12/04/2013

financial to-do list

berhubung kian hari, kian tertegaskan status sebagai ibu rumah tangga (naon yeuh), guepun semakin serius menekuni yang namanya rencana keuangan keluarga. target tahun ini nggak muluk-muluk, yang harus gue capai "cuma" sbb:

1. cashflow bulanan positif.
seperti pernah gue singgung di sini, gue ingin membuat cashflow dalam versi paling baru dan realistis. 
baru artinya sesuai dengan kondisi gue yang tidak lagi berpenghasilan (glek). realistis artinya gak pake bermanis-manis di depan tapi sepet di belakang, deh. jujur aja, butuh berapa duit untuk jajan harian, berapa untuk belanja bulanan, berapa untuk shopping personal goods (kok belanja doang yang kesebut). 
cashflow ini juga gue gunakan untuk menyusun ekspektasi gambaran kehidupan gue ketika telah menjadi SAHM kelak. misalnya, dari sini jadi sadar kalo biaya katering bulanan gue ternyata gede juga. kalau pakai jasa ART malah bisa menghemat, meski budget belanja bulanan harus ditambah. trus keinginan untuk ikut kursus atau kegiatan ini-itu juga harus disesuaikan dananya, supaya cashflow bulanan gak tekor. begitulah kurang-lebih gambarannya.

2. mengumpulkan dana darurat.
sebenernya, poin ini yang memberikan gue inspirasi menulis artikel ini. 
di perjalanan bersama suami tadi pagi, tiba-tiba gue teringat materi pembelajaran dari QMPC Syariah tahun lalu, yang menyebutkan bahwa di Al-Qur'an ada ayat yang mewajibkan suami menyiapkan dana darurat bagi keluarga.
ayatnya adalah QS Al-Baqarah, 240, berbunyi "Dan orang-orang yang (hampir) mati di antara kamu serta meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isteri mereka, yaitu diberi nafkah saguhati (makan, pakai dan tempat tinggal) hingga setahun lamanya, dengan tidak disuruh pindah dari tempat tinggal) hingga setahun lamanya...."
ayat ini menegaskan bahwa jika seorang laki-laki akan meninggalkan keluarganya, tidak disebutkan apakah untuk berperang, atau bekerja, dia harus menyiapkan dana yang cukup bagi keluarganya untuk jangka waktu satu tahun.
jika dikaitkan dengan 'kaidah' perencanaan keuangan, besaran dana darurat sesuai dengan status adalah
  • single = 4 kali pengeluaran bulanan
  • pasangan, belum ada anak = 6 kali
  • pasangan, 1 anak = 9 kali
  • pasangan, minimal 2 anak = 12 kali.

dana untuk pengeluaran selama satu tahun = dana darurat untuk keluarga sebesar 12 kali pengeluaran bulanan. amazing, isn't it?

hal ini membuat gue ngomong ke adit, "beb, fokus kita untuk tahun ini ngumpulin dana darurat, ya. inget gak ayat yang tentang dana darurat?"
needless to say he's okay with it.

3. menghitung net worth dan rasio keuangan.
untuk tau berapa net worth atau kekayaan bersih keluarga, gue membuat daftar aset dan hutang.
aset mulai dari yang lancar or liquid (berupa kas dan investasi), sampai yang tidak lancar (berupa perhiasan, tempat tinggal, tanah, bisnis, kendaraan, dsb).
sementara hutang dibagi menurut jangka waktunya, pendek (kayak utang CC, KTA, loan mobil), dan panjang (KPR, KPA, dsb).
nanti bisa ketauan deh, berapa net worth kita dari total aset dikurangi total hutang.
perhitungan net worth ini berguna untuk tau rasio kesehatan keuangan kita.

nah rasio yang dihitung tuh antara lain:
  • rasio likuiditas, untuk tau, kalau kehilangan pendapatan, keluarga gue nih bisa bertahan berapa lama hidup tanpa income. serem yee. 
  • rasio hutang terhadap total aset.
  • rasio tabungan terhadap income bulanan. menurut 'kaidah' perencaan keuangan sih, yang sehat itu minimal 10%.
  • rasio cicilan utang dibandingkan penghasilan per bulan. udah pada familiar lah ya sama ini, untuk tergolong sehat, besarnya maksimal 30% dari penghasilan.
  • rasio aset lancar terhadap net worth. untuk tau komponen net worth kita terlalu liquid atau enggak.
kalo kurang liquid, kondisinya kurang sehat juga. karena kalo ada kondisi darurat, cara cepat untuk mendapat dana ya dari aset lancar ini. kalo kita pergunakan aset tidak lancar untuk kondisi darurat, yang mana dari segi waktu juga terburu-buru, nilai jual untuk aset tersebut bisa jadi tidak maksimal. apalagi kalo aset tidak lancar itu harganya mahal, kita perlu lebih banyak waktu untuk dapat pembeli yang afford aset tersebut.
sementara kalo terlalu liquid, jadinya aset kita tidak dimanfaatkan secara optimal untuk 'bekerja' demi kepentingan masa depan kita (dengan cara berinvestasi).
  • rasio aset investasi terhadap net worth. ini penting untuk diketahui, karena aset investasi adalah aset yang kadang tidak disadari nilai dan kegunaannya.
banyak orang yang suka gak sadar kalo dia punya aset aktif, macam bisnis, atau properti yang disewakan. padahal penghasilan yang dihasilkan aset aktif ini dapat ditambahkan ke net investment bulanan. aset investasi juga tool kita untuk keep up dengan inflasi. jadi, kegunaannya bukan cuma di saat sekarang, tapi juga di masa depan.

kalo udah tau berapa rasio kita, jadi lebih mudah menentukan 'sisa' uang kita mau ditaruh di keranjang investasi yang mana. kita juga jadi terbantu dalam merencanakan long-term goals.

oya ada kata-kata yang gue suka, yaitu "The total amounts of your assets do not guarantee whether your finance is healthy." makanya menghitung rasio kesehatan keuangan ini perlu banget, supaya bisa mengoptimalkan alokasi uang demi mencapai tujuan-tujuan finansial kita.

4. nyusun plan
this is the funnest part. for me. paham yang gue anut ketika bikin plan tuh, "dream big." hehe. bukan berarti gak realistis tapii, maksudnya optimis aja kita bisa mencapai target.
oiya asuransi gue masukin di dalam plan, soalnya penting banget punya proteksi.

5. bikin yang namanya surat keterangan daftar harta dan peruntukannya.
saat ikutan QMPC Syariah, kita dikenalkan sama hukum waris. dalam hukum waris islam, istri hanya punya 3 ahli waris (suami, anak, orangtua). tapi peer terbesar adalah menentukan harta istri yang mana, suami yang mana. 
menurut UU perkawinan tahun 74, harta suami dan istri itu nyampur. padahal dalam islam, suami dan istri harus punya harta masing-masing karena urusannya ke waris. karena itu, sebenernya pre-nuptial agreement itu perlu. karena tanpa pre-nup, harta dan anak-anak by default ikut pihak laki-laki.
nah, pas #FinClinic tanggal 8 april lalu, ligwina ngebahas nih soal waris ini. dia juga membahas soal wali anak-anak. wali, selain bertanggung jawab ngurus anak, bisa juga ditunjuk untuk mengurus surat-surat hutang dan harta untuk memudahkan urusan waris.
penunjukan wali sekaligus pemisahan mana harta istri dan mana harta suami bisa dilakukan dengan membuat surat pernyataan. di surat itu, kita list down deh daftar harta dan utang kita.
untuk harta, dijelasin kalau harta berbentuk X ini milik suami/istri. trus, RD Y untuk (misalnya) dana pendidikan anak level SD, dst. jadi, harta itu nggak bercampur-baur nggak jelas tujuannya untuk apa dan ke mana diwariskannya.

so far sih udah gue jalanin semua kecuali yang nomor 5. ini bagian dari 'kesepakatan' gue dan adit sebelum "seal the deal" sih. cuma masih belum fokus aja mau bikinnya :P

begitulah. semoga membantu bagi yang lagi nyari info seputar perencaan keuangan keluarga.

2 comments:

  1. eh, masih di review lagi ya plan itu? gw baru kemaren review lagi hahhaha

    anyway, masih PR gw tuh Dana Darurat, masih jauh :((
    kemaren pas dapat bonus gw fokus ke Da Pend anak gw dulu malah.
    sekarang gw nyoba invest di pasar modal langsung, dapat margin gw ambil buat nambahin portfolio DD.
    udah bener belum ya langkah gw?

    *malah nanya balik*

    ReplyDelete
    Replies
    1. mba kikyyy! makasih mau mampir, hehe.

      kalo dari pelajaran kemarin sih, usia plan paling enggak 1 tahun yah. gue emang kerajinan kayaknya :P tapiii, justifikasinya niih, 'kan pergantian status berpengaruh ke cashflow nih. jadi harus ada penyesuaian, hehe.

      wow dirimu udah berkecimpung di pasar modal yah... gue belum beranii. soalnya masih merasa punya banyak pe-er di pos-pos dana wajib, sih huhu.

      Delete