimbangkan masak-masak keputusan untuk berhenti kerja. mempertimbangkan di sini maksudnya bener-bener ngitung dan nyusun financial plan baru. gue tahu dan sadari kalau gue nggak akan jadi ibu rumah tangga yang hidup 'mewah'. yang pakai sopir, keluar negri untuk shopping, atau arisan dengan nominal jutaan. but i was okay with it. i still am. karena gue tau dari awal nggak nikah sama hartawan (tapi suatu hari akan jadi hartawan? hehehhee... amin) :)))
what we have now is enough. nggak berlebih-lebihan, tapi alhamdulillah nggak kekurangan.
orang yang dengar keinginan (dan ujungnya keputusan) gue untuk berhenti kerja, otomatis selalu nanya, "trus nanti mau ngapain di rumah?" mereka selalu nebak jawabannya bisnis, atau bahkan kerja di tempat lain. gue jawab "mau di rumah aja. ngurus anak." dan mereka hampir selalu mengernyit. heran. seolah bilang, "kok mau jadi nggak produktif?"
tentunya ukuran yang mereka pakai di sini ya ekonomi.
gue sama sekali nggak berencana untuk kerja di tempat lain. i just want to be at home. yes, i don't make any money that way. tapi apa waktu dan keberadaan untuk keluarga perlu dikaitkan dengan nominal secara ekonomi? some things are just illogical, and can't be measured with money.
kembali ke pertanyaan awal tadi, gaji pamungkas gue mau diapain, jawabannya: kalau bisa ya dua-duanya, hehehe. sekarang, gue merasa lebih 'enteng' untuk belanja baju-tas-sepatu, karena toh gue udah berkontribusi semaksimal mungkin untuk kemaslahatan keluarga selama gue bekerja.
di sisi lain, gue juga merasa it's an honour kalo, for once more, income gue bisa dipakai untuk pasang kanopi, dan beli water heater. hahah.
karena kayak kata suze orman,
"money flows through our lives just like water - at times plentiful, at times a trickle. i believe that each one of us, in effect, a glass, in that we can hold only so much; after that, the water - or the money - just goes down the drain. some of us are larger glasses, some of us smaller, but we all have the capacity to receive plenty more than we need if we allow it.
when you make an offering, the glass will be filled again and again and again."
so now, i would like to think that my resignation from work, my stopping-to-contribute-in-the-form-of-money, as a piece of offering. some thing i give away to receive more. mungkin wujud yang akan insya Allah gue terima itu nggak selalu berwujud uang, tapi ketenangan hati dan barokah untuk keluarga (amin).
tapiii, tentunya berharap doang tanpa ngejalanin dengan bener tiada gunanya.
dengan peran gue dalam urusan finansial yang sekarang bebannya yang lebih berat ini (menghasilkan enggak, ngabisin iye), gue ngerasa wajar aja kalo tiap akhir bulan gue perlu mempertanggungjawabkannya ke adit. the sole bread winner. gue juga harus lebih pinter spending, dan nyari keran penghasilan kalo bisa (tanpa berbisnis dan kerja di tempat lain. hayoh, pe-er gak tuh?!).
well... i know this post has no coherrent message not even a good narration. i just hope, in a way, this could give an insight for those who want to become a SAHM but still need reassurance to actually do it. that people will chase after you with their tricky questions. and you will face dillemmas. and nothing like happy-go-lucky ever after in the real world if you're not born with loads of money. but you also need to have the gut because noone can predict the weather. jadi ya, begitulah... balik lagi ke niat, hehehe (standar abis).
No comments:
Post a Comment