menyambangi kantor di slipi hari ini.
cengar-cengir ketemu rekan-rekan. setiap ketemu wajah yang familiar, hampir selalu ditanya, "emang mau ke mana?" kok cltp, gitu, maksudnya.
jadi gue bilang, "gak ke mana-mana." which is the truth.
tapi mereka malah mendengus dan senyum ngenyek karena apparently, someone had snooped around and told them gue mau ikut suami kerja di luar negri. "singapur," si ratu gosip berkata.
yawdahlah, males juga mendebat dan menjelaskan panjang-lebar ke orang-orang yang bertanya hanya karena kepo. gue amini saja, anggap sebagai doa, dan berharap suatu hari bisa beneran ikut adit kerja ke LONDON.
hal pertama yang gue lakukan adalah menyodorkan form permohonan cltp ke manager. dia cengar-cengir, memanggil gue ke ruangannya, dan, predictably, nanya "yakin?"
jadi gue ulangi deh 'prosedur' menjawab yang sudah gue drill di kepala.
in the end, dia cuma menghela napas dan bilang, "baiklah."
after he signed the form, i did what i need to do. mampir ke HR nanya-nanya lagi, bikin draft nodin, trus... ngobrol sama anak-anak kantor, ami dan dhila.
lagi asik ngobrol ngebahas rencana nikahan dhila, tiba-tiba pak GM nyamperin. inevitably, he shot the ever-so-in questions: "emang mau ke mana?" "yakin?"
so i answered, reciting words i knew by heart.
gak disangka respon beliau malah bercerita, kalau dulu istrinyapun banting setir ketika anaknya baru satu orang. "saya bilang, gak masalah deh uang gimana. cukup gak cukup, biar saya yang mikirin. yaa, efeknya sih baru terasa sekarang, puluhan tahun kemudian. ketika menyaksikan anak-anak udah pada besar dan tumbuh dengan baik. bukan berarti saya nyuruh kalian pada resign loh (dia ngomong ke ami dan dhila-red), tapi kalau memang kondisinya mengharuskan, ya manfaatnya seperti itu."
i kinda "wow"-ed on him.
meskipun setelah ngomong begitu, dia cerita tentang eks anak buahnya yang juga ngajuin cltp, tapi setahun kemudian minta masuk kerja lagi. sayangnya, lagi gak ada posisi di divisi dia, jadi dia serahin deh ke tempat lain. "gak tau deh akhirnya gimana."
i hung around until lunch time. abis itu jalan ke TA sama pak lilik dan ami. jam 3 balik ke kebayoran, jemput bumy dari daycare, trus cuss headed home.
oh well. that was a kind of "support" i never thought i'd get.
cengar-cengir ketemu rekan-rekan. setiap ketemu wajah yang familiar, hampir selalu ditanya, "emang mau ke mana?" kok cltp, gitu, maksudnya.
jadi gue bilang, "gak ke mana-mana." which is the truth.
tapi mereka malah mendengus dan senyum ngenyek karena apparently, someone had snooped around and told them gue mau ikut suami kerja di luar negri. "singapur," si ratu gosip berkata.
yawdahlah, males juga mendebat dan menjelaskan panjang-lebar ke orang-orang yang bertanya hanya karena kepo. gue amini saja, anggap sebagai doa, dan berharap suatu hari bisa beneran ikut adit kerja ke LONDON.
hal pertama yang gue lakukan adalah menyodorkan form permohonan cltp ke manager. dia cengar-cengir, memanggil gue ke ruangannya, dan, predictably, nanya "yakin?"
jadi gue ulangi deh 'prosedur' menjawab yang sudah gue drill di kepala.
in the end, dia cuma menghela napas dan bilang, "baiklah."
after he signed the form, i did what i need to do. mampir ke HR nanya-nanya lagi, bikin draft nodin, trus... ngobrol sama anak-anak kantor, ami dan dhila.
lagi asik ngobrol ngebahas rencana nikahan dhila, tiba-tiba pak GM nyamperin. inevitably, he shot the ever-so-in questions: "emang mau ke mana?" "yakin?"
so i answered, reciting words i knew by heart.
gak disangka respon beliau malah bercerita, kalau dulu istrinyapun banting setir ketika anaknya baru satu orang. "saya bilang, gak masalah deh uang gimana. cukup gak cukup, biar saya yang mikirin. yaa, efeknya sih baru terasa sekarang, puluhan tahun kemudian. ketika menyaksikan anak-anak udah pada besar dan tumbuh dengan baik. bukan berarti saya nyuruh kalian pada resign loh (dia ngomong ke ami dan dhila-red), tapi kalau memang kondisinya mengharuskan, ya manfaatnya seperti itu."
i kinda "wow"-ed on him.
meskipun setelah ngomong begitu, dia cerita tentang eks anak buahnya yang juga ngajuin cltp, tapi setahun kemudian minta masuk kerja lagi. sayangnya, lagi gak ada posisi di divisi dia, jadi dia serahin deh ke tempat lain. "gak tau deh akhirnya gimana."
i hung around until lunch time. abis itu jalan ke TA sama pak lilik dan ami. jam 3 balik ke kebayoran, jemput bumy dari daycare, trus cuss headed home.
oh well. that was a kind of "support" i never thought i'd get.
![]() | ||||
| temu kangen |

No comments:
Post a Comment