"New milestone unlocked: bayar uang pangkal SD."
lega rasanya udah menjatuhkan pilihan, meskipun seperti yang pernah gue ocehkan di sini, sampe batas waktu terakhir harus memilih tetep aja gue belum merasa 100% sreg.
dipikir-pikir sekarang, yang bikin kita nggak sreg adalah faktor-faktor di luar metode pendidikan yang diterapkan. contohnya lokasi, yang udah nggak bisa diapa-apain kecuali kita pindah rumah (#ihaveadream). trus juga uang pangkalnya yang bakal bikin kita mikir sekian kali kalau mau relokasi - ya sapa tauk adit dapet kerjaan di negeri tetangga atau pindah benua, gituh (#agirlcandream) - saking agak 'meleset'nya dari ancer-ancer uang pangkal SD di financial plan awal.
serta sederet hal-hal lainnya sih... yang udah pernah gue beberkan sebelumnya. intinya, it wasn't THE perfect choice.
but when the time came for us to make a choice, setelah ditimbang-timbang, satu hal yang bikin sreg sampai bisa melampaui faktor-faktor tadi ya metode pendidikan yang dipake. it's none other than the authentic montessori method, applied with Islamic values. yang udah paket combo bangetlah di mata gue!
kenapa montessori segitu memikatnya bagi gue secara pribadi, jawabannya ya karena pendidikan tsb oke banget. secara garis besarnya, karena montessori menyesuaikan dengan perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences dan active learning, melatih kemandirian anak (dalam berpikir dan berperilaku), PLUS... membentuk anak jadi lifelong learner.
biar afdol, kalau mau liat pembahasan lebih runut seputar kayak apa montessori dan manfaatnya kayaknya bisa ditemukan di sini.
well, mungkin ada yang mikir semua benefit tadi iming-iming 'dagang' semata.. of kors gue pun nggak menampik gimana output dari pendidikan montessori akan sangat tergantung pada penerapannya di lapangan.
tapi gue harus bilang kalau sejauh ini I feel quite optimistic, sih.
ada kejadian di mana bumy ikut 'tes' observasi di sekolah lain yang tadinya jadi kandidat calon SD. sekolah ini reputasinya terbilang cetar-lah. kurikulumnya lumayan didominasi nuansa akademik, nilai UN level SD-nya oke, dapat peringkat ke sekian di DKI. dari hasil riset, kunjungan, dan hearsay, bisa disimpulkan kalau sekolah ini punya threshold yang cukup tinggi untuk kemampuan kognitif calon siswanya.
gue sih nggak nyiapin apa-apa buat bumy untuk ngikutin tes di situ. bahkan yang nganterin bumy tes cuma embak ART (dan tukang kebon freelancer sebagai ojek dadakan).
setelah tes, tentunya hasilnya diobrolin oleh Kepsek sekolah tersebut dengan gue. as I said, gue nggak ngoyo untuk masukin anak ke sini, dengan berbagai pertimbangannya, jadi nggak ada debar-debar aneh juga ketika mau denger gimana hasil observasinya. but when I talked with the principal, this is what I heard: "aduh, kalo anak montessori nggak usah ditanya lagi deh, kemampuan calistungnya di atas rata-rata. (mereka) juga mandiri dan dewasa banget dibandingkan yang lain."
*insert gif hidung kembang-kempis*
singkatnya, bumy diterima masuk ke situ. tapiii setelah mikir bolak-balik, alih-alih masukin bumy ke sekolah tsb, gue dan adit tetep milih sekolah bumy yang sekarang dengan segala risikonya. sekolah bermetode montessori otentik yang memang belum bisa menyelenggarakan UN di sekolah sendiri (karena belum punya lulusan), yang belum dapet akreditasi, lahannya terbatas, dan manajemennya juga masih 'hijau.'
tapi jika dilihat lewat perspektif yang berbeda, sekolah bumy sekarang ini udah cukup lumayanlah dalam menerapkan metode yang diusung - karena ya keliatan hasilnya di bumy.
kalau gue liat-liat sekeliling, cukup banyak orangtua yang milih nyekolahin anaknya di sekolah bermetode montessori. karena nama montessori sendiri nggak dipatenkan, makanya banyak sekolah yang bisa mengadopt maupun mengklaim menerapkan metode tersebut - meski mungkin cuma sebagian, dengan dicampur metode pendidikan lainnya. montessori juga lebih banyak diterapkan buat pendidikan anak usia dini aja alih-alih dilanjutin sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
ketika diulik-ulik (meski tanpa sengaja hehe), ternyata banyak stigma yang beredar seputar montessori, bahkan di kalangan orangtua yang juga udah menyekolahkan anaknya di TK montessori. salah satu yang suka gue denger adalah "aduh montessori kayaknya terlalu santai/kurang nampol kalo buat SD."
gue paham banget sih maksudnya. sekolah montessori (anak gue) emang nggak ngasih nilai, rewards, hukuman, bahkan juga nggak ada PR.
sementara di mata (banyak) orangtua, masa bersekolah di SD itu seharusnya dipergunakan untuk 'menggempur' anak dengan pelajaran, rupa-rupa skills, dan disiplin dalam belajar. I used to think that way jugak.
tapi... kala ku menyadari kalo diri ini nggak bisa sabar ngajarin anak, gue bersyukur sekolah bumy ngajarin calistung tanpa harus gue drill sama sekali di rumah (tau-tau anaknya bisaa aja).
menyadari diri ini pemalas, begitu mendarat di rumah maunya main-main sama anak sekadarnya, gue bersyukur sekolah bumy nggak ngasih PEER dan project yang sulit-sulit.
menyadari diri ini mudah stres, hati gue adem pas baca status temen yang anaknya bersekolah di SD montessori kayak begini: "di saat ibu-ibu lain lagi sutris ngajarin anaknya buat UTS, kami bisa leyeh-leyeh, ketawa-ketawa, main-main bareng." ya secara sekolah bumy nggak ngasih ujian, ulangan, atau sejenisnya tiap sekian bulan.
guilty as charged, gue mikirin yang enak di gue doang hahaha.
but in a more serious light, I believe in montessori education. efeknya keliatan banget di diri bumy. mungkin ini mamak semacam pamer bin riya' yah, tapi jika memang yang dijadikan tolak ukur cuma kemampuan kognitif semacam calistung, 'rapot' bumy udah bisa dapet nilai A semua.
meskipun begitu, gue prefer menilai anak secara lebih luas. seperti yang pernah gue tulis di sini, scope penilaian setiap kemampuan anak yang diterapkan di pendidikan montessori nggak sesempit yang gue kira. anak bukan cuma dibentuk untuk lulus dari TK dengan kemampuan akademik yang kuat; tapi yang lebih penting, dengan ATTITUDE bahwa belajar itu menyenangkan, seru, dan tanpa batas.
karena itulah gue terkagum-kagum melihat gimana ada semacam eagerness di diri bumy untuk belajar dan menguasai suatu hal. terasa kalau ada working ethics yang ditumbuhkan di dirinya. ini hal yang nggak kasat mata, karena nggak bisa diukur cuma dengan menanyakan "1+1 berapa?" atau "ini huruf apa? dibacanya gimana?"
kalau mau bicara faktor penguat secara scientific, ternyata ada studi yang diterbitkan di jurnal "Science" di tahun 2006 yang menyatakan bahwa murid-murid montessori cenderung menunjukkan skill sosial dan kreativitas yang lebih advanced, dan bisa perform lebih baik dalam ujian baca dan matematika dibandingkan anak-anak lain di program tradisional.
that being said, asumsi kalo montessori itu nggak memberikan efek 'nampol' buat anak sejatinya bisa disebut mitos.. ya ndak?
dari situ, gue pun mulai lebih kepo sama asumsi-asumsi semacam ini.
tujuannya apa? bukaan, bukan supaya bisa bales nyinyir ke orang lain hahaha. justru supaya gue bisa lebih sreg sama pilihan yang udah dibuat. lalu kalaupun ada asumsi negatif yang ternyata emang valid, ya supaya gue udah siap aja, gitu *pasrah*
kebetulan, suatu hari seorang ibu yang punya concern besar sama pendidikan (dan kebetulan nyekolahin anak-anaknya di sd montessori hehe) nge-share artikel di sini. judulnya "Montessori Myths Busted", dan ini yang mau gue share ulang di blogpost ini. kurang lebih gue bakal nerjemahin apa isi artikelnya aja sih, tapi mungkin bakal ditambahin juga sama pendapat gue pribadi.
Mitos #1: Montessori cuma buat anak-anak yang berbakat.
apa iya anak harus berbakat buat bisa disekolahin di montessori?
jelaslah sebenernya montessori itu buat semua anak, tanpa memandang level kemampuannya. tapi asumsi ini muncul mungkin karena di mata orang awam, murid-murid montessori kerap terlihat lebih advanced dibandingkan anak-anak lain seusianya, yang menimbulkan asumsi kalo sekolah tsb cuma bisa memenuhi pendidikan untuk anak-anak yang berbakat. (personal note: ini kok berasa humblebrag banget yak? hahaha).
padahal yang sesungguhnya terjadi adalah, pendidikan Montessori memanfaatkan dorongan alami di diri setiap anak, yaitu dorongan kuat untuk belajar, dan memberi stimulasi sesuai kecerdasan majemuk anak. ketertarikan anaklah yang menjadi pedoman bagi guru untuk mengatur pembelajaran yang bisa menstimulasi anak.
Mitos #2 – ruang kelas Montessori itu kacaww alias chaos.
kalo ada yang nyoba merhatiin seperti apa kegiatan dalam ruang kelas montessori sehari-seharinya, selama dua jam gitu misalnya, maka yang akan diliat sesungguhnya bakalan jauh banget dari ribut dan kisruh. penerapan sistem pembelajaran dalam montessori mengizikan anak melakukan banyak hal sendiri. kemerdekaan pembelajaran sangat ditekankan, dan sebaliknya intervensi dari orang dewasa dalam lingkungan belajar sangat tidak dianjurkan. anak-anak didorong untuk melatih self-discipline-nya sendiri, dan ini berlaku juga bahkan untuk anak-anak yang masih sangat kecil.
guru lebih bertindak sebagai pemandu dan memfasilitasi anak untuk belajar sendiri, dengan menggunakan material yang sudah dirancang khusus untuk tujuan belajar tsb.
berbeda dengan di sekolah tradisional, dalam pendidikan montessori anak-anak nggak diajak berpindah-pindah tempat dalam kelas secara berkelompok atau disuruh melakukan aktivitas yang sama di saat bersamaan. anak-anak justru akan dipaparkan pada berbagai jenis material yang bersifat self-correcting.
prosesnya gini, pertama-tama guru akan mendemonstrasikan sebuah material, atau bahkan terkadang bisa ditemukan anak yang lebih tua yang melakukan demonstrasi itu. lalu anak-anak bebas memilih aktivitas mana yang menarik bagi mereka. mereka ditinggalkan sendiri untuk bereksperimen dan berlatih dengan material tadi, yang sebenernya suatu hal yang membantu anak-anak ini mengajarkan diri sendiri berkonsentrasi, membangun skill koordinasi, dan juga kemandirian dalam suatu keteraturan yang tidak membutuhkan pengawasan orang dewasa.
montessori percaya kalau setiap anak harus merasa santai, tenang, dan tenggelam dalam aktivitas. saat terjadi argumentasi antara anak-anak, mereka dibiarkan berusaha menyelesaikannya sendiri. meskipun begitu, mereka juga memperoleh keterampilan manajemen konflik dari para guru, yang membantu mereka menyelesaikan masalah.
Mitos #3 – Montessori tidak memfasilitasi perkembangan sosial.
respek yang ditunjukkan guru kepada setiap anak menjadi teladan bagi anak-anak untuk saling menghargai. anak-anak kecil berinteraksi dengan anak-anak lain dan juga dengan orang dewasa, sehingga secara bertahap mereka menjadi lebih peduli dan sensitif terhadap sekelilingnya. rentang usia 2-3 tahun dalam kelas menyebabkan pembelajaran terjadi dari anak-anak yang lebih besar ke yang lebih kecil, dan ini terjadi secara alamiah.
namun montessori juga menghargai anak dan kebutuhannya akan privasi. selain memenuhi kebutuhan anak untuk beraktivitas sendiri(an), area dan aktivitas dalam kelas juga memungkinkan anak-anak saling berinteraksi. anak-anak yang lebih besar sering menjadi guru bagi yang lebih kecil, serta anak bisa bekerja sama ataupun sendiri-sendiri sesuai pilihan mereka.
Mitos #4 – Montessori tidak ketat secara akademis.
banyak orangtua khawatir menyekolahkan anak di pendidikan Montessori karena berpikir metode ini tidak akan mempersiapkan anak-anak mereka untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sekali lagi, ini bisa dibilang sangat tidak benar.
Sistem Montessori tahu bahwa anak-anak yang masih sangat kecil dapat memahami konsep-konsep yang rumit jika mereka diperkenalkan secara konkret. Sebagai contoh, jika mereka telah belajar tentang tabel perkalian menggunakan material '100's Board' maka mereka akan memiliki pemahaman yang jauh lebih besar tentang perkalian ketika pembelajaran berkembang menjadi simbol abstrak.
Seiring anak tumbuh dewasa, mereka mempelajari keterampilan seperti membaca, menulis dan juga meneliti dengan mengeksplorasi mata pelajaran lain dalam kurikulum, seperti kajian budaya dan ilmu pengetahuan. Keterampilan tidak hanya diajarkan untuk kepentingan itu, tapi juga untuk mendorong peserta didik maju lebih cepat karena mereka sering mempelajari area yang menarik bagi mereka.
Seperti dikutip dalam studi Angeline Lillard yang diterbitkan dalam jurnal, Science, pada tahun 2006, "Siswa Montessori terbukti secara signifikan lebih siap untuk sekolah dasar dalam keterampilan membaca dan matematika daripada anak-anak non-Montessori.
"Mereka juga teruji lebih baik pada 'fungsi eksekutif,' yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan masalah yang lebih kompleks, suatu indikator kesuksesan dalam bersekolah dan hidup di masa depan."
Menurut neuroscientist, Dr Steven Hughes, "Jika kami memutuskan bahwa tujuan pendidikan seharusnya adalah membantu otak setiap anak mencapai potensi tertinggi perkembangan ... pendidikan Montessori menyajikan pendekatan pendidikan yang secara radikal berbeda - dan juga secara radikal efektif - yang mungkin menjadi metode terbaik untuk memastikan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional yang optimal dari setiap anak."
Mitos #5 – Anak-anak yang lebih besar akan mengintimidasi yang lebih kecil.
anak-anak Montessori disusun dalam kelas dengan rentang usia 2 sampai 3 tahun. ini bikin banyak orang tua khawatir nantinya anak-anak yang lebih tua akan mengintimidasi anak-anak yang lebih kecil.
padahal kondisi mixed-age (campur-usia) ini memberikan kesempatan bagi siswa yang lebih berpengalaman untuk menjadi role model dan membantu anak lain. hal ini menaikkan harga diri anak.
dengan adanya rentang usia di kelas, kompetisi diminimalisir sebagai motivator. Para siswa dapat dengan nyaman berbagi pengetahuan dengan satu sama lain. Mereka belajar untuk bekerja sebagai tim dan menghargai kontribusi masing-masing anggota dalam situasi apapun. Kemampuan ini bisa menjadi "alat" bagi anak dalam memecahkan konflik, yang akan membangun toleransi untuk sudut pandang yang berbeda dan mempersiapkan anak-anak menjadi orang dewasa yang penuh kasih.
Mitos #6 – Montessori Terlalu Terstruktur
Beberapa orang meyakini kalau Montessori kacau dan tidak terstruktur, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sementara yang lain percaya kalau montessori terlalu terstruktur. di mata mereka, anak-anak duduk dan bekerja sepanjang hari dan tidak diizinkan untuk bergerak.
Dalam kelas Montessori, anak-anak benar-benar memiliki kebebasan untuk berjalan-jalan di sekitar kelas, menyelesaikan pekerjaan dalam urutan yang mereka pilih. Tidak ada batasan waktu di dalam kelas, yang berarti selama 3 jam siklus kerja, anak-anak dapat mengunjungi meja suara, atau material sensorik, practical life, kemudian pindah ke Matematika. Satu hal yang penting adalah ketika mereka berinteraksi dengan material, 'bekerja' terasa lebih seperti 'bermain' yang semakin membuat mereka terlarut dalam aktivitasnya.
Mitos #7 – Anak-anak bebas melakukan apa saja di dalam kelas montessori
Sebenarnya lingkungan montessori disiapkan dengan sangat hati-hati dan kaya dengan material yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
anak dapat mengeksplorasi apa yang menjadi ketertarikan mereka. Jika anak-anak diajarkan kemerdekaan memilih sejak dini, mereka dapat jauh lebih termotivasi untuk belajar.
Guru bergerak di dalam kelas, membimbing dan mendorong anak-anak untuk menantang diri mereka sendiri di area pembelajaran yang sedang mereka jelajahi dan di area-area baru. Guru menjadi pengamat terlatih danmembantu anak-anak untuk bertumbuh secara intelektual selagi mereka menguasai keterampilan baru. Bahkan, di tingkat yang lebih rendah, anak-anak belajar untuk membuat rencana kerja mereka sendiri untuk satu hari yang mencakup area dasar seperti matematika, membaca, budaya, ilmu pengetahuan dan banyak lagi. Manajemen diri ini menjadi fondasi penting seiring tingkat pemahamana anak bergerak ke tingkat lebih tinggi.
Mitos #8 – program Montessori tidak akan bisa mengimbangi kurikulum di sekolah non-Montessori.
Mitos ini sering diangkat dan pastinya tidak terjadi. Faktanya anak-anak Montessori seringkali maju jauh melampaui tingkat yang dicapai di sekolah umum. Ini telah dibuktikan oleh hasilnya. Sering ada komentar bahwa anak-anak Montessori sangat cemerlang dan lebih unggul secara akademis ketika dimasukkan ke sekolah umum. Ini juga terbukti saat mereka berada di jenjang SMA.
Mitos #9 – Montessori hanya berhasil untuk anak-anak tertentu.
lagi-lagi ini hanyalah mitos. montessori bisa diterapkan pada setiap anak. pendidikan ini menerapkan ketiga model pembelajaran, yaitu visual, pendengaran dan kinetik, sehingga setiap peserta didik bisa mencapai kesuksesan. Guru juga bertindak sebagai pengamat yang terampil seperti telah disebutkan tadi, sehingga bisa tahu kekuatan dan tantangan yang dihadapi setiap murid dalam kelasnya. setiap guru menghandle kelompok kecil murid sehingga bisa memastikan anak-anak memahami konsep sebelum bergerak ke pekerjaan independen yang terkait.
Mitos #10 – Montessori tidak memberi peluang untuk bermain bebas atau
pengembangan kreativitas.
Ada banyak waktu untuk anak bermain bebas di waktu istirahat. juga banyak kegiatan tambahan yang ditawarkan seperti seni, musik, drama, bahasa tambahan dan pendidikan jasmani. Kelas-kelas ini dianggap sangat penting untuk pengembangan anak secara keseluruhan. Kreativitas juga dipelihara dan didorong dalam lingkungan kelas dengan mendukung rasa ingin tahu dan minat anak. kita mungkin akan kaget kalau tahu berapa banyak inovator dalam teknologi tinggi dan seni yang punya landasan pendidikan di sekolah Montessori.
demikianlah. panjang yak... karena emang ternyata banyak mitos seputar pendidikan montessori. apalagi buat level pendidikan yang lebih tinggi dari PAUD; wajarlah banyak asumsi karena di Indo kita kenalnya kurikulum nasional yang akademik banget.
kesimpulannya, mitos-mitos ini timbul jika kita hanya melihat Montessori secara selintas. padahal dalam kenyataannya, pendidikan ini sangat memperkaya perkembangan diri anak.
| click to enlarge |


No comments:
Post a Comment