14/05/2019

staying hungry

“I tried being a stay-at-home mom, for eight weeks.  
I like the stay-at-home part. Not too crazy about the mom aspect, that shit is relentless.  
I was stupid and naive, and I thought that being a stay-at-home mom was about chillaxing, getting to shit in your own home, watch Wendy Williams and go out to brunch with your sassy girlfriends.  
I did not understand that the whole price you have to pay for staying at home is that you’ve gotta be a mom. Oh, and that’s a job. It’s a wack-ass job.  
You get no 401(k), no co-workers. You’re just in solitary confinement all day long with this human Tamagotchi ... That don’t got no reset button, so the stakes are extremely high.”
From the ever-sassy, hilarious, and brilliant Ali Wong. 
I agree with the whole part, tapi yang terutama perlu digaris bawahi adalah bagian "getting to shit in your own home." 
Boy, that's a luxury. Hahahha. 

Ok sekarang bagian rada seriusnya. 
Beberapa waktu lalu gue mendengar cerita kehidupan seorang rekan di kantor yang lagi ambil cuti di luar tanggungan perusahaan (CLTP) seperti gue dulu. Sebutlah si A. Meskipun sekarang udah berjudul "full-time mom," tapi sehari-hari, kedua anaknya tetap ditaro di daycare dan di sekolah. Sementara itu, si A ngisi waktu dengan wara-wiri ikut seminar dan sejenisnya yang memperkaya kualitas diri. Wah, takjub lho saya, it sounds like she has a solid plan untuk ngisi waktu CLTP. 

Otomatis gue jadi membandingkan dengan masa 3 tahun yang gue pake buat CLTP dulu.  
Apakah gue juga telah berencana dengan sedemikian baiknya? 
Kalau gue lihat-lihat lagi dokumentasi persiapan dulu sih, kayaknya udah cukup lumayan yaa... 
Setidaknya gue udah mikirin gimana soal keuangan, gimana mau mengisi hari. 
Gue curhatin malah di Mommies Daily, haha..di artikel ini, ini, dan ini setidaknya. 

Meskipun begitu, penilaian yang gue dapatkan bisa berbeda. 
Kalau orang 'luar' menilainya dengan: CLTP tapi kok nggak nambah anak? 
Hahaaa... Ya wajar sik, namapun kalau 3 tahun itu dipake buat gedein bayi pasti udah lulus asi dan toilet-training yekann. Nggak perlu pusing juga nyari third party kayak kalo emaknya ngantor. 

Sementara diri gue sendiri menilainya dengan: CLTP tapi kok belum tambah jago ngedidik anak dan rumah tangga?
UHUHUHUHUHUH.
Bukannya ku tak mencoba. I really did try. 
Kalau gue kilas balik ke masa-masa itu, yang otomatis keinget adalah rasa capeknya, karena beberes rumah sendiri, pun nyupirin anak ke mana-mana sendiri. Hal berikutnya yang terkenang adalah betapa dulu Bhumy masih kecil banget. Waktu begitu cepat berlalu. Dulu keperluan dia "cuma" dipeluk sebelum tidur, ditemenin main bikin-bikin, diajakin joget-joget les musik. Sementara sekarang, rasanya konflik gue dan dia semakin rupa-rupa bentuknya. 
Yang ngelawan karena hal-hal kecillah, yang susah dibilanginlah, yang bohonglah, inilah, itulah.
Emang semakin gede anak manusia, semakin berkembang juga segala halnya, sih. 
Apa mungkin gue menghadapi kesulitan karena skill gue belum berkembang yaaa, sebagai ibu?

Bener deh, sekarang baru gue sadari, kalau bagian netekin, toilet training, bahkan begadang-begadangnya, itu semua tergolong gancil! 

(Intermezzo: kok pas banget sih lagu yang mengalun "Yang Tlah Berlalu"-nya Gigi)

Kalau sekarang, gue harus mengatakan: welkam pubertas, marhaban isu-isu pra-remaja. 
Kebayang nggak sih, sementara gue terkadang masih dihantui isu yang terjadi kala gue remaja?
Contoh termudah, sampe sekarang aja gue masih bingung gimana menghandle emosi negatif di tengah mood swing?
Trus udah kudu ngajarin emotional regulation ke anak *tepukdahi :(
Intinya nggak enak deh kalau jadi orangtua yang belum "tuntas" PR bebenah dirinya. Karena akan sampai di suatu titik di mana kerjaan jadi dobel: bebenah diri SEKALIGUS meneruskan ilmu yang baik-baik saja ke anak.
Rasaaiiiiin kamuh, Riska!

Tapi memang sungguhlah Allah Sang Maha Designer.. pernah nggak sih, saat merasa ingin tau sesuatu, lalu segala tentangnya lantas tiba bertubi-tubi?
Tanpa diduga. Tanpa direncanakan. 
Mungkin seperti kata orang bijak: "When the student is ready, the teacher will appear."

Satu hal yang cukup menjadi turning point adalah ketika Kiti my bestbudcat mengenalkan gue pada Nova atau Nup (sinicenopy.com). 
Siapakah dia?

Well, Nup sebenarnya teman kuliah Kiti di kedokteran. Tapi pemikiran yang sejalan dan sefrekuensi membawa Kiti sering berdiskusi dengan Nup bahkan setelah lulus dari bangku perkuliahan. Dari situlah gue jadi suka mendengar tentang Nup dan kiprahnya, terutama di dunia PENDIDIKAN. 
From what I heard, apa yang Nup lakukan is so so ah-mazing. 
Dia menggunakan pengetahuan dan ketertarikannya di bidang sains otak (neuro science, brain science) untuk dimanfaatkan di bidang pendidikan anak. She's someone with a mission, an important one. Dan beruntunglah gue akhirnya bisa dikenalin dan bertemu dengan Nup. Pada pertemuan pertama kita, kita ngobrol sampai 3 atau bahkan 4 jam. Hahaha. Felt like there's soooo many things to discuss and brainstorm about. Di sosok Nup, gue juga menemukan panutan dalam hal parenting (among other things), karena dari yang gue lihat, 'kaki' Nup sudah menjejak dengan lebih ajeg dan tau mau melangkah ke arah mana. 
Bener-bener kayak lagunya Fourtwnty..

"Waktu ke waktu perlahan kurakit egoku
Merangkul orang-orang yang mulai sejiwa denganku
Ke-BM-an membukakan jalan mencari teman
Bergeraklah dari zona nyaman"
  
Hihi.
Lalu suatu ketika, tepatnya ketika gue sedang intens berkeluh-kesah seputar problema parenting, Nup merekomendasikan gue workshop bertitel Mother Culture. 
Saat gue baca deskripsi workshop-nya, gue nggak heran kenapa ini gue perlukan. Sub-temanya aja: Raising Yourself while Raising Your Children. Mengena abis!
Selebihnya diinfokan kalau akan dibahas gimana cara menghandle problema kehidupan modern yang serba sibuk, gimana mengembangkan diri sebagai orangtua, plus gimana memperbaiki relasi dengan pasangan dan anak. Uwowow combo ini mah. 

Alhamdulillah juga semesta mendukung, sehingga meskipun durasi workshopnya 5 jam dan di suatu Sabtu, gue bisa muncul di situ.
Apa yang disampaikan emang bener-bener yang gue butuh untuk tau, ternyata. Kudos to Nup my lup!
Di sini akan gue coba sampaikan lagi dengan cara gue memahaminya ya... biar ngelotok. 

Jadi, narsum workshop ini, mba Ellen Kristi, adalah seorang praktisi filosofi Charlotte Mason. 
Jujur gue cuma pernah dengar sekilas soal ini, dan belum pernah mencoba mencari tau. 
Workshop dibuka dengan menyampaikan apa makna pendidikan berdasarkan "paham" bu Mason, yaitu
"Education is an atmosphere, education is a discipline, and education is life." 

Tapi yang akan digarisbawahi adalah education is an atmosphere. 
Apaan sik maksudnya??
Gampangnya bisa dijelasin dengan: karena kita manusia hakikatnya adalah mahluk spiritual, maka pendidikan juga berarti kerja spiritual. Semua yang kita lakukan akan membekaskan sesuatu pada spirit kita. 
Nah, dengan anak-anak, spirit ini yang menentukan apakah waktu kita bersama anak itu berkualitas apa nggak. (!!)
Spirit kita sebagai orangtua harus sinkron, baik saat di depan/bersama anak, maupun di belakang anak. 

Yaampun baru segini aja udah tertampol aku rasanya. Masih terngingang dengan jelas saran bu Alzena tahun 2016 lalu yang bilang gue harus KHUSYUK saat sedang bersama anak. Ternyata ini toh lanjutannya! Gimana caranya gue perlu menumbuhkan spirit yang SEHAT untuk dihirup anak sehingga mereka bisa bertumbuh dari makanan spiritual yang diasupkan oleh gue. 

"Children breathe in the values we emanate," - another quote from the workshop. 
Lebih banyak hal yang ditangkap anak secara naluriah atau secara spirituil dibandingkan apa yang diajarkan blak-blakan lewat nasehat. Urusan spirit ini nggak main-main karena impact-nya pun segitunya. 

Trus gimana caranya? 
Gue udah mencoba dan mencoba rasanya T_T tapi kok tetap aja terkalahkan oleh diri sendiri dan kondisi. 

Jawaban yang ditawarkan mba Ellen adalah: kita perlu jadi orangtua yang bertumbuh
Bukan pertumbuhan secara materiil tapi secara emosionil dan spirituil.
Gampangnya deh, gimana karakter kita? Apakah udah bisa sabar? Apakah bisa berkata tidak pada keinginan yang nggak bener? 
Well, emang sih karakter ini bukan hal pertama yang diperhatikan orang, karena itulah kita jadi nggak fokus mengembangkannya. Yang otomatis dilihat, seperti kala kita menilai anak, apakah hanya tambah pintar, berprestasi, atau makin tinggi. Kala menilai orang dewasa, pertanyaan menjadi apakah ia sudah lebih kaya, lebih kece? Bukan gimana karakter kita. Huhu. 

Akan gue beberkan dengan lebih komprehensif di blogpost berikutnya yaw soal bertumbuh ini.
Buat gue, insight ini bener-bener menggeser paradigma. 
Aha moment at its best! 
Allah memberikan apa yang benar-benar gue butuhkan: petunjuk supaya gue bisa bertumbuh, berbenah, memperbaiki diri supaya bisa amanah mendidik anak.


"Sembilu yang dulu
Biarlah berlalu
Bekerja bersama hati
Kita ini insan bukan seekor sapi
Sembilu yang dulu
Biarlah membiru

Berkarya bersama hati"

No comments:

Post a Comment