The first setence *IS* true, karena tertuang di Al-Qur'an kalau Allah pasti akan mencukupkan kebutuhan hamba-Nya. Dia 'kan Maha Mengetahui, Dia pasti tahu apa yang kita butuhkan. Tapi, yang bikin manusia sering merasa galau, gelisah atau bahkan kecewa, adalah karena kita kerap didera oleh keinginan-keinginan. Dan keinginan kita itu banyak banget. We want so much. Bahkan mungkin keinginan kita itu nggak ada batasnya; begitu satu hal terpenuhi, fokus kita langsung bergerak ke hal-hal lain yang belum terwujud.
And so we strive to fulfill it.
Padahal, apa-apa yang gue butuhkan, Allah udah cukupi. Tapi, kayak yang gue tulis tadi, keinginan yang bermacam-macam rupa itu bikin diri susah ngerasa 'tenang.' Wajar sih, karena belum semua (and I mean ALL, every single thing on our "checklist") yang kita inginkan itu terpenuhi. Kita jadi belum merasa fullfilled, dan efeknya, nggak ada perasaan content atau puas. Ini kali, ya, yang suka bikin susah bersyukur?
Mewujudkan konsep bersyukur kalau cuma di bibir aja sih gampang. Mungkin tinggal pasang status "Alhamdulillah yaa, hari ini aku bisa lari 5 km, anak makannya abis, pembantu rajin banget... #blessed."
Atau bersyukur di otak aja, dengan memikirkan "Apa, sih, yang gue nggak punya? Rumah ada, mobil bagus, kerjaan oke, bisa jalan-jalan ke sana ke mari. Duh, kebangetan deh, kalo gue nggak bersyukur."
Tapi meRASAkan syukur, bener-bener merasa diperhatikan dan dicintai oleh Sang Pencipta dan karenanya, sampe nggak enak ati banget kalo nggak mewujudkan syukur dalam perbuatan - apa gue bisa sampe ke 'tahap' itu?
Bukan berarti lantas kita harus mengeliminasi keinginan dari sanubari, sih. Ingin ini ingin itu 'kan manusiawi banget. tapi, semakin tua gini - dan semakin nggak nyaman didera perasaan susah puas - gue jadi tersadarkan kalo gue perlu fokus. Fokus sama apa yang jadi tujuan gue.
Sudah beberapa bulan belakangan ini gue ikutan majelis tafakur, namanya Mutiara Tauhid. Berawal dari merasa jiwa gue kering-kerontang banget, nggak pernah disiram sama tausiyah dan ilmu agama. Akhirnya gue tanya ke Kiti perihal pengajian yang rutin dia ikuti sejak sekitar setahun terakhir. Alhamdulillah, ternyata gue cocok banget ikut pengajian di situ. Yang gue dapet bukan cuma tausiyah atau ilmu agama, tapi juga kesadaran!
Salah satunya yang berkaitan dengan curhatan gue kali ini, gue disadarkan kalau keinginan yang banyak banget dan nggak ada abisnya itu tuh sebenernya keinginan "badan" atau fisik. Badan ini pengen jadi cantik, jadi sehat, jadi kaya, ganti mobil, kerjaan yang keren, daaan lain sebagainya. Tapi apa yang JIWA gue butuhkan? Jiwa, entitas yang akan tersisa setelah badan ini berhenti berfungsi. Jiwa, yang akan kembali pada Allah, yang akan terus 'hidup' setelah masanya di alam dunia habis. Apa sih yang penting buat jiwa gue?
Lagi-lagi lewat (dan berkat tafakur), gue diingetin kalau tujuan hidup manusia itu "cuma": Kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Simpel? Apa malah rumit?
Masalahnya, kita harus redefine dulu kebahagiaan itu apa. Sama atau nggak dengan kesenangan?
Mulai, deh, di sini dikupas... Ternyata, harta yang banyak, anak yang baik, suami yang setia, mertua yang sayang sama kita, pekerjaan yang keren, dan bahkan badan yang sehat, itu semua kesenangan semata. Hooh! Itu semua bukan definisi kebahagiaan.
Balik lagi ke Al-Qur'an, ternyata kebahagiaan itu adalah "Tidak adanya rasa gelisah, khawatir, atau sedih."
Referensinya ayat ini:
(QS. Al-Baqarah, 38) "Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Hmm... kalau gitu, nampaknya gue perlu mengoreksi persepsi gue kalau melihat orang yang kaya, cantik, dan punya 'paket lengkap,' nope, nggak berarti orang itu (sudah) bahagia. Orang itu hidupnya enak, itu bener, karena hidupnya dipenuhi dengan kesenangan.
Tapi kebahagiaan? Apakah orang itu udah selalu merasa tenang? Nggak pernah khawatir?
Justru seandainya gue melihat keluarga yang hidup seadanya tapi nggak pernah berantem, bisa menikmati apa yang ada di meja makan dengan penuh syukur dan senyum, mungkin mereka itulah yang hidupnya bahagia kalau mereka bisa merasa tenang, nggak stres, meskipun nggak kaya.
Dari situ, gue semakin merasa perlu membedakan kebutuhan dan keinginan. Keinginan bagi gue lekat dengan kesenangan. Seperti gue tulis tadi, keinginan nggak ada abisnya, tak terbatas, dan we tend to want it all. Karena faktor penentu kesenangan adanya di "luar" diri kita, ditentukan sama hal-hal yang nggak bisa kita kontrol - kekayaan, kesehatan, anak, suami/istri, mertua, pekerjaan, dst. Sementara kebahagiaan itu letaknya di "dalam."
Lebih lanjut gue sadari, berkat berkaca dari pengalaman; dari materi tafakur yang mengacu ke Al-Qur'an dan hadits; juga dari blog seputar minimalism yang akhir-akhir ini gue gandrungi, punya banyak barang atau punya banyak ilmu itu nggak menjamin kebahagiaan. Not at all.
Lebih lanjut gue sadari, berkat berkaca dari pengalaman; dari materi tafakur yang mengacu ke Al-Qur'an dan hadits; juga dari blog seputar minimalism yang akhir-akhir ini gue gandrungi, punya banyak barang atau punya banyak ilmu itu nggak menjamin kebahagiaan. Not at all.
Kita harus membedakan hal-hal mana yang emang kita butuhkan. And the truth is, we don't need a lot. Iya, kita butuh kesehatan. Iya, kita butuh hidup berkecukupan. Tapi apa artinya kalo saat kita tiba-tiba sakit, atau tiba-tiba harta kita terenggut, kebahagiaan kita langsung terampas?
Kembali ke premis awal tentang "Allah pasti akan mencukupkan apapun yang kita butuhkan. Tapi untuk hal-hal yang kita inginkan, kita sendiri yang harus berupaya mendapatkannya." Gue yakin ketentuan dariNya pasti yang terbaik, makanya apa-apa yang kita 'miliki' sekarang pasti ada for a reason. Rasa malas berolahraga, rasa serakah, rasa nggak pernah puas, nggak bisa manajemen waktu, nggak sabar, dan lain-lain, semuanya kita (ups, gue) miliki untuk sebuah alasan. Kalau kita (iya, gue!) ingin rajin olahraga, murah hati, hobi bersyukur, bisa ngatur waktu dengan baik, jadi penyabar, ya gue sendiri yang harus mengusahakannya.
After all, gue yakin Allah mencintai proses, no matter how messy or erratic that process is.
Meski tulisan gue ini terkesan sok alim dan sok bijak pangkat seribu, tapi yakinlah bahwa ini murni kontemplasi semata. Gue cuma pengen sharing tentang perjalanan jiwa yang masih hobi galau, khawatir, dan ketakutan ini. Jiwa yang belum bahagia. Gue masih punya sederet wishlist yang semuanya duniawi banget. Gue masih gampang 'ngamuk' dan 'terampas.' Kata-kata yang gue tuangkan di sini juga yah, sekadar kata-kata, hasil dari isi pikiran gue, bukannya perilaku nyata. But this thought is a part of my journey.
Dan di titik perjalanan ini, gue menyadari kalau yang gue butuhkan adalah
1. Bisa membedakan keinginan dan kebutuhan
2. Bisa membedakan kesenangan dan kebahagiaan
3. Fokus sama tujuan
Well, I guess with this, gerakan Kawal Kalbu is officially started? Hehe.. lagi-lagi ini cuma usaha untuk bisa lebih 'bahagia.'
Bismillah.
Mba riska ikut kajian tafakur dmn?
ReplyDeleteHai, salam kenal. Aku ikut di Masjid Bidakara Pancoran setiap Sabtu jam 10 pagi. Tapi to be honest sejak balik kerja lagi udah lama absen tafakur, huhu..
DeleteThanks for sharing, ris! Ini baru gw butuhkan!
ReplyDelete