30/06/2015

slow down, recharge

hello there, blogverse... udah akhir juni aja. 
kayaknya udah lama juga gue nggak bikin postingan seputar random updates. terlalu serius sepertinya belakangan ini *lirik post archive*
btw ini udah hari ke-13 ramadhan. some things are different than last year.

- nggak punya langganan katering lagii.
bulan puasa lalu ibu peri domestik gue, Uncu, nyediain jasa katering yang bukan cuma uenak tapi juga dianterin ke rumah tanpa charge tambahan (the best abis dah! hahaha). tahun ini, meskipun udah dirayu sama para pelanggan setianya, tapi Uncu nggak buka katering lagi, ey, karena staf dapurnya berkurang.
tapi alhamdulillah, sejauh ini gue nggak sutris seperti yang gue bayangin. buat buka, nggak lagi heboh mikirin mau takjil ini-itu. cukup pake kurma, abis itu baru makan besar. lagian, pas nyoba buka pake es campur gitu, malah eneg karena manis banget dan ujung-ujungnya blenger. 
trus buat sahur, alhamdulillah nggak ribet juga. entah karena gue dan adit suka pake oatmeal aja jadi buat lauknya tinggal pake buah+kacang atau nyeplok telor (#nothealthierthanthou), atau karena udah biasa makan "seadanya" kali, secara gue nggak bisa masak yang ribet-ribet. 
yang jelas Allah banyak kasih kemudahan, deh. salah satunya ya itu tadi, suami yang ekspetaksinya rendah menyangkut kebisaan istrinya masak, kekekek.

- alhamdulillah sempat baca artikel "5 Things to Do Differently This Ramadhan" tepat sebelum mulai puasa. ringkasnya, penulis artikel itu ngajak kita ngubah beberapa kebiasaan, antara lain

1. sahur yang "ringan" dan simpel. 
"Not only is it healthy, peaceful and spiritually uplifting but it is the Sunnah of the Prophet Muhammad (peace be upon him)."
image from here

2. bukaan yang juga "ringan."
menurutnya, kita suka berlebihan dalam menilai seberapa banyak makanan yang sebenernya dibutuhkan tubuh kita. walhasil pas buka jadi berlebihan juga deh makannya. 
bukan cuma sunnah Rasulullah SAW, tapi iftaar yang ringan banyak benefitnya juga. kita jadi bisa lebih konsen pas sholat taraweh - karena nggak kekenyangan. 
selain itu, kita jadi nggak berlebihan juga dalam menyiapkan makanan buka. kebayang 'kan, waktu di antara ashar dan maghrib seringnya kita abisin buat masak dan nyiapin bukaan. padahal, ramadhan itu waktunya kita meraih sebanyak mungkin pengalaman spiritual. akan lebih baik kalo kita manfaatin waktu tadi untuk tilawah dan meresapi makna ayat-ayat Al-Qur'an. 
image from here


image from here
3. kurangi bersosialisasi
ini kayanya menanggapi fenomena gempuran bukber di bulan puasa, yah. menurut penulis, sih, hal ini memengaruhi 2 poin di atas tadi. jadi, kalo kita berbuka di rumah, akan lebih gampang untuk berbuka dan juga sahur dengan "ringan." beda sama kalo kita lagi bukber, ada kecenderungan untuk melahap makanan yang biasanya disajikan dengan melimpah.
lagian, menurutnya, "You can always visit them for Eid or during the other 11 months of the year in which they forget to invite you." hahahah.

4. memahami Al-Qur'an
sayang banget kalo membaca Al-Qur'an di bulan ramadhan ini diritualkan jadi super speed recital tanpa pemahaman. padahal, kita bisa nyoba memahami makna bacaan pelan-pelan supaya bisa "lulus" dari ramadhan jadi muslim yang lebih baik.

5. berdoa dengan sungguh-sungguh
salah satu caranya dengan menikmati sholat dan lebih khusyu juga. tujuannya ya supaya bisa mentransformasi diri kita jadi lebih baik.

 
kok ujung-ujungnya serius juga, yak. ini maksudnya mau sharing doang sih, karena nasehatnya bagus banget menurut gue.

- back to random updates, minggu ini Bumy mulai libur panjang. rutinitas gue berubah lagi, deh. sementara minggu lalu itu rasanya heboh banget. ibu-ibu di sekolah Bumy pada ngajak nyiapin acara bukber di sekolah sekaligus ngadain baksos. waktu pelaksanaannya untungnya beda, jadi nggak gabruk dalam sehari. di sisi personal, alhamdulillah gue dapet tambahan kerjaan nulis konten. seneng banget bisa punya "playground" baru untuk nuangin ide, tapi ya otomatis tanggung jawab juga bertambah. makanya, gue rada sibuk juggling antara beradaptasi dengan puasa, ngatur waktu untuk kerjaan, sama ngurus rumah. 
challenging banget, hooh. tapi seneng ey jalaninnya. and i guess that's what makes it all worthwhile.

selasanya gue dan ibu-ibu baksos di sekolah, rabunya bukber bareng anak-anak sekaligus graduation anak TK. malem abis acara bukber, kita ke Karawaci. berhubung besoknya itu bagi rapot, jadi seperti yang disaranin sekolah, sebaiknya kita nggak bawa Bumy karena agendanya 'kan untuk ngebahas dia hehe. 
bagi rapot udah, sementara Bumy masih di Karawaci, jadinya apa? bisa me time-lah gue, haha. tapi ya lagi puasa juga, gue males ngider-ngider jadi molor aja di rumah. 

charity at school
baca doa berbuka puasa #rabidmommamoment
pas weekend, kita sempat pijet di Bersih Sehat sebelum jemput Bumy kekeke. abis itu weekend-an bareng Kiti sesudah pengajian; Bumy dan Adit nonton Minions, gue dan Kiti kencan. sorenya, dadakan bukber sama Uncu dan Rahma di Cinere. sesudahnya, tepaaaar.

bocah-bocah yang suka pake baju "seragam" tanpa janjian

besoknya, secara impulsif kita mutusin ngabuburin ke arah JakPus. udah lupa aja sama tepar kemaren. gue kira perpustakaan di TIM Cikini buka juga pas weekend, ternyata tutup. jadi kita melipir ke arah Ibis Hotel yang ada kolam renang Cikininya buat ngajak Bumy makan di the legendary AH. dari situ, kita ke Taman Suropati. kebetulan lagi ada syuting yang meliput kegiatan bermusik sore-sore di situ. lumayan jadinya, ngadem sore-sore disuguhi musik. 
dari taman, kita mampir sebentar ke Mesjid Sunda Kelapa, trus berbuka di Nasi Uduk Gondangdia. Bumy doyan beneeeur nasi uduk ini, sampe nggak mau udahan makan -__-
pas di perjalanan balik ke rumah, kita bertiga rasanya seneng bener bisa ngelayap ke tempat yang agak beda dari biasanya, hehe.

reaksinya: "ma bumy mau main violin juga!" -__-

girang banget ngejar gelembung doang :')
kolam renangnya gedeeee dan jernih. kapan-kapan mau ah nyoba renang di mari
 

16/06/2015

i hear colours

songs that mention colors. 


the first one is Blur's "Colours." 


Blue is where I want to be
Makes me feel I'm in the sea
Look at all the stars they told me to say
Red's the color when you're dead
It gets there under your head
I don't feel the end, I just want to be

And I know so many things
Oh well I have to sing
There's nothing left to do
And my house is made of bricks
But that's just such a fix
There's nothing I can do

Black is where I want to stay
I think it is in my way
But I won't hurt myself, I'll just let it flow
White is what I was to start
But I don't want to get undone
All my life I've just set everything free

And I know so many things
Oh well I'm just the knee
Puts it on the side
And her house is made of bricks
Oh well it's such a fix
I ain't got nothing now
You'll be bad when everything is slow

and the second one, i only heard it recently. 
come to think of it, it *is* quite "recent" compared to other songs in my library. 
it's Taylor Swift's "Red." 
heard it just a few weeks ago, and it's such a good song! gosh, i think i'm officially a Swiftie.




Loving him is like driving a new Maserati down a dead-end street
Faster than the wind, passionate as sin, ending so suddenly
Loving him is like trying to change your mind once you're already flying through the free fall
Like the colors in autumn, so bright just before they lose it all

Losing him was blue like I'd never known
Missing him was dark grey all alone
Forgetting him was like trying to know somebody you never met
But loving him was red

Loving him was red

Touching him was like realizing all you ever wanted was right there in front of you
Memorizing him was as easy as knowing all the words to your old favorite song
Fighting with him was like trying to solve a crossword and realizing there's no right answer
Regretting him was like wishing you never found out that love could be that strong

Losing him was blue like I'd never known
Missing him was dark grey all alone
Forgetting him was like trying to know somebody you never met
But loving him was red
Oh, red
Burning red

Remembering him comes in flashbacks and echoes
Tell myself it's time now, gotta let go
But moving on from him is impossible
When I still see it all in my head
In burning red
Burning, it was red

And that's why he's spinnin' 'round in my head
Comes back to me, burning red

His love was like driving a new Maserati down a dead-end street 

15/06/2015

raising the BEST kids in digital era; challenging, but possible

Setelah sekian lama nggak menimba ilmu lewat seminar, akhirnya gue mengikuti seminar lagi. Ada 2 seminar pula; satu, seminar kecil-kecilan tentang pendidikan di Jepang bersama ibu-ibu sekolah Bumy. Kedua, seminar parenting yang diadakan oleh Gen Cerdik bertajuk "Parenting 101: Well-Prepared Parents, Happy Kids."

Begitu membaca rangkaian materi yang akan dihadirkan, gue seketika tertarik.
Berhubung anak udah semakin gede, isu parenting gue mulai bergeser... dari ranah physical wellness macam asupan ASI, gizi, and the likes, ke soal pengenalan minat dan bakat, behaviour, pendidikan seks, dan sebagainya. Materi yang ditawarkan seminar ini relevan banget dengan concern gue saat ini.
Rangkaian materi dan pembicaranya sbb:

1. "Mendidik Anak di Era Digital: Tantangan dan Solusi"
oleh Elma Fitria - Koordinator SEMAI 2045
2. "Mendidik Anak Sesuai dengan Tahap Perkembangan"
oleh Siska Yudhistira Massardi - Pendiri Sekolah Batutis Al-Ilmi, Penulis buku "Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra"
3. "Mendidik Anak Sesuai dengan Minat dan Bakat"
Bukik Setiawan- Founder Indonesia Bercerita & Takita, Penulis buku "Anak Bukan Kertas Kosong"
4. "Memanfaatkan Teknologi secara Tepat dalam Mendidik Anak"
oleh Mira Julia - Founder Rumah Inspirasi & Digital Mommies, Praktisi Homeschooling
5. "Learn through Play: Lejitkan Potensi Anak melalui Ragam Permainan"
oleh Mutia Shahab - EduPlay Advisor the Menthilis Project, Global Program Coordinator Lazuardi GIS
6: "Keluarga, Tempat Pendidikan Pertama dan Utama"
oleh Lenggogeni Faruk - Gen Halilintar

Overall, sih, hanya beberapa materi yang bikin gue penasaran. Tapi, kesempatan untuk mengikuti beragam materi dalam sehari itu oke banget, good value for money and time. Gen Cerdik juga menyediakan kids corner selama orangtua mengikuti seminar. Kids corner ini bukan tempat penitipan anak semata, loh, tapi juga ngasih educative play yang bertema, layaknya kegiatan rutin Gen Cerdik.

Di blogpost ini gue berniat membagi ilmu yang gue dapetin dari seminar tersebut. Selain supaya gue sendiri lebih paham, ilmu yang kemarin dikasih menurut gue berguna banget.
Semoga lewat sharing ini ada yang jadi tercerahkan juga kayak gue.

Materi 1: "Mendidik Anak di Era Digital: Tantangan dan Solusi"
oleh Elma Fitria - Koordinator SEMAI 2045

Ketika acara udah dimulai, gue baru tau kalo pembicara materi ini semacam bagian dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang didiriin Bu Elly Risman (CMIIW). Kalau dilihat dari judul materinya, emang mengingatkan sama seminar yang pernah diadain bu Elly.
Nah, mba Elma sang pembicara ini 'nyemplung' ke gerakan edukasi orangtua didasari oleh kepeduliannya terhadap kondisi anak-anak dan remaja Indonesia sekarang. Beliau megang titel Koordinator SEMAI. Apa itu SEMAI? Ini singkatan dari "Selamatkan Generasi Emas Indonesia."
Lalu kenapa 2045? Penjelasannya gini: tolak ukur kemajuan suatu bangsa dilihat 100 tahun setelah kemerdekaannya, atau kalau anniversary disebut tahun emas. Saat Indonesia ultah ke-100, penentu seberapa besar kemajuan yang bakal dicapai itu adalah orang-orang yang masuk usia produktif saat itu, yang usianya 15 - 64 tahun. Ketebak 'kan siapa orang-orang usia produktif itu kelak? Yak, orang-orang itu adalah anak-anak kita.
Tapiii, melihat banyak fakta yang disuguhkan saat ini, tau 'kan with the crime, the porn addiction phenomenon, dan lainnya yang serem-serem, beberapa pihak merasa cemas Indonesia nggak akan bisa maju dengan optimal di tangan generasi anak-anak kita ini.
Kemudian mereka mewujudkan concern mereka tersebut dengan membentuk gerakan SEMAI ini.

Is it a bit overreacted?

Tell me what you think after you heard these facts.
Menurut riset, kondisi kehidupan kita sekarang seperti ini: pemakaian gadget mencapai 9 jam per hari. Kejahatan seksual meningkat 95%. Anak usia 4-6 tahun sudah mengakses pornografi.

Pemakaian smartphone/gadget udah jadi bagian hidup kita sehari-hari, dan jadi kebiasaan. Side effect dari kebiasaan ini adalah tumbuhnya budaya "instan." Wujudnya gimana?
- Nggak sabaran kalo lagi berinteraksi sama anak. Bicara dengan tergesa-gesa. "Ayo dong, makannya cepetan. Pake sepatunya lama banget, siih. Udah sini mama aja!" (Glek. Dejavu, deh).
- Cuma mengutamakan kemampuan akademik anak. Tau 'kan, paham "lebih cepat lebih baik?" - tapi yang diukur cuma kemampuan calistung dan hafalan anak.
- DAAAN komunikasi yang cuma satu arah. Kayak apa ciri komunikasi satu arah ini? Orangtua ngasih "instruksi" ke anak, bukannya mendengarkan anak dengan aktif. Komunikasi satu arah ini bikin orangtua lupa bahwa setiap anak punya kebutuhan, kemauan, dan potensinya sendiri. Orangtua sibuk merancang jalan hidup anaknya. "Nanti kamu sekolah SD di sini, kuliah di situ, abis ini les ABC, trus kursus tambahan XYZ. kalau udah gede jadi (insert pekerjaan yang terdengar bonafit)."



Kondisi ini diperburuk juga dengan kurangnya quality time. Kalo lagi duduk bareng, masing-masing malah sibuk dengan gadget di tangan.
Efek dominonya, komunikasi antara orangtua dan anak jadi buruk. Nggak ada kelekatan fisik, nggak ada kedekatan batin.
Efek domino dari komunikasi yang buruk itu nggak main-main, loh. Bikin anak merasa nggak berharga, nggak pede, punya konsep diri yang lemah, nggak biasa Berpikir-Memilih-Memutuskan dan bertanggung jawab.
Efek domino berikutnya, anak jadi BLAST (Bored Lonely Angry Stress and Tired).

Kita perlu sadar beberapa fakta berikut:
1. Kondisi masyarakat di era digital ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu digital native (yang berusia 0-15 tahun) VERSUS digital immigrants (yang 16-55 dan lebih dari 56 tahun).

Perbedaan jenis manusia ini kelihatan dalam mempersepsi teknologi. 'kaum' digital native, yaitu anak-anak (dan mungkin keponakan) kita menganggap beginilah cara normal dunia bekerja. Fakta ini menjadi common sense buat mereka.
Sementara 'kaum' imigran yang usianya 16 - 55 tahun menganggap teknologi sebagai bagian dari perkembangan jaman. Kita-kita berusaha beradaptasi dengan hal baru ini.
Tapi kalau 'kaum' imigran yang 56 tahun ke atas justru menganggap era digital sebagai perubahan realita hidup yang menyulitkan.
Contoh nyata, komentar para oma-opa "Aduuh ini hape kecil-kecil amat sih hurufnya! Telepon jaman dulu mah jelas, ada tombolnya, dipencet. Nggak kaya sekarang, blablabla."

2. Digitally occupied - Surrogate virtual parents
Ini seperti yang dibilang tadi, hidup kita sekarang diisi dengan hp dan gadget. Pemakaian mencapai 9 jam dalam sehari. Karena orangtua disibukkan secara digital, akibatnya anak-anak jadi punya pengasuh pengganti virtual. Siapakah itu? Ya gadget mereka sendiri.

3. Media pornografi yang dilihat anak dan remaja semakin banyak, mengepung anak, dan masuk ke otak anak yang belum kenal nilai-nilai.
Disajikan fakta kalau tempat anak melihat pornografi 49% di rumah sendiri/saudara. Jumlah anak yang sudah melihat pornografi makin banyak karena kondisi dunia yang borderless. Kini, dunialah yang menghampiri anak.
Media pornografi yang dilihat anak dan remaja itu antara lain dari film bioskop/DVD, situs, games, komik, video klip, TV, iklan, serta HP.

Tadi 'kan dibilang soal otak anak yang belum kenal nilai-nilai, tuh. Pembicara memaparkan kalau target pornografi sekarang adalah anak laki laki yang belum baligh, yaitu mulai usia 7 tahun - yap, makin rendah umurnya. Anak perempuan juga jadi sasaran, tapi bedanya kalau anak laki-laki dirangsang secara visual, anak perempuan yang disasar imajinasinya (lewat sexting, misalnya).

Otak anak usia tersebut belum kenal nilai-nilai karena bagian otak yang memprosesnya itu belum siap.
Bagian otak tersebut adalah prefrontal cortex, yang merupakan pembeda manusia dengan binatang. Bagian otak ini memproses moral dan nilai, sifat bertanggung jawab, berguna untuk perencanaan masa depan, organisasi, pengaturan emosi tunda kepuasan, pengambilan keputusan, dan baru matang di usia 25 tahun. Bagian inilah yang diserang jika anak terpapar pornografi.
Jika terkena paparan pornografi, otak akan dibanjiri dengan dopamin, dan ini akan menyebabkan prefrontal mengecil.
Dari situ, kini muncul istilah NARCOLEMA, yang berarti fenomena narkoba lewat mata.
Nggak seperti zaman orangtua kita dulu, narkoba/drugs fisiknya kelihatan, kerusakan yang ditimbulkan juga terlihat, ciri pelakunya kasat mata. Sementara orang yang kecanduan pornografi atau pelaku kejahatan seksual, sama sekali nggak 'keciri.'

Dari paparan di atas, bisa disimpulkan kalau anak BLAST bisa dibilang korban fenomena era digital. Karena terkena exposure digital saat nilai-nilai belum tertanam dengan baik, mereka nggak tau mana yang baik dan yang jelek, nggak tau mana halal-haram. Dan inilah kondisi umum anak dan remaja di Indonesia sekarang.

That's why, gerakan SEMAI ini memandang perlunya anak Indo diselamatkan. Karena anak-anak ini adalah penentu tonggak keemasaan peradaban bangsa kita. Dan karena menyelamatkan satu anak sama dengan menyelamatkan kemanusiaan.
Maka, dibentuklah visi membentuk generasi BEST untuk mengalahkan kondisi generasi BLAST tadi.

Apa itu generasi BEST?
Secara berurutan, ini singkatan dari
B = behave
E = empathetic
S = smart
T = tough.
Yap, karena target pencapaiannya juga berurutan.
1. Anak perlu behave dulu. Karena hal yang pertama mutlak perlu dimiliki anak adalah nilai, prinsip, etika, norma.
2. Kalau udah punya nilai-nilai, anak nggak mungkin jadi semau gue. Anak bisa menjadi manusia yang penuh empati.
3. Anak menjadi cerdas, yang berarti bisa mengoptimalkan potensi kekuatannya, dan menyiasati kelemahannya. Di sini, patut diingat bahwa bukan orangtua yang menentukan nasib anak. tugas orangtua adalah mengobservasi dan mengarahkan anak.
4. Anak bisa tangguh dan memegang prinsip, sehingga nggak gampang terpengaruh.

Dan inilah inti materinya, yaitu gimana cara membentuk generasi BEST.
Jawabannya, kita perlu membangun pola asuh yang benar di keluarga dan sekolah.

1. Rumuskan tujuan pengasuhan, yang tidak fokus pada akademik semata.
Ciri khas generasi Y, generasi kita-kita ini, adalah tidak disiapkan menjadi orangtua, melainkan dididik untuk berkarir. Hasilnya, kita bisa mencapai karir yang sukses, tapi gagap begitu jadi orangtua.
And so we learn by doing, by trial and error.
One of our errs is having the wrong goals in parenting. How do we know?
Kita perlu cek apakah keputusan dan perilaku kita seperti ini:
- Menganggap kecerdasan kognitif anak nomor 1. Anak dianggap oke kalau bisa calistung sejak dini, bisa hafal sekian surat pada usia dini. Padahal kenyataannya di alam, cepet mateng berarti cepet busuk.
- Menganggap tempat anak dididik ya di sekolah, sementara orangtua fokus bekerja untuk membiayai sekolah.
- Sukses dimaknai dengan ukuran duniawi.
- Menganggap semakin digital berarti semakin modern. Contohnya, anak dikenalkan pada gadget sejak dini.
- Punya dendam positif sebagai orangtua: "Anak saya harus bisa apa yang saya dulu nggak bisa." Akibatnya, ortu jadi mendesain jalan hidup anak dengan modus ingin yang terbaik untuk anak.

Lalu, tujuan pengasuhan yang benar itu apa? Kalau menurut seminar kemarin, sih, "Sekeluarga di surga."
- Memandang anak perlu dididik dan dibesarkan untuk menjadi hamba Allah SWT yang bertakwa.
- Menyiapkan anak menjadi suami/istri. Hooh, alih-alih cuma sebagai profesional atau orang "sukses." Kenapa kita perlu menyiapkan anak kita menjadi orangtua? Karena dengan begitu, kita menyelamatkan cucu kita kelak.
- Membangun generasi halal
- Menjadikan anaka siap bermanfaat untuk masyarakat dengan profesional.

2. Menerapkan pola asuh berlandaskan ajaran spiritual
Ini prinsip yang paling dasar. Anak kita adalah produk ciptaan Tuhan, maka manual booknya tentu ciptaan sang Pencipta anak.

3. Mendidik sesuai fitrah perkembangan otak anak (brain-based parenting).
Otak adalah mesin utama dan pusat kendali manusia. Rusak otak, maka rusak pula perilakunya. Karena itu, kita perlu tau do's and don't's pada mesin utama ini agar terawat.
Tadi udah dijelasin soal prefrontal cortex (PFC), yang merupakan direkturnya otak.
PFC matang lebih awal (usia 5 tahun) karena itulah anak perlu diberikan asupan yang cocok dan siap untuk itu. Apakah itu? Yaitu edukasi nilai-nilai, rasa, keindahan, sifat-sifat ketuhanan, dll. Keliatan dari anak suka bertanya "Ini boleh gak? Bagus gak? Baik gak?" yang tujuannya adalah mengonfirmasi nilai-nilai.
Jadi, anak bukannya disumpal dengan materi kemampuan kognitif seperti calistung, yang baru siap diolah otak pada usia 7 tahun. Apa dampak bagi anak kalau diberikan asupan yang otaknya belum siap? Mereka bisa stres.

Orangtua juga perlu tahu cara informasi diolah di otak.
Jika informasi datang dengan cara yang menyenangkan, maka akan muncul perasaaan nyaman, yang menyebabkan sistem limbik terbuka dan informasi masuk ke korteks. Sebaliknya kalau informasi datang dengan cara yang nggak menyenangkan seperti bentakan, maka sistem limbik akan tertutup dan menjadikan informasi nggak masuk ke korteks.
Jika disingkat: perasaan positif -> berefek limbik terbuka -> membuat informasi masuk
 perasaan negatif -> berefek limbik tertutup -> menjadikan informasi buntu
Padahal kodrat manusia mencari kenyamanan.



Makanya, kita perlu perbaiki cara berkomunikasi dengan anak. Ada beberapa cara:
- Orangtua bicara dengan "I" message atau pesan "saya." Contohnya: "Mama/papa merasa (x) kalau kamu melakukan (y) karena (konsekuensinya)."
- Bikin komunikasi menyenangkan.
- Bicara perlahan, jelas, dan singkat (15 kata) instead of tergesa-gesa dan panjang lebar.
- Menghargai bahwa setiap individu unik. Bicara perasaan. mendengar aktif. tinggalkan bicara dengan 12 gaya populer. Dan, baca bahasa tubuh.

4. Pendidikan di rumah (dengan petugas utamanya ayah DAN ibu) berkesinambungan dengan pembelajaran di sekolah (co-parenting).
Dijelasin bahwa ayat tentang pengasuhan di Al-Qur'an 2/3-nya menyebut "ayah." Karena itu, bisa disimpulkan kalau ayah juga harus berperan aktif dalam parenting. Just like vitamins, anak perlu asupan semua jenis vitamin secara memadai. Nggak boleh kekurangan, nggak boleh kelebihan.
Nah, 'vitamin' A (ayah) dan B (bunda) punya fungsi masing-masing yang tidak bisa saling bertukar.
Vit A = membangun sistem imun anak.
Vit B = memenuhi kebutuhan kasih sayang
Peran ayah dan ibu dianalogikan seperti bendungan. Di mana pengasuhan oleh ibu seperti air di dalam bendungan, sementara pengasuhan oleh ayah seperti pagar yang membatasi bendungan, yang menampung agar air tidak tumpah.
Bisa dilihat wujud perilaku seseorang jika tidak mendapat asupan kedua "vitamin" ini secara memadai:
- jika anak perempuan kekurangan vit A = tidak punya batasan, entah jadi playgirl atau korban dari laki-laki brengsek.
- jika anak perempuan kekurangan vit B = keras, kurang empati.
- jika anak laki-laki kekurangan vit A = tidak punya role model.
- jika anak laki-laki kekurangan vit B = tidak punya emosi, menjadi predator perempuan, tidak punya role model perempuan yang baik.

Keempat poin tentang membentuk pola asuh yang benar tadi, jika disarikan maka akan menjadi rumusan berikut:


Pengasuhan efektif adalah pengasuhan yang berlandaskan paham Lekat, Dekat, Sahabat.
Kelekatan dapat dipenuhi dengan interaksi fisik berupa eye-to-eye contact dan juga skin contact.
Kedekatan dapat dibangun dengan komunikasi yang baik dan menyenangkan.
Pengasuhan dilakukan oleh ayah dan ibu, berdasarkan prinsip Benar (sesuai Al-Qur'an dan hadits), Baik (sesuai kaidah otak), dan Menyenangkan (yang membuat sistem limbik terbuka). 

Last but not least, kita juga perlu mengusahakan
5. Gadget & internet sehat.
Solusi ini untuk menghindarkan anak dari kerusakan otak, dengan menghadirkan aplikasi edukasi & filtering di handphone anak. Dikenalkanlah aplikasi Kakatu yang punya feature sbb:
1. Memilih dan memblok aplikasi yang akan digunakan anak
2. Mengatur waktu anak menggunakan gadget agar tidak kecanduan
3. Mengecek lokasi anak secara tepat
4. Anak tidak dapat menginstall aplikasi ini.
Tapiii sayangnya aplikasi ini baru bisa didownload (gratis) di Android play store.

Padat dan berbobot 'kan materinya? Haha gue, sih, merasa begitu. Rasanya kayak dapet banyak PR, tapi karena tau apa manfaat jika PR ini dikerjakan, ya jadi termotivasi juga.

Materi seminar yang lain akan gue share di blogpost berikutnya, ya, insya Allah.

10/06/2015

a girl's guide to living in the present

berandai-andai. who doesn't do that once in a while?
gue dan adit kadang ngelakuin itu juga.
"gimana ya kalo kita masih tinggal di karawaci?"
"gimana ya kalo aku masih kerja di X?"
"gimana ya kalo..."
meskipun begitu, kita ngelakuinnya bukan dalam tema menyesali atau mengeluhkan keadaan sekarang, kok. well, seringnya sih nggak, hehe. sometimes we just can't help not to wonder.
gue juga suka berandai-andai terkait hidup sendiri, tentang keputusan-keputusan yang diambil sendiri, dan tentang kemungkinan-kemungkinannya. akhir-akhir ini ada beberapa hal yang suka kepikiran, hal-hal spesifik yang menurut gue bisa mengubah hidup jadi berbeda banget dari sekarang, and resulting in this train of thoughts....

- what would've happened if waktu SMA dulu gue dulu rajin belajar.
jadi gini, waktu SMP i was quite good. tipe anak yang bisa dapet ranking satu tanpa perlu belajar (keras) gitulah. no bragging intended, secara kualitas murid di SMP gue juga biasa-biasa aja, it wasn't a school filled with geniuses. tapi alhamdulillah NEM gue memadai buat masuk ke SMA terfavorit... se-Tangerang. which was a pure luck i guess.
nah pas SMA ini, mulai dari kelas satu sampe lulus, kerjaan gue maen melulu. um... maen doang sih lebih tepatnya.
kelas satu SMA adalah pertama kalinya gue ngerasain ulangan matematika dapet nilai DUA. emang, sih, temen-temen sekelas mayoritas dapet... NOL. tapiii, jangan salah, ADA yang dapet DELAPAN. kalau dilihat dari rapot sih, lumayanlah, ranking gue masih berkisar di bawah 10 sampai di bawah 20 besar hahaha - dan ini fakta yang bikin gue merasa bersyukur sekaligus terkaget-kaget sama kualitas otak orang-orang di SMA gue ituh.
perihal main melulu, gue rasa perlu dijelasin latar belakang yang 'membentuk' gue jadi seperti itu. jadi, walaupun berpredikat sekolah favorit, tapi SMA gue itu santai banget. guru-gurunya (kebanyakan) asik, nggak galak, dan ya itu, nyante abis. beda banget sama sekolah gue waktu SMP! di SMP gue, sepatu diharuskan seragam, panjang rok REGULARLY dicek, dan kalo telat dateng ke sekolah, lo gak bakalan boleh masuk. di SMA, bebas ajah elo mau pake kemeja ketat kek, mau pake sepatu model apa kek. udah gitu, banyak mahluk yang tiap hari dateng telat sejam, dua jam, bahkan yang dateng pas sekolah udah mau kelarpun ada. x)))) guru-gurunya juga hobi banget majuin jam pelajaran. let's say hari itu ada satu guru yang gak ngajar, tapi jam pelajaran dia ada di jam pertama sekolah. alih-alih bengong karena nggak ada guru DAN tetap harus belajar sampai waktu sekolah berakhir, kita bisa minta pelajaran ke-dua, tiga, dan seterusnya itu untuk dimajuin. dengan begitu, kelas gue bisa pulang satu, dua, atau sekian jam lebih cepat, tergantung berapa jam kelas yang kosong! jadi, nggak heran kalo kadang gue cuma 'efektif' belajar selama total 2 atau 3 jam dalam sehari. karena ya suka ada aja guru yang skip ngajar. bahkan, saking lazimnya ada jam kosong dalam sehari, gue sampe ngerasa janggal kalo ada hari di mana semua jam pelajarannya full.

laluuu, karena sering ada jam kosong itulah, kita eh gue jadi suka pulang cepet. dibilang pulang karena udah nggak punya kewajiban lagi di sekolah semata, padahal fisiknya mah nggak bener-bener pulang ke rumah, melainkan ngelayap atau nongkrong. karena nongkrongnya sering, yaudah jadi kebiasaan kan tuh. jadilah gue main melulu.
akibatnya, gue jadi meremehkan sekolah dan nilai. sekolah buat gue tuh tempat ketemu temen-temen dan main. belajar? apa itu? lha wong tiap hari gue nggak pernah bawa buku ke sekolah xD isi tas gue cuma kaos ganti sama bedak. trus buku pelajaran gue pada di mana? tentunya nggak ada loker, yaah, secara ini sekolah negeri haha. jadi SEMUA buku gue itu setiap hari nangkring di laci meja. tentunya terjadi blunder satu dua kali. misalnya pas tau-tau kelas gue dipake buat acara entah-apa dan semua meja jadi ketuker posisinya! hebohlah sepanjang pagi gue nyariin meja gue yang asli di mana! atau pas kelas gue tau-tau BOCOR dan meja gue kebetulan ketimpa bocornya. walhasil, sebagian besar buku gue bonyok melenyek kena aer ujan hahahahahha. azab yang tepat buat anak pemalas dah.

okeh kepanjangan ini nostalgianya. intinya, gue terlena sama longgarnya peraturan sekolah sehingga nggak merasa perlu berprestasi lagi seperti waktu SMP. karena di sekolah favorit ini, porsi anak yang dapet ranking itu sedikit banget. mereka creme de la creme banget deh, dan gue tau nggak bakal bisa keep up sama keenceran otak mereka no matter how hard i tried. jadilah i wasn't even trying at all. dan wajar pula kalo akibatnya, gue nggak lulus UMPTN, karena emang hampir nggak ada ilmu SMA yang nempel di otak gue.
tapiii, barulah pada saat hari pengumuman hasil UMPTN gue merasa terkelabui. karena sekitar 60% anak sekolah gue lulus UMPTN. daann, sebagian temen-temen nongkrong gue, yang GUE KIRA sama caur dan malesnya kayak gue, ternyata lulus UMPTN dong. patut dicatat kalau gue memakai imbuhan ter- di depan kata "kelabui" karena mereka emang nggak ada yang dengan sengaja mengelabui gue sik hahaha. yep, di hari itulah gue baru sadar kalo i simply got what i deserved. i chose not to study, therefore i ended up in BINUS hakahahkhak.

loh, seharusnya gue nggak perlu berandai-andai lagi dong kalo gue udah paham itu emang konsekuensi dari pilihan gue? yes, i know i should've, tapi jujur aja, i can't stop that tiny voice inside my mind that sometimes asks, "what if..? what if..?" maybe i'd gone to UI instead.
and that leads me to berandai-andai...

- what would've happened if i had actually gone to UI instead of binus.
weeell, mungkin gue ketinggian menilai diri sendiri yah, hahaha. oke, nggak usah UI, deh, UNPAD maybe. what if?
mungkin gue bisa ngerasain living away from my parents, ngekos, lantas belajar hidup mandiri dst.
mungkin kredensial gue jadi terlihat lebih bagus. i mean, i would've been "lulusan universitas negeri" for God's sake. dan kemungkinan gue bisa dapet kerjaan yang bonafit pun akan lebih besar. because you know what? i found out only later in life - tepatnya setelah udah lulus kuliah - bahwa certain companies only accept graduates from 'reputable' universities, and by reputable they mean UI, ITB, UGM only. strictly, even. well, UNPAD, ITS and UNAIR too i guess.
applications from seorang lulusan binus straightly went to the bin. no matter the GPA. i know because those kinds of companies proudly STATE it on their job opening ads. bahkan kita tau kan kalo beberapa perusahaan tertentu hanya buka booth di job fair-nya universitas negri. sementara waktu gue di binus, yang ngisi job fair kebanyakan perusahaan IT small-scale. and banks. o yeah, don't we binusians work at banks. yang lulus bareng gue dan adit, sih seenggaknya begitu. haha.

and so that leads me to thinking...

- what would've happened if gue dapet kerjaan yang "bonafit" sejak gue pertama lulus kuliah.
my first job was as an application tester in a multinational bank. sounds pretty neat, huh? except for the fact that i was hired as a temporary employee, not a permanent one. jadi gue dihire oleh pihak ketiga, dan title gue adalah karyawan kontrak. yes, i walked into that posh shiny big building everyday, worked with people yang casciscus englais tiap hari, tapi nope, i didn't get the same salary as the permanent employees. and predictably didn't get the same benefits. it was a bit condescending, sih. kind of like a kick to my already-wounded pride. gaji kecil. kerjaan nggak penting. makanya, cuma setahun kerja di situ, gue cabut begitu dapet tawaran pekerjaan jadi karyawan permanen di sebuah perusahaan swasta. padahal kerja di situ fun banget. aseli, it was the most fun and also the most stimulating place i've ever worked at - intellectually and professionally.
sebagian besar orang yang gue temui di kantor itu jadi temen baik gue - satu malah jadi suami, hahaha. tapi sayangnya gue baru menyadari fakta itu sekitar lima tahun kemudian, yaitu ketika gue udah loncat-loncat kerja sekian kali dan menyadari kalo gue nggak bisa dapetin temen-temen sebaik dan seasik di situ, dan betapa gue nggak bisa dapetin suasana kerja yang smart and stimulating seperti di situ lagi. yep, meskipun gajinya kecil dan gue cuma karyawan kontrak. needless to say that i learned it the hard way.

but, if my first job had been a really cool one, let's say jadi karyawan TETAP perusahaan multinasional dengan gaji nyerempet dua digit, gitu... hmm, pastinya gue bakal bangga banget, sih. BUANGGA lebih tepatnya. my ego wouldn't have been wounded. tapi... belum tentu gue bakal dapet suami. right?
lucu kalo dipikir-pikir selama kuliah di binus gue nggak pernah ketemu adit. mungkin tanpa sadar pernah papasan sih, tapi gue bener-bener baru kenal dia di tempat kerja pertama itu. nggak ada niat mau berpacaran juga pada awalnya. to me, he was just this really nice guy and a really nice friend. tapi tau-tau pacaran. trus tau-tau nikah. tau-tau punya anak. hahaha.
well, maybeee, i would've got to know another nice guy too if i had worked in that (imaginary) multinational company that gave me an-almost double digit salary. but then, he wouldn't have been adit. right?

and that thought leads me to thinking, what if...
   
- what if i married someone else.
satu hal yang pasti, gue bukan jadi ibunya Bumy! ya mungkin nama anaknya bisa sama, tapi dia nggak akan jadi Bumy YANG INI.
damn, that's one scary thought.
gue nggak akan bersuamikan orang yang mau nyuapin ,mandiin, ngajak main, nidurin, nyebokin anaknya sementara gue berleha-leha nonton tv atau berselimut di kamar.
gue nggak akan bersuamikan orang yang begitu pulang kerja mau nyuciin piring, ngambilin laundry, kadang masakin makanan ketika gue kumat males masak, trus nyikatin gigi anaknya sebelum tidur. orang yang jam 10 malem nyuciin botol susu 10 bijik trus paginya motong-motong labu parang buat MPASI anaknya sambil ngantuk-ngantuk.
in other words, orang yang... a bit too good to be true (buat gue) yet also exactly who i need.
i think i couldn't ask for more.

lalu, kenapa masih berandai-andai?

maybe... because sometimes, we just can't help it.
because our mind knows there's an endless possibilities that could've, should've, or would've happened.

what if gue kuliah di bidang yang gue bener-bener sukai instead of IT. would i be a happier person?
what if gue udah belajar mandiri sejak dulu, would i be a more mature person by now? would my life be easier?
what if i took a year off after college to find out what is it that i really wanted to do with my life instead of rushing things out, would i have figured out what i want to do with my life by now?
where would i be now if i never met adit?

ini menyadarkan gue pada sesuatu, sih, yaitu efek samping dari berandai-andai. i realize that thinking of things that you don't have or didn't happen to you, only make you overlook every thing that you have in life right now.
padahal, it's not like i don't have any option; gue punya pilihan gimana memaknai kegiatan berandai-andai ini. gue bisa berkubang dalam genangan "coulda would shoulda" tadi, atau... menerima.
menerima bahwa all this chain of events, rangkaian takdir, suratan nasib or whatever, semua itu membawa gue ke sini. gue nggak lulus UMPTN untuk sebuah alasan. kerja di tempat itu dan kenal adit, bersuamikan adit, jadi ibu buat Bumy, semua itu fakta hidup gue. selanjutnya apa?
berdamai kali ye? berdamai dengan kenyataan bahwa ada hal-hal di dunia ini yang emang bukan buat gue.

gue jadi teringat cerita Kiti tentang temannya yang sakit lupus, menunggu kehadiran anak selama 6 tahun, dan akhirnya bisa hamil, namun harus menjalani kehamilan yang berisiko dan harus tetap menjalani pengobatan sambil membesarkan anaknya. this amazing person, this inspiring woman, she always tells her story with big shiny sparkling eyes. eyes that are filled with GRATITUDE (i know because i've seen her). Kiti cerita ke gue kalau dia suka bilang, "malu banget kalo sampe nggak bersyukur!"

and that, my friend, should be my life goal. bersyukur.
today, it doesn't even matter - whether gue lulusan UI atau Binus, whether gue pernah kerja karyawan kontrak atau bos - what matters is how i'm living my life now. how i'm dealing with things that are happening right now: the fun parts, the sad parts, the hard parts, everything.
i think there are more approriate questions that i should be asking instead of "WHAT IF?"
questions like:
how far along have i grown since high school?
am i a better person?
have i been grateful for my life?
am i doing something i love?
am i living the GOOD life?
where do i want my SOUL to go after this journey on dunya?

possibly, maybe.
because these questions are the ones i CAN answer, dengan jawaban yang pasti.


05/06/2015

and this is why you will fail in having a great career



"I have a dream."

"Go for it, kid. JUST LIKE I DID." 

T____T 
damn!

premis dari TED Talk Larry Smith ini sebenarnya simpel: kebanyakan orang akan gagal meraih pekerjaan atau karir yang hebat karena mereka takut mengikuti passion mereka. padahal kunci dari punya karir yang hebat hanyalah dengan mengejar passion dan mimpi sendiri.

tapi, kebanyakan orang nggak mau melakukannya; entah karena takut, entah karena males, seperti yang dia bilang dalam presentasinya:


I'm not quite sure why you decide not to do it. You're too lazy to do it. It's too hard. You're afraid if you look for your passion and don't find it, you'll feel like you're an idiot, so then you make excuses about why you're not going to look for your passion.

You're going to fail, because -- because you're not going to do it, because you will have invented a new excuse, any excuse to fail to take action, and this excuse, I've heard so many times: "Yes, I would pursue a great career, but, I value human relationships -- more than accomplishment. I want to be a great friend. I want to be a great spouse. I want to be a great parent, and I will not sacrifice them on the altar of great accomplishment."

menurut dia, orang nggak mencari tau apa passion mereka karena mereka belum pernah meRASAkannya. karena belum pernah tau rasanya bangun pagi dan merasa gembira berangkat kerja. obviously, we don't know what we're missing.

Smith lantas semacam 'meluruskan' persepsi kita terkait passion yang menurutnya kurang tepat, seperti:
- merasa tertarik pada sesuatu itu berbeda dengan merasakan passion.
"Passion is beyond interest."
"Passion is your greatest love. Passion is the thing that will help you create the highest expression of your talent. Passion, interest -- it's not the same thing. Are you really going to go to your sweetie and say, "Marry me! You're interesting." Won't happen. Won't happen, and you will die alone.
What you want,
what you want, what you want, is passion. It is beyond interest. You need 20 interests, and then one of them, one of them might grab you, one of them might engage you more than anything else, and then you may have found your greatest love, in comparison to all the other things that interest you, and that's what passion is."

-  kita mungkin punya - dan sebaiknya punya - lebih dari satu passion.
kenapa? karena ada hal yang menjadi passion kita tapi nggak memungkinkan bagi kita untuk berkarir di situ. misalnya passion kita adalah main golf, maka tentunya nggak apa-apa kalau kita mau main golf kapanpun kita bisa. kita bisa meraih kepuasan dari situ, dan mungkin itu cukup.
tapi, kalau kita butuh menghidupi diri dari pekerjaan kita, ya carilah passion lain. jangan cari regular job dan berharap bisa main golf saat weekend supaya kita bisa 'survive' menjalani weekdays. menurut dia, "Living for the weekend is a grisly thing. I have trouble imagining a life in which you live for the weekend: two of seven days you have a life and the other five days you wait to have a life."

- "Passion is essential but it is not sufficient."

apa untuk menjadi leader yang hebat kita perlu punya passion?
passion itu penting dimiliki seorang leader, tetapi passion doang nggak cukup. ada leader yang bisa menginspirasi bawahannya jadi berkinerja lebih baik. tapiii, passion semata nggak bisa membuat kita jadi "hero." bayangin kalo kita bisa mengoceh tentang sesuatu hal dengan penuh passion, tapi nggak bisa mendengarkan orang lain?
hanya karena kita punya passion terhadap sebuah goal, nggak berarti strategi kita untuk mencapai goal itu pasti benar. leader yang hebat itu yang bisa bisa mendengarkan dan mengambil tindakan dari apa yang mereka dengar.

lalu bagaimana cara menemukan passion kita?

“People find their passion by immersing themselves in the human experience.”


Get out doors. Do it all. Talk to as many different people as you can. Read as much different stuff as you can. Go out and see things—industrial tours, museums, walk on the street and look at what you see. Plug yourself into the whole array of human experiences. Don’t do one of them. Do all of them. And if you do, how can you not find something that you can’t stop thinking about? Read things outside of a narrow band of books, talk to people outside of a narrow band of a few friends.

lastly, ini bagian yang paling menampar gue. Smith bicara tentang gimana beberapa orang menggunakan faktor keluarga dan anak sebagai tameng. ya, tameng untuk melindungi diri mereka jika suatu saat ditanya "kenapa lo nggak punya karir yang hebat?"
atau dalam kasus gue, jika ditanya "why did you give up your career?" pertanyaan yang gue juga masih berjuang untuk bisa jawab.
simaklah penjelasannya di sini, tentang kenapa kita seharusnya nggak menggunakan alasan keluarga untuk nggak mengejar passion.


You know what will happen someday, you ideal parent, you? The kid will come to you someday and say, "I know what I want to be. I know what I'm going to do with my life." You are so happy. It's the conversation a parent wants to hear, because your kid's good in math, and you know you're going to like what comes next. Says your kid, "I have decided I want to be a magician. I want to perform magic tricks on the stage."
And what do you say? You say, you say, "That's risky, kid. Might fail, kid. Don't make a lot of money at that, kid. I don't know, kid, you should think about that again, kid. You're so good at math, why don't you --"
The kid interrupts you and says,
"But it is my dream. It is my dream to do this."
And what are you going to say?

You know what you're going to say? "Look kid. I had a dream once, too, but -- But --"
So how are you going to finish the sentence with your "but"?
"But. I had a dream too, once, kid, but I was afraid to pursue it."
Or are you going to tell him this: "I had a dream once, kid. But then, you were born."
Do you really want to use your family, do you really ever want to look at your spouse and your kid, and see your jailers?
There was something you could have said to your kid, when he or she said, "I have a dream."
You could have said -- looked the kid in the face and said, "Go for it, kid! Just like I did."
But you won't be able to say that, because you didn't. So you can't.

You're afraid to pursue your passion. You're afraid to look ridiculous. You're afraid to try. You're afraid you may fail. Great friend, great spouse, great parent, great career. Is that not a package? Is that not who you are? How can you be one without the other? But you're afraid.

And that's why you're not going to have a great career. Unless -- "unless," that most evocative of all English words -- "unless." But the "unless" word is also attached to that other, most terrifying phrase, "If only I had ..." "If only I had ..." If you ever have that thought ricocheting in your brain, it will hurt a lot.
So, those are the many reasons why you are going to fail to have a great career. Unless --
Unless.

again... damn!
gue merasa seperti baru dibukakan tabir dari the greatest magic trick on earth.
now i know why i DO need to pursue my passion. karena gue ingin bisa ngasih tau hal yang sama pada anak gue kelak. bahwa dia perlu mengejar passion-nya, bahwa dia perlu mewujudkan mimpi-mimpinya. dan hal itu bisa dia capai, hal itu LAYAK untuk dicapai, karena gue telah membuktikannya sendiri.
sehingga di akhir perjalanan gue kelak, gue nggak akan menemukan diri gue bertanya-tanya "WHAT IF?" atau "If only I had..." seperti yang Smith katakan. i think it's worth giving my best efforts to.

referensi dari sini


03/06/2015

Toyota Family Challenge

Baru-baru ini gue tau soal kontes foto di Instagram yang diadain sama Toyota. Dalam rangka campaign Toyota Family Challenge, kontes ini bertema - sesuai namanya - tantangan keluarga; jadi kita bukan cuma membuat foto yang seru untuk diikutkan kontes, tapi juga saling menantang dengan keluarga lain. 



28/05/2015

is faster always better?

gambar dari sini
Kemarin ini, gue sempat berniat untuk memasukkan Bumy ke SD lebih cepat dari yang seharusnya. Tepatnya tahun ini, pas umur dia belum genap 6 tahun. Beberapa hal yang jadi pertimbangan antara lain:

- Bumy lahir di bulan "nanggung" kalau dilihat dari kalender akademik, yaitu di bulan November. Tahun ajaran ini usianya 5,5 tahun, cuma kurang sedikit dari syarat umur minimum untuk masuk SD (6 tahun). Berhubung di sekolah montessori kelasnya pakai sistem mixed-age, jadi Bumy sekelas sama teman-teman yang rentang usianya mulai dari 3 sampai 6 tahun. Nah, kebetulan sohib-sohibnya kebanyakan udah berusia 6 tahun dan bakalan masuk SD tahun ini. Karena itulah dia jadi kepengen masuk SD juga; precisely he said, "Bumy mau (masuk) SD juga, ma, biar bareng sama X, Y, Z!"
Kok seolah gue mendukung anak supaya ikut-ikutan, yaah. To be honest, gue dan Adit belum mengiyakan atau membantah keinginannya itu, sih, tapi ini jadi hal yang kita pertimbangkan. Apalagi ada semacam kekhawatiran kalau... (lanjut ke poin berikutnya)

- Seandainya dia 'dibiarkan' tetap di TK, gue khawatir dia nggak terstimulasi secara optimal. Gue pribadi beranggapan kemampuan dia udah cukup untuk masuk SD. Kemampuan apa sajakah? Yang terlihat secara 'kasat mata' aja, sih, yaitu kemampuan kognitif dan perkembangan sosial-emosionalnya. Kemampuan calistungnya di mata gue udah cukup - terlebih karena sebelum masuk sekolah ini dia nggak bisa baca-tulis sama sekali, tapi hanya dalam satu term, dia bisa keep up. 
Yang bikin kagum, cara mengajarkan calistung di sini nggak pakai drilling atau metode yang bikin anak setres, melainkan sambil bermain dan dengan bantuan apparatus montessori. Jadi gue pikir ke depannya insya Allah dia nggak menemui kesulitan.
Kalau dari segi perkembangan sosial-emosional, one thing for sure, making friends is an easy-peasy business for him (baca: anaknya sok akrab beneuur). Dia udah bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara jelas, trus juga bisa mengikuti proses belajar dan berinteraksi dengan positif di lingkungan sekolah. Simply by knowing this membuat gue yakin dia sanggup-sanggup aja masuk SD.
Namun, kembali ke soal under-stimulated yang gue sebut tadi, takutnya dia jadi nggak termotivasi kalau masih di TK tahun ini karena a) materi anak TK jadinya udah terlalu 'gampang' buat dia, atau b) dia merasa seolah 'ditinggal' teman-temannya di TK.

Karena itulah, gue yang tadinya yakin dan nyaman aja terhadap gagasan menyekolahkan Bumy ke SD saat usianya udah cukup, sekarang jadi agak goyah. Gue tanya Adit, dia sih mendukung aja kalo Bumy mau dimasukin SD sekarang. Gue tanya bokap-nyokap, jawaban mereka saling mengontradiksi (as always, kapan sih mereka seiya-sekata selain kalau lagi nyalah-nyalahin gue? #tercurcol). Bokap bilang, "Jangan! Biarin Bumy puas main dulu di TK! Lagian nanti kayak kamu, lagi. Dimasukin SD umur 5,5 tahun jadinya nggak dewasa." And whose fault was that, yah??! Zzzz. -___-
Kalo nyokap komentarnya, "Nggak apa-apa! Bagus Bumy masuk SD, biar nanti pas lulus SMA juga nggak ketuaan." And just like that, I know I had made a mistake just by asking for their no-it-can-never-be-objective opinion.

Meskipun begitu, dengan berproses seperti ini gue jadi bisa melihat dengan lebih jelas, sih. Setidaknya jadi tau apa yang gue butuhkan: pendapat yang objektif. Gue nggak ngerasa perlu "jauh-jauh" mengontak pihak ketiga seperti psikolog untuk mendapat masukan, karena menurut gue yang tau banget gimana performansi Bumy di sekolah tidak lain ya pihak sekolah. Jadilah gue bikin janji sama Kepsek sekolah untuk membahas ini.
Sebagai bahan pertimbangan lain, sekolah Bumy ini punya program yang disebut "early elementary." Anak yang usianya sudah cukup masuk TK tapi nanggung (kayak Bumy), bisa berkesempatan 'menyicipi' pendidikan SD tanpa harus menunggu tahun ajaran baru. Pada bulan Januari 2016 nanti atau di tengah tahun akademik, jika anak dinilai sudah siap, maka dia bisa mulai ngikutin pelajaran SD.
The thing is, jam belajar SD itu lebih panjang 2 jam dibanding di TK. Dan karena SD-nya juga pakai metode dan kurikulum montessori, maka kelasnya mixed-age juga, di mana rentang usianya akan berkisar 6-9 tahun (CMIIW). Gue yang tadinya pede memandang kapabilitas anak, jadi mulai 'ciut' memikirkan efek yang timbul dari faktor-faktor ini. Kekhawatiran yang muncul antara lain khawatir Bumy overwhelmed sama materi pelajaran SD dan panjangnya durasi sekolah; juga khawatir Bumy stres karena tantangannya sekarang lebih besar, yaitu untuk bisa keep up sama anak-anak usia kelas 2 dan 3 SD - bukan cuma yang sebaya.

Jadi, jadi, ik mesti gimana??
Trus, apa aja, sih, sebenarnya tolak ukur kesiapan anak untuk masuk SD? Googling doang sih gampang ya, tapi 'kan gue juga butuh penilaian objektif terhadap Bumy.

Alhamdulillah, kesempatan yang dinanti-nanti tiba jua, gue bisa meeting dengan sang Kepsek. Hal yang pertama dibahas waktu itu soal bagaimana pandangan sekolah tentang kesiapan anak masuk SD. Dijelasin dulu kenapa Pemerintah Indonesia menjadikan syarat usia minimal anak untuk masuk SD itu 7 tahun, kalau gue nggak salah ingat, sebenarnya supaya anak sudah punya kesiapan secara emosional untuk duduk tenang mengikuti pembelajaran di sekolah. Bukan karena sudah 'matang' kemampuan kognitifnya (baca: lancar calistung). Abis itu beliau menjelaskan soal perkembangan otak anak, di mana di bawah 12 tahun itu baru area pre-frontal cortex yang berkembang. Bagian otak itu adalah yang mengolah nilai-nilai - mana yang benar yang salah, bukan yang mengolah kemampuan kognitif. Jadi sebenarnya tujuan pendidikan selama di TK adalah memperkenalkan anak pada nilai-nilai itu.


gambar dari sini

Dari diskusi ini, gue jadi tahu hal penting tentang bagaimana proses pendidikan anak usia dini dalam montessori. Di montessori, selama di TK anak dikenalkan pada bunyi-bunyian dan simbol-simbol yang akan menjadi dasar kesiapan baca dan tulis. Anak dikenalkan pada angka dan sistem desimal melalui material konkret untuk menunjukkan cara dan konsep berhitung. Anak juga belajar tentang bentuk tanah dan air, bentuk-bentuk geometris, negara-negara di dunia; bagian-bagian dari tumbuhan dan binatang, pun tentang musik dan seni, sesuai kecepatan masing-masing anak, sehingga anak akan menguasai suatu materi pada waktunya masing-masing.

Jadi, selama di TK inilah anak-anak disiapkan untuk "panen" saat SD kelak. Kemampuan baca, tulis, dan pemahaman matematika berkembang dari bibit-bibit yang ditanam selama di TK. Anak akan lulus dari TK dengan kemampuan akademik yang kuat; tapi yang lebih penting, dengan ATTITUDE bahwa belajar itu menyenangkan, seru, dan tanpa batas. (quoted from here)
Kata yang gue tulis dengan huruf kapital semua itu yang jadi kunci.

Kepsek kemudian menjelaskan bahwa challenge yang akan dihadapi anak saat usia SD kelak adalah kondisi fisiknya, di mana anak akan bergerak menuju pubertas. Dari segi fisik, Bumy dinilai udah nyaman sama fisiknya; kemampuan motorik, balance, fleksibilitas, spatial awareness dan koordinasinya berkembang dengan baik sehingga dia bisa leluasa bereksplorasi. Tapi yang perlu disiapkan untuk masuk SD bukan cuma itu.
Pada saat SD, anak diharapkan sudah menguasai kemampuan problem solving dan menyelesaikan konflik. Tentunya ini kemampuan yang levelnya di atas anak di TK; yang baru sampai pada bisa mengatur emosi ketika berinteraksi dengan teman-teman di kelasnya.
Kemampuan lain yang juga penting bagi anak SD adalah organizational skills. Anak SD nantinya perlu bisa membagi waktu sesuai prioritasnya. Anak juga perlu bisa membagi perhatian dan tenaganya untuk mengerjakan hal-hal di luar sekolah, seperti bikin tugas sekolah, ikut kegiatan olahraga, dan mengerjakan tugas (chores) di rumah.
Kalau anak digegas masuk SD sementara kemampuannya di area yang lain belum matang, dikhawatirkan anak akan menghadapi semua tantangan itu all at once.

Bergerak dari situ, Kepsek mengajak gue untuk sama-sama melihat Bumy sudah 'sampai di mana' dari segi kognitif maupun sosial-emosional, melalui laporan perkembangan anak yang diupdate setiap 3 bulan. Laporan ini sebenarnya bukan cuma tentang improvement anak, tapi menggambarkan scope penilaian setiap kemampuan, yang ternyata nggak sesempit yang gue kira.

Contohnya dalam kemampuan berbahasa, ternyata yang dinilai bukan cuma apakah anak sudah bisa casciscus berbahasa englais. Tolak ukur kemampuan ini dilihat dari
- perkembangan active listening skills anak
- apakah anak sudah bisa menggunakan bahasa untuk membagi ide dan pemikiran secara tepat dan sistematis
- menggunakan body language (eye contact, gesture) secara tepat
- clear pronounciation, hingga
- menggunakan nada suara dan kecepatan yang tepat saat berbicara.

Trus untuk kemampuan menulis, ternyata perkembangan anak dinilai bukan dari sebagus apa hasil tulisannya, tapi salah satunya apakah anak sudah bisa mengonstruksi kalimat sederhana secara grammatikal.
Kemampuan matematika dinilai bukan cuma dari bisa berhitung atau mengerti penambahan pengurangan perkalian pembagian, tapi juga apakah anak bisa memahami konsep volume, konsep waktu, dan konsep jam. Pun konsep uang, serta pengukuran.

Berkat menyimak laporan perkembangan dari sekolah ini, gue tersadarkan bahwa tolak ukur kemampuan anak itu ternyata nggak sesempit yang gue kira. Suatu kemampuan dinilai bukan cuma dari hasilnya, tapi juga dari aspek-aspek lain secara keseluruhan.
Lalu, dari laporan perkembangan anak yang disusun sekolah, gue jadi tahu bahwa ada satu kemampuan yang suka "dilupakan" karena emang nggak kasat mata, tapi ternyata penting banget. Kemampuan ini terkait bagaimana anak menyikapi tugas dan tantangan, yang gue tulis dengan huruf kapital semua tadi, yaitu WORKING ATTITUDE. Gue sebut tadi kalau inilah yang bisa jadi kunci atau penentu keberhasilan anak di SD - bahkan ke depannya kelak.

Apa saja yang diukur dalam kemampuan ini?
Jadi, dilihat apakah anak...
- Menunjukkan kepercayaan diri
- Menunjukkan kemandirian
- Menunjukkan inisiatif
- Termotivasi dari dalam
- Becomes a self-directed learner
- Mencoba benda-benda baru atau tugas yang lebih menantang
- Berkonsentrasi saat bekerja
- Memerhatikan arahan dan presentasi guru
- Membuat keputusan
- Bisa mengeksplorasi berbagai material secara mandiri
- Bekerja tanpa mengganggu yang lain
- Mengerjakan tugas sampai selesai
- Hanya meminta tolong ketika benar-benar butuh
- Mampu menggunakan waktu dengan baik
- Mempraktikkan skills yang dipelajari
- Menghargai hasil pekerjaan orang lain
- Mampu mengikuti ground rules

Hasil observasi Bumy di kelas menunjukkan kalau dia sudah bisa memilih his own work alih-alih ngikutin temen. Tapi, dia masih suka enggan mengerjakan tugas yang lebih menantang. Fakta ini membuka mata gue banget, loh. Gue jadi sadar kalau mungkin selama ini Bumy termotivasi dari luar - entah itu supaya dapat pujian, hadiah, atau kekaguman dari teman atau guru - bukannya dari dalam. Mungkin selama ini gue juga yang secara langsung atau nggak langsung bikin dia terbiasa berfokus pada hasil, bukannya pada proses. Padahal, bagaimana dia bisa jadi self-directed learner tanpa motivasi intrinsik?

Bumy juga masih perlu belajar untuk mematuhi ground rules, dan mengatur waktunya dengan baik. Kadang dia nggak sempat melakukan kegiatan yang lain karena masih berkutat di satu aktivitas. Kebayang, sih, ini anak suka keasikan ngobrol atau main. -__-
Karenanya sekarang ini di TK, gurunya mengasah self-discipline-nya dengan membiasakan Bumy membuat rencana aktivitas harian. Bumy juga di-encourage untuk jadi contoh/role model yang baik untuk teman-temannya yang lebih kecil, dengan diberikan role tertentu di kelas, seperti jadi teacher's helper atau jadi imam saat sholat.
Menyadari masih banyak working attitude yang perlu diimprove, walhasil keraguan gue seketika hilang. Gue jadi sreg Bumy lebih lama di TK. 

Tentunya gue bersyukur sekolah Bumy melakukan observasi terhadap kemampuan satu ini; karena in a way, tolak ukur dalam working attitude ini bisa memberikan arahan buat gue dalam mengasuh anak. Gue sadar kalau perlu belajar menumbuhkan motivasi anak, bukan cuma bikin dia jadi pengejar prestasi. Gue juga perlu lebih mendukung usaha anak untuk mandiri, mengatur waktu (!!!! tanda seru tiga biji karena gue sendiri manajemen waktunya masih ngaco, huhuhu), menghargai orang lain dan seterusnya. Simply because these are the things that really matter! Hal-hal inilah yang bikin diri anak 'lengkap'; sehingga anak bukannya jadi jago matematika/lukis/nulis/apalah tapi nggak punya life skills untuk bisa mandiri. Bukannya kaya-raya tapi merasa hampa karena nggak punya tujuan hidup.
Ini bukan tugas yang mudah pastinya, tapi tetap perlu dijalani.


"Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas." - Ki Hadjar Dewantara