dalam sebuah artikel, dikatakan kalau apa yang dibutuhkan oleh anak dari orangtua bisa terangkum dalam 3 hal, yaitu cinta, aturan, dan konsistensi.
berasal dari narasumber yang juga psikolog dan bisa dianggap expert di bidangnya, mata gue bak dibukakan lebar-lebar saat 'menemukan' pernyataan tersebut. terlebih waktu itu gue masih menjabat titel orangtua baru alias newbie, yang sehari-harinya berkutat dengan perasaan takuuut, was-was, dan khawatiiiir, tanpa henti mempertanyakan apakah yang gue lakukan selama ini udah 'bener' apa malah 'salah' tanpa gue ketahui.
I'm no expert myself. kalau dinilai, semua yang gue lakuin dalam menjalankan peran sebagai ibu menerapkan paham trial & error semata. tapi semenjak mengenal konsep "3 Bahan Pokok" tadi, gue merasakan langkah gue lebih ringan.. well, if you can't trust your own heart, what else can it be? walhasil, setelah tau teori ini, kelar deh teori yang lain-lain.
sampai lalu tiba-tiba terbetik di pikiran, kalau 3 hal tadi esensial demi well-being anak, kenapa nggak coba diterapin ke diri sendiri juga?
mencintai (anak maupun mencintai diri sendiri), kayaknya terdengar mudah banget, deh. of course we love our children. and of course we love ourselves. tapi gue rasa tantangannya terletak pada gimana mencintai secara sehat. mencintai tanpa menggenggam erat-erat, tanpa merasa anak itu "milik" atau our God-given right sehingga berhak kita perlakukan kayak gimana aja, semau kita.
kalau meminjam istilah Ki Hadjar Dewantara, menurut gue wujud cinta yang bener itu adalah dengan menumbuhkan ia atau mereka yang kita cintai, bukannya dengan mengekang atau mendikte....
attachment is the very opposite of love. love says "I want you to be happy." attachment says "I want you to make me happy."saat udah menjabat titel sebagai orangtua, gue hampir secara otomatis ngerasa perlu banyaakk banget belajar. waktu masih newbie dulu, getol banget melajarin soal ASI, MPASI, dan tumbuh-kembang anak. abis itu jadi getol belajar soal financial planning demi terwujudnya impian-impian buat anak dan keluarga. lantas getol belajar tips 'n tricks seputar parenting (demi bisa meghentikan tantrum anak tanpa harus ketularan tantrum), seputar pendidikan (demi bisa memilih sekolah 'terbaik' jadi nggak malu-maluin kalau check in location di Path), seputar ini itu, banyaaak sekali.
emak-emak jaman sekarang pasti udah familiar banget deh sama ungkapan, "perasaan dulu emak-bapak gue nggak ribet-ribet amat kayak begini, dah!"
dan ya, sungguh ya, kalimat itu juga terlontar di benak gue.
meski harus gue akui kalau implikasi dari pemikiran tersebut kadang berupa hal negatif, sih, di gue. kadang gue jadi suka menyesalkan, kok dulu nyokap gue nggak concern sama hal ini sih. atau kok dulu bokap gue nggak peduli amat waktu gue lagi begini begitu. I wish they would have learned "how to be a parent" like I've been doing until now!
hehehe gue ngerti siih, nggak bolehlah nyalah-nyalahin emak-bapak sendiri. they did their best, and yes I believe in that as well! nggak ngerasa gue orangtua paripurna juga, kok... tapi ya itu tadi, sometimes, I just can't help not to wonder... how much difference would that make?
well, kembali ke saat ini, gara-gara kepikiran untuk menerapkan aturan "3 Bahan Pokok" tadi, gue jadi mulai berpikir, bahwa sekarang ini, saat gue udah kadung dewasa, tanggung jawabnya ya ada di tangan gue sendiri. gue yang harus mensuplai apa-apa yang gue perlukan tadi; ya cinta, ya aturan, ya konsistensi. ("lha emang iyaaaa, jeng.. telmi amat!" mungkin begitu respon sebagian khalayak blog ini saat membaca kalimat gue itu kekekek. but I'm a slow learner, so.. maklumin ye).
gue perlu memberikan cinta yang menumbuhkan itu ke diri gue sendiri, for my own sake. gue yang perlu menerima segala kelebihan dan kekurangan diri, tanpa judging, tanpa bad-mouthing, and without being discouraging.
lucu deh kalau dipikir-pikir, kita jauuuuh lebih sungkan sama orang yang kita nggak kenal dibanding sama diri kita sendiri.
trus, as we all know, mencintai juga terwujud dalam usaha membahagiakan, right?
kalo buat anak, setengah mati deh kita berusaha memberikan yang terbaik (kaki jadi kepala, kepala jadi kaki kalo kata bapak-bapak di kantor). why not do the same buat diri sendiri?
it does sound kinda selfish sih, terutama buat emak-emak. karena seperti yang gue rasain sendiri, begitu jadi emak-emak, prioritas kesenangan diri munduuur ke urutan sekian puluh. padahal udah sering denger 'kan salah satu rumus parenting yang bilang kalo "happy mothers make happy kids?" segitu esensialnya loh membahagiakan diri sendiri, sampe dianggap bisa ngejadiin anak-anak kita bahagia juga. esensial, dan juga segitu simplenya kalo dipikir-pikir.
hmm... in order to do that, firstly we need to define what "happiness" means for us dulu nggak sih? karena setiap orang pasti punya konsep yang berbeda-beda tentang bahagia itu seperti apa. kalo di tafakur sih dibilangin kalau bahagia itu kondisi jiwa, batiniah, bukannya badan atau jasmaniah. jiwa ini yang abadi. ketika badan udah nggak bisa berfungsi lagi, atau rusak, atau hancur, jiwa ini masih akan terus eksis. cuma berpindah alam aja.. dari alam dunia ke alam kubur lantas alam akhirat.
kalo udah aware of that fact, masih penting lagi nggak sih apa-apa yang kita kejar di alam dunia inih?
seharusnya sih... kita membahagiakan jiwa dengan sebanyak-banyaknya ngumpulin bekal. karena kayak dibilang tadi, jiwa ini yang abadi, yang bakalan "pulang."
some things changed sejak gue balik kerja full-time lagi. secara fisik ya jelas banget, gue jadi punya tempat yang dituju setiap pagi selain sekolah bumy. tapi yang paling berasa ada perubahan ya jelas di hati. I definitely feel "happier." bukan berarti hari-hari di kantor melulu diisi tawa canda riang serta asupan nilai, ilmu, dan inspirasi yang bermakna. sucky things happen. almost always.. like a lot, malahan hahaha. tapi gue jadi makin kenal kebutuhan jiwa gue sih, yang butuh bersosialisasi, yang butuh memedulikan hal-hal di luar urusan domestik. gue seneng ngantor karena I get to meet people. even though the work is not satisfying, soul-wise.
tempo hari waktu tafakur, dokter yuniar ngingetin gue lagi soal niat bekerja. supaya terhitung ibadah, kita perlu lurusin niat... apalagi sebagai perempuan, nyari nafkah itu bukan "main job" gue. kalo menurut beliau sih, niat yang 'lurus' itu adalah membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga... bukan yang lain-lain.
gue nggak bisa bilang apakah sanubari gue setuju sepenuhnya dengan pernyataan itu, sih. karena ada hal lain yang gue "cari" dari bekerja. gue pengen bisa ngasih impact yang nyata, bikin perubahan positif, termasuk juga bener-bener mengenal dan menumbuhkan diri gue.
tempo hari ada kesempatan berkarir yang hampir datang ke pangkuan gue. meskipun akhirnya batal, tapi proses yang udah gue lalui bikin gue tersadar, kalo gue akhirnya tau apa passion gue. gue juga tersadar kalo memang passion gue itu hal yang membuat gue bahagia/fulfilled/feel whole, maka gue harus terus mengejarnya, mencari-cari alasan untuk 'bertemu' dengannya, dan mencurahkan energi untuk bisa 'bersama'nya.
just like when you're in love.
tapiiii kembali ke prinsip "3 Bahan Pokok" tadi, kalo nurutin cinta doang, ya bisa-bisa buta, terjatuh, atau mabuk. sebagai orangtua, apapun yang gue lakukan buat anak rasanya dilandaskan sama pemikiran kalau semua itu demi kebaikan dia. tapi cinta yang menumbuhkan, yang bener, juga berarti memagari dengan peraturan. seperti yang pernah gue bahas di blogpost ini, cinta ibu ke anaknya sampai bisa dianalogikan dengan cinta Tuhan pada mahlukNya. Tuhan aja ngasih kita peraturan; yang mana semuanya itu demi kebaikan kita (di akhirat kelak). dari situ bisa jadi contoh juga buat gue sebagai orangtua, kalo mencintai bukan berarti membebaskan sejadi-jadinya.
kalau untuk diterapkan ke diri sendiri, dengan demikian gue juga PERLU menerapkan aturan ke diri gue sendiri. mulai dari disiplin bangun pagi, sholat lima waktu, disiplin urusan duit, eat right, fight right, punya batasan-batasan yang nggak boleh dilanggar, dan lain sebagainya. in short, I need to do the RIGHT things.
terakhir, adalah konsistensi. yak, semua aturan yang udah diterapkan tadi ya perlu dilakukan terus-menerus. kalau kita larang anak melakukan satu hal, ya harus konsisten dilarang di setiap kesempatan dan kondisi, tanpa ada dalih alih-alih hehe. begitupun ke diri sendiri, kalau udah yakin sama satu nilai/value tertentu, ya jangan dikotak-katik lagi...
makanya gue suka banget kata-kata/doa "semoga istiqomah." di dalamnya ada harapan untuk bisa terus sukses melakukan sesuatu sampai titik akhir... sesuatu yang bener, yang positif, tentunya.
"I'll take it nice and slow
Feeling good on my own without you
Got me speaking in tongues
The beautiful, it comes without you
I'm gonna put my body first
And love me so hard 'til it hurts"


Tulisan lo itu ya.. biar kata panjang, tapi wajib dibaca sampe abis!
ReplyDelete