gue inget waktu bagi rapot saat masih kelas 2 atau 3 SMP, gue yang kala itu masih menjadi anak rajin nan berprestasi, mendapat ranking 1 di kelas.
gue ingat merasa lega, dan senang, tentunya.
my mom was busy congratulating me when I told her the news.
tapi ketika bokap melihat isi rapot gue, komen dia adalah,
“ini nilai pelajaran A kok cuma 7?” seraya menunjuk satu mata pelajaran entah-apa yang gak bia gue ingat. karena yang paling teringat justru komentarnya itu dan reaksi otomatis gue yang berupa rasa kesal.
menurut gue titel sebagai rengking satu udah segitu menterengnya, tapi malah nilai gue yg paling rendah yg doi komentarin.
K E T E R L A L U A N.
(lagian nilai 7 udah macem dosa besar aja, masi untung nilai gue kagak 4) (grumbles).
reaksi berikutnya dari diri remajaku yang mudah mellow dan sensitif kala itu, adalah hati seketika luluh lantak.
tega bener ye bokap… kok ranking 1 ini gak berarti apa-apa buat dia?
kenapa justru yang diliat, dispotlight, dikomenin, justru kekurangan gue, padahal yang paling gue inginkan hanyalah membuat dia BANGGA?
apa susahnya bilang selamet?!
kejadian yang masih terekam jelas di ingatan ini, terputar kembali saat gue menemukan twit dari @roshennn. doi membeberkan screenshot chat ke bokap dan nyokapnya saat mengabarkan dia lulus dengan GPA sempurna, tapi reaksi dari kedua orangtuanya berbeza sangat bak bumi dan langit.
her mom didn’t even know his grades tapi udah kasih selamat. meanwhile bokapnya? liat sendiri nih hahahaha.
saat gue share ini dengan seorang temen, dia langsung meng-iyabanget-kan kalau kelakuan para bokap (hampir) selalu kayak gitu. at least my dad and her dad and Roshen’s dad are!
temen gue juga ngerasa sulit banget membuat bokapnya seneng. no matter how many professional accomplishments she’s made. no matter how caring she is to her family.
rasanya kayak nggak pernah cukup!
it’s a sad feeling. gue tau karena I’ve been there, too.
jadi anak seorang bokap yang boro-boro deh berkata bangga, sikapnya ke gue kalau nggak cuek-cuek sayang, ya mengkritik. kayak urusan ranking satu tadi.
udah kenyang banget rasanya dikomenin,
“kamu sih gini.” “kamu tuh selalu gitu.” yang kontennya mengkritik kekurangan gue.
well, untungnya, sekarang gue bisa mengenang momen dan rasa nggak-pernah-dianggap-cukup itu tanpa baper.
in fact, I began to view that experience the way my father did. which maybe a perk of being a parent.
gue mulai memahami kalau maksud bokap tuh baik. klise banget, ya?
but in all honestly, sekarang sebagai orangtua, gue mengalami gimana yang kita maksudkan dan lakukan bisa nggak nyambung banget. pengennya mendidik anak supaya mandiri, tapi bisa aja wujudnya dirasakan ‘kejam’ oleh sang anak. contohnya ngelatih anak tidur sendiri, atau nggak langsung beliin apa yang anak minta, dan lain sebagainya.
mungkin dengan melontarkan komentar seperti itu, bokap pengen gue nggak besar kepala. yang bisa mengakibatkan gue jadi lalai memperbaiki kekurangan, atau malah jadi nggak bisa mempertahankan prestasi.
gue rasa udah jadi nature orangtua (bapak-bapak in particular) menginginkan anaknya selalu eling dan waspada, karena dunia di luar sana nggak seramah di dalam rumah. (kejauhan nggak, sih, mikirnya? well, you can never be too parno - said a parno mom. hahaha..)
kalau diadu sama teori parenting terkini sih, sikap bokap yang seperti itu pasti akan langsung dianggap big no and so wrong. how could you not be appreciative towards your own children?? how could you make your kids feel invalidated and unworthy of unconditional love??
bisa jadi karena it’s the only way they knew how to parent.
mental health, kayanya itu sesuatu yang sebagian besar dari mereka kurang pahami.
di era di mana mereka dibesarkan, yang ‘industrial’ banget, manusia dilihat sebagai mesin, yang harus bisa menghasilkan, yang harus bisa ‘berguna’ dengan baik.
gue ingat cerita bu Lanny waktu ngasih materi childbirth education. fyi, bu Lanny ini bidan senior banget. dia udah membantu ibu-ibu melahirkan lintas generasi. beliau cerita kalau dulu, ibu-ibu melahirkan di ruangan khusus lahiran tanpa ditemani suami atau keluarga. so they struggled all by themselves. suami dan keluarganya menunggu di luar, ngintip lewat jendela kecil saja. itu karena pemahaman tentang manusia pada saat itu baru sampai tahap fisikal. sisi emosionalnya belum diperhitungkan. barulah kemudian pandangan tersebut bergeser hingga melihat manusia secara holistik: body and soul. that’s why di kelas ibu hamil yang gue ikuti, kita diajak mempersiapkan momen kelahiran (siapa yang menemani, cara apa yang bisa membantu menenangkan kita, dll), supaya saat beneran lahiran nanti, fisik dan mental bisa sama-sama disupport.
benang merah yang gue tangkap ya itu tadi, di jaman bokap nyokap kita dulu, pemahamannya adalah manusia itu (harus) bisa berfungsi, berguna, dengan baik secara "fisikal," atau dalam hal-hal yang kasat mata.
nampaknya itu yang menjadikan mereka mati-matian mendukung anaknya dari sisi fisik/finansial dan pendidikan. karena mereka ingin anaknya “jadi” atau sukses atau mentas; yang dalam pengertian mereka adalah terjamin sandang, pangan, dan papannya.
kemudian di usia tuanya, para ortu kita kebingungan, ini anak gue nampak udah punya segalanya, tapi kok masih bolak-balik ke psikolog? hahahhaa.
I’m not saying yang mereka lakukan itu benar. but I’m sure they did the best they could. dan mereka ngasih segala resource yang mereka punya untuk membesarkan anak-anaknya dengan tulus. mereka pasti menghadapi perjuangan mentalnya sendiri juga saat itu - atau mungkin hingga sekarang.
my friend said, kita memang harus re-parenting ourselves.
nggak ada pihak yang ‘salah,’ - tidak diri kita kalau merasa kecewa atas sikap orangtua, tidak juga orangtua kita karena punya pola pikir dan harapannya sendiri, tidak juga ‘hidup’ yang mendesain seperti ini.
apalah hidup kalau tanpa PR-PR seperti ini? hehehe.
![]() |
| hope I could do better for you, kiddos |



No comments:
Post a Comment