15/06/2015

raising the BEST kids in digital era; challenging, but possible

Setelah sekian lama nggak menimba ilmu lewat seminar, akhirnya gue mengikuti seminar lagi. Ada 2 seminar pula; satu, seminar kecil-kecilan tentang pendidikan di Jepang bersama ibu-ibu sekolah Bumy. Kedua, seminar parenting yang diadakan oleh Gen Cerdik bertajuk "Parenting 101: Well-Prepared Parents, Happy Kids."

Begitu membaca rangkaian materi yang akan dihadirkan, gue seketika tertarik.
Berhubung anak udah semakin gede, isu parenting gue mulai bergeser... dari ranah physical wellness macam asupan ASI, gizi, and the likes, ke soal pengenalan minat dan bakat, behaviour, pendidikan seks, dan sebagainya. Materi yang ditawarkan seminar ini relevan banget dengan concern gue saat ini.
Rangkaian materi dan pembicaranya sbb:

1. "Mendidik Anak di Era Digital: Tantangan dan Solusi"
oleh Elma Fitria - Koordinator SEMAI 2045
2. "Mendidik Anak Sesuai dengan Tahap Perkembangan"
oleh Siska Yudhistira Massardi - Pendiri Sekolah Batutis Al-Ilmi, Penulis buku "Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra"
3. "Mendidik Anak Sesuai dengan Minat dan Bakat"
Bukik Setiawan- Founder Indonesia Bercerita & Takita, Penulis buku "Anak Bukan Kertas Kosong"
4. "Memanfaatkan Teknologi secara Tepat dalam Mendidik Anak"
oleh Mira Julia - Founder Rumah Inspirasi & Digital Mommies, Praktisi Homeschooling
5. "Learn through Play: Lejitkan Potensi Anak melalui Ragam Permainan"
oleh Mutia Shahab - EduPlay Advisor the Menthilis Project, Global Program Coordinator Lazuardi GIS
6: "Keluarga, Tempat Pendidikan Pertama dan Utama"
oleh Lenggogeni Faruk - Gen Halilintar

Overall, sih, hanya beberapa materi yang bikin gue penasaran. Tapi, kesempatan untuk mengikuti beragam materi dalam sehari itu oke banget, good value for money and time. Gen Cerdik juga menyediakan kids corner selama orangtua mengikuti seminar. Kids corner ini bukan tempat penitipan anak semata, loh, tapi juga ngasih educative play yang bertema, layaknya kegiatan rutin Gen Cerdik.

Di blogpost ini gue berniat membagi ilmu yang gue dapetin dari seminar tersebut. Selain supaya gue sendiri lebih paham, ilmu yang kemarin dikasih menurut gue berguna banget.
Semoga lewat sharing ini ada yang jadi tercerahkan juga kayak gue.

Materi 1: "Mendidik Anak di Era Digital: Tantangan dan Solusi"
oleh Elma Fitria - Koordinator SEMAI 2045

Ketika acara udah dimulai, gue baru tau kalo pembicara materi ini semacam bagian dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang didiriin Bu Elly Risman (CMIIW). Kalau dilihat dari judul materinya, emang mengingatkan sama seminar yang pernah diadain bu Elly.
Nah, mba Elma sang pembicara ini 'nyemplung' ke gerakan edukasi orangtua didasari oleh kepeduliannya terhadap kondisi anak-anak dan remaja Indonesia sekarang. Beliau megang titel Koordinator SEMAI. Apa itu SEMAI? Ini singkatan dari "Selamatkan Generasi Emas Indonesia."
Lalu kenapa 2045? Penjelasannya gini: tolak ukur kemajuan suatu bangsa dilihat 100 tahun setelah kemerdekaannya, atau kalau anniversary disebut tahun emas. Saat Indonesia ultah ke-100, penentu seberapa besar kemajuan yang bakal dicapai itu adalah orang-orang yang masuk usia produktif saat itu, yang usianya 15 - 64 tahun. Ketebak 'kan siapa orang-orang usia produktif itu kelak? Yak, orang-orang itu adalah anak-anak kita.
Tapiii, melihat banyak fakta yang disuguhkan saat ini, tau 'kan with the crime, the porn addiction phenomenon, dan lainnya yang serem-serem, beberapa pihak merasa cemas Indonesia nggak akan bisa maju dengan optimal di tangan generasi anak-anak kita ini.
Kemudian mereka mewujudkan concern mereka tersebut dengan membentuk gerakan SEMAI ini.

Is it a bit overreacted?

Tell me what you think after you heard these facts.
Menurut riset, kondisi kehidupan kita sekarang seperti ini: pemakaian gadget mencapai 9 jam per hari. Kejahatan seksual meningkat 95%. Anak usia 4-6 tahun sudah mengakses pornografi.

Pemakaian smartphone/gadget udah jadi bagian hidup kita sehari-hari, dan jadi kebiasaan. Side effect dari kebiasaan ini adalah tumbuhnya budaya "instan." Wujudnya gimana?
- Nggak sabaran kalo lagi berinteraksi sama anak. Bicara dengan tergesa-gesa. "Ayo dong, makannya cepetan. Pake sepatunya lama banget, siih. Udah sini mama aja!" (Glek. Dejavu, deh).
- Cuma mengutamakan kemampuan akademik anak. Tau 'kan, paham "lebih cepat lebih baik?" - tapi yang diukur cuma kemampuan calistung dan hafalan anak.
- DAAAN komunikasi yang cuma satu arah. Kayak apa ciri komunikasi satu arah ini? Orangtua ngasih "instruksi" ke anak, bukannya mendengarkan anak dengan aktif. Komunikasi satu arah ini bikin orangtua lupa bahwa setiap anak punya kebutuhan, kemauan, dan potensinya sendiri. Orangtua sibuk merancang jalan hidup anaknya. "Nanti kamu sekolah SD di sini, kuliah di situ, abis ini les ABC, trus kursus tambahan XYZ. kalau udah gede jadi (insert pekerjaan yang terdengar bonafit)."



Kondisi ini diperburuk juga dengan kurangnya quality time. Kalo lagi duduk bareng, masing-masing malah sibuk dengan gadget di tangan.
Efek dominonya, komunikasi antara orangtua dan anak jadi buruk. Nggak ada kelekatan fisik, nggak ada kedekatan batin.
Efek domino dari komunikasi yang buruk itu nggak main-main, loh. Bikin anak merasa nggak berharga, nggak pede, punya konsep diri yang lemah, nggak biasa Berpikir-Memilih-Memutuskan dan bertanggung jawab.
Efek domino berikutnya, anak jadi BLAST (Bored Lonely Angry Stress and Tired).

Kita perlu sadar beberapa fakta berikut:
1. Kondisi masyarakat di era digital ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu digital native (yang berusia 0-15 tahun) VERSUS digital immigrants (yang 16-55 dan lebih dari 56 tahun).

Perbedaan jenis manusia ini kelihatan dalam mempersepsi teknologi. 'kaum' digital native, yaitu anak-anak (dan mungkin keponakan) kita menganggap beginilah cara normal dunia bekerja. Fakta ini menjadi common sense buat mereka.
Sementara 'kaum' imigran yang usianya 16 - 55 tahun menganggap teknologi sebagai bagian dari perkembangan jaman. Kita-kita berusaha beradaptasi dengan hal baru ini.
Tapi kalau 'kaum' imigran yang 56 tahun ke atas justru menganggap era digital sebagai perubahan realita hidup yang menyulitkan.
Contoh nyata, komentar para oma-opa "Aduuh ini hape kecil-kecil amat sih hurufnya! Telepon jaman dulu mah jelas, ada tombolnya, dipencet. Nggak kaya sekarang, blablabla."

2. Digitally occupied - Surrogate virtual parents
Ini seperti yang dibilang tadi, hidup kita sekarang diisi dengan hp dan gadget. Pemakaian mencapai 9 jam dalam sehari. Karena orangtua disibukkan secara digital, akibatnya anak-anak jadi punya pengasuh pengganti virtual. Siapakah itu? Ya gadget mereka sendiri.

3. Media pornografi yang dilihat anak dan remaja semakin banyak, mengepung anak, dan masuk ke otak anak yang belum kenal nilai-nilai.
Disajikan fakta kalau tempat anak melihat pornografi 49% di rumah sendiri/saudara. Jumlah anak yang sudah melihat pornografi makin banyak karena kondisi dunia yang borderless. Kini, dunialah yang menghampiri anak.
Media pornografi yang dilihat anak dan remaja itu antara lain dari film bioskop/DVD, situs, games, komik, video klip, TV, iklan, serta HP.

Tadi 'kan dibilang soal otak anak yang belum kenal nilai-nilai, tuh. Pembicara memaparkan kalau target pornografi sekarang adalah anak laki laki yang belum baligh, yaitu mulai usia 7 tahun - yap, makin rendah umurnya. Anak perempuan juga jadi sasaran, tapi bedanya kalau anak laki-laki dirangsang secara visual, anak perempuan yang disasar imajinasinya (lewat sexting, misalnya).

Otak anak usia tersebut belum kenal nilai-nilai karena bagian otak yang memprosesnya itu belum siap.
Bagian otak tersebut adalah prefrontal cortex, yang merupakan pembeda manusia dengan binatang. Bagian otak ini memproses moral dan nilai, sifat bertanggung jawab, berguna untuk perencanaan masa depan, organisasi, pengaturan emosi tunda kepuasan, pengambilan keputusan, dan baru matang di usia 25 tahun. Bagian inilah yang diserang jika anak terpapar pornografi.
Jika terkena paparan pornografi, otak akan dibanjiri dengan dopamin, dan ini akan menyebabkan prefrontal mengecil.
Dari situ, kini muncul istilah NARCOLEMA, yang berarti fenomena narkoba lewat mata.
Nggak seperti zaman orangtua kita dulu, narkoba/drugs fisiknya kelihatan, kerusakan yang ditimbulkan juga terlihat, ciri pelakunya kasat mata. Sementara orang yang kecanduan pornografi atau pelaku kejahatan seksual, sama sekali nggak 'keciri.'

Dari paparan di atas, bisa disimpulkan kalau anak BLAST bisa dibilang korban fenomena era digital. Karena terkena exposure digital saat nilai-nilai belum tertanam dengan baik, mereka nggak tau mana yang baik dan yang jelek, nggak tau mana halal-haram. Dan inilah kondisi umum anak dan remaja di Indonesia sekarang.

That's why, gerakan SEMAI ini memandang perlunya anak Indo diselamatkan. Karena anak-anak ini adalah penentu tonggak keemasaan peradaban bangsa kita. Dan karena menyelamatkan satu anak sama dengan menyelamatkan kemanusiaan.
Maka, dibentuklah visi membentuk generasi BEST untuk mengalahkan kondisi generasi BLAST tadi.

Apa itu generasi BEST?
Secara berurutan, ini singkatan dari
B = behave
E = empathetic
S = smart
T = tough.
Yap, karena target pencapaiannya juga berurutan.
1. Anak perlu behave dulu. Karena hal yang pertama mutlak perlu dimiliki anak adalah nilai, prinsip, etika, norma.
2. Kalau udah punya nilai-nilai, anak nggak mungkin jadi semau gue. Anak bisa menjadi manusia yang penuh empati.
3. Anak menjadi cerdas, yang berarti bisa mengoptimalkan potensi kekuatannya, dan menyiasati kelemahannya. Di sini, patut diingat bahwa bukan orangtua yang menentukan nasib anak. tugas orangtua adalah mengobservasi dan mengarahkan anak.
4. Anak bisa tangguh dan memegang prinsip, sehingga nggak gampang terpengaruh.

Dan inilah inti materinya, yaitu gimana cara membentuk generasi BEST.
Jawabannya, kita perlu membangun pola asuh yang benar di keluarga dan sekolah.

1. Rumuskan tujuan pengasuhan, yang tidak fokus pada akademik semata.
Ciri khas generasi Y, generasi kita-kita ini, adalah tidak disiapkan menjadi orangtua, melainkan dididik untuk berkarir. Hasilnya, kita bisa mencapai karir yang sukses, tapi gagap begitu jadi orangtua.
And so we learn by doing, by trial and error.
One of our errs is having the wrong goals in parenting. How do we know?
Kita perlu cek apakah keputusan dan perilaku kita seperti ini:
- Menganggap kecerdasan kognitif anak nomor 1. Anak dianggap oke kalau bisa calistung sejak dini, bisa hafal sekian surat pada usia dini. Padahal kenyataannya di alam, cepet mateng berarti cepet busuk.
- Menganggap tempat anak dididik ya di sekolah, sementara orangtua fokus bekerja untuk membiayai sekolah.
- Sukses dimaknai dengan ukuran duniawi.
- Menganggap semakin digital berarti semakin modern. Contohnya, anak dikenalkan pada gadget sejak dini.
- Punya dendam positif sebagai orangtua: "Anak saya harus bisa apa yang saya dulu nggak bisa." Akibatnya, ortu jadi mendesain jalan hidup anak dengan modus ingin yang terbaik untuk anak.

Lalu, tujuan pengasuhan yang benar itu apa? Kalau menurut seminar kemarin, sih, "Sekeluarga di surga."
- Memandang anak perlu dididik dan dibesarkan untuk menjadi hamba Allah SWT yang bertakwa.
- Menyiapkan anak menjadi suami/istri. Hooh, alih-alih cuma sebagai profesional atau orang "sukses." Kenapa kita perlu menyiapkan anak kita menjadi orangtua? Karena dengan begitu, kita menyelamatkan cucu kita kelak.
- Membangun generasi halal
- Menjadikan anaka siap bermanfaat untuk masyarakat dengan profesional.

2. Menerapkan pola asuh berlandaskan ajaran spiritual
Ini prinsip yang paling dasar. Anak kita adalah produk ciptaan Tuhan, maka manual booknya tentu ciptaan sang Pencipta anak.

3. Mendidik sesuai fitrah perkembangan otak anak (brain-based parenting).
Otak adalah mesin utama dan pusat kendali manusia. Rusak otak, maka rusak pula perilakunya. Karena itu, kita perlu tau do's and don't's pada mesin utama ini agar terawat.
Tadi udah dijelasin soal prefrontal cortex (PFC), yang merupakan direkturnya otak.
PFC matang lebih awal (usia 5 tahun) karena itulah anak perlu diberikan asupan yang cocok dan siap untuk itu. Apakah itu? Yaitu edukasi nilai-nilai, rasa, keindahan, sifat-sifat ketuhanan, dll. Keliatan dari anak suka bertanya "Ini boleh gak? Bagus gak? Baik gak?" yang tujuannya adalah mengonfirmasi nilai-nilai.
Jadi, anak bukannya disumpal dengan materi kemampuan kognitif seperti calistung, yang baru siap diolah otak pada usia 7 tahun. Apa dampak bagi anak kalau diberikan asupan yang otaknya belum siap? Mereka bisa stres.

Orangtua juga perlu tahu cara informasi diolah di otak.
Jika informasi datang dengan cara yang menyenangkan, maka akan muncul perasaaan nyaman, yang menyebabkan sistem limbik terbuka dan informasi masuk ke korteks. Sebaliknya kalau informasi datang dengan cara yang nggak menyenangkan seperti bentakan, maka sistem limbik akan tertutup dan menjadikan informasi nggak masuk ke korteks.
Jika disingkat: perasaan positif -> berefek limbik terbuka -> membuat informasi masuk
 perasaan negatif -> berefek limbik tertutup -> menjadikan informasi buntu
Padahal kodrat manusia mencari kenyamanan.



Makanya, kita perlu perbaiki cara berkomunikasi dengan anak. Ada beberapa cara:
- Orangtua bicara dengan "I" message atau pesan "saya." Contohnya: "Mama/papa merasa (x) kalau kamu melakukan (y) karena (konsekuensinya)."
- Bikin komunikasi menyenangkan.
- Bicara perlahan, jelas, dan singkat (15 kata) instead of tergesa-gesa dan panjang lebar.
- Menghargai bahwa setiap individu unik. Bicara perasaan. mendengar aktif. tinggalkan bicara dengan 12 gaya populer. Dan, baca bahasa tubuh.

4. Pendidikan di rumah (dengan petugas utamanya ayah DAN ibu) berkesinambungan dengan pembelajaran di sekolah (co-parenting).
Dijelasin bahwa ayat tentang pengasuhan di Al-Qur'an 2/3-nya menyebut "ayah." Karena itu, bisa disimpulkan kalau ayah juga harus berperan aktif dalam parenting. Just like vitamins, anak perlu asupan semua jenis vitamin secara memadai. Nggak boleh kekurangan, nggak boleh kelebihan.
Nah, 'vitamin' A (ayah) dan B (bunda) punya fungsi masing-masing yang tidak bisa saling bertukar.
Vit A = membangun sistem imun anak.
Vit B = memenuhi kebutuhan kasih sayang
Peran ayah dan ibu dianalogikan seperti bendungan. Di mana pengasuhan oleh ibu seperti air di dalam bendungan, sementara pengasuhan oleh ayah seperti pagar yang membatasi bendungan, yang menampung agar air tidak tumpah.
Bisa dilihat wujud perilaku seseorang jika tidak mendapat asupan kedua "vitamin" ini secara memadai:
- jika anak perempuan kekurangan vit A = tidak punya batasan, entah jadi playgirl atau korban dari laki-laki brengsek.
- jika anak perempuan kekurangan vit B = keras, kurang empati.
- jika anak laki-laki kekurangan vit A = tidak punya role model.
- jika anak laki-laki kekurangan vit B = tidak punya emosi, menjadi predator perempuan, tidak punya role model perempuan yang baik.

Keempat poin tentang membentuk pola asuh yang benar tadi, jika disarikan maka akan menjadi rumusan berikut:


Pengasuhan efektif adalah pengasuhan yang berlandaskan paham Lekat, Dekat, Sahabat.
Kelekatan dapat dipenuhi dengan interaksi fisik berupa eye-to-eye contact dan juga skin contact.
Kedekatan dapat dibangun dengan komunikasi yang baik dan menyenangkan.
Pengasuhan dilakukan oleh ayah dan ibu, berdasarkan prinsip Benar (sesuai Al-Qur'an dan hadits), Baik (sesuai kaidah otak), dan Menyenangkan (yang membuat sistem limbik terbuka). 

Last but not least, kita juga perlu mengusahakan
5. Gadget & internet sehat.
Solusi ini untuk menghindarkan anak dari kerusakan otak, dengan menghadirkan aplikasi edukasi & filtering di handphone anak. Dikenalkanlah aplikasi Kakatu yang punya feature sbb:
1. Memilih dan memblok aplikasi yang akan digunakan anak
2. Mengatur waktu anak menggunakan gadget agar tidak kecanduan
3. Mengecek lokasi anak secara tepat
4. Anak tidak dapat menginstall aplikasi ini.
Tapiii sayangnya aplikasi ini baru bisa didownload (gratis) di Android play store.

Padat dan berbobot 'kan materinya? Haha gue, sih, merasa begitu. Rasanya kayak dapet banyak PR, tapi karena tau apa manfaat jika PR ini dikerjakan, ya jadi termotivasi juga.

Materi seminar yang lain akan gue share di blogpost berikutnya, ya, insya Allah.

No comments:

Post a Comment