07/11/2014

the one with museum and some thoughts

ternyata masih ada beberapa catatan dari weekend lalu yang tercecer.

- kita ke museum nasional, untuk pertama kalinya! hehe kempi yah.... kunjungan ke situnya juga nggak direncanain banget. beberapa hari sebelumnya, gue yang emang follow psikolog muda Devi Raissa di Twitter dapet info kalau dia bersama Rabbit Hole ID mau launching buku anak-anak karangannya di Festival Dongeng Indonesia. btw Rabbit Hole ini pertama kali gue tau dari flyernya di Rimba Baca. jadi mereka itu penyedia pembuatan buku anak-anak; bisa customized, loh, bukunya, dan suka ngadain storytelling juga. Devi ini penggagasnya kalau nggak salah - karena dulu gue follow dia untuk tau jadwal yoga anak-anak di Rimba Baca yang mana dia jadi pengajarnya. anyways, ternyataa kebetulan banget Lita ngeforward email undangan acara launching buku ini yang ditujukan untuk Mommies Daily. ya langsung aja gue mengajukan diri buat dateng, hehe...
acaranya ternyata seru, banyak storytelling buat anak, dan ada workshop juga yang mengiringi acara launchingnya. 



 

btw, coba liat website Rabbit Hole ini deh, ada cerita interaktifnya. keren!



                                             booth Rabbit Hole dan miss Devi


ohya, museumnya sendiri modern dan bagus banget (parkirnya juga gretong hohoho). ada eskalator dan lift, ber-ac, bersih. nggak nyangka biaya masuknya 5000 aja untuk dewasa, dan 2500 untuk anak-anak hehe.




- dari depan museum, sebenernya kita mau naik bis tingkat yang lagi hits ituuh. tapi udah nunggu 30 menit lebih kok nggak lewat-lewat? akhirnya nyerah, deh, naik mobil sendiri ke plaza indo, buat ketemuan sama bipus alias kiti, hehe. senengnya bisa quality time sama sahabat. catching up kabar, dan berbagi keresahan seperti biasa. yang kemarin kita bahas seputar "be careful what you wish for." maksudnya, kadang kita suka nggak me-review apa yang udah kita minta ke Allah SWT... gue sendiri baru menyadari kalau permintaan/doa-doa gue 80% isinya duniawi banget.

padahal, 'kan kita udah dikasih tau ya, kalau "apa yang kita minta, itulah yang kita dapatkan." kenapa gue suka lupa minta hal-hal yang nggak fisikal dan nggak duniawi? padahal hal-hal itulah yang nggak bisa dibeli dengan uang (inget 'kan iklan citibank jaman dulu?). kayak ketenangan batin, rasa syukur, rasa nyaman dalam beribadah, lebih banyak ketawa, and all that stuff that money can't buy.


gue sadar kalau doa-doa gue dikabulkan sama Allah, misalnya pengen tinggal di rumah yang sekarang. tapi, rasanya seperti gue 'lupa' meminta untuk dikasih mentalitas untuk melengkapinya, misalnya rasa syukur yang berkelimpahan. jadi semacet apapun jalanan yang ditempuh setiap hari, atau seribet apapun rasanya bolak-balik nganter anak sekolah dan les, gue bisa tetap dipenuhi rasa syukur.

atau dari kasus-kasus yang gue bayangkan, kayak minta materi sebanyak XXX, tapi suka nggak sadar kalau dari terkabulkannya permintaan (yang 'nggak lengkap' itu), let's say kita dijauhi temen-temen karena dianggap suka pamer di socmed, atau ada yang dipandang negatif sama masyarakat atau keluarganya sendiri karena caranya mengumpulkan harta.
kepengen punya tas branded Y, tapi pas udah punya malah jadi insecure sendiri dan ngiri karena orang lain udah punya YY (Y season terbaru haha).

sometimes we gain some, and lose some.
jadi, mungkin kita perlu berpikir dan merasa lebih dalam sebelum membuat doa/permintaan. pastiin isinya 'lengkap,' yaitu mencakup kualitas yang non-material juga, hehehe.
and maybe the moral of our discussion is to be careful what we wish for, jangan sampai kita kehilangan hal-hal yang kita butuhin - yang really matters - demi mendapatkan apa yang kita inginkan. whew....


salem aman nyamanku <3

 

- pagi-pagi kemarin nggak sengaja dengar wawancara di 90.4 FM sama alexander sriwijono. isinya menarik banget, pembahasan soal generasi baby boomers, X, dan Y, dan interaksi antar generasi itu di, secara khusus, tempat kerja, serta dalam hidup in general.
kata doi, "ciri khas" masing-masing generasi itu ketara banget,
 

  • baby boomers (before 1962, lupa pastinya!) 
yang dikejar adalah kestabilan. makanya, generasi bokap-nyokap kita ini yang dikejar ya jadi PNS (pernah gue bahas secuplik di blogpost ini) karena berangkat dari masa pasca-kemerdekaan di mana kondisi ekonomi belum stabil. atau kalau nggak PNS, ya mereka stick in one job 'til the rest of working period. mereka ingin menyediakan hidup yang lebih baik, yang stabil, buat anak-cucu mereka.
tantangan menghadapi generasi ini biasanya mereka suka males belajar hal-hal baru. cara memotivasinya kalo kata sang narsum adalah dengan ngajak mereka jadi role model, iming-imingi untuk "living the legacy," karena buat mereka, anak-cucu itu motivator terkuat.
 

  • gen x (1962-1977)
yang dikejar itu kemandirian. gimana caranya biar bisa mandiri secara finansial. mereka udah lebih berani ngambil risiko, misalnya aja banyak yang jadi pengusaha.  "jelek"nya, suka terkesan nggak sabaran. selebihnya gue nggak terlalu ngeh, hehehe.  

  • gen Y (1978-1994) 
widih, anak-anak nyokap gue generasi ini semua, dong. ciri khasnya yaa ambisius. bener banget deh, sesuai yang dijabarkan di artikel ini dan juga hasil refleksi diri haha! gara-gara dibesarkan dalam kondisi ekonomi yang stabil bahkan cenderung menanjak, anak-anak generasi ini jadinya tau gampang aja. apa-apa udah disediain, dan dipilihin. misalnya aja pilihan sekolah. 
kalo generasi baby boomers mau sekolah kudu struggle dulu dalam hal ekonomi, generasi X kudu struggle untuk bisa masuk universitas negeri, nah generasi Y mah tinggal capcipcup aja mau sekolah di mana karena ortunya toh udah mampu nyekolahin di universitas swasta yang bagus. 
gen Y juga udah dipilihin les apa aja yang bisa menunjang kemampuannya, difasilitasin kalau mau barang x, belajar y, dan lain-lain. otomatis, generasi ini pengennya ya instan! hahaha... nggak cocok kerja di suatu tempat, atau karena gajinya nggak segede temen-temennya, sok ajah cabut. kalo gue simpulin sendiri, buat gen Y ini yang penting ngebut, ngegas! nggak penting deh tujuannya mau ke mana, atau jalan yang ditempuh searah nggak sama apa yang mau dicapai... hahaha xD  (bener juga sih, banyak banget temen-temen gue dan adit yang kutu loncat di kerjaan... err gue juga, sih!). 

kalo kata mas alex, buat gen Y ini, jangan apa-apa disodorin atau diinstruksiin. ditanya dulu pendapatnya dan dilibatin dalam proses. maybe because we want to feel special, huh?
sayangnya belum dibahas generasi Z nih, generasi bocah-bocah kiteee.
tapi dari pembahasan ini gue jadi bisa berkaca dan mengoreksi diri, sih. salah satunya untuk nggak apa-apa milihin sesuatu duluan buat anak. let him make his choices. kecuali mungkin milih SD sih sesuai visi dan kantong bapak-emaknya, yaa... #teteup.

btw, gue jadi keinget pernah nemuin tulisan yang bagusss soal generasi Z. hasil riset pula! hasilnya bernada optimistis, bikin gue sebagai orangtua bernapas lega (a big "PHEEEWW") dan juga terharu, deh! salah satunya hasil riset terhadap 11.000 anak yang bilang kalau generasi Z ini lebih memilih jadi smarter than better looking!

“They are the most connected, educated and sophisticated generation in history, they don’t just represent the future, they are creating it.”
generasi ini juga di-dubbed sebagai "Rebel WITH a cause." why? karena generasi-generasi sebelumnya meninggalkan dunia yang udah bermasalah buat mereka, jadi anak-anak ini ya mau nggak mau harus mencoba 'menyelematkan' dunia. contohnya aja kondisi iklim yang udah memanas, menurunnya jumlah hutan dan satwa, kemiskinan, dll. 
“In previous generations, there was a feeling that when you were young, you were a passive bystander, an adult-in waiting, but today because of technology, young people have this sense of self-confidence and a belief they can change the world.”
gen Z ini juga cenderung memilih profesi yang punya impact terhadap dunia - bukannya pencapaian pribadi semata, karena mereka merasa jadi citizen of the world berkat keterhubungan mereka (yang udah dimulai sejak lahir!) lewat teknologi.

nah, kayak di paragraf atas tadi 'kan gue sebut kalau "sometimes we gain some, and lose some," begitu juga yang terjadi pada gen Z ini. emang sih, di satu sisi, akibat exposure yang tinggi terhadap teknologi, kerap terjadi 'fenomena' online bullying, sexting, atau menurunnya attention span pada gen Z. tapi di sisi lain, meskipun anak-anak jadi cenderung nggak menggali secara mendalam atau berpikir rasional tentang suatu isu, refleks adaptifnya menjadi berupa kondisi otak yang lebih multi-tasking. disebut juga kondisi nantinya akan berupa '"post-logical" world,' yang lebih menekankan pada reaksi emosional. contoh nyatanya bisa diliat saat berinteraksi di social media, di situ, otak kanan yang lebih 'bermain.'


sementara itu, ada beberapa bacaan lain yang juga menarik seputar generasi Z:

- Generation Z: The Kids who'll Save the World?
- Gen Z: Child of our times
- Meet Generation Z: Forget Everything You Learned About Millennials


menurut gue, tau tentang ini bikin bersemangat karena i am raising a citizen of the world, the one of many who will change the world, and hopefully making it a better place... uhuhuhuh. semoga bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.



oh iyaa, lastly mau naro foto-foto dari yang seru-seru dari museum kemarin. ada bazaar gitu lho di FDI, dan yang ngisi bukan cuma pedagang makanan, tapi juga crafty stuff. seru-seru! ada yang bikin storytelling set customized, gambar-gambar ala ayang cempaka, juga sablonan tote bag, apron, cushion dll dengan kata-kata witty.




wooden toy painting di booth Sidkar
thematic storytelling di booth Sidkar

cutesy!
tumbuhan yang bisa ditaro indoor di booth Naik Daun
word!

2 comments:

  1. OMG! Berarti kita generasi sampah, dong, ya? T______T dan anak-anak kita nanti yang akan membersihkannya. Duh, Aamiin ya Allah, semoga amanah besarin para citizen of the world ini!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kikiii T__T
      eh masa tadi pagi gue nemu artikel yang judulnya kurang-lebih "Why babyboomers ruined parenting" tapi baru nge-save linknya dan belum dibaca, hehe. Apa gara-gara itu kita jadi generasi sampah? Hahaha...

      Delete