berandai-andai. who doesn't do that once in a while?
gue dan adit kadang ngelakuin itu juga.
"gimana ya kalo kita masih tinggal di karawaci?"
"gimana ya kalo aku masih kerja di X?"
"gimana ya kalo..."
meskipun begitu, kita ngelakuinnya bukan dalam tema menyesali atau mengeluhkan keadaan sekarang, kok. well, seringnya sih nggak, hehe. sometimes we just can't help not to wonder.
gue juga suka berandai-andai terkait hidup sendiri, tentang keputusan-keputusan yang diambil sendiri, dan tentang kemungkinan-kemungkinannya. akhir-akhir ini ada beberapa hal yang suka kepikiran, hal-hal spesifik yang menurut gue bisa mengubah hidup jadi berbeda banget dari sekarang, and resulting in this train of thoughts....
- what would've happened if waktu SMA dulu gue dulu rajin belajar.
jadi gini, waktu SMP i was quite good. tipe anak yang bisa dapet ranking satu tanpa perlu belajar (keras) gitulah. no bragging intended, secara kualitas murid di SMP gue juga biasa-biasa aja, it wasn't a school filled with geniuses. tapi alhamdulillah NEM gue memadai buat masuk ke SMA terfavorit... se-Tangerang. which was a pure luck i guess.
nah pas SMA ini, mulai dari kelas satu sampe lulus, kerjaan gue maen melulu. um... maen doang sih lebih tepatnya.
kelas satu SMA adalah pertama kalinya gue ngerasain ulangan matematika dapet nilai DUA. emang, sih, temen-temen sekelas mayoritas dapet... NOL. tapiii, jangan salah, ADA yang dapet DELAPAN. kalau dilihat dari rapot sih, lumayanlah, ranking gue masih berkisar di bawah 10 sampai di bawah 20 besar hahaha - dan ini fakta yang bikin gue merasa bersyukur sekaligus terkaget-kaget sama kualitas otak orang-orang di SMA gue ituh.
perihal main melulu, gue rasa perlu dijelasin latar belakang yang 'membentuk' gue jadi seperti itu. jadi, walaupun berpredikat sekolah favorit, tapi SMA gue itu santai banget. guru-gurunya (kebanyakan) asik, nggak galak, dan ya itu, nyante abis. beda banget sama sekolah gue waktu SMP! di SMP gue, sepatu diharuskan seragam, panjang rok REGULARLY dicek, dan kalo telat dateng ke sekolah, lo gak bakalan boleh masuk. di SMA, bebas ajah elo mau pake kemeja ketat kek, mau pake sepatu model apa kek. udah gitu, banyak mahluk yang tiap hari dateng telat sejam, dua jam, bahkan yang dateng pas sekolah udah mau kelarpun ada. x)))) guru-gurunya juga hobi banget majuin jam pelajaran. let's say hari itu ada satu guru yang gak ngajar, tapi jam pelajaran dia ada di jam pertama sekolah. alih-alih bengong karena nggak ada guru DAN tetap harus belajar sampai waktu sekolah berakhir, kita bisa minta pelajaran ke-dua, tiga, dan seterusnya itu untuk dimajuin. dengan begitu, kelas gue bisa pulang satu, dua, atau sekian jam lebih cepat, tergantung berapa jam kelas yang kosong! jadi, nggak heran kalo kadang gue cuma 'efektif' belajar selama total 2 atau 3 jam dalam sehari. karena ya suka ada aja guru yang skip ngajar. bahkan, saking lazimnya ada jam kosong dalam sehari, gue sampe ngerasa janggal kalo ada hari di mana semua jam pelajarannya full.
laluuu, karena sering ada jam kosong itulah, kita eh gue jadi suka pulang cepet. dibilang pulang karena udah nggak punya kewajiban lagi di sekolah semata, padahal fisiknya mah nggak bener-bener pulang ke rumah, melainkan ngelayap atau nongkrong. karena nongkrongnya sering, yaudah jadi kebiasaan kan tuh. jadilah gue main melulu.
akibatnya, gue jadi meremehkan sekolah dan nilai. sekolah buat gue tuh tempat ketemu temen-temen dan main. belajar? apa itu? lha wong tiap hari gue nggak pernah bawa buku ke sekolah xD isi tas gue cuma kaos ganti sama bedak. trus buku pelajaran gue pada di mana? tentunya nggak ada loker, yaah, secara ini sekolah negeri haha. jadi SEMUA buku gue itu setiap hari nangkring di laci meja. tentunya terjadi blunder satu dua kali. misalnya pas tau-tau kelas gue dipake buat acara entah-apa dan semua meja jadi ketuker posisinya! hebohlah sepanjang pagi gue nyariin meja gue yang asli di mana! atau pas kelas gue tau-tau BOCOR dan meja gue kebetulan ketimpa bocornya. walhasil, sebagian besar buku gue bonyok melenyek kena aer ujan hahahahahha. azab yang tepat buat anak pemalas dah.
okeh kepanjangan ini nostalgianya. intinya, gue terlena sama longgarnya peraturan sekolah sehingga nggak merasa perlu berprestasi lagi seperti waktu SMP. karena di sekolah favorit ini, porsi anak yang dapet ranking itu sedikit banget. mereka creme de la creme banget deh, dan gue tau nggak bakal bisa keep up sama keenceran otak mereka no matter how hard i tried. jadilah i wasn't even trying at all. dan wajar pula kalo akibatnya, gue nggak lulus UMPTN, karena emang hampir nggak ada ilmu SMA yang nempel di otak gue.
tapiii, barulah pada saat hari pengumuman hasil UMPTN gue merasa terkelabui. karena sekitar 60% anak sekolah gue lulus UMPTN. daann, sebagian temen-temen nongkrong gue, yang GUE KIRA sama caur dan malesnya kayak gue, ternyata lulus UMPTN dong. patut dicatat kalau gue memakai imbuhan ter- di depan kata "kelabui" karena mereka emang nggak ada yang dengan sengaja mengelabui gue sik hahaha. yep, di hari itulah gue baru sadar kalo i simply got what i deserved. i chose not to study, therefore i ended up in BINUS hakahahkhak.
loh, seharusnya gue nggak perlu berandai-andai lagi dong kalo gue udah paham itu emang konsekuensi dari pilihan gue? yes, i know i should've, tapi jujur aja, i can't stop that tiny voice inside my mind that sometimes asks, "what if..? what if..?" maybe i'd gone to UI instead.
and that leads me to berandai-andai...
- what would've happened if i had actually gone to UI instead of binus.
weeell, mungkin gue ketinggian menilai diri sendiri yah, hahaha. oke, nggak usah UI, deh, UNPAD maybe. what if?
mungkin gue bisa ngerasain living away from my parents, ngekos, lantas belajar hidup mandiri dst.
mungkin kredensial gue jadi terlihat lebih bagus. i mean, i would've been "lulusan universitas negeri" for God's sake. dan kemungkinan gue bisa dapet kerjaan yang bonafit pun akan lebih besar. because you know what? i found out only later in life - tepatnya setelah udah lulus kuliah - bahwa certain companies only accept graduates from 'reputable' universities, and by reputable they mean UI, ITB, UGM only. strictly, even. well, UNPAD, ITS and UNAIR too i guess.
applications from seorang lulusan binus straightly went to the bin. no matter the GPA. i know because those kinds of companies proudly STATE it on their job opening ads. bahkan kita tau kan kalo beberapa perusahaan tertentu hanya buka booth di job fair-nya universitas negri. sementara waktu gue di binus, yang ngisi job fair kebanyakan perusahaan IT small-scale. and banks. o yeah, don't we binusians work at banks. yang lulus bareng gue dan adit, sih seenggaknya begitu. haha.
and so that leads me to thinking...
- what would've happened if gue dapet kerjaan yang "bonafit" sejak gue pertama lulus kuliah.
my first job was as an application tester in a multinational bank. sounds pretty neat, huh? except for the fact that i was hired as a temporary employee, not a permanent one. jadi gue dihire oleh pihak ketiga, dan title gue adalah karyawan kontrak. yes, i walked into that posh shiny big building everyday, worked with people yang casciscus englais tiap hari, tapi nope, i didn't get the same salary as the permanent employees. and predictably didn't get the same benefits. it was a bit condescending, sih. kind of like a kick to my already-wounded pride. gaji kecil. kerjaan nggak penting. makanya, cuma setahun kerja di situ, gue cabut begitu dapet tawaran pekerjaan jadi karyawan permanen di sebuah perusahaan swasta. padahal kerja di situ fun banget. aseli, it was the most fun and also the most stimulating place i've ever worked at - intellectually and professionally.
sebagian besar orang yang gue temui di kantor itu jadi temen baik gue - satu malah jadi suami, hahaha. tapi sayangnya gue baru menyadari fakta itu sekitar lima tahun kemudian, yaitu ketika gue udah loncat-loncat kerja sekian kali dan menyadari kalo gue nggak bisa dapetin temen-temen sebaik dan seasik di situ, dan betapa gue nggak bisa dapetin suasana kerja yang smart and stimulating seperti di situ lagi. yep, meskipun gajinya kecil dan gue cuma karyawan kontrak. needless to say that i learned it the hard way.
but, if my first job had been a really cool one, let's say jadi karyawan TETAP perusahaan multinasional dengan gaji nyerempet dua digit, gitu... hmm, pastinya gue bakal bangga banget, sih. BUANGGA lebih tepatnya. my ego wouldn't have been wounded. tapi... belum tentu gue bakal dapet suami. right?
lucu kalo dipikir-pikir selama kuliah di binus gue nggak pernah ketemu adit. mungkin tanpa sadar pernah papasan sih, tapi gue bener-bener baru kenal dia di tempat kerja pertama itu. nggak ada niat mau berpacaran juga pada awalnya. to me, he was just this really nice guy and a really nice friend. tapi tau-tau pacaran. trus tau-tau nikah. tau-tau punya anak. hahaha.
well, maybeee, i would've got to know another nice guy too if i had worked in that (imaginary) multinational company that gave me an-almost double digit salary. but then, he wouldn't have been adit. right?
and that thought leads me to thinking, what if...
- what if i married someone else.
satu hal yang pasti, gue bukan jadi ibunya Bumy! ya mungkin nama anaknya bisa sama, tapi dia nggak akan jadi Bumy YANG INI.
damn, that's one scary thought.
gue nggak akan bersuamikan orang yang mau nyuapin ,mandiin, ngajak main, nidurin, nyebokin anaknya sementara gue berleha-leha nonton tv atau berselimut di kamar.
gue nggak akan bersuamikan orang yang begitu pulang kerja mau nyuciin piring, ngambilin laundry, kadang masakin makanan ketika gue kumat males masak, trus nyikatin gigi anaknya sebelum tidur. orang yang jam 10 malem nyuciin botol susu 10 bijik trus paginya motong-motong labu parang buat MPASI anaknya sambil ngantuk-ngantuk.
in other words, orang yang... a bit too good to be true (buat gue) yet also exactly who i need.
i think i couldn't ask for more.
lalu, kenapa masih berandai-andai?
maybe... because sometimes, we just can't help it.
because our mind knows there's an endless possibilities that could've, should've, or would've happened.
what if gue kuliah di bidang yang gue bener-bener sukai instead of IT. would i be a happier person?
what if gue udah belajar mandiri sejak dulu, would i be a more mature person by now? would my life be easier?
what if i took a year off after college to find out what is it that i really wanted to do with my life instead of rushing things out, would i have figured out what i want to do with my life by now?
where would i be now if i never met adit?
ini menyadarkan gue pada sesuatu, sih, yaitu efek samping dari berandai-andai. i realize that thinking of things that you don't have or didn't happen to you, only make you overlook every thing that you have in life right now.
padahal, it's not like i don't have any option; gue punya pilihan gimana memaknai kegiatan berandai-andai ini. gue bisa berkubang dalam genangan "coulda would shoulda" tadi, atau... menerima.
menerima bahwa all this chain of events, rangkaian takdir, suratan nasib or whatever, semua itu membawa gue ke sini. gue nggak lulus UMPTN untuk sebuah alasan. kerja di tempat itu dan kenal adit, bersuamikan adit, jadi ibu buat Bumy, semua itu fakta hidup gue. selanjutnya apa?
berdamai kali ye? berdamai dengan kenyataan bahwa ada hal-hal di dunia ini yang emang bukan buat gue.
gue jadi teringat cerita Kiti tentang temannya yang sakit lupus, menunggu kehadiran anak selama 6 tahun, dan akhirnya bisa hamil, namun harus menjalani kehamilan yang berisiko dan harus tetap menjalani pengobatan sambil membesarkan anaknya. this amazing person, this inspiring woman, she always tells her story with big shiny sparkling eyes. eyes that are filled with GRATITUDE (i know because i've seen her). Kiti cerita ke gue kalau dia suka bilang, "malu banget kalo sampe nggak bersyukur!"
and that, my friend, should be my life goal. bersyukur.
today, it doesn't even matter - whether gue lulusan UI atau Binus, whether gue pernah kerja karyawan kontrak atau bos - what matters is how i'm living my life now. how i'm dealing with things that are happening right now: the fun parts, the sad parts, the hard parts, everything.
i think there are more approriate questions that i should be asking instead of "WHAT IF?"
questions like:
how far along have i grown since high school?
am i a better person?
have i been grateful for my life?
am i doing something i love?
am i living the GOOD life?
where do i want my SOUL to go after this journey on dunya?
possibly, maybe.
because these questions are the ones i CAN answer, dengan jawaban yang pasti.
waaah, menginspirasi mbak
ReplyDeletedonat kentang empuk