10/11/2014

head over feet with montessori


akhir-akhir ini, seperti gue tulis di blogpost ini, metode montessori jadi salah satu item di daftar "current favorite things" gue. gue pertama kali tahu secara agak mendalam tentang metode ini saat ngebaca buku "Membesarkan Anak Hebat dengan Metode Montessori." sebelumnya, kesan yang gue dapat dari kata montessori adalah metode pendidikan yang banyak dipakai di preschool tapi gue nggak tau dengan jelas seperti apa; gue malah berpikir montessori terkait dengan suatu agama tertentu. heuheu padahal sebenernya mah melenceng jauh dari itu. 

antusiasme yang gue rasakan terhadap montessori kembali meletup-letup dikarenakan kepindahan bumy ke sekolah yang menerapkan montessori secara full, just a month ago. jujur aja, saat gue survey ke sekolah ini, apa yang gue tau tentang montessori rasanya udah menguap semua. ini gue sadari ketika wakil kepala sekolah mengawali pembicaraan dengan menanyakan apa yang kita tau tentang metode montessori. karena merasa "seharusnya gue tau, nih! 'kan udah pernah baca bukunyaa," gue jadi merasa tertantang ditanya begini. dan jatohnya mungkin jadi ngejawab dengan agak sotoy hahaha. 

tapi, untung wakepseknya bertanya bukan buat mengassess kita sebagai orangtua hehe, tapi cuma untuk mengetahui sejauh apa yang kita tahu tentang metode tersebut. syukurlah gue malah jadi diingatkan lagi tentang apa dan bagaimana metode montessori itu; it's only predictable kalau efek pasca membaca buku "Membesarkan Anak Hebat dengan Metode Montessori" tahun 2011 lalu kembali terulang: gue jadi terpikat dan jatuh cinta all over again sama metode ini.  

sebelum gue kilas balik metode montessori itu seperti apa, mau gue ceritain dulu kalau ke-jatuhcinta-an gue ini seolah berbalas... hahaha. awal minggu ini, gue tiba-tiba dapet undangan dari sekolah bumy yang sekarang untuk mengikuti seminar berjudul "Montessori Education: How It Prepares for the Future Life." dari acara ini, para orangtua bisa mendapat gambaran lebih jelas lagi tentang montessori, apa efeknya terhadap anak, apa makna dari proses pendidikan, dan juga perbedaan metode montessori dengan sekolah konvensional. tentunya gue antusias banget untuk ikut!

nah, untuk bisa nyeritain isi seminar yang gue ikutin itu, kayaknya perlu dibahas lagi montessori itu sebenernya apa dan bagaimana. montessori ini diciptakan oleh Dr. Maria Montessori (1870-1952), seorang pendidik dan physician dari Italia yang emang mencurahkan usaha untuk mengembangkan filosofi pendidikan yang paling efektif buat anak-anak. di buku yang gue sebutin di atas, dijelasin gimana awalnya Dr. maria montessori memperhatikan bahwa anak umur 3-4 tahun senang mempelajari keterampilan hidup sehari-hari, seperti merawat kebersihan lingkungan sekolah, menyiapkan makanan, dan mengurus dirinya sendiri. nah, ketika anak-anak diajak melakukan hal-hal kecil yang berkaitan dengan keterampilan hidup itu tadi, anak-anak merasakan harga dirinya meningkat. in short, untuk membesarkan anak yang percaya diri, kita perlu membuatnya mandiri.

filosofi montesori berdiri di atas keyakinan bahwa pendidikan harus berjalan paralel dengan kondisi unik masing-masing anak. metode montessori menghormati anak dengan menerima mereka sebagaimana kekuatannya, minatnya, kebutuhannya, maupun gaya belajarnya. dengan demikian, metode ini memandang anak sebagai entitas yang unik dan menjadikan value "respect" sebagai landasan untuk mendidik
aktivitas montessori sendiri berpusat pada anak, atau student-centered. di montessori, anak-anak bebas memilih aktivitas; mau berjalan-jalan sendiri, atau berkreasi sendiri. guru 'hanya' berperan sebagai pemandu bagi anak untuk memastikan mereka menguasai skill sesuai tahap perkembangannya, dengan membantu memilihkan aktivitas yang menghadirkan tantangan dan eksplorasi baru.

trus, apa aja yang diajarin sih, di sekolah dengan metode montessori?
ternyataaa, montessori itu nggak cuma ngajarin practical life skills dan sensorial studies semata. diajarkan juga bahasa, matematika, dan culture yang terdiri dari science dan geografi. dan semua subjek pelajaran ini saling terkait, nggak berdiri sendiri, sehingga anak bisa punya pemahaman yang menyeluruh tentang dunia dan hal-hal di sekitarnya. 
ciri khas lain dari montessori adalah mixed-age classroom, yaitu kelas anak dibagi-bagi per kelompok usia dalam rentang 3 tahun, yaitu 3-6 tahun, 6-9 tahun, serta 9-12 tahun. 

kenapa sih perlu dicampur usianya gini? karena dalam kondisi berbeda-bedanya usia serta kemampuan tiap anak, akan tercipta atmosfer saling membantu. anak yang lebih besar dapat menjadi mentor bagi anak lain yang lebih kecil; atau anak yang meskipun usianya lebih muda tapi sudah menguasai suatu kemampuan tertentu, dapat membantu anak-anak lain yang belum menguasai kemampuan tersebut. dari situasi saling membantu ini, anak yang berperan sebagai mentor atau penolong bagi anak lain dapat mengasah kemampuannya dan percaya dirinya akan meningkat. sementara itu, anak yang dibantu akan secara alamiah termotivasi untuk menguasai kemampuan yang diajarkan. 

kalau dari basil obrolan dengan wakepsek, mixed-age system ini juga efektif untuk menghindari potensi terjadinya bullying, lho. sudah ada penelitian ilmiah yang menunjukkan kalau mixed-age system ini menumbuhkan attitude yang positif di diri anak terhadap sekolah, dirinya sendirinya, dan juga orang lain dibandingkan sistem same-age. dari kondisi saling membantu tadi, akan tumbuh empati di dalam diri anak, karena ia menyadari bahwa sebelumnya ia bisa menguasai kemampuan tertentu, ia berangkat dari kondisi "tidak tahu" terlebih dahulu. 

hal lain (dari sekian banyak 'kehebatan' metode ini) yang bikin semakin tertarik adalah gimana anak diarahkan untuk jadi lifelong learner, mandiri, sekaligus tau apa yang mau dia achieve dalam hidup.

nah, pas nulis ini, gue jadi teringat catatan yang gue buat di tahun 2011 dulu, saat bumy usianya belum genap 2 tahun tapi gue udah mikirin metode pendidikan yang gue inginkan buat dia. visi yang gue susun waktu itu di antaranya ingin bumy menjadi manusia yang
- soleh
- mandiri
- have a "can-do" attitude
- penuh cinta kasih terhadap sesama dan lingkungan
- knows what he wants from life (DANG!) 

makdarit, dalam memilih sekolah yang bisa membantu mewujudkan visi tadi, gue membayangkan sekolah yang:
- memberikan dasar pengetahuan agama
- memberikan stimulasi sesuai milestone anak
- mengajarkan anak untuk 'survive' di dunia orang dewasa (mengajarkan basic life skills, tata krama).

ndilalah, kok senada-seirama dengan apa yang dibeberkan tentang metode montessori tadi? udah gitu faktor pengetahuan agamanya kebetulaaaan banget didapetin juga karena sekolah ini menerapkan montessori dengan islamic values. ya Allah, amazed sendiri ketika menyadarinya. 

btw, tadi 'kan gue bilang kalau sekolah Bumy ini ngadain seminar untuk memahami lebih jauh tentang montessori. seminar kemarin diawali dengan menggali apa yang orangtua pahami tentang makna pendidikan, kemudian sekolah sebagai fasilitator merangkum bahwa pendidikan berarti menjadikan anak terlibat dengan dunia dan lingkungan sekitarnya; pendidikan juga membantu anak mengembangkan kemampuan yang dibutuhkannya untuk memperoleh manfaat terbaik dari hidup.



selanjutnya, berhubung secara khusus seminar kemarin ini ditujukan bagi orangtua anak-anak level preschool, dijelasin kalau pada anak berusia di bawah 6 tahun, ada 2 karakteristik utama yaitu absorbent mind dan sensitive period.

1. absorbent mind 
artinya anak menyerap segala hal, tanpa disadarinya. yes, just like a sponge. hal-hal seperti bahasa, pengetahuan, dan aspek-aspek sosial (how we treat others, how we speak to others) dipelajari dan ditiru oleh anak. anak menganggap apa-apa yang diserapnya sebagai hal yang dibutuhkan bagi mereka untuk survive di dunia, dan mereka mengadaptasinya sebagai values. oleh karena itu, dalam montessori, kind, loving, respectful and positive environment dipandang sangat penting untuk disediakan bagi anak.

2. sensitive period atau masa peka
anak memiliki yang disebut masa peka, yaitu masa untuk mempelajari suatu keterampilan dengan cepat dan hampir seperti tanpa usaha, di mana kondisi tersebut bersifat sementara. 
dengan ada atau tidaknya stimulasi, setiap anak memiliki kapasitas untuk mengajar dirinya sendiri. potensi itu sudah ada di diri anak, bersama kemampuan mengikuti program pembelajaran yang disediakan alam dan membangun fondasi bagi potensinya. in short, anak itu nggak pernah berhenti belajar karena mereka memiliki dorongan dari dalam dirinya untuk menguasai keterampilan tertentu. 
dorongan itu tadi akan membuat mereka akan melakukan keterampilan yang mereka ingin kuasai itu dengan penuh konsentrasi dan berulang-ulang, dan begitu sudah menguasai, mereka akan puas dan bergerak ke keterampilan baru. pernah 'kan ngalamin saat anak lagi 'terobsesi' bikin gambar pesawat, misalnya, maka mereka akan menggambar itu berulang-ulang dan di mana-mana? atau tau-tau mereka doyan sama mainan atau cerita tertentu, maka akan mainan dan cerita ituuu aja yang pengen diulik berulang-ulang.

kepekaan itu sendiri dapat dibedakan menjadi
1. sensitivity of order. 
anak perlu kondisi di mana hal-hal terjadi sesuai urutan, jadi mereka bisa merasa aman untuk mengekplorasi.
2. sensitivity of senses. 
anak menggunakan seluruh inderanya untuk mendapatkan informasi tentang lingkungan sekitarnya. informasi ini kemudian akan dikategorikan sehingga mereka dapat beradaptasi. 
3. sensitivity of language. 
4. sensitivity of movement. 
5. sensitivity of small objects. 
6. sensitivity ofsocial aspects. 

masa peka sendiri berbeda-beda, misalnya usia 0-6 tahun adalah masa peka keterampilan bahasa, 2-6 tahun untuk musik, keramahan dan sopan santun, serta panca indera, dst. 
nah, dari informasi ini, diharapkan orangtua dapat mengetahui bagaimana cara mendukung perkembangan anak. yang paling penting, don't ever rush a kid! baik itu dengan menyuruh anak melakukan sesuatu yang belum dia kuasai, misalnya nyuruh dia nulis dengan rapih, atau makan tanpa berantakan *glek* maupun nggak ngeburu-buru anak saat melakukan sesuatu, contohnya pas udah mau telat sampai di sekolah, karena anak pakai sepatunya lammma, orangtua yang, "ayo cepat cepat! euhh kamu lama, deh, udah sini mama pakein aja!" *tertunduk malu*


balik lagi ke visi buat anak dalam montessori, agar ketertarikan anak untuk belajar terus tumbuh sepanjang hidupnya, kita perlu memperlakukan anak penuh respect dan menstimulasi mereka sesuai masa pekanya. kita juga perlu menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi mereka untuk bereksplorasi. jadi inget catatan yang gue bikin tentang gimana melatih anak agar mandiri; disebutin hal yang sama di situ, ya nggak heran, karena motif untuk membahas soal kemandirian juga muncul akibat observasi dari sekolah bumy yang sekarang.

visi yang terakhir yaitu agar anak tahu apa yang mau dia achieve dari hidup, dicapai melalui cara montessori mendorong anak membuat sendiri 'target' keterampilan yang ingin dicapai alih-alih menjejalkan daftar keterampilan yang harus dikuasai anak.  anak juga diajak melakukan refleksi secara berkala agar memiliki sense of ownership terhadap target personalnya. 
aseli, ini poin penting banget yang gue ingin bumy miliki. kenapa? karena gue merasa kalau gue bukan orang yang tau apa yang mau gue achieve dalam hidup. erratic, kalau kata Rene Suhardono. maunya ngegas aja, ngebut aja, tapi entah mau sampai ke mana (gen Y buanget!)
and it's so damn tiring! this erratic behavior. iyalah, energi udah dikeluarin untuk jadi yang tercepat dan terdepan, tapi begitu sampai di titik terdepan itu, baru sadar kalau dirinya nyasar. hahaha. kalau di montessori, anak diajak mikirrr dulu, ngegodok dulu apa yang mau mereka capai, mau ke mana mereka, baru deh disusun langkah demi langkah untuk mencapainya. 

kayak kata-kata dari akun @therealbanksy, "Direction is so much more important than speed. Many are going nowhere fast." 
ouch!

anyways, tulisan ini murni dibuat dengan latar belakang kekaguman gue terhadap metode montessori, bukan terhadap sekolahnya semata, hehehe. so far sih gue masih dalam fase "wait and see" sama gimana perkembangan bumy sejauh ini. jadi, jangan dianggap sebagai rekomendasi, yaa :))

oh ya ada video menarik tentang perbedaan antara metode montessori dengan metode konvensional, kebetulan kemarin di sekolahnya juga disetelin video yang sama. 
mencoba berimbang, untuk selanjutnya mungkin gue akan mencoba mencari tahu apa kekurangan atau concern terkait metode ini, yaah. 

No comments:

Post a Comment