Ngantor??
Iya, seperti judul, eke back to work, buu. Full time. 8 to 5 (say "amen" to this?).
Emang tiba-tiba banget, sih.
Jumat siang gue lagi nyetir abis jemput Bumy dari sekolah, tiba-tiba ditelpon sama orang HR tlkm. Gue disuruh dateng ke kantor gatsu hari senin jam 9-10. Phonecall kayak begini emang udah gue tunggu-tunggu, karena status kepegawaian gue gantung sejak bulan Mei. CLTP gue udah nggak bisa diperpanjang, jadi rencana awal mau ambil cuti selama 3 tahun (jatah maksimal) terpaksa berubah.
Mau sontak ngajuin resign kok rasanya nggak enak... seolah membuang begitu saja kesempatan untuk jadi pekerja lagi. Belum siap mental gitu judulnya. Jadi gue ajuin permohonan untuk kembali bekerja.
Strategi ini terasa paling tepat - setelah didiskusiin sama Adit - jadi gue bisa melihat dulu penempatan gue di mana. Kalo emang nggak cucok sama kondisi kita sekarang, barulah gue babay beneran. Tapii, jawaban dari permohonan kembali bekerja ini nggak dateng-dateng selama 3 bulan itu.
Kondisi hati sih sebenernya masih gamang...
Masih belum sreg untuk balik ke industri dan lingkungan 'lama.'
Sementara di dunia freelancing tulis-menulis dan translating juga belum punya resume yang mumpuni. Sempat berniat nyobain kerja full-time di dunia kreatif, tapi hati belum kokoh untuk ninggalin anak seharian. Gitu-gitu deh, dilemanya.
Tapi emang, kalau Allah udah bilang "it's time," then it's time! Nggak bisa di-delay barang sedetik pun!
Pas ngadep ke HR, tau-tau gue disuruh jadi karyawan lagi. Dan kapan harus mulai kerjanya? Ya sesegera mungkin!
Gue ditempatin di kantor Gatsu (takjub ey, karena emang cuma kantor ini yang cocok sama kondisi kita sekarang), dan hari itu juga dibawa sama orang HR ke ruangan kerja buat dikenalin sama bos-bosnya.
Terdilo-dilo banget...
Jujur aja, gue kira dateng buat disuruh resign. Nggak ada persiapan buat kerja lagi, samsek!
Yaudah, kelar urusan di tlkm, gue (dan Adit) buru-buru nelponin beberapa kandidat daycare. Siang sampe sorenya kita survey ke 2 lokasi daycare. Trus langsung nge-hire abang ojek langganan Adit untuk jemput Bumy dari sekolah. Trus minta ijin buat markir mobil di sekolah Bumy, dsb dst. Riweuh! Tapi alhamdulillah nemu aja jalan keluar, sih....
Dan sekarang, udah 3 minggu aja.
Rutinitas gue bener-bener jungkir-balik.
Padahal udah mulai rutin olahraga 3-4 kali seminggu. Udah berencana rutin "kencan keringet" sama konco kenthel si Weich. Udah mulai rutin masak makanan sendiri.
Kini, kita ngekos demi memangkas waktu commuting. Olahraga juga so far baru sempet on weekend (digebeeer. Bukaan, bukan karena sok-sokan atletico kampreto, tapi ngeri sama hasil kolesterol). Masak? Cuti dulu dah, harharhar.
Gue juga BELAJAR mengikhlaskan Bumy dipegang sama pihak ketiga selama gue bekerja; mulai dari sekolahnya, abang ojeknya, daycarenya.
Learning how to trust... menitipkan nasib si anak ke tangan Sang Empunya Mahluk, Allah SWT, yang Maha Menjaga, Maha Kuat. Gue mah apa atuh... cuma manusia dengan keterbatasan tapi dikit-dikit parnoan dan maunya apa-apa sempurna. Ihik.
Jadi, sekarang gue mulai dari nol lagi.
Belajar beradaptasi sama kehidupan 'kantoran,' sama commuting (meski cuma 3,5 km sik. Tapi trafficnya booo), sama rutinitas baru, sama setan-setan di jiwa yang kerap muncul saat gue kelabakan menyeimbangkan waktu dan tenaga, sama semuanya, deh.
Di awal-awal, suka mellow inget betapa gue suka bobo siang berdua Bumy, trus sekarang tiba-tiba rutinitas itu terampas (kangen Bumynya apa tidur siangnya?!). Trus geli-geli miris denger Bumy suka kelepasan manggil gue "miss" (secara setiap harinya dia lebih lama bersama si miss daripada sama gue!).
Suka gamang juga menghadapi budaya perusahaan yang masih nggak berubah sejak 2,5 tahun lalu, dan bertanya-tanya sendiri "Apa yang gue cari di sini?"
Tapi... I choose to be brave.
Emang, jalan di depan masih gelap. Meski kalo ditanya apa tujuan gue bekerja, gue bisa jawab kalo it's more than just money. Tapi kenapa gue kudu balik ke tlkm, itu belom bisa gue jawab sekarang. RencanaNya pasti baik.
Kayak dibilang di majelis tafakur: kadang kita nggak nyaman sama perubahan, karena nggak bisa melihat apa potensi kebaikan yang dibawa sama perubahan itu. Mungkin ada potensi mengenal diri, memperbaiki diri, dan lainnya yang 'mata' kita belum bisa lihat.
Pelan-pelan gue sadari... bagaimana pada Jumat pagi itu gue baru nerima kabar kalo kontrak kerjaan part-time gue diputus. Eeh, siangnya tau-tau ditelpon tlkm. Jadilah gue dibukakan pintu rejeki baru.
Trus, di minggu yang sama gue baruu aja drafting review 2,5 tahun jadi SAHM; apa aja yang udah gue lakuin, lessons learned, bahkan gue bikin SWOT analysis terhadap diri sendiri hehe. Lalu gara-gara dengerin "Train Song"-nya Vashti Bunyan, kepikiran untuk hidup dengan mengikuti #passion, tinggal di Jogja/Bali....
Coba, deh, lirik di bawah ini dibayangin "you"-nya itu si #passion.
"It's so many miles and so long since I've met you
Don't even know what I'll find when I get to you
But suddenly now I know where I belong
It's many hundred miles and it won't be long"
I want to be where I belong. Dan sama Allah, gue dibawa ke tlkm. Gimana, mau protes? Bukankah Dia yang Maha Mencukupkan?

Baru baca ini! setelah post sebelumnya...Go Riska! When one door closes, another door opens for you…semangattttt!!! Kangen lunch makan siang bareng jaman kantoran duluuu!
ReplyDeleteDan gue baru reply dooong zzzz... We should TOTALLY maksibar lagi Nis haha. Semoga kantor kita kelak deketan yak
ReplyDelete