05/02/2016

about easy money

cukup lama gue nggak berceloteh soal hal-hal yang berbau finansial di blog. bukannya gue kehilangan minat terhadap tetek-bengek financial stuff, sik. perduitan 'kan bisa dibilang salah satu passion gue, hehe.  
jujur aja, belakangan ini financial planning keluarga agak terbengkalai. boro-boro punya guideline atau peta finansial, cashflow bulanan aja nggak terlalu dipantau lagi. yang penting utang lunas dibayar setiap bulannya, dan akupun bisa bernapas lega. 



efeknya apa? 
ya berasa banget sih, jadi seolah berjalan tak tentu arah. financial wishlist mengawang ke mana-mana. bahkan ada investasi yang 'terpaksa' dicairin demi beberapa tujuan jangka pendek. 

nah, sekarang mungkin karena efek tahun baru (iya bener, efek tahun baru), mulai tumbuh lagi concern terhadap urusan perduitan di sanubari.  
gue bebenah dulu, sik sebelum mulai menggila dan mengawang-awang bikin wishlist. beresin cashflow, check up kesehatan finansial (ngerjainnya sambil meringis-meringis ketakutan), dilanjutin nyusun plan baru... plan yang much less ambitious dibanding sebelum-sebelumnya, tapi realistis. 
dalam "financial wishlist" gue, selain ada hal-hal standar dan serius (kayak "healthy financial condition," dana darurat, dsb), ada sesuatu yang gue rasa perlu dimasukin. apakah itu?

jadi awalnya gini, suatu hari gue dan bumy lagi cerita-cerita mesra seperti biasa, tau-tau dia nyeletuk, "ma, masa temen bumy si anu nggak punya mobil, loh!" dia ngomong gitu dengan takjubnya. 
reaksi pertama gue cuma, "emang kenapa mi kalo nggak punya mobil? mama juga dulu waktu kecil nggak punya mobil."
dia jawab, "kalo mau jalan-jalan gimana?"
"ya naik bis. atau taksi sekali-sekali." 
dia pun manggut-manggut tapi mukanya masih keheranan. 

kejadiannya sederhana banget, tapi ternyata membekas euy di gue. 
gue jadi mikir... has my kid been having it easy? and is it wrong if he had? 
it's not like we're super rich or anything, but my kid does enjoy things I couldn't when I was his age. contoh nyata pertama ya soal mobil itu. now it seems pretty normal, right? everyone has a car. at least everyone I and bumy know. 
hal ini semacam 'wajar' untuk saat ini, di mana jumlah middle class di Indonesia lagi meroket. bedalah sama jaman bokap-nyokap gue masih produktif dulu. dan ini juga ngaruh ke gaya hidup. buat bokap-nyokap, mobil pribadi itu prioritas kesekian. kita juga jarang banget nge-mall. dan masih bisa idup tuh tanpa harus liburan setiap 3 bulan. 

tapi kalau dilihat secara objektif, it's like we (the so-called middle class) are living inside a capsule. kita cuma bergaul sama mereka yang ada di kapsul itu aja. padahal di luar kapsul, ada bermacam-macam ragam gaya hidup. hal ini yang sering bikin nggak sadar how privileged we are. 

somehow gue jadi keinget materi seminar tim bu Elly, yang mengusung istilah "digital native" untuk membedakan jenis manusia dalam mempersepsi teknologi. mereka yang tergolong digital native adalah anak-anak kita yang sejak lahir udah 'melek' teknologi digital. bahkan mungkin sejak di dalem perut pun tanpa disadari udah akrab sama gadget dan teman-temannya. karena mereka adalah "native" alias warga asli di ranah digital, mereka menganggap beginilah normalnya dunia bekerja. keberadaan dunia yang digitalized menjadi common sense buat mereka.

mungkin begitu juga yang terjadi dengan keberadaan privilege, fasilitas, dan kenyamanan hidup. anak-anak kita (gue) yang sedari kecil hidup dan dibesarkan dalam 'kapsul' mungkin akan berpikir "this is how the world works." everyone should have cars, decent houses, and other privileges. 
dan muncullah perasaan "berhak" itu. these kids will grow up thinking they're entitled with cushioned life. 

komik ini bisa ngejelasin dengan simpel dan gamblang tentang apa dan gimana privilege itu.


dari sini

suatu ketika gue lagi nonton serial tv favorit gue, "Orange is the New Black." ada suatu adegan di mana Alex dan Nicky lagi ngobrol. bagi yang nggak nonton tv show ini, Alex adalah seorang pengedar drugs (dan dipenjara karena itu), sementara Nicky pecandu drugs. padahal Nicky ini anak orang kaya (from Upper East Side) tapi dipenjara karena mencuri mobil orang gitu deh. 
nah, sambil ngelipet laundry, mereka berkhayal seandainya mereka udah kenal sejak di dunia luar penjara dulu. apakah  Alex bakal nge-hire Nicky untuk kerja jadi pengedar atau drug intel di jaringannya? 
jawaban Alex begini, 
“My business was built on sniffing out girls like her and turning them into drug mules. You grew up rich so you’re used to easy money, you have enough stamps on your passport to avoid suspicion, you hate your parents, you’re in your experimental phase, all you want to do is f*ck a woman or a black guy, have some adventure and still be able to afford a Birkin bag.”
excuse the french, tapi pesan yang ada di dalam dialog ini membangunkan gue, cin, terutama bagian yang di-bold. 
the answer is yes, Alex would definitely hire Nicky, atas dasar alasan yang dijembrengin di atas. latar belakang idup Nicky yang udah terbiasa sama easy money, tapi kurang perhatian dan butuh 'sensasi' dalam hidupnya, menjadikan dia sosok yang tepat untuk terlibat di jaringan pengedar drugs. 

jadi terlintas di pikiran gue, betapa hal-hal yang didapetin dengan mudah rentan membawa penikmatnya ke 'jurang' - kalo penikmatnya itu nggak dibekali sama kesadaran dan ilmu yang cukup. dikembaliin ke diri sendiri, tentunya gue nggak mau anak gue tumbuh jadi penikmat easy money yang bakal bisa direkrut jadi drug mule. tapi kembali ke realitas, namanya anak semata wayang, emang sih, gue sering beliin bumy sesuatu tanpa dia minta atau harus berusaha keras. kalo adit sih agak beda, dia sering bilang nanti kalau udah kelas 4 SD bumy disuruh ke sekolah naik angkot aja. tentunya alasan keamanan wajib jadi pertimbangan yah (gue sendiri langsung mencak-mencak pas denger usul adit), tapi deep down gue ngerti maksud di balik nyuruh anak naik angkot itu. 

mungkin selain untuk bikin anak paham soal value of money, juga seperti yang tertuang dalam tulisan di blog ini.. 
"Jika engkau terlalu sering makan di restoran mewah, sesekali makanlah di warung kecil pinggir terminal atau gubug di tengah sawah
Jika engkau terbiasa naik mobil mentereng, sesekali nikmatilah berdesakan di dalam bus dalam kota yang padat
Jika engkau terlalu sering tidur di kasur yang empuk, sesekali lelaplah di pelataran masjid
Jika engkau acap berbelanja di pusat perbelanjaan megah, sesekali rasakan asyiknya berbelanja dan menawar di pasar rakyat
Jika engkau terbiasa berdiskusi dengan orang orang berdasi, sesekali akrablah berbincang santai dengan anak anak kecil dan bapak bapak di bawah jembatan

Tidak.. Bukan untuk membuktikan dirimu peduli..
Hanya sekedar untuk... melembutkan hati."

maka kalau bisa disimpulkan, gue punya satu tujuan finansial untuk tahun ini (dan seterusnya) yang bersifat sangat urgent, yaitu ngasih pemahaman tentang konsep uang dan keuangan ke bumy. 

dimulai dari ngasih dia pengertian tentang apa aja kegunaan uang. kayak dijelasin lewat video edukasi buat anak ini, uang itu memiliki fungsi untuk di-"earn, save, spend, and donate." jadi, uang itu nggak turun dari langit, atau keluar dari ATM. you've got to earn it, by working, by empowering yourself. 
sesudah didapatkan, kita punya pilihan mau menggunakan uang tadi buat apa. yang jelas, setiap pilihan ada konsekuensinya. 
lantas bergerak ke soal membedakan wants vs needs - yang mana gue sendiripun nampaknya masih sering gagal ujian, hehe. urusan uang ini implikasinya bisa ke mana-mana, sampai pemerintah di negara-negara maju pun mulai bertindak untuk memberikan materi financial education sejak usia dini. 



it's never too early to start educating our kids about money. sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, kayak menabung. ilmu diasupin lewat hal-hal kecil, contoh, dan kebiasaan. semoga bisa nyantol dan jadi kompas idupnya kelak. 
mitamit ya buun xD

No comments:

Post a Comment