26/12/2016

EoH series: the epiphany

so, I mentioned about this so-called series of writing for my blog, called the Enlightenment of the Heart (EoH). rasanya sayang aja kalau apa-apa yang sempat mampir di hati nggak dituangkan di sini. karena, buat gue pribadi, achievement nggak melulu diukur dalam bentuk perubahan secara fisikal. transformasi mental dan segala usaha yang menyertainya, juga bisa dianggap pencapaian. malah mungkin itu yang beneran matters. 
well, for a start, because it's December (still), which happens to be my birthday month as well, I'd like to ramble about stuff relating to the occasion. 

yes, I've turned 33. bukannya nggak bersyukur, tapi gue nggak lagi terlalu menandai ultah sebagai momentum yang sebegitu bermaknanya. mungkin ini lazim ya setelah melewati usia 30. you don't expect that many milestones, nggak kaya waktu masih 20an. ada momentum first cool job, first serious relationship, first marriage (haha), first pregnancy, first-time parenting, dst. 
sekarang? yah not that there is nothing I'm looking forward to; masih adalah keinginan untuk mewujudkan first time haji, first time jadi home owner (not loaner haha), nyunatin anak, and so on - tapiii.. (mungkin) sensasi pencapaiannya nggak sebegitu meletup-letupnya. perhaps it's because, as you get older, things don't feel as special as they used to be, and you yourself also no longer feel *that* special. moments are just moments, they fleet by, they pass. 
   
nah, karena pemaknaan akan ultah yang nggak segitu sensasionalnya itulah, gue nggak really expected anything. nggak ada rencana khusus untuk diri sendiri dan keluarga kecil. diinget ultahnya syukur, nggak juga ndak masyalah samsekk. 
di pagi hari ultah itu, begitu terbangun dari tidur, gue cek hape dan menemui ucapan ultah pertama. dari syapakah? ternyata bokap. 
mungkin itu biasa aja, ya. secara dialah (salah satu) orang yang membawa gue hadir ke dunia. tapi entah kenapa hal itu membuat seperti ada yang terhimpit di hati gue, dan himpitannya membawa kaca-kaca ke bola mata. tiba-tiba gue disadarkan, oh such a great time it is to be alive. 
everyday is, actually. 
kesadaran itu seolah membuka pintu di hati gue, yang bikin gue merasa bersyukurrrrrrr banget. it IS a special time; sungguh waktu adalah rejeki tertinggi… Alhamdulillah gue masih diberi kesempatan untuk diucapin selamat ultah sama bokap gue. Alhamdulillah I still have both of my parents around. 

sekitar setengah jam kemudian, nyokap nelpon, juga untuk ucapin selamat ultah. nggak tau kenapa, kayak ada switch yang ditekan bersamaan di hati kita berdua, karena di tengah ucapannya, gue tiba-tiba merasa trenyuh banget - padahal ucapan nyokap standar-standar aja - dan nyokap pun tau-tau mewek! haha.. maybe we are melancholic creatures, but I believe at that moment, the same realization touched our hearts. kesadaran bahwa laku sesederhana mengucapkan selamat ultah ini sejatinya sangatlah berharga… ya, karena hal ini belum tentu bisa terulang! 
:'))))) ya Allah gue jadi trenyuh lagi… 

source
segala puji bagiMu ya Allah… saat itu, gue merasa kayak dipersembahkan HADIAH yang berhargaaaaa banget dari Dia… kesadaran yang tiba-tiba hadir itu, gue percaya adalah wujud cintaNya. 
setelah itu, seolah agar kesadaran itu benar-benar tertancap di hati, Elmo berkata dalam ucapan ultahnya, 
"Chomey… Semoga hari ini penuh berkah ya. You are loved and blessed."

:')
sometimes, this fragile self needs to be reminded, again and again. 
I AM special. this moment IS special. 
terima kasih banyak ya Allah… 

meanwhile, other notable moments that I remember from that day were
- Adit ngucapin selamat selagi gue nongkrong di toilet. haha. dia ngelongok ke kamar mandi dan bilang "hepi bersdey ya mah," atau semacam itulah xD guess this is how an #oldmarriedcouple does it. 
- hal pertama yang Bumy ucapin begitu kebangun (masih di kasur), "mama hari ini umurnya udah TIGA TIGA ya?" 
- sampe di kantor, dicurhatin sama sese-dedek yang lagi melalui breakup. dia belum sadar gue ultah, jadi kita sibuk deh tuh ngebahas the guy who broke her heart. begitu tau gue ultah gara-gara adeee ajeee yang ngucapin di grup kantor, dia langsung meluk gue dan bilang "yaampun mba riska ultahnya bareng sama si X!" a.k.a. the guy she's been venting about!! hahahahah mungkin ada #hikmah yang terselip dalam kebetulan itu?? entahlah.  

tapi, somehow dari kejadian breakup si dedek, gue jadi dapat semacam pencerahan. 
entah gimana gue jadi kepikiran tentang gimana budaya atau lifestyle masa kini yang cenderung "sekarang-centris" alias cuma peduli sama SAAT INI. walhasil manusianya (me included) jadi cuma fokus pada usaha mengejar kesenangan sesaat. atau obat instan. atau apapun namanya yang bisa segera dinikmati. dan ini terasa bukan cuma di skala personal, tapi juga dalam skala besar. terlihat dari gimana banyak industri yang nggak peduli sama kondisi bumi yang seharusnya jadi legacy untuk generasi selanjutnya. gimana bisnis cuma peduli sama gimana biar untung untung untung duit duit duit, tanpa mikirin kualitas jualannya. kok "kita" nggak belajar dari sejarah… gimana dulu bangsa Romawi dulu unggul dan menguasai dunia tapi bisa ancur juga. 
generasi yang sekarang ini lagi bisa berjalan di muka bumi kayak nggak sadar kalau kita ini cuma generasi kesekian dari sekian ribu generasi yang sudah dan mungkin akan datang kelak. we are only, simply, a tiny blip in the universe! it (our lives) doesn't really matter, yet it also really totally matters. 
why? there is a perfect answer to that, something I read about in Rookie actually. let me quote:
"if your life is just a teeny tiny blip on the radar, the only meaning it has is what I give it, and the only person it needs to mean anything to is ME." (source)

it came to me like an epiphany.
gue tiba-tiba tersadarkan, kalau gue ada di sini, for a while on earth, for a reason. pasti ada manfaatnya. mungkin bukan buat diri gue sendiri, mungkin buat generasi ratusan tahun ke depan, apapun itu, it doesn't matter. what matters is gue yang harus kasih makna buat hidup gue sekarang. 
dan lucunya… kesadaran yang tiba-tiba ini membuat gue merasa kalau segala ambisi duniawi yang gue rasakan nggak lagi begitu penting. keinginan untuk dikenal, dikenang, dirayakan, atau apalah… yang penting cuma: enjoying my TIME on the planet as fully as possible… and make the best use of the time I have… each and every day. 

it was undoubtedly the best thing that could've happened, on my birthday. 



*"epiphany" (noun)

a moment when you suddenly feel that you understand, or suddenly become conscious of, something that is very important to you - source


1 comment:

  1. Hepi very belated bday ya Ris, my fellow capricorn...

    Iya gw juga ngerasa semakin ke sini, semakin bersyukur sama moments yang melibatkan gw dan orang tua. That precise feeling, pas ultah, pas hari raya, or at any moment with parents somehow bikin sedih (atau trenyuh ya?) karena ngerasa momen-momen itu sangaaat berharga dan belum tentu bisa terulang...

    ReplyDelete