31/12/2013

au revoir 2013

soon 2013 will be a passing year. i know it's super cliche but, ain't time go faster as you're older? these four years go like in a snap to me. library iTunes isinya masih itu-itu aja. tapi anak tau-tau udah makin gede, tantangan sebagai emak makin bertambah secara kualitas, dan tentu saja, tolak ukur paling menohok dan menampar: i am no longer a twenty-something.

so how did 2013 go?
maunya sih gak bikin tulisan yang mencoba terkesan grateful padahal ujung-ujungnya pamer juga (hope i haven't done that too many times). just wanna ramble and talk to myself and wish some of my good friends cared to read it, heheh.

in terms of personal goals
, let's see... one, gue berhasil mewujudkan cita-cita jadi IRT, thanks to bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. ini bukannya tanpa pengorbanan, sih. sebelum memutuskan, hati guepun dibikin riuh oleh perdebatan internal kayak, apa usia produktif gue ini mau dipake "hanya" sebagai IRT? apa gue gak nambahin beban suami gue sebagai pencari nafkah utama? apa gue bener-bener mau jadi IRT atau sekedar pelarian because I hated my regular job so much? 
syukurlah jalan pikiran ini diluruskan berkat ngobrol sama adit. in his own way, dia ingetin long-term goals kita sebagai keluarga, dan kasih tau gue untuk siap nanggung KONSEKUENSI pilihan gue, apapun itu. cara berpikir logis khas laki-lakinya ini dulu sering bikin gue keki kalo curhat. tapi nampaknya sekarang malah bikin ketularan... meskipun cuma sedikit :P
gue inget dulu waktu belom nikah, gue sebel banget pas cerita gue pengen bisa S2 di bidang psikologi atau malah kuliah S1 lagi tapi pelajarin hal yang bener-bener gue minati. eh, dia bilang, tujuan kuliah laginya apa? apa gue udah nemu jalan karir yang sesuai sama apa yang mau gue pelajarin itu? apa biaya yang dikeluarin bakal sebanding dengan hasilnya? 
meskipun nyebelin, tapi pertanyaan-pertanyaan kayak gini malah menyelamatkan gue dari being erratic. ngeliat kasus pilihan kerjaan gue, misalnya. gue loncat-loncat kerjaan tanpa tau apa yang mau gue capai.
setelah kenal urusan financial planning, cara adit 'ngingetin' gue ini ternyata mirip sama kredo "tujuanlo apa?" dan gue jadi sadar kalo kredo ini ternyata bisa diaplikasikan di berbagai sisi kehidupan. kalo lo mau ke anyer, ya jangan naik pesawat arah ke surabaya dong, cin!-gitu kata ligwina. 

that's why, long-term goals keluarga dan a set of values yang kita anggap prinsipil sebagai keluarga, berguna sebagai kompas buat kita, dan gue terutama.
bahkan setelah gue hampir-mantep masukin permohonan cuti di luar tanggungan perusahaan, ada aja godaan untuk ikut seleksi global talent programlah, beasiswalah. tapi karena udah punya 'kompas,' gue bisa balik lagi ke jalan yang sesuai dengan tujuan gue, dan apa yang really matters buat gue. pertanyaan internalnya bukan "do i want this?" atau "do i need this?" tapi
- kalo gue bisa dapet beasiswa atau ditempatin di luar negeri, apa gue bisa jauh-jauh dari anak dan keluarga? adit gak bisa korbanin pekerjaannya di sini cuma untuk luntang-lantung nemenin gue di sana ntar, since he's got a career here.
- apa gue bakal bisa gak rewel atau malah stres?
- apa sih yang mau dikejar? prestise? kepuasan personal?
konsekuensinya ya tentu aja: gak usah ngiri hati dan insecure denger cerita dan liat foto-foto di sosmed dari temen-temen seangkatan yang disekolahin di ostrali, inggris, paris atau ameriki. #nyem

begitupun saat memutuskan tinggal di sini. di 'udik,' 25 kms away from my parents.
of course there are times when i question what i've chosen. kayak pas lagi senewen dikuntit anak seharian, boro-boro bisa megang laptop untuk ngejar deadline tulisan atau curhat di blog. atau pas bikin review financial plan dan tersadar biaya hidup naik semua ya booo, huahhua.

well, satu yang jelas: hidup tuh dinamis. masalah-masalahnya juga dinamis. justru di sini makin pentingnya punya kompas, menurut gue. karena values dan principle kita gak dinamis. those things define who we are, and those things can't be lost or taken away. 
...eh, kok jadi orasi?

sementara in terms of financial goals, hmm i have to say the result gives me a bittersweet feeling. mungkin malah banyakan bitter-nya daripada sweet!
well, keputusan besar kita untuk pindah rumah tentunya berakibat besar juga ke kondisi tabungan kita. gue dan adit semacam yang saling menatap dan bilang "oke, you jump, i jump, yah!" ketika ngitung budget ngisi rumah tahun lalu. tapi tetep aja, di akhir tahun ketika mereview gini, agak nelongso liat kinerja investasi kita, hahaha.
kalau dibreakdown, "dosa-dosa" finansial kita tahun ini tuh
- memakai lebih dari 50% dana likuid untuk urusan ngisi rumah.
- baru kembali rutin berinvestasi bulanan di kuartal terakhir tahun 2013.
- belum bisa men-tackle dengan baik cashflow dengan satu pintu... ini lebih ke dosa gue, sih xD budget belanja bulanan kadang melar, budget weekend juga. ujung-ujungnya ngebobol dana darurat, deh huahuahua.
syukurlah urusan sekolah bumy gak keganggu. sekolah yang kita pilih 'masuk' dari segi visi misi, metode, maupun (yang terpenting!) biaya. dan ketika biaya hidup mulai merangkak naik gini, baru kerasa benernya saran QM soal biaya sekolah anak yang sebaiknya gak lebih dari 10% income bulanan.

oya, gue juga akhirnya ngelanjutin QMPC ke level 2. yayy. materinya lebih advanced, dan buat gue, lebih seruuu. dijelasin soal asuransi, cara bikin review investasi, cara ngitung kinerja reksadana, dan bisa konsultasi lagi sama planner QM. kemarin kebetulan banget gue kebagian konsul sama ex-planner  saat jadi klien, mba Titis. kita ketawa-ketiwi catching up kabar deh ujung-ujungnya.
my favorite topics kemarin itu adalah cara membaca potensi dan pergerakan pasar yang dibawain sama mas Ajo, dan of course, sesi yang dibawain Ligwina. kita diceritain tentang kondisi ekonomi dunia dan Indonesia, serta hal-hal menarik lain kayak penerapan JKN atau national health care system di Indo per Januari 2014 nanti, pembuatan daftar harta dan penunjukan ahli waris, sampai yang paling bikin gue antusias: ide Ligwina untuk bikin program volunteering di bidang financial planning. tujuannya untuk menjangkau mereka yang belum terjamah ilmu financial planning, kayak buruh pabrik, atau ibu-ibu kelas menengah ke bawah.

apalagi, yah? in terms of social life, kini lingkar pertemanan gue 'meluas' berkat adanya geng arisan ibu-ibu sekolah Bumy, trus ibu-ibu kompleks juga. thankfully, sekolah Bumy bikin semacam parents' club untuk ibu-ibu yang anaknya sekolah di situ. kegiatannya bulanan, sejauh ini udah ada acara nonton film bareng dan workshop singkat tentang brain gym. harapan gue sih, kegiatan komunitas ini bisa merambah ke kegiatan spiritual kayak ngaji bareng, dan juga kegiatan sosial.
di sisi lain, gue juga bersyukur bisa kenal sama teman-teman baru yang 'sepaham,' kayak ibu-ibu di Mommies Daily. i'm thankful for the day i wrote that email to Lita :D gue bisa dapet kesempatan berkreasi, to share my thoughts, mengasah kemampuan menulis, dan bertukar pemikiran sama ibu-ibu berpikiran maju inih.

meanwhile, the number of my closest friends remain. cara gue memaknai persahabatan aja yang berubah, sepertinya. sahabat itu gak harus update tentang kisah terbaru hidupnya secara berkala... yang penting ada komitmen untuk showing up, untuk investing in the relationship. gue juga belajar untuk lebih jadi diri sendiri dalam persahabatan... karena ternyata berbeda pendapat itu bukan dosa besar (ini breakthrough pemikiran untuk diri gue si former yes girl). malahan gue baru menyadari kalau seorang teman iya-iya aja, menyetujui aja semuaa yang lo lakukan meskipun tindakanlo itu 'jelas-jelas' melenceng, it means she or he is doing it for themselves. justru kalau dia tells it like it is atau gak selalu sependapat sama elo, they're actually doing it for you.
besides, now i think i'm too 'old' to put up with other people's bullshits... kalopun ada advice "what you should know by the time you're 30" yang bakalan gue 'beli', it's gonna be "know what you want, and don't settle for bullshits." it helps me recognizing what or whom i am comfortable with, and what or whom i don't wanna deal with.

so, in conclusion, yeah, 2013 is another year to be grateful for. meskipun gue masih sering 'kalah' dari diri sendiri untuk get out of the bed and exercise. meskipun masih sering ngomel-ngomel dan yelling ke anak. meskipun masih suka belanja impulsif. but hopefully i don't take all these blessings for granted.
"so this is the new year... and i don't feel any different
the clanking of crystal, explosions off in the distance.

so this is the new year... and i have no resolutions
for self-assigned penance, for problems with easy solutions."
("The New Year" - Death Cab for Cutie)

2 comments:

  1. riskaaaaaaaaaaaaaaa ini udah februari boook wakakaka

    ReplyDelete
  2. Ini post aslinya gak sengaja keapus, jadi gue retrieve. Eh ternyata munculnya kaya baru ya?

    ReplyDelete