gak terasa udah mei aja. insya Allah bumy mau disekolahin per tahun ajaran baru, yaitu bulan juli. trus kawinan adek gue juga tinggal 2 minggu lagi.
cerita satu-satu deh.
hari minggu lalu, kita datang ke tetum karena diundang untuk ketemu sama kepala sekolah, bu endah. setelah 'berjuang' bangun lagi abis subuh, jam 8 lewat kita jalan juga ke tetum. sampe di sana, bu endah lagi interview sama sepasang orang tua sebelum kita. nggak lama, tiba deh giliran kita.
yang diobrolin pertama-tama sih 'standar,' yaitu seputar tingkah laku bumy, baik dari segi sikap, kebiasaan, rutinitas, perkembangan emosi, dan whether dia udah toilet-trained. tiba-tiba, bu endah bilang, "sekarang saya mau ngobrol sama papanya bumy, ya." adit yang tadinya asik pegang bumy (baca: gak nyangka bakal ditanya khusus), langsung duduk tegak. pertanyaan-pertanyaannya ternyata begini,
- papa anak ke-berapa dari berapa bersaudara.
- deket sama ayahnya gak?
- waktu untuk bumy biasanya kapan, dan kalo lagi bersama bumy biasanya ngapain.
- apa cita-cita papa untuk bumy? (doi gelagapan jawabnya. caught offguard! jawaban adit, "maunya bumy jadi bahagia aja." gue ketawa, bu endah juga. "coba dijelasin pa, kalo 'bahagia' aja kayaknya terlalu abstrak." rasaiiiin.)
- apa visi papa untuk diri sendiri ke depannya?
tanpa sadar gue jadi keringetan liat adit ditanya gitu. gara-gara gemez kali ya doi jawabannya 'ngasal' banget! huahaha.
buat gue, pertanyaannya mirip-mirip. as expected, muncul pertanyaan seputar perubahan status juga. bu endah bilang, "mama kan boleh dibilang perjalanan hidupnya dinamis ya, dari bekerja menjadi di rumah. gimana tuh menghadapinya? apa harapannya dengan berada di rumah?"
bok! antara seneng dan tegang ditanya begini. noone has ever asked me this bluntly before.
gue juga ditanya apa harapannya untuk bumy ke depan. ya gue jawab maunya bumy dapat basic pendidikan yang baik dan sesuai untuk level perkembangannya.
sementara untuk visi diri sendiri ke depannya, gue menjawab (hampir sekenanya), "maunya sih seperti sekarang bu, ngurus anak dan berkarya, seperti menulis." :')
gue juga ceritain cita-cita #khayalanbabu yang selama ini belum pernah dikatakan out loud kepada orang selain adit, yaitu ingin bumy mencicipi pendidikan di luar negeri. bu endah merespon loh, dia nanya tanpa terkesan ngenyek atau gengges.
"apa yang mama papa lakukan untuk mencapai itu? negara mana yang ada di bayangan papa mama?"
sambil menginterview, beliau juga ngejelasin metode pendidikan di tetum. kayak nantinya anak level playgroup mulai dari datang akan diajak buka sepatu sendiri, makan dan minum sendiri. trus juga nyuci piring sendiri(!). piringnya beling lowhh. tapi yang materialnya gak pecah berkeping-keping. juga diajarin untuk take care of himself, take care of his surroundings/environment (baca: diajak nyapu, masak, dan bercocok tanam. jadi gue yang excited dengernya!), karena tetum mengadaptasi metode montessori yang ingin membentuk tabiat mandiri di diri anak.
trus tetum juga full bahasa indonesia. karena niatnya ingin agar anak menguasai bahasa ibu sebagai pijakan kemahiran berbahasa. kata bu endah, yang enggak bagus itu yang setengah-setengah, kayak bilang "please ambilkan sepatu yang warnanya red." haha. nanti di luar negri 'kan kondisinya full berbahasa asing, tenang aja, gak usah anak dicekokin bahasa asing dari usia dini. anak-anak tuh mudah menyerap kok. duh, amin :')
truus, di tetum, anak level playgroup dan tk bebas dari calistung. intinya sih sekolah ini ingin memberikan stimulasi kepada anak sesuai dengan kapasitasnya. untuk level playgroup, yang diperkuat adalah dasar kemampuan anak untuk menulis. nanti akan distimulasi lewat kegiatan kayak meronce, memotong-motong, tracing, dsb.
satu lagi pesan dari bu endah, yang paling penting dalam urusan partnership antara ortu dan sekolah, adalah sejalan. apa yang diterapkan di sekolah ya dilakuin juga di rumah.
begitu selesai ketemu bu endah, gue dan adit jadi anteng di perjalanan. masing-masing sibuk mikir. berkontemplasi. kaget juga kayaknya karena 'ditodong' dengan pertanyaan yang 'dalem' padahal awalnya cengar-cengir dengan mood easy like a sunday morning. hahaha.
bistu kita ngobrol,
"menurut kamu gimana?"
"kok aku jadi sreg ya."
"iya, aku juga. serius banget jalanin misi pendidikannya. concerned banget."
dengan menjalani tahapan interview kemarin tuh bukan berarti 'urusan' kita udah beres trus tinggal bayar. abis ini masih ada sesi pembahasan hasil assessment bumy, yang akan ngajak kita ngobrol nanti psikolog. insya Allah jumat ini agendanya.
tapiiii... kita juga tetap menjalani tahapan pendaftaran di opsi B, alias kepomp*ng.
setelah mundur maju mundur dari jadwal pengembalian formulir awal yang mana hampir sebulan lalu, akhirnya kita memutuskan terusin admission di sini.
selang 3 hari dari tetum, kita ke kepomp lagi.
sebelumnya, gue melengkapi form checklist kesehatan bumy. sengaja bela-belain daftar untuk konsultasi sama dr. Wati. maksudnya biar tau aja gituu seperti apa observasi dokter anak kenamaan.
pas udah dijalanin, ternyata 'seru' juga sesi konsultasinya hehehe. yang terjadi antara somewhat expected dan nggak; gue sempat diceramahi panjang-lebar terkait keputusan-keputusan seputar kesehatan anak yang telah gue buat :P
pas udah dijalanin, ternyata 'seru' juga sesi konsultasinya hehehe. yang terjadi antara somewhat expected dan nggak; gue sempat diceramahi panjang-lebar terkait keputusan-keputusan seputar kesehatan anak yang telah gue buat :P
well, I wasn't there to debate, jadi gue iya-iya aja sambil senyum simpul. ngomong juga apa adanya tenan.
"kenapa dulu c-sect bu?"
"minta sendiri, dok. soalnya takut lahiran normal. hehehe."
"ibuuu... blablabla" lantas doi jelasinlah panjang-lebar ke gue soal keunggulan lahiran normal.
gue, ya senyum simpul ajeee.
"kenapa kemarin diopname?"
"soalnya udah demam 4 hari gak turun-turun dok. tes darah deh. trus disaranin rawat inap sama DSA-nya karena trombosit turun dan tetangga abis kena DBD. ujung-ujungnya sih emang radang tenggorokan doang."
*doi kasihtau soal diagnosis DBD dan DD, cara baca hasil uji lab untuk darah. yang mana udah gue ketahui juga, sih*
"saya heran deh sama ibu-ibu jaman sekarang, kalo anak udah demam 3 hari langsung panik. nanya dulu aja ke milis. selama anaknya gak menunjukkan tanda-tanda kegawatdaruratan ya gak apa-apa."
jujur aja, gue mah udah gak napsu nanya ke milis setelah nunggu 3 hari dan anaknya belom juga membaik. mending gue langsung cuus ke KMC. nanya langsung sama spesialis anak toh.
terlepas dari itu semua, alhamdulillah bumy baik-baik aja perkembangannya.
trus, mau ke dokter itu lagi gak? ya kenapa enggak? dokter pinter, penganut RUM, dan keliatan concerned banget sama well-being anak-anak.
oya balik lagi ke admission di kepomp. kita ke sana untuk balikin form pendaftaran, trus interview sama kepsek. it lasted for about 30 minutes. bumy sibuk mainin mainan yang sengaja ditaro di atas meja kecil dalam ruangan sang kepsek.
bu kepsek kemudian nanyain hal-hal seputar bumy. panggil mama papa apa. udah toilet-trained belum. apa yang khas dari bumy. pernah sakit apa. di rumah ada siapa aja.
bu kepsek kemudian nanyain hal-hal seputar bumy. panggil mama papa apa. udah toilet-trained belum. apa yang khas dari bumy. pernah sakit apa. di rumah ada siapa aja.
selesai bertanya-tanya, sejurus kemudian... beliau menyodorkan nominal uang pangkal dan kegiatan untuk setahun. gue agak terkejut ya, karena mikir "eh kok begini doang?" mungkiin gara -gara sebelumnya gue mengalami sesi interview yang intense di tetum?
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di interview ini jadi terasa seadanya aja, gitu...
kenapa sih tempo hari kita maju mundur buat milih kepomp?
+ maju karena reputasinya oke, berbahasa indo full, kita pengen sekolahin bumy di sd kupu-kupu, daaan... gue bisa nungguin bumy sembari beraktivitas di kawasan kemang situ. ditulis paling akhir padahal bobotnya gede tuh :P gue mikirnya pengen olahraga, ikut zumba kek, yoga kek, 'kan di daerah situ banyak pilihan dibandingkan di udik sini (.__.)
- mundur karena tadinya belom yakin bisa berangkat bareng adit. gue males juga nyetir sendiri pagi-pagi ke arah situ.
+ maju lagi karena setelah dipikir-pikir, insya Allah bisa berangkat bareng adit.
tapi sekarang kayaknya mundur lagi nih. setelah terpampang nyata proses interview yang udah dijalanin kemaren. jadi makin yakin yaudahlah bumy di tetum aja, deket rumah dan ngejalanin misi edukasinya juga gak main-main. meski reputasi mah kalah sama kepomp. terbukti waktu nanny di daycare nanya bumy mau sekolah di mana, gue bilang masih belum decide antara tetum dan kempomp, doi komentar, "ooh kepomp bagus tuh bu!"
and then there's this minor, sebenernya-gak-penting-tapi-agak-bikin-muter-mata factor. kemarin pas gue lagi nunggu di halaman kepomp sambil gendong-gendong bumy, ada dua ibu-ibu muda yang lagi nungguin anaknya sambil ngobrol. trus... mereka tiba-tiba diem dan liatin gue dari atas sampe bawah dengan pandangan yang... yagitudeh. gue langsung yang, "what? it's high school all over again? ah just admit I'm way slimmer than you." and then I strolled like a peacock.
#SONGONG :))))
kesimpulannya, kita pilih sticking to yang bersahaja dan terletak di belantara udik. meski mama less happy gak bisa nungguin anak sambil zumba atau swing yoga (lagaaak, kayak bisa ajah!), seenggaknya bisa irit bensin, deh. x))
baca curhat lu tentang nyaris ekola, ngerasa banget g ga optimal. secara pas d indo waktu terbatas, akhirnya boro boro mikirin kurikulum. yang penting deket dari rumah, ada nuansa keislamannya dan affordable (meski untuk point ini ga terlalu masuk banget TAPI termasuk kategori ini tuk sekolahan yanga da d deket rumah ;p) can't wait saat saat dimana gua ama abinya anak-anak interview tentang cara didik anak, abinya bilang apa ya?? *pasti bilang ikut ibun aja deh ;p
ReplyDeleteMa, anak-anak bakal sekolah di sini jadinya? aih bisa ketemuan dong kitaa :D
Deletekembali ke soal milih sekolah, emang banyak banget faktornya ya. gue sendiri cuma ngebandingin antara 2 sekolah. kalo lebih rajin, mungkin jadi lebih pusing juga jadinya hehe.
Bah sama komen di atas...gw kagak pakai interview-interview, nyari sekolah berdasarkan letaknya saja, cuma sebelum diterima anaknya sempet dibawa ke kelas tanpa orang tua untuk "dites" masuk kelas mana. Kalau ingat gw juga daftar sekolah mepet, seragam ga komplit, hingga kini hari senin nara masih pakai kaos instead of kemeja, dll dan salahnya i kinda dont give a hey about it, karena gw mikir ahelaaahhh PG doang. Padahal 3 tahun pertama anak kan penting yaa...-__-"
ReplyDeleteyaa berhubung i have the 'knack' to overdo certain stuff bun, huahaha, jadilah rajin survey sekolah. meskipun cuma 2 yang dibandingin... pakabar yang bikin review sampe 10 sekolah??
Delete